Sepuluh Tayangan Televisi Yang Membuat Betah di Rumah di Tahun 2018 – #rekomendasistreaming

Sejak kembali beraktivitas mengkurasi dan memprogram festival film, terus terang waktu saya untuk menonton serial televisi makin terkikis tahun ini. Ada beberapa serial yang sampai sekarang masih belum sempat saya tonton karena tidak ada waktu luang (“Maniac”, “The Kominsky Method”), ada beberapa serial yang sudah saya lepaskan dari jadwal rutin menontonnya, dan ada juga beberapa serial yang sudah saya sempatkan cari waktu luangnya, namun malah berujung kekecewaan (“House of Cards” season 6).

Untungnya, sebagian besar tayangan televisi yang saya tonton tahun ini, for the lack of better word, sangat memuaskan. Lagi-lagi televisi dan internet masih lebih berani dan beragam dari film layar lebar untuk urusan cerita dan kekuatan karakter. Lihat saja, sebagian besar karakter perempuan yang kompleks dan kuat ada di televisi. Meskipun saya kecewa dengan “House of Cards” terakhir, mau tidak mau saya akui bahwa Claire Underwood adalah salah satu karakter perempuan paling tajam yang pernah ada di era televisi modern. Mungkin malah sepanjang masa.

Tidak ada cerita yang “itu-itu lagi” maupun orang yang “itu-itu lagi” di tayangan televisi. Apalagi kehadiran televisi sekarang sangat beragam, ditambah dengan video streaming applications yang menawarkan konten yang beraneka rupa. Saking banyaknya serial televisi, tidak mungkin kita bisa menghabiskan seluruh waktu kita untuk menonton semua serial yang ada. Konon katanya perlu 7 kehidupan manusia in their entire lifetimes untuk menghabiskan tontonan yang ada di Netflix sekarang.

Jangan khawatir. Tidak perlu menghabiskan seumur hidup sampai akhir hayat untuk menonton serial-serial pilihan saya tahun 2018 ini. Cukup beberapa hari sepanjang liburan akhir tahun, dan selesai! Ini dia:

[sepuluh] The Americans – Season 6

theamericans-season6

The Americans

Puas! Itu kesan pertama saya saat melihat episode terakhir di season terakhir serial tentang keluarga yang berprofesi sebagai mata-mata Rusia di Amerika Serikat di era 1980-an ini. That long confrontation scene in the garage! The wordless shock of the stare on the train! The final scene! Susah rasanya buat saya sekarang membayangkan Matthew Rhys dan Keri Russell sebagai karakter lain selain Philip dan Elizabeth Jennings yang mereka mainkan dengan gemilang selama 7 tahun. Kedua karakter inilah yang memang membuat Rhys dan Russell dikenal sebagai aktor handal. Perhatikan saja di setiap adegan yang tidak memerlukan banyak dialog di sepanjang serial ini. Their eyes speak volumes. And they really do elevate and grow with the series. Saya akan merindukan serial ini.

[sembilan] Wild Wild Country

Wild Wild Country Netflix documentary in six parts 2018

Wild Wild Country

Miniseri dokumenter ini memang dibuat untuk mengagetkan kita. Cukup dengan menyajikan cold hard fact and findings, ditambah dengan testimoni di wawancara para pelaku kejadian yang masih menyiratkan rasa tidak bersalah mereka, maka kita cuma bisa menggelengkan kepala sepanjang menonton miniseri ini. Susah dipercaya bahwa negara sebesar Amerika Serikat di tahun 1980-an pernah nyaris jatuh ke tangan segelintir orang yang memanipulasi agama, but hey, isn’t it still happening right now in c-e-r-t-a-i-n parts of the world? Sebuah tontonan yang membuka dan membelalakkan mata kita.

[delapan] Killing Eve – Season 1

killing-eve-poster

Tiga kata berawalan huruf S patut disematkan untuk serial ini: smart, sassy, sexy. Tidak pernah saya duga sebelumnya kalau Sandra Oh bisa tampil meyakinkan sebagai detektif cekatan, dan dengan matching rival di tangan Jodi Comer sebagai Eve, maka cat-and-mouse-game plot di serial ini menjadikannya sebuah tontonan yang cerdas, sekaligus adiktif.

[tujuh] BoJack Horseman – Season 5

bojack_horseman_ver4_xlg

BoJack Horseman

Pernah punya teman atau kenalan yang nyinyirnya luar biasa, namun semakin tua, malah jadi semakin dewasa? Belum tentu bijak ya, tapi jadi lebih mature? Demikianlah yang bisa saya deskripsikan dari favourite has-been celebrity saya yang bernama BoJack Horseman ini. Cerita komedi satir serial animasi tentang kultur selebritas yang kejam ini masih penuh sarkasme dan dialog yang menohok. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa karakter BoJack pelan-pelan sadar akan usianya yang semakin menua, dan dalam beberapa episode mulai terkesan wistful dalam menyelesaikan masalah yang dia hadapi. Hal yang malah membuat serial ini semakin mengesankan saat ditonton.

[enam] The Marvelous Mrs. Maisel – Season 2

marvelous-mrs-maisel-poster-season2-408x600

The Marvelous Mrs. Maisel

Season pertama serial ini hadir bagaikan pelangi setelah hujan panjang. It’s magical. Lalu bagaimana dengan season kedua yang baru saja hadir di awal bulan Desember? Ternyata masih penuh dengan kejutan dan, ini yang penting, masih sangat lucu. Terima saja episode season finale yang terasa terburu-buru dan terlalu menumpuk cliffhangers untuk keterlanjutan serial ini. Toh itu tidak bisa menutupi kecemerlangan beberapa episode awal, seperti adegan stand-up comedy dalam bahasa Perancis dan Inggris secara simultan yang brilian, dan setiap penampilan Mrs. Maisel di atas panggung yang kali ini terasa jauh lebih matang. This is a gem worth watching.

[lima] Bodyguard

bodyguard-poster

Bodyguard

Now this, this is sexy. Sempat saya kira serial ini adalah adaptasi dari film berjudul sama yang pernah dibintangi Kevin Costner dan Whitney Houston tahun 1992 dulu, namun kemiripan hanya terletak pada judul. Serial dari Inggris ini memang sedikit mengingatkan dengan cerita spionase di film-film 1990-an, lengkap dengan bumbu intrik, skandal, dan sejenisnya. Dibalut dengan latar cerita soal terorisme, serial ini sebenarnya mengungkap banyak hal tentang PTSD (post traumatic stress disorder). Namun kalau kita lebih tertarik mengikuti serial ini karena keseksiannya, ya sudah, nikmati saja.

[empat] The Looming Tower

theloomingtower

The Looming Tower

Now this, this is serious. Awalnya saya sempat “takut” mengikuti serial yang terlihat serius dari trailer dan posternya. Setelah menonton episode pertama, saya sadar bahwa serial ini memang serius. Namun saya tertarik untuk terus mengikuti, karena perlahan-lahan serial ini membawa kita memahami aneka peristiwa yang terjadi sebelum 9/11, yang mempengaruhi proses dan hasil investigasi terkait kejadian naas tersebut. Serial ini sengaja tidak memberikan konklusi yang sahih, karena masih terlalu banyak lapisan soal 9/11 yang belum tuntas di kehidupan nyata.

[tiga] Barry – Season 1

Barry season 1 poster HBO key art

Barry

Serial ini sukses membuat saya tertawa terbahak-bahak dari episode pertama. What can I say, Bill Hader memang jenius. Ide cerita untuk menempatkan seorang pembunuh bayaran mengikuti kelas akting, menurut saya adalah ide gila yang kalau eksekusinya tidak meyakinkan akan gagal total. Namun serahkan saja pada Hader untuk membuat awkward comedy menjadi sebuah tontonan komedi kelas tinggi yang sangat, sangat menghibur. You won’t regret watching every single episode.

[dua] The Good Place – Season 2

thegoodplace

Terus terang saya telat menonton serial ini. Setelah berulang kali diyakinkan teman saya untuk menonton serial ini, akhirnya baru di pertengahan tahun mulai menonton musim penayangan pertamanya. Beberapa episode awal membuat saya merasa aneh, karena humornya tidak biasa. Lama kelamaan akhirnya saya mulai suka, karena sudah terbiasa dengan karakternya. (Kok seperti proses PDKT waktu mau pacaran ya?) Tapi di season kedualah yang membuat saya takjub dengan serial ini. Muatan teori filsafat, etika dan humaniora dengan mulus diselipkan dalam dialog dan alur cerita, tanpa mengesampingkan pentingnya sebuah serial komedi menjadi lucu. It’s one smart show, if not the smartest comedy show of the year.

[satu] QUEER EYE – Season 1 & 2

queereye

How many shows can make us laugh, cry and feel good at the same time? Rasanya tidak banyak. Dari yang tidak banyak itu, hanya satu yang paling spesial dan sangat membekas di hati saya, yaitu serial “Queer Eye”. Belasan tahun yang lalu, saya mengikuti serial asli “Queer Eye for the Straight Guy” yang menjadi basis serial reality show yang sekarang menjadi program andalan Netflix ini. Alih-alih sekedar mengulang serial aslinya, serial baru justru lebih dari sekedar make-over show. Kelima pria yang menjadi tulang punggung acara ini jelas-jelas membuat dunia lebih baik lewat misi mereka untuk mengubah hidup satu orang.
Menonton “Queer Eye” tidak hanya membuat kita kagum dengan perubahan yang dialami setiap satu orang di satu episode. Namun perubahan yang kita lihat mau tidak mau membuat kita mengakui bahwa setiap orang berhak untuk hidup lebih baik. Dan kesadaran ini, harus diakui, eventually makes us a better person.
And we become a better person, indeed, after watching the show, and accepting the show.
Pantaslah kalau serial ini menjadi pilihan saya sebagai serial favorit saya tahun ini.

Apa tontonan favorit Anda tahun ini?

Advertisements

#RekomendasiStreaming – Kisah Klasik Untuk Sekarang dan Masa Depan

I love classic films.

Dari kecil, saya punya kebiasaan menonton film Indonesia tahun 1970-an. Kebiasaan ini terjadi karena ibu saya. Beliau suka meminjam kaset video Betamax film-film Indonesia di era kejayaan Paula Rumokoy, Ruth Pelupessy, Dicky Zulkarnaen, dll., dari tempat persewaan video. Memang ada film-film lain, seperti film-film silat Bridgitte Lin Ching Sia, film-film James Bond era Roger Moore (yang ini pilihan ayah), dan film-film Indonesia pilihan ibu.

Ternyata kebiasaan ini terus terbawa sampai menonton film menjadi hobi yang tak bisa ditinggalkan. Kalau ada film lama yang tayang di televisi, yang saya perhatikan dari tampilan gambarnya yang “berbeda” dari kebanyakan film atau program televisi saat itu, maka saya buru-buru duduk di depan layar cembung televisi di rumah. Pertama kali menonton Breakfast at Tiffany’s di RCTI hari Kamis siang. Pertama kali menonton Djendral Kantjil, film tahun 1958 yang dibintangi Achmad Albar waktu kecil, di SCTV hari Rabu siang sepulang sekolah.

Ada yang menarik dari film klasik.

Meskipun namanya film adalah karya cerita visual buatan, bukan merepresentasikan kehidupan asli, tapi saya suka membayangkan sendiri keadaan masa lalu. Saya tidak bisa melihat langsung seperti apa Jakarta atau New York di tahun 1950-an atau 1960-an, kecuali teknologi time travel sudah ada dan terjangkau untuk umum. Maka pilihannya cuma dari membaca buku, melihat dokumentasi foto, atau menonton film. Meskipun cuma secuil informasi yang bisa didapatkan tentang keadaan asli di masa lalu, namun buat saya itu lebih dari cukup. Selebihnya, biar imajinasi kita yang berbicara.

Sayangnya, memang tidak semua film klasik mudah diakses. Mulai dari kondisi film yang sudah tidak terawat setelah puluhan tahun, sampai ke permasalahan hak cipta. Bisa dibilang, persoalan hak cipta dan hak distribusi ini yang paling pelik. Perusahaan pemilik film bisa jadi sudah tiada. Atau kalau film tersebut sudah diserahkan hak distribusinya ke perusahaan lain, belum tentu juga perusahaan ini memberikan lisensi atas film tersebut untuk ditayangkan di seluruh dunia. Dan kalaupun diberikan, mungkin jangka waktunya hanya beberapa tahun, dan tidak diperpanjang.

Apakah dengan adanya online video streaming platform ini akan membantu? Jawabannya adalah “ya” untuk sementara waktu, dan “tidak” untuk di masa yang akan datang.

Kenapa? Karena pada akhirnya, semua platform ini dibuat untuk mengunggulkan konten asli yang mereka buat sendiri. Kemarin ada berita bahwa Netflix siap untuk mengeluarkan 8 milyar dolar untuk membuat original content dan menargetkan mulai tahun depan 50% isi program mereka adalah original content of Netflix productions. Sementara pesaing terdekatnya, Amazon, juga sudah mengambil ancang-ancang yang sama. Demikian pula dengan platform lain yang berdiri di kawasan Asia Tenggara, yaitu iflix dan HOOQ. Mereka sudah mulai membuat konten sendiri.

Kalaupun ada streaming platform yang mengkhususkan diri untuk film-film lama, seperti Mubi, Filmstruck, dan lain-lain, jumlahnya tidak banyak. Dan sampai tulisan ini dibuat, mereka belum tersedia di negara kita.

Artinya, program-program yang sekarang ada di jasa layanan mereka yang mereka akuisisi dari perusahaan-perusahaan lain, seperti film Hollywood, Bollywood, Korea, Indonesia, Spanyol, dan lain-lain, pada saatnya akan hilang dari semua platform ini. Maka, the only time to watch old movies is now.

Banyak film klasik ini malah sudah raib di kawasan utama streaming services ini, yaitu di Amerika Utara dan Eropa Barat, karena mereka tergeser oleh program-program baru yang terus berdatangan. Kita sedikit beruntung di sini. Berhubung kawasan Asia Tenggara masih merupakan kawasan baru untuk sebagian besar America-based streaming platforms ini, maka masih cukup ada beberapa film klasik yang bisa ditonton. Cukup ada, karena memang tidak banyak. Beberapa yang layak ditonton lagi, dan lagi:

Roman Holiday (tersedia di Netflix)

Debut film Audrey Hepburn di Hollywood sebagai pemeran utama, setelah beberapa kali bermain di film-film Inggris di peran-peran kecil, langsung membuat publik kala itu jatuh cinta. Dirilis tahun 1953, memenangkan Oscar sebagai pemeran utama wanita terbaik di tahun 1954, Audrey Hepburn sontak menjadi the princess of all. Sebuah gelar yang terus melekat di benak jutaan orang, meskipun beliau sudah meninggal lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Film ini sempat terangkat lagi saat kematian Putri Diana di tahun 1997, karena ada sedikit kemiripan cerita, meskipun film Roman Holiday tidak berakhir tragis. Tidak manis, tapi realistis.

Save the Tiger (tersedia di Amazon Video)

I have a very soft spot for this kind of movie: seluruh cerita film terjadi dalam satu hari. Namun dalam waktu 24 jam, kita melihat banyak sisi cerita yang terungkap dari karakter-karakter yang hidup. Di sini, Jack Lemmon berperan sebagai Harry Stoner, pengusaha yang berniat untuk menghancurkan usahanya sendiri, supaya mendapat uang asuransi untuk membiayai karyawan dan membayar hutang-hutangnya. Kefrustrasian Harry Stoner tergambar dengan baik sepanjang film, membuat kita tertegun dan merasa dekat dengan karakter ini. Jack Lemmon meraih Oscar untuk pemeran utama pria terbaik di tahun 1974, hampir setahun setelah film ini dirilis. Salah satu dari sedikit kejadian di mana Oscar is rightly justified.

Anand (tersedia di iflix)

Dari ratusan film yang sudah dibintangi Amitabh Bachchan sampai sekarang, mungkin film ini termasuk yang paling manis. Film tahun 1971 menempatkan Amitabh Bachchan di supporting role, sebagai dokter Bhaskar yang merawat pasien kanker bernama Anand (Rajesh Khanna), yang justru malah memilih menghabiskan sisa umur dengan living life to the fullest, kebalikan dari sang dokter. “Bromance” antara dokter dan pasien menjadi daya pikat kita mengikuti film ini. Tak heran kalau sampai sekarang, film ini masih menjadi film Hindi dengan rating tertinggi di IMDB.

Selamat menonton!

Menunda Emosi Sejenak

Seperti layaknya adegan sesi konseling pecandu hal-hal berbahaya yang sering kita lihat di film atau serial televisi, maka saya mau memulai sesi kita kali ini dengan pengakuan:

“Hi. My name is Nauval, and I’m a Netflix addict.”

Lalu Anda semua secara spontan akan menjawab dengan, “Hi, Nauval.
Tapi berhubung saya tidak bisa melihat reaksi Anda secara langsung, maka saya anggap saja Anda sudah melakukannya.

Sebenarnya sudah cukup lama saya berlangganan Netflix. Kira-kira hampir setahun. Saya memilih Netflix dibanding platform video streaming lain, karena kualitas film yang tersedia. Baik itu serial televisi, film pendek, film dokumenter, atau film cerita panjang. Baik itu produksi dan edaran Netflix sendiri, atau dari apa yang sudah dipilih Netflix untuk kita tonton.

Namun frekuensi menonton ini semakin tinggi saat beberapa bulan lalu Netflix menyediakan fitur untuk mengunduh film yang akan kita tonton. Whoa! Ini berarti, tidak perlu putar akal cari koneksi wifi kencang untuk sekedar menonton. Bisa offline viewing!

Tak ayal lagi, langsung saya mengunduh beberapa film dan serial yang sudah masuk dalam daftar film-film yang mau saya tonton. Seketika juga ponsel nyaris penuh. Maka mau tidak mau, saya harus menyelesaikan menonton film yang sudah diunduh. Selesai menonton, langsung delete filmnya. Space yang ada dipakai untuk mengunduh film atau episode serial berikutnya. Begitu terus berjalan.

(pic from marketingland.com)

(pic from marketingland.com)

Selama ini memang saya cenderung ‘mengagungkan’ pengalaman menonton yang saya anggap proper. Sebisa mungkin di bioskop. Kalau tidak, di layar televisi di rumah.

Nyatanya, sebagian besar waktu dihabiskan untuk beraktivitas di luar rumah. Alhasil, film dan serial hasil unduhan saya tonton waktu saya berlari di atas treadmill. Atau saat di atas pesawat, terutama kalau tidak ada in-flight entertainment. Atau waktu naik kereta. Atau di bangku belakang mobil Uber.

Awal-awalnya terasa aneh. Apalagi harus memegang gawai yang harus saya bawa, kalau tidak ada tempat untuk meletakkannya. Selain itu, mau tidak mau saya harus siap untuk menghentikan apa yang saya tonton saat pesawat mau landing, mobil Uber sudah sampai tujuan, atau sesi lari saya sudah berakhir.

Saya sempat ragu, apakah saya bisa menikmati tontonan film dengan cara seperti ini.
Lama-lama, akhirnya saya terbiasa.

Setelah berkutat dengan dokumenter pendek atau serial dengan durasi 30-40 menit per episode, minggu lalu saya menguji kemampuan diri dengan menonton arthouse film sambil berolahraga. Pilihan saya jatuh pada film Aquarius dari Brazil. Durasinya cukup panjang, 2 jam 20 menit. Filmnya tersampaikan dengan baik. Banyak adegan yang tidak memerlukan banyak dialog, namun kita masih bisa mengikutinya.

Sonia Braga in "Aquarius" (pic from latimes.com)

Sonia Braga in “Aquarius” (pic from latimes.com)

Saya menyelesaikan film ini dalam 3 kali lari. Saya memutuskan untuk tidak menyelesaikan, misalnya, saat pulang ke rumah di hari itu juga. Sambungan film tersebut saya tonton keesokan harinya saat saya lari lagi. Demikian pula seterusnya, sampai film itu selesai.

Ternyata, saya masih bisa sangat menikmati filmnya. Setiap jeda yang saya ambil waktu click tombol “pause”, saya ibaratkan seperti menarik nafas panjang waktu membaca buku. Kadang-kadang, membaca buku bisa menguras emosi kita. Atau mungkin kita sudah mengantuk, sehingga kita menaruh pembatas buku untuk menunda sejenak pengalaman kita masuk ke dalam dunia apapun yang ditulis oleh pengarang.

Demikian pula yang saya rasakan saat menonton dunia lain di layar gawai. Sensasi untuk menghentikan sejenak apa yang kita tonton, absorbing what we just saw, kembali ke dunia nyata dan beraktifitas, sambil berjanji untuk meneruskan tontonan esok hari, rasa yang tercuat sama seperti membalik halaman buku, dan menundanya sesaat.

Tentu saja saya masih ke bioskop. Pengalaman ke bioskop dan menonton di layar lebar masih tidak tergantikan. Toh pergi ke bioskop sendiri adalah sebuah kegiatan, an event, yang memang memerlukan persiapan khusus. Secara tidak langsung, mental kita pun sudah menyiapkan diri untuk mengalokasikan 2-3 jam terpaku di layar lebar.

(pic from businessinsider.com)

(pic from businessinsider.com)

Namun di kesempatan lain, kadang kita tak punya banyak waktu untuk menikmati satu tontonan secara langsung. In that case, mengutip lagu Marvin Gaye dan Diana Ross, just stop, look, listen to your heart.

A good story remains good, no matter how many times you pause to take a breath.

Selamat menonton!