Ringkasan Hidup Kita

Awal bulan Februari lalu, saya beradda di Berlin selama 2 minggu. Keberadaan saya di sana untuk urusan pekerjaan. Untungnya, kota ini terasa cukup familiar, karena ini bukan kunjungan pertama dalam waktu yang singkat. Proses adaptasi, jet lag, dan sejenisnya cukup mudah dilakukan. Apalagi begitu sampai, cuma punya waktu sebentar untuk beres-beres di kamar hotel, sebelum pergi ke tempat kerja.

Toh a sense of familiarity yang saya temui ternyata masih menyimpan elemen kejutan yang menyenangkan.

Jadi saya bertanya ke rekan kerja saya yang sudah lebih dulu sampai tentang aktivitas yang dia lakukan sebelum saya datang.

“Gue ketemuan dan makan malam sama ABC. Dia ‘kan udah kawin dan menetap di sini. Gue juga bilang ke dia kalau elo akan dateng. Jadi kita akan dinner lagi ama dia.”

“Oke. Eh bentar. Ini ABC yang mana sih?”

“ABC DEF.”

“Haaah? ABC DEF?!”

“Iya!”

“Astaga! Gue pikir ABC yang mana. Dia masih ada?”

“Hahahaha, ya masih lah!”

No, I mean … Oh My God, elo tau gak sih kalau there was a period in my life, a significant period and a significant amount of time, si ABC DEF ini tinggal ama gue, terus kita sering jalan bareng dan practically dia yang menyuruh gue to live the way I live now?”

“Makanya, dia juga kaget pas gue menyebutkan nama elo juga. “Nauval? Nauval Yazid? Ya ampun!” Gitu katanya!”

“Ah gila, gue udah lama banget gak mendengar nama ABC DEF ini. How long has it been … 14 … 15 years? Ya Tuhan, selama itu!”

Lalu kami pun sepakat untuk mengosongkan jadwal malam hari di Valentine’s Day dari semua pekerjaan. Kami akan makan malam bersama.

Begitu sampai di hari yang tentukan, dan setelah mengikuti Google Map sampai tersesat, akhirnya kami sampai di tempat makan. Saya dan ABC DEF spontan berpelukan cukup lama. Kami tidak kaget melihat perubahan fisik masing-masing. Malah sepertinya kami begitu cepat saling mengenali, karena ada sense of familiarity yang tak bisa dipungkiri.

Pasangan teman lama saya ini pun cukup tahu diri, karena dia bolak-balik taking a smoke break meskipun bukan perokok berat, untuk memberikan waktu dan teman saya saling catch up.

Dan di sinilah kejutan terjadi.

Setelah duduk dan memesan minum, kami memulai percakapan.

“Ya ampun, elo ABC! Gila, gue sampe takjub sendiri akhirnya mendengar nama elo lagi. Gue sama sekali gak mendengar nama elo lho bertahun-tahun ini.”

Dia tertawa. “I take it as a compliment, lho.”

How are you?

I’m fine. Super fine. How are you?

I’m good. Gue masih gak percaya lho ini ketemu elo lagi.”

“Hahahaha. Nah sekarang udah percaya kan? So now tell me, what happened to you, the last 14-15 years?

games-to-play-around-the-dinner-table-1260-853

Lalu saya mulai bercerita dari periode terakhir bertemu dia. Tentang semua jenis pekerjaan yang saya lakoni selama ini. Tentang beberapa tempat tinggal yang saya jadikan rumah selama ini. Tentang heartbreakers and getting the heart broken repeatedly over the years.
Dan semua ini saya ceritakan dalam 10 menit.

Di akhir cerita saya terdiam sejenak. Lalu saya berkata ke teman saya:

Wow. Did I just tell you the story of my life in the past 15 years in only 10 minutes?

Teman saya tertawa sambil mengangguk. Saya ikut tertawa sambil menggelengkan kepala:

Wow. If only I knew back then that my life story in one and half decade can be summarized in only 10 minutes. I mean … Bok, segala macam drama gak penting itu, ternyata kalau dilihat lagi, gak berarti apa-apa ya? Cuma 10 menit ini gue cerita ke elo, sementara dulu pas putus nangis dan marahnya berhari-hari. Eh sekarang pas dilihat lagi, ternyata gak ada apa-apanya!”

Kami tertawa. Demikian pula dengan teman saya yang juga memberikan ringkasan singkat kisah hidupnya selama bertahun-tahun terakhir.

Sepanjang makan malam itu saya tak habis pikir, ternyata tak semua kejadian dalam hidup kita akan terus kita bawa. Jangankan selamanya, bahkan lebih dari satu dekade pun belum tentu. Hanya momen-momen tertentu yang akan selalu terpatri dalam ingatan. Dan jenis momen yang akan lekat dalam ingatan pun, kita tidak akan pernah menduga apa yang akan kita ingat.

Saya pikir semua luapan dan tindak-tanduk emosional yang pernah saya keluarkan akan terus saya ingat. Ternyata tidak.
Saya pikir semua hal-hal baik yang saya lakukan karena saya ingin mendekati seseorang akan terus saya ingat. Ternyata tidak.

Turns out, we can never tell what sort of memories will stay with us forever.

Tapi yang kita percayai adalah bahwa memori tidak pernah tercipta karena kita berdiam diri. Memori tercipta karena kita melakukan sesuatu, berulang kali, dan beribu kali. Let our brain and mind choose the best summary of our life.

For now, we just live.

eece9185246a088c42c8bd98d4d5a25a

Advertisements