Berdiri di Atas Waktu Yang Berjalan

Sudah jam 12 malam. Mata saya mulai terasa berat. Namun masih ada yang mengganjal di hati, sehingga membuat saya belum bisa tidur.

Apalagi penyebabnya, kalau bukan sedang kehabisan ide untuk menulis di Linimasa ini.

Biasanya memang kalau sudah mentok tidak ada bahan yang terpikirkan untuk ditulis, saya memilih tidur. Lalu ketika bangun keesokan harinya, buru-buru saya menulis di Linimasa. Ini sekaligus pengakuan jujur saya kepada Anda semua, bahwa banyak sekali tulisan saya di Linimasa yang Anda baca itu hasil dari kepepet.

Namun malam ini, saya memilih untuk berusaha menulis sebelum tidur.
Kalau sudah tidak ada ide, maka saya akan melihat ke folder draft tulisan incomplete di komputer. Ada beberapa tulisan yang pernah saya buat, yang ketika tidak bisa diselesaikan dengan baik, saya simpan dalam folder tersebut. Siapa tahu bisa saya selesaikan suatu hari nanti.

Ternyata malam ini saya masih belum bisa menyelesaikan beberapa tulisan tersebut.
Saya menelusuri lagi folders yang lain. Saya membuka salah satunya, yang berisi tulisan-tulisan lama. Kebanyakan untuk blog pribadi. Blog yang sudah berumur belasan tahun. Tentu saja isinya adalah tulisan saya pada saat berumur belasan tahun lebih muda dari sekarang.

Saya tersenyum membaca tulisan-tulisan tersebut. Sambil menghela nafas, saya berpikir, “Do I still believe in the same thing as I did back then?” Apa saya masih meyakini apa yang saya tulis dulu? Kok sepertinya sudah tidak lagi?

Saya baca lagi beberapa tulisan lama. Masih tersenyum, sambil mengangguk-angguk.

Anda pernah membaca ulang tulisan lama yang dulu Anda buat? Bisa itu puisi, surat, catatan pribadi, atau apapun bentuknya. Kadang kita suka berpikir sambil geli sendiri, “What was I thinking? Kok bisa ya, dulu nulis kayak gini, mikir kayak gini.”

Bisa saja. Kenapa tidak? We were what we were then. We are what we are now. We grow.

Baik itu grow up atau grow old, semuanya menunjukkan kalau cara kita memandang dan menyikapi hidup pasti berubah, sesuai umur yang bertambah. Makin tambah umur kita, makin banyak pengalaman hidup yang sudah dijalani. Makin bertambah umur kita, makin berubah juga cara pandang hidup kita.

Dan perubahan itu akan tercermin di karya-karya yang kita buat, atau di pekerjaan yang kita lakukan. Perubahan itu termasuk kemungkinan untuk mengulang lagi apa yang pernah kita buat atau kerjakan. And that’s normal. Karena semakin tua, semakin besar juga gairah kita untuk clinging on the glory days of the past.

Waktu terus berjalan. Sebaiknya kita pun juga terus berjalan, supaya tidak tergilas jaman.

Advertisements

Pernah Istimewa

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat seseorang yang pernah terasa istimewa di hati, menjadi biasa saja?
Dua bulan?
Dua setengah tahun?
Lima tahun?
Atau tidak pernah? Sama sekali?

Mengapa seseorang yang pernah terasa istimewa di hati, sekarang bisa menjadi biasa saja?
Apakah sudah hilang rasa penasaran setelah tahu nama dan nomer telponnya? Setelah bisa tahu dan bisa di-stalking lewat google dan peranti media sosial lainnya?
Atau setelah ilfil mendengar suaranya?
Atau setelah semua adrenaline surut seiring berakhirnya masa bulan madu di awal hubungan?
Atau ada orang lain yang mengisi hati?

Bagaimana seseorang yang pernah terasa istimewa di hati, bisa dengan mudahnya menjadi biasa saja?
Oke. Mari kita lihat pertanyaan di atas.
Apakah bisa dengan mudahnya seseorang, yang dulu namanya kita ukir dengan senyuman, sekarang menjadi sekedar nama lain yang berlalu?

Ternyata tidak semudah itu.

sad_boy_akul_tree_lonley_river_moon_breakup_hd-wallpaper-648231

Untuk seseorang yang baru ingin mengenal orang lain, rasanya waktu berjalan lama setiap hari. Ada rasa keingintahuan yang membara dari rasa penasaran. Ingin tahu siapa namanya. Berapa nomer telponnya. Begitu semua informasi sudah didapat, mulai timbul kekecewaan. Ternyata dia pernah menulis dengan gaya “alay” di Facebook temannya. Isi Instagram penuh dengan foto-foto selfie. Rekaman video karaoke suaranya yang sumbang ternyata ada di Youtube. Akhirnya, batal naksir.

Untuk seseorang yang baru menjalin hubungan dengan orang lain, rasanya waktu berjalan cepat. Sepertinya baru kemarin kenalan. Sepertinya baru kemarin mengiyakan ajakan untuk hidup bersama. Lalu kebiasaan-kebiasaan yang selama ini tidak pernah kita tahui, baik dari diri kita maupun dari pasangan kita, muncul begitu saja. Piring kotor ditaruh begitu saja tanpa dicuci. Lemari pakaian berantakan.

“Someone has to take care of this ship, but … I didn’t sign up for this! I want us to be together, to fix this together, but why do I have to do everything alone?”

Lalu, karena ingin menghindari konflik, akhirnya diam. Tidak mau berkata-kata. Takut memperpanjang masalah. Diam karena berpikir kalau tanpa suara artinya ngalah. Cuma bisa memendam perasaan. Bermain-main dengan “what ifs”. Akhirnya, menyerah pada nasib.

Untuk seseorang yang baru berpisah dari orang lain, rasanya waktu berjalan sangat lambat. Tidur dengan mata sembab. Bangun pagi dengan helaan nafas yang berat. Membuka aplikasi media sosial, ternyata tidak membuat semuanya jadi lebih baik. Seakan kesedihan ditanggung kita sendiri. Mantan masih ada di pergaulan teman-teman kita. Masih di-tag di obrolan di Path, atau foto yang diunggah di Instagram. Kadang di-mention di Twitter. Ulang tahunnya masih tercatat di Facebook. Kata siapa media sosial membuat hidup kita lebih mudah? Untuk urusan “move on” dari hubungan percintaan, ternyata media sosial menampar kita habis-habisan.

breakup-advice-for-men1

Ada ungkapan dalam bahasa Jawa yang bilang “sing waras ngalah”. Artinya, yang tidak gila harus mengalah. Mungkin ungkapan ini harus dimodifikasi. Keluarlah dari semua media sosial. Log off. Log out. Pakai prinsip “ben waras ngalah”. Sekarang artinya, biar tidak gila harus mengalah.

Tidak ada panduan berapa lama untuk ketiga skenario hidup di atas. Cuma Anda yang tahu kapan Anda bisa kembali lagi berdiri. Dengarkan kata hati. Ikuti intuisi tubuh.
Ikuti waktu.

Time waits for no one. Waktu tidak menunggu. Waktu berjalan terus saat Anda mengumpulkan keberanian untuk menyapa orang yang Anda suka. Waktu berlalu saat Anda merenungi hubungan yang berjalan lambat. Waktu berlari saat kita menangis.
Ikuti saja apa mau waktu. Kita masih harus bekerja untuk menghidupi diri. Kita masih harus menjaga kesehatan dengan berolahraga. Kita masih harus makan. Kita masih harus bertemu keluarga dan teman, syukur-syukur yang bisa membuat tertawa.

Dan waktu yang kita pakai untuk melakukan hal-hal ini, akhirnya akan membuat kita mampu melanjutkan hidup. Awalnya tidak mudah. Orang yang sudah lama tidak naik sepeda, pasti akan kagok harus naik sepeda lagi. Orang yang sudah lama tidak lari pagi, pasti akan njarem kakinya di dua hari pertama. Toh lama-lama akan terbiasa.

Dan idiom “lama-lama akan terbiasa” akhirnya hanya bisa efektif kalau kita menikmati hidup. Tidak ada panduan waktu yang sahih, kapan perasaan yang pernah kita sampirkan ke orang lain bisa berakhir. Dua minggu? Dua bulan? Dua tahun? Tidak ada yang sama di setiap orang. Dan di setiap orang yang pernah berhubungan dengan kita pun, waktunya tidak sama.

Each and everyone we meet will leave different kind of marks. Some are pure scars. Some are just distant memories.

Mungkin kita tidak akan sadar dengan perubahan status dari kelas “istimewa” menjadi kelas “biasa”. Tahu-tahu, hati kita tidak berdesir lagi mendengar lagu jaman pacaran dulu diputar di radio saat kita berada di dalam taksi. Melihat namanya di media sosial bersama teman-teman Anda bak melihat rangkaian kata-kata tak bermakna apa-apa. Seperti melihat deretan nama-nama di papan pengumuman ujian masuk perguruan tinggi. Tidak semuanya harus kita kenal.

Di situlah kita bisa berdamai dengan diri sendiri. Di situlah terasa biasa saja akhirnya.

Karena dari hidup yang biasa, akan ada sesuatu yang luar biasa nantinya.

Pasti.

(Courtesy of ejiinsight.com)

(Courtesy of ejiinsight.com)

Atur Waktu

Ada satu rahasia umum tentang saya. Saking sudah dimaklumi sama teman-teman, sampai bukan jadi sebuah rahasia lagi.
Saya mempunyai time management atau pengaturan waktu yang jelek.
Dan, entah ini kebetulan atau tidak, saya sadar banget punya kelemahan ini.

Sejelek apa?
Kalau menurut saya yang mempunyai kelemahan ini, cukup jelek. Sangat jelek, malah.

Contohnya begini.
Saya sering datang meeting mepet, bahkan terlambat.
Kalau janjian dengan teman-teman, pasti saya yang terakhir datang.
Lantas, “penyakit” orang yang sedang berada dalam tekanan agar tidak terlalu telat datang adalah berbohong.
Misalnya, di Jakarta. Ketika ada janji temu di Blok M, saya akan bilang kalau saya sudah di Senayan. Padahal baru sampai di Bunderan HI.
Misalnya, di Singapura. Ketika ada janji di Bugis, sementara saya berangkat dari Clementi, saya akan bilang kalau sudah sampai Redhill. Padahal baru sampai Holland Village.
Artinya, berbohong tentang posisi yang seolah-olah sudah dekat dengan tempat tujuan. Padahal masih cukup jauh.

Sepertinya satu-satunya kegiatan yang hampir tidak pernah terlambat datang adalah menonton film di bioskop. Atau datang konser. Atau kegiatan lain bersifat eventual yang memerlukan apresiasi dan konsentrasi penuh kita. Mungkin penjelasannya kurang mengena, tapi bisa dibayangkan, kira-kira jenis kegiatan apa yang biasanya membuat kita cenderung lebih taat waktu.

time-management

Tentu saja ketaatan waktu ini bergantung pada kebiasaan. Kebiasaan bisa muncul dari didikan dan lingkungan sekitar. Kalau sehari-hari naik angkutan umum, di mana tertulis jelas kendaraannya datang jam berapa, lalu menjelang datang ada tulisan “arriving in 2 minutes”, misalnya, dan kita terpapar dengan pemandangan seperti itu setiap hari, mau tidak mau alam bawah sadar kita sudah menggerakkan kita agar tidak melewatkan angkutan ini. Lalu ia akan menular kepada aktivitas lain yang memerlukan kehadiran kita.
Idealnya begitu.

Demikian juga dengan bagaimana kita dididik untuk menghargai waktu. Bisa lewat media agama, misalnya agar sholat lima waktu atau tidak alpa ke gereja setiap hari Minggu. Atau lewat media lain, seperti bangun pagi agar tidak lupa sarapan.

Namun ketika kita menginjak dewasa, tentu saja tidak ada lagi yang membimbing. Semuanya tergantung kita sendiri. Termasuk cara menghargai waktu. Soalnya, dibanding uang yang bisa dicari lagi, waktu tidak bisa kembali. Sekali terbuang ya terbuang selamanya.
Segala hasil didikan di masa lampau hanya akan membekas saja. Exposure lingkungan sekitar hanya sekedar mempengaruhi. Keputusan untuk hadir tepat waktu atau mengulur waktu, semuanya kembali ke kita sendiri.

24960207-Time-management-Vector-modern-illustration-in-flat-style-with-male-hand-holding-stopwatch-Stock-Vector

Dalam kehidupan nyata, kalimat-kalimat di atas sedang saya upayakan untuk diterjemahkan seperti ini.
Misalnya saya akan menonton film Bridge of Spies di bioskop jam 7:15 malam.
Sementara saat saya merencanakan nonton film tersebut, saya masih berkutat dengan pekerjaan saya sebelum makan siang.
Saya coba menghitung mundur:
– nonton jam 7:15
– kayaknya beli tiketnya nanti aja deh, 15 menit sebelumnya. Siapa tahu tiba-tiba gak jadi ‘kan Berarti jam 7 malam harus sudah di bioskop.
– hmmm, kayanya sebelum nonton, olahraga dulu masih bisa. Tempat olahraganya memang jadi satu dengan gedung bioskop sih. Tapi kan gak berarti tinggal menclok aja. Perlu jalan kaki (ini yang saya lupa! Kita perlu menghitung waktu berjalan dari satu tempat ke tempat lain!) lho. Ya let’s say jalan kaki 10 menit. Berarti jam 6:50 sudah keluar dari tempat olahraga.
– kalo jam 7 kurang sudah keluar dari tempat olahraga, berarti ganti baju dan mandi sebelum itu dong? Jam-jam abis Maghrib kayanya gak perlu antri deh. Ya udah, 15 menit. Berarti udah siap-siap mandi dari jam 6:35. Ya jam 6:30 lah.
– olahraga ngapain ya nanti? Lari dan light exercise aja deh. Dua jam cukup. Berarti jam 4:30 udah mulai olahraga. Jam 4:15 nyampe di tempat buat ganti baju dan sepatu.
– OMG! Jam 4:15 nyampe tempat olahraga? Dari kantor jam berapa? Itu kan jam macet! Berarti pesen ojek jam 3:30 deh.
– OMG, gue cuma punya waktu sampe jam 3 sore ngelarin kerjaan!

Skenario di atas pernah berhasil saya lakukan. Pernah gagal juga. Rasionya masih seimbang antara yang gagal dan yang sukses.
Yang jelas, jangan lupakan faktor-faktor penambah kegiatan saat mengatur waktu. Perhatikan berapa lama yang diperlukan hanya “sekedar” untuk berjalan, memesan dan menunggu taksi atau ojek, nge-check pesan masuk di ponsel, dan lain-lain. Semua terlihat sepele, terlihat kecil. Tapi, namanya juga kecil-kecil menjadi bukit. Sejumlah hitungan detik dan menit yang terlihat remeh temeh, bisa menjadi besar saat diakumulasi. Tahu-tahu, kita terbirit-birit berlari. Mengejar angkutan, memasuki bioskop, menghabiskan makanan.

When it comes to managing time, all we can do is just trying, and always trying, baby. Can we?

timeout

Ambisi

Seorang teman pernah berujar ke pasangannya, “Kamu itu orang yang gak punya ambisi dalam hidup! Bahaya! Mau jadi apa kalo gak punya ambisi?” Pertanyaan itu, yang kemudian mereka taruh di media sosial dengan tambahan icon senyuman, membuat saya tersenyum kecut. Dalam hati saya membatin, “Waduh. Lha apa kabar saya yang memang gak punya ambisi dari dulu?”

Waktu remaja, salah satu film yang pernah saya tonton adalah film Sabrina versi daur ulang buatan tahun 1995. Secara keseluruhan, film Sabrina versi warna memang tidak seistimewa versi aslinya yang hitam putih tahun 1954, namun ada satu adegan yang menempel di ingatan sampai sekarang.

Alkisah Sabrina (Julia Ormond) baru saja pulang dari berlayar bersama Linus Larrabee (Harrison Ford). Saat sampai di rumah, dia mendapati ayahnya, Mr. Fairchild (John Wood) membaca majalah. Mr. Fairchild sendiri adalah supir keluarga di rumah Linus. Mr. Fairchild dan Sabrina sendiri tinggal di sebuah rumah kecil, semacam cottage, di kompleks rumah milik keluarga Larrabee yang luas. Rumah ini diisi oleh banyak jurnal dan buku, yang seakan mengelilingi Mr. Fairchild.

Setelah berbasa-basi menanyakan bagaimana perjalanan Sabrina, Mr. Fairchild kembali diam dan tenggelam dalam bacaannya. Sabrina melihat ayahnya sambil tersenyum.
Lalu dia berkata,

“I love so many things about you, Dad. But you know what I love best of all? You became a chauffeur because you wanted to have time to read. All my life, I’ve pictured you… sitting in the front seat of a long succession of cars… waiting for the Larrabees and reading.”

Mr. Fairchild mendongak sesaat, tersenyum seolah membenarkan perkataan Sabrina barusan. Menjelang akhir film nantinya, Mr. Fairchild memberikan uang yang cukup banyak agar Sabrina bisa pergi dan tinggal di Paris. Sabrina kaget melihat uang itu. Ayahnya menjelaskan, bahwa uang itu adalah hasil tabungan dia bertahun-tahun. Tak sekedar menabung, karena selama menyupiri keluarga Larrabee bertahun-tahun, dia selalu mendengar dari kursi supir tentang saham, pasar modal, dan obrolan bisnis lainnya yang dilontarkan lewat telepon oleh keluarga Larrabee di belakang kursinya. Hasil pendengaran itulah yang kemudian dia tabung dan investasikan, sambil terus membaca buku, koran dan majalah di sela-sela menunggu majikannya.

Sabrina (Courtesy of Snakkle.com)

Sabrina (Courtesy of Snakkle.com)

Dan semua musik yang kita dengar, film yang kita tonton dan buku yang kita baca waktu kita berusia anak-anak sampai remaja akan mempunyai pengaruh yang lebih kuat dibandingkan dengan apa yang kita konsumsi di umur 20-an dan seterusnya. Maklum, saat itu otak kita masih dalam fase berkembang dan menyerap lebih kuat terhadap segala yang kita rasakan. Itulah yang lantas jadi patokan saya dalam menjalani hidup, yaitu punya waktu cukup.

Seiring berjalannya waktu, ternyata waktu bukan urusan sepele. Uang bisa terus menerus dicari, tapi waktu yang hilang tidak akan pernah kembali.

Punya waktu cukup untuk membaca buku dan menonton film tidak bisa hitung secara kuantitas. Apalagi kalau kita sering terjebak dalam kemacetan tak berujung. Waktu adalah alat ukur yang tak ternilai. Kalaupun dipaksa dinilai dengan uang, maka jumlah uang seberapapun tak akan pernah bisa menggantikan.

Buku yang baik, film yang bisa dinikmati, musik yang bisa didengar, serta pasangan hidup atau keluarga yang bisa bikin kita bahagia, adalah investasi waktu.
Dan waktu juga yang menentukan, apakah investasi kita terhadap semuanya ini adalah investasi yang sukses, atau malah “bodong”. Tidak ada yang tahu.

Thus, my ambition is time.

Saya sering membeli buku dan blu-ray, serta menonton film di bioskop. Punya uang yang pas untuk membeli dua hal itu, tentunya setelah kebutuhan rumah dan makanan terlengkap, sudah lebih dari cukup. Masih sehat dan punya waktu untuk mengkonsumsi semua, that is a blessing. Tentu saja akan banyak tambahan keinginan setelah ini, seperti pengen punya pasangan yang mengerti kegemaran kita, pengen upgrade koleksi film, pengen beli rak buku baru, dan lain-lain. But let’s go back to the basic: is there enough time?

Selamat Tahun Baru (lagi). Selamat menata hidup kembali.

Pertemanan

Sudah pernah menonton film berjudul Stand By Me (1986)?
Bukan, ini bukan film mengenai kucing ajaib dari Jepang, meskipun berjudul sama. Film ini diangkat dari novelet karya Stephen King, “The Body”, yang berkisah tentang empat orang anak berusia 12-13 tahun di tahun 1959.

Mereka mengawali liburan musim panas sebelum masuk SMP dengan mencari mayat teman mereka yang diberitakan hilang. Penasaran dengan berita di radio dan hasil dari mencuri dengar omongan orang-orang yang lebih tua di sekitar rumah, mereka pun bergegas menelusuri jejak perjalanan orang hilang ini.

Film pun bergerak menjadi film road trip. Mereka berjalan kaki sepanjang hari dalam masa satu akhir pekan, mendirikan tenda untuk tidur, terkena lintah di sekujur badan, dan saling menangis saat bercerita tentang kerasnya tempaan orang tua masing-masing.

Semua itu dihadirkan secara singkat, hanya dalam waktu 88 menit. Namun hampir 30 tahun kemudian, menonton film ini masih meninggalkan rasa haru. Entah sudah berapa kali saya menonton film ini. Mungkin sekitar 5 kali dalam 10 tahun terakhir. Dan setiap menonton selalu tersenyum.

Stand By Me

Stand By Me

Ini adalah satu dari sedikit film dari dekade 1980-an yang penuturan berceritanya sempurna, yang sering dijadikan contoh acuan film dengan penulisan naskah yang baik dan efektif. Film Stand By Me juga sering direferensikan sebagai film yang mengangkat tema coming-of-age atau akil baligh remaja pria, dan tentunya persahabatan.
Jarang sekali memang sebuah film dapat memperlihatkan persahabatan secara nyata dengan sempurna. The Sisterhood of Traveling Pants lebih berkutat dengan kisah masing-masing karakter. Now and Then terasa terlalu ideal, karena pertemanan yang terjadi di masa kecil terasa dipaksakan harus terjadi lagi saat mereka dewasa. Bukannya tidak mungkin. Namun, kenyataannya, sebagian besar pertemanan yang terjadi di masa kecil jarang sekali yang masih terus bertahan sampai di usia dewasa.

Beberapa waktu lalu, saya menemukan meme di media sosial yang kurang lebih bertuliskan: “if you still befriend your childhood friend, you have not grown up.” Kalau masih berteman dengan teman yang sama, berarti kita tidak berkembang.

Saya sempat protes dalam hati. Tapi tidak lama kemudian, saya malah tersenyum dan membenarkan kalimat itu. Kenapa? Karena kalau ditanya siapa teman TK dan SD saya, jawabnya pun kelabakan. Sudah tidak ingat nama, apalagi wajah. Sempat pindah sekolah, lalu pindah kota. Dan pertemanan pun tidak bisa dipaksakan, apalagi mati-matian dipertahankan.

Stand By Me

Stand By Me

Mungkin ada yang dulu selalu bersama-sama jalan ke mall, dan berfoto di photo box yang mengeluarkan foto sticker, tapi sekarang terpisahkan oleh tugas rumah tangga sebagai ibu, ada juga yang bekerja di luar negeri, atau ada yang jadi anggota ormas agama garis keras. Ada juga yang dulu teman main basket, sekarang terpisah karena satu lebih nyaman di lingkungan teman-teman dengan orientasi seksual yang sama, sementara yang lain mati-matian meniti karir menjadi politisi. Teman yang dikenalkan pacar pun bisa menjadi teman kita meskipun pacaran sudah berakhir, atau teman kita bisa jadi teman mantan pacar. Terdengar ribet? Nggak kok. Kalau dijalani begitu saja, tidak akan pernah terasa.

Tidak ada yang tahu kapan pertemanan berakhir menjadi “sekedar kenalan”, atau pernah kenal. Dan tidak ada yang tahu juga kalau bisa saja yang terjadi malah sebaliknya.

Pertemanan tak lebih dari menghargai momen yang sedang berjalan. Kita tidak pernah akan mengingat berapa lama kita berteman dengan si A atau si B. Yang akan kita selalu ingat adalah apa saja yang pernah kita jalani dengan mereka, dan apa yang kita rasakan saat itu.

Mengutip kalimat terakhir di film Stand By Me:

I never had any friends later on like the ones I had when I was twelve. Jesus, does anyone?

Kerja, Kerja, Kerja

Selamat datang di hari pertama di tahun 2015.

Saya tidak tahu harus menulis apa hari ini.
Dari semalam saat kami bertujuh berceloteh ringan di grup Whatsapp, saya sudah “mengancam” kalau hawa sejuk menjelang pergantian tahun ini membuat bingung dan malas menulis apapun di Linimasa hari ini. Padahal momennya luar biasa: hari pertama di tahun baru. Sebelum “ancaman” untuk mengunggah foto seronok diri sendiri benar-benar terlaksana, saya memilih untuk tidur. Untungnya, sebelumnya saya sempat berdoa kepada Tuhan bahwa saya dan banyak orang masih diberi keselamatan melewati tahun 2014 yang berat. Tidak lupa juga berterima kasih, karena seumur hidup tidak pernah foto seronok.

Tahun yang lewat terasa berat. Banyak teman berkata sama di jejaring media sosial. Terasa semakin berat saat kita baru saja mengakhirinya kemarin dengan musibah besar. Musibah yang membuat kita semakin sadar bahwa hidup adalah sepenuhnya milik Tuhan. Tidak ada yang tahu kapan hari terakhir kita di bumi.

Yang kita tahu adalah kita punya waktu. Meskipun tak ada yang tahu sampai kapan waktu berjalan, tapi kita punya waktu: masa lalu, sekarang, dan masa depan yang tak terbatas.
Kita punya kemampuan untuk merencanakan apapun yang kita mau capai dengan tolok ukur waktu.

Mulai hari ini, mas-mas kuli bangunan mungkin sudah mempunyai rencana untuk bekerja dan menabung mengumpulkan uang, supaya Lebaran bisa bawa anak dan istri mudik.

Mulai dari beberapa bulan lalu, mbak-mbak pekerja kantoran sudah melingkari hari-hari cuti bersama, karena sudah terlanjur beli tiket promo murah buat jalan-jalan.

Teman saya yang terdampar di lautan bekerja di kilang minyak hanya bisa tersenyum melihat obrolan riuh-rendah kami di grup LINE di saat dia rehat sejenak dari pekerjaannya. Tanpa membalas, kami tahu dia ikut membaca celotehan tidak penting kami.

Saya sendiri terus bekerja sampai jam 7 malam kemarin. Selain ada proyek festival yang tidak bisa menunggu di bulan Maret nanti, saya memilih untuk bekerja sekarang agar bisa cuti sejenak tanpa gangguan di beberapa bulan ke depan.

Kerja, kerja, kerja.

Demikian pesan Presiden Joko Widodo saat dilantik pada bulan Oktober 2014 yang lalu. Pelantikan yang sungguh dramatis, mengingat segala usaha menjatuhkan dia dari dulu sampai sekarang.
Namun seorang Joko Widodo dari ribuan Joko Widodo yang lain (akuilah, ini nama pasaran), adalah kemampuannya untuk melawan kritikan dan tuduhan dengan bekerja. Kita semua terkesiap saat tanpa banyak kata-kata protokoler, Joko Widodo turun tangan langsung dalam proses pencarian jatuhnya pesawat QZ 8501. Dia menelan pil pahit mengumumkan kenaikan harga BBM. Akhirnya, presiden bisa memberikan contoh langsung, bukan lewat pidato bombastis.

Let our work shows who we really are: our whole being, our saving, our attitude, our behavior, our choices, our determination, everything about us.

Di tahun 2015, bekerja bukanlah pilihan. Tapi bekerja adalah kewajiban.

Yang sakit akan bekerja sesuai kemampuan untuk bisa sehat lagi.

Yang sehat akan terus bekerja agar hidup semakin layak untuk dijalani.

Gagal di satu hari, masih ada 300 hari lain.

Lalu ke mana 60-an hari yang lain? Istirahat. Jalan-jalan. Liburan. Kita manusia yang perlu mengisi ulang energi diri saat menurun.

Dan untuk itulah kita perlu bekerja.

Welcome to the new year.

Desa Sewon, Bantul, Yogyakarta, 1 Januari 2014. Petani siap bekerja. (Courtesy of Nauval Yazid.)

Desa Sewon, Bantul, Yogyakarta, 1 Januari 2014. Petani siap bekerja. (Courtesy of Nauval Yazid.)