Tebak-tebak Buah Manggis si Emmy vol. 3

Ternyata sudah kali ketiga saya menulis tentang prediksi peraih Emmy Awards di linimasa ini. Kalau ini serial televisi, maka tulisan ini adalah tulisan musim penayangan atau season ke-3. Sementara linimasa-nya sendiri sudah masuk ke season ke-5. Tidak terasa ya, waktu cepat berlalu.

Dan yang tidak terasa juga adalah serial-serial televisi yang absen, lalu muncul kembali, atau sudah berhenti penayangannya. Tidak terasa, karena dengan banyaknya konten tayangan di berbagai kanal dan aplikasi, kita tidak sempat lagi menangisi atau merenungi kepergian tayangan serial kesukaan kita. Kenapa? Karena dengan banyaknya pilihan yang ada, kita langsung mengalihkan pilhan kita ke acara atau serial lain. Begitu mudahnya, begitu cepatnya.

Setiap tahun ada banyak serial baru yang diproduksi dan ditayangkan. Lebih banyak serial baru yang masuk daripada serial lama yang berhenti. Kalaupun tidak berhenti, paling tertunda penayangan musim terbarunya. Dan ini membuat kita hidup di era di mana kita sudah tidak sanggup lagi untuk benar-benar bisa catch up mengikuti satu per satu episode serial yang ada. Waktu kita terbatas.

gq-bill-hader

Barry (source: GQ)

Kalau sudah begitu, maka jangan abaikan personal taste atau kesukaan diri sendiri. Tontonlah apa yang kalian rasa perlu untuk ditonton, dan yang juga penting, yang memang kita sukai. Bagi saya, kalau saya sudah terpikat dengan karakter dan dunia mereka dalam serial tersebut, maka susah buat saya untuk berpaling. Meskipun itu harus menunggu lama di antara musim penayangannya.

Demikian pula dengan serial-serial baru yang mungkin dipuji banyak kritikus luar negeri, tapi tidak terasa dekat dengan saya. Terutama setelah ditonton beberapa episode, saya belum bisa menikmatinya juga.

Maka dari itu, jujur saja, dari nominasi perhelatan 70th Primetime Emmy Awards tahun ini, saya belum bisa menikmati penuh “Atlanta” sebagai serial komedi. Demikian pula dengan “Westworld” season ke-2 yang membuat saya sibuk mengernyitkan kening di hampir semua episode, mencoba mencerna apa yang sedang saya tonton. Meskipun masih powerful, tak urung ada beberapa momen di “The Handmaid’s Tale” season ke-2 yang, mau tak mau, menimbulkan pertanyaan di benak saya.

culturewhisper-gianniamericancrime

The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story (source: Culture Whisper)

Sementara di sisi lain, saya langsung tertawa terbahak-bahak di episode pertama “Barry” dan “The Marvelous Mrs. Maisel”. Dan ternyata rasa senang itu berlanjut sampai di penghujung masing-masing serial tersebut. Meskipun tidak sebaik “The People vs OJ Simpson”, namun saya masih menikmati “American Crime Story” kali ini, yang terfokus pada cerita pembunuhan desainer Gianni Versace.

Pada akhirnya, pilihan saya di bawah ini adalah murni pilihan personal. Bukan analisa prediksi kuantitatif dan kualitatif, tapi pilihan saya yang memang menyukai apa yang saya tonton dan apa yang saya pilih.

Semoga pilihan kita berbeda, ya. Kalau sama, juga nggak masalah.

Ini dia:

• Best Comedy Series: The Marvelous Mrs. Maisel
• Best Lead Actor, Comedy Series: Bill Hader – Barry
• Best Lead Actress, Comedy Series: Tracee Ellis Ross – Black-ish
• Best Supporting Actor, Comedy Series: Brian Tyree Henry – Atlanta
• Best Supporting Actress, Comedy Series: Betty Gilpin – GLOW

• Best Drama Series: The Americans
• Best Lead Actor, Drama Series: Matthew Rhys – The Americans
• Best Lead Actress, Drama Series: Keri Russell – The Americans
• Best Supporting Actor, Drama Series: David Harbour – Stranger Things
• Best Supporting Actress, Drama Series: Vanessa Kirby – The Crown

• Best Limited Series: The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Lead Actor, Limited Series or TV Movie: Darren Criss – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Lead Actress, Limited Series or TV Movie: Laura Dern – The Tale
• Best Supporting Actor, Limited Series or TV Movie: Edgar Ramirez – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Supporting Actress, Limited Series or TV Movie: Judith Light – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story

Berbeda dari biasanya, Emmy Awards tahun ini akan diadakan hari Senin malam waktu Amerika Serikat, atau Selasa pagi waktu Indonesia. Belum ada informasi di mana akan ditayangkan acara ini. Toh kita masih bisa selalu memantau perkembangannya lewat Twitter.

telegraphUK_crown2

The Crown (source: The Telegraph UK)

Selamat menonton!

😉

Advertisements

We Need To Talk About Kevin

Mulai hari ini karir Kevin Spacey akan meredup. Seperti kita tahu, Anthony Rapp melaporkan kalau dirinya dilecehkan secara seksual oleh Kevin Spacey 30 tahun lalu. Yang menjadi permasalahan berat adalah Rapp ketika itu masih berusia 14 tahun. Itu menjadikan Kevin Spacey seorang pengidap pedofilia.

kevin2

Peristiwa ini sebetulnya sudah terjadi di film American Beauty yang dibintangi oleh Kevin Spacey. Walaupun tidak sama persis. Film ini yang membuat Kevin mendapat Oscar keduanya dalam kategori Aktor Terbaik. Setelah sebelumnya mendapatkan Oscar di film The Usual Suspect dalam kategori Aktor Pendukung Terbaik. American Beauty menceritakan potret keluarga Amerika. Di mana kebobrokan suatu keluarga diperlihatkan secara satir. Kevin Spacey bermain apik sekali di sini. Seingat saya Kevin Spacey sudah dua kali memerankan seorang biseksual. Terakhir di serial House of Cards yang terkena imbasnya sehingga akan berakhir di musim keenam.

Pedofilia di banyak negara masuk sebagai tindakan pidana, bukan preferensi seksual. Pedofilia tidak akan mendapatkan tempat di dunia kita berpijak. Entah maya atau nyata. Atau bahkan di penjara. Black Mirror di salah satu episodnya bercerita bagaimana seorang pedofilia harus menderita sepanjang hidupnya.

kevin

Tapi melihat pemberitaan di social media masih terbelah. Banyak media besar lebih mengedepankan pengakuan Kevin Spacey sebagai gay, dibandingkan sisi pedofilianya.  Di permintaan maafnya kita lihat Kevin Spacey sedang berperan sebagai Frank Underwood. Khas politisi. Diplomatis. Kita patut tunggu reaksi dari Hollywood mengenai hal ini. Ketika Harvey Weinstein karirnya dipastikan habis karena begitu banyaknya korban–maka kasus Kevin Spacey ini saya melihat akan diselesaikan secara kekeluargaan. Kompromi. Kita tahu standar ganda selalu diterapkan di berbagai situasi. Jika Woody Allen masih bisa berkarya, saya rasa Hollywood akan memperlakukan hal yang sama.

Berikan Kekuatan Untuk Bisa Bertahan, Ya Tuhan …

Baru beberapa hari yang lalu saya menamatkan menonton serial “Feud”. Miniseri 8 episode ini dibuat oleh Ryan Murphy, pembuat serial “Glee”, miniseri “American Crime Story: The People vs OJ Simpson”, serial “American Horror Story”, dan masih banyak yang lain.

Rencananya “Feud” ini akan selalu dibuat setiap tahunnya. Semuanya akan menampilkan fokus perseteruan antara dua pesohor ternama yang publik (baca: penonton televisi Amerika) banyak ketahui.
Makanya, di musim penayangan pertama ini, cerita “Feud” memfokuskan diri pada perseteruan antara dua bintang besar Hollywood di era tahun 1930-an sampai awal 1950-an, yaitu Bette Davis dan Joan Crawford.

Untuk teman-teman yang memang penggemar film-film klasik, kedua nama ini sudah tidak asing lagi. Namun bagi teman-teman yang belum tahu, Bette Davis dan Joan Crawford bisa disebut sebagai, erm, Taylor Swift dan Katy Perry untuk perfilman Hollywood waktu itu. Keduanya sama-sama tough, strong minded, mampu bertahan di tengah dominasi serbuan bintang-bintang muda lainnya, dan mempunyai etos kerja yang tinggi. Tak heran, ketika keduanya dipersatukan untuk membintangi film What Ever Happened to Baby Jane? di tahun 1962, media dan publik kala itu “pecah”.

(source: The Hollywood Reporter)

Dua orang dengan watak keras kepala yang sama, yang terbentuk dari kebiasaan kerja keras selama puluhan tahun, bertemu dalam satu film. Tidak ada yang mau mengalah. Perseteruan mereka bukan karena mereka membenci satu sama lain, tapi karena mereka tahu bahwa mereka harus mengalahkan satu sama lain untuk menjadi yang terbaik, yang paling menonjol.
Apalagi film ini menandai kebangkitan mereka, karena sebagai aktris senior, mereka sudah jarang mendapat panggilan untuk main film lagi. Paling tidak, sudah tidak sesering waktu mereka masih muda.

Dan di sisi inilah miniseri ini menarik perhatian saya. Tentang ageism. (Apa ya padanan bahasa Indonesia yang paling pas?)

Tema ageism atau perlakuan diskriminasi terhadap orang lanjut usia ditampilkan dengan baik di miniseri “Feud” ini. Di industri hiburan yang memang ‘kejam’ dan cenderung berpihak pada penampil yang masih muda, kesempatan untuk para seniman tua berkarya semakin lama semakin berkurang.

Dalam miniseri ini, dan di kehidupan nyata, Joan Crawford terlihat kesulitan menghadapi kenyataan bahwa tidak ada lagi peran-peran yang menarik yang menghampirinya, tidak seperti di masa jayanya. Dia harus ‘rela’ berperan di film-film horror murahan, dan tidak mau terlihat tua di depan layar atau di depan publik. Saat sebuah koran memuat foto dirinya yang terlihat menua, dia memutuskan untuk berhenti berakting atau tampil di depan umum sama sekali, sampai dia meninggal di tahun 1977.

(source: Daily Mail)

Bette Davis ‘sedikit’ lebih beruntung. Sadar bahwa dia tidak pernah mengandalkan kecantikannya, dia masih terus bekerja sampai akhir hayatnya. Kesehatannya yang menurun tidak menghalanginya. Peran sekecil apapun, termasuk beberapa rencana serial televisi yang selalu gagal, dikerjakannya sambil menelan ego besarnya dalam-dalam. Tentu saja dia masih berkeluh kesah terhadap perlakuan tidak adil yang diterimanya. Atau buruknya film-film yang dia kerjakan. Namun dia ingin membuktikan bahwa dia masih bisa terus berkarya.

Film What Ever Happened to Baby Jane? yang mereka bintangi bersama memang sukses keras di pasaran. Bette Davis masuk nominasi Oscar lewat film ini. Nama Bette Davis dan Joan Crawford sempat melambung lagi, meskipun tidak lama. Lagi-lagi karena keterbatasan availability roles buat mereka.

Sepanjang miniseri ini, diam-diam ternyata ada pertanyaan yang menyeruak di benak saya, “Siapkah kita menua?”

Dulu saya suka bercanda dengan teman-teman saya, kalau ada yang memanggil dengan sebutan “pak” atau “bapak” ke saya dan sesama teman pria, atau “bu” dan “ibu” ke teman-teman perempuan. Rasanya risih. Lalu pasti protes. Atau berusaha dandan lebih muda dari umur.

Namun sekarang? Meskipun masih berusaha berpakaian sesantai mungkin, karena pekerjaan tidak mengharuskan untuk memakai seragam, ditambah olahraga rutin, ternyata frekuensi penyebutan panggilan “mas” atau “kak” sudah jauh lebih berkurang. Malah hampir tidak ada. Rasanya sedih, tapi cuma bisa sedih dalam hati. Soalnya kalau sedih di muka umum, nanti ada yang merekam lalu diunggah ke media sosial sampai jadi viral.

Kita tidak bisa melawan penuaan. We cannot beat aging, but we only have to deal with it.

(source: Feminist Current)

Susah? Itu pasti. Apalagi kalau sudah ada obrolan “kayaknya baru kemarin ya kita lulus SMA” dan sejenisnya. Semakin tua, semakin cepat rasanya waktu berlalu. Kejadian yang sudah lewat 15 tahun silam serasa seperti baru terjadi dua minggu yang lalu.

Toh time will never wait for anyone. Untuk kita semua yang angka umur semakin melaju melebihi kecepatan kita menyadarinya, kita harus siap kalau nanti kemampuan motorik kita semakin menurun, makan sedikit cepat membuat badan lebih menggemuk, sesekali lupa akan nama teman lama, dan kesempatan berkarya kita makin terbatas.

Apakah kita pasrah? Jawabannya adalah “ya” dan “tidak”.
Never mind our beauty will fade, tapi selama panca indera kita masih bekerja, maka kita masih bisa belajar. Belajar mengikuti perkembangan alam, perkembangan teknologi terbaru. Belajar untuk tidak menyusahkan yang lebih muda. Belajar bahasa mereka, meskipun bukan berarti kita harus berbicara bahasa yang sama. Membaca. Baik itu membaca alam, membaca perubahan, atau membaca buku untuk terus mengasah otak dan akal kita.

Just because we lose our youth, that does not mean we have to lose our mind.

Mari Marathon! (Nonton TV)

Baru saja kemarin rasanya saya seperti ditampar. Ditampar sama tulisan sih, bukan sama orang. Tulisannya bisa dibaca di sini: 11 Ways to be Healthier When Watching Too Much TV. Dari judulnya sudah cukup jelas ‘kan tentang apa?

Lalu kenapa bisa merasa tertampar?

Kalau teman-teman sering membaca tulisan-tulisan saya di sini, maka teman-teman pasti tahu betapa saya lagi tergila-gila menonton banyak serial televisi. Tentu saja kalau sudah berbicara soal serial televisi, kita bicara tontonan dalam durasi lama, lebih lama dari menonton satu film di bioskop.

Jadi, kalau sudah terpikat sama satu serial, maka bisa dipastikan saya akan menghabiskan waktu cukup lama untuk menonton serial tersebut. Bisa berjam-jam di depan layar televisi. Apalagi sekarang bisa streaming atau mengunduh serial dalam satu musim penayangan.

Kalau sudah begitu, tidak ada kerjaan lain selain duduk, duduk dan duduk. Sebuah aktivitas pasif yang sangat bertentangan dengan usaha untuk menjaga kesehatan tubuh.

(Courtesy of wired.com)

(Courtesy of wired.com)

Sesuai apa yang ditulis di artikel di atas, kalau sudah duduk lama sambil menonton televisi, pasti akan makan makanan ringan. Pasti akan ngemil.

Dan mana mungkin ngemilnya makanan sehat? Kemungkinan besar pasti makanan tidak sehat: terlalu banyak karbohidrat (nasi, roti, mie), lalu dilanjutkan dengan snack ber-MSG. Benar-benar “total” menjadi seorang couch potato.

Dari pengalaman menjadi couch potato bertahun-tahun selama ini, lalu sambil membandingkan dengan tulisan di atas, maka sepertinya ada beberapa hal yang bisa kita “siapkan” kalau mau nonton serial televisi, atau istilahnya, binge-watching:

  • Lakukan di pagi hari.
  • Ternyata saya baru sadar kalau baru sekali saya melakukan binge-watching, menonton satu musim penayangan, atau satu season, serial televisi, dari episode awal sampai episode terakhir. Serial itu adalah Stranger Things. Saya menontonnya dari jam 7:30 pagi, lalu berakhir di jam 4 sore. Waktu itu menontonnya di hari Minggu.
    Dari situ saya baru sadar, aktivitas binge-watching ini perlu tenaga ekstra, ya? Dan akan nge-blok waktu kita, bisa sampai setengah hari penuh. Maka memang sebaiknya dilakukan hanya di waktu luang, dan dimulai di pagi hari.

  • Kalau cuma bisa menonton di malam hari …
  • … maka batasi 2 episode saja sebelum tidur. Percayalah, ini akan susah sekali dilakukan. Apalagi serial macam House of Cards yang sungguh-sungguh sangat adiktif. Seringnya kita akan ngomong ke diri sendiri “satu episode lagi deh, abis itu tidur.” Tapi kenyataannya, kita akan sering bablas, sampai ketiduran di depan televisi atau gadget. Apabila nekat bablas nonton sampai pagi, yang ada besok paginya kita ngantuk, dan kekurangan energi karena kurang tidur.

(Courtesy of lifehacker.com)

(Courtesy of lifehacker.com)

  • Selalu sedia air putih.
  • Ternyata ini cukup manjur untuk membuat kita bergerak. Dulu waktu saya sering menonton 2-3 DVD berturut-turut, selalu ada 2 botol air minum ukuran 1 liter masing-masing yang ada di sebelah saya. Sekarang, cukup minum 1 gelas selesai satu episode Unbreakable Kimmy Schmidt, atau di tengah-tengah satu episode Masters of Sex. Rutin minum segelas air putih membuat kita sering bergerak, karena harus pipis di kamar mandi. Setelah usai buang air kecil, minum air putih. Begitu terus siklusnya.

  • Batasi jarak pandang.
  • Ini salah satu poin dari artikel Vulture di atas yang saya setuju. Sebisa mungkin kita menonton di televisi. Ukuran layar besar dari televisi akan otomatis membuat kita duduk dengan jarak yang cukup jauh. Ini sangat membantu untuk menutup mata saat ada adegan menyeramkan di Game of Thrones. Kalaupun harus menonton via tablet atau ponsel, jangan terlalu dekat dengan mata. Apalagi sampai ngantuk dan muka kita kejatuhan tablet atau ponsel itu.

(Courtesy of geekandsundry.com)

(Courtesy of geekandsundry.com)

  • You are what you eat!
  • Nah, ini yang saya belum bisa lakukan dengan baik. Jujur saja, saya masih suka “bablas” saat ngemil sambil nonton serial televisi. Favorit saya? Semua klethikan atau cemilan yang kalau dimakan bunyi krak-krak-krak saat digigit di dalam mulut, dan ber-MSG. Mulai dari kripik singkong sampai kacang. Sehat? Tentu tidak. Cukup sebungkus? Tentu tidak.
    Artikel di atas menyarankan buah anggur yang sudah dibekukan sebagai pengganti makanan ringan saat menonton. Setuju. Beberapa kali mengganti cemilan dengan buah seperti apel, jeruk dan anggur. Sudah cukup kenyang, apalagi yang ditonton serial ringan macam Madam Secretary. Cuma ya itu. Godaan aneka kripik dan kerupuk kok ya susah sekali ditepis.

  • You can always multitask.
  • Keasyikan menonton televisi di rumah adalah kita tidak perlu berbagi ruang dengan orang lain. Dengan begitu, kita bebas melakukan apa saja sambil menonton serial televisi kesukaan kita. Biasanya, setelah 2-3 episode, kita sudah familiar dengan tokoh-tokoh dan jalinan cerita yang berjalan, sehingga kita masih bisa mengikuti, meskipun mata tidak sedang tertuju ke layar televisi. Jadi kadang saya mendengarkan saja dialog dari Empire sambil mencuci piring. Atau sambil menanggapi obrolan di WhatsApp grup.

  • You choose what you watch (not others)
  • Artinya, pilih apa yang mau Anda tonton. Kalau tidak suka, tinggal saja. Masih banyak serial lain yang bisa ditonton. Cukup satu episode dari serial MacGyver edisi baru untuk membuat saya memutuskan serial ini tidak perlu ditonton lagi, karena membosankan. Sebaliknya, saya tidak keberatan menghabiskan waktu menonton ulang Friends atau Will & Grace. Dua-duanya memang belum ada yang menandingi lagi sampai sekarang.

After all, not every hype or the latest trend is suitable for us.

(Courtesy of theodysseyonline.com)

(Courtesy of theodysseyonline.com)

Selamat menonton!

Tebak-tebak Buah Manggis si Emmy

Lagi-lagi soal televisi.

Maklum, sebagai penonton serial televisi, saya benar-benar terbuai dengan banyaknya serial televisi berkualitas, terutama dari Amerika Serikat dan Inggris. Kepuasan menonton serial televisi ini sudah sering kali saya tulis, baik di Linimasa maupun blog pribadi. Tapi memang nyatanya, rasa senang ini masih bertahan sampai sekarang. Puas rasanya menonton tayangan televisi yang bisa membuat saya terpaku dan kagum dengan jalan cerita yang disajikan. Malah sekarang kalau tidak ada film yang menarik di bioskop, saya memilih untuk menonton serial televisi. Lebih terhibur, dan lebih memberi asupan untuk otak dan hati. Apalagi media menontonnya makin banyak, dengan banyaknya pilihan aplikasi streaming yang ada.

Veep

Veep

Makanya, paling tidak buat saya, perhelatan Emmy Awards, ajang penghargaaan tertinggi untuk dunia pertelevisian di Amerika, menjadi sama menariknya untuk diikuti seperti Academy Awards buat penggemar film. Berhubung saat ini kita sedang berada dalam masa “Golden Age of (scripted program in) television”, atau banyak orang menyingkatnya dengan “peak TV”, maka persaingan Emmy Awards jauh lebih ketat dan selektif daripada Oscar.

Kalau dari segi angka, memang sepertinya jauh lebih susah untuk dinominasikan di Emmy Awards.
Kurang lebih perbandingannya seperti ini:
– saat ini ditaksir ada 400 serial televisi di Amerika setiap tahunnya. Empat ratus serial, katakanlah rata-rata per serial ada 10 episode, berarti setahun ada lebih dari 4.000 episode serial televisi. Ini baru serial televisi, belum termasuk dokumenter, reality show, dan lain-lain.
– sementara setiap tahun sekitar 300 film panjang yang masuk shortlist untuk Academy Awards.
– nominasi dan pemenang Emmy Awards dipilih oleh anggota Television Academy yang totalnya berjumlah lebih dari 20.000 anggota.
– nominasi dan pemenang Academy Awards dipilih oleh anggota Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS) yang totalnya berjumlah lebih dari 6.000 orang.

The Americans

The Americans

Meskipun begitu, Emmy Awards sendiri cukup sering dikritik. Ada kecenderungan menominasikan serial dan aktor/aktris yang sama setiap tahunnya. Mungkinkah karena terlalu banyak serial televisi yang harus ditonton para voters untuk dipilih? Bisa jadi. Dan sejatinya memang serial televisi bisa menjadi tontonan yang familiar buat kita setelah kita terbiasa menontonnnya dalam waktu lama, setelah beberapa episode. Alhasil, sense of familiarity juga lah yang menentukan apakah serial tersebut bisa masuk nominasinya?

Solusinya? Tentu saja campaign. Segala macam publisitas dan promosi dikerahkan untuk mendorong serial-serial ini mendapat perhatian. Apresiasi positif dan critical reaction menjadi senjata penting. Apalagi sekarang situs-situs seperti Rotten Tomatoes dan media-media prestisius semacam The New York Times juga memberikan ruang khusus untuk kritik program televisi.

The People VS OJ Simpson

The People VS OJ Simpson

Dan dengan banyaknya program serial televisi, akhirnya penilaian terhadap “program terbaik/aktor terbaik/aktris terbaik” pun berbeda-beda. Penilaian satu ajang penghargaan dengan ajang penghargaan lain terhadap kategori “the best in TV” pun berbeda. Selain wajar, ini juga memperkaya pilihan, dan lagi-lagi, membuktikan bahwa memang we are living at the age of too much good TV.

Berhubung yang paling dekat dari semua ajang penghargaan televisi itu adalah Primetime Emmy Awards yang digelar Minggu, 18 September (di sini disiarkan langsung oleh StarWorld hari Senin pagi, 19 September), maka berikut ini tebak-tebakan saya siapa yang akan menang. Daftar lengkap yang panjang dari nominasi Primetime Emmy Awards bisa dilihat di sini ya:

Master of None

Master of None

  • Best Comedy Series: Veep
  • Best Lead Actor, Comedy: Aziz Ansari – Master of None
  • Best Lead Actress, Comedy: Julia Louis-Dreyfus – Veep
  • Best Supporting Actor, Comedy: Tituss Burgess – Unbreakable Kimmy Schmidt
  • Best Supporting Actress, Comedy: Anna Chlumsky – Veep
  • Best Drama Series: (aduh, ini berat banget, karena banyak yang saya suka. Tapi, mau tidak mau, harus the most personal favorite kalau memiih. Jadi pilihan saya …) The Americans

  • Best Lead Actor, Drama: Rami Malek – Mr. Robot
  • Best Lead Actress, Drama: Robin Wright – House of Cards
  • Best Supporting Actor, Drama: Kit Harrington – Game of Thrones
  • Best Supporting Actress, Drama: Constance Zimmer – UnReal

  • Best Limited Series: The People vs OJ Simpson

  • Best TV Movie: (sebenarnya nggak ada yang terlalu suka, jadi ini pilihan yang sifatnya menebak pilihan voters, yaitu …) All the Way
  • Best Lead Actor, Limited Series or TV Movie: Courtney B. Vance – The People vs OJ Simpson
  • Best Lead Actress, Limited Series or TV Movie: Sarah Paulson – The People vs OJ Simpson
  • Best Supporting Actor, Limited Series or TV Movie: Hugh Laurie – The Night Manager
  • Best Supporting Actress, Limited Series or TV Movie: Jean Smart – Fargo season 2
House of Cards

House of Cards

Apakah saya menonton semua pilihan saya ini? Jawabannya: 85%.
Kenapa cuma segitu? Ya lihat saja video ini.

Ingat: too much of a good thing is not good after all.

😉

The Night Manager

The Night Manager

Bersatu Untuk Bernostalgia Yang Seru Demi Masa Depan Yang Bermutu

Selama seminggu terakhir ini, saya lagi getol-getolnya mantengin Twitter dan Snapchat untuk mengikuti ulasan dan perkembangan seputar ATX.

Apakah itu ATX? Tak lain dan tak bukan adalah sebuah festival di Austin, Texas, Amerika Serikat, yang dibuat untuk merayakan acara televisi. Kalau biasanya kita mendengar banyak acara seputar festival film atau festival musik, maka ATX mengkhususkan diri untuk berkutat hanya seputar acara televisi.

Kata “hanya” di sini bisa jadi sekedar understatement. Di tengah keriuhan banyaknya jumlah acara televisi buatan Amerika Serikat (konon kabarnya ada lebih dari 400 serial drama dan komedi yang diproduksi saat ini, di luar dokumenter dan reality show), festival ini menjadi ajang mempertemukan sesama penonton acara televisi dengan para pembuatnya. Sesama pembuat acara televisi pun saling bertemu untuk bertukar cerita dan ide.

Yang menjadi daya tarik terbesar dari festival ini adalah acara reuni. Setiap tahun ada ajang reuni acara televisi yang sudah lama tidak ditayangkan. Tahun ini ada reuni “Ugly Betty” dan “The West Wing”. Tahun lalu ada reuni “Gilmore Girls” dan “Roswell”. Yang hadir adalah para pemain, penggagas serial tersebut, dan, ini yang paling penting, para penonton serial-serial tersebut. Setiap saya melihat foto dan video di media sosial tentang keseruan acara tersebut, perasaan saya campur aduk mulai dari iri sampai kagum.

Reuni serial Gilmore Girls di ATX Festival 2015. (Thank you, Google Image!)

Reuni serial Gilmore Girls di ATX Festival 2015. (Thank you, Google Image!)

Maklum, saya memang penonton serial televisi Hollywood, termasuk serial-serial di atas. Mau dibilang TV junkie atau couch potato, terserah. Yang jelas, banyak serial televisi buatan Amerika Serikat dan Inggris selama satu dekade terakhir ini yang kualitas ceritanya jauh melampaui banyak film Hollywood. Beberapa kali saya sadar sekali bahwa kadang menonton film di bioskop sekedar untuk memuaskan rasa menyaksikan film di layar lebar. Tapi untuk kepuasan cerita, lebih sering saya temukan di medium televisi, yang tentu saja sudah meluas ke jasa streaming.

Yang membuat saya makin kagum dengan ATX ini adalah keberanian dan kenekatan para penggagas festivalnya. Menonton televisi itu ‘kan kegiatan yang sangat personal dan invidualistis. Kita tidak perlu meninggalkan rumah, kalau perlu tidak usah mandi dan ganti baju. Mau baru bangun tidur juga sudah langsung bisa menyalakan televisi, tablet atau ponsel.
Namun ATX ini bisa mengumpulkan penonton televisi untuk saling bertemu, berbagi kesenangan yang sama terhadap acara televisi favorit mereka, dan berinteraksi langsung.

Karena saya hanya melihat liputan dari jauh lewat foto dan video, saya hanya menerka-nerka keseruan yang terjadi. Tapi yang saya lihat, sepertinya mereka tidak ada beban untuk harus win over new audience. Beda dengan festival film besar yang membuat premiere film baru, dengan harapan filmnya bisa laku waktu dirilis setelah di festival. Atau festival musik, yang dibuat dengan harapan orang akan membeli album penyanyi yang barusan mereka lihat.
Panel-panel di ATX ini sepertinya quite relaxing, termasuk untuk panel-panel yang serius, di mana mereka membahas masa depan program televisi, berikut serial-serial televisi baru yang akan diluncurkan atau sedang dikerjakan.

Reuni serial Ugly Betty di ATX Festival 2016. (Thank you, Google Image!)

Reuni serial Ugly Betty di ATX Festival 2016. (Thank you, Google Image!)

Di sinilah keunggulan ATX: tidak melulu bermain nostalgia, tapi juga menghadirkan acara-acara yang membahas kekinian dan juga masa depan. Sekali datang, semua jangkauan waktu terjelajahi.

Saya tidak mau berandai-andai dulu kalau seandainya ada yang mau membuat acara serupa di sini, reuni serial “Losmen” atau “Pondokan” misalnya. Lebih penting untuk merestorasi dan menayangkan ulang serial-serial lama tersebut agar ditonton generasi sekarang di platform yang lebih modern.

Yang jelas, buat saya sudah cukup senang untuk tahu bahwa despite watching those TV series alone at home, we’re not really alone out there.

Reuni serial The West Wing di ATX Festival 2016. (Thank you, Google Image!)

Reuni serial The West Wing di ATX Festival 2016. (Thank you, Google Image!)

House of Cards: Ketika Angin Semakin Kencang Menerpa

Di sini ada yang ngikutin serial dari House of Cards? Perjalanan seorang politisi yang merintis jalan menuju Gedung Putih? Saya harapkan banyak ya. Karena serial ini bagus sekali. Bahkan saking bagusnya, saya akhir pekan kemarin tidak melakukan aktivitas apa-apa selain melahap semua tiga belas episod dari musim ke empat dari serial ini. Serial ini dibintangi oleh Kevin Spacey dan Robin Wright sebagai Frank dan Claire Underwood. Dua orang suami istri yang bahu membahu dan melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Sepertinya layaknya politisi kebanyakan. Untuk yang ingin mengikuti lebih jauh dalam kenapa serial ini penting sekali, saya pernah bahas dan tulis di sini. Silakan mampir kalo berkenan.

hoc5

 

Serial ini diikuti oleh Bill Clinton. Mantan Presiden Amrik itu bahkan  berkata bahwa apa yang terjadi di House of Cards memang 99% sama dengan kenyataan yang terjadi di Gedung Putih. Jika seorang presiden berkata seperti itu. Lalu apa alasan untuk tidak mengikutinya. Apalagi jika memang suka dengan serial politik dan segala intrik yang terjadi di dalamnya. Ini adalah serial genre political thriller terbaik yang pernah ada.

 

a ​complicatedorganization or ​plan that is very ​weak and can ​easily be ​destroyed or ​easily go ​wrong

House of Cards, menurut kamus Cambridge mempunyai definisi seperti saya kutip di atas. Bagaikan menyusun kartu untuk membuat sebuah rumah atau piramid tapi pondasinya tidak kokoh. Rapuh. Sedikit goyangan atau ada angin yang bertiup maka kartu akan berantakan di meja. Ini yang disoroti di serial ini. The Underwoods (sebutan untuk Frank dan Claire Underwood) berusaha sekuat tenaga untuk menjaga kartu tersebut tetap pada rencana semula. Dan ketika kartu tersebut semakin menjulang ke atas dan membentuk suatu “rumah” yang utuh itulah yang tujuan yang ingin dicapai. Tapi untuk melakukan itu tentunya bukan hal yang mudah. Apalagi jika anda seorang politisi di level paling tinggi di negara adidaya. Selalu saja ada yang ingin meniupnya. Selalu saja ada yang ingin menggoyang meja. Apa saja dilakukan untuk meruntuhkan kartu yang telah tersusun. Tapi di sisi yang lain The Underwoods tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dan mereka akan melakukan apa saja agar kartu yang telah tersusun itu tetap pada tempatnya. Apa saja. Yang penting mereka tetap berada di puncak kekuasaan.

hoc7

Yang membuat serial ini istimewa adalah sang kreator, Beau Willimon, membuat naskah yang relevan dengan situasi terkini yang sedang terjadi di dunia. Khususnya Amerika Serikat. Latar belakangnya sebagai mantan penasehat Hillary Clinton juga sangat membantu dalam pembuatan naskah. Di dunia nyata kita sedang melihat Demokrat dengan kandidatnya Bernie Sanders dan Hillary Clinton berusaha untuk menjadi calon Presiden. Dan di kubu yang lain sepertinya Donald Trump akan melaju sebagai capres dari Partai Republik. Perang Dingin jilid dua dengan Rusia pun dipotretkan oleh House of Cards musim keempat ini. Ancaman teroris dari ISIS di dunia nyata pun ada di serial ini. Dengan nama yang diganti tentunya. Serial ini berusaha dibuat senyata mungkin dengan kondisi yang terjadi di dunia saat ini.

hoc6

Pencitraan, PR stunt, atau apapun sangat dibutuhkan dalam masa kampanye, demi mendongkrak elektabilitas seorang kandidat. Di musim ini pun begitu. Social media yang memegang peranan penting untuk salah satu kandidat. Kita sangat tahu apa yang dilakukan Donald Trump dengan segala pernyataan kontroversialnya yang justru mendongkrak elektabilitasnya. Kita tahu juga bagaimana Ridwan Kamil, Jokowi, ataupun Ahok bagaimana mereka memanfaatkan media. Mereka ada di mana-mana. Itu bermanfaat. Tapi di lain pihak itu juga bisa menjatuhkan. Itu diperankan dengan baik oleh Joel Kinnaman sebagai kandidat dari partai Republik di serial ini. The Conways, pasangan muda ganteng dan beristri cantik, (terlihat) bahagia, dan mempunyai dua anak yang masih kecil. Idaman Amerika. Kondisi ini dimanfaatkan sebaik mungkin melalui internet, Media sosial terutama. Sementara The Underwoods kebalikannya. Tradisional.

Untuk bisa merangkum apa yang sebetulnya terjadi di Hourse of Cards. Bisa dilihat di video Youtube di bawah ini. Tapi kalo ingin menghindari spoiler saya sarankan tidak melihatnya. Kecuali kalo memang penasaran.

Siapa yang bisa membangun rumah dari kartu setinggi dan kuat dari terpaan angin maka mereka yang akan menjadi pemenang. Lalu siapa yang menang jika begitu? Mereka yang memegang kartu truf. Segera nonton jika belum. Tidak ada kata terlambat. Jika sudah. Mari kita berdiskusi di kolom komen.

 

 

 

Pembuka Cerita

Apa yang membuat kita bisa jatuh cinta pada satu serial televisi? Bisa jadi para pemainnya, atau jalan ceritanya, atau kebetulan saja lagi menemukan serial tersebut saat memindai banyaknya saluran televisi di depan kita.

Tapi mari kita kesampingkan sejenak faktor-faktor tersebut.

Apa yang membuat kita bisa jatuh cinta pertama kali pada satu serial televisi?
Buat saya, opening sequence atau bagian pembuka serial tersebut.

Beberapa hari yang lalu, serial “Mad Men” mengakhiri penayangannya setelah 7 seasons atau musim penayangan. Kebetulan saya mengikuti serial ini dari awal. Tentu saja, seperti layaknya serial lain yang kita ikuti, saya pun sudah familiar dengan karakter-karakter serial tersebut. Demikian pula dengan jalan cerita masing-masing karakter. Namun ada satu hal yang saya sadar akan membuat saya merasa kehilangan, yaitu adegan pembukanya.

Mad Men

Mad Men

Setiap episode serial “Mad Men” dibuka dengan siluet seorang pria melayang dari ketinggian gedung, jatuh menyusuri rangkaian billboard iklan yang dipasang, seiring dengan munculnya nama-nama pemain, sampai akhirnya pria tersebut duduk membelakangi kita dengan sebatang rokok di tangan. Indah, berkelas, dan mempunyai lagu tema instrumental yang khas. Lagu ini berjudul “A Beautiful Mine” karya RJD2. Saking nempelnya lagu ini dengan adegan ini, sampai-sampai pembuat serial “Mad Men”, Matthew Weiner, pernah berujar di panggung Emmy Awards saat karyanya mendapatkan Emmy pertama sebagai Serial Drama Terbaik tahun 2008, “We can never get rid of our opening song. We just love it!”

Sangat jarang sebuah opening sequence dari serial televisi disebutkan saat serial tersebut memenangkan penghargaan tertinggi pertelevisian Amerika. Padahal adegan pembuka ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari serial televisi. Tentu saja, seperti layaknya sampul buku atau cover majalah, adegan pembuka serial televisi adalah impresi awal buat kita, para penonton televisi, untuk bisa tertarik terhadap apa yang kita tonton.

Bahkan adegan pembuka bisa jadi tontonan tersendiri, lepas dari apapun episode yang akan ditayangkan, di musim penayangan kapanpun. Contoh jelasnya “The Simpsons”. Urutan adegan pembuka selalu sama selama 26 tahun terakhir. Yang berbeda di setiap episode adalah tulisan yang Bart Simpson tulis di papan sebagai hukuman, dan bagaimana satu keluarga The Simpsons akan duduk di depan televisi. Seniman sekaliber Banksy pun pernah membuat adegan pembuka serial ini.

Tidak semua serial bertahan lama sepanjang “The Simpsons”. Tapi itu tidak menghalangi beberapa serial untuk melakukan update saat memasuki musim penayangan baru, meskipun deretan pemain, judul serial, dan tentunya lagu yang digunakan pun, masih sama.
Tapi selalu ada celah untuk menyegarkan rutinitas.

Contohnya serial “Friends” dengan lagu “I’ll Be There For You”, yang sama-sama sudah menjadi bagian tak terpisahkan antara keduanya.
Meskipun kita sudah sangat familiar, bahkan sampai ke ketukan nada dan urutan nama pemain yang muncul, namun pembuat serial ini masih bisa bermain-main dengan nama para pemainnya saat Courteney Cox baru menikah dengan David Arquette beberapa tahun lalu. Caranya? Tambahkan saja nama Arquette di belakang nama semua pemain dan kru!

Ada kenangan yang terpisahkan antara lagu dan serial, seperti halnya lagu karya grup The Rembrandts dan juga enam teman yang sering nongkrong di kafe Central Perk di atas. Demikian pula dengan lagu “I Don’t Want to Wait” milik Paula Cole, yang selamanya akan selalu saya asosiasikan dengan serial “Dawson’s Creek”.

Meskipun tanpa lagu, adegan pembuka dengan komposisi musik tertentu bisa membuat kenangan tersendiri buat kita, penontonnya.

Paling tidak, tema musik pembuka serial televisi bisa membuat saya panik setengah mati karena masih belum menyelesaikan urusan di kamar mandi, sementara lagu tema serial “Knight Rider” sudah mulai berkumandang dari ruang keluarga.
Itu hari Rabu malam.
Kalau hari Jumat malam, saya bisa buru-buru menyelesaikan makan malam saat lagu tema “MacGyver” mulai terdengar, lalu berlari untuk duduk di depan televisi. Sementara beberapa jam sebelumnya, tepatnya di Jumat sore, kadang saya harus menahan kesal, karena saat itu adalah waktunya mengikuti les tambahan, sementara dari televisi mulai terdengar suara instrumental pembuka serial “Beverly Hills 90210”.

Beverly Hills 90210

Beverly Hills 90210

Kalau Anda mulai bertanya-tanya kenapa semua serial di atas hadir sebelum abad 21, itu karena tak banyak serial saat ini yang menaruh perhatian khusus pada adegan pembuka, sebelum kita digiring masuk ke cerita episode yang sedang berjalan.
Hampir semua serial buatan Shonda Rhimes (“Grey’s Anatomy”, “Scandal”, “How to Get Away With Murder”) tidak terlalu menaruh perhatian pada opening titles ini. Judul serial dimunculkan sekilas saja. Nama-nama pemain muncul sejalan dengan adegan yang sedang berlangsung. Metode ini banyak digunakan di serial-serial sekarang, dengan pertimbangan bahwa perhatian orang semakin pendek karena terbagi dengan smartphone, interaksi di media sosial, sehingga takut kalau mereka tidak terpikat langsung dengan jalan cerita serial televisi, maka mereka tidak akan menonton serial tersebut sama sekali.

Kalaupun ada perkecualian, mungkin hanya beberapa saja, seperti “Game of Thrones” atau “Unbreakable Kimmy Schmidt” yang digarap dengan serius. Lalu ada juga “House of Cards” dan “Daredevil”, semuanya dari Netflix, yang cukup sukses mewakilkan mood dan tone serial lewat scoring yang sangat berat dan serius di opening title.

Daredevil

Daredevil

Dan mau serius, atau jenaka seperti lagu pembuka serial “Si Doel Anak Sekolahan”, yang jelas serial televisi tak akan lengkap tanpa musik pembukanya. Opening theme of a TV series gives us what we already know, what we can expect, and at the same time, ensures us of that we’re home with the people we know the most.

And that is the magic of television.

PS: oh iya, cuma mau kasih tahu kalau dari semua serial televisi yang ada di atas, opening title favorit saya bukan salah satu dari mereka. Favorit saya?
Ini dia: the most glorious TV series opening of all time!