Sepuluh (dan Sembilan) Film Favorit Tahun 2019

Jujur saya akui, sekitar 20% atau hanya seperlima dari total film yang saya lihat di tabun 2019 ini saya tonton di bioskop komersial di Indonesia, di penayangan reguler. Unexpectedly, frekuensi menonton film untuk urusan pekerjaan melonjak cukup tajam tahun ini.

Oleh karena itu, sebelumnya saya mohon maaf kalau ada judul-judul yang belum familiar. Saya sangat berharap dengan menempatkan judul-judul yang saya tonton baik di festival film internasional maupun dari private screening links yang diberikan untuk kepentingan profesi, teman-teman bisa mencari atau mulai menandai film-film tersebut. Kalau ada yang kebetulan sedang diputar, usahakan untuk datang menonton. Kalau sudah tersedia di jalur tontonan legal, baik itu streaming platform atau toko semacam iTunes Store, go and find them.

Yang pasti film-film ini dekat dengan saya. Mereka memberikan perasaan yang membuncah seusai menontonnya, yang tak lekas hilang saat selesai menontonnya.

Dan inilah dia.

Sembilan film yang juga meninggalkan kesan yang mendalam, dalam urutan acak:

Rocketman

The Farewell

Gully Boy

Between Two Ferns

Uncle

Towards the Battle

Flesh Out

For Sama

Late Night

 

Dan sepuluh film favorit saya di tahun 2019 ini adalah:

10. Homeward

homeward-imdb
Homeward (source: IMDB)

Cerita tentang perjalanan ayah dan anak melintasi kawasan yang berbahaya sudah banyak diangkat ke layar lebar. Namun yang terasa istimewa dari debut penyutradaraan Nariman Aliev ini adalah perjalanan emosi dua karakter ayah dan anak sepanjang film yang membuat kita enggan berpaling sedetik pun. Selayaknya film bertema road trip, perjalanan yang dilakukan ayah dan anak ini mengubah cara mereka melihat satu sama lain, dan pada akhirnya mengubah hidup mereka. But not in the way we expect it to change. Film dari Ukraina ini terasa menusuk hati sampai pelan-pelan saat end credits mulai terbaca. It is powerful.

 

9. Stars by the Pound

stars-by-the-pound_unifrance
Stars by the Pound (source: Unifrance)

Tahun ini saya melihat cukup banyak coming of age films. Namun entah mengapa film Stars by the Pound yang terus membekas di ingatan saya. Film dari Perancis ini bercerita tentang Lois, seorang anak obesitas yang bercita-cita ingin menjadi astronot. Segala cara dia tempuh untuk menampilkan karya ilmiahnya sebagai jalan pintas untuk mengikuti program menjadi astronot, termasuk berkomplot dengan gadis-gadis remaja yang dianggap sebagai outcasts untuk memuluskan jalannya. Film low profile ini nyaris lewat dari radar saya, sampai saya menontonnya dan menitikkan air mata sembari tersenyum lebar di akhir film. Sensasi ajaib yang jarang saya rasakan di antara film-film lain selama bertahun-tahun.

 

8. Dolemite is My Name

dolemite-npr
Dolemite is My Name (source: NPR)

Ada ungkapan kalau sebuah karya dibuat dari hati, maka kita yang menikmati karya tersebut juga bisa merasakan isi hati para pembuatnya. I’m not among those who believe that, actually. Tapi kalau anggapan itu benar, maka film Dolemite is My Name bisa jadi contoh nyata. I don’t know about having a good heart, tetapi melihat film ini somehow kita bisa merasakan bahwa semua pemain dan pembuat filmnya benar-benar having fun saat membuat filmnya. Eddie Murphy tidak pernah terlihat se-relaxed dan sepercaya diri ini di film. Dia tahu betul apa yang harus dia tampilkan untuk menghormati legenda karakter Dolemite ini. Dan totalitas Eddie Murphy di sini membuat kita langsung menyelami dunia hiburan “blackploitation” tahun 1970-an tanpa kita perlu merasa familiar dengan dunia tersebut. Itu karena semua pembuat film yang terlibat di sini, they look like having a blast making this film. And it shows.

 

7. Extra Ordinary

extra-ordinary-Collider
Extra Ordinary (source: Collider)

Another film that came out of nowhere, and then … Boom! Film ini luar biasa jahilnya. Seorang guru sekolah mengemudi, Rose, mempunyai bakat bisa melihat dan berkomunikasi dengan orang-orang yang sudah meninggal, dan kemampuannya ini acapkali mengganggu hidupnya. Sampai akhirnya ada dua orang yang membuat Rose mau tidak mau menggunakan seluruh kemampuannya lagi: muridnya di sekolah mengemudi, dan seorang rockstar yang mencari darah perawan untuk bisa membuat album baru. Sebuah cerita yang bisa membuat kita mengernyitkan kening. Namun saat saya menontonnya, saya benar-benar tertawa terbahak-bahak sepanjang film. Dan in a very rare chance, justru Will Forte, komedian alumnus Saturday Night Live, yang ‘disalip’ comic timing-nya oleh aktor-aktor Irlandia yang semuanya bermain cemerlang. Kalau ada penghargaan film tergokil tahun ini, inilah pemenangnya. It’s bloody hilarious!

 

6. Marianne and Leonard: Words of Love

leonard-marianne-TheTimesUK
Marianne and Leonard: Words of Love (source: The Times)

Leonard Cohen memang mempunyai kharisma luar biasa. Persona yang ditampilkan lewat musik dan gaya panggungnya bisa membuat jutaan orang “klepek-klepek”. Film dokumenter ini mengesahkan imaji tersebut, dan mengeruknya lebih dalam lagi lewat kisah Leonard Cohen dengan Marianne Ihlen, yang menginspirasi banyak karya populer Leonard selama bertahun-tahun, sampai akhir hayat mereka. It’s common to portray love in feature film, but how do you capture that in documentary that also makes us feel the love? Kisah cinta yang nyata tidak mudah diterjemahkan dalam genre dokumenter yang sangat tergantung pada fakta. Namun film dokumenter ini berhasil menerobos kesulitan tersebut. Just like when we can only feel the depth of Leonard Cohen’s songs. Rasa yang ditimbulkan film ini persis seperti itu.

Dan inilah lima film favorit saya tahun ini.

5. American Factory

american-factory-Bloomberf
American Factory (source: Bloomberg)

Tidak mudah membuat cerita yang ‘netral’ dalam dokumenter. Kala ada dua sisi cerita yang berlawanan dan harus saling ditampilkan, pasti ada satu sisi yang menjadi titik berat penyampai cerita atau pembuat film. Ada satu yang lebih ditonjolkan. Namun hal ini tidak kita lihat dalam film dokumenter American Factory, yang dengan cermat menampilkan masing-masing sisi baik dan buruk dari kultur bekerja di pabrik di Amerika Serikat dan Tiongkok. Membuat cerita yang berimbang tidaklah mudah, malah nyaris mustahil. Namun saat itu terjadi, kita akan dibuat takjub sepanjang ceritanya.

 

4. Marriage Story

Marriage-Story-3-SparkChronicles
Marriage Story (source: Spark Chronicles)

Another film about a married couple going through bitter divorce process? Yes.

Two likeable actors playing the leads? Yes.

Dialogue bantering with lines that sting? Yes.

A child in between? Yes.

Emotional? Yes.

Make us chuckle at times? Yes.

Make us want to repeat watching the film? Yes.

I rest my case.

 

3. Joker

Joker-LineToday
Joker (source: Line Today)

Di saat ramai terjadi kasus kekerasan bersenjata pada saat pemutaran film, nyatanya tidak ada kasus serupa saat pemutaran film Joker ini. Bisa jadi karena film ini begitu nyata menampilkan secara visual pergulatan batin atas kekerasan fisik dan psikis yang terjadi di sekitar kita, yang tidak hanya bisa mempengaruhi tapi bisa mengubah jalan hidup kita. Terkesan bombastis? Maybe. Tapi itulah yang saya perhatikan dan rasakan dari film ini. How does one inhabit violent acts and thoughts? Because of the world one lives in. Menampilkannya dalam bahasa visual yang menggugah banyak orang, that’s the crowning achievement of the film.

 

2. God Exists, Her Name is Petrunya

Petrunya-IndependentMagazine
God Exists, Her Name is Petrunya (source: Independent Magazine)

Begitu keluar dari gedung bioskop yang memutar film ini di Berlinale bulan Februari lalu, saya buru-buru mencari tempat untuk menyendiri dan menghela nafas panjang. “What was that I just watched?” Hanya dalam 100 menit, film dari Macedonia ini berhasil membuat kita tercengang dan sepanjang film cuma bisa berpikir, “This is us! This could happen here! This is what the world is right now!” Film ini bercerita tentang seorang gadis remaja yang putus asa mencari pekerjaan, namun secara tak sengaja dia malah ikut sebuah kompetisi ritual religius yang sebenarnya hanya diperuntukkan untuk kaum pria, dan menang. Lalu bergulir cerita tentang patriaki, sosial ekonomi, dan the world order yang sangat relevan untuk diikuti. And at times, this film can be funny, too. Saya sangat menyarankan apabila ada penayangan film ini, tontonlah. Prepare to be mesmerized. One of the most unforgettable films in decades.

 

1. Parasite

Parasite-PasteMagazine
Parasite (source: Paste Magazine)

Saya sengaja melewatkan penayangan Parasite di Cannes, karena berpikir, toh filmnya akan diputar di sini. Namun ada yang aneh. Setelah beberapa kali penayangan film tersebut di sana, setiap saya meeting, semua orang memuji film tersebut. Saya tidak mendengar satu pun yang berkomentar negatif tentang film ini. Ini jarang terjadi, karena hampir semua film kompetisi di Cannes pasti mengundang reaksi yang bertentangan. But impossibly, everybody loves Parasite in unison. Setelah menonton di bioskop, baru sadar kenapa film ini begitu istimewa. Kemampuan film ini membelokkan genre sambil masih menjaga logika bercerita, that’s what only an excellent master like Bong Joon-ho can do. Cerita tentang class division and social gap yang selalu relevan, ditampilkan dengan gamblang apa adanya, sambil tetap menjaga estetika produksi yang membuat kita betah menontonnya. Now here’s the thing about Parasite: it is a very mainstream movie. Tonton lagi, dan amati sudut pandang pengambilan gambarnya. Komposisi gambarnya. Penampilan tokoh-tokohnya. We’ve seen all before, and it looks familiar to us. Pendekatan populis yang diambil film ini berhasil membuat kita masuk ke universe yang diciptakan Bong Joon-ho, membuat film ini kuat dalam penceritaan, dan saya yakin, banyak teman-teman yang juga memilih film ini sebagai film favorit atau bahkan film terbaik tahun ini.

Tapi selain film Parasite dan film-film lain di atas, apa film favorit teman-teman tahun 2019 ini?

Advertisements

Sembilan Serial Televisi Favorit 2019

One simply cannot watch everything. Tidak mungkin kita akan pernah bisa menonton semua serial televisi dan jenis tontonan lain yang ada di saluran televisi, dan terlebih lagi, streaming platforms. Tentu saja dengan semakin menjamurnya streaming platforms yang tersedia, semakin banyak film dan serial yang sepertinya kita harus luangkan waktu untuk menontonnya.

Or do we have to?

Meluangkan waktu untuk menonton adalah pilihan. Waktu yang kita punya sama, yaitu 24 jam dalam sehari. Tidak kurang, tidak lebih. Dalam sehari, saya biasanya membuat keputusan, berapa waktu yang akan saya luangkan untuk menonton di luar pekerjaan, menonton untuk urusan pekerjaan, lalu berolahraga, pergi ke tempat olahraga, dan beristirahat. 

Selain itu, tentu saja resensi atau review dari tontonan yang akan dipilih menjadi penting. Buat saya, paling tidak saya perlu membaca sekitar 7-10 tulisan resensi yang berbeda sebelum saya memutuskan apakah serial tersebut tepat untuk saya. Pilihan belum tentu selalu benar. Paling tidak saya sudah berusaha untuk mencari tahu apa yang akan saya pilih.

Tentu saja, jumlah film yang bejibun yang harus saya tonton untuk urusan pekerjaan, acap kali harus mengorbankan waktu untuk menonton serial lain. Jadi, sambil “mengaku dosa”, saya belum menonton sama sekali The Marvelous Mrs. Maisel (Season 3), Watchmen, The Mandalorian, Money Heist, dan masih banyak lagi.

Namun dari beberapa yang saya tonton, yang meninggalkan kesan mendalam buat saya saat dan setelah menontonnya adalah:

 

  1. SEX EDUCATION (SEASON 1)

sexeducation-tpcurrent(dot)com

 

Serial ini jujur dan apa adanya. Tidak mudah menampilkan kejujuran ini ketika berbicara mengenai masa puber dan seks. Apalagi di era sekarang. Tetapi serial ini berhasil membungkus kegelisahan remaja mengenai seks lewat komedi yang cerdas, dan yang penting, benar-benar lucu. It does not make us, the audience, feeling awkward. It makes us having a good time.

 

  1. FOSSE/VERDON
fosse_verdon_ver2_xlg-impawards
Fosse/Verdon (source: IMP Awards)

 

Mengapa film atau seri biopic tentang pekerja seni terus dibuat? Karena sangat menarik untuk mengetahui proses di balik layar penciptaan karya-karya legendaris yang mereka buat. Saya hanya mengetahui Bob Fosse sebatas sebagai sutradara film-film mahakarya seperti Cabaret atau All that Jazz atau pencipta musikal “Chicago”. Saya tidak terlalu tahu Gwen Verdon, pasangan hidupnya, yang ternyata adalah aktris panggung ternama yang menjadi inspirasi hampir semua karya Fosse. Namun penampilan cemerlang Sam Rockwell sebagai Fosse, dan terutama Michelle Williams yang menakjubkan sebagai Verdon, membuat mini seri 8 episode ini menarik untuk terus ditonton.

 

  1. STRANGER THINGS – SEASON 3
Stranger-Things-3-irishfilmcritic
Stranger Things 3 (source: irishfilmcritic.com)

 

Mempertahankan excitement itu tidak mudah, terutama untuk urusan sekuel atau kelanjutan serial di musim-musim penayangan berikutnya. Let’s admit that Stranger Things season 2 is not as fun as the first. Maka bisa dibayangkan betapa lega dan senangnya kita saat Stranger Things season 3 ini kembali menjadi sangat menyenangkan, dengan aroma pop culture pertengahan era 1980-an yang kental di saat mereka beranjak remaja. Ditambah dengan momen spesial lagu “Neverending Story” yang menjadi salah satu momen serial televisi yang paling berkesan tahun ini, jadilah Stranger Things season 3 ini menjadi tontonan yang totally fun.

 

  1. POSE
pose-netflix
Pose (source: Netflix)

 

Menonton serial Pose membuat kita sering terhenyak. Kadang tertawa, sering kali terharu. Beberapa episode membuat saya tersenyum dalam sedih, karena setelah beberapa dekade, kehidupan orang-orang transgender masih belum membaik. Dalam beberapa hal dan tempat, malah memburuk. Saya suka “menuduh” serial-serial karya Ryan Murphy as too glossy, too over the top, too much. Tapi dalam konteks serial Pose, everything feels right and falls right into place.

 

  1. BARRY – SEASON 2
barry_s2-amazon
Barry – season 2 (source: Amazon)

 

Consistently funny. Itulah satu hal yang terlintas di benak saya saat menonton season 2 serial karya Bill Hader ini. Tentu saja the almost wordless episode of episode 5 menambah keseruan serial yang terbilang langka ini. Langka, karena menggabungkan action dan komedi sangat susah. This one pulls it off nicely.

 

  1. FLEABAG – SEASON 2
fleabag-amazon
Fleabag (source: Amazon Prime Video)

 

Phoebe Waller-Bridge memang layak banyak diburu para produser belakangan ini. Kemampuan menulis ceritanya di atas rata-rata. Silakan tonton Fleabag untuk menyaksikan kehebatan Phoebe menjalin cerita yang membuat kita bengong. “Lho kok jadi gini?” “Eh kok bisa sih?” Karakter pendeta yang dimainkan Andrew Scott tentu saja adalah buah hasil fantasi liar Phoebe, yang menjadi sangat believable di layar berkat penokohan yang cerdas. Yes, this is one smart comedy we cannot miss.

 

  1. CHERNOBYL
chernobyl-youtube
Chernobyl (source: Youtube)

 

Buat saya, inilah miniseri yang lebih mencekam dari semua serial horor. Pengetahuan tentang bahaya Chernobyl hanya saya peroleh dari buku pelajaran waktu masih di bangku sekolah. Itu pun hanya samar-samar. Namun saat melihat miniseri ini, mau tidak mau hati kita mencelos. It’s hard to portray the real horror of a real life situation. Tetapi yang ditawarkan miniseri Chernobyl ini berhasil membuat kita tertegun dan terpaku. It was real. The horror was real. Dan saya menulis ini sambil masih bergidik membayangkan adegan demi adegan yang terasa nyata saat ditonton.

 

  1. MADE IN HEAVEN

madeinheaven-amazonprime

 

Saat menyusun daftar ini sambil menelaah lagi list serial yang saya tonton sepanjang tahun 2019 ini, terus terang saya kaget. Kaget karena serial ini salah satu yang terus terpatri di ingatan. Serial tentang jatuh bangun kehidupan dua anak muda yang merintis usaha wedding organizer di New Delhi, India ini, memang terasa tidak dekat dengan kita. Namun hanya dari dua episode pertama, saya langsung hooked on to the series. Karakter, latar belakang cerita, dan backstory dua karakter utama, ternyata sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari di sini. We can see the characters living here, dan mereka akan mengalami masalah yang sama. Serial ini ada di Amazon Prime Video. Salah satu serial layak tonton yang perlu dipertimbangkan kalau anda ingin berlangganan streaming platform tersebut.

 

Dan serial favorit saya di tahun 2019 ini adalah:

 

  1. AFTER LIFE
afterlife-netflix
After Life (source: Netflix)

 

How does one portray a life-like grief? Dan juga yang penting, how do you portray someone dealing with grief that you can immediately feel the aching? Saya benar-benar tidak menyangka Ricky Gervais bisa membuat karya yang sangat, sangat humanis. Dalam satu episode, saya bisa menitikkan air mata di satu adegan, sebelum dibawa tertawa terbahak-bahak di adegan berikutnya. Dan Ricky tidak pernah kehilangan beat dalam bercerita. Saat karakter yang dia perankan, seorang duda yang berusaha bangkit dari kesedihan setelah istrinya meninggal dunia karena kanker, harus menyewa pekerja seks komersial untuk membersihkan rumahnya, karena dia tidak tahu di mana harus menyewa asisten rumah tangga, kita pun merasa trenyuh. Kita berempati dengan karakter ini. Kita mungkin tidak pernah mengalami yang dia alami, tapi setiap keputusan karakter yang dia mainkan sungguh sangat terasa masuk akal, dan membuat kita menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

And that is simply brilliant.

 

Apa serial favorit anda tahun ini?

Delapan Belas Film Yang Memukau di Tahun 2018

Memilih 18 film dari (sedikit lagi) hampir 1.000 jam durasi film yang saya tonton di tahun 2018 ternyata bukan perkara yang mudah dilakukan. Terlebih lagi, kita selalu berpatokan pada hal yang absolut, bahwa satu film berbeda dengan yang lain, yang nyaris mustahil untuk dibandingkan secara kuantitatif.

Akhirnya daftar ini saya buat dengan prinsip yang sangat mendasar, yaitu pada saat menonton film-film ini, I have a memorable time. Bukan sekedar had a good time, tapi film itu masih membekas di ingatan dan hati saya usai film itu berakhir, dan saya sudah beranjak pergi dari bioskop, atau mematikan layar televisi, layar komputer atau sekedar berpaling dari layar ponsel.

Pilihan jenis layar tontonan tersebut saya pilih karena tuntutan pekerjaan yang memang mengharuskan saya untuk hampir selalu menonton film. Saat makan siang sendirian di food court, saat sedang berlari di atas treadmill, atau bahkan saat menunggu pintu bioskop masuk, selalu ada tontonan dalam genggaman.

Lagi pula, as much as I believe the following statement to be a bit passé, ternyata 2018 adalah a good year in cinema. Variasi cerita yang kaya mendorong film-film yang dirilis sepanjang 2018 beragam. Bahkan penonton pun tak segan untuk berpaling dari film-film yang mengandalkan gimmick semata (kecuali ada pemborong tiket).

Tentu saja, tak semua eksperimen berhasil. At least tidak berhasil membuat saya mengagumi film yang telah ditonton. Dari sekian banyak film dengan high concept of ideas, ada 5 Film Yang Mengecewakan di Tahun 2018, yaitu:

Suspiria
Thugs of Hindostan
Peterloo
Vox Lux
The Little Stranger

Obat untuk mengatasi kekecewaan setelah menonton film yang gagal membuat kita senang? Tentu saja dengan menonton film lain! Itulah yang selalu saya lakukan dari dulu, termasuk di tahun 2018, sampai akhirnya saya menemukan 18 Film Favorit di Tahun 2018. Ini dia:

[eighteen] The Death of Stalin

death_of_stalin(IMP)
The Death of Stalin (Source: IMP)

[seventeen] First Man

first_man-IMP
First Man (Source: IMP)

[sixteen] The Man Who Surprised Everyone

the-man-who-surpised-everyone-IMDB
The Man Who Surprised Everyone (Source: IMDB)

[fifteen] Tel Aviv on Fire

Tel-Aviv-On-Fire-poster_Bristol_Palestine-FilmFest
Tel Aviv on Fire (Source: Bristol Palestine Film Fest.)

[fourteen] Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body)

memories-of-my-body-IMDB
Memories of My Body (Source: IMDB)

[thirteen] A Star is Born

star_is_born-IMP
A Star is Born (Source: IMP)

[twelve] Whitney

whitney-IMP
Whitney (Source: IMP)

[eleven] Spider-Man: Into the Spider-Verse

spiderman_into_the_spiderverse_ver2-IMP
Spider-Man: Into the Spider-Verse (IMP)

And now, the top 10 of the year:

[ten] Cold War

cold-war-_RogerEbert
Cold War (Source: RogerEbert.com)

Satu kata yang terlontar usai menonton film ini adalah “gorgeous!” Terutama buat penggemar jazz, perhatikan bahwa film ini dibuat dengan pacing melodi musik jazz yang megah, yang dimulai dengan kekosongan, diisi dengan riots and chaotic notes, dan diakhiri dengan a beautiful and lingering devastation. Film ini juga sarat dengan imaji indah dalam sinematografi hitam putih dengan komposisi yang tak biasa, yang membuat kita tak berpaling dari layar. Durasi film boleh singkat, namun impresi yang ditinggalkan masih berbekas sampai sekarang.

[nine] A Twelve-Year Night

a-twelve-year-night_Unifrance
A Twelve-Year Night (Source: Unifrance)

Kalau ada film di daftar ini yang membuat saya berkata “I urge you all to watch the film”, maka inilah filmnya. Sepintas mirip The Shawshank Redemption, ada pula yang menyebut filmnya mirip 12 Years a Slave. Kesamaan dengan kedua film hanya sebatas pada dasar ceritanya saja: ini film kisah nyata tentang José Mujica yang ditahan bersama tawanan politik lainnya selama 12 tahun, sebelum akhirnya dia menjadi presiden Uruguay. Film ini menggambarkan keadaan mereka di penjara, dan mengikuti kisah hidup mereka di penjara sepanjang film, saya tidak bisa berkata-kata lebih banyak lagi. They are harrowing, they can be gruesome, but they can be hopeful. Visualisasi tentang usaha mereka bertahan hidup di penjara sangat fantastis. The quietness, you have to see it yourself to feel it. Film ini hadir di Netflix mulai 28 Desember 2018.

[eight] Girl

Girl-ThePlaylist
Girl (Source: The Playlist)

Elegan dan halus. Itulah catatan saya selesai menonton film ini. Performa luar biasa Victor Polster sebagai Lara yang bertekad keras menjadi perempuan seutuhnya membuat film ini berhasil memukau kita. Tak hanya sekedar mengubah fisik, tapi karakter Lara di film ini ditampilkan lengkap dengan perjalanan emosi yang membuat kita tertegun sepanjang film. Pilihan Lara untuk bertahan hidup membuat saya mau tidak mau menorehkan kata berikut untuk film Girl ini: “powerful!

[seven] Andhadhun

andhadhun-TheWire
Andhadhun (Source: The Wire)

Saya sudah penasaran dengan film ini dari trailernya yang sangat unik. Terlebih untuk sebuah film Hindi komersil. Dan rasa penasaran itu sangat, sangat terpuaskan oleh filmnya sendiri. Apalagi di paruh pertama film, dengan puncak keseruan film saat karakter utama mengalami kejadian yang membawa cerita bergulir dengan sangat nyaman untuk diikuti. Silakan baca sendiri semi-spoiler moment di tulisan saya minggu lalu. Yang jelas, film ini adalah film Hindi paling menyenangkan untuk ditonton tahun ini. Dan film ini sudah ada di Netflix!

[six] One Cut of the Dead

one-cut-of-the-dead-Variety
One Cut of the Dead (source: Variety)

Kalau sensasi film ini harus ditulis besar-besar dalam huruf kapital: FUN! Rasanya tidak ada film lain sepanjang tahun 2018 yang membuat saya tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai ada penonton lain yang berdiri dari kursi dan terus tertawa sambil bertepuk tangan di beberapa bagian film. Sebuah film dengan konsep yang kalau diceritakan secara lisan atau kita baca cuma bisa membuat kita bingung, namun saat akhirnya kita saksikan sendiri, kita hanya bisa terperanjat dan kagum. Film yang sangat brilian. Sekaligus film ini adalah film yang membuat kita sadar, kenapa kita sangat mencintai film secara umum. Semakin sedikit Anda tahu sebelum menonton film, the more fun you will have. The funniest film in a long time.

[five] Tully

tully-charlizetheron_SlashFilm
Tully (Source: SlashFilm)

Twist film ini membuat saya berpikir berhari-hari. Semacam mengetuk kesadaran dalam diri. Tenang saja, ini bukan spoiler sama sekali. Film ini berhasil membuat saya tertegun, dan akhirnya mengakui bahwa kalau bukan kita sendiri, siapa yang akan menyelamatkan kita? Semakin saya memikirkan film ini, semakin saya paham bahwa tidak hanya penampilan Charlize Theron yang luar biasa bagusnya yang membuat film ini menjadi salah satu film favorit saya tahun ini, tapi cerita film ini yang sangat humanis yang membuat film ini layak untuk ditonton. Jason Reitman dan Diablo Cody adalah tim sutradara dan penulis yang sangat paham tentang human beings and their desire to be human.

[four] Shoplifters

shoplifters_RogerEbert
Shoplifters (Source: RogerEbert.com)

Film ini menantang pemikiran kita tentang konsep keluarga dengan cara yang sangat subtle, yang tanpa kita sadari merasuki perasaan kita, yang membuat kita sampai meneteskan air mata di akhir cerita. Selain itu, Hirokazu Kore-eda juga mempertanyakan kembali, apakah konsep villain dan protagonis yang sebenarnya dalam hidup sehari-hari. Bagian ini yang membuat saya terus berpikir sepanjang film, dan terus mencari jawaban pertanyaan tersebut sampai film berakhir. Disajikan dengan cara bertutur yang pelan namun pasti, film ini berhasil memanusiakan manusia dalam konteks yang mudah kita pahami, sekaligus meninggalkan kesan yang mendalam.

[three] Amanda

amanda_-_mikhael_hers__Variety
Amanda (Source: Variety)

Waktu saya menonton film ini, saya hanya berniat untuk menonton paling tidak separuh durasi, karena ada jadwal diskusi yang harus saya hadiri. Namun niat itu tidak saya penuhi, karena hanya dalam guliran menit-menit pertama, film in berhasil membuat saya tidak beranjak dari kursi, dan menontonnya sampai selesai. Dengan mata berkaca-kaca, saya bertanya ke rekan saya, “What was that we just watched?” Film ini sangat sederhana: seorang pria harus membesarkan keponakannya setelah kakaknya, yang notabene adalah ibu keponakan ini, tewas akibat serangan terorisme. Pergulatan batin dua orang ini menjadi perjalanan utama cerita film yang tertutur dengan rapi, tanpa menghakimi sama sekali, tanpa berpihak sama sekali. How is it possible? Sutradara Mikhael Hers membuat film ini dengan tampilan bak film keluarga di televisi tahun 1970-an, yang menjadi efektif, karena kita bisa menikmatinya dengan tenang, despite all the big questions and anxiety about life in the film. Tidak perlu menjadi melodramatis dan sentimentil untuk membuat film yang menentramkan hati. Film ini membuktikannya.

[two] The Guilty

theguilty-Fotogramas
The Guilty (Source: Fotogramas)

Ada kalanya kita menonton film dan terpukau dengan sense of filmmaking film tersebut. Film ini salah satunya. Mirip dengan film-film seperti Buried atau Locke dan Gravity, di mana keseluruhan cerita dalam satu film dibuat dalam satu kurun waktu, in real time, dan hanya ada satu karakter sepanjang film. Film-film seperti membutuhkan kedisiplinan yang tinggi dalam membuatnya. Skenario harus dibuat serapi mungkin agar dramatic moments pas munculnya, serta tentunya, aktor yang memainkan karakter utama harus tampil meyakinkan sepanjang film, karena dialah satu-satunya yang selalu muncul sepanjang film. Ryan Reynolds, Tom Hardy dan Sandra Bullock sudah membuktikannya, dan sekarang, Jakob Cedergren juga membuktikan lewat film The Guilty ini. Duduk dalam satu ruangan tertutup menerima panggilan telpon darurat, ketegangan demi ketegangan film tersaji lewat raut muka, gerak tubuh dan intonasi suara Cedergren yang selalu berubah seiring dengan perkembangan kejadian. Sutradara Gustav Möller menorehkan debut film panjang yang sangat istimewa, perhaps among the best debut films of all time. Tentu saja, film ini pun adalah film thriller terbaik tahun ini.

[one] Roma

roma-Empire

Film seperti Roma belum tentu hadir setahun sekali. Bahkan mungkin belum tentu sepuluh tahun sekali. Film ini memang personal untuk Alfonso Cuaron, pembuatnya. Namun rasa itu berhasil diterjemahkan menjadi sebuah karya seni yang dibuat dengan sepenuh hati, dan akhirnya bisa kita nikmati juga dengan sepenuh hati. Sebagai orang yang lebih menyukai film dengan penuturan cerita yang naratif, saya surprised sendiri bisa menikmati film ini. Mungkin Cuaron tidak akan pernah lupa, bahwa frame dan adegan indah pun perlu kekuatan cerita dan karakter yang membuat momen-momen tersebut tak lepas dari ingatan. Adegan di hutan, adegan di pantai, pemberontakan di jalan, menyaksikan ini semua seperti membuat kita menyaksikan adegan hidup dalam tatanan gambar dan suara yang menakjubkan. This is a work of art worth seeing. This is a beautiful rarity.

Apa film favorit Anda tahun 2018 ini?

Sepuluh Tayangan Televisi Yang Membuat Betah di Rumah di Tahun 2018 – #rekomendasistreaming

Sejak kembali beraktivitas mengkurasi dan memprogram festival film, terus terang waktu saya untuk menonton serial televisi makin terkikis tahun ini. Ada beberapa serial yang sampai sekarang masih belum sempat saya tonton karena tidak ada waktu luang (“Maniac”, “The Kominsky Method”), ada beberapa serial yang sudah saya lepaskan dari jadwal rutin menontonnya, dan ada juga beberapa serial yang sudah saya sempatkan cari waktu luangnya, namun malah berujung kekecewaan (“House of Cards” season 6).

Untungnya, sebagian besar tayangan televisi yang saya tonton tahun ini, for the lack of better word, sangat memuaskan. Lagi-lagi televisi dan internet masih lebih berani dan beragam dari film layar lebar untuk urusan cerita dan kekuatan karakter. Lihat saja, sebagian besar karakter perempuan yang kompleks dan kuat ada di televisi. Meskipun saya kecewa dengan “House of Cards” terakhir, mau tidak mau saya akui bahwa Claire Underwood adalah salah satu karakter perempuan paling tajam yang pernah ada di era televisi modern. Mungkin malah sepanjang masa.

Tidak ada cerita yang “itu-itu lagi” maupun orang yang “itu-itu lagi” di tayangan televisi. Apalagi kehadiran televisi sekarang sangat beragam, ditambah dengan video streaming applications yang menawarkan konten yang beraneka rupa. Saking banyaknya serial televisi, tidak mungkin kita bisa menghabiskan seluruh waktu kita untuk menonton semua serial yang ada. Konon katanya perlu 7 kehidupan manusia in their entire lifetimes untuk menghabiskan tontonan yang ada di Netflix sekarang.

Jangan khawatir. Tidak perlu menghabiskan seumur hidup sampai akhir hayat untuk menonton serial-serial pilihan saya tahun 2018 ini. Cukup beberapa hari sepanjang liburan akhir tahun, dan selesai! Ini dia:

[sepuluh] The Americans – Season 6

theamericans-season6
The Americans

Puas! Itu kesan pertama saya saat melihat episode terakhir di season terakhir serial tentang keluarga yang berprofesi sebagai mata-mata Rusia di Amerika Serikat di era 1980-an ini. That long confrontation scene in the garage! The wordless shock of the stare on the train! The final scene! Susah rasanya buat saya sekarang membayangkan Matthew Rhys dan Keri Russell sebagai karakter lain selain Philip dan Elizabeth Jennings yang mereka mainkan dengan gemilang selama 7 tahun. Kedua karakter inilah yang memang membuat Rhys dan Russell dikenal sebagai aktor handal. Perhatikan saja di setiap adegan yang tidak memerlukan banyak dialog di sepanjang serial ini. Their eyes speak volumes. And they really do elevate and grow with the series. Saya akan merindukan serial ini.

[sembilan] Wild Wild Country

Wild Wild Country Netflix documentary in six parts 2018
Wild Wild Country

Miniseri dokumenter ini memang dibuat untuk mengagetkan kita. Cukup dengan menyajikan cold hard fact and findings, ditambah dengan testimoni di wawancara para pelaku kejadian yang masih menyiratkan rasa tidak bersalah mereka, maka kita cuma bisa menggelengkan kepala sepanjang menonton miniseri ini. Susah dipercaya bahwa negara sebesar Amerika Serikat di tahun 1980-an pernah nyaris jatuh ke tangan segelintir orang yang memanipulasi agama, but hey, isn’t it still happening right now in c-e-r-t-a-i-n parts of the world? Sebuah tontonan yang membuka dan membelalakkan mata kita.

[delapan] Killing Eve – Season 1

killing-eve-poster

Tiga kata berawalan huruf S patut disematkan untuk serial ini: smart, sassy, sexy. Tidak pernah saya duga sebelumnya kalau Sandra Oh bisa tampil meyakinkan sebagai detektif cekatan, dan dengan matching rival di tangan Jodi Comer sebagai Eve, maka cat-and-mouse-game plot di serial ini menjadikannya sebuah tontonan yang cerdas, sekaligus adiktif.

[tujuh] BoJack Horseman – Season 5

bojack_horseman_ver4_xlg
BoJack Horseman

Pernah punya teman atau kenalan yang nyinyirnya luar biasa, namun semakin tua, malah jadi semakin dewasa? Belum tentu bijak ya, tapi jadi lebih mature? Demikianlah yang bisa saya deskripsikan dari favourite has-been celebrity saya yang bernama BoJack Horseman ini. Cerita komedi satir serial animasi tentang kultur selebritas yang kejam ini masih penuh sarkasme dan dialog yang menohok. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa karakter BoJack pelan-pelan sadar akan usianya yang semakin menua, dan dalam beberapa episode mulai terkesan wistful dalam menyelesaikan masalah yang dia hadapi. Hal yang malah membuat serial ini semakin mengesankan saat ditonton.

[enam] The Marvelous Mrs. Maisel – Season 2

marvelous-mrs-maisel-poster-season2-408x600
The Marvelous Mrs. Maisel

Season pertama serial ini hadir bagaikan pelangi setelah hujan panjang. It’s magical. Lalu bagaimana dengan season kedua yang baru saja hadir di awal bulan Desember? Ternyata masih penuh dengan kejutan dan, ini yang penting, masih sangat lucu. Terima saja episode season finale yang terasa terburu-buru dan terlalu menumpuk cliffhangers untuk keterlanjutan serial ini. Toh itu tidak bisa menutupi kecemerlangan beberapa episode awal, seperti adegan stand-up comedy dalam bahasa Perancis dan Inggris secara simultan yang brilian, dan setiap penampilan Mrs. Maisel di atas panggung yang kali ini terasa jauh lebih matang. This is a gem worth watching.

[lima] Bodyguard

bodyguard-poster
Bodyguard

Now this, this is sexy. Sempat saya kira serial ini adalah adaptasi dari film berjudul sama yang pernah dibintangi Kevin Costner dan Whitney Houston tahun 1992 dulu, namun kemiripan hanya terletak pada judul. Serial dari Inggris ini memang sedikit mengingatkan dengan cerita spionase di film-film 1990-an, lengkap dengan bumbu intrik, skandal, dan sejenisnya. Dibalut dengan latar cerita soal terorisme, serial ini sebenarnya mengungkap banyak hal tentang PTSD (post traumatic stress disorder). Namun kalau kita lebih tertarik mengikuti serial ini karena keseksiannya, ya sudah, nikmati saja.

[empat] The Looming Tower

theloomingtower
The Looming Tower

Now this, this is serious. Awalnya saya sempat “takut” mengikuti serial yang terlihat serius dari trailer dan posternya. Setelah menonton episode pertama, saya sadar bahwa serial ini memang serius. Namun saya tertarik untuk terus mengikuti, karena perlahan-lahan serial ini membawa kita memahami aneka peristiwa yang terjadi sebelum 9/11, yang mempengaruhi proses dan hasil investigasi terkait kejadian naas tersebut. Serial ini sengaja tidak memberikan konklusi yang sahih, karena masih terlalu banyak lapisan soal 9/11 yang belum tuntas di kehidupan nyata.

[tiga] Barry – Season 1

Barry season 1 poster HBO key art
Barry

Serial ini sukses membuat saya tertawa terbahak-bahak dari episode pertama. What can I say, Bill Hader memang jenius. Ide cerita untuk menempatkan seorang pembunuh bayaran mengikuti kelas akting, menurut saya adalah ide gila yang kalau eksekusinya tidak meyakinkan akan gagal total. Namun serahkan saja pada Hader untuk membuat awkward comedy menjadi sebuah tontonan komedi kelas tinggi yang sangat, sangat menghibur. You won’t regret watching every single episode.

[dua] The Good Place – Season 2

thegoodplace

Terus terang saya telat menonton serial ini. Setelah berulang kali diyakinkan teman saya untuk menonton serial ini, akhirnya baru di pertengahan tahun mulai menonton musim penayangan pertamanya. Beberapa episode awal membuat saya merasa aneh, karena humornya tidak biasa. Lama kelamaan akhirnya saya mulai suka, karena sudah terbiasa dengan karakternya. (Kok seperti proses PDKT waktu mau pacaran ya?) Tapi di season kedualah yang membuat saya takjub dengan serial ini. Muatan teori filsafat, etika dan humaniora dengan mulus diselipkan dalam dialog dan alur cerita, tanpa mengesampingkan pentingnya sebuah serial komedi menjadi lucu. It’s one smart show, if not the smartest comedy show of the year.

[satu] QUEER EYE – Season 1 & 2

queereye

How many shows can make us laugh, cry and feel good at the same time? Rasanya tidak banyak. Dari yang tidak banyak itu, hanya satu yang paling spesial dan sangat membekas di hati saya, yaitu serial “Queer Eye”. Belasan tahun yang lalu, saya mengikuti serial asli “Queer Eye for the Straight Guy” yang menjadi basis serial reality show yang sekarang menjadi program andalan Netflix ini. Alih-alih sekedar mengulang serial aslinya, serial baru justru lebih dari sekedar make-over show. Kelima pria yang menjadi tulang punggung acara ini jelas-jelas membuat dunia lebih baik lewat misi mereka untuk mengubah hidup satu orang.
Menonton “Queer Eye” tidak hanya membuat kita kagum dengan perubahan yang dialami setiap satu orang di satu episode. Namun perubahan yang kita lihat mau tidak mau membuat kita mengakui bahwa setiap orang berhak untuk hidup lebih baik. Dan kesadaran ini, harus diakui, eventually makes us a better person.
And we become a better person, indeed, after watching the show, and accepting the show.
Pantaslah kalau serial ini menjadi pilihan saya sebagai serial favorit saya tahun ini.

Apa tontonan favorit Anda tahun ini?

10+ Film Paling Berkesan Ditonton di Bioskop Tahun 2015

Film tidak harus ditonton di bioskop. Saya setuju. Apalagi dengan kemajuan teknologi sekarang ini. Banyak film dengan kualitas baik hadir lewat media streaming video service. Bisa lewat Amazon, Netflix, dan beberapa situs lainnya. Dari dalam negeri pun sudah mulai muncul beberapa situs serupa.

Namun tidak ada, atau belum ada, yang bisa mengalahkan sensasi bioskop. Sebuah ruang besar yang gelap, dengan layar lebar yang membuat kita terpaku akan kedigdayaannya. Selama 2-3 jam pandangan kita terkonsentrasi apa yang kita lihat dan dengar di layar sebesar puluhan meter di depan. Ini belum termasuk proses keluar rumah, mengantri tiket dan makanan kecil, mengajak teman atau pacar, serta semua hal yang menjadi cinemagoing experience lengkap.

Setiap menjelang akhir tahun, saya selalu membuat daftar film-film yang saya tonton di bioskop dengan sensasi menonton yang mengesankan. Bukan, ini bukan daftar film “terbaik”. Ini daftar film-film yang saya tonton tahun ini dengan pengalaman menonton yang masih saya ingat sampai sekarang. Filmnya sendiri mungkin belum tentu dianggap banyak orang sebagai yang “terbaik”. Toh pengalaman menonton film itu pasti personal. Pengalaman satu orang dengan orang lain pasti berbeda. Ada beberapa film di bawah ini yang saya tonton berdua, bertiga, atau beramai-ramai, lalu di akhir film ada yang menyeletuk “Filmnya nggak bagus menurutku, ah!” Sementara saya cukup tersenyum karena mengambil kesimpulan sebaliknya. You may watch a film together, but how the film speaks to you, that’s always personal.

Biasanya saya menulis daftar ini di blog pribadi saya dalam bahasa Inggris. Untuk pertama kalinya, saya menuliskannya di Linimasa, karena saya cinta kalian semua. Aaawww.

Dan dalam urutan abjad, maka 10+ film yang paling berkesan waktu saya menontonnya di bioskop tahun ini adalah:

a. 99 HOMES
Tanggal menonton: 22 Oktober

99 Homes
99 Homes

Dari menit-menit pertama, saya sudah tercekat. Sutradara film ini, Ramin Bahrani, banyak menggunakan extreme close up untuk memperlihatkan ekspresi muka Andrew Garfield dan Michael Shannon dengan dentuman musik perkusi dari komposer Antony Partos dan Matteo Zingales yang tak kunjung berhenti. Ini film drama, tentang seorang pria yang berjuang mati-matian agar tidak kehilangan rumah tempat tinggalnya. Alhasil, menonton ini di malam hari, di layar lebar membuat saya ikut merasa tegang. Ikut merasakan penderitaan karakter fiktif yang terkesan nyata. Diam-diam saya bertepuk tangan seusai pemutaran fllm ini.

b. BAJRANGI BHAIJAAN / THE GOOD DINOSAUR
Tanggal menonton: 28 Juli / 12 Desember

Satu film drama Bollywood, satu film animasi dari Pixar. Keduanya terpaut beberapa bulan tanggal penayangannya. Namun keduanya memiliki kesamaan: menguras air mata.
Saya jarang menangis saat menonton di bioskop. Tetapi untuk kedua film ini, saya bisa mendengar isak tangis sendiri. Ya, saya sadar sekali ketika menonton keduanya, saya sedang dimanipulasi. Yang memanipulasi saya adalah cerita, musik, akting, dan semua yang membuat make-belief experience ini sangat berhasil. Resepnya sama, yaitu put an ordinary character in an extraordinary situation, especially journey, to unravel his or her true self. Di Bajrangi, karakter utama melibas nilai agama untuk menyelamatkan anak kecil. Di Good Dinosaur, karakter utama melibas ketakutan sendiri untuk menjadi dewasa. Jadilah the tearjerking moments of the year.

c. INSIDE OUT
Tanggal menonton: 22 Agustus

Banyak orang menangis nonton Inside Out ini. Tetapi saya tidak. Justru saya tercengang. Bagaimana mungkin menggambarkan perasaan dan emosi manusia dengan jelas? Sepanjang film saya bengong melongo. Film ini membuktikan sebuah pendapat yang sulit, yaitu suatu teori rumit akan berhasil apabila bisa diterangkan dengan bahasa mudah ke anak umur 6 tahun. Dan film ini sukses melakukannya, in an almost effortless manner.

d. LELAKI HARAPAN DUNIA
Tanggal menonton: 28 November

Lelaki Harapan Dunia
Lelaki Harapan Dunia

Tidak banyak film Malaysia yang saya tonton. Kalaupun sempat, biasanya film arthouse atau independen. Ketika tahu bahwa film ini diputar secara terbatas bulan lalu, saya bergegas menyempatkan. Dan sepanjang film saya tergelak terus. Cerita film mungkin akan sedikit mengingatkan kita pada bands of merry men with weird personalities seperti di film-film Wes Anderson atau Coen Brothers, namun dengan setting di sebuah desa terpencil di Malaysia, malah mengingatkan kita akan film-film Indonesia tahun 1970-an. Isu yang ditawarkan, seperti takhayul, konflik agama, dan lain-lain, terasa sangat dekat dengan kita. Salah satu film yang menyenangkan untuk ditonton ulang.

e. MAD MAX FURY ROAD
Tanggal menonton: 14 Mei

Tanggal di atas adalah tanggal pertama kali saya menonton film ini di bioskop. Setelah itu saya menyempatkan menonton lagi, dan lagi. Sensasi setiap menonton film ini setelah beberapa kali masih sama, “Whoa! What was that I just saw?” Tak cukup kata sifat yang bisa dengan pas menggambarkan keindahan film ini. It is the most exhilarating sensory visual experience in cinema this year.

f. PIKU
Tanggal menonton: 12 Mei

Piku
Piku

Tidak banyak film yang akan bertahan dalam ingatan kita. Dari yang sedikit itu, film Piku masih membekas di ingatan saya sampai sekarang. Saya masih tersenyum saat mengingat film ini. Cerita seorang anak perempuan yang sendirian merawat ayahnya yang unik, sementara sang anak juga pekerja kantoran, terasa nyata. Bahkan sampai ketika cerita harus bergulir menjadi cerita perjalanan dari Delhi ke Calcutta, drama yang tersaji masih terasa grounded on earth. Tidak dibuat-buat. Hampir setengah jam pertama film hanya memperlihatkan rumah dua karakter utama ini. Namun mata kita tidak dibuat bosan melihatnya. Saat saya menceritakan ini kepada seorang produser film, dia berkata, “Berarti sutradara film ini hebat. Dia tahu bagaimana menempatkan kamera dengan baik. Dia tidak sibuk dengan tata kamera yang berlebihan. Dia tahu kekuatan cerita ada di mana, dan bisa melihat tanpa harus mengintrusi.”
Banyak cerita yang bisa diambil dari film ini. Momen-momen kecil yang tersebar dari ujung sampai akhir film akan membuat kita tersenyum. Kalau boleh saya memilih satu saja film favorit sepanjang tahun 2015, mungkin film inilah yang menjadi pilihan saya.

g. SPY
Tanggal menonton: 16 Mei

Film tentang mata-mata yang paling menyenangkan untuk ditonton tahun ini justru film parodi dari genre tersebut. Melissa McCarthy is all game di film yang mengeksploitasi tidak hanya fisik, namun comic timing yang sempurna. Meskipun begitu, kejutan justru datang dari Jason Statham. Siapa sangka action star ini bisa melucu dengan tanpa beban? Saya tertawa terbahak-bahak menonton film ini, sampai harus meluangkan waktu untuk nonton lagi. The funniest film of the year by far.

h. STAR WARS: THE FORCE AWAKENS
Tanggal menonton: 19 Desember

Tentu saja tidak lengkap daftar ini tanpa mengikutsertakan film yang paling ditunggu-tunggu di paruh kedua dekade ini. Saya tidak perlu menerangkan lebih lanjut lagi. The hype is justified. The wait is over. The film is worth all praises. Mata saya terbelalak dan bibir langsung tersenyum begitu mendengar alunan musik John Williams menggelegar saat tulisan khas Star Wars terlihat naik dari bawah ke atas di layar lebar. Momen-momen seperti kembalinya Han Solo dan Chewbacca, helm yang dikenakan Rey pertama kali di padang pasir, sampai munculnya R2D2 kembali, membangkitkan sensasi nostalgia buat para penonton film-film Star Wars. Maybe the nostalgic feeling clouded our perception towards the film, but then, that’s part of the experience.

i. THE WALK
Tanggal menonton: 8 Oktober

The Walk
The Walk

Saya takut ketinggian. Saat menonton trailer film ini, langsung terbayang rasa mual. Waktu itu sempat berjanji, “Nggak akan nonton film ini di IMAX. Pasti muntah!” Tentu saja saya melanggar janji sendiri. Menyaksikan film ini di IMAX, tepat di tengah-tengah, membuat lutut saya bergetar keras selama 40 menit terakhir. Saat Joseph Gordon-Levitt mulai meniti tali yang menghubungkan kedua menara World Trade Centre, jantung ini terasa lemas sekali. Saya cuma bisa menghempaskan badan ke kursi. Kepala menunduk, sambil mata masih pelan-pelan mencuri pandang apa yang ada di layar. Bukan film horror, tapi ini film yang membuat seluruh badan lemah tak berdaya. Ditambah dengan ending film yang mengharukan, saat kita menyadari makna kata “forever”, lengkaplah The Walk menjadi salah satu film yang paling mendebarkan sepanjang tahun 2015.

j. WHIPLASH
Tanggal menonton: 14 Februari

Beruntunglah mereka yang menunggu film ini sampai hadir di bioskop. Dentuman drum dan band ensemble yang mengusung musik jazz sayang kalau hanya didengar di laptop atau layar televisi. Tentu saja akting JK Simmons juga terlihat lebih menacing di layar lebar, tetapi tata suara, editing dan musik film inilah yang membuat Whiplash menjadi the most musical experience in film of the year.

Inilah 10+ film dengan pengalaman yang berkesan waktu ditonton di bioskop sepanjang tahun 2015. Daftar ini, tentu saja, tidak mewakili daftar serupa yang mungkin saja dibuat oleh teman-teman penulis Linimasa lain. Jadi, kalau mau tahu apa film-film pilihan dari teman-teman penulis Linimasa lainnya, silakan tanya sendiri ya.

😉