Tebak-tebak Buah Manggis si Emmy vol. 3

Ternyata sudah kali ketiga saya menulis tentang prediksi peraih Emmy Awards di linimasa ini. Kalau ini serial televisi, maka tulisan ini adalah tulisan musim penayangan atau season ke-3. Sementara linimasa-nya sendiri sudah masuk ke season ke-5. Tidak terasa ya, waktu cepat berlalu.

Dan yang tidak terasa juga adalah serial-serial televisi yang absen, lalu muncul kembali, atau sudah berhenti penayangannya. Tidak terasa, karena dengan banyaknya konten tayangan di berbagai kanal dan aplikasi, kita tidak sempat lagi menangisi atau merenungi kepergian tayangan serial kesukaan kita. Kenapa? Karena dengan banyaknya pilihan yang ada, kita langsung mengalihkan pilhan kita ke acara atau serial lain. Begitu mudahnya, begitu cepatnya.

Setiap tahun ada banyak serial baru yang diproduksi dan ditayangkan. Lebih banyak serial baru yang masuk daripada serial lama yang berhenti. Kalaupun tidak berhenti, paling tertunda penayangan musim terbarunya. Dan ini membuat kita hidup di era di mana kita sudah tidak sanggup lagi untuk benar-benar bisa catch up mengikuti satu per satu episode serial yang ada. Waktu kita terbatas.

gq-bill-hader

Barry (source: GQ)

Kalau sudah begitu, maka jangan abaikan personal taste atau kesukaan diri sendiri. Tontonlah apa yang kalian rasa perlu untuk ditonton, dan yang juga penting, yang memang kita sukai. Bagi saya, kalau saya sudah terpikat dengan karakter dan dunia mereka dalam serial tersebut, maka susah buat saya untuk berpaling. Meskipun itu harus menunggu lama di antara musim penayangannya.

Demikian pula dengan serial-serial baru yang mungkin dipuji banyak kritikus luar negeri, tapi tidak terasa dekat dengan saya. Terutama setelah ditonton beberapa episode, saya belum bisa menikmatinya juga.

Maka dari itu, jujur saja, dari nominasi perhelatan 70th Primetime Emmy Awards tahun ini, saya belum bisa menikmati penuh “Atlanta” sebagai serial komedi. Demikian pula dengan “Westworld” season ke-2 yang membuat saya sibuk mengernyitkan kening di hampir semua episode, mencoba mencerna apa yang sedang saya tonton. Meskipun masih powerful, tak urung ada beberapa momen di “The Handmaid’s Tale” season ke-2 yang, mau tak mau, menimbulkan pertanyaan di benak saya.

culturewhisper-gianniamericancrime

The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story (source: Culture Whisper)

Sementara di sisi lain, saya langsung tertawa terbahak-bahak di episode pertama “Barry” dan “The Marvelous Mrs. Maisel”. Dan ternyata rasa senang itu berlanjut sampai di penghujung masing-masing serial tersebut. Meskipun tidak sebaik “The People vs OJ Simpson”, namun saya masih menikmati “American Crime Story” kali ini, yang terfokus pada cerita pembunuhan desainer Gianni Versace.

Pada akhirnya, pilihan saya di bawah ini adalah murni pilihan personal. Bukan analisa prediksi kuantitatif dan kualitatif, tapi pilihan saya yang memang menyukai apa yang saya tonton dan apa yang saya pilih.

Semoga pilihan kita berbeda, ya. Kalau sama, juga nggak masalah.

Ini dia:

• Best Comedy Series: The Marvelous Mrs. Maisel
• Best Lead Actor, Comedy Series: Bill Hader – Barry
• Best Lead Actress, Comedy Series: Tracee Ellis Ross – Black-ish
• Best Supporting Actor, Comedy Series: Brian Tyree Henry – Atlanta
• Best Supporting Actress, Comedy Series: Betty Gilpin – GLOW

• Best Drama Series: The Americans
• Best Lead Actor, Drama Series: Matthew Rhys – The Americans
• Best Lead Actress, Drama Series: Keri Russell – The Americans
• Best Supporting Actor, Drama Series: David Harbour – Stranger Things
• Best Supporting Actress, Drama Series: Vanessa Kirby – The Crown

• Best Limited Series: The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Lead Actor, Limited Series or TV Movie: Darren Criss – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Lead Actress, Limited Series or TV Movie: Laura Dern – The Tale
• Best Supporting Actor, Limited Series or TV Movie: Edgar Ramirez – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Supporting Actress, Limited Series or TV Movie: Judith Light – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story

Berbeda dari biasanya, Emmy Awards tahun ini akan diadakan hari Senin malam waktu Amerika Serikat, atau Selasa pagi waktu Indonesia. Belum ada informasi di mana akan ditayangkan acara ini. Toh kita masih bisa selalu memantau perkembangannya lewat Twitter.

telegraphUK_crown2

The Crown (source: The Telegraph UK)

Selamat menonton!

😉

Advertisements

Oscar Yang Ketebak

Terima kasih, kang Agun, yang sudah memulai prediksi Oscar tahun ini, sehingga saya tinggal melanjutkan saja dengan sisa kategori yang lain. Eh, apakah itu berarti prediksi saya di kategori-kategori ‘utama’ sama seperti Agun? Belum tentu …

Yang jelas, saya merasakan sentimen banyak orang terhadap perhelatan Academy Awards tahun ini yang terasa meredup selama awards season kali ini. Salah satu faktornya adalah begitu banyak kasus dan pergerakan yang muncul dari kasus-kasus tersebut di Hollywood selama 6 bulan terakhir. Tumbangnya Harvey Weinstein yang menyeret banyak pesohor lain membangkitkan aksi #TimeIsUp dan #MeToo, yang menyeret ke beberapa perhelatan penghargaan film di Amerika Serikat beberapa bulan terakhir.

Di Golden Globes, para selebritis membawa aktivis perempuan sebagai plus one mereka di acara tersebut. Di SAG Awards, seluruh presenter pembaca penghargaan adalah selebritis perempuan. Di Critics’ Choice Awards, nominator-nominator yang terseret kasus pelecehan seksual tidak diberi tepuk tangan. Di BAFTA, sutradara Martin McDonagh saat mendapat penghargaan untuk film Three Billboards Outside Ebbing, Missouri, harus mengaitkan isi film dengan isu kebangkitan peranan perempuan di bisnis dan produksi film yang sedang marak dibicarakan.

Tentu saja kebangkitan pergerakan ini muncul sejalan dengan apa yang tidak pernah dilewatkan saat setiap musim penghargaan film: black campaign. Apalah artinya Academy Awards tanpa kampanye negatif yang bersifat saling menjatuhkan.

Korbannya sudah ada satu, yaitu James Franco yang bermain cemerlang di The Disaster Artist, namun tahun ini harus menonton siaran langsung Oscar di rumah saja. (Saya juga, mas.)
Sementara The Shape of Water mendadak dituduh sebagai karya plagiarisme tepat di pekan saat anggota AMPAS (Academy of Motion Picture Arts and Science) memberikan suaranya di setiap nominasi Oscar. Belum lagi Three Billboards yang dituduh rasis, Call Me By Your Name yang dituduh mengagungkan pedofilia, sampai Darkest Hour yang dianggap membosankan. Oh kalau ini bukan tuduhan, tapi kenyataan.

Mendapatkan nominasi Oscar bukan perkara mudah. Apalagi sampai menang. Banyak jalan berliku yang harus dilalui. Beberapa pelaku film mengibaratkan berkampanye untuk Oscar seperti mencalonkan diri menjadi presiden. Atau mengikuti lomba lari marathon. Perlu kesiapan fisik dan mental, dengan menjalani kampanye beberapa bulan, membicarakan hal yang sama berulang-ulang, dan mengeluarkan reaksi yang politically correct setiap ada isu negatif seputar film yang dikampanyekan. It has nothing to do with artistic achievement. It is always about a popularity contest.

Oleh karena itu, sebagai sebuah kontes populer, maka tidak ada yang lebih menyenangkan buat kita, penonton yang jauh di belahan dunia lain, untuk menebak-nebak siapa yang akan membawa Oscar. Belum menonton semua filmnya? Jangan khawatir. Internet kaya dengan informasi tebak-tebakan serupa, atau berita soal film mana yang mendapat penghargaan dari asosiasi pekerja sesuai dengan kategori masing-masing.

Kecuali kategori-kategori paling sulit, yaitu ketiga kategori ini:

Best Live Action Short – The Silent Child

Best Animated Short Film – Revolting Rhymes

Best Documentary Short Subject – Heaven is a Traffic Jam on the 405

The Silent Child (source: Indiewire)

Lalu dua kategori lain yang seleksinya luar biasa unpredictable, dan bikin gemes karena beberapa film favorit tidak jadi dinominasikan:

Best Foreign Language Film – A Fantastic Woman (Chile)

Best Documentary Feature – Faces Places

Revolting Rhymes (source: Daily Maverick)

Nah sekarang mari kita masuk ke dua kategori yang setiap tahun saya lupa pembedanya apa. Saking tipisnya perbedaan kedua kategori ini, saya ibaratkan seperti ketupat dan lontong:

Best Sound Editing – Dunkirk

Best Sound Mixing – Baby Driver

Heaven is a Traffic Jam on the 405 (source: Full Frame Fest)

Dan sekarang mari kita teruskan ke kategori teknis lainnya:

Best Visual Effects – War for the Planet of the Apes

Best Film Editing – I, Tonya

Best Costume Design – Phantom Thread

Best Makeup and Hairstyling – Darkest Hour

Best Production Design – Blade Runner 2049

A Fantastic Woman (source: BAM)

Best Cinematography – Blade Runner 2049 by Roger Deakins (after 14 nominations and zero win, IT’S ABOUT TIME!)

Best Original Score – Phantom Thread by Jonny Greenwood

Best Original Song – “Remember Me” from Coco

Best Animated Feature – Coco

Faces Places (source: THR)

Oke, sekarang masuk 8 kategori utama. Kategori-kategori yang membuat saya menaruh judul di atas untuk tulisan hari ini:

Best Adapted Screenplay – Call Me By Your Name by James Ivory

Best Original Screenplay – Get Out by Jordan Peele

Best Supporting Actress – Allison Janney in I, Tonya

Best Supporting Actor – Sam Rockwell in Three Billboards Outside Ebbing, Missouri

Best Actress – Frances McDormand in Three Billboards Outside Ebbing, Missouri

Best Actor – Gary Oldman in Darkest Hour

Best Director – Guillermo del Toro in The Shape of Water

Best Picture – La La Land, I mean, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri

Oh sama ya kayak punya Agun kemarin?

Ya namanya juga tebak-tebakan yang ketebak.

Selamat menonton!

Tebak-tebak Buah Manggis si Emmy Vol. 2

Selayaknya sekuel, maka tulisan ini adalah sekuel dari tulisan berjudul sama tahun lalu. Dan kalau memang Linimasa masih berjalan di masa depan, dengan saya masih menjadi salah satu penulisnya, maka bisa diharapkan tulisan ini masih akan ada, sampai perhelatan yang menjadi subyek tulisannya sudah tiada.

Bahkan tidak ada yang protes kalau acara penghargaan atau awards yang bergulir tiap tahun itu adalah sekuel on its own. Come to think of it, semua tradisi adalah sekuel. Ya ‘kan?

Malah kalau Emmy Awards ini, tidak seperti jenis penghargaan yang lain, punya kecenderungan untuk mengisi daftar nominasinya dengan “yang itu-itu saja”. Terutama untuk kategori serial televisi. Alasannya, kalau memang sebuah serial dengan mutu yang baik bisa mempertahankan kualitasnya setiap tahun, kenapa tidak dinominasikan lagi dan lagi? Makanya, serial “The Sopranos” dan “Mad Men” selalu dinominasikan setiap tahun mereka tayang di televisi. Yang sekarang, ada “Modern Family”, lalu juga “Veep”.

Memang contoh yang disebutkan itu adalah contoh-contoh serial televisi dengan kualitas penulisan cerita yang baik. Sangat baik, malah.
Namun ada juga tuduhan bahwa voters cenderung memilih nama atau program televisi yang sudah familiar di benak mereka. Atau yang pernah mereka dengar. Atau yang sudah pernah dinominasikan sebelumnya.

Tidak mudah memang menjangkau perhatian 22 ribu (!!!) anggota Academy of Television and Arts Sciences (ATAS) yang bertugas untuk menentukan nominasi dan pemenang Emmy Awards ini. Apalagi menurut catatan ATAS di rilis resmi mereka, tahun ini jumlah tayangan program yang didaftarkan untuk Emmy Awards naik 15% dari tahun sebelumnya. Daftar lengkap nominasi Primetime Emmy Awards tahun ini bisa dilihat di sini.

Ini menjadi tugas stasiun televisi, atau digital platform atau media apapun yang menayangkan program televisi untuk menggeber kampanye, promosi dan publisitas terhadap program unggulan mereka. Tidak cukup mengandalkan jumlah penonton selama satu musim program itu ditayangkan, atau ulasan dari kritikus. Selama masa kampanye, yang bisa dimulai 3-4 bulan sebelum nominasi diumumkan, maka publisis berlomba-lomba untuk menciptakan events atau gimmick yang bisa menarik perhatian para pemilih.

Yang sempat menarik perhatian saya adalah kampanye serial “The Handmaid’s Tale”, yang melibatkan sejumlah perempuan berjalan dengan kostum dari serial tersebut.

Women parading in The Handmaid’s Tale dress. (source: The Hollywood Reporter)

Atau Netflix, yang all-out dengan membuat lounge khusus yang disesuaikan dengan tema program televisi yang mereka unggulkan.

Netflix displaying Stranger Things installation for Emmy campaign. (source: The New York Times)

Tentu saja, iklan “For Your Consideration” yang bertebaran di billboard, media cetak, media online pun masih dilakukan.

Billboard campaign for Unbreakable Kimmy Schmidt (source: dailybillboardblog.com)

Semua ini dilakukan agar bisa meraih Emmy Awards, yang prosesnya diceritakan dengan ringkas di infografis yang bisa dilihat di sini.

Dan akhirnya, kita sebagai penonton televisi, yang sudah meluangkan waktu untuk menonton acara-acara ini, yang berarti mengundang masuk karakter-karakter asing ke ruang tamu kita selama bertahun-tahun untuk melihat cerita mereka, yang akan memutuskan mana program televisi yang “terbaik” versi kita sendiri.

Kalau versi saya yang paling personal?
Ini dia!

• Best Comedy Series: Master of None
• Best Lead Actor, Comedy Series: Donald Glover – Atlanta
• Best Lead Actress, Comedy Series: Julia Louis-Dreyfus – Veep
• Best Supporting Actor, Comedy Series: Alec Baldwin – Saturday Night Live
• Best Supporting Actress, Comedy Series: Kate McKinnon – Saturday Night Live

Alec Baldwin as Trump and Kate McKinnon as Clinton in Saturday Night Live (source: towleroad.com)

• Best Drama Series: (jagoan saya ada tiga, tapi berat harus milih salah satu, jadi …) Stranger Things
• Best Lead Actor, Drama Series: Sterling K. Brown – This is Us
• Best Lead Actress, Drama Series: Elisabeth Moss – The Handmaid’s Tale
• Best Supporting Actor, Drama Series: John Lithgow – The Crown
• Best Supporting Actress, Drama Series: Thandie Newton – Westworld

Thandie Newton in Westworld (source: Vox.com)

• Best Limited Series: The Night Of
• Best TV Movie: Black Mirror – San Junipero
• Best Lead Actor, Limited Series or TV Movie: Riz Ahmed – The Night Of
• Best Lead Actress, Limited Series or TV Movie: Nicole Kidman – Big Little Lies
• Best Supporting Actor, Limited Series or TV Movie: David Thewlis – Fargo
• Best Supporting Actress, Limited Series or TV Movie: Michelle Pfeiffer – The Wizard of Lies

Nicole Kidman in Big Little Lies (source: rolereboot.org)

Rencananya sih, Emmy Awards ini akan ditayangkan langsung di stasiun televisi kabel StarWorld pada hari Senin 18 September mulai jam 8 pagi.
Toh kalau tidak bisa menonton, bisa memantau informasi paling up-to-date lewat Twitter.

Dan ingat, jangan terlalu banyak menonton televisi ya! Jangan lupa olahraga.

😉

Tebak-Tebak Oscar Si Buah Manggis, Eh Halo Manis …

So what’s the first Oscar in, ugh, President Trump’s time gonna be? Escapism wins!

Sebagian besar film yang dinominasikan adalah film-film yang mengajak kita lari dari dunia nyata sekarang. Seakan-akan semuanya ingin membawa kita pergi dari carut-marut suasana yang terjadi sejak dunia dipimpin orang yang tidak kompeten.

Lihat saja dari jajaran nominasi film terbaik: film musikal, film tentang usaha menerima jati diri lewat tampilan gambar yang cantik, tiga film dengan setting masa lalu (Perang Dunia II, Amerika di tahun 50-an, Amerika di tahun 60-an), komunikasi dengan alien, film tentang anak yang terpisah dari keluarga.
Dua film lain juga berkisah tentang glorifying the past: pencurian bank, dan pria yang terjebak di kehidupan masa lalu. Semuanya bernada escapism, baik itu yang ceria maupun yang suram.

So what does this tell us?

Sejarah mencatat bahwa pada jaman The Great Depression di akhir tahun 1920-an sampai awal tahun 1930-an, film-film musikal buatan dan keluaran MGM berjaya di pasaran. Tapi itu dulu, saat belum ada televisi atau media hiburan moving visual lainnya.

Sekarang? Bisa jadi sejarah terulang. Kabarnya genre musikal mulai merebak lagi, dengan rencana produksi beberapa film dalam 2-3 tahun ke depan. Sementara itu, film-film yang diangkat dari komik DC dan Marvel masih akan terus ada sampai 12 tahun ke depan.

Jackie (from theplaylist.net)

Jackie (from theplaylist.net)

Yang jelas, mau tidak mau, konten cerita akan semakin dikaitkan atau terkait dengan kondisi sosial politik dunia. Sepertinya tidak akan bisa terelakkan.

Paling tidak, dalam ajang Academy Awards dan penghargaan-penghargaan lain, acceptance speech dari peraih penghargaan akan bermuatan politis. Kalau bisa berisi protes.
Ini sudah terlihat dari Golden Globes, lalu Grammy Awards, dan ajang-ajang serupa berikutnya. Semoga para “seniman” ini tidak bosan untuk terus beropini.

Berbicara tentang opini, tentu saja prediksi ini adalah opini pribadi saya. Bagi kami yang terlalu suka mengamati film, terutama musim penghargaan film atau awards season yang selalu dimulai dari awal November sampai akhir Februari setiap tahunnya, tahun ini sepertinya less challenging. Kenapa? Karena banyak calon pemenang sepertinya sudah given, sudah written on the paper.

Tapi kata kuncinya tetap “sepertinya”.
Kami bukan members of Academy yang punya kekuasaan untuk vote the recipients.
Meskipun ikut miris juga dengan pergerakan militan dari fans salah satu film nominasi Best Picture yang ngotot calonnya menang (oh yes, awards campaign is as nasty as any political elections!), kita cuma bisa nyengir aja.

In the end, we can only hope the good ones win.

Dan inilah harapan saya:

Best PictureLa La Land

Best Director – Damien Chazelle (La La Land)

Best Lead Actor – Casey Affleck (Manchester by the Sea)

Best Lead Actress – Emma Stone (La La Land)

Best Supporting Actor – yang mengejutkan buat saya, seluruh nominator di kategori ini tidak ada yang benar-benar “nyantol” penampilannya di hati. Seperti ada yang kurang sedikit. Kalau ada sedikit yang cemerlang di atas rata-rata, justru Jeff Bridges dalam Hell or High Water. Tapi karena beliau sudah pernah mendapat Oscar, dan di musim kali ini tidak terlalu put that much effort to campaign, maka pilihan saya kembali ke yang paling obvious to win dari segi yang paling ‘ngotot’ kampanyenya: Mahershala Ali (Moonlight)

Best Supporting Actress – meskipun sebenarnya dia adalah pemeran utama, tapi baiklah, dia salah satu aktris terbaik masa kini. Viola Davis (Fences)

Best Adapted Screenplay – kategori paling berat buat saya, karena semua, SEMUA, unggulan naskahnya bekerja dengan sangat baik di masing-masing film. But in the end, only one can win. Barry Jenkins (Moonlight)

Best Original Screenplay – Kenneth Lonergan (Manchester by the Sea)

Best Editing – Joe Walker (Arrival)

Arrival (from orangemagazine.ph)

Arrival (from orangemagazine.ph)

Best Cinematography – Greig Fraser (Lion)

Best Costume Design – Madeline Fontaine (Jackie)

Best Production DesignLa La Land

Best Make Up and Hair StylingStar Trek Beyond

Best Visual EffectsThe Jungle Book

Best Original Score – Justin Hurwitz (La La Land)

Best Original Song – “City of Stars” (La La Land)

Best Sound EditingHacksaw Ridge

Best Sound MixingLa La Land

Best Foreign Language Film – kalau memang film yang saya jagokan ini menang, saya akan sangat bahagia. Bukan karena alasan politis. Tapi saat menonton, saya sampai ketakutan, karena tidak menyangka cerita filmnya akan sedemikian powerful, dengan gaya penceritaan bak film thriller. Film-film sebelumnya termasuk film terbaik yang pernah dibuat di abad ini. Saya pikir dia tidak mungkin mengulangi kesuksesannya. Namun dia membuktikan bahwa dia adalah salah satu master storytellers jenius yang pernah ada. Dia adalah Asghar Farhadi, dan filmnya adalah The Salesman (Iran).

The Salesman (from awardscircuit.com)

The Salesman (from awardscircuit.com)

Best Documentary Feature13th

Best Animated FeatureZootopia

Nah, kalau mau ikut taruhan Oscar, sebenarnya kuncinya ada di tiga kategori film pendek. Kenapa? Karena paling susah ditebak, soalnya jarang yang nonton! Jadi pertaruhan terbesar kita ada di tiga kategori berikut:

Best Live Action ShortThe Lady on the Train (La femme et le TGV)

Best Animated ShortPiper

Best Documentary Short – nah, kebetulan saya sudah menonton nominasi di kategori ini. Jadi, semoga Academy voters setuju juga dengan pilihan saya atas film yang paling susah dibuatnya, dari segi logistik dan keamanan, sekaligus yang paling punya the most magical moment of humankind yang terekam dengan baik di film: The White Helmets.

Selamat menebak, tapi yang paling penting, selamat menonton!

A good film a day keeps your heart intact.

[Revisi hari Minggu, 26 Februari 2017 – perubahan prediksi Best Original Screenplay dan Best Live Action Short]

Trust Your Gut

Salah satu dari sekian banyak tricky things in the world adalah pertanyaan ini:
“Kalau kamu tahu bahwa pasangan temanmu selingkuh, apakah kamu akan cerita atau memberi tahu temanmu?”

Buat mereka yang menjawab “ya”, kebanyakan beralasan bahwa mereka ingin melindungi teman mereka dari tragedi yang berkepanjangan.
Buat mereka yang menjawab “tidak”, kebanyakan beralasan bahwa mereka tidak ingin mengganggu kehidupan pribadi atau privasi teman mereka.
Tentu saja ini analisa asal-asalan, karena buat saya, tidak ada satu jawaban yang pas untuk semua keadaan.

Satu-satunya jawaban yang pas adalah to trust your gut. Percaya pada intuisi diri sendiri.
Bagaimana membangun intuisi? Hanya masing-masing diri kita yang mampu menjawabnya. Dalam konteks pertanyaan di atas, berarti intuisi terbangun dari kedekatan kita dengan teman.
Kalau kita dekat, malah sangat dekat dengan teman kita, maka kita tahu apa yang teman kita rasakan tanpa mengeluarkan banyak kata. Saya pernah membaca, biasanya pertemanan yang berlangsung dekat selama lebih dari 7 tahun berpeluang besar menjadi teman seumur hidup, karena jarak waktu selama itu sudah lebih dari cukup untuk membangun keintiman antar teman. Begitu katanya.
Dalam konteks di atas, tentu saja kalau sudah sangat dekat, kita bisa tanpa tedeng aling-aling bercerita.
Namun kalau tidak dekat, atau sudah tidak dekat lagi, maka kita pun biasanya sudah segan untuk bertanya langsung. Lebih merasa “aman” untuk bergunjing di belakang. Kita mendiamkan rasa penasaran, sampai rasa itu hilang menguap begitu saja, tergantikan oleh permasalahan lain.
Toh memang acap kali intuisi kita mengatakan untuk diam. Paling tidak, sampai kita mengetahui cukup informasi sebelum mengambil keputusan.

(Courtesy of viralnovelty.net)

(Courtesy of viralnovelty.net)

Beberapa minggu lalu, saya mendengar kabar kalau seorang teman harus putus dari pasangan hidupnya selama beberapa tahun terakhir. Saya kaget. Sangat kaget malah. Maklum, selain mengenal pasangan ini cukup lama, sebagai pengamat luar, saya menilai bahwa they were meant for each other the minute I saw them together. Tapi tentu saja, sebagai orang yang tidak tinggal sehari-hari dengan mereka, apa yang saya lihat ya cuma terbatas apa yang saya lihat dari luar.

Lalu cerita-cerita tentang mereka bermunculan. Mau tidak mau, saya mendengar cerita itu, karena tanpa diminta, banyak yang mulai menceritakan. Saya bingung. Sempat saya gamang mau ikut #TeamYangMana, karena jaman sekarang rasanya belum kekinian kalau belum memihak, dan posting di media sosial #TimA atau #TimB.
Lalu saya berpikir, mungkin sampai mendengar cerita dari masing-masing pihak. It always takes two to tango, ya tho? Dan selalu ada dua sisi dari setiap cerita.

Tapi bagaimana kalau kita tidak punya waktu untuk mendengar semua cerita? Bagaimana kalau tidak sempat? Dan buat saya, bagaimana kalau tidak mungkin untuk bisa mendengar dua sisi cerita?
Mau tidak mau, you’ve gotta trust your gut. Percaya dengan intuisi.
Mana yang lebih dekat dengan kita, A atau B. Mana yang lebih Anda percaya, A atau B. Mana yang lebih masuk akal menurut kita, A atau B.
Hidup itu penuh dengan pilihan, termasuk memilih untuk percaya atau tidak.
Dan seperti yang pernah saya tulis, akhirnya kita tidak bisa netral dalam hubungan dengan sesama manusia. Itu wajar. Subyektivitas tidak bisa dihindari dalam pertemanan.

Jadi, dalam menanggapi kabar itu, siapakah yang saya “pilih” untuk berpihak?
Biarkan itu jadi rahasia pribadi.
Yang jelas, setelah mendengar berita itu, saya langsung membatin untuk trusting my own gut.

(Courtesy of medicaldaily.com)

(Courtesy of medicaldaily.com)

Our guts can be right or wrong. Who knows?
Tapi percayalah, bahwa ketika kita dilanda dilema dalam bersikap, do what your gut tells you.

Trust your gut.