Delapan Belas Film Yang Memukau di Tahun 2018

Memilih 18 film dari (sedikit lagi) hampir 1.000 jam durasi film yang saya tonton di tahun 2018 ternyata bukan perkara yang mudah dilakukan. Terlebih lagi, kita selalu berpatokan pada hal yang absolut, bahwa satu film berbeda dengan yang lain, yang nyaris mustahil untuk dibandingkan secara kuantitatif.

Akhirnya daftar ini saya buat dengan prinsip yang sangat mendasar, yaitu pada saat menonton film-film ini, I have a memorable time. Bukan sekedar had a good time, tapi film itu masih membekas di ingatan dan hati saya usai film itu berakhir, dan saya sudah beranjak pergi dari bioskop, atau mematikan layar televisi, layar komputer atau sekedar berpaling dari layar ponsel.

Pilihan jenis layar tontonan tersebut saya pilih karena tuntutan pekerjaan yang memang mengharuskan saya untuk hampir selalu menonton film. Saat makan siang sendirian di food court, saat sedang berlari di atas treadmill, atau bahkan saat menunggu pintu bioskop masuk, selalu ada tontonan dalam genggaman.

Lagi pula, as much as I believe the following statement to be a bit passé, ternyata 2018 adalah a good year in cinema. Variasi cerita yang kaya mendorong film-film yang dirilis sepanjang 2018 beragam. Bahkan penonton pun tak segan untuk berpaling dari film-film yang mengandalkan gimmick semata (kecuali ada pemborong tiket).

Tentu saja, tak semua eksperimen berhasil. At least tidak berhasil membuat saya mengagumi film yang telah ditonton. Dari sekian banyak film dengan high concept of ideas, ada 5 Film Yang Mengecewakan di Tahun 2018, yaitu:

Suspiria
Thugs of Hindostan
Peterloo
Vox Lux
The Little Stranger

Obat untuk mengatasi kekecewaan setelah menonton film yang gagal membuat kita senang? Tentu saja dengan menonton film lain! Itulah yang selalu saya lakukan dari dulu, termasuk di tahun 2018, sampai akhirnya saya menemukan 18 Film Favorit di Tahun 2018. Ini dia:

[eighteen] The Death of Stalin

death_of_stalin(IMP)

The Death of Stalin (Source: IMP)

[seventeen] First Man

first_man-IMP

First Man (Source: IMP)

[sixteen] The Man Who Surprised Everyone

the-man-who-surpised-everyone-IMDB

The Man Who Surprised Everyone (Source: IMDB)

[fifteen] Tel Aviv on Fire

Tel-Aviv-On-Fire-poster_Bristol_Palestine-FilmFest

Tel Aviv on Fire (Source: Bristol Palestine Film Fest.)

[fourteen] Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body)

memories-of-my-body-IMDB

Memories of My Body (Source: IMDB)

[thirteen] A Star is Born

star_is_born-IMP

A Star is Born (Source: IMP)

[twelve] Whitney

whitney-IMP

Whitney (Source: IMP)

[eleven] Spider-Man: Into the Spider-Verse

spiderman_into_the_spiderverse_ver2-IMP

Spider-Man: Into the Spider-Verse (IMP)

And now, the top 10 of the year:

[ten] Cold War

cold-war-_RogerEbert

Cold War (Source: RogerEbert.com)

Satu kata yang terlontar usai menonton film ini adalah “gorgeous!” Terutama buat penggemar jazz, perhatikan bahwa film ini dibuat dengan pacing melodi musik jazz yang megah, yang dimulai dengan kekosongan, diisi dengan riots and chaotic notes, dan diakhiri dengan a beautiful and lingering devastation. Film ini juga sarat dengan imaji indah dalam sinematografi hitam putih dengan komposisi yang tak biasa, yang membuat kita tak berpaling dari layar. Durasi film boleh singkat, namun impresi yang ditinggalkan masih berbekas sampai sekarang.

[nine] A Twelve-Year Night

a-twelve-year-night_Unifrance

A Twelve-Year Night (Source: Unifrance)

Kalau ada film di daftar ini yang membuat saya berkata “I urge you all to watch the film”, maka inilah filmnya. Sepintas mirip The Shawshank Redemption, ada pula yang menyebut filmnya mirip 12 Years a Slave. Kesamaan dengan kedua film hanya sebatas pada dasar ceritanya saja: ini film kisah nyata tentang José Mujica yang ditahan bersama tawanan politik lainnya selama 12 tahun, sebelum akhirnya dia menjadi presiden Uruguay. Film ini menggambarkan keadaan mereka di penjara, dan mengikuti kisah hidup mereka di penjara sepanjang film, saya tidak bisa berkata-kata lebih banyak lagi. They are harrowing, they can be gruesome, but they can be hopeful. Visualisasi tentang usaha mereka bertahan hidup di penjara sangat fantastis. The quietness, you have to see it yourself to feel it. Film ini hadir di Netflix mulai 28 Desember 2018.

[eight] Girl

Girl-ThePlaylist

Girl (Source: The Playlist)

Elegan dan halus. Itulah catatan saya selesai menonton film ini. Performa luar biasa Victor Polster sebagai Lara yang bertekad keras menjadi perempuan seutuhnya membuat film ini berhasil memukau kita. Tak hanya sekedar mengubah fisik, tapi karakter Lara di film ini ditampilkan lengkap dengan perjalanan emosi yang membuat kita tertegun sepanjang film. Pilihan Lara untuk bertahan hidup membuat saya mau tidak mau menorehkan kata berikut untuk film Girl ini: “powerful!

[seven] Andhadhun

andhadhun-TheWire

Andhadhun (Source: The Wire)

Saya sudah penasaran dengan film ini dari trailernya yang sangat unik. Terlebih untuk sebuah film Hindi komersil. Dan rasa penasaran itu sangat, sangat terpuaskan oleh filmnya sendiri. Apalagi di paruh pertama film, dengan puncak keseruan film saat karakter utama mengalami kejadian yang membawa cerita bergulir dengan sangat nyaman untuk diikuti. Silakan baca sendiri semi-spoiler moment di tulisan saya minggu lalu. Yang jelas, film ini adalah film Hindi paling menyenangkan untuk ditonton tahun ini. Dan film ini sudah ada di Netflix!

[six] One Cut of the Dead

one-cut-of-the-dead-Variety

One Cut of the Dead (source: Variety)

Kalau sensasi film ini harus ditulis besar-besar dalam huruf kapital: FUN! Rasanya tidak ada film lain sepanjang tahun 2018 yang membuat saya tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai ada penonton lain yang berdiri dari kursi dan terus tertawa sambil bertepuk tangan di beberapa bagian film. Sebuah film dengan konsep yang kalau diceritakan secara lisan atau kita baca cuma bisa membuat kita bingung, namun saat akhirnya kita saksikan sendiri, kita hanya bisa terperanjat dan kagum. Film yang sangat brilian. Sekaligus film ini adalah film yang membuat kita sadar, kenapa kita sangat mencintai film secara umum. Semakin sedikit Anda tahu sebelum menonton film, the more fun you will have. The funniest film in a long time.

[five] Tully

tully-charlizetheron_SlashFilm

Tully (Source: SlashFilm)

Twist film ini membuat saya berpikir berhari-hari. Semacam mengetuk kesadaran dalam diri. Tenang saja, ini bukan spoiler sama sekali. Film ini berhasil membuat saya tertegun, dan akhirnya mengakui bahwa kalau bukan kita sendiri, siapa yang akan menyelamatkan kita? Semakin saya memikirkan film ini, semakin saya paham bahwa tidak hanya penampilan Charlize Theron yang luar biasa bagusnya yang membuat film ini menjadi salah satu film favorit saya tahun ini, tapi cerita film ini yang sangat humanis yang membuat film ini layak untuk ditonton. Jason Reitman dan Diablo Cody adalah tim sutradara dan penulis yang sangat paham tentang human beings and their desire to be human.

[four] Shoplifters

shoplifters_RogerEbert

Shoplifters (Source: RogerEbert.com)

Film ini menantang pemikiran kita tentang konsep keluarga dengan cara yang sangat subtle, yang tanpa kita sadari merasuki perasaan kita, yang membuat kita sampai meneteskan air mata di akhir cerita. Selain itu, Hirokazu Kore-eda juga mempertanyakan kembali, apakah konsep villain dan protagonis yang sebenarnya dalam hidup sehari-hari. Bagian ini yang membuat saya terus berpikir sepanjang film, dan terus mencari jawaban pertanyaan tersebut sampai film berakhir. Disajikan dengan cara bertutur yang pelan namun pasti, film ini berhasil memanusiakan manusia dalam konteks yang mudah kita pahami, sekaligus meninggalkan kesan yang mendalam.

[three] Amanda

amanda_-_mikhael_hers__Variety

Amanda (Source: Variety)

Waktu saya menonton film ini, saya hanya berniat untuk menonton paling tidak separuh durasi, karena ada jadwal diskusi yang harus saya hadiri. Namun niat itu tidak saya penuhi, karena hanya dalam guliran menit-menit pertama, film in berhasil membuat saya tidak beranjak dari kursi, dan menontonnya sampai selesai. Dengan mata berkaca-kaca, saya bertanya ke rekan saya, “What was that we just watched?” Film ini sangat sederhana: seorang pria harus membesarkan keponakannya setelah kakaknya, yang notabene adalah ibu keponakan ini, tewas akibat serangan terorisme. Pergulatan batin dua orang ini menjadi perjalanan utama cerita film yang tertutur dengan rapi, tanpa menghakimi sama sekali, tanpa berpihak sama sekali. How is it possible? Sutradara Mikhael Hers membuat film ini dengan tampilan bak film keluarga di televisi tahun 1970-an, yang menjadi efektif, karena kita bisa menikmatinya dengan tenang, despite all the big questions and anxiety about life in the film. Tidak perlu menjadi melodramatis dan sentimentil untuk membuat film yang menentramkan hati. Film ini membuktikannya.

[two] The Guilty

theguilty-Fotogramas

The Guilty (Source: Fotogramas)

Ada kalanya kita menonton film dan terpukau dengan sense of filmmaking film tersebut. Film ini salah satunya. Mirip dengan film-film seperti Buried atau Locke dan Gravity, di mana keseluruhan cerita dalam satu film dibuat dalam satu kurun waktu, in real time, dan hanya ada satu karakter sepanjang film. Film-film seperti membutuhkan kedisiplinan yang tinggi dalam membuatnya. Skenario harus dibuat serapi mungkin agar dramatic moments pas munculnya, serta tentunya, aktor yang memainkan karakter utama harus tampil meyakinkan sepanjang film, karena dialah satu-satunya yang selalu muncul sepanjang film. Ryan Reynolds, Tom Hardy dan Sandra Bullock sudah membuktikannya, dan sekarang, Jakob Cedergren juga membuktikan lewat film The Guilty ini. Duduk dalam satu ruangan tertutup menerima panggilan telpon darurat, ketegangan demi ketegangan film tersaji lewat raut muka, gerak tubuh dan intonasi suara Cedergren yang selalu berubah seiring dengan perkembangan kejadian. Sutradara Gustav Möller menorehkan debut film panjang yang sangat istimewa, perhaps among the best debut films of all time. Tentu saja, film ini pun adalah film thriller terbaik tahun ini.

[one] Roma

roma-Empire

Film seperti Roma belum tentu hadir setahun sekali. Bahkan mungkin belum tentu sepuluh tahun sekali. Film ini memang personal untuk Alfonso Cuaron, pembuatnya. Namun rasa itu berhasil diterjemahkan menjadi sebuah karya seni yang dibuat dengan sepenuh hati, dan akhirnya bisa kita nikmati juga dengan sepenuh hati. Sebagai orang yang lebih menyukai film dengan penuturan cerita yang naratif, saya surprised sendiri bisa menikmati film ini. Mungkin Cuaron tidak akan pernah lupa, bahwa frame dan adegan indah pun perlu kekuatan cerita dan karakter yang membuat momen-momen tersebut tak lepas dari ingatan. Adegan di hutan, adegan di pantai, pemberontakan di jalan, menyaksikan ini semua seperti membuat kita menyaksikan adegan hidup dalam tatanan gambar dan suara yang menakjubkan. This is a work of art worth seeing. This is a beautiful rarity.

Apa film favorit Anda tahun 2018 ini?

Advertisements

(Susahnya Cari) 10++ Film Paling Berkesan Di Tahun 2017

The inevitable has happened.
Yang saya pikir tidak akan mungkin terjadi, akhirnya terjadi juga.
Apakah itu?

Saya jarang ke bioskop.
Oke, mungkin kata “jarang” di sini bukan berarti hampir tidak pernah. Mungkin yang lebih tepat, frekuensi pergi ke bioskop untuk menonton film berkurang cukup signifikan. Jumlah film yang saya tonton di bioskop berkurang sangat banyak. Untuk pertama kalinya, angkanya sedikit di bawah 100.

Sementara jumlah film, di luar serial televisi dan stand-up comedy, yang saya tonton di aplikasi streaming meningkat pesat. Jumlahnya tidak perlu saya sebutkan dengan pasti. Let’s just say, lebih sedikit dari 3 kali lipat angka untuk film yang ditonton di bioskop.

Saya masih mencintai aktivitas menonton film di bioskop. Masih belum ada yang bisa mengalahkan sensasi menonton film di layar lebar dengan kualitas gambar dan suara yang prima. Kita lebih bisa berkonsentrasi menonton di bioskop dengan baik ketimbang menonton di rumah. The social experience of filmgoing in cinema remains unbeatable.

Hanya saya, akhirnya saya punya non renewable source bernama waktu. Kalau harus memprioritaskan antara menonton good content at home dan mindless content at cinema, maka saya akan memilih yang pertama. Jujur saya akui, tawaran film di bioskop lokal tahun ini cukup underwhelming. Sementara film-film yang tidak tayang di bioskop kita namun diputar di aplikasi streaming, sebagian besar dari mereka overwhelmingly good, terutama dalam hal storytelling.

Maka untuk pertama kalinya juga, saya akan menggabungkan daftar film-film yang saya tonton di bioskop dan di aplikasi video streaming menjadi satu daftar singkat film-film yang paling berkesan saat ditonton di tahun 2017. Aturannya cukup simpel:
• film dirilis di bioskop lokal untuk pemutaran umum di tahun 2017 (saya exclude film-film yang diputar di festival film yang diadakan tahun ini)
• film dirilis untuk pertama kalinya di aplikasi video streaming legal yang ada di Indonesia (saya menggunakan Netflix, Amazon Prime Video, iflix, Hooq, dan pembelian berkala di Google Play dan iTunes Store Indonesa)

Ada beberapa film yang rasanya susah saya lepaskan dari kerangka “top 10” pendataan, karena mereka juga memberikan kesan yang mendalam saat ditonton. Yang saya lakukan adalah mencari kindred spirits dari film-film tersebut, dan menempatkan dalam angka yang sama.

Apa saja film-film itu? Ini dia:

• (sepuluh) • Istirahatlah Kata-Kata & Marlina the Murderer in Four Acts

Kiri: Istirahatlah Kata-Kata (source: pardo.ch)
Kanan: Marlina the Murderer in Four Acts (image: thejakartapost.com)

Dua film yang sekilas terasa jauh sekali paralelnya. Namun jika kita lihat lagi, film ini mempunyai banyak kesamaan. Sama-sama menampilkan karakter utama yang terjepit, meskipun mengkonfrontasi masalah mereka dengan cara yang berbeda-beda. Sama-sama memilih untuk banyak ‘diam’ dengan efektif. Tetapi yang saya suka dari kedua film yang sangat well-thought-of ini adalah, they both know what to shoot. Both films know how to frame their scenes. Setiap adegan yang direkam kamera nyaris tidak ada yang terbuang percuma, karena hampir semuanya efektif dalam bercerita. Two films at almost polar extremes, but two films that remain one of the best our cinema have ever made.

• (sembilan) • Whitney: Can I Be Me

Whitney: Can I Be Me (source: dogwoof.com)

Cukup banyak dokumenter musik yang saya tonton tahun ini, tapi yang membuat saya terhenyak hanya film ini. Sutradara Nick Broomfield memang mempunyai akses footage asli Whitney Houston yang mungkin bisa membuat iri pembuat film lain. Tapi di tangan pembuat film lain, mungkin film dokumenter ini tidak mempunyai emotional punch yang kuat, seperti yang ditampilkan film ini apa adanya, tanpa harus mengeksploitasi atau memanipulasi mereka yang diwawancarai. Sisi lain Whitney Houston, yang membuat hati kita mencelos, akhirnya bisa ditampilkan dengan utuh di sini. Documentary-wise, this is Whitney’s own “Amy.

• (delapan) • The Lego Batman Movie

The Lego Batman Movie (source: BusinessInsider.com)

Masih ingat dengan film ini? Mungkin sebagian dari kita sudah lupa, karena memang film ini hadir di awal tahun, bukan di waktu yang lebih family-friendly, seperti tengah tahun saat liburan sekolah. Dan memang, hasil secara komersial di sini kurang menggembirakan. Toh film ini tetap membuat saya terbahak-bahak, sekaligus kaget. Kenapa kaget? Karena banyak lapisan cerita tentang the need to acknowledge and regard your enemies to live yang disampaikan dengan baik, lewat humor absurd, dan mudah dimengerti. An unexpected triumph.

• (tujuh) • A Death in the Gunj & Newton

Kiri: A Death in the Gunj (source: IndiaToday.in)
Kanan: Newton (source: rediff.com)

Tahun 2017 bukanlah tahun yang baik untuk film Hindi. Banyak film mainstream yang “gatot”, baik dari segi artistik maupun komersil. Dari sedikit yang berhasil lewat jebakan ini, ada dua yang sukses menghinggapi pikiran saya cukup lama setelah selesai menonton. A Death in the Gunj adalah film berbahasa Inggris tentang tragedi yang menimpa sebuah keluarga saat mereka berlibur di kota Gunj tahun 1979, lengkap dengan segala intrik coming of age beberapa karakternya. Newton bercerita tentang petugas pemilihan umum idealis yang harus mengumpulkan suara penduduk di daerah konflik. Keduanya sama-sama film “kecil” yang berbicara cukup lantang tentang the changing of society di dua era yang berbeda. Dan keduanya sama-sama menempatkan human and humanity right in front of and the centre of the story. Keduanya juga tidak terburu-buru dalam bercerita, sehingga leisure pace yang mereka ambil semakin membuat kita menyukai karakter-karakter yang ditampilkan.

• (enam) • Arrival

Arrival (source: FilmInquiry.com)

Meskipun Blade Runner 2049 lebih megah dalam segi visual efek dan sinematografi, nyatanya film karya Denis Villeneuve sebelumnya yang meninggalkan kesan paling dalam. Arrival hadir di awal tahun ini. Namun sensasinya masih terasa sampai di penghujung tahun. Sebuah film sci-fi yang tidak hanya membuat kita terkesima, tapi juga memikirkan dan mempertanyakan kembali konsep kemanusiaan yang selama ini kita yakini. Bonus point juga bahwa film ini, di antara sedikit film lainnya, yang membuat kita harus mencari bioskop dengan kualitas suara terbaik untuk menikmati setiap sensasi tata suara filmnya.

• (lima) • Our Souls at Night

Our Souls At Night (source: Aspekt.Nu)

Nobody makes film like this anymore. Dan di sinilah Netflix beserta pasukan aplikasi video streaming lain hadir untuk menyelamatkan jenis film drama dewasa seperti ini, yang masih ditunggu dan mempunyai pangsa pasar penonton yang setia menunggu. Mungkin terakhir kali kita bisa dibuat “klangenan” dengan romansa a la Our Souls at Night ini adalah saat Clint Eastwood bercumbu dengan Meryl Streep dalam Bridges of Madison County. Demikian pula dengan Jane Fonda dan Robert Redford yang mensahkan bahwa cinta bisa hadir kapan saja, di mana saja, dan bisa diusahakan. Film yang menawarkan cinta apa adanya, tanpa berlebihan. Ritesh Batra continues his winning streak after The Lunchbox, The Sense of an Ending, and now, this lovely work.

• (empat) • Posesif

Posesif (source: CNNIndonesia.com)

Film yang, kalau mengikuti istilah zaman now and then, totally caught me off guard. Saya tidak tahu banyak dan tidak mencari tahu tentang film ini sebelum menontonnya. Tetapi dengan metode yang sama, sering kali film yang saya tonton berakhir mengecewakan. Tidak untuk film ini. Meskipun ada beberapa bagian cerita dan karakterisasi yang, kalau mengikuti logika, bisa dirombak supaya bisa lebih proper (whatever that is), toh film ini masih tetap mencengangkan dalam konteks yang baik. Film ini unggul karena mengangkat isu yang nyaris terlewatkan secara kasat mata: kekerasan dalam hubungan asmara antar remaja. Teenage love story is a staple in storytelling, terutama di media hiburan kita. Namun sisi lain dari kisah kasih tersebut, tak banyak yang mau mengungkapkannya. Film ini hadir dengan konsep kuat, penampilan prima dari hampir seluruh pemerannya, dan pembuatan yang sangat baik. One of the best Indonesian films in recent memory.

• (tiga) • Wind River

Wind River (source: NPR.org)

Another winning surprise. Taylor Sheridan, sutradara film ini, adalah penulis skenario film gacoan saya di Oscar tahun lalu, yaitu Hell or High Water. Film tentang pencurian bank yang bertutur secara efektif tentang karakter-karakternya. Namun dalam Wild River kali ini, Taylor ups his ante. Film thriller yang bercerita dengan efektif tentang the beast within humans yang mungkin terjadi di antara kita. Terasa berlebihan uraian psikologis singkat saya? Coba tonton saja film ini. The seemingly and deceivingly simple action whodunit mystery actually reveals much about crime and humanity. Film yang membuat kita merasa tegang sepanjang durasi ceritanya, dan salah satu yang terbaik yang pernah dibuat.

• (dua) • Coco

Coco (source: Pixar.wikia.com)

Film yang membuat saya menangis, dan rela saat airmata tumpah karena ceritanya yang luar biasa. Entah bagaimana bisa Pixar kembali sukses menerjemahkan konsep hidup yang terdengar sulit, menjadi sebuah tontonan yang menakjubkan. Seperti Inside Out yang sebenarnya mengenalkan anak-anak kepada isu kesehatan mental, maka Coco selangkah lebih berani menghadirkan konsep bahwa memaafkan adalah pilihan. Bahwa konsep “forgive and forget” yang selama ini diagung-agungkan orang dewasa, ternyata tak selamanya berbuah manis. Sebagai orang yang meyakini hal ini, Coco berhasil membuat saya trenyuh. Ditambah lagi dengan pencapaian efek visual yang semakin nyaris sempurna, dan lagu tema yang mengharukan, Coco termasuk film favorit Pixar saya sepanjang masa.

• (satu) La La Land

La La Land (source: The Hollywood Reporter)

This is it. Tidak ada film lain di tahun ini yang membuat saya terkesima, tertegun, terbuai dan terpaku sepanjang film, meskipun sudah berulang kali ditonton di layar lebar. Tidak ada film lain di tahun ini yang membuat saya tersenyum dan terharu di saat yang bersamaan, because of the magic. This is magical filmmaking at its best. Seperti yang pernah saya tulis di sini di awal tahun, La La Land terasa istimewa karena kedekatan saya dengan format filmnya. Tapi lepas dari itu, setelah saya menontonnya lagi di rumah, film ini masih terasa istimewa, karena keberhasilannya membawa kita lepas sejenak dari kepenatan dunia yang terlampau pekat akhir-akhir ini. And the film excels in being the right one at the right time. Film seperti La La Land tak akan hadir setiap tahun. Dan itu yang membuatnya semakin terasa istimewa.

Tunggu.

Masih ada lagi.

Dari 10+ film yang paling berkesan ditonton di tahun 2017, manakah yang menjadi film favorit saya tahun ini?

Sayangnya, film favorit saya tahun ini tidak ditemukan di bioskop lokal maupun aplikasi streaming legal di sini. Saya mendapatkannya lewat jalur tidak resmi, dan untuk kasus film ini, it’s worth doing the hassle.

Film favorit saya tahun ini adalah The Big Sick yang diangkat dari kisah nyata penulis skenarionya, komedian Kumail Nanjiani dan istrinya, Emily V. Gordon. Film komedi humanis yang terasa dekat dengan kita, karena menyentil hubungan kemanusiaaan yang sangat universal. Adegan favorit saya ada di bagian menjelang akhir film, saat Kumail akan pergi meninggalkan orang tuanya untuk pindah ke kota lain. Sang ayah menghampiri, sambil mengantarkan kotak makan siang untuk Kumail, karena ibu Kumail masih marah akan kepindahan Kumail, tetapi masih insists agar Kumail tidak lupa makan siang. Any mother and anyone with mother would surely laugh and be able to relate to that scene.

The Big Sick (source: AustinChronicle.com)

Apa film-film favorit Anda tahun ini?

Akhirnya, 10 Film Paling Memorable Yang Ditonton Di Bioskop di Tahun 2016

Sudah Kamis ke-4 di bulan Desember. Meskipun masih ada 10 hari lagi sampai di penghujung tahun, yang berarti masih ada film-film baru yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan, tetapi daftar tahunan ini memang lebih baik dirilis sekarang. Kalaupun ada perubahan, nanti kita akan melihat sendiri perubahannya saat Anda menerima notifikasi bahwa tulisan ini telah diperbarui.

Yang jelas, postingan ini meneruskan tradisi saya merekap “top 10 the most enjoyable cinema going experience” dalam satu tahun. Biasanya saya menulis di blog pribadi, tetapi setelah bergabung dengan Linimasa, maka saya akan meneruskan kebiasaan itu di sini.

Aturannya sederhana saja: filmnya saya tonton di bioskop. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dari minggu terakhir Desember di tahun sebelumnya sampai seminggu sebelum minggu terakhir Desember tahun ini.

Dari ratusan film yang saya tonton dalam satu tahun, terus terang saya bingung kalau ditanya filmnya bagus apa enggak. Kalau ditanya apakah saya menikmati atau tidak, maka jawabannya akan jauh lebih mudah.

Dan 10 film (plus) di sini adalah rangkuman dari sensasi itu. Ketika berada di dalam bioskop, pandangan saya hanya tertuju apa yang ada di layar. Ikut berpikir, tertawa, takut, senyum, sedih atas apa yang sedang ditonton. Ketika selesai menonton, masih memikirkan filmnya. Kadang masih berdecak kagum.

Every filmgoing experience is a very personal, subjective experience. Saya masih sangat percaya akan hal ini.
Artinya sederhana saja. Apa yang kita suka, belum tentu orang lain suka. Yang kita nikmati, belum tentu bisa dinikmati orang lain, bahkan orang yang paling dekat dengan kita.

Jadi, selamat membaca daftar di bawah.

Oh, satu lagi catatan khusus tentang tahun ini.

Ada jarak waktu yang cukup lama, selama lebih dari 6 bulan, di saat saya tidak menemukan pengalaman nonton yang menyenangkan di bioskop. Waktu itu, terakhir merasa puas menonton film di bioskop bulan Februari. Lalu kepuasan itu baru muncul lagi di bulan Agustus. Dalam jeda waktu 6 bulan antara Februari sampai Agustus itu rasanya seperti sleepwalking keluar masuk bioskop.

Film-film apa itu?

Silakan.

10. The Shallows

The Shallows

The Shallows

Inilah film yang memecah kebuntuan absennya pengalaman menonton yang menyenangkan buat saya di bioskop tahun ini. Jaraknya lebih dari 6 bulan dari film nomer satu. Indeed, it’s a pure pleasure. Sensasinya sama persis waktu menonton film Buried, yang dibintangi suami Blake Lively sendiri, yaitu Ryan Reynolds. Formula “one-person-alone-against-the-inexplicable-horror” masih bekerja dengan baik di film ini. An unexpected victory.

 

9. Room

Room

Room

By any accounts, it is a harrowing film. Namun pendekatan cerita yang tidak sensasional menjadikan film ini tidak membuat kita merasa claustrophobic. It has a very grounded storytelling, ditambah dengan penampilan gemilang ibu dan anak (Brie Larson dan Jacob Tremblay) yang membuat kita susah melupakan film ini begitu keluar dari bioskop, dan merasa lega.

 

8. The Beatles: Eight Days a Week – The Touring Years

The Beatles: Eight Days a Week - The Touring Years

The Beatles: Eight Days a Week – The Touring Years

Tidak banyak yang perlu saya jelaskan tentang film ini, yang tidak hanya sebuah dokumenter, tapi sebuah surat cinta terhadap The Beatles. Sudah cukup jelas penjelasan singkat di tulisan sebelumnya tentang momen musik di film sepanjang tahun ini. Lagi pula, if you can relive singing along The Beatles and watching them on big screen, then it’s already a winning experience.

 

7. Train to Busan

Train to Busan

Train to Busan

Saya jatuh cinta dengan premise film ini yang bisa dijabarkan dengan sangat mudah: kejar-kejaran zombie di dalam kereta. Sudah cukup untuk membuat penasaran. Dan hasilnya pun membuat saya seru sendirian di dalam bioskop. When put in good use, Korean dramatic storytelling clearly shows its strength. This film proves it.

 

6. Kubo and the Two Strings

Kubo and The Two Strings

Kubo and The Two Strings

Sampai pertengahan tahun ini, film animasi cantik ini masih menjadi favorit saya. Di saat langkanya cerita asli di film animasi, film ini hadir dengan cerita yang penuh percaya diri tentang anak kecil yang berjuang menyelamatkan ibunya. Sebuah petualangan seru yang ketika ditonton, it immediately puts a smile on a kid in us.

 

5. The Wailing

The Wailing

The Wailing

Pengalaman yang kontras dengan “Train to Busan”. Durasi panjang film ini (lebih dari 2,5 jam) alih-alih membosankan. Saya tegang ketakutan sepanjang film. Padahal cerita klenik dengan intrusi makhluk supernatural yang mengganggu ketenangan satu kampung adalah cerita yang sering kita dengar sehari-hari. Namun di tangan sutradara mumpuni macam Na Hong-Jin, teror ini terlihat nyata. Salah satu film terbaik tahun 2016.

 

4. Neerja

Neerja

Neerja

Meskipun cukup banyak menonton film Hindi sepanjang tahun, namun hanya ada satu tempat di daftar saya kali ini. Dan pilihannya lagi-lagu jatuh ke film yang dengan mudah kita jelaskan secara singkat: kisah nyata pramugari Pan Am asal Mumbai yang tewas saat menyelamatkan seluruh penumpang dari pembajakan pesawat. Kekhawatiran akan kemungkinan treatment cerita menjadi lebay khas Bollywood pupus saat menonton film ini. Adegan pembajakan digarap selayaknya a proper thriller. Penampilan Sonam Kapoor sebagai Neerja membuatnya naik kelas sebagai aktris. Tapi yang mencuri perhatian adalah Shabana Azmi sebagai ibu Neerja yang harus menghadapi kesedihan. Dua penampilan berkesan tahun ini yang sangat, sangat membekas di hati.

 

3. A Monster Calls

A Monster Calls

A Monster Calls

Betapa susahnya mendeskripsikan kehilangan kepada anak laki-laki yang memasuki masa pubertas. In fact, betapa susahnya mendeskripsikan emosi kepada semua anak di masa usia tanggung. Kita semua mengalami hal ini. Maka dari itu, menonton film ini tanpa terasa akan menguras air mata. Entah itu lega atau sedih, yang jelas cerita fantasi ini bisa menjadi tontonan yang mewakili saat kata-kata tidak mampu mendeskripsikan perasaan kita terhadap kehilangan. And of course, the feeling of letting go. Film yang layak, sangat layak, untuk ditonton berulang-ulang, to understand our own emotions.

 

2. Your Name

Your Name

Your Name

Jujur, pada awalnya saya skeptis dengan film ini. Apa lagi yang mau ditawarkan oleh anime Jepang dengan tema percintaan remaja? Apalagi ditambah dengan cerita tentang time traveling.
Namun keraguan saya buyar bahkan di menit-menit pertama. Saya tidak ingat lagi kapan terakhir menonton film yang membuat saya tersenyum sepanjang film. Tanpa adegan yang dibuat mengharukan, the film actually brings hope and joy. It will make you believe in falling in love all over again.

 

1. Spotlight

Spotlight

Spotlight

Begitu selesai menonton, saya perlu “melipir” untuk menenangkan diri. Sempat ada rasa marah dan muak. Apalagi ini kisah nyata. Akhirnya mau tidak mau memang kita harus menerima kenyataan bahwa “organized religion can commit organized crime”. Apapun agamanya, apapun kejahatannya. Saya menonton film ini di awal tahun 2016. Ternyata isi ceritanya relevan sepanjang tahun, bahkan mungkin sepanjang masa. Membuat miris memang. Toh film ini memang mengandalkan kekuatan cerita yang sangat, bahkan mungkin terlalu powerful. Makanya, saya lompat kegirangan di depan televisi saat film ini diganjar Oscar sebagai Film Terbaik. In a rarity, the best film is indeed an important film to tell.

Sebagai bonus, ada 5 film yang saya tonton di bioskop tahun ini yang juga berkesan, yaitu: A Copy of My Mind, Don’t Breathe, Hacksaw Ridge, Pink, dan Sully.

Lalu 5 film kontemporer lain yang tidak saya tonton di bioskop, namun tidak kalah berkesan: Born to be Blue, Creed, Grandma, Hell or High Water, dan Sing Street.

(All posters, except Your Name and Neerja, are taken from IMP Awards. Neerja poster comes from filmywave. Your Name poster comes from Quora.)