Delapan Momen Musik Dan Lagu Dalam Film Yang Paling Pas Di Tahun 2016

Film tidak bisa lepas dari musik dan lagu. Kedua elemen ini bisa menaikkan sensasi emosional di satu atau beberapa adegan di film … dan demikian pula sebaliknya. Kalau musik dan lagu terkesan out of place, yang ada malah kita tidak bisa menikmati film yang sedang kita tonton.

Tadinya daftar ini maunya dibuat “ringkes” saja menjadi daftar soundtrack paling oke tahun ini. Namun keterbatasan saya dalam mengikuti perkembangan kancah industri musik dunia, termasuk Tanah Air, membuat saya gagap informasi tentang soundtrack film dan televisi. Akhirnya daftar ini memuat beberapa pengalaman pribadi saya saat mendengarkan musik dan lagu dari sebuah film. Dan saat menonton filmnya, biasanya saya langsung tersenyum dan mengangguk, karena merasa “emang musik dan lagunya pas sih sama ceritanya”.

Hence, the title.

Daftarnya sengaja tidak saya buat urutan ranking, karena selain bikin daftar angka di WordPress itu ribetnya setengah modyar, saya ingin Anda bisa menikmati lagu-lagu ini sendiri secara random, tergantung perasaan hati masing-masing.

Ini dia:

Try Everything – Shakira (OST Zootopia)

Film Zootopia tanpa disangka-sangka menjadi salah satu film animasi terbaik tahun ini. Ceritanya sangat lancar dituturkan. Dan momen kemunculan lagu ini sangat pas, masuk di cerita menjelang akhir, saat diskriminasi di kota Zootopia mulai runtuh, lalu masyarakat merayakan keragaman mereka. Beat lagu yang ceria juga membuat lagu ini tidak outdated, biarpun didengarkan beberapa bulan kemudian.

Next …

Lose My Breath – Destiny’s Child (from the movie Billy Lynn’s Long Halftime Walk)

Waktu lagu ini muncul di film Billy Lynn’s Long Halftime Walk, yang sayangnya cuma beredar sangat sebentar di sini, saya langsung tertawa. Pikir saya, “WTF? Apaan nih?” Lalu lagu yang dimainkan utuh di film tersebut ternyata memegang peranan penting dalam cerita. Di adegan inilah Billy Lynn akhirnya harus benar-benar mengkonfrontasi konflik di dalam dirinya, sampai jatuh pingsan. Di tengah-tengah pertandingan baseball besar, para tentara yang baru pulang dari Irak dipaksa menjadi “penari latar” Destiny’s Child. Benar-benar sebuah juxtaposition sekaligus tamparan sosial yang sangat subtle, yang jarang ditemui di film-film Hollywood akhir-akhir ini.

Then …

While My Guitar Gently Weeps – Regina Spektor (OST Kubo and the Two Strings)

Lagi-lagi film animasi dan ceritanya yang indah. Tapi saya tidak akan bercerita banyak tentang kenapa versi anyar dari lagu klasik The Beatles ini masuk ke daftar di sini. Yang jelas, saat lagu ini muncul di credit title, sontak saya tersenyum, sambil membatin, “No wonder.” Judul lagu ini saja sudah mewakili ceritanya. Tonton saja sendiri. You will be pleased.

Lalu …

Tiga Dara (OST Tiga Dara)

Pertengahan tahun ini kita sempat melihat hasil restorasi film klasik Tiga Dara produksi tahun 1956 di bioskop. Kesempatan yang langka ada di layar lebar kita. Lagu tema “Tiga Dara” yang muncul di adegan pertama membuat kita tersenyum, sekaligus bangga, bahwa kita pernah membuat film sebagus ini.

Continue …

Can’t Stop the Feeling – Justin Timberlake (OST Trolls)

Pertengahan tahun ini, saat lagu ini sudah diluncurkan di radio, saya “menahan diri” supaya tidak terlalu sering mendengarkan. Takut ter-brainwashed, lalu saat menonton filmnya, jadi kecewa karena tidak sesuai harapan. Untungnya, yang sebaliknya yang terjadi. Saya menonton film ini di bioskop yang penuh dengan anak kecil dan orang tua mereka, dan semuanya menikmati lagu-lagu yang disajikan di film ini. Dan lagu “Can’t Stop the Feeling” yang dihadirkan menjelang akhir seperti menjadi the sweetest treat, puncak dari cerita yang menyenangkan. It’s the best jam of the year.

Rolling …

She Loves You – The Beatles (from the movie The Beatles: Eight Days a Week – The Touring Years)

Beruntung saya sempat menonton film dokumenter The Beatles: Eight Days a Week ini di bioskop. Film yang sebenarnya adalah surat cinta dari para pembuatnya terhadap The Beatles, and it clearly shows. Dari sekian banyak lagu The Beatles yang ditampilkan di sini, ada satu yang tampil sebentar, namun paling menggetarkan hati. Momen itu hadir saat kita menonton footage di tahun 1964, saat pertandingan sepak bola di stadion Anfield, Liverpool, semua orang yang hadir di stadion ini serempak menyanyikan “She Loves You”. Priceless. Chilling. Bulu kuduk saya masih merinding saat menuliskan pengalaman ini, padahal hanya menonton dari kejauhan. It is that rare, magical moment in cinema.

Next …

Love You Zindagi (OST Dear Zindagi)

Meskipun saya sering menonton film Bollywood, namun saya tidak bisa bicara bahasa Hindi. Pick up beberapa istilah dan kata pun juga tidak bisa. Namun ada sesuatu yang lain dari soundtrack film Dear Zindagi ini. Nada-nadanya terdengar santai. Membuat pendengarnya merasa relaxed. Cocok buat dijadikan teman perjalanan jauh ke luar kota. Dan saat menonton filmnya pun, kesan itu yang ditangkap. Nyaris tidak ada adegan over-the-top, termasuk penempatan musiknya. Kemunculan lagu ini pun sangat appropriate, very much in place with the main character’s development. Salah satu surprises of the year buat saya.

Finally …

Jangan Ajak-Ajak Dia – Melly Goeslaw (OST Ada Apa Dengan Cinta 2)

The most “baper” song of the year. Ke-baper-an itu semakin pas saat lagu ini muncul di adegan crucial yang membuat kita mengerti, kenapa magnet Cinta dan Rangga masih sedemikian besar setelah berbelas-belas tahun kemudian. Dari semua lagu baru yang hadir, lagu ini yang memang paling pas kemunculannya di film AADC2.

Bonus:

Heaven is a Place on Earth – Belinda Carlisle

Kenapa lagu ini penting? Karena the finest hour of television in this year sepenuhnya diciptakan dari lagu ini. Alasannya ada di tulisan tentang top 10 tv shows of 2016 di sini.

Selamat berdendang ria!

Advertisements

Era 80an Tidak Akan Pernah Mati

Sejarah akan berulang dengan sendirinya. Entah siapa ini yang membuat kutipan. Tapi yang jelas masih relevan sampai sekarang. Dari aspek politik, mode, musik, atau pun film. Tentunya kita masih ingat ketika The Strokes dan The Killers menggebrak dengan musik jadulnya di awal millennium. Dari situ dimulailah banyak musik yang mendaur ulang genre musik jaman dulu. Gejala itu sampai sekarang masih berlanjut. Kita tahu sekarang ada The 1975, The Weeknd, CHVRCHES, atau musik sejenis lainnya yang kita sebut dengan electro-pop ini sebetulnya hanya daur ulang. Di tahun 80an kita menyebutnya synth-pop atau new wave. Beberapa pentolannya masih aktif bermusik. Sebut saja Pet Shop Boys, Depeche Mode atau New Order.

stranger7

Gejala ini rupanya menjalar ke dunia sinema. Banyak sekali film yang dirilis. Entah itu reboot, spin-off, atau remake yang diadaptasi dari film era 80an. Tidak usah saya sebut ya. Terlalu banyak. Saya sebut deh satu film yang lagi tayang di bioskop. Ghostbusters. Tapi ada satu serial rilisan Netflix yang menurut saya layak tonton. Kenapa? Karena serial ini berhasil mengembalikan era saya ketika masih bayi. Era 80an. Itu saja? Tidak. Ada satu nama yang kalian pasti rindukan: WINONA RYDER. Usia serial ini baru seminggu. Tapi berhubung Netflix yang menayangkan maka semua delapan episod sudah langsung dinikmati. Itu salah satu kelebihan Netflix dibanding dengan serial “konvensional” lainnya yang harus menunggu minggu depan ketika satu episod habis. Ngeselin kan? Maenin perasaan orang lain. Tega banget sih. Anak orang digituin.

stranger3

Serial ini sangat bagus sekali. Untuk yang suka film di era 80an pasti suka dengan film ini. Apalagi jika mengikuti film Spielberg semacam E.T, atau Third Encounters of The Close Kind. Atau film-film dari Stephen Kings, John Carpenter. Atau bahkan Super 8-nya J.J. Abrams. Stranger Things bergenre supranatural sci-fi horror. Film remaja. Hantunya juga gak serem koq. Seru. Premisnya ada anak kecil yang hilang misterius dan anak cewek dengan kemampuan telekinesis yang tiba-tiba muncul. Standar kan? Tapi The Duffers Brothers berhasil meracik formula yang pas. Ada sedikit X-Files, sedikit Dungeons & Dragons, sedikit Star Wars, sedikit Indiana Jones, sedikit Back To The Future.

stranger1

The Duffer Brothers berhasil meramu semua elemen dari film yang ia suka menjadi serial yang membangkitkan nostalgia ke era 80an. Tapi tidak basi. Tidak berlebihan. Tidak pretensius kalo anak jaman kiwari banyak bilang. Perlu diperhatikan juga para akting Winona Ryder sebagai ibu dari anak yang hilang aktingnya total. Dia bermain sangat apik. Mungkin ini akting Winona yang paling baik selama karirnya di dunia film. Sebelum hiatus karena ketauan ngutil di Saks Fifth Avenue.

Tidak berhenti di situ. Duffer Brothers nuansa kental 80an itu tidak afdol kalo tidak dibarengi dengan skoring musik dengan balutan synthesizer yang mencekam dari Kyle Dixon & Michael Stein. Synthesizer sangat populer di tahun 80an. Dan terakhir yang harus dinikmati adalah sontrek dari serial ini penuh dengan musik di era 80an. Dan untuk itu maka saya sengaja buat playlist yang lagunya muncul di Stranger Things. Dengerin ya. Capek saya bikinnya ih.

Selamat marathon ya akhir pekan ini. Dan tetaplah penasaran dengan apa yang terjadi di luar sana.

Satu Tambah Satu Belum Tentu Dua

Selain hati, ternyata ada barang lain yang paling ditakutkan kalau dicuri orang.
Apakah itu?

iPod.

Courtesy of techspot.com
Courtesy of techspot.com

Kenapa?

Dulu, pernah iPod saya gak sengaja kebawa sama (mantan) pacar. Begitu tahu kebawa, saya langsung panik. Blingsatan. Buru-buru minta iPod dibalikin. Bukannya takut iPod hilang atau dijual lagi.
Yang saya takutkan adalah, dia akan tahu semua playlists di iPod itu.

Iya. iPod saya isinya penuh dengan playlists.

Mulai dari playlists buat teman berlari, playlists sambil bersepeda, playlists lagi traveling.
Tapi selain itu, ada playlists lain, yaitu playlists saat jatuh cinta.
Dan udah umur segini, jatuh cinta ya masak cuma sekali?
Alhasil, di sana ada sejumlah playlists pas naksir, playlists pas jadian, dan tentunya, playlists pas patah hati.

Tanpa terkecuali, playlists itu semua dibuat dengan sangat hati-hati. Apalagi buat saya dan mungkin Anda sebagai generasi mixtape.
Silakan tersenyum mengingat-ingat beli kaset kosong, yang lalu diiisi rekaman lagu-lagu hasil request di radio. Tentu saja cover kaset dibuat dengan tulisan tangan, atau paling nggak, pakai rugos.

Demikian pula dengan CD lagu-lagu hasil download untuk bakal calon gebetan (ribet ya?). Atau mungkin sekarang, kasih aja flash disk. Saking banyaknya kapasitas space, selain lagu bisa diisi juga dengan rekaman video testimoni. Kalo nanti proposal cinta ditolak, yang terima tinggal hapus semua lagu. Masih dapet flash disk gratis pula!

__________

Padahal yang membuat kompilasi itu mungkin saja gak tidur semalam suntuk, atau lebih. Demikian pula para pembuat kompilasi macam “NOW!” series, atau “Sad Songs” atau “Forever Love 2014”. Dua judul terakhir malah masih bercokol di deretan album terlaris iTunes. Meski sudah terlalu sering kita melihat album-album kompilasi ini, toh mereka masih laris manis.

Saya pernah bertemu dengan seseorang yang profesinya memang membuat album-album kompilasi seperti ini. Katanya, “Enak ngerjainnya. Dengerin musik, dibayar pula.”

Trus gimana milih lagunya? Jawabannya simpel, “Pake hati.”

Nah lho. Emang cuma nge-blog doang yang pake hati?

Menyusun rangkaian lagu yang belum tentu nyambung dari satu sisi adalah seni tersendiri. Perlu keahlian khusus.
Irama boleh beda, asal lirik masih seputar “beginilah rasanya ditinggal kekasih”, bolehlah dipertimbangkan dulu, sambil cari lagu lain.

Itu kalau sekedar album kompilasi.
Membuat soundtrack film? Apalagi.
Selain dituntut mencari lagu sesuai adegan yang perlu diisi, belum tentu juga pembuat lagu mau mengijinkan lagunya digunakan di film itu. Namun karena kita berkhayal dalam tulisan ini, maka kita pun bebas dari memikirkan kompleksitas legal issue ini.
Terlebih urusannya pake hati. Hasil yang tercipta dari hati, biasanya akan meniupkan jiwa di karya yang bisa dinikmati.

Satu tambah satu, lagu demi lagu, harus menjadi satu kesatuan gambar gerak dan suara.

Waiting to Exhale.
The Boat that Rocked.
Forrest Gump.
Good Night, and Good Luck..
Grace of My Heart.

Itulah beberapa album soundtrack dengan pilihan lagu yang terasa menyatu dengan film. Sekaligus, mungkin saja album-album itu akan dibawa saat terdampar di pulau asing.

Eh, tapi itu jawaban pertanyaan jaman dulu, ding.

Kalau sekarang?

Tinggal bawa iPod dan kabel charger.
Toh isinya semua adalah the soundtrack of our life.

Lagi pula, apalah artinya hidup tanpa penanda lagu?

PS: si iPod sudah kembali dan masih berfungsi.