Tebak-tebak Buah Manggis si Emmy vol. 3

Ternyata sudah kali ketiga saya menulis tentang prediksi peraih Emmy Awards di linimasa ini. Kalau ini serial televisi, maka tulisan ini adalah tulisan musim penayangan atau season ke-3. Sementara linimasa-nya sendiri sudah masuk ke season ke-5. Tidak terasa ya, waktu cepat berlalu.

Dan yang tidak terasa juga adalah serial-serial televisi yang absen, lalu muncul kembali, atau sudah berhenti penayangannya. Tidak terasa, karena dengan banyaknya konten tayangan di berbagai kanal dan aplikasi, kita tidak sempat lagi menangisi atau merenungi kepergian tayangan serial kesukaan kita. Kenapa? Karena dengan banyaknya pilihan yang ada, kita langsung mengalihkan pilhan kita ke acara atau serial lain. Begitu mudahnya, begitu cepatnya.

Setiap tahun ada banyak serial baru yang diproduksi dan ditayangkan. Lebih banyak serial baru yang masuk daripada serial lama yang berhenti. Kalaupun tidak berhenti, paling tertunda penayangan musim terbarunya. Dan ini membuat kita hidup di era di mana kita sudah tidak sanggup lagi untuk benar-benar bisa catch up mengikuti satu per satu episode serial yang ada. Waktu kita terbatas.

gq-bill-hader

Barry (source: GQ)

Kalau sudah begitu, maka jangan abaikan personal taste atau kesukaan diri sendiri. Tontonlah apa yang kalian rasa perlu untuk ditonton, dan yang juga penting, yang memang kita sukai. Bagi saya, kalau saya sudah terpikat dengan karakter dan dunia mereka dalam serial tersebut, maka susah buat saya untuk berpaling. Meskipun itu harus menunggu lama di antara musim penayangannya.

Demikian pula dengan serial-serial baru yang mungkin dipuji banyak kritikus luar negeri, tapi tidak terasa dekat dengan saya. Terutama setelah ditonton beberapa episode, saya belum bisa menikmatinya juga.

Maka dari itu, jujur saja, dari nominasi perhelatan 70th Primetime Emmy Awards tahun ini, saya belum bisa menikmati penuh “Atlanta” sebagai serial komedi. Demikian pula dengan “Westworld” season ke-2 yang membuat saya sibuk mengernyitkan kening di hampir semua episode, mencoba mencerna apa yang sedang saya tonton. Meskipun masih powerful, tak urung ada beberapa momen di “The Handmaid’s Tale” season ke-2 yang, mau tak mau, menimbulkan pertanyaan di benak saya.

culturewhisper-gianniamericancrime

The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story (source: Culture Whisper)

Sementara di sisi lain, saya langsung tertawa terbahak-bahak di episode pertama “Barry” dan “The Marvelous Mrs. Maisel”. Dan ternyata rasa senang itu berlanjut sampai di penghujung masing-masing serial tersebut. Meskipun tidak sebaik “The People vs OJ Simpson”, namun saya masih menikmati “American Crime Story” kali ini, yang terfokus pada cerita pembunuhan desainer Gianni Versace.

Pada akhirnya, pilihan saya di bawah ini adalah murni pilihan personal. Bukan analisa prediksi kuantitatif dan kualitatif, tapi pilihan saya yang memang menyukai apa yang saya tonton dan apa yang saya pilih.

Semoga pilihan kita berbeda, ya. Kalau sama, juga nggak masalah.

Ini dia:

• Best Comedy Series: The Marvelous Mrs. Maisel
• Best Lead Actor, Comedy Series: Bill Hader – Barry
• Best Lead Actress, Comedy Series: Tracee Ellis Ross – Black-ish
• Best Supporting Actor, Comedy Series: Brian Tyree Henry – Atlanta
• Best Supporting Actress, Comedy Series: Betty Gilpin – GLOW

• Best Drama Series: The Americans
• Best Lead Actor, Drama Series: Matthew Rhys – The Americans
• Best Lead Actress, Drama Series: Keri Russell – The Americans
• Best Supporting Actor, Drama Series: David Harbour – Stranger Things
• Best Supporting Actress, Drama Series: Vanessa Kirby – The Crown

• Best Limited Series: The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Lead Actor, Limited Series or TV Movie: Darren Criss – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Lead Actress, Limited Series or TV Movie: Laura Dern – The Tale
• Best Supporting Actor, Limited Series or TV Movie: Edgar Ramirez – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story
• Best Supporting Actress, Limited Series or TV Movie: Judith Light – The Assassination of Gianni Versace: American Crime Story

Berbeda dari biasanya, Emmy Awards tahun ini akan diadakan hari Senin malam waktu Amerika Serikat, atau Selasa pagi waktu Indonesia. Belum ada informasi di mana akan ditayangkan acara ini. Toh kita masih bisa selalu memantau perkembangannya lewat Twitter.

telegraphUK_crown2

The Crown (source: The Telegraph UK)

Selamat menonton!

😉

Advertisements

Berikan Kekuatan Untuk Bisa Bertahan, Ya Tuhan …

Baru beberapa hari yang lalu saya menamatkan menonton serial “Feud”. Miniseri 8 episode ini dibuat oleh Ryan Murphy, pembuat serial “Glee”, miniseri “American Crime Story: The People vs OJ Simpson”, serial “American Horror Story”, dan masih banyak yang lain.

Rencananya “Feud” ini akan selalu dibuat setiap tahunnya. Semuanya akan menampilkan fokus perseteruan antara dua pesohor ternama yang publik (baca: penonton televisi Amerika) banyak ketahui.
Makanya, di musim penayangan pertama ini, cerita “Feud” memfokuskan diri pada perseteruan antara dua bintang besar Hollywood di era tahun 1930-an sampai awal 1950-an, yaitu Bette Davis dan Joan Crawford.

Untuk teman-teman yang memang penggemar film-film klasik, kedua nama ini sudah tidak asing lagi. Namun bagi teman-teman yang belum tahu, Bette Davis dan Joan Crawford bisa disebut sebagai, erm, Taylor Swift dan Katy Perry untuk perfilman Hollywood waktu itu. Keduanya sama-sama tough, strong minded, mampu bertahan di tengah dominasi serbuan bintang-bintang muda lainnya, dan mempunyai etos kerja yang tinggi. Tak heran, ketika keduanya dipersatukan untuk membintangi film What Ever Happened to Baby Jane? di tahun 1962, media dan publik kala itu “pecah”.

(source: The Hollywood Reporter)

Dua orang dengan watak keras kepala yang sama, yang terbentuk dari kebiasaan kerja keras selama puluhan tahun, bertemu dalam satu film. Tidak ada yang mau mengalah. Perseteruan mereka bukan karena mereka membenci satu sama lain, tapi karena mereka tahu bahwa mereka harus mengalahkan satu sama lain untuk menjadi yang terbaik, yang paling menonjol.
Apalagi film ini menandai kebangkitan mereka, karena sebagai aktris senior, mereka sudah jarang mendapat panggilan untuk main film lagi. Paling tidak, sudah tidak sesering waktu mereka masih muda.

Dan di sisi inilah miniseri ini menarik perhatian saya. Tentang ageism. (Apa ya padanan bahasa Indonesia yang paling pas?)

Tema ageism atau perlakuan diskriminasi terhadap orang lanjut usia ditampilkan dengan baik di miniseri “Feud” ini. Di industri hiburan yang memang ‘kejam’ dan cenderung berpihak pada penampil yang masih muda, kesempatan untuk para seniman tua berkarya semakin lama semakin berkurang.

Dalam miniseri ini, dan di kehidupan nyata, Joan Crawford terlihat kesulitan menghadapi kenyataan bahwa tidak ada lagi peran-peran yang menarik yang menghampirinya, tidak seperti di masa jayanya. Dia harus ‘rela’ berperan di film-film horror murahan, dan tidak mau terlihat tua di depan layar atau di depan publik. Saat sebuah koran memuat foto dirinya yang terlihat menua, dia memutuskan untuk berhenti berakting atau tampil di depan umum sama sekali, sampai dia meninggal di tahun 1977.

(source: Daily Mail)

Bette Davis ‘sedikit’ lebih beruntung. Sadar bahwa dia tidak pernah mengandalkan kecantikannya, dia masih terus bekerja sampai akhir hayatnya. Kesehatannya yang menurun tidak menghalanginya. Peran sekecil apapun, termasuk beberapa rencana serial televisi yang selalu gagal, dikerjakannya sambil menelan ego besarnya dalam-dalam. Tentu saja dia masih berkeluh kesah terhadap perlakuan tidak adil yang diterimanya. Atau buruknya film-film yang dia kerjakan. Namun dia ingin membuktikan bahwa dia masih bisa terus berkarya.

Film What Ever Happened to Baby Jane? yang mereka bintangi bersama memang sukses keras di pasaran. Bette Davis masuk nominasi Oscar lewat film ini. Nama Bette Davis dan Joan Crawford sempat melambung lagi, meskipun tidak lama. Lagi-lagi karena keterbatasan availability roles buat mereka.

Sepanjang miniseri ini, diam-diam ternyata ada pertanyaan yang menyeruak di benak saya, “Siapkah kita menua?”

Dulu saya suka bercanda dengan teman-teman saya, kalau ada yang memanggil dengan sebutan “pak” atau “bapak” ke saya dan sesama teman pria, atau “bu” dan “ibu” ke teman-teman perempuan. Rasanya risih. Lalu pasti protes. Atau berusaha dandan lebih muda dari umur.

Namun sekarang? Meskipun masih berusaha berpakaian sesantai mungkin, karena pekerjaan tidak mengharuskan untuk memakai seragam, ditambah olahraga rutin, ternyata frekuensi penyebutan panggilan “mas” atau “kak” sudah jauh lebih berkurang. Malah hampir tidak ada. Rasanya sedih, tapi cuma bisa sedih dalam hati. Soalnya kalau sedih di muka umum, nanti ada yang merekam lalu diunggah ke media sosial sampai jadi viral.

Kita tidak bisa melawan penuaan. We cannot beat aging, but we only have to deal with it.

(source: Feminist Current)

Susah? Itu pasti. Apalagi kalau sudah ada obrolan “kayaknya baru kemarin ya kita lulus SMA” dan sejenisnya. Semakin tua, semakin cepat rasanya waktu berlalu. Kejadian yang sudah lewat 15 tahun silam serasa seperti baru terjadi dua minggu yang lalu.

Toh time will never wait for anyone. Untuk kita semua yang angka umur semakin melaju melebihi kecepatan kita menyadarinya, kita harus siap kalau nanti kemampuan motorik kita semakin menurun, makan sedikit cepat membuat badan lebih menggemuk, sesekali lupa akan nama teman lama, dan kesempatan berkarya kita makin terbatas.

Apakah kita pasrah? Jawabannya adalah “ya” dan “tidak”.
Never mind our beauty will fade, tapi selama panca indera kita masih bekerja, maka kita masih bisa belajar. Belajar mengikuti perkembangan alam, perkembangan teknologi terbaru. Belajar untuk tidak menyusahkan yang lebih muda. Belajar bahasa mereka, meskipun bukan berarti kita harus berbicara bahasa yang sama. Membaca. Baik itu membaca alam, membaca perubahan, atau membaca buku untuk terus mengasah otak dan akal kita.

Just because we lose our youth, that does not mean we have to lose our mind.

Sepuluh Serial (Televisi) Yang Paling Membuat Betah Ditonton di Tahun 2016

Tulisan “televisi” di judul memang sengaja saya taruh dalam tanda kurung. Kenapa? Karena batasan televisi saat ini sudah bukan berarti tayangan broadcast yang kita terima di kotak, atau sekarang layar tipis, yang biasanya diletakkan di ruang tamu. Kita menonton serial televisi bisa dari gawai: ponsel, tablet, laptop.

Sebelum tidur biasanya saya menonton sebentar di ponsel, lalu pause, dan aplikasi akan mengingat posisi terakhir tontonan tersebut saat saya mengaksesnya melalui televisi lewat alat bantu streaming box. Kita yang menentukan sendiri apa yang mau kita tonton, dan kapan kita mau menonton.

Serial bagus lainnya yang saya tonton, but does not make the cut here: Westworld.

Serial bagus lainnya yang saya tonton, but does not make the cut here: Westworld.

Lalu perhatikan lagi judul tulisan yang Anda baca sekarang ini.

Sengaja saya gunakan kata “yang paling membuat betah ditonton” untuk ‘sekedar’ mengganti kata-kata ‘top 10’ atau ’10 yang terbaik’. Sebenarnya ini sempat membuat saya kepikiran. Terutama dalam menyusun daftar yang segera Anda baca.

Apa yang membuat saya memilih serial A dibanding serial B? Padahal keduanya sama-sama ditonton. Lalu kenapa serial A posisinya lebih tinggi? Lebih prestisius?

Serial bagus lainnya yang saya tonton, but does not make the cut here: Masters of Sex

Serial bagus lainnya yang saya tonton, but does not make the cut here: Masters of Sex

Tidak gampang memang menyusun daftar seperti ini. Saat mulai menyusunnya pun, saya jadi sadar, bahwa saya menghabiskan banyak waktu untuk menonton tayangan televisi. Terlalu banyak? Bisa jadi. Apakah saya menyesal? Tidak sama sekali.

Dan di saat saya sadar bahwa saya tidak menyesali waktu yang dihabiskan untuk menonton serial-serial inilah, saya tahu bahwa serial-serial ini mempunyai kekuatan storytelling, atau bertutur cerita, yang membuat kita betah untuk mengikutinya.

Mengikuti serial televisi seperti mengundang orang masuk ke ranah pribadi kita. Ke ruang tamu kita. Ke tempat tidur kita. Kita jadi familiar dengan karakter-karakter rekaan tersebut.

Serial bagus lainnya yang saya tonton, but does not make the cut here: Mom.

Serial bagus lainnya yang saya tonton, but does not make the cut here: Mom.

Jadi pada akhirnya, daftar ini hanya memuat sepuluh serial yang membuat saya senang mengikutinya. Setia menunggu setiap minggu untuk melihat kelanjutannya. Setia menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton semua episodenya. Dan semuanya diakhiri dengan senang karena telah menghabiskan waktu bersama mereka.

Silakan dibaca, dan ditonton:

10. Black Mirror – Season 3

Black Mirror

Black Mirror

I don’t know how Netflix does it, or what Netflix executives influence the series’ showrunners. Tapi musim penayangan terakhir serial “Black Mirror” tahun ini mempunyai pace yang berbeda dari dua musim sebelumnya. Masih relevan dengan situasi sekarang. Masih sesuai dengan keadaan kita sekarang yang terobsesi dengan dunia digital. Tetapi setiap episode di season 3 ini mempunyai keunikan sendiri. Dan rasanya tidak berlebihan kalau episode ke-4, “San Junipero”, is the finest hour of television this year. Siap-siap selalu bernyanyi “Heaven is a Place on Earth” sesudahnya.

 

9. Timeless – Season 1

Timeless

Timeless

Serial “Timeless” ini seperti antitesis dari kebanyakan serial serius lainnya: it is fun, fun and fun. Memang genre-nya drama. Fokusnya ke petualangan menjelajah waktu. Dan disitulah kenikmatannya: ini jenis serial old school adventure, di mana kita bisa menikmati tanpa berpikir terlalu banyak, sambil tetap mendapatkan trivial knowledge tentang sejarah dunia. Mulai dari petualangan Perang Dunia ke-2, sampai nyaris gagalnya pendaratan manusia pertama di bulan di tahun 1969. Selalu seru ditunggu setiap minggu. (Terlalu memaksakan untuk berima? Begitulah.)

 

8. Gilmore Girls: A Year in the Life

Gilmore Girls: A Year in the Life

Gilmore Girls: A Year in the Life

Enam belas tahun setelah serial “Gilmore Girls” mulai, dan sembilan tahun setelah episode terakhirnya ditayangkan, saya sangat menunggu serial cerdas ini. Karakter-karakter utamanya dibuat sangat percaya diri. Omongan mereka selalu berisi. Dan yang lebih penting, storytelling. Selalu ada cerita dari setiap karakter, terutama empat karakter utama. Menemukan mereka lagi setelah hampir satu dekade seperti menjumpai teman lama, atau saudara jauh. Mind you, saya termasuk yang tidak suka dengan ending mini seri empat episode kali ini. Namun seperti layaknya teman lama atau saudara jauh, nobody’s perfect. Nothing is. Toh itu tidak membuat kita berhenti mencintainya dan mencintai mereka. Once you love Star Hollow and its residents, you will love the city and its people forever.

 

7. Narcos – Season 2

Narcos

Narcos

Lebih brutal, lebih keras, dan lebih engaging. Setelah kita diperkenalkan dengan karakter-karakter utama di season 1 “Narcos”, maka musim penayangan kali ini lebih fokus ke usaha menangkap Pablo Escobar. Banyak adegan action yang justru memperlihatkan betapa seriusnya serial ini digarap, dan diriset dengan baik. Entah kenapa serial ini diperpanjang sampai dua musim penayangan lagi, karena kita tahu pada akhirnya bagaimana cerita ini berakhir. But hey, any surprises are always welcome.

 

6. This is Us – Season 1

This is Us

This is Us

Premis awal serial “This is Us”, yang sengaja dibuat menyesatkan kita, memang menarik. Cerita tentang enam orang yang lahir pada tanggal yang sama. Namun setelah twist cerita dibeberkan di penghujung episode pertama, pertanyaan berikutnya adalah “what’s next?”. Dan kita semakin kaget dengan twist cerita di episode-episode selanjutnya. Anehnya, semuanya dikemas dalam feel-good drama, beberapa memang sengaja dibuat untuk membuat kita merasa terharu. Toh di tengah carut marutnya dunia, serial ini berusaha untuk menjadi positif apa adanya. And yes, every hour of each week spent watching this series is a time well spent.

 

5. Veep – Season 5

Veep

Veep

Mungkin serial ini yang bikin bukan manusia. Entah bagaimana, kok ya bisa serial “Veep” ini bertambah lucu di setiap musim penayangannya. Padahal showrunner atau produser kreatif musim ini berganti orang. Dan ceritanya masih berkutat di hal yang sama. Tapi itu tidak mengurangi kelucuannya sama sekali. Malah jauh lebih gila. Julia Louis-Dreyfus memang layak diganjar Emmy Awards lima tahun berturut-turut. Tak pernah sedikit pun kita bosan melihatnya, atau melihat karakter-karakter lain yang memang kocak. Salah satu komedi terbaik yang pernah ada di televisi.

 

4. Fresh Off the Boat – Season 2 & 3

Fresh Off The Boat

Fresh Off The Boat

Finally. Akhirnya setelah mengikuti selama ini, serial “Fresh Off the Boat” baru masuk ke daftar ini sekarang. Kenapa? Karena cerita keluarga imigran asal Taiwan ini sudah menemukan akarnya, justru di Amerika. Lepas dari segala kecanggungan adaptasi budaya, keluarga Huang sekarang berusaha untuk embrace their home di Orlando. Dan masih tetap lucu. Penampilan Constance Wu tetap menjadi daya tarik utama, meskipun anak-anak yang beranjak remaja sekarang akan mulai mencuri perhatian.

 

3. The Crown

The Crown

The Crown

Serial paling indah tahun ini. Apa ya terjemahan yang paling pas untuk kata majestic? Yang jelas, kata itulah yang paling pas menggambarkan serial “The Crown” ini. Indah, dan humanis. Episode favorit saya adalah saat Ratu Elizabeth II mengakui ke tutornya bahwa dia tidak pernah mendapat formal, dan selalu merasa tertinggal dalam hal ilmu pengetahuan. Who knew?

 

2. American Crime Story: The People VS OJ Simpson

American Crime Story: The People vs OJ Simpson

American Crime Story: The People vs OJ Simpson

Meskipun tayang di awal tahun 2016, namun miniseri ini masih menyisakan kesan mendalam. “The People vs OJ Simpson” masih berkutat di teori bahwa there is always so much to tell beneath a story we already know, namun itu masih membuat kita membelalakkan mata. Ternyata banyak cerita yang belum kita tahu dari berita yang sudah kita tahu. Selain itu, rasanya tidak ada miniseri lain tahun ini dengan performa dari setiap aktor yang nyaris sempurna semuanya. The best miniseries of the year, by far.

 

1. Stranger Things

Stranger Things

Stranger Things

Saya tidak pernah menonton keseluruhan serial satu season dalam sekali tonton seharian … sampai serial ini hadir. The child in us jumps out in joy watching it. Mengambil bagian-bagian terbaik dari cerita-cerita Stephen King, film-film buatan Steven Spielberg di awal 1980-an, dan menggabungkannya menjadi satu film panjang seperti “Stranger Things” ini is nothing but genius. Kalau Anda belum menonton, then you know what to do in this holiday month.

Jalan-Jalan Jelajah Jaman

Salah satu jenis tontonan seru di televisi yang paling suka adalah serial tentang time-traveling, atau perjalanan menjelajah waktu. Biasanya karakter-karakter utama di serial ini akan pergi dari setting masa kini ke masa lalu, atau ke masa depan. Misi yang diemban para karakter biasanya sama, yaitu memperbaiki masalah, agar sejarah tidak berganti (untuk yang pergi ke masa lalu), dan mengintip keadaan yang akan datang untuk memperbaiki situasi sekarang (untuk yang pergi ke masa depan).

Template cerita seperti ini sudah banyak digunakan di banyak serial televisi. Yang paling bertahan lama adalah serial “Doctor Who” dari Inggris, yang sudah ditayangkan dari tahun 1960-an, dan masih bertahan sampai sekarang. Dan bisa dipastikan semua serial atau cerita superhero pasti mengambil alur cerita time traveling ini. Tujuannya tentu untuk menyelamatkan korban. Mulai dari “Smalville” sampai “Supergirl”, apalagi “The Flash”, pasti ada bagian cerita para pahlawan rekaan ini pergi menjelajah waktu.

Doctor Who

Doctor Who

Saya mulai memperhatikan alur cerita ini waktu menonton serial “Star Trek” tahun 1960-an yang pernah ditayangkan ulang di salah satu stasiun televisi swasta kita. Lalu pernah ada juga serial “Time Trax” yang sempat ditayangkan sesaat. Kedua serial ini, dan banyak serial serupa lainnya, sama-sama memperlihatkan para tokoh utamanya pergi bolak-balik antara masa kini dan masa depan.

Namun perhatian saya baru benar-benar tercurahkan penuh saat serial “Quantum Leap” hadir. Serial ini menceritakan mis-adventure Dr. Sam Beckett atas malfungsi mesin waktunya, sehingga setiap hari dia bangun mendapati dirinya sebagai orang lain di masa lalu. Tak peduli dia lelaki, perempuan, anak kecil, orang tua, remaja, Caucasian, Asian, Black, dan di negara mana saja. Dia ditemani Al, pria dalam bentuk hologram yang hanya bisa dia lihat. Tujuan Dr. Sam Beckett dan Al berkelana adalah untuk memperbaiki hidup orang agar lebih baik, selama tidak mengubah sejarah. Sampai akhirnya saat Dr. Sam Beckett bangun sebagai dirinya sendiri, maka serial ini berakhir.

Quantum Leap

Quantum Leap

Saking sukanya sama serial ini, saya sampai hapal kalimat-kalimat pembuka di setiap episode. “Theorizing that one could time travel within his own lifetime, Dr. Sam Beckett led an elite group of scientists into the desert to develop a top secret project, known as Quantum Leap.” Saya rela memotong waktu tidur siang di hari Minggu supaya tidak ketinggalan menonton serial ini.

Sekarang, ada satu serial baru di televisi Amerika yang sedang menjadi kesukaan saya. Judulnya “Timeless”. Serial ringan, senada dengan “Quantum Leap”. Ceritanya sederhana: ada tiga orang, yaitu ahli sejarah, detektif, dan ilmuwan, yang direkrut untuk menangkap penjahat yang sering berpindah-pindah waktu.
Sejauh ini kita sudah dibawa mereka ke jaman penembakan Presiden Abraham Lincoln, rencana bom nuklir awal tahun 1960-an, skandal Watergate, sampai bertemu Ian Fleming, penulis serial James Bond, waktu masih menjadi agen rahasia di Perang Dunia ke-2. Benar-benar tontonan yang seru, tidak membuat kita mengernyitkan kening, namun banyak informasi trivial yang membuat kita tersenyum. Apa itu? Tonton saja sendiri.

Timeless

Timeless

Dan memang tema time travel sedang cukup digemari. Paling tidak ada beberapa serial baru dan tidak terlalu baru yang sejenis. Ada “12 Monkeys” dan “Outlander” yang sudah masuk musim penayangan ke-3, ada juga “Frequency” yang masih baru saja ditayangkan mulai beberapa bulan yang lalu, yang diangkat dari film berjudul sama.

Kadang-kadang saya suka penasaran, apa ya yang membuat tema time travel ini banyak digemari?
Satu yang pasti, adalah escapism. Cukup menyenangkan untuk pergi barang 1 jam keluar dari kenyataan kita sehari-hari. Memang sejatinya semua tontonan adalah karya fiksi, tapi dengan setting cerita yang berbeda dari keseharian kita, maka semakin terasa perbedaan antara kehidupan nyata dan yang kita lihat.

Frequency

Frequency

Lalu yang kedua, yang juga saya amini, adalah karena di setiap cerita perjalanan masa lalu, kita sudah tahu apa hasil akhirnya. Kita tahu bahwa JFK pasti ditembak dan meninggal. Kita tahu bahwa Hitler akhirnya mati dan Jepang menyerah di akhir Perang Dunia II. Yang menjadi seru pada akhirnya adalah cerita how to get to the end, and not about the ending. Petualangan mencapai tujuan akhir cerita yang akhirnya menjadi bagian dari sejarah yang seru untuk diikuti.

Dan yang termasuk dari petualangan itu adalah the look of certain period of time, apa yang menjadi tren saat itu, yang hanya kita bisa lihat di foto atau arsip, sekarang tampak hidup meskipun hanya di layar kaca. Membuat kita sebagai penonton semakin berandai-andai dalam menjalani hidup saat itu.

Is time travel possible?

Is time travel possible?

Kalau saya bisa time travel sesaat, sehari saja untuk bisa melihat langsung, menghirup napas dan menjalani hidup sebentar saja di masa lalu, maka secara acak, saya ingin mengalami langsung suasana-suasana berikut:
– malam minggu di pusat Jakarta tahun 1973 bersama anak-anak muda saat itu;
– pagi hari tanggal 1 Oktober 1965;
– siang hari tanggal 1 Oktober 1966;
– menikmati senja di Bali tahun 1959;
– hari pernikahan ayah dan ibu saya; dan,
– bertemu Naoko Nemoto tahun 1960 di Tokyo.

Kalau Anda?

Bersatu Untuk Bernostalgia Yang Seru Demi Masa Depan Yang Bermutu

Selama seminggu terakhir ini, saya lagi getol-getolnya mantengin Twitter dan Snapchat untuk mengikuti ulasan dan perkembangan seputar ATX.

Apakah itu ATX? Tak lain dan tak bukan adalah sebuah festival di Austin, Texas, Amerika Serikat, yang dibuat untuk merayakan acara televisi. Kalau biasanya kita mendengar banyak acara seputar festival film atau festival musik, maka ATX mengkhususkan diri untuk berkutat hanya seputar acara televisi.

Kata “hanya” di sini bisa jadi sekedar understatement. Di tengah keriuhan banyaknya jumlah acara televisi buatan Amerika Serikat (konon kabarnya ada lebih dari 400 serial drama dan komedi yang diproduksi saat ini, di luar dokumenter dan reality show), festival ini menjadi ajang mempertemukan sesama penonton acara televisi dengan para pembuatnya. Sesama pembuat acara televisi pun saling bertemu untuk bertukar cerita dan ide.

Yang menjadi daya tarik terbesar dari festival ini adalah acara reuni. Setiap tahun ada ajang reuni acara televisi yang sudah lama tidak ditayangkan. Tahun ini ada reuni “Ugly Betty” dan “The West Wing”. Tahun lalu ada reuni “Gilmore Girls” dan “Roswell”. Yang hadir adalah para pemain, penggagas serial tersebut, dan, ini yang paling penting, para penonton serial-serial tersebut. Setiap saya melihat foto dan video di media sosial tentang keseruan acara tersebut, perasaan saya campur aduk mulai dari iri sampai kagum.

Reuni serial Gilmore Girls di ATX Festival 2015. (Thank you, Google Image!)

Reuni serial Gilmore Girls di ATX Festival 2015. (Thank you, Google Image!)

Maklum, saya memang penonton serial televisi Hollywood, termasuk serial-serial di atas. Mau dibilang TV junkie atau couch potato, terserah. Yang jelas, banyak serial televisi buatan Amerika Serikat dan Inggris selama satu dekade terakhir ini yang kualitas ceritanya jauh melampaui banyak film Hollywood. Beberapa kali saya sadar sekali bahwa kadang menonton film di bioskop sekedar untuk memuaskan rasa menyaksikan film di layar lebar. Tapi untuk kepuasan cerita, lebih sering saya temukan di medium televisi, yang tentu saja sudah meluas ke jasa streaming.

Yang membuat saya makin kagum dengan ATX ini adalah keberanian dan kenekatan para penggagas festivalnya. Menonton televisi itu ‘kan kegiatan yang sangat personal dan invidualistis. Kita tidak perlu meninggalkan rumah, kalau perlu tidak usah mandi dan ganti baju. Mau baru bangun tidur juga sudah langsung bisa menyalakan televisi, tablet atau ponsel.
Namun ATX ini bisa mengumpulkan penonton televisi untuk saling bertemu, berbagi kesenangan yang sama terhadap acara televisi favorit mereka, dan berinteraksi langsung.

Karena saya hanya melihat liputan dari jauh lewat foto dan video, saya hanya menerka-nerka keseruan yang terjadi. Tapi yang saya lihat, sepertinya mereka tidak ada beban untuk harus win over new audience. Beda dengan festival film besar yang membuat premiere film baru, dengan harapan filmnya bisa laku waktu dirilis setelah di festival. Atau festival musik, yang dibuat dengan harapan orang akan membeli album penyanyi yang barusan mereka lihat.
Panel-panel di ATX ini sepertinya quite relaxing, termasuk untuk panel-panel yang serius, di mana mereka membahas masa depan program televisi, berikut serial-serial televisi baru yang akan diluncurkan atau sedang dikerjakan.

Reuni serial Ugly Betty di ATX Festival 2016. (Thank you, Google Image!)

Reuni serial Ugly Betty di ATX Festival 2016. (Thank you, Google Image!)

Di sinilah keunggulan ATX: tidak melulu bermain nostalgia, tapi juga menghadirkan acara-acara yang membahas kekinian dan juga masa depan. Sekali datang, semua jangkauan waktu terjelajahi.

Saya tidak mau berandai-andai dulu kalau seandainya ada yang mau membuat acara serupa di sini, reuni serial “Losmen” atau “Pondokan” misalnya. Lebih penting untuk merestorasi dan menayangkan ulang serial-serial lama tersebut agar ditonton generasi sekarang di platform yang lebih modern.

Yang jelas, buat saya sudah cukup senang untuk tahu bahwa despite watching those TV series alone at home, we’re not really alone out there.

Reuni serial The West Wing di ATX Festival 2016. (Thank you, Google Image!)

Reuni serial The West Wing di ATX Festival 2016. (Thank you, Google Image!)

Pembuka Cerita

Apa yang membuat kita bisa jatuh cinta pada satu serial televisi? Bisa jadi para pemainnya, atau jalan ceritanya, atau kebetulan saja lagi menemukan serial tersebut saat memindai banyaknya saluran televisi di depan kita.

Tapi mari kita kesampingkan sejenak faktor-faktor tersebut.

Apa yang membuat kita bisa jatuh cinta pertama kali pada satu serial televisi?
Buat saya, opening sequence atau bagian pembuka serial tersebut.

Beberapa hari yang lalu, serial “Mad Men” mengakhiri penayangannya setelah 7 seasons atau musim penayangan. Kebetulan saya mengikuti serial ini dari awal. Tentu saja, seperti layaknya serial lain yang kita ikuti, saya pun sudah familiar dengan karakter-karakter serial tersebut. Demikian pula dengan jalan cerita masing-masing karakter. Namun ada satu hal yang saya sadar akan membuat saya merasa kehilangan, yaitu adegan pembukanya.

Mad Men

Mad Men

Setiap episode serial “Mad Men” dibuka dengan siluet seorang pria melayang dari ketinggian gedung, jatuh menyusuri rangkaian billboard iklan yang dipasang, seiring dengan munculnya nama-nama pemain, sampai akhirnya pria tersebut duduk membelakangi kita dengan sebatang rokok di tangan. Indah, berkelas, dan mempunyai lagu tema instrumental yang khas. Lagu ini berjudul “A Beautiful Mine” karya RJD2. Saking nempelnya lagu ini dengan adegan ini, sampai-sampai pembuat serial “Mad Men”, Matthew Weiner, pernah berujar di panggung Emmy Awards saat karyanya mendapatkan Emmy pertama sebagai Serial Drama Terbaik tahun 2008, “We can never get rid of our opening song. We just love it!”

Sangat jarang sebuah opening sequence dari serial televisi disebutkan saat serial tersebut memenangkan penghargaan tertinggi pertelevisian Amerika. Padahal adegan pembuka ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari serial televisi. Tentu saja, seperti layaknya sampul buku atau cover majalah, adegan pembuka serial televisi adalah impresi awal buat kita, para penonton televisi, untuk bisa tertarik terhadap apa yang kita tonton.

Bahkan adegan pembuka bisa jadi tontonan tersendiri, lepas dari apapun episode yang akan ditayangkan, di musim penayangan kapanpun. Contoh jelasnya “The Simpsons”. Urutan adegan pembuka selalu sama selama 26 tahun terakhir. Yang berbeda di setiap episode adalah tulisan yang Bart Simpson tulis di papan sebagai hukuman, dan bagaimana satu keluarga The Simpsons akan duduk di depan televisi. Seniman sekaliber Banksy pun pernah membuat adegan pembuka serial ini.

Tidak semua serial bertahan lama sepanjang “The Simpsons”. Tapi itu tidak menghalangi beberapa serial untuk melakukan update saat memasuki musim penayangan baru, meskipun deretan pemain, judul serial, dan tentunya lagu yang digunakan pun, masih sama.
Tapi selalu ada celah untuk menyegarkan rutinitas.

Contohnya serial “Friends” dengan lagu “I’ll Be There For You”, yang sama-sama sudah menjadi bagian tak terpisahkan antara keduanya.
Meskipun kita sudah sangat familiar, bahkan sampai ke ketukan nada dan urutan nama pemain yang muncul, namun pembuat serial ini masih bisa bermain-main dengan nama para pemainnya saat Courteney Cox baru menikah dengan David Arquette beberapa tahun lalu. Caranya? Tambahkan saja nama Arquette di belakang nama semua pemain dan kru!

Ada kenangan yang terpisahkan antara lagu dan serial, seperti halnya lagu karya grup The Rembrandts dan juga enam teman yang sering nongkrong di kafe Central Perk di atas. Demikian pula dengan lagu “I Don’t Want to Wait” milik Paula Cole, yang selamanya akan selalu saya asosiasikan dengan serial “Dawson’s Creek”.

Meskipun tanpa lagu, adegan pembuka dengan komposisi musik tertentu bisa membuat kenangan tersendiri buat kita, penontonnya.

Paling tidak, tema musik pembuka serial televisi bisa membuat saya panik setengah mati karena masih belum menyelesaikan urusan di kamar mandi, sementara lagu tema serial “Knight Rider” sudah mulai berkumandang dari ruang keluarga.
Itu hari Rabu malam.
Kalau hari Jumat malam, saya bisa buru-buru menyelesaikan makan malam saat lagu tema “MacGyver” mulai terdengar, lalu berlari untuk duduk di depan televisi. Sementara beberapa jam sebelumnya, tepatnya di Jumat sore, kadang saya harus menahan kesal, karena saat itu adalah waktunya mengikuti les tambahan, sementara dari televisi mulai terdengar suara instrumental pembuka serial “Beverly Hills 90210”.

Beverly Hills 90210

Beverly Hills 90210

Kalau Anda mulai bertanya-tanya kenapa semua serial di atas hadir sebelum abad 21, itu karena tak banyak serial saat ini yang menaruh perhatian khusus pada adegan pembuka, sebelum kita digiring masuk ke cerita episode yang sedang berjalan.
Hampir semua serial buatan Shonda Rhimes (“Grey’s Anatomy”, “Scandal”, “How to Get Away With Murder”) tidak terlalu menaruh perhatian pada opening titles ini. Judul serial dimunculkan sekilas saja. Nama-nama pemain muncul sejalan dengan adegan yang sedang berlangsung. Metode ini banyak digunakan di serial-serial sekarang, dengan pertimbangan bahwa perhatian orang semakin pendek karena terbagi dengan smartphone, interaksi di media sosial, sehingga takut kalau mereka tidak terpikat langsung dengan jalan cerita serial televisi, maka mereka tidak akan menonton serial tersebut sama sekali.

Kalaupun ada perkecualian, mungkin hanya beberapa saja, seperti “Game of Thrones” atau “Unbreakable Kimmy Schmidt” yang digarap dengan serius. Lalu ada juga “House of Cards” dan “Daredevil”, semuanya dari Netflix, yang cukup sukses mewakilkan mood dan tone serial lewat scoring yang sangat berat dan serius di opening title.

Daredevil

Daredevil

Dan mau serius, atau jenaka seperti lagu pembuka serial “Si Doel Anak Sekolahan”, yang jelas serial televisi tak akan lengkap tanpa musik pembukanya. Opening theme of a TV series gives us what we already know, what we can expect, and at the same time, ensures us of that we’re home with the people we know the most.

And that is the magic of television.

PS: oh iya, cuma mau kasih tahu kalau dari semua serial televisi yang ada di atas, opening title favorit saya bukan salah satu dari mereka. Favorit saya?
Ini dia: the most glorious TV series opening of all time!