#RekomendasiStreaming – Tontonan Libur Lebaran 2018 Yang Mencerahkan

Libur Lebaran tahun 2018 ini terasa sekali panjangnya ya?

Sepertinya baru kali ini ada gerakan libur bersama secara nasional yang cukup lama, dimulai hampir seminggu sebelum Lebaran, dan akan berakhir sekitar seminggu setelahnya. Bahkan beberapa instansi, baik kantor maupun sekolah, baru akan mulai beraktivitas lagi bulan depan.

Beberapa teman yang sudah berkeluarga mengaku cukup kelimpungan untuk mencari kegiatan pengisi waktu liburan bagi anak-anak mereka. Sementara saya yang memang tidak berkeluarga, paling cukup kelabakan kalau ditanya, “enaknya nonton apa ya? Film di bioskop sudah ditonton semua.”

Memang perbandingan jumlah film (baru) di bioskop dengan jumlah hari libur tidak berbanding lurus. Oleh karena itu, setelah menonton film-film Lebaran di bioskop, mungkin tidak ada salahnya kita kembali menundukkan kepala untuk melihat konten-konten yang ada di aplikasi video streaming yang kita punya. Tentu saja penundukan kepala ini terjadi kalau Anda menonton serial dan film pilihan saya ini di perjalanan mudik, atau perjalanan balik ke kota tempat beraktifitas. Kalau misalnya sedang dalam keadaan santai, ada baiknya #rekomendasistreaming saya kali ini ditonton beramai-ramai di televisi.
Hitung-hitung sambil memperkenalkan konsep video streaming ke sanak saudara yang mungkin belum familiar.

Jadi, buat yang siap menghabiskan waktu panjang untuk menghabiskan serial televisi, maka tontonlah …

Brooklyn Nine-Nine

Brooklyn Nine Nine

Mungkin ini adalah salah satu serial paling lucu saat ini. Dan yang saya maksud paling lucu adalah, it is genuinely funny. Berlokasi di markas polisi fiktif bernama distrik 99 di Brooklyn, New York, serial ini bercerita tentang keunikan masing-masing karakter penghuni distrik tersebut. Ada detektif Jake Peralta (Andy Samberg) yang selalu menggunakan insting yang salah. Lalu bosnya, komandan Ray Holt (Andre Braugher), yang selalu terjebak dalam image dirinya yang serius. Ditambah dengan rekan-rekan kerja mereka yang lebih suka bertingkah laku konyol dibanding memecahkan kasus kejahatan, serial ini tidak berpura-pura dalam menghadirkan kekocakannya. Sudah ada lima musim penayangan, masing-masing episode berdurasi sekitar 22 menit. Time flies when you’re having fun, and time files when you’re having fun watching something fun.

Mom

Mom

Saat ini sudah jarang sekali serial komedi situasi (sitcom) yang diproduksi dengan menggunakan teknik multiple camera. Apa itu teknik multiple camera? Mungkin dari segi teknis kita tidak bisa membedakan. Tapi ada satu elemen dari sitcom multiple camera ini yang jelas terlihat: ada suara orang tertawa di setiap joke yang dilontarkan. Bahasa kerennya, pakai laughing track.
Nah, dari sedikit serial dengan laughing track yang masih bertahan sampai sekarang, salah satunya adalah serial “Mom” ini. Kenapa saya rekomendasikan?
Karena fokus ceritanya yang tidak biasa. “Mom” berpusat pada hubungan ibu (Alison Janney) dan anak (Anna Faris), yang sama-sama bekas pecandu alkohol dan obat-obatan terlarang. Mereka benci satu sama lain, namun mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Setiap episode berpusat pada mereka, lalu pertemuan Alcoholic Anonymous dan makan seusai pertemuan tersebut bersama teman-teman mereka sesama mantan pecandu. Menemukan humor di sisi kehidupan yang terlihat kelam memang tidak mudah, namun serial ini melakukannya dengan sukses. Kita dibuat selalu tertawa, sambil tidak sadar bahwa kita sedang menertawakan getirnya kehidupan yang keras dan susah yang harus dilalui para mantan pecandu ini. Ada 5 musim penayangan, dengan durasi masing-masing episode sekitar 22 menit. Dan kita akan semakin jatuh cinta dengan ibu dan anak di setiap akhir episodenya.

Queer Eye

Queer Eye

Tanpa tedeng aling-aling, saya cuma mau bilang begini: I LOVE THIS SHOW!
Ini adalah reboot dari reality show yang cukup populer sekitar 15 tahun lalu, bertajuk “Queer Eye for the Straight Guy”. Konsep acaranya masih sama, yaitu 5 pria ahli kuliner, interior desain, etiket, busana, dan rambut secara kompak mendandani ulang, atau make over, pria-pria yang sebagian besar adalah heteroseksual. Secara langsung, saat 5 pria yang dikenal sebagai The Fab 5 ini melakukan make over, maka kehidupan pria lain yang mereka make over ini juga akan berubah drastis.
Yang saya suka dari reboot ini adalah penempatan logika yang pas di setiap episodenya. Tidak lagi berbicara soal perbedaan gay dan straight, yang juga masih penting ditempatkan di beberapa bagian cerita. Namun lebih dari itu, banyak pemikiran yang muncul saat mereka melakukan make over yang, terus terang, cukup menggugah saya.
Di salah satu episode, saat mereka mendandani seorang pria yang tidak punya waktu mengurus dirinya karena kesibukannya, salah satu anggota the Fab 5 cuma mengatakan, “It’s important for you to take care of yourself, because you’re not doing it to yourself, but also to your wife and your family. It’s important that you need to be the best version of yourself, because you cannot take them for granted. You want them to love you, so work on it.”
Mungkin kalimatnya tidak persis sama, tapi intinya adalah bahwa menjaga diri bukanlah sebuah kemewahan atau luxury, tapi sebuah keperluan, atau necessity, untuk menjaga sebuah hubungan.
Terus terang saya tidak terlalu suka menonton reality show. Tapi kalau ada reality show yang bisa membuat kita tertawa, tersenyum, dan akhirnya belajar menerima perubahan dalam hidup, I can’t recommend this enough.

Jika perlu selingan film panjang di sela-sela menonton serial-serial di atas, maka dua film ini bisa dipilih:

Bad Genius

Bad Genius

Ini bukan thriller biasa. Bagaimana sekelompok anak bisa mengelabui sistem ujian nasional di Thailand dan memperoleh keuntungan finansial dari situ, merupakan ide cerita gila yang mungkin jarang sekali bisa ditemukan di film-film dari negara-negara lain. Penggarapan filmnya pun sangat serius. Gaya film ini dibuat seperti film thriller papan atas, yang membuat kita semakin gregetan saat menontonnya. Meskipun tidak masuk dalam top 10 film tahun 2017, namun film ini termasuk sebagai salah satu film yang sangat menyenangkan untuk ditonton.

Hindi Medium

Hindi Medium

Masih berkutat soal pendidikan, namun dari sudut pandang lain. Film ini mengajak kita melihat bagaimana ketatnya persaingan untuk memasukkan anak ke sekolah bergengsi demi mendapatkan pendidikan terbaik. Termasuk pura-pura menjadi orang miskin, demi mendapatkan jatah penempatan murid dari kalangan underprivileged. Ide cerita yang sangat menarik, dan dikemas dengan penceritaan yang straight forward, dan menyentuh. Sebagai orang tua murid yang rela melakukan apa saja demi pendidikan anaknya, Irrfan Khan bermain sangat cemerlang. Salah satu film Hindi terbaik tahun lalu.

Semoga lima pilihan saya untuk tontonan Lebaran tahun ini bisa membuat pemikiran kita semakin terbuka dan tercerahkan.
Ada tontonan lain yang Anda ikuti selama libur Lebaran kali ini?
Share di komentar di bawah ya!

Advertisements

#RekomendasiStreaming – Desain Yang Membuat Hidup Lebih Hidup

(Pengantar:
Rencananya, sebulan sekali mulai bulan ini, akan ada tulisan dari saya tentang rekomendasi film atau serial yang layak ditonton lewat aplikasi video streaming punya Anda. Tulisan ini saya jadwalkan setiap dua Kamis sebelum Kamis terakhir. Jadi bisa Kamis minggu kedua atau minggu ketiga. Memang banyak sekali tulisan saya dan teman-teman lain di blog linimasa ini yang berbicara tentang rekomendasi film atau serial yang sudah kami tonton. Nah, untuk me’lembagakan’ jenis tulisan ini, maka saya jadwalkan, paling tidak buat rekomendasi saya pribadi, agar hadir secara rutin di waktu yang mudah-mudahan tidak meleset. Selamat membaca, lalu selamat menonton.)

• Jika hanya punya waktu untuk menonton satu film panjang di akhir pekan ini, maka tontonlah …

Saawariya

Film India produksi tahun 2007 ini terasa timeless. Baik ceritanya, apalagi gambar-gambar cantiknya. Bayangkan keindahan film Moulin Rouge! dengan tempo sepuluh kali lebih pelan. Bukan lambat, tapi pelan.

Diangkat dari cerita pendek “White Nights” karya sastrawan Rusia ternama Fyodor Dostoevsky, film ini mengadaptasi cerita tersebut ke suatu tempat di India yang tak bernama dan tak bermasa. Jadilah cerita fantasi romansa yang bermain dengan warna-warna yang menenangkan, tarian dan nyanyian yang tak menghentak, namun pelan-pelan bermain dengan emosi kita.

Sutradara film ini, Sanjay Leela Bhansali, memang terkenal dengan fllm-film visual extravaganza yang selalu dia buat. Namun di film Saawariya, dia membiarkan cerita mengalir bak aliran sungai yang tenang, seperti yang memang ada di film ini. Dua jam lebih tidak terasa. Anggap saja kita sedang terbuai mimpi di sini.

• Jika punya cukup waktu untuk menonton satu serial di akhir pekan ini, maka tontonlah …

Abstract

Simply put: saya jatuh cinta dengan serial dokumenter ini. Padahal saya tidak familiar dengan tema ceritanya, yaitu profil tentang desainer, mulai dari desainer grafis, desainer interior, sampai desainer mobil, dengan karya-karyanya.

Kenapa kok bisa sampai jatuh cinta? Karena di setiap episodenya yang cuma 42 menit, kita disuguhkan secara lengkap mulai dari profil sang desainer, cerita emosional di balik karya-karya masterpiece yang mereka hasilkan, sampai efek dari karya mereka terhadap kehidupan kita. Semuanya cuma dalam 42 menit per episode.

Tentu saja setiap episode menjadi sangat cepat ritme ceritanya, sehingga tak sempat mengkritisi sang seniman dan karyanya, dan membuat kita, orang yang awam terhadap desain, menjadi melek terhadap korelasi desain dan kehidupan manusia.

Cuma ada 8 episode. Dimulai dari Christoph Niemann, desainer grafis pembuat sampul majalah The New Yorker yang menggelitik, dan diakhiri dengan Ilse Crawford, desainer interior yang pernah menjadi editor majalah interior berpengaruh besar, Elle Decoration.
Di antara mereka ada desainer sepatu, desainer panggung konser, fotografer, arsitek, dan desainer mobil. Semuanya punya cerita unik, semuanya membuka mata dan pikiran kita.

Tak tanggung-tanggung, inilah serial favorit pertama saya tahun ini.

Selamat berakhir pekan bersama cerita-cerita ini ya!

CATAT: SI BOY TERNYATA MASIH MENCATAT!

“Siapa tak kenal dia / Boy anak orang kaya / punya teman segudang …”

Di pertengahan tahun 1980-an, tepatnya tahun 1987, siapa tak kenal lagu yang dinyanyikan Ikang Fawzi itu, yang hampir setiap saat jutaan remaja Indonesia (dan anak-anak seperti saya juga) mendengarkan lagu itu di radio.
Belum ada era video klip waktu itu, apalagi video viral. Cukup dengarkan di radio, request lagunya berulang-ulang, dan pergi menonton filmnya di bioskop.

Ya, lagu ini adalah lagu tema dari sebuah film fenomenal, judulnya “Catatan si Boy”. Diangkat dari drama radio yang ngetop waktu itu, yang disiarkan di radio Prambors.
Kalau Anda yang membaca ini masih bingung dengan istilah-istilah ini, maka mari saya terangkan runtutan lini waktu budaya pop Indonesia:

  • tahun 1962, televisi pertama di Indonesia mengudara, namanya TVRI (Televisi Republik Indonesia)
  • pertengahan tahun 1970-an, radio swasta mulai merebak
  • awal tahun 1980-an, drama radio mulai populer, salah satunya “Saur Sepuh”
  • pertengahan tahun 1980-an, eeeh … televisi kita kok masih satu juga!
  • pertengahan tahun 1980-an, film “Catatan si Boy” membuat remaja histeris, dan orang tua kaget. Alhasil, filmnya laris.

Kenapa film “Catatan si Boy” ini begitu menghebohkan?
Ibarat nona Awkarin di era sekarang, di pertengahan tahun 80-an, di mana internet belum ada, gaya hidup si Boy, yang diperankan Onky Alexander di awal karirnya, menjadi bahan pembicaraan banyak orang.
Dia ganteng, kaya raya, sopan, alim, ramah, suka menolong, baik hati, dan semua yang menjadikan si Boy ini nyariiis sempurna. Tapi kalau diajak ajojing di disko (aduh bahasanya!) dengan gaya dandanan yang kece dan perlente (maaf, istilah menyesuaikan jaman!), ya ayo aja.
Di mobilnya, yang selalu BMW seri terbaru, ada tasbih diuntai di depan. Tetap saja dia tak segan ciuman dengan pacar-pacarnya di dalam mobil itu.

Semua orang heboh.
Majalah sekaliber Tempo pernah memuat fenomena si Boy di depan sampulnya. Imam sholat Jumat di masjid pernah membicarakan si Boy, demikian pula dengan pendeta di khotbah Minggu.

Everybody talked about the Boy, everybody watched the Boy film, sampai ada empat sekuel dan satu film remake, and still even to date, everybody remembers the Boy.

In short, “Catatan si Boy” is Indonesia’s own major popular film franchise.

Tak heran kalau cerita dan tokoh si Boy ini masih terkenal sampai sekarang, 3 dekade setelah serial ini diluncurkan pertama kali.
Malah beberapa tahun lalu saya sempat heran, kenapa si Boy ini masih belum tersentuh oleh dunia televisi? Sedemikian sakralnya?

Tapi ternyata rasa penasaran saya terjawab oleh NET TV. Pekan lalu kami diundang oleh NET TV untuk menyaksikan episode pertama serial “Catatan si Boy”. Akhirnya, franchise ini masuk televisi kita juga.

Banyak detil kecil yang akan mengundang senyum penonton yang familiar dengan film si Boy. Misalnya, mobil yang dipakai Boy.
Lihat saja nanti plat mobil, atau tepatnya dua plat mobil di garasi rumah Boy. Lalu tasbih di dalam mobil Boy.
Dan juga teman-teman Boy. Semuanya masih persis sama seperti di film. Masih ada Kendi (Zidni Hakim), Nuke (Hana Prinantina), dan Vera (Melayu Nicole).

Teman-teman Boy yang seru!

Teman-teman Boy yang seru!

Bahkan, to my surprise, Boy masih mencatat dengan tulisan tangan!
Di saat adik Boy, Ina (Marsha Aruan), bersama sahabat Boy, Emon (Kresna Julio) sibuk menjadi vlogger, Boy masih menyempatkan menulis dengan tulisan tangan di bukunya. Bukan menulis di blog, seperti kami, atau kita semua.
Ada apa gerangan?

Si Boy yang masih rajin mencatat sampai sekarang!

Si Boy yang masih rajin mencatat sampai sekarang!

Sepertinya rasa penasaran ini bisa membuat kita akan terus menonton serial “Catatan si Boy” ini. Kebetulan diputar di NET TV setiap hari Sabtu dan Minggu, mulai tanggal 10 September, sehingga bisa ditonton dalam suasana yang relaxed, nyantai, dan tidak perlu mengernyitkan kening.
Tidak perlu juga membanding-bandingkan karakter Boy versi Onky Alexander, Boy versi Ario Bayu, dengan Boy yang versi sekarang, yang diperankan oleh Achmad Megantara.

Meet the new Boy: Achmad Megantara

Meet the new Boy: Achmad Megantara

Malah ada sesuatu yang baru waktu di acara peluncuran ini. Ayah Boy di serial yang sekarang diperankan oleh Leroy Osmani, yang di film “Catatan si Boy” menjadi musuh si Boy. Tentu saja, menjadi satu-satunya pemeran di film dan serial “Catatan si Boy” sekaligus, banyak hal yang bisa diceritakan beliau.
Salah satunya adalah, “Dulu, produser film tidak mau tokoh Boy diperankan oleh Onky. Mereka tidak percaya kalau Onky bisa memainkan Boy dengan baik. Mereka maunya bintang film lain, yang sudah ngetop waktu itu. Onky harus gedein badan, fitness, latihan. Tetap tidak mau. Sampai akhirnya sutradara, dan kami semua waktu itu, tetap ngotot kalau Onky yang paling pas memerankan karakter si Boy ini.”

Mungkin memang setiap era punya Boy masing-masing.
Jadi Boy era milenial yang masih rajin menulis ini adalah Achmad Megantara dan teman-temannya. Si Boy yang akan hadir setiap weekend langsung di rumah, ibarat pacar yang lagi ngapel.

Oh, yeah!

Separuh

Minggu ini, Linimasa genap berusia 6 bulan. Tepatnya hari Selasa kemarin, tanggal 24 Februari 2015. Tergantung dari perspektif, bisa saja Anda bilang “baru 6 bulan”, atau “sudah 6 bulan”.

“Baru 6 bulan” karena biasanya yang namanya ulang tahun diukur dari genapnya hitungan satu tahun yang ditandai dengan tanggal dan bulan yang sama tapi tahun yang berbeda, sedangkan ucapan “sudah 6 bulan” bisa jadi diucapkan karena, well, di jaman sekarang, apapun dalam bentuk digital yang bisa bertahan lebih dari 3 bulan bisa dibilang cukup bagus. Selain persaingan yang semakin hari semakin kompetitif, mempertahankan perhatian pembaca juga bukan sesuatu yang gampang.

Sudah lebih dari 180 hari kami hadir setiap hari menemani Anda … hampir setiap hari, ding. Akhirnya kami sempat absen selama dua Jumat yang lalu. Farah Dompas, yang sudah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi setelah cukup lama nggak ada yang memangku, mengalami jet-lag dan transisi adaptasi ke kehidupan baru yang membuat dia sempat jatuh sakit. Dari menggigil kedinginan di bawah nol derajat sehari-hari, laltu tiba-tiba harus lembur setiap hari dan membajak sawah di akhir pekan, membuat beliau ambruk.
Tapi jangan khawatir. Setelah masa istirahatnya dihabiskan dengan menonton film-film di Netflix, rasanya Farah sudah cukup segar lagi untuk kembali menulis secara rutin.

Dan rutinitas menjadi sesuatu yang sempat terhenti di Linimasa akhir-akhir ini, ketika popularitas cerita Ustadz Wadud karya Gandrasta melejit. Berhubung Fa berhalangan, maka cerita-cerita tersebut digilir secara berurutan, menggeser jadwal Glenn dan Roy. Ditambah dengan Dragono yang beberapa kali mengisi kekosongan Fa, maka saya sendiri sempat bingung, dan harus menanyakan ke grup kami, “Hari ini giliran siapa ya yang piket?”

Tapi saya pribadi melihat kejadian di atas sebagai jeda yang memang kami perlukan. Sesekali bolehlah rutinitas sedikit diacak. Toh di antara kami tidak ada yang benar-benar OCD memandang tulisan harus rapi setiap hari sesuai absen, seperti susunan buku dalam rak. Paling tidak, itu menurut saya, lho. Tidak dijamin juga kalau 6 penulis lain ternyata malah bertolak belakang dari apa yang saya perkirakan.

Maklum saja, kami tidak pernah bertemu beramai-ramai di dunia nyata.

Saya belum pernah ketemu langsung dengan Roy Sayur, Agun Wiriadisasra dan Farah Dompas. Ketemu Dragono Halim terakhir beberapa bulan lalu waktu ada kerjaan di Samarinda. Itu pertemuan kami ketiga, kalau tidak salah. Sudah lupa kapan terakihr ketemu Glenn Marsalim dan Gandrasta Bangko, meskipun kenal mereka sudah lama sekali, dan pernah ada masanya kami cukup sering bersua.

Linimasa diinisiasi Roy hanya bermodalkan perkenalan di dunia maya. Lantas obrolan kami bertujuh pun, berikut keputusan-keputusan mengenai pembagian hari, jadwal tulisan, serta rencana-rencana ke depan, cukup kami perbincangkan di grup WhatsApp. Kalau ramai, pernah terlewat sekitar 600-an pesan. Kalau sepi, bisa berhari-hari tak ada kicauan sama sekali. Apa yang kami perbincangkan? Apalagi kalau bulan tentang harta, wanita, tahta dan Anda. Namanya juga ngerumpi, yang diobrolin ya anything under the sun dong.

Kadang saya penasaran juga, kalau sudah ketemu di dunia nyata, apa bisa kami ngobrol seseru kalau ngobrol di dunia maya? Apa jangan-jangan malah jaim, karena malu-malu kucing? Padahal kucing di Lapangan Banteng dan Sarinah gak ada yang malu, karena kalau malu gak akan laku.
Tapi rasa penasaran itu tidak pernah sampai membuat saya memikirkan terlalu lama, karena rutinitas sehari-hari sudah menyibukkan kami. Apalagi dalam enam bulan terakhir, banyak perubahan yang sudah terjadi dari diri kami.

Gandrasta masih mengisi rumah sambil membagi waktu untuk bisa terus bercinta. Agun mengasuh keponakan sambil terus menjadi pengamat aktif musik dan film. Farah memonitor pergerakan media bagi beberapa korporasi. Glenn berkelana menjadi aktifis dan memberikan penyuluhan kepada berbagai lembaga masyarakat, sambil terus memasak. Dragono punya rencana besar dalam karir dan pendidikan yang sudah dia rintis, dan masih menjadi wartawan. Roy jatuh cinta dengan sepeda barunya yang dia naiki setiap hari, sebagai modal supaya kalau pensiun nanti tidak sering sakit. Saya sendiri, yang kebetulan the true underachiever di grup ini, kebetulan sedang menikmati kembali menghabiskan hari membaca buku-buku teori film seperti waktu kuliah lagi.

Baru semalam saya menonton episode terakhir serial “Parks and Recreation” yang akhirnya berhenti tayang setelah 7 seasons atau musim penayangan. Menonton series finale serial ini rasanya sama seperti menonton episode akhir dari serial-serial komedi Amerika lainnya yang sudah kita ikuti sekian lama. Ada bagian yang hilang, karena kita sudah menginvestasikan waktu kita untuk tumbuh bersama karakter-karakter yang sudah terlanjur kita cintai. Meskipun tidak setiap episode serial “Friends” atau “How I Met Your Mother?” kita sukai, atau bahkan ada satu atau dua musim penayangan serial itu yang bahkan tidak kita sukai, namun menghabiskan waktu bersama mereka sekian lama mau tidak mau membuat mereka secara tidak sadar sudah menjadi bagian dari hidup kita. Kita familiar dengan ciri khas karakter-karakter buatan itu. Kita tahu bagaimana cara Joey merayu, dan kita tahu apa ucapan khas Barney Stinson.

Friends

Friends

Terlalu awal dan mungkin muluk-muluk rasanya membandingkan Linimasa dengan scenario di atas. Tapi tidak berlebihan kalau kami ingin kehadiran kami bisa selalu mengisi waktu sarapan, makan siang dan ngopi sore Anda dengan manis. Anggap saja kami sedang berada di dekat Anda lewat tulisan, lalu kita sama-sama menghabiskan waktu bercanda dan bercerita.

Dan ketika sampai di ujung satu tulisan, akan selalu ada arsip tulisan lain yang menjadi teman Anda.

Enam bulan lagi Linimasa genap berusia setahun. Entah perayaan apa yang akan kami gelar. Kami hanya menunggu tren apa yang akan terjadi saat itu.

Yang jelas, kami hanya ingin menghabiskan waktu dalam cerita bersama Anda semua.

We love you all.

“Ini Bukan Ngomongin TV yang Sembiring Lho …”

… tapi tulisan ini ngomongin TV yang merupakan singkatan dari “televisi”.
Gak punya TV? Tapi punya komputer atau laptop ‘kan?

Soalnya jaman sekarang, kita yang bisa baca blog ini gak perlu TV beneran buat nonton acara TV. Kehadiran layar TV bisa diganti dengan laptop.
Yang penting adalah ada koneksi internet untuk mengunggah atau download serial TV, dan harddisk untuk menyimpan file hasil download serial TV itu.

Gak percaya?

Gak perlu jauh-jauh kalo masih in denial.
Buka Twitter atau Path atau socmed yang Anda buka setiap 2 jam sekali.
Pasti komentar-komentar seperti ini sering kita jumpai:

“Perhatian! “Game of Thrones” episode 2 season 4 sudah tersedia di lapak terdekat.” (Lapak artinya situs buat download torrent episode yang dimaksud. Apa itu torrent? Tanya ke yang bikin status itu aja.)

“Payah nih. “Suits” kok cepet banget sih abisnya season ini? Gak ada tujuan hidup lagi sekarang.” (Gak usah keburu bersimpati. Udah move on kok 6 jam kemudian karena dapet serial lain.)

“Aduh, mas Harry! Mas Harry! Bikin menggelepar ini. Pengen lari-lari ke pantai ama mas Harry!” (Sempet kepikir, perempuan-perempuan ini kok ya segitu ngefans ama Harry tetangga saya. Kenal juga enggak. Ternyata ini nama karakter di serial “Mistresses” yang hobinya gak pake baju.)

Berbagai celetukan di atas ini semakin memperkuat banyak pendapat analis, kritikus sampai pelaku bisnis TV di luar Indonesia tentang masa keemasan program televisi yang kita alami saat ini.
Rata-rata memuji tentang kekayaan cerita dan karakter di serial-serial TV yang njelimet, gak plek-plek baik terus, bisa berbuat jahat untuk kebaikan (anti-hero complex), dan yang jelas, bikin kita betah dan penasaran untuk mengikuti setiap episode.
Malah ada tulisan James Wolcott dua tahun lalu di Vanity Fair yang terang-terangan bilang kalo “TV is Better Than Movies”.

Oh, really?

Mari kita kesampingkan sejenak perdebatan tak kunjung habis itu.

Mari kita ketemu Wawa, teman nonton di bioskop dulu, jaman masih agak mudaan.

Setiap kali ketemu yang cuma setahun sekali, kita sering ngobrol ngalor-ngidul, dan salah satunya saling update tentang film terakhir yang ditonton.
Kebetulan karena tempat tinggal saya dekat dengan bioskop. Tinggal jalan kaki 10 menit, maka saya masih bisa menyempatkan diri untuk nonton film-film terbaru.

“Kalo elo, Wa?”

“Udah gak inget, Val. Udah lama banget.”

“Oh, gitu. Kalo TV series, Wa?”

Tiba-tiba mukanya cerah ceria, sumringah luar biasa.

“Iya, Val! Gue ngikutin “Breaking Bad” kemarin. Wah, edan! Seru banget. Trus “24” yang baru juga seru. Kadang nemenin Nisa (istrinya) nonton drama-drama kayak “Downton Abbey” gitu, eh malah gue ketagihan juga nontonnya. Hahaha.”

“Hah? Busyet. Elo jadi suka nonton serial gitu, Wa?”

“Soalnya anak gue ‘kan masih kecil. Di rumah gak ada pembantu, jadi abis kerja ya langsung pulang ke rumah bantuin istri. Makin males pergi-pergi ke luar. Apalagi kalo hujan, macet. Dan mahal.”

Deg.
Kalau sudah menyangkut masalah uang dan waktu, pemikirannya jadi lain nih.
Lalu saya iseng berhitung a la kadarnya.
Lokasi bioskop kebanyakan ada di dalam mal atau pusat perbelanjaan. Masuk ke mal, perlu parkir. Perlu waktu untuk cari spot dan keluar dari parkiran pas pulang lalu perlu uang untuk bayar parkir.
Mumpung di mal, sekalian belanja yang perlu dibeli, kalau emang perlu dan belum ngomongin belanjaan lain hasil kalap mata, atau sekedar hangout.
Harga tiket film di bioskop 50 ribu buat satu orang. Satu keluarga 200 ribu. Parkir bisa 20 ribu, belanja dan lain-lain bisa 1 juta.
Waktu nonton satu film 2-3 jam, ditambah cari parkir dan keluar dari tempat parkir 30 menit, lalu waktu untuk belanja ditambah 2-3 jam lagi. Itu belum kalo kena macet.

Sementara televisi?
Anda mau mandi atau gak mandi, bebas.
Tinggal pake kaos longgar, celana pendek, cemilan satu keranjang, colokin external harddisk ke TV, beres. Kapan aja mau marathon serial, bebas.
Dan bisa nyalain smartphone secara bebas, buat update reaksi per episode, atau sekedar pamer.
“Aduh, besok pagi-pagi meeting, tapi gimana ini, tanggung banget “House of Cards” gak bisa berhenti!”
Lumayan, dapet icon ketawa dan lope-lope dari temen-temen di Path.

Tapi lebih dari sekedar update status di jaringan media sosial, ketergantungan kita dengan smartphone dilirik dengan cantik oleh Hollywood. Lihat saja akun twitter @ScandalABC atau @AskScandal.
Setiap episode serial “Scandal” ini ditayangkan pertama kali di Amerika Serikat, maka seluruh aktor dan aktris yang terlibat di episode itu akan berinteraksi langsung dengan pengguna Twitter.
Apa yang dibahas? Setiap dialog di setiap adegan. Kedua akun itu pun menyebutkan merek baju dan aksesoris yang dipakai. Spoiler pun dibahas terang-terangan.
Gak mau dengerin spoiler? Mereka pun kasih peringatan. “Stay off Twitter now!”
Tapi ya namanya juga manusia, makin dilarang, makin penasaran. Tetep aja serial ini jadi salah satu serial paling banyak ditonton dan direkam di Amerika Serikat tahun lalu.

Sementara itu, di perhelatan Emmy Awards minggu lalu, saya tergelitik dengan monolog pembawa acaranya, Seth Meyers. Ini katanya:

“That’s what I love about television. She doesn’t play hard to get. She doesn’t demand your full attention. Television has always been the booty-call friend of entertainment. You don’t have to ask TV ‘you up?’ TV is always up. She’ll happily entertain you while you cook dinner or wrap your Christmas presents. She’s not like that high-maintenance diva movies who expects you to put on pants and drive all the way over to her house and buy $40 worth of soda. So thanks anyways, movies, but I’m sticking with TV.”

 

Dear Seth, can we stick to both?

Because we actually can.