Katanya “I Travel Because I Have to, I Come Back Because I Love You”

Judul tulisan di atas adalah judul film dari Brazil produksi tahun 2009 karya Marcelo Gomes dan Karim Ainouz. Menurut saya, ini salah satu judul paling romantis yang pernah dibuat untuk sebuah produksi film.

Apakah filmnya romantis? Well, kalau Anda tidak terbiasa menonton film-film arthouse yang serius, pasti penasaran ingin menekan tombol fast forward di sebagian besar adegan.
Namun paling tidak, judul filmnya sendiri sudah mengundang rasa penasaran kita.
Terutama bagi mereka yang sering bepergian.

Anda pernah nonton film Up In the Air?
Film ini menceritakan pengalaman George Clooney sebagai seorang eksekutif profesional yang bertugas menyampaikan langsung penghentian kerja kepada karyawan yang terkena PHK tersebut. Pekerjaannya membuat tokoh ini harus bepergian lebih dari 300 hari dalam setahun. Hampir tidak pernah ada di rumah, bahkan mulai mengaburkan konsep rumah sebagai tempat tinggal.

Toh dia lebih sering menghabiskan waktu di pesawat dan di hotel. Di beberapa adegan kita melihat apartemennya nyaris kosong, hanya ada beberapa perabotan seadanya. Makanya tokoh ini tidak pernah betah saat dia lagi “off days”. Ada rasa kecanduan tertentu yang dia dapatkan saat bepergian.

tumblr_nuc4frLsPx1ubc3b0o4_500

Saya yakin Anda kenal atau punya beberapa teman atau saudara dengan aktivitas bepergian seperti ini. Atau mungkin Anda sendiri yang menjalaninya?

Kebetulan beberapa teman dekat saya menjalani kehidupan seperti ini. Demi urusan pekerjaan, bukan sekedar update akun media sosial, mereka sering bepergian, baik ke luar kota, luar pulau, atau luar negara.

Ada yang lajang, ada yang sudah berpasangan, ada yang menikah. Tentu saja perspektif mereka tentang “pulang” berbeda satu sama lain.

Teman saya yang lajang bilang, “Kayak semacam ada hollow gap yang gak bisa gue jelaskan tiap kali gue pulang bepergian. Mungkin karena gue pulang ke apartemen gue yang kosong karena tinggal sendiri. Udahlah tinggal sendiri, pulang pasti apartemen jadi pengap karena berhari-hari ketutup dan listrik dimatiin ‘kan. Jadi kayak makin males untuk pulang.”

Sementara teman-teman yang berpasangan atau menikah kurang lebih memiliki pandangan yang sama.

“Pulang, karena ada yang nungguin. Ada yang nanyain kapan pulang.”

“Ada yang ngangenin.”

“Bener. Ada yang gak bisa tidur, sampe harus naruh kaos gue di bawah bantal.”

“Persis kayak anak gue. Tiap hari harus nonton video gue ama dia supaya dia bisa tidur.”

“Ya kayak gitu yang akhirnya bikin kita harus pulang. Rutinitas kecil yang gak bisa gue tinggal.”

“Bisa sih elo tinggal, tapi apa elo mau? Itu kan masalahnya?”

“He eh. I mean, it’s nice to have a break, traveling to other places, dikelilingi suasana baru, pengalaman baru …”

” … Selingan baru, bro?”

“Heh! Hahahaha. Well, anyway …”

” … Hahaha …”

“Pada akhirnya ada semacam kekuatan yang menarik diri elo untuk gak berlama-lama pergi. Call it attachment or whatever ya, saat elo sudah memutuskan untuk commit to a life with the one or the ones you love, tanpa ada paksaan elo akan kembali. Pada akhirnya, elo kangen rutinitas hidup elo yang elo biasa jalani, yang elo tahu, yang elo hapal di luar kepala.”

Teman saya yang lain mengangguk.

IMG_20180710_104418_1

Rutinitas. Ternyata ini juga yang diamini teman saya yang lajang. Tentu saja rutinitas yang berbeda.

“Gue kan cenderung jadi light traveler minimalis borderline pemalas ya kalo bepergian. Hahahaha. Jadi ya gak gue bawa lah segala macem sepatu lari dan peralatan olahraga lainnya. Makanya gue selalu look forward to doing my usual activities lagi kalo pulang dari bepergian. Lari pagi keliling kompleks dua hari sekali. Kelas-kelas di gym every other day juga. Yoga pas weekend sebelum ketemu ponakan-ponakan gue. I always miss those routines. Ternyata kita orangnya gak bisa lepas dari rutinitas ya? I mean, no matter how far and free we go, we miss that orderly life. Oh, satu lagi ding. Makanan Indonesia, maaan! Segala macem ghoulash atau steak paling enak, gak ada yang ngalahin nasi Padang bungkusan! Beneran. I love it! I can marry nasi Padang so I can always come back to the one I love. Hahahaha!”

Saya ikut tertawa.
Sambil diam-diam berpikir, apa yang sudah kita cintai sampai membuat kita selalu ingin kembali?

IMG_20180707_103029

Advertisements

Mahal Harganya

Minggu lalu, dalam pertemuan rutin dengan beberapa teman sambil makan malam, kami saling bertukar cerita tentang kebiasaan kalau lagi bepergian.

Teman 1: “So how was the trip?

Saya: “’Kan udah aku ceritain di Path. Sama semua yang aku upload di Instagram. Trus Instagram ya nyambung ke Facebook ama Twitter ‘kan? Gila ya, emang Instagram itu diciptakan buat keperluan jalan-jalan! Kalo gak jalan-jalan, gak aktif. Hahaha.”

Teman 2: “Tapi gak semuanya diceritain di socmed deeeh. Let’s hear the naughty, juicy, uncensored ones!

S: “Apanya yang naughty, juicy, uncensored. Lha wong gak ngapa-ngapain!”

Teman 3: “Gak ngapa-ngapain kok lupa beliin tumbler pesenan gue?”

S: “Hehehe, maaf. Gak main ke cafe mainstream ceritanya. Cieeeh!”

T1: “I just wanted to ask you this. Did you enjoy the trip?

S: “Iya. Banget. Nggak tau ya, tapi kok kayanya the best personal trip so far ya.”

T1, T3: “Oh ya?”

T2: “But you’ve been to other exciting places before. Pas yang waktu itu ke India, ke Nepal …”

S: “Iya. Waktu pergi ke negara-negara yang elo sebutin tadi memang menarik perjalanannya. Each one is memorable. Cuma mungkin karena kemaren saya pergi dengan tidak ada plan sama sekali mau ngapain di setiap kota, purely spontaneous, jadinya malah banyak nemuin hal-hal unik yang bahkan gak kesebut di guide book. Beneran selewatnya aja, kalau lihat ada spanduk tentang museum, ya ayo masuk museum. Lha itu, film museum. Liat spanduk kecilnya aja pas malem-malem mau ke pantai. Langsung besoknya Google. Ternyata ada lho!”

T3: “Saw the pictures. Kayanya bagus banget!”

S: “Emang. Bagus banget! Dan pas di sana, rasanya beneran gak papa banget kalo ngabisin waktu setengah hari cuma ke satu tempat itu. Dan ini juga sih ya, selama ini kalo pas pergi, ternyata baru nyadar kalo ada dua tempat yang bikin saya jatuh cinta sama kota atau negara itu.”

T2: “And they are … Booze, sex and more booze?

S: “Gundulmu! Enggak. Akhirnya kemarin nyadar kalo selama ini, mau ke mana pun perginya, pasti nyari: taman dan museum. Ya kalo gak museum, galeri lah. Pokoknya dua tempat ini ternyata jadi tujuan wajib buat saya.”

T1: “Kalo gue, selama ini kita kan di sini jadi makhluk indoor ya. Apalagi saya yang tinggal di apartemen di gedung bertingkat yang tinggi kayak gini. Pergi ke mana-mana naik mobil, mau mobil pribadi atau taksi. Dari rumah, masuk mobil, terus keluar sebentar, masuk kantor atau masuk mall lagi. So indoor. Makanya begitu ada kesempatan pergi sejenak, langsung lah saya menggila! Guling-gulingan di pantai, trekking atau sekedar jalan kaki.”

S: “True. Kemarin pun akhirnya ada momen cuma duduk doang di taman berjam-jam. Totally doing people watching, and totally fine.

T1: “See? And we can just enjoy those moments. Karena bisa jalan kaki keliling kota dan duduk di taman itu mahal harganya. Kita gak punya yang proper.”

S: “Nah, dengan alasan yang sama itulah kenapa saya juga menggila kalau ada museum atau galeri. Pameran koleksi lukisan lengkap Salvador Dali dan Andy Warhol aja, harganya masih lebih mahal tiket bioskop kita kalo weekend. Dan belum tentu ada juga.”

T1: “Exactly!

T2: “Isn’t it funny how basic and simple things can be expensive?

Lalu saya melihat foto ini tanpa sengaja saat sedang mencari image yang pas untuk tulisan yang Anda baca sekarang. Foto ini saya ambil bulan lalu di Bratislava, ibu kota Slovakia. Kotanya tidak lebih besar dari Depok. Penduduk pun tidak banyak. Kotanya sepi. Namun jalan-jalan di kota ini terhubung oleh satu taman dengan taman lainnya. Setiap sudut, selalu ada taman kota dengan kursi-kursi panjang.

IMG_0993

Ibu ini seseorang yang homeless. Dia mengembara, bersembunyi dari satu sudut kota ke sudut yang lain untuk sekedar beristirahat. Problem serupa banyak ditemui di negara-negara Eropa Timur lain: angka pengangguran yang cukup tinggi, dan krisis ekonomi yang entah kapan selesai.
Saya duduk persis di sebelahnya. Dia memejamkan mata. Waktu itu hari Rabu sore, menjelang matahari terbenam. Semilir angin cukup kencang, sehingga cuaca sekitar 23 derajat Celcius tidak terasa “gerah”. Diam-diam saya ambil foto ini. Buru-buru saya mengambil gambarnya, karena takut dia terbangun dan terganggu.

Mungkin dia berpikir, betapa mahal untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak.
Yang pasti saya berpikir, betapa mahal untuk menikmati apa yang dia nikmati sekarang.

Mengelilingi Sekeliling

Salah satu kebiasaan yang saya lakukan ketika bepergian, baik untuk liburan atau pekerjaan, dan harus menginap di hotel atau tempat penginapan sejenis adalah meluangkan waktu di pagi hari untuk berkeliling di sekitar area hotel tersebut. Biasanya kegiatan ini saya lakukan di pagi hari, sehari sesudah check-in.

Di desa Bantul, hari terakhir 2014. (Photo by Nauval Yazid)

Di desa Bantul, hari terakhir 2014. (Photo by Nauval Yazid)

Jadi, kalau misalnya hari Kamis ini saya masuk hotel, berarti besok pagi, di hari Jumat, setelah bangun pagi dan sebelum sarapan, saya akan berjalan kaki keluar dari kamar dan dari hotel untuk berkeliling melihat apa saja yang ada di sekitarnya

Kebetulan saya juga bukan pengejar momen matahari terbit atau sunrise, kecuali kalau memang tempatnya memungkinkan, seperti pergi ke Gunung Bromo atau Tiger Hill di kota Darjeeling, India. Apalagi kalau di menginap di tengah kota besar dengan gedung bertingkat, mana kelihatan?
Maka tujuan berkeliling di sekitar area hotel adalah untuk melihat suasana pagi hari, sebelum toko-toko buka, ketika petugas pengangkut sampah mulai parkir dan melakukan tugasnya, saat orang-orang yang mungkin tinggal di area perumahan sekitar hotel bergegas menuju tempat kerja, dan tentu saja tempat-tempat sarapan yang pelan-pelan ramai dipadati pengunjung.

Kafe hipster di depan hotel di Budapest. (Photo by Nauval Yazid)

Kafe hipster di depan hotel di Budapest. (Photo by Nauval Yazid)

Biasanya saya habiskan waktu sekitar 15 sampai 20 menit untuk berkeliling mengelilingi area tempat penginapan ini. Saat pagi hari buat saya adalah waktu yang tepat, karena cahaya matahari pagi bagus buat hasil potret di kamera (tujuan traveling adalah supaya bisa menghasilkan foto banyak, bukan? Oh bukan ya?), dan toko-toko belum buka, sehingga saya bisa puas melakukan window shopping tanpa harus berebutan dengan banyak orang.

Minggu pagi di Praha. (Photo by Nauval Yazid)

Minggu pagi di Praha. (Photo by Nauval Yazid)

Membebaskan pikiran dari kungkungan kamar hotel, seluas apapun, itu perlu. Kamar hotel atau tempat penginapan adalah rumah kita sementara saat bepergian. Tapi kadang kita terlalu bertumpu pada rumah sementara ini, sampai kita melupakan pekarangan yang mengelilinginya.

Temuan-temuan di sekeliling ini kadang membuat perjalanan jadi mengesankan.
Ketika saya memesan kamar di sebuah hotel di Budapest, saya hanya mencari yang di tengah kota, tanpa tahu bahwa ternyata hotel tersebut berada di tengah perkampungan kaum Yahudi yang hipster, dan ada synagogue (tempat ibadah orang Yahudi) persis di depan hotel.
Lalu tanpa saya sadari, sebuah hotel kecil di Yogya yang pernah saya inapi tahun lalu ternyata letaknya persis di seberang sebuah toko kacamata yang memakai nama saya sebagai nama tokonya. Kapan saya pernah bikin toko kacamata ya?
Dan tentu saja ketika harus mendaki lebih dari 500 anak tangga untuk mencapai kamar hotel di Pokhara, Nepal, maka rasa letih itu menjadi bagian dari pengalaman yang tak terlupakan, terlebih saat menyadari pemandangan yang ditawarkan.

Di atas kaki bukit di Pokhara, Nepal. (Photo by Nauval Yazid)

Di atas kaki bukit di Pokhara, Nepal. (Photo by Nauval Yazid)

When we travel, we just need to look around.

Yang Pergi, Yang Kembali

Pernah melihat meme gambar orang memegang koper, lalu ada tulisan “Once a Year, Go to A Place You’ve Never Visited Before”? Kurang lebih seperti itu tulisannya. Katanya quote itu berasal dari ucapannya Dalai Lama, walaupun keabsahannya diragukan. Apalagi Dalai Lama sepertinya jarang traveling.

Dan buat orang-orang yang sering bepergian, quote ini seakan jadi mantra untuk memvalidasi keinginan menjelajah bagian dunia yang belum pernah dikunjungi. Sah-sah saja memang. Terlalu kecil rasanya apabila kita hanya dikungkung kamar, rumah, jalanan menuju tempat kerja, kafe tempat ketemuan, bioskop tempat kencan, dan makam para leluhur. Sekedar pergi sejenak dari rutinitas ke tempat asing akan membebaskan pikiran kita.

Namun kalau kita ternyata pergi ke tempat yang sudah pernah kita kunjungi sebelumnya, apa kita melanggar ucapan Dalai Lama tersebut? Lha, emang Dalai Lama bapak saya?

Seperti yang sudah pernah saya tulis 2 minggu lalu di sini, kebiasaan saya menghabiskan ulang tahun adalah dengan pergi ke suatu tempat. Tidak harus tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, karena beberapa tahun lalu, menghabiskan sore hari saat ulang tahun di pantai Parangtritis yang terakhir saya kunjungi waktu kecil pun, pernah juga dilakukan.

Tahun ini, salah satu kota yang saya singgahi dalam perjalanan birthday trip adalah Berlin. Kota tempat saya mendarat pertama kali ini bukanlah kota yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Sekitar lima tahun lalu, saya sempat menghabiskan waktu cukup lama di sini. Alhasil, sempat terbersit keraguan, mau ngapain ya dua hari di sini nanti?
Apalagi pemandangan di luar bandara Tegel di pinggiran kota Berlin masih terlihat sama. Mulai dari arah petunjuk jalan ke tengah kota, truk-truk yang melintas, sampai pohon dan awan yang menaungi hari, semua masih terlihat sama. Strange. Dulu datang waktu musim dingin, sekarang datang di musim semi.

Namun ternyata keraguan itu langsung sirna.
Pertama, saya menginap di Berlin di rumah seorang teman dekat yang bekerja di sana, dan mempunyai dua orang anak balita. Jadilah saya mengisi waktu dengan berceloteh bersama mereka, menebak gambar coretan anak umur 2 tahun yang bisa saja berubah (hari ini bilang “ini gambar penguin”, besoknya bilang “ini gambar pesawat”), sampai ikut mengantar ke taman bermain sejenis pre-school, dan melihat kebiasaan orang tua lainnya saat mengantar anak mereka. Mungkin kalau saya memutuskan untuk tidak singgah di kota ini, belum tentu saya mengalami kejadian-kejadian di atas.

Kedua, sepanjang jalan dari airport menuju rumah teman tersebut, saya melihat lagi kota Berlin yang tidak banyak berubah, terutama dari segi infrastruktur.
Malah waktu melintas daerah Potsdamerplatz, saya cuma membatin, “Oh, itu kantor Berlinale. Oh, itu Dunkin’ Donuts tempat quick breakfast pake kupon satu donat dan satu kopi € 1.5 dulu. Oh itu Alexandra tempat makan siang makanan Asia yang ngantrinya naujubilah.”
Lalu tiba-tiba, saat melintas kompleks museum dan National Gallery, mata saya melihat spanduk yang letaknya cukup jauh. Namun dari sisi kanan jendela mobil, saya bisa melihat gambar perempuan dengan topeng di mata, lalu di sebelahnya ada tulisan “Mario Testino In Your Face Exhibition” dalam warna hitam dan merah. Sontak saya berpikir, “Ha? Ada pameran foto Mario Testino? Fotografer selebriti itu?”

Begitu sampai di tempat menginap, saya buka laptop, Google, dan ternyata benar, ada pameran foto tersebut. Beli tiket online (diskon € 1 buat si donat), lalu besok pagi saya bergegas ke pameran tersebut.
Dua lantai dengan masing-masing empat lorong panjang dihiasi oleh foto-foto selebritis dunia hasil imajinasi gila Mario Testino yang bisa mengubah Kate Winslet menjadi Elizabeth Taylor, Jennifer Lopez menjadi petinju macho, Kate Moss seperti Maria yang perawan, dan masih banyak lagi. Lengkap dengan panduan audio visual di sebelas titik foto utama yang kita bisa dengar dan lihat videonya, menghabiskan dua sampai tiga jam di pameran ini seakan tidak berasa apa-apa.

Mario Testino: In Your Face (photo by Nauval Yazid)

Mario Testino: In Your Face (photo by Nauval Yazid)

Lalu saat panggilan perut untuk makan siang sudah berbunyi, saya melangkah keluar dari Kulturforum termpat pameran tersebut diadakan. Saat berjalan menuju tempat pemberhentian bis, tiba-tiba saya melihat di sisi kiri saya ada tulisan “Ken Adam’s Film Design: Bigger than Life”. Tulisan ini terdapat di Filmmuzeum. Awalnya, saya malas ke tempat ini, karena sudah pernah berkunjung sampai ke gudang tempat mereka menyimpan film. Tapi tulisan di spanduk ini membuat saya penasaran:
– ada eksibisi film desain? Wah, ini jarang sekali diadakan!
– siapa sih Ken Adam? Taunya cuma nama samaran karakter Joey Tribiani di serial “Friends”.

Makan siang ditunda, dan saya pun masuk untuk membeli tiket pameran ini. Ternyata Ken Adam, atau Sir Ken Adam, adalah production designer peraih Academy Awards, BAFTA Awards, dan penghargaan film bergengsi lainnya untuk karya-karyanya di banyak film-film ternama. Bahkan kita bisa memegang buku sketsa desainnya untuk film The Last Emperor. Kita bisa mellihat dari dekat rancangan kapal selam untuk film-film James Bond, seperti You Only Live Twice atau Moonraker yang dia ciptakan. Prototipe kapal luar angkasa untuk film Star Trek yang pertama pun dia buat.

Ken Adam's Film Design: Bigger than Life (photo by Nauval Yazid)

Ken Adam’s Film Design: Bigger than Life (photo by Nauval Yazid)

Benar-benar pengalaman yang menakjubkan. Hanya dalam dua kali dua jam, saya dibawa masuk ke dunia yang penuh dengan sensasi artistik yang selama ini hanya kita lihat dari jauh lewat majalah dan film. Menatap karya seni dari dekat, beberapa sentimeter di depan mata dalam ukuran yang besar membuat kita bisa mengapresiasi dan menikmati seni seutuhnya.

Dan itulah seni traveling tanpa rencana. Seperti Leila pernah bilang sebelumnya, bahwa “sometimes the best traveling plan is the one without any plans”, maka saya mengamini ucapan tersebut.

Selalu ada sesuatu yang baru di tempat yang lama tidak kita kunjungi. Pikiran dangkal saya selalu berkata, bahwa kekayaan alam akan selalu ada di situ sampai kapanpun. Tapi pertunjukan, pameran, atau pergelaran yang sifatnya sementara, tidak akan selalu ada ketika kita akan kembali. Mungkin ini yang dinamai dengan “live the moment” saat bepergian. Entahlah. Toh saya bukan Dalai Lama yang petuahnya bisa dijadikan quote berujung meme.

Oh, dan satu lagi.

Satu hari tersebut saya akhiri dengan menyeruput triple espresso shots latte di sebuah kedai kopi ternama The Barn. Dan menurut teman saya, jalan Auguststrasse tempat kedai kopi ini berada adalah daerah hipster.

The Barn (photo by Nauval Yazid)

The Barn (photo by Nauval Yazid)

Ealah mak, lima tahun lalu, mana ada kata “hipster”?!

Buku

Sekitar empat sampai lima tahun terakhir, saya hanya bisa membaca buku pada saat bepergian, atau traveling. Anda juga?

Rasanya hanya pada saat bepergian, apalagi dengan jarak tempuh yang jauh ke luar kota atau ke luar negeri, kita bisa menghabiskan waktu dan berkonsentrasi penuh dengan apa yang kita baca. Terlebih saat akses terhadap perangkat komunikasi yang kita miliki saat proses bepergian, bukan saat sudah sampai di tempat tujuan, sangat terbatas.

Kalau terbang dengan pesawat, sudah jadi kewajiban kita untuk tidak mengaktifkan telepon genggam saat pesawat take off dan landing. Sepanjang perjalanan pun, susah konsentrasi terhadap film yang tersedia di layanan in-flight entertainment dengan layar yang kecil dan sound system a la kadarnya. Mengeluarkan laptop atau tablet, sayang batere, walaupun ada port untuk bisa terus menerus mengisi daya batere perangkat-perangkat tersebut.

Pernah saya menghabiskan novel “The Road” karya Cormac McCarthy sekali jalan di pesawat dengan jarak tempuh empat belas jam. Sepanjang malam saya susah tidur, karena takut kalau-kalau di luar jendela pesawat tiba-tiba muncul si bapak dan si anak dari novel itu!

The Road by Cormac McCarthy

The Road by Cormac McCarthy

Lalu saking tegangnya baca novel “Gone Girl” karya Gillian Flynn dua tahun lalu, perjalanan Jakarta-Medan-Jakarta dalam sehari pun tidak terasa sama sekali.

Naik kereta berbelas-belas jam pun lebih nikmat sambil melihat pemandangan. Memang sebagian besar akan diisi hamparan hijau sawah sampai eneg. Dan kalau sudah bosan, lebih enak menghabiskan sisa waktu sambil membaca.

Berhubung tempat saya tinggal dan tempat keluarga berada terpisahkan jarak sekitar 10 jam dengan kereta, kadang saya membuat alasan untuk pulang, atau ke kota-kota lain di dekatnya, hanya untuk bisa rehat dari kerjaan dan sekedar membaca. Novel “Twivortiare”-nya Ika Natassa pun saya habiskan kurang dari sepertiga perjalanan Jakarta-Blitar dengan kereta.

Demikian pula dengan bis, yang biasanya memakan jarak waktu tempuh lebih lama dari kereta. Lelah melihat tulisan di buku, tinggal tidur saja, sampai tiba di tempat peristirahatan berikutnya untuk makan, buang air dan meregangkan otot sejenak.

Di tengah-tengah perjalanan bis dari Oslo ke Haugesund, novel “Revolutionary Road” karya Richard Yates terasa lebih mencekam, meskipun bukan cerita horror.

Tentu saja buku yang dimaksud di sini adalah printed book, atau buku dengan tulisan yang tercetak di atas kertas dan terjilid dengan baik. Atau kalau kata IKEA, perangkat ini disebut sebagai “Bookbook” sekarang.

Membawa buku saat traveling merupakan kenikmatan tersendiri yang buat saya pribadi susah digantikan dengan yang lain. Saat kegiatan bepergian di masa sekarang berarti harus kompromi membawa berbagai jenis gulungan kabel charger yang berbeda-beda untuk berbagai jenis alat elektronik, keberadaan buku membuat isi tas menjadi terasa lebih seimbang. Buku tidak ribet, tidak demanding, dan tidak memerlukan perlakuan khusus untuk menyimpannya.

Menambah beban berat bawaan? Tumpukan baju kita bisa jadi lebih berat. Apalagi buku dengan kertas tipis. Setebal 450 halaman pun masih lebih ringan dari gumpalan pakaian dalam kita.

Dan kalau sudah selesai dibaca, saya lebih senang untuk tidak membawa buku tersebut pulang lagi. Ditinggal saja di bangku pesawat, atau di tempat penginapan saat menghabiskan buku itu.
Terinspirasi cerita di film Serendipity, saya cukup membubuhkan tanda tangan di halaman akhir buku yang dibaca, sambil menuliskan bulan dan tahun saat selesai membaca. Tidak ada nama.

Memang sampai saat ini belum pernah ada kejadian seseorang hadir di depan saya membawa buku dengan catatan tanda tangan saya. Hampir 15 tahun saya melakukan hal ini, masih belum ada juga. Atau ada orang niat mencari-cari buku dengan penanda khusus seperti itu, selayaknya Ryan Reynolds yang melakukannya untuk Isla Fisher di film Definitely Maybe.

Paling tidak, belum ada yang niat mencari novel “Q&A” karya Vikas Swarup yang saya tinggal di suatu hostel di Berlin beberapa tahun lalu, atau kumpulan cerita pendek “Nocturnes” karya Kazuo Ishiguro yang terpaksa saya tinggal di pesawat yang pernah saya naiki dengan mantan kekasih, karena isi salah satu cerita terlalu persis dengan permasalahan yang kami hadapi saat itu.

Nocturnes by Kazuo Ishiguro.

Nocturnes by Kazuo Ishiguro.

But, that’s okay. Cukup mengetahui bahwa di belahan dunia manapun ada orang yang mungkin mengambil dan membaca buku yang pernah saya baca, pegang, dan miliki sesaat, that’s already comforting.

Somehow it feels good to know that you have left your trace in the world, albeit an invisible one.

Jadi, apa yang sedang Anda baca sekarang?