Pulang

Pernah nonton film Forrest Gump?
Sepertinya sebagian besar dari kita sudah pernah menonton film legendaris ini. Saya sendiri sudah menonton film ini beberapa kali. Setiap kali menonton, selalu ada hal baru yang saya perhatikan.

Namun akhir-akhir ini, ada satu adegan di film tersebut yang membekas di benak ingatan. Adegan ini adegan ‘kecil’. Mungkin termasuk adegan yang blink-and-you-miss-it.

Adegannya terjadi menjelang bagian ketiga film. Forrest Gump (Tom Hanks) memutuskan pulang ke rumah, setelah mendengar kabar ibunya (Sally Field) sakit. Forrest, yang selalu bertualang, akhirnya kembali ke tempat dia menghabiskan masa kecilnya. Ibu Forrest, yang terlihat tua dan letih, tersenyum saat membuka pintu rumahnya dan menyambut Forrest yang datang dengan muka khawatir.

Seandainya Forrest bukan manusia spesial, mungkin dia akan datang tidak hanya dengan muka khawatir, tapi juga muka letih, lelah, wary look, menanggung beban dunia dengan segala permasalahannya, tak sabar ingin sekedar beristirahat dan berbagi beban hidup. Namun Forrest Gump bukan orang kebanyakan. Dia hanya pulang dengan satu tujuan: merawat ibunya sampai akhir hidup.

Forrest Gump (source: hookedonhouses.net)

Adegan itu terngiang-ngiang di kepala, meskipun sudah beberapa bulan saya tidak menonton film ini lagi. Adegan yang membuat saya terharu, karena bagaimanapun, kita selalu ingin pulang.

Beberapa minggu lalu, saat menjelang musim mudik Lebaran, sempat ramai berseliweran foto-foto meme di media sosial sepeda motor yang ikut mudik. Ada yang menuliskan “maaf belum bawa jodoh, yang penting pulang!” Atau ada juga yang menuliskan “tidak bawa uang, tidak bawa oleh-oleh, cuma bawa badan buat pulang.” Kurang lebih seperti itu bunyinya.

Tidak ada bangsa di dunia ini yang tidak mengenal budaya pulang dan bertemu keluarga. Mau itu Lebaran, Imlek, Thanksgiving, Natal, selalu ada alasan untuk pulang.

Atau kadang tidak perlu ada alasan, namun pulang menjadi pilihan satu-satunya, karena tidak ada alasan lain.

Beberapa tahun lalu, saya pernah menonton film Hope Floats. Pernah nonton juga?

Film in menceritakan seorang perempuan bernama Birdee (Sandra Bullock), yang mengetahui bahwa suaminya selingkuh saat dia hadir di sebuah acara talk show televisi yang ditayangkan ke seluruh negeri. Tak kuasa menanggung malu, dia memutuskan pulang ke rumah ibunya (Gena Rowlands) di kota kecil di Texas. Birdee mau tak mau harus menelan ludah, apalagi seisi sudah tahu tentang kegagalan pernikahannya. Ditambah lagi, Birdee dulunya gadis paling populer di sekolahnya yang acapkali dianggap sombong oleh teman-temannya. Namun Birdee harus menerima semua kenyataan yang terjadi, karena mau tak mau, dia harus bertahan hidup.

Hope Floats (source: thefilmexperience.net)

And that’s the key of life: survival.

Terkadang kita lupa bahwa kita pulang karena kita sedang berusaha bertahan hidup.

Pulang tak melulu jadi tujuan akhir. Pulang tak selalu menjadi pilihan terakhir.

Kita pulang karena kita ingin beristirahat sejenak dari rutinitas. Kita pulang karena kita ingin recharge the life’s battery agar dia bisa berlari kencang kelak nanti. Kita pulang karena masih ada tempat yang kita tuju untuk bertemu dengan orang-orang yang pernah dan akan selalu kita cintai.

Karena itulah James Stewart berusaha mati-matian untuk bisa hidup kembali saat malam Natal untuk bisa kembali pulang ke rumah dan bertemu dengan keluarganya, meskipun dia gagal secara finansial dalam film It’s a Wonderful Life.
Karena itu juga sang alien dalam film E.T. harus kembali pulang untuk bersatu lagi dengan sejawatnya, meskipun dia sudah mendapat tempat yang ramah di bumi dengan teman-teman barunya.
Karena itu pula Dorothy harus bangun dari mimpi panjangnya di film The Wizard of Oz, dan kembali ke dunia nyata, karena “There’s no place like home”.

It’s a Wonderful Life

Pulang bukan menjadi ajang pertunjukan apa yang kita punya. Pulang bukan menjadi kesempatan kita untuk berlaku berlebihan.

Sering kali pulang adalah kesempatan kita untuk berbagi, apa yang kita punya, dan apa yang kita tidak punya. Pulang adalah cara kita untuk mengucapkan rasa terima kasih, karena masih ada mau menerima kita apa adanya, tanpa buah tangan, tanpa harapan.

Dan sebelum akhirnya satu demi satu berpulang, selama masih ada waktu untuk bertemu, maka kita hanya bisa menyempatkan untuk melakukan satu hal yang membuat kita hidup.

Pulang.

Advertisements

Masakan Ibu

Apa masakan buatan Ibu yang paling Anda sukai?
Kalau pertanyaan ini ditujukan balik ke saya, jawabnya sudah pasti adalah kacang pedas.
Kacang pedas ini bisa ditemukan di mana saja. Pada dasarnya ini adalah kacang tanah yang dijemur, lalu digoreng bersama kulitnya sampai kecoklatan, dan dilumuri adonan bumbu pedas berikut potongan cabe. Tentu saja lebih sedap disajikan ketika panas. Apalagi bersama nasi putih. Meskipun begitu, disantap waktu sudah dingin pun terbukti masih enak. Waktu itu pernah ibu saya membawakan kacang pedas ini ketika mengunjungi saya di luar negeri. Kacangnya tentu saja dibungkus plastik. Ketika saya melihat bungkusan plastik di meja kamar hotel, langsung saya makan sambil mengobrol. Berbungkus-bungkus plastik itu langsung habis dalam waktu singkat. Saking enaknya, saya sampai ketiduran setelah selesai makan. Ibu saya membangunkan beberapa jam kemudian. Saya menyesal karena janji mengajak jalan-jalan terpaksa batal, karena sudah larut malam. Ibu saya tidak keberatan. Dia bilang lebih senang melihat anaknya makan lahap di depan orang tua.

mom-cooking

Kacang pedas ini sudah jarang ibu buat lagi. Alasan ibu, capek mengulek sambelnya. Alasan lain, karena faktor kesehatan saya, yang harus mengurangi makanan berprotein tinggi seperti kacang. Tapi dia tetap memasak makanan lain ketika saya pulang ke rumah. Dan selayaknya ibu-ibu lain, tetap sebal kalau melihat anaknya suka jajan di luar. “Udah capek-capek dimasakin, masak gak dimakan?” Sepertinya ini senjata pamungkas setiap ibu supaya kita makan di rumah, ya? Akhirnya jalan tengah kami ambil: kalau mau makan di luar, harus kasih tahu di pagi hari. Ibu juga maklum, ketika anaknya pulang, pasti ada keinginan untuk mencicipi makanan-makanan di luar. Apalagi kalau ada restoran atau tempat makan baru yang belum pernah dicoba. Tapi toh, hasilnya tetap saja. Ketika bangun tidur, dan mau pergi tidur, yang dituju adalah kulkas atau meja makan di rumah. Tentu saja sambil bertanya dengan mata berat, “Ada makanan apa?”

family-stove-clip-art-15

Saya jadi ingat sebuah iklan penyedap makanan yang menampilkan kisah anak perempuan yang rindu masakan ibunya. Masakan-masakan yang ditampilkan kebanyakan “biasa saja”, tipikal makanan rumah. Semua punya pesan yang sama, yaitu ketika mencicipi makanan tertentu (yang sudah dibumbui penyedap rasa itu tentunya), maka mereka akan teringat ibu dan rumah mereka.
Iklan ini, meskipun terasa panjang, cukup berhasil. Meskipun begitu, menurut saya, ada pesan lain yang tak tersampaikan di situ.

Makanan apapun yang dibuat oleh ibu kita, pasti terasa enak.

Saya percaya, ada banyak sense of determination dari ibu yang memasakkan makanan untuk anaknya, sesimpel apapun itu.
Saya percaya, ada rasa menghormati ibu ketika kita mulai menikmati masakan ibu, terlebih di depannya.
Saya percaya, tidak ada ibu yang tidak bisa memasak. Sense of urgency often beats the most impossible thing.
Terlebih lagi, apapun yang disajikan dengan hati, meskipun sesederhana mungkin, rasanya pasti akan terserap dengan baik.

cooking-clipart-black-and-white-cg_cooking

Ibu saya adalah ibu rumah tangga biasa. Tapi dia punya beberapa kesibukan untuk menopang ekonomi keluarga. Selain punya kos-kosan, dia juga berdagang batik. Kadang ibu saya harus menempuh perjalanan jauh berjam-jam untuk kulakan batik. Kadang harus menginap di rumah saudara kalau sudah terlalu malam. Seringkali ibu meninggalkan saya di rumah dengan makanan a la kadarnya. Selama nasi putih cukup untuk dua hari, lauknya bisa cukup abon, atau telur dadar yang dibuat sendiri. Kacang pedas itu pun dibuat tanpa sengaja di kala senggang. Namun entah mengapa itu menjadi makanan kesukaan saya. Meskipun begitu, kalau beliau lebih sering memasakkan saya nasi goreng, pasti saya akan bilang kalau makanan favorit saya adalah nasi goreng buatan ibu.

Saya tidak bisa recreate semua masakan ibu saya. Kebetulan tangan ini bukan tangan yang cekatan untuk urusan dapur. Jadi saya belum bisa menjawab pertanyaan selanjutnya, apa masakan favorit ibu saya.

Kalau Anda?

Kesempatan Bukan Dalam Kesempitan

Apa pelajaran berharga yang pernah diberikan Ayah kepada Anda?

Kalau pertanyaan itu ditujukan ke saya, jawabannya tentu saja banyak dan beragam. Tapi salah satu pesan Ayah saya yang masih terngiang di kepala adalah, “bukan pekerjaan yang kamu cari. Tapi menciptakan pekerjaan buat orang lain yang kamu cari.”

Sebagai orang dewasa, seperti saya dan Anda yang sedang membaca ini, kalimat di atas mudah dipahami. Kalau dilakukan, itu urusan lain. Tapi pernahkah terbayang kalimat itu dicerna oleh anak yang belum lulus SD?

Dulu, waktu saya kecil, orang tua saya sering bepergian keluar kota. Acap kali Ayah harus dipanggil dinas mendadak di luar provinsi. Ibu adalah pedagang yang kerap mengambil barang kulakan di kota lain, yang jarak tempuhnya bisa berjam-jam. Kalau sudah begitu, mau tidak mau saya harus berdiam di rumah bersama pembantu, atau dititipkan ke anak-anak kost di rumah kami.
Meskipun begitu, orang tua saya tidak pernah lupa satu hal.
Mereka akan menitipkan uang ke saya dan kakak saya. Bukan sekedar titipan uang. Ada secarik kertas berisi alokasi penggunaan uang tersebut. Misalnya, sekian rupiah untuk diberikan ke pembantu buat belanja di pasar. Sejumlah rupiah yang diberikan ke tukang kayu saat dia datang. Lalu ada beberapa rupiah lain untuk bayar listrik. Maklum, waktu itu belum ada smartphone atau pager. Kontrol mereka hanya bisa dilakukan lewat telepon rumah. Itu pun tidak bisa dilakukan setiap saat.

Kami tidak berpikir panjang. Kami hanya melakukan apa yang diminta sesuai dengan apa yang telah dituliskan. Sesekali mereka mengingatkan, “jangan lupa, tanya ke mbok, belanjanya habis berapa. Uang kembaliannya kamu pegang.”

Dasar anak kecil, kadang saya lupa bertanya. Tapi dia yang tidak pernah lupa memberikan uang kembalian. Uang kembalian itu saya taruh dengan uang yang sudah dialokasikan sebelumnya. Kalau pun terpaksa diambil untuk keperluan lain, misalnya, membayar tagihan langganan koran yang kurang jumlahnya, nanti harus dilaporkan.

Kebiasaan ini terhenti saat saya menginjak remaja dan harus tinggal terpisah dari orang tua. Sejak saat itu pun, saya selalu tinggal sendiri. Namun di saat kami bertemu, kadang-kadang saya merasa heran, kenapa orang tua saya “nekat” memberikan tanggung jawab sedemikian besar ke anak kecil.

Jawaban Ayah saya selalu sama.

“Itu maksudnya Papa ngajarin kamu supaya manage uang dengan baik. Mencatat pengeluaran dengan baik.”

“Kalo itu sih, ngerti. Yang nggak ngerti, apa hubungannya sama bikin kerjaan buat orang lain?”

“Kalo Papa dan Mama lagi pergi, yang masakin kamu siapa? Terus dia beli bahan masakannya di mana? Itu baru makananmu. Lalu apa kamu bisa benerin lampu teras rumah yang mati dulu? Dan kamu nggak perlu jalan beli koran. Dia nganter setiap hari. Kadang-kadang kamu malah titip sekalian beliin majalah Bobo dari dia. Itu kan artinya kamu nggak bisa melakukan semuanya sendiri. Ini baru yang praktis ya. Kita itu nggak bisa hidup sendiri. Di setiap pendapatan kita, ada pendapatan buat orang lain. Tinggal kita pilih, mana yang baik, mana yang kita perlukan.”

Saya masih diam. Dalam beberapa kesempatan, selalu saya tanyakan lagi. Sampai suatu ketika, Ayah menambahkan.

“Itu kan basic. Gimana kamu bisa nyiptain pekerjaan buat orang lain, kalau kamu nggak bisa manage duit?”

Lalu saat saya menuliskan kembali cerita ini, saya baru ngeh.

Everything begins at home, indeed.
Even creating jobs for others.

Father-Son (Courtesy of twosomeforever.blogspot.com)

Father-Son (Courtesy of twosomeforever.blogspot.com)

Home, Not a House. Rumah, Bukan Tempat Tinggal.

Sebagian dari pembaca hari ini pasti pernah menonton serial “Sex and the City”. Serial ini banyak menampilkan quote-worthy dialogue yang diucapkan salah satu dari empat pemain utamanya. Dari sekian banyak dialog, ada satu yang paling saya ingat sampai sekarang.

Di episode ini, Miranda (Cynthia Nixon) sedang berdiri di atas kapal ferry yang mengantarnya pulang ke Manhattan dari Staten Island. Sambil bersandar di pegangan kapal, dia berkata sambil menerawang,

“Who woulda thought that an island that tiny, would be big enough to hold all our boyfriends?”

Dialog ini masih membuat saya tersenyum sampai sekarang. Padahal episode ini ditayangkan pertama kali sekitar tahun 2001-2002. Relevansinya masih terasa sampai sekarang.

Kadang-kadang, saya harus mencari email lama di mailbox yang saya lupa subject atau bahkan pengirimnya siapa. Saat saya cari dengan kata kunci yang sederhana, misalnya, “rekomendasi galeri di Singapura”, eh muncul juga email-email dengan mantan tentang hal ini saat mau pergi bersama. Munculnya bersamaan dengan email-email lainnya yang justru lebih dicari. Di situ suka merasa takjub, bagaimana mungkin satu alamat surat bisa menyimpan begitu banyak informasi dan memori?

Demikian pula dengan saat reuni sekolah, atau kampus, atau institusi lain yang pernah kita tempati selama beberapa waktu. Ketika kita sudah lama meninggalkan tempat-tempat tersebut, kita hanya bisa mengenang dengan penuh keheranan bahwa, “how can one place hold so much memory?

Jawabannya, tentu saja, adalah … It’s not where you live. It’s how and what you do about it.

(Taken by yours truly)

(Taken by yours truly)

Kalau kita datang ke perkumpulan teman-teman atau kolega-kolega lama, tentu saja kita tidak akan membicarakan saat-saat melakukan upacara bendera, ulangan umum, atau belajar bersama. Yang kita bicarakan adalah hal ringan seperti waktu siapa lagi jatuh cinta sama siapa, pergi naik gunung bersama, atau menempuh perjalanan jauh demi ikut lomba matematika tingkat propinsi. Bisa saja ‘kan? Hal-hal rutin yang membuat kita menjalani hari akan hilang dari ingatan. Tapi hal-hal luar biasa yang membuat hari-hari kita istimewa akan selalu lekat di ingatan.

Tulisan hari ini mungkin lebih singkat dari tulisan biasanya. Tapi berbicara tentang tempat yang pernah kita singgahi, mau tidak mau saya terpapar juga dengan fakta bahwa sebentar lagi, negara Indonesia akan merayakan ulang tahun kemerdekaannya yang ke-70.
Pertanyaannya, apakah Indonesia sudah jadi rumah buat kita? Pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Apalagi dengan serentetan krisis belakangan ini. Dan setiap orang punya jawaban berbeda. Ada yang menjadikannya rumah lebih dari 70 tahun, ada juga yang menolak menjadikan Indonesia sebagai rumah.

Buat saya, Indonesia belum jadi rumah. Perjalanan saya di sini mengukir kenangan dan pencapaian belum selesai. A house may be completed, but a home is always a work in progress. Banyak hal-hal di Indonesia yang membuat saya belum “sreg”, tapi ketidaksempurnaannya membuat saya memilih untuk menetap di sini, dan meninggalkan rumah yang lama for good.

(Still taken by yours truly)

(Still taken by yours truly)

Jadi, ketika kita melihat dari atas langit saat pesawat kita akan turun di landasan, di manapun itu, mungkin kita bisa bertanya dalam hati, “is this a home for me?

Because everything begins at home.