Menjadi Inspirasi

Ada satu kalimat pepatah dalam bahasa Inggris, yang kemudian banyak dijadikan meme, yang buat saya agak susah menemukan padanan yang pas dalam bahasa Indonesia.

“Be with the one that can bring out the best in you.”

Kalau diterjemahkan jadi “bersama dengan seseorang yang mengeluarkan kemampuan terbaik dalam dirimu”, kok jadinya formal dan panjang banget ya.
Kalau diartikan jadi “carilah orang yang bisa membuatmu menjadi yang terbaik”, kayanya masih ada yang kurang. Masih “ngganjel” kalau orang Jawa bilang. Masih ada yang kurang, yang membuat pemahamannya belum terasa lengkap.

Yang membuat kita bisa memahami kalimat di atas adalah kalau kita menjalani apa yang dimaksud di situ, atau melihat contoh nyata dari pernyataan itu, atau paling tidak, merasakan makna yang dimaksud.

Kalimat di atas terngiang di benak saya saat beberapa waktu lalu saya melihat meme serupa yang bertuliskan, “When you just start working, find a boss that can bring out the best in you.”
Ingin saya tambahkan kata-kata “if you’re lucky” di akhir kalimat itu.
Kenapa? Karena tentu saja tidak semua orang bisa beruntung mendapatkan pimpinan yang bisa menginspirasi anak buahnya, dan tidak semua pimpinan bisa tahu cara menginspirasi anak buahnya.

Belasan tahun bekerja, baru sekali saya bisa bekerja di bawah seseorang yang bisa membuat saya rela bertahan dalam tangisan dan tekanan untuk mengerjakan tugas dengan sebaik mungkin. Sistemnya tough love: kalau kerjaan bagus akan dipuji setinggi langit, kalau kerjaannya jelek akan dibanting sampai ke ddasar samudera. Kedua hal yang berbeda ini mempunyai satu kesamaan, yaitu disampaikan secara langsung kepada saya, tidak kepada orang lain, apalagi kepada orang banyak.

Setelah tidak bekerja sama dengan orang tersebut, saya baru sadar bahwa tidak semua pimpinan mempunyai ketegaran dan ketegasan hati untuk menjadikan anak buahnya sebagai aset. Jauh lebih banyak pimpinan yang menjadikan anak buahnya tameng ketika menghadapi kritikan orang luar, atau sekedar alat apa pun. Yang penting, untung.

Tentu saja kata “pimpinan” di sini bisa berlaku buat profesi apa saja, dan dilakukan oleh siapa saja.

Kenapa kelas spinning di gym yang hari Sabtu pagi, di saat orang leyeh-leyeh di rumah, malah jauh lebih ramai daripada hari Rabu malam, di saat orang pulang kerja? Karena trainer di hari Sabtu lebih pinter milih lagu, suaranya enak, dan bisa nge-lead kita. Itu kata mbak-mbak di sebelah saya, yang rajin ikut kelas ini, minimal empat kali seminggu.

Kenapa Grace Kelly, meskipun mendapatkan Oscar di film The Country Girl yang disutradarai sutradara tidak terkenal George Seaton, lebih dikenal dan dikenang lewat film-film karya maestro Alfred Hitchcock? Karena Grace Kelly bisa terlihat sangat rileks membawakan peran-peran dalam film-film Hitchcock ketimbang film-film lainnya, dan Hitchcock tahu bagaimana dia mengambil angle yang membuat kita terpesona pada Grace Kelly. Begitu kata banyak kritikus film.

Grace Kelly & Alfred Hitchcock (Courtesy: princessgracekelly.tumblr.com)
Grace Kelly & Alfred Hitchcock (Courtesy: princessgracekelly.tumblr.com)

Kenapa kita tidak pernah mendengar lagi nama Mia Farrow sebagai aktris? Karena puncak karir Mia Farrow hanya terjadi pada saat dia membintangi film-film karya mantan suaminya, Woody Allen: The Purple Rose of Cairo, September, Broadway Danny Rose, Alice, Husbands and Wives, Hannah and Her Sisters, dan masih banyak lagi. Semuanya telah menjadi karya klasik. Semuanya menampilkan sisi yang berbeda-beda dari Mia Farrow sebagai aktris, dan hanya bisa menjadi yang terbaik saat Woody Allen mengarahkannya.

Woody Allen & Mia Farrow (Courtesy: tonpetitlook.com)
Woody Allen & Mia Farrow (Courtesy: tonpetitlook.com)

Kenapa Widyawati meraih Piala Citra lewat film Arini, Masih Ada Kereta Yang Akan Lewat, dan dinominasikan dalam beberapa film lain karya almarhum suaminya, Sophan Sophiaan? Karena Widyawati selalu tampil menawan dalam setiap film karya almarhum Sophan Sophiaan.

Widyawati & Sophan Sophiaan (Courtesy: tembam.wordpress.com)
Widyawati & Sophan Sophiaan (Courtesy: tembam.wordpress.com)

Dan kenapa mantan kita bisa langgeng lebih lama dengan pasangan barunya setelah kita?
Karena kita dan mantan kita belum bisa menjadi yang terbaik buat satu sama lain saat masih bersama.

Kalau selama bersama bukannya malah mencinta, tapi justru saling membenci, buat apa?

While there are those who can bring out the best in us, there are also those who bring out the worst in us.

Kita tidak pernah bisa memahami. Kita hanya bisa merasakan.

Advertisements

Terbaik

Tahun 1993, dunia dikejutkan saat pemain tenis nomer satu dunia saat itu, Monica Seles, tiba-tiba ditusuk pisau. Kejadiannnya berlangsung saat Monica duduk beristirahat di tengah-tengah pertandingan. Siapa pelakunya? Ternyata seorang pria yang mengaku sebagai fans no. 1 Steffi Graf. Dia tidak ingin Steffi Graf, yang memang rival terberat Monica waktu itu, kehilangan tahta di puncak klasemen pemain tenis dunia.

Seluruh dunia pun geger saat itu. Pertandingan dihentikan. Monica menjalani perawatan yang lama. Salah satu bagian yang cukup banyak diliput media adalah saat Steffi langsung menghentikan semua kegiatannya saat itu, dan terbang menemui Monica di rumah sakit tempat dia dirawat. Konon kabarnya, begitu melihat Monica sadar, mereka berdua langsung menangis. Steffi memeluk Monica, dan berkata berulang kali, “It doesn’t have to be like this”.

Momen kecil, di mana keduanya meletakkan ego masing-masing sebagai kompetitor, hanya dua orang yang saling menguatkan. Atau bisa juga diartikan sebagai momen di mana keduanya sadar, bahwa keduanya tidak bisa menjadi petenis terbaik dunia tanpa kehadiran satu sama lain. Mereka yang terbiasa hidup dengan berkompetisi sehat, sadar dan tahu bahwa hidup tidak berarti tanpa adanya pesaing.

business-Competition

Demikian pula untuk hal lain.
Kita bisa bilang jahat, karena ada yang mulia.
Kita bisa bilang buruk, karena ada yang baik.
Kita bisa bilang nomer satu, karena ada yang menjadi nomer dua, nomer tiga dan seterusnya.
We can never be alone in being the best.

Di film Unbreakable, film terbaik M. Night Shyamalan setelah The Sixth Sense, sepanjang film kita diajak dalam permainan tebak pikiran, siapa sebenarnya karakter yang dimainkan Samuel L. Jackson ini? Apa yang dia inginkan dengan selalu berada di bayang-bayang sekitar kehidupan Bruce Willis?

Unbreakable
Unbreakable

Semoga kalimat berikut ini bukan spoiler: akhirnya kita tahu, bahwa Samuel L. Jackson adalah sisi yang tidak terpisahkan dari Bruce Willis. Satu ada, karena yang lain ada. Bak dua sisi mata uang.
Penjahat kesepian kalau tidak ada orang yang dijahati. Pelaku pemberantas kejahatan akan linglung kalau tidak ada obyek yang harus dibasmi.

Beberapa bulan lalu, saya bertemu dengan salah seorang seniman terkemuka di sini. Dia bilang kalau dia sedang menjajaki kemungkinan bekerja sama dalam sebuah event besar. Katanya waktu itu, “Event ini besar. Ingin jadi yang terbesar. Potensinya ada. Kontennya pun digarap dengan baik. Meskipun begitu, event ini tidak baru. Ada event-event serupa di kota lain, tapi tidak besar. Meskipun tidak besar, tapi jangan lupakan eksistensi mereka. Kamu tidak bisa menjadi yang terbesar tanpa yang kecil-kecil.”

Besar dan kecil. Rendah dan tinggi. Kiri dan kanan. Depan dan belakang.

Karena dua sisi yang berbeda selalu berjalan bersama. Jangan ditinggalkan.