Renaissance Man: Laki-laki dan Insecurity-nya

 

ADA masanya ketika gambaran laki-laki ideal adalah mereka yang macho, punya aura maskulin yang sangat kuat, dan merupakan para alpha males. Sepaket dengan penggambaran ideal ini, para laki-laki yang termasuk dalam golongan tersebut pun identik dengan pekerjaan-pekerjaan kasar, berani kotor-kotoran, gagah (belum tentu tampan), harus heteroseksual, dianggap lumrah jika misoginis, dan terkadang tidak ragu-ragu untuk mengekspresikan intensitas berahi mereka terhadap perempuan, serta punya kecenderungan untuk tidak terlalu acuh dengan penampilan fisiknya sendiri.

Ditarik ke awal era 90-an, istilah “Metrosexual”  muncul dan mulai gampang teridentifikasi. Tidak serta merta menggantikan atau melampaui para laki-laki macho, laki-laki “Metrosexual” merupakan produk dari perubahan perspektif; perubahan cara pandang para laki-laki terhadap diri mereka sendiri secara fisik.

Tanda-tandanya adalah relatif sensitif dengan padu padan pakaian dan segala hal terkait, mulai tidak tabu terhadap perawatan fisik–termasuk wajah dengan metode-metode yang selama ini hanya diakrabi para perempuan di salon, memerhatikan bentuk tubuh dengan menjaga makan dan melakukan olahraga, lebih berhati-hati terhadap ragam aktivitas yang dilakukan baik dalam konteks pekerjaan maupun rekreasi.

Apesnya, para laki-laki “Metrosexual” dan ragam perilakunya juga telanjur digeneralisasi dengan orientasi seksual. Ada anggapan yang mengatakan bahwa semua laki-laki “Metrosexual” pasti homoseksual. Karena ini, akhirnya banyak laki-laki yang enggan, bahkan menolak untuk digelari demikian. Sebutan Metrosexual pun mengalami perendahan makna, menjadi semacam olok-olok yang boleh dianggap setara dengan sebutan “bencong!” Padahal enggak nyambung.

Miskonsepsi dan generalisasi terhadap istilah “Metrosexual” terjadi sampai sekarang, bahkan setelah “Metrosexual” berevolusi menjadi “Spornosexual”, menjadi semacam Freudian upgrade.

“Spornosexual” dekat dengan perspektif Freudian, lantaran salah satu aspek utamanya adalah pemenuhan keinginan seksual. Keinginan, bukan kebutuhan. Ingin meniduri seseorang, bukan butuh meniduri seseorang. Itu sebabnya ada “porno” dalam “Spornosexual”.

Pendekatannya relatif mirip dengan kondisi “Metrosexual”, yaitu menonjolkan penampilan. Kali ini bukan dari setelan, pakaian, atau padu padan yang keren, juga dengan bentuk badan. Logika yang digunakan adalah: “Penampilan dan bodiku keren, orang lain pasti suka dan gemas untuk ‘merasakannya’…” atau “hey girl… I’m fcukin’ hot, let’s have sex with me…” Oleh sebab itu, kita akan sangat mudah menemukan para laki-laki “Spornosexual” yang memang memiliki tubuh atletis, dan berani memamerkannya di depan umum tanpa ragu.

Beruntung bagi para laki-laki dengan karakteristik bawaan atau genetik unggul, yang memudahkan mereka punya bodi bagus tanpa harus payah-payah berolahraga. Contohnya, barangkali, seperti orang-orang berdarah latin atau Hispanic, ataupun para blasteran yang memiliki paduan gen-gen bagus dari orangtuanya. Para perempuan pun bisa saling membatin gara-gara hal ini. Mereka membicarakan pasangan orang lain yang seksi.

Sebagai ilustrasi, Chris Hemsworth mestinya cocok lah ya. Foto: Smexy Books.

Sebagai ilustrasi Spornosexual, Chris Hemsworth mestinya cocok lah ya. Unleash your fantasies, gurls! :p Foto: Smexy Books.

Walaupun demikian, “Spornosexual” juga tak bisa lepas dari generalisasi. Pasalnya, di zaman yang serbaterbuka, dengan kian banyak orang yang terang-terangan promiscuous­ ini, sinyal-sinyal seksual bebas beterbangan.

Apabila ada seorang laki-laki keren menolak tawaran berhubungan seksual dengan perempuan yang bukan pasangannya, dia akan dicibir sok suci, atau pengecut dan takut dengan istri, atau tititnya kecil dan tidak jago melakukan hubungan seksual, atau malah diolok-olok sebagai seorang homoseksual.

Padahal tidak menutup kemungkinan ada laki-laki dengan bentuk badan sangat bagus, tampan, berpenampilan keren, serta luwes dalam bergaul dengan siapa saja, akan tetapi tetap memiliki kendali diri menyangkut seksualitasnya. Misalnya, dia memang sangat percaya diri memamerkan otot-otot tubuh ketika sedang berlibur di pantai, tapi hanya berkomitmen untuk setia dan hanya melakukan hubungan seksual dengan pasangannya.

Kini, sudah ada istilah keempat dalam perkembangan gambaran ideal kaum laki-laki modern; “Renaissance Man”. Bukan fenomena yang benar-benar baru, melainkan mencuat kembali.

Juga dikenal dengan sebutan “Polymath”, ialah kombinasi “Metrosexual”, “Hipster” (sesuai dengan budaya para millennials akhir-akhir ini), dan memiliki kualitas “Multiple Intelligences” dari teori pendidikan kontemporer. Syukur-syukur kalau macho juga. Sebab kualitas laki-laki tak hanya dinilai dari seberapa manly-nya dia; seberapa keren dan terawat penampilannya; seberapa bagus badannya, dan seberapa menarik secara seksual; namun juga dari seberapa banyak kemampuan karya atau keahlian yang dikuasainya.

Elon Musk, salah satu

Elon Musk, salah satu “Polymath” masa kini? Foto: DSSK

Mengenai kemampuan karya ini, tak harus berhubungan dengan pekerjaan, mata pencarian, maupun profesi. Bisa berupa kemahiran dalam seni atau bahasa, bidang-bidang terapan yang sedang menjadi tren saat ini, jago saat ber-multitasking membagi fokus antara pekerjaan formal dan kemampuan-kemampuan tersebut. Sebagai contoh, ada laki-laki muda yang memiliki pekerjaan sebagai Co-Founder sebuah start-up kreatif, dia bisa main gitar klasik, pintar menciptakan puisi sekaligus lirik lagi, bisa programming dan menguasai beberapa jenis bahasa program, suka doodling, jago foto, mampu membaca kartu Tarot, serta beberapa kebisaan lainnya. Oya, hampir semua tokoh yang gambarnya ditampilkan dalam posting-an Kang Agun kemarin termasuk para “Polymath”. Rata-rata ahli dalam banyak bidang.

Di sekitar kita, teman sendiri atau dengan bantuan media sosial, semakin mudah menemukan laki-laki dengan kualitas seperti itu, kan? Silakan cek tab “Explore” di Instagram dan Instagram Stories-nya. Ada yang benar-benar menguasai banyak bidang, namun ada juga yang terlihat sedang berusaha keras menguasai bidang-bidang tersebut, untuk kemudian menyerah dan berhenti melakukannya. Saya, kamu, suadaramu, temanmu, pacarmu, atau suamimu mungkin adalah salah satunya.

Keempat fenomena sosial dan psikologis terhadap laki-laki di atas, muncul sebagai sebuah keniscayaan. Saat kondisinya tepat–paduan antara budaya dan persepsi umum setempat, collective consciousness, tren gaya hidup, dan sedikit kebetulan–banyak laki-laki yang berusaha mengejar gambaran ideal mereka. Penyebabnya, if I may, tak lain adalah paduan dari insecurity dan ego. Insecurity lebih kepada dorongan batin untuk harus mengubah diri dan melakukan penyesuaian secepatnya, supaya bisa menjadi seperti sosok yang diinginkan, diterima bahkan dikagumi sekitarnya.

Ada pula ego, dengan beberapa cabangnya. Beberapa di antaranya seperti narsisme atau rasa sangat cinta dan menyenangi diri sendiri secara harfiah, rasa haus pujian dari orang lain, dan rasa bangga pada diri sendiri apabila “laku” dan terbukti dengan sesi bobo-bobo lucu dengan “warga sekitar”.

Khusus untuk “Renaissance Man”, tetap ada tambahan motivasi yang netral dan positif. Yaitu memang gemar melakukan atau hobi dalam bidang keahlian tersebut; maupun memang ingin menghasilkan karya, baik yang bisa diapresiasi, atau yang bisa digunakan orang lain. Tak heran, workshop-workshop kekinian bertema “DIY” (Do it Yourself) ngetren sejak setahun terakhir, dan masih seru-serunya sampai sekarang.

Mengacu pada pembahasan ini, kondisi-kondisi di atas punya “penghuninya” masing-masing. Ada yang bertahan dan hidup dengan gambaran ideal sebagai laki-laki macho, ada pula yang tetap menjadi “Metrosexual” dan hanya peduli dengan penampilan eksternal secara harfiah, ada yang merasa masih nyaman menjadi “Spornosexual” karena punya keberanian untuk mengekspose sexual appeal-nya secara konstan, dan mereka yang termasuk “Renaissance Man” sibuk mengejar semua hal dan pencapaian pada bidang-bidang tertentu.

Sementara itu, ada juga para laki-laki yang tidak tahu, atau tidak peduli dengan empat penilaian sosiokultural di atas. Mereka terus menjalankan kehidupannya dengan rasa nyaman yang ada, di luar kategorisasi tersebut.

Jadi, jangan dikira hanya perempuan saja yang kehidupannya ribet, para laki-laki juga.

Terberkatilah mereka, laki-laki dan perempuan yang tinggal jauh dari kompleksitas kehidupan kota, sehingga enggak mudah dimanipulasi sekitarnya. Karena pada akhirnya, nilai seorang laki-laki terletak pada bagaimana dia memandang dirinya sendiri; hal baik apa yang telah ia lakukan; dan yang ia tinggalkan.

[]

Btw, kira-kira menurutmu siapa ya orang Indonesia yang “Polymath” dan bikin kagum banget?

Advertisements

Malu karena Salah, Saja

KAPAN terakhir kali Anda merasa malu? Malu terhadap tindakan yang diperbuat; keputusan yang diambil; pendapat maupun isi hati yang diutarakan; dan sebagainya.

Atau, apakah masih layak mempertahankan sikap seperti ini di tengah-tengah laju kehidupan yang kian bebas dan permisif? Dengan prinsip apa pun bisa dilakukan (bebas dari perasaan malu berlebihan), selama tidak merugikan orang lain atau melanggar hukum. Lagipula kian banyak yang berpendapat bahwa makin tebal muka, makin tenang hidup seseorang, lantaran tidak harus diombang-ambingkan drama perasaan sendiri. Setelah menghadapi sesuatu, bisa langsung melengos melanjutkan yang harus dikerjakan.

Entah apa teorinya, tapi banyak yang mengaitkan rasa malu pada diri seseorang dengan kebijaksanaannya mempertimbangkan segala sesuatu, dipengaruhi lingkungan dan budaya sekitarnya, tabiat atau pembawaan, serta moralitas dan sederet norma-norma sosial.

Soal kebijaksanaan seseorang dalam bersikap, kerap identik dengan usia. Para bocah SD, misalnya. Tidak akan ragu untuk secara harfiah mandi bareng bersama teman-temannya di sungai, dalam kondisi (hampir) telanjang bulat dan seringkali campur. Malu kah mereka? Sepertinya mereka belum menganggap ketelanjangan sebagai sesuatu yang pantas bikin malu. Barangkali hanya ada dua hal yang mendominasi pikiran: mau berenang biar senang, baju jangan basah biar tidak kena marah.

Yang penting nyebur!

Tidak punya kostum tim loncat indah, yang penting nyebur!

(Malu=tidak valid)

Beda halnya dengan bocah-bocah SD yang tinggal di kawasan perkotaan, yang mungkin sudah diinisiasi soal ketelanjangan sejak kecil. Jadi, boro-boro berenang bareng copot baju, bahkan sehabis mandi pun bisa langsung merasa risi dan malu apabila tidak ada handuk untuk melilit tubuh. Kemudian para orang tuanya pun langsung berceletuk: “kan kamu masih anak-anak?”, atau ”don’t grow too fast.” Tanpa sadar bisa jadi mereka sendiri yang menanamkan pemahaman seperti itu kepada buah hati.

(Malu=valid)

Sebaliknya, dulu, adalah hal yang tidak lazim dan aneh apabila cewek yang mengutarakan perasaan atau nembak cowok. Dengan perasaan malu-malu manja berbunga-bunga, para cewek berusaha menyembunyikan perasaan sukanya kepada seseorang, tapi tetap ingin menarik perhatian dan get noticed secara bersamaan. Malang ceritanya, apabila si cowok tidak peka dan justru berpasangan dengan orang lain. Menyisakan si cewek yang menyesal dan hanya bisa meratap dalam kesedihan. Alasannya, cewek adalah orang yang dikejar dan diperebutkan. Itu sebabnya, mahar atau maskawin pun kebanyakan dibayarkan pihak cowok ke “lawannya”.

(Malu=valid)

Kini keadaan sudah berubah, seperti Paskibra yang melakukan manuver balik kanan; berbalik 180 derajat.

Dalam soal asmara dan taksir menaksir, rasa malu-malu kucing malah dibuang jauh-jauh. Karena ibarat pesta diskon tengah malam sampai 90 persen, siapa cepat dia dapat. Bahkan tidak hanya itu, makin banyak cewek yang beranggapan bahwa terserah saja, apakah isi hatinya berbuah cinta atau hanya sampai terucap di bibir, yang penting mereka sudah berani untuk melampiaskan perasaan yang berkecamuk di dalam dada. Lebih plong dan lega. Yang penting si dia tahu.

(Malu=tidak valid)

Nah, kalau sudah berpacaran, perasaan malu dipengaruhi semua faktor di atas plus moralitas. Bagi Anda yang berpengalaman, pasti masih ingat bedanya berpacaran dengan orang yang anteng dan adem ayem, dan dengan orang yang agresif. Kadar malunya berbeda.

Ada yang baru bisa berciuman, di kencan pada bulan ketiga. Namun ada juga yang sudah saking biasanya, sampai-sampai di akhir kencan perdana pun sudah diwarnai pagutan ala Perancis. Ada yang menyambutnya dengan gembira ria, dan ada pula yang malah risi dan malu, bahkan mempertanyakan sikap pasangannya. Dan sikap agresif ini tidak melulu dimiliki sang cowok, sebab sudah makin banyak cewek yang terbiasa. Menjadi sebuah kesepahaman yang “ah ngapain sih pake diomong-omongin?” Termasuk lewat tulisan ini. :p

(Malu=tidak valid)

Masih perlukah rasa malu dipertahankan dalam konteks ini? Ya barangkali masih, kalau selepas serangkaian bermadu kasih yang terjadi selama ini, ternyata hubungan mesti kandas di tengah jalan. Tak peduli kemampuan ciuman yang dahsyat, pelukan yang hangat dan menenangkan, kehadiran yang membuat nyaman, namun pada akhirnya pernikahan berlangsung dengan orang lain yang barangkali memang bukan pacar-materials, tapi spouse-materials. Pasti ada sedikit rasa malu, minimal malu kepada diri sendiri.

(Malu=valid)

Dengan contoh yang agak selebor. Di dalam tempat clubbing, dalam kondisi yang masih agak sober, di meja depan ada seseorang yang berulang kali melemparkan pandangan mengundang. Kemudian, dengan keberanian dan membuang rasa malu, akhirnya berlanjut dengan sekecup dua kecup. Entahlah jika nanti bisa berlanjut ke sesi berikutnya, untuk kemudian bangun dan tidak baper. Kalau begini, masih perlu malu? Toh, dua-duanya juga sudah siap mengantisipasi sensasi yang bakal terjadi.

(Malu=tidak valid)

Mengenai persepsi hidup yang tengah ngetren saat ini: Spornosexual. Perlukah para pria dan wanita pemilik tubuh atletis dan proporsional malu untuk tampil dengan pakaian berpotongan khusus, yang mengekspose otot maupun lekukan dambaan banyak orang? Pamer perut kotak-kotak, dengan gaun yang backless, atau malah selfie topless dengan penuh kebanggaan seperti yang sering dilakukan istri John Legend, Chrissy Teigen di Instagram-nya. Siapa tahu menginspirasi orang lain untuk mulai hidup sehat dan rajin berolahraga.

Chrissy Teigen dan John Legend. Cuplikan video klip “All of Me”.

Lagak-lagaknya, banyak dari mereka sudah tidak malu lagi untuk menampilkan tubuh minim balutan. Yang dilihat pun bagus juga. Berbeda kasusnya dengan Justin Bieber yang pamer pantat entah apa motifnya.

(Malu=tidak valid)

Begitu juga yang ditandai lewat sejumlah proyek fotografi belakangan ini. Ketika para pemilik tubuh yang kurang sempurna, tidak malu untuk menampilkan kondisi fisik apa adanya. Seperti menampilkan para veteran Amerika Serikat yang masih berusia muda dan bertubuh bagus, namun harus mengenakan kaki palsu karena insiden bom di medan perang Timur Tengah. Proyek ini bertujuan untuk membangkitkan nasionalisme.

Sang veteran. Foto: dailymail.co.uk

Ada pula proyek yang menampilkan foto-foto para wanita penyintas kanker payudara. Mereka tampil tanpa penutup dada, namun dengan ekspresi senyum yang menenangkan. Seolah berkata: “You’ll be okay.” Pesan menguatkan hati bagi para pengidap atau penyintas kanker serupa yang tidak mustahil tengah meratapi kekurangan dirinya.

Serupa, ada proyek fotografi yang menampilkan wanita beragam ras dan figur fisik, yang bersedia difoto sesuai kenyamanan masing-masing. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa semua wanita itu cantik, dan karenanya tidak ada satu pun yang pantas diintimdasi, diolok, dikucilkan, atau dihina karena fisiknya. Dari yang malu-malu, akhirnya menjadi terkemuka. Konsep rasa malu pun dijungkirbalikkan, bahkan menumbuhkan semangat positif bagi orang lain.

(Malu=tidak valid)

Bergeser ke lingkup kantor. Dalam rapat evaluasi bulanan ternyata divisi yang Anda pimpin memiliki kinerja yang relatif buruk. Menjadi bahan persidangan di meja pertemuan. Pilihan yang bisa Anda ambil adalah merasa malu dan berusaha melampiaskannya dengan berdiam diri tanpa argumentasi, melemparkan kesalahan pada hal-hal teknis lain, atau Anda tidak peduli dengan sikap malu dan justru malah menerima kenyataan ini dengan wajah tegap. Bahkan kerap dilanjutkan dengan komitmen untuk berusaha menjadi lebih baik lagi di periode berikutnya.

Apabila begini, perlukah bersikap malu? Kalau saya secara pribadi sih, mending diakui ketimbang ditutup-tutupi. Namanya juga tanggung jawab.

(Malu=tidak valid)

Masih dalam lingkup kantor. Lain halnya dengan tindakan teman sekantor yang ternyata tidak malu-malu untuk mencari muka, menjilat pantat, dan menjegal kolega demi membangun reputasi dan citra diri. Sedikit banyaknya, Anda pasti pernah bertemu dengan orang yang punya perangai seperti ini. Entah apa pun alasannya bersikap demikian, apakah karena pertimbangan untuk dapat naik jabatan maupun mengamankan kedudukan, atau memang orangnya nyebelin, atau karena alasan ekonomi demi menanggung biaya hidup anak dan istri yang sedang sakit.

(Malu=tidak valid)

Ya, apa pun contoh kasusnya, mungkin sudah merupakan ketentuan zaman apabila rasa malu mulai dikesampingkan. Kalaupun masih dipertahankan, perasaan tersebut tetap ada bukan untuk dijadikan selimut tempat kita meringkuk dan bersembunyi dari momok-momok yang keluar dari kolong ranjang. Melainkan untuk dihadapi dan dijalani konsekuensinya. Ketimbang malu dan diam sampai berpuluh-puluh tahun, mending diutarakan meskipun belum jelas apa hasilnya.

Lagian, sekarang sudah masanya setiap orang dipersilakan memberdayakan akal budi dan pikirannya masing-masing secara maksimal. Namun tentu saja, benar atau salah sebuah pilihan yang diambil, risiko ditanggung penumpang. Selalu ada terms and conditions applied. Berani memutuskan bertindak, (seharusnya) berani pula bertanggung jawab menghadapi dampak yang dihasilkan. Jadilah manusia yang seutuhnya.

Jadi, masih perlukah bersikap malu? Kalau saya sih, iya, perlu. Malu kalau berbuat salah, yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Tambah malu lagi, kalau ternyata ga nyadar sudah melakukan perbuatan salah itu. Ibarat punya otak tapi ditinggal di rumah doang.

[]

Pria Punya Selera

Rasanya mustahil untuk tidak sepakat bahwa perempuan adalah makhluk yang indah. Konsekuensinya, keindahan itu menuntut agar terus dipertahankan, entah bagaimanapun caranya. Baik yang bersifat badani maupun rohani, atau–seperti komentar keren Mbak Dian di posting-annya Mas Roy Sabtu lalu–yang bersifat kuratif maupun preventif. Misalnya, perawatan fisik dengan rajin ke salon, memanjakan diri dengan aneka rupa spa; berolahraga Zumba demi tubuh yang kencang; memperbaharui penampilan dengan tas, sepatu, bahkan perhiasan model terkini; giat bepergian demi memperluas wawasan; punya waktu khusus untuk saling bertemu sesama perempuan supaya bertukar pikiran khas dunia Kaum Hawa; main game dan lebih ekspresif, atau beryoga agar tidak terpenjara stres; dan sebagainya.

Dengan semua itu, boleh kiranya jika kita sebut perempuan sebagai jenis manusia yang mesti high maintenance, memang harus dimenangkan hatinya, dan berhak diperlakukan istimewa oleh para pria yang mengejarnya. Terlebih untuk mereka yang cantiknya luar-dalam, punya outer beauty dan inner beauty seimbang.

Case closed. Ya kan?

Sekarang, marilah kita lihat dari sisi seberangnya. Apabila perempuan adalah makhluk yang indah, bagaimana dengan para pria? Bolehkah dinilai lewat parameter “indah” juga? Indah yang seperti apa? Diindra dari mana? Atau gara-gara apa? Termasuk apakah bisa memenangkan hati perempuan lewat keindahan pula? Keindahan para pria, tentunya.


Apa yang membuat seorang pria begitu menarik? Setiap orang tentu punya jawaban masing-masing. Namun satu hal yang pasti: manusia, apapun jenis kelamin maupun preferensi seksualnya, adalah makhluk visual. Semuanya berawal dari mata. Ini fakta yang tak terbantahkan. Toh dalam beberapa kasus, banyak yang naksir penyiar radio karena suara, namun ujung-ujungnya ngebet pengin ketemu juga. Setelah itu, ujung ceritanya mungkin berbeda.

Dangkal memang, melakukan penilaian awal lewat yang kasatmata. Tapi mau bagaimana lagi, dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu.

Lantaran urusan yang kasatmata ini, lambat laun para pria juga mulai ikut-ikutan mesti high maintenance. Tuntutan zaman. Okelah, wajah cantik atau ganteng itu kuasanya Tuhan. Kecuali kalau bersedia rogoh kocek dalam-dalam menjalani operasi plastik di Korea sana. Namun perihal rawatan dan bentuk tubuh, gaya busana, serta bahasa tubuh dan pembawaan, masih bisa diusahakanlah.

Lebih dari 20 tahun lalu, tepatnya 15 November 1994, sebutan Metrosexual pertama kali dilontarkan Mark Simpson di surat kabar The Independent.

“Metrosexual man wears Davidoff ‘Cool Water’ after­shave (the one with the naked bodybuilder on the beach), Paul Smith jackets (Ryan Giggs wears them), corduroy shirts (Elvis wore them), chinos (Steve McQueen wore them), motorcycle boots (Marlon Brando wore them), Calvin Klein underwear (Marky Mark wears nothing else). Metrosexual man is a commodity fetishist: a collector of fantasies about the male sold to him by advertising.

– Mark Simpson, 1994.

Formulasinya sederhana: pria ingin tampil lebih keren. Keinginan itu disambut sebagai peluang bisnis, berupa produk mulai dari parfum sampai kancut. Tren ini terus berkembang, menempatkan pria sebagai pangsa pasar yang tetap potensial hingga beberapa dekade ke depan, bahkan sampai sekarang. Seperti pada Maret 2014, HSBC Global Research menyatakan bahwa kaum pria masih memiliki dorongan psikologis untuk terlihat keren dengan model potongan rambut, baju, sepatu, tas, termasuk jam tangan. Hasil riset ini dirilis dengan tajuk “Rise of the Yummy, Young, Urban, Male: Three Reasons to Rejoice.”

Hanya saja, pria makin menyadari bahwa metroseksualitas sebatas perkara fashion. Penampilan yang keren pun harus dibarengi dengan perawatan tubuh. Percuma pakai kancut berlabel pinggang CK, kalau punggungnya panuan.

Perubahannya terjadi secara bertahap, namun simultan. Durasi mandi jauh lebih lama, sebab momen umumnya terbagi menjadi: berkaca, bersampo, pakai sabun muka, pakai sabun badan, lalu berkaca lagi. Bisa jadi sudah sangat jarang ada pria warga kelas menengah masa kini, yang menggunakan satu jenis sabun sekaligus untuk muka dan badan, apalagi untuk cuci rambut sekalian. Ini adalah contoh yang paling umum, terlepas dari peningkatan kecenderungan pria yang menggunakan pelembap atau lip balm untuk mengatasi kulit kering, menggunakan lulur untuk menghilangkan belang kulit tubuh yang terbakar matahari, bahkan menjalani proses facial, dan sebagainya. Gelombang narsisme pria mulai tumbuh.

Di tahap ini, para pria makin kebal dengan cemoohan: “cowok kok takut hitem?”, “cowok kok takut makan banyak?”, “cowok kok takut kotor?”, “cowok kok ke salon?”, “cowok kok takut keringetan?”, “cowok kok cukur bulu ketek?” dan sejenisnya. Seolah-olah kaum pria itu identik abadi dengan warna kulit yang belang-belang, bau keringat yang semerbak, rambut ketiak yang gondrong, berdaki, kulit lengan kering atau bibir pecah-pecah yang dibiarkan begitu saja, makan dengan porsi kuli, pangkal-pangkal jari yang menebal kapalan, dan seterusnya.

Tanggapan publik pun beragam. Ada yang menganggap bahwa cowok itu harus manly, dan manly di sini berarti segala kemampuan untuk bersikap apa adanya. Beda tipis dengan gaya hidup manusia purba. Tapi tak sedikit pula yang merasa bahwa pria terawat jauh lebih menarik dan menyenangkan.

Keadaan terus berkembang. Makin banyak pria yang peduli dengan bentuk tubuh. Bandingkan dengan keinginan perempuan untuk memiliki tubuh yang langsing, paha dan lengan yang tidak kegedean, serta memiliki pantat dan payudara yang kencang lewat senam. Walhasil, keanggotaan gym melonjak drastis walaupun dengan tarif lebih dari Rp 500 ribu per bulan. Mendorong sektor ini menjadi prospek bisnis baru. Soal tujuan nge-gym jelas beragam. Tatkala ada yang mengaku hanya ingin menjaga kebugaran tubuh, ada pula yang terang-terangan ingin punya bentuk tubuh ideal supaya terlihat bagus kala mengenakan setelan tertentu. Di level berikutnya, ada yang ingin memiliki tubuh atletis agar mendukung profesinya, entah sebagai model, P.R.O., resepsionis, atau pramuniaga butik-butik premium. Contohnya, pernahkah Anda lihat Mas-Mas di Zara yang cungkring?

Tidak sampai di situ saja, arus informasi gencar menyuguhkan ilusi realitas hiper bagi para pria. Memunculkan figur dambaan yang ditiru habis-habisan. Dua tokoh populer dunia, David Beckham dan Cristiano Ronaldo sebagai contoh. Hampir seisi dunia sepakat bahwa mereka adalah pria tampan (sebab cakep itu relatif, sedangkan jelek itu mutlak), memiliki bentuk tubuh yang bagus, dan Metrosexual. Ditambah mempunyai karier olahraga dan non-olahraga yang cemerlang, serta Beckham adalah sosok suami dan ayah idaman. Apa yang bisa Anda cela dari mereka?

What do You think?

***

Dengan ini, gelombang narsisme pria kembali termodifikasi. Awalnya, narsisme pria dianggap serupa dengan narsisme perempuan yang kenes. Namun pandangan umum mempertanyakan, mau kenes seperti apa kalau lengan kekar berotot, punggung tegar, dada bidang, dan perut kotak-kotak macam roti sobek?

Sampai di titik ini, para pria menyadari bahwa akan lebih baik bila mereka memiliki tubuh atletis atau setidaknya terawat, tampil trendi dan keren atau setidaknya rapi dan wangi. Bakal jauh lebih baik lagi, apabila semua itu dibayar pakai uang sendiri. Voila! High maintenance man.

Apakah Anda setuju?


Eitsss… Perubahan terus terjadi. Ada kecenderungan bahwa dengan semua kualitas positif yang membuat pria menjadi makhluk indah tadi, perkembangan narsisme tak mandek. Metrosexual berganti menjadi Spornosexual.

Narsisme kaum pria pun merambah pada hal yang primordial: seksual. Pria ingin untuk diinginkan, sebab mereka yakin bahwa dirinya spesial. Keyakinan tersebut dipupuk karena mereka terbiasa mendapat komentar positif dari sekitar, yang memuji bentuk tubuh, wajah, tato di lekukan otot, tindik di beberapa bagian tubuh, bahkan rangkaian cambang-janggut yang menyatu rapi dan ngegemesin bagi sebagian orang. Jadi, jika ada yang tertarik kepada mereka secara seksual, akan diladeni. Hitung-hitung kompensasi untuk diri sendiri. Pria di level ini, akan sangat menikmati berlibur di pantai, ketika mereka bebas beraktivitas berbalut kancut Speedo saja. Enggak pakai mikir.

Secara suportif, lingkungan pun mulai mafhum dengan segala kualitas outer beauty mereka. Buktinya, ketika banyak perempuan mendadak ganjen saat berada di dekat pria-pria idolanya.

Glossy magazines cultivated early metrosexuality. Celebrity culture then sent it into orbit. But for today’s generation, social media, selfies and porn are the major vectors of the male desire to be desired. They want to be wanted for their bodies, not their wardrobe. And certainly not their minds.

– Mark Simpson, 2014.

Pesan moralnya cuma satu: hati-hati kalau pilih calon pacar.

[]