We Need To Talk About Kevin

Mulai hari ini karir Kevin Spacey akan meredup. Seperti kita tahu, Anthony Rapp melaporkan kalau dirinya dilecehkan secara seksual oleh Kevin Spacey 30 tahun lalu. Yang menjadi permasalahan berat adalah Rapp ketika itu masih berusia 14 tahun. Itu menjadikan Kevin Spacey seorang pengidap pedofilia.

kevin2

Peristiwa ini sebetulnya sudah terjadi di film American Beauty yang dibintangi oleh Kevin Spacey. Walaupun tidak sama persis. Film ini yang membuat Kevin mendapat Oscar keduanya dalam kategori Aktor Terbaik. Setelah sebelumnya mendapatkan Oscar di film The Usual Suspect dalam kategori Aktor Pendukung Terbaik. American Beauty menceritakan potret keluarga Amerika. Di mana kebobrokan suatu keluarga diperlihatkan secara satir. Kevin Spacey bermain apik sekali di sini. Seingat saya Kevin Spacey sudah dua kali memerankan seorang biseksual. Terakhir di serial House of Cards yang terkena imbasnya sehingga akan berakhir di musim keenam.

Pedofilia di banyak negara masuk sebagai tindakan pidana, bukan preferensi seksual. Pedofilia tidak akan mendapatkan tempat di dunia kita berpijak. Entah maya atau nyata. Atau bahkan di penjara. Black Mirror di salah satu episodnya bercerita bagaimana seorang pedofilia harus menderita sepanjang hidupnya.

kevin

Tapi melihat pemberitaan di social media masih terbelah. Banyak media besar lebih mengedepankan pengakuan Kevin Spacey sebagai gay, dibandingkan sisi pedofilianya.  Di permintaan maafnya kita lihat Kevin Spacey sedang berperan sebagai Frank Underwood. Khas politisi. Diplomatis. Kita patut tunggu reaksi dari Hollywood mengenai hal ini. Ketika Harvey Weinstein karirnya dipastikan habis karena begitu banyaknya korban–maka kasus Kevin Spacey ini saya melihat akan diselesaikan secara kekeluargaan. Kompromi. Kita tahu standar ganda selalu diterapkan di berbagai situasi. Jika Woody Allen masih bisa berkarya, saya rasa Hollywood akan memperlakukan hal yang sama.

Advertisements

Rape Culture: Ini Bukan Soal Kucing dan Ikan Asin

KETIDAKPEDULIAN sama dengan pembiaran. Sedangkan kedunguan yang bebal, atau ketidaktahuan yang dibiarkan, ditambah sikap tidak mau tahu sama artinya dengan memberi dukungan.

Itu yang sedang terjadi, dan melanggengkan apa yang disebut dengan Rape Culture; budaya rogol, budaya pemakluman untuk segala bentuk pelecehan seksual. Iya, budaya. Karena sudah sedemikian sistematis, mengakar, dan diteruskan lintas generasi. Termasuk di Indonesia, dengan sebagian besar masyarakat yang masih berpandangan sangat patriarkat, seksis.

Kejahatan seksual terbagi dua kategori besar: pelecehan (abuse), dan penganiayaan atau kekerasan seksual (assault). Dari bagan segitiga di atas, jelas banget kalau kejahatan seksual enggak sebatas perkosaan, pencabulan, maupun penganiayaan fisik dan mental saja. Tanpa disadari, ada banyak bentuk tindakan dalam kehidupan sehari-hari yang termasuk kategori pelecehan seksual. Namun kerap tanpa penindakan, dan malah dimaklumkan.

Parahnya lagi, biasanya pemakluman ini berlangsung secara komunal, dilakukan oleh banyak orang sekaligus dalam sebuah komunitas. Contoh sederhananya, bandingkan antara ketika ada segerombolan remaja dibiarkan menongkrong di depan gang sambil godain cewek yang lewat, versus ibu-ibu se-RT kompak menyindir seorang janda muda yang suka pakai rok mini dan high heels karena memang demen mengenakannya. Mbak Leila sudah membahas hal ini dengan cukup jelas dalam tulisannya pekan lalu, ketika para perempuan pun bisa menjadi sangat misoginis bagi sesama mereka.

Disadari atau tidak, kita semua berstandar ganda. Setiap dari kita pasti setuju untuk menyerukan bahwa perkosaan adalah kejahatan seksual yang mesti dihukum berat. Sayangnya, kita kerap membiarkan hal-hal yang berpotensi ke arah tersebut tetap terjadi. Ini bukan tentang bagaimana korban bertingkah laku dan berpenampilan, melainkan bagaimana cara (calon) pelaku berpikir dan bertindak setiap kali ada peluang.

Polisi: “Kenapa kamu memerkosa korban?

Pelaku: “Habisnya, dia pakai rok mini. Pahanya mulus banget bikin saya engas. Kalau ada paha kelihatan begitu, cowok mana sih yang enggak mau lihat, Pak?

Apabila alasan ini dijawab “iya juga sih” apakah itu bukan pemakluman? Saat opini subjektif yang bias ikut dimasukkan dalam menilai sebuah kejahatan seksual, dan akhirnya kesalahan justru ditimpakan kepada korban. Sudah jatuh tertimpa tangga, dilempar batu pula.

Keamanan seksual, jika boleh dibilang begitu, hanya bisa terjadi dengan keterlibatan aktif semua orang tanpa batasan jenis kelamin maupun preferensi seksual. Setiap orang sama-sama berpeluang menjadi pelaku maupun korban. Kata siapa laki-laki atau transgender enggak bisa jadi korban perkosaan? Pelakunya bisa siapa saja: perempuan, laki-laki, atau transgender pula.

Apa pun kondisinya, bagaimana pun kejadiannya, perkosaan tetaplah perkosaan. Ketika ada seseorang yang dilibatkan dalam sebuah aktivitas seksual di luar keinginannya sendiri, dengan keadaan dipaksa maupun diperdaya. Itu sebabnya, perkosaan dalam perkawinan juga ada dalam Catatan Tahunan 2017 Komnas Perempuan. Catat! Perkosaan dalam perkawinan. Dalam status atau ikatan perkawinan sekalipun, aktivitas seksual dengan paksaan tetap termasuk tindak perkosaan.

Kembali ke soal keterlibatan aktif. Bukan cuma anak perempuan yang perlu diajari tentang tata susila–entah seberapa arkais istilah itu terdengar. Anak laki-laki harus mendapatkannya juga. Supaya setelah anak-anak itu dewasa, mereka menjadi perempuan yang bisa mengatakan “tidak!” ketika memang tidak ingin dikecup oleh pacarnya; dan menjadi laki-laki yang bisa mengatakan “bodoamat!” ketika dihina teman-temannya “dasar homo lo…” akibat belum pernah meniduri kekasihnya atas dasar menghormati penolakan. Mana tahu, kan? Lagian, tidak semua hubungan berpacaran bisa diwarnai dengan ungkapan: “udaaah… cipok aja… ntar pasti ngikut keterusan juga…” Tidak semua.

Di sisi lain, cemoohan enggak berasal dari sesama laki-laki saja, sebab tidak sedikit juga perempuan yang merasa ilfil dengan laki-laki yang tidak agresif. Laki-laki yang minta izin dulu sebelum mencium pacarnya, maupun yang benar-benar memastikan apakah pacarnya sudah bisa merasa nyaman berhubungan seksual dengannya atau belum. Ini menimbulkan paradoks. Padahal hubungan manusia tidak sesederhana analogi kucing dan ikan asin. Sampai kapan sih laki-laki mau diibaratkan kucing, sementara perempuan disamakan dengan ikan asin?

>> Agak terdengar munafik dan utopis sih, ketika ada laki-laki yang bisa memilih menolak berhubungan seksual karena merasa belum nyaman. Tapi, sadar atau tidak, anggapan seperti ini adalah salah satu bentuk seksisme, stereotip gender. Sama seksis-nya dengan anggapan bahwa hot pants dan rok mini adalah pakaian perempuan nakal nan gatal.

Dalam lingkar-lingkar sosial, masih sering kita dengar celetukan: “cowok itu bukan cowok kalau tidak… (silakan isi sendiri)“, begitu pun sebaliknya: “cewek itu harus begini dan begitu…” Semua ini menunjukkan bahwa we’re sexist by nature. Akan tetapi jangan lupa, kita masih punya common sense, akal sehat dan pemahaman tentang kepatutan, serta konsensus sosial berupa hukum.

Silakan gunakan semua “senjata” tersebut untuk tidak mengakomodasi sifat-sifat seksis primitif bawaan. Merasa punya kecenderungan seksual yang membahayakan? Jelaskan kepada pasangan, diskusikan dengan gamblang dan terbuka. Apabila tidak bisa diterima dan dianggap merugikan, jangan ragu untuk konsultasikan hal ini kepada psikolog seksual. Susah? Iya! Mustahil? Jelas tidak, karena sudah ada banyak bantuan untuk itu. Masih tabu untuk membicarakannya? Jangan cari pembenaran dong, plis. Nanti kalau sudah kejadian macam-macam, baru mengaku khilaf.

Sekali lagi, ini enggak sesederhana analogi kucing dan ikan asin. Meskipun kucingnya 🐱 begini,

…atau ikan asinnya 🐟 seperti ini.

Lihat boleh (namanya juga sudah dipajang di Instagram), tapi pegang-pegang, apalagi elus, tunggu dulu. Iya, urusan ini memang pelik, dan memusingkan.

Oya, ini bonus. Biar lengkap mewakili semua gender di dumay ~ dunia maya. 😅😅😅

[]