Keabadian Berasal Dari Kekinian

Masih ingat bacaan yang Anda baca waktu kecil dulu?
Masih ada bacaannya sampai sekarang?

Dulu waktu saya kecil, selain membaca majalah Bobo dan buku-buku cerita, baik bergambar maupun tidak, saya suka membaca Intisari dan Reader’s Digest. Keduanya adalah majalah bulanan, satu berbahasa Indonesia dan satu lagi berbahasa Inggris, yang dicetak dalam ukuran buku kecil.

Waktu itu belum banyak, atau mungkin malah tidak ada, majalah yang terbit dalam ukuran kecil tersebut. Jadinya kedua majalah ini langsung menarik perhatian dari sekelebat pandangan, dari segi ukurannya.

Orang tua saya cukup rutin membeli majalah Intisari. Saya yang tadinya cuma sekedar melihat-lihat, akhirnya mulai ikut membaca. Ini mulai terjadi kira-kira waktu saya berumur 9 atau 10 tahun. Menurut apa yang pernah saya baca, di usia ini anak kecil sudah mulai mencari diversifikasi bahan bacaan. Ternyata itu yang terjadi sama saya.

Bosan dengan Paman Gembul dan Si Sirik, mulailah saya baca cerita kriminal di Intisari. Lalu artikel-artikel lainnya. Termasuk juga mengisi Fig Jig, cikal bakal Sudoku. Selesai membaca Intisari baru, mencari-cari lagi Intisari edisi tahun-tahun sebelumnya, yang kebetulan masih disimpan rapi saat itu oleh orang tua saya.

(Sumber: jualmajalahbekas.blogspot.com)

Tulisan-tulisan di majalah Intisari dari beberapa tahun sebelumnya, bahkan dari sebelum saya lahir, ternyata masih bisa saya nikmati. Bahasanya lugas. Isi tulisannya dituturkan dengan lancar dan singkat.

Demikian pula dengan Reader’s Digest.
Waktu di bangku sekolah dasar, saya sudah mulai belajar bahasa Inggris. Salah satu media yang digunakan oleh guru les bahasa Inggris saya saat itu adalah majalah Reader’s Digest. Dia menyuruh saya mempelajari kosakata di bagian khusus majalah tersebut yang memang membahas arti kata-kata tertentu dalam bahasa Inggris.

Selang beberapa waktu, perhatian saya mulai mengarah ke artikel-artikel lain di setiap edisi majalah. Dimulai dari yang singkat seperti jokes, yang memang lucu-lucu itu, sampai ke cerita-cerita yang diangkat dari kisah nyata. Semua saya baca pelan-pelan, sampai lama-lama satu majalah bisa saya lahap dalam satu hari.

(Source: pinterest.com)

Seperti Intisari, perhatian saya tertuju pada edisi-edisi lama Reader’s Digest, yang isinya pun masih menyenangkan untuk dibaca beberapa tahun kemudian.

Sampai sekarang, saya masih suka beli dan baca Intisari maupun Reader’s Digest. Biasanya saya taruh di rumah orang tua, dan saya baca lagi kalau sedang berkunjung.

Jenis tulisan di kedua publikasi inilah yang ada di benak saya saat Roy Sayur mengajak saya bergabung di Linimasa hampir 3 tahun lalu.

Terus terang, saya bukan seorang jurnalis atau wartawan, yang terbiasa menulis berita paling up-to-date, sehingga saya pun tidak punya sense of urgency untuk melaporan apa yang terjadi saat ini. Apa yang saya tulis, sebisa mungkin masih bisa dibaca kelak nanti, entah berapa lama kemudian.
Sentimen pribadi ini tentu saja murni datangnya dari diri sendiri, dan mungkin tidak sama dengan teman-teman lain di sini. Semua orang punya ciri dan preferensi masing-masing.

Menulis, buat saya, adalah untuk merawat waktu sekarang untuk dikenang di masa datang. Mungkin bisa juga diistilahkan: making future history by making the most of the present time.

Membaca tulisan lama kadang-kadang membawa pikiran kita bertanya-tanya, “waktu itu, penulisnya dalam keadaan apa sih, sampai menulis ini?”
Atau “apa penulisnya masih berpikiran sama ya sekarang, seperti apa yang dia tulis waktu menulis ini?” Saya sering berpikir begitu saat membaca lagi tulisan-tulisan lama beberapa teman, baik di Linimasa ini maupun di blog-blog lain.

Untuk itu, sebisa mungkin tulisan di Linimasa ini saya tulis sekarang juga, beberapa menit sebelum saya menekan tombol ‘publish’.
Harapannya tidak banyak. Cuma satu malah. Semoga tulisan yang dibuat sekarang, masih bisa dibaca di masa-masa yang akan datang.

Sampai saat ini, saya masih terus berusaha menulis seperti apa yang pernah saya baca di Intisari dan Reader’s Digest dulu. Ternyata tidak mudah. Saya belum puas, dan masih terus mencoba. Writing is a lifetime learning after all.

Terima kasih masih membaca (ulang) Linimasa.

I love you all.

Advertisements

Tulisan tentang Tulisan

tak ada yg lbh tabah
dr hjn bln Juni
dirhsiaknny rntik rnduny
kpd phn brbnga itu

tak ada yg lbh bijak
dr hjn bln Juni
dihpusny jjak-jjak kkiny
yg rgu-rgu di jln itu

tak ada yg lbh arif
dr hjn bln Juni
dibiarknny yg tak terucpkn
diserap akar phn bnga itu

MAAF, bukan bermaksud untuk mengubrak-abrik karya susastra kontemporer, tapi…

Ya! Kita pasti mengenali puisi di atas sebagai “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono. Namun tidak. Tidak ada yang salah secara fungsional atas penulisannya. Sebab, meskipun dengan beberapa huruf vokal yang hilang, kita tetap mampu mengidentifikasi kata dan membacanya. Akan tetapi ada kesan yang berbeda, gereget yang kurang, rasa yang tak sampai, lantaran kita lebih menggunakan pikiran analitis ketimbang kalbu saat membunyikannya. Memahami maknanya, namun gagap memaknainya.

Demikianlah tulisan, yang berupa kumpulan simbol penanda bunyi tertentu; aksara-aksara. Susunan aksara menghasilkan kata, kumpulan bunyi yang mewakili atau berarti sesuatu. Begitu seterusnya kumpulan kata menghasilkan kalimat, kumpulan kalimat menghasilkan ide, konsep, pemikiran, ekspresi emosi, dan sebagainya dalam bentuk kasatmata. Bahkan bisa sampai beribu-ribu halaman panjangnya.

Pada intinya, tulisan membekukan lisan.

Sebagai penutur bahasa Indonesia, sangat mudah bagi kita untuk mengenali kata-kata dalam tiga bait puisi Sapardi Djoko Damono di atas. Huruf-huruf vokal yang dimutilasi dengan pola tertentu, relatif tidak menimbulkan bias pelafalan pada bentuk kata yang tersisa. Toh dalam keseharian saat ini pun, kita sudah sangat terbiasa dengan kata-kata yang tak utuh. Saat mengetik SMS atau online chatting, misalnya. Pemotongan huruf dilakukan supaya lebih cepat, atau ada tombol yang terlewat. Yang penting si penerima bisa memahami pesan yang disampaikan.

Hanya saja, trik memangkas tulisan seperti ini tidak cocok diberlakukan pada bahasa maupun kebanyakan bentuk aksara lain. Boro-boro diterapkan pada tulisan Tionghoa yang berupa logogram atau piktogram termodifikasi atau kata-kata yang nyaris berbentuk gambar (berkurang satu garis, berbeda pula maknanya), untuk tulisan bahasa Jerman yang sama-sama menggunakan alfabet saja bakal jadi membingungkan.

Kendati demikian, penghilangan sebagian atau keseluruhan huruf vokal dalam satu kata, sukses diterapkan dalam bahasa-bahasa Timur Tengah dan sekitarnya sampai sekarang. Seperti dalam tulisan Arab modern maupun Arab gundul tanpa tanda baca yang fungsinya mirip huruf vokal, tulisan Ibrani atau Yahudi, termasuk tulisan Aramaic (dipercaya sebagai bahasa tutur Yesus saat hidup), maupun tulisan bangsa Saba (ingat cerita Ratu Balqis dan Nabi Sulaiman?). Bukan sekadar menghilangan tanda baca, pada praktiknya tetap berlaku kaidah penulisan dibarengi dengan kesepakatan dan pemahaman kontekstual. Supaya pembaca tetap bisa mengenali kata-kata meski tertulis hanya berupa abjad-abjad saja.

Bacanya apa, hayo…? 😛

Secara umum, selain alfabet dan abjad (huruf + tanda baca), setidaknya ada tiga model tulisan lain untuk bahasa-bahasa manusia selama ini. Yaitu silabel, Abugida, dan logo-fonetik. Dari ketiganya, bentuk tulisan silabel dan Abugida lumayan lebih mudah dihafal, serta dipakai untuk menulis bahasa lain, jadi semacam tulisan kode rahasia.

Silabel adalah tulisan baku per satu suku kata. Sederhananya, satu aksara mewakili satu suku kata (konsonan + vokal, misal: ba, bi, bu, be, bo). Sudah tidak banyak bahasa tutur modern yang menggunakan tulisan model ini.

Contoh:

  • Hiragana, dan Katakana Jepang;
  • Tulisan Cherokee.

Skema penulisan bentuk Abugida sekilas mirip abjad, sebab terdiri dari aksara konsonan dan aksara vokal. Tapi berbeda dengan abjad yang tanda bacanya bisa dihilangkan, Abugida tetap harus menampilkannya karena tiap-tiap suku kata memiliki bentuk hasil kombinasinya sendiri.

Contoh:

  • Hanacaraka (Jawa Kuno, dan Bali),
  • Kawi Singosari,
  • Sunda,
  • Devanagari (mulai Sanskerta sampai Hindi),
  • Punjabi,
  • Kannada,
  • Bengali,
  • Sinhala,
  • Thai,
  • Khmer,
  • Tulisan Tibet,
  • Siddham (Bonji dalam bahasa Jepang),
  • Lontara Bugis,
  • Pallava,
  • Tagalog,
  • Tulisan Batak,
  • Tamil,
  • banyak lainnya.

Sedangkan logo-fonetik menggunakan bentuk-bentuk gambar untuk mewakili bunyi dan kata, baik yang bermakna konkret maupun abstrak.

Contoh:

  • Hanzi (tulisan Tionghoa, dan variannya dalam Kanji Jepang maupun Hanja Korea),
  • Hieroglif,
  • Tulisan bangsa Maya,
  • Huruf paku.

Dari kelima model tulisan, logo-fonetik adalah yang paling riweuh. Karena ada beribu-ribu bentuk yang mesti dihafal untuk bisa disebut menguasai penulisannya. Keberlimpahan kosakata terjadi secara harfiah. Dalam bahasa Tionghoa, misalnya. Kategori anak TK sebaiknya menguasai hingga puluhan karakter, angka itu makin bertumbuh sampai akhirnya menginjak usia kuliah dan dewasa dengan penguasaan 5 ribu sampai 8 ribu karakter. Belum lagi apabila seseorang bekerja di bidang bahasa sebagai penulis, pengajar, seniman kaligrafi maupun sastra, arkeolog, dan sebagainya, bisa menguasai belasan ribu karakter. Tidak ketinggalan, “kabar baiknya” adalah, dalam kamus Kangxi terbitan 1716, setidaknya ada 42 ribu karakter tulisan Tionghoa. Itu pun diklaim masih belum sepenuhnya mengakomodasi karakter-karakter khusus dialek tertentu. Wow! Leluhur orang Tionghoa rajin sekali menciptakan kata-kata.

Seru-seruan waktu novel TLOTR baru terbit di Indonesia: Tengwar. :)
Seru-seruan waktu novel TLOTR baru terbit di Indonesia: Tengwar. 😀

[]