House of Cards: Ketika Angin Semakin Kencang Menerpa

Di sini ada yang ngikutin serial dari House of Cards? Perjalanan seorang politisi yang merintis jalan menuju Gedung Putih? Saya harapkan banyak ya. Karena serial ini bagus sekali. Bahkan saking bagusnya, saya akhir pekan kemarin tidak melakukan aktivitas apa-apa selain melahap semua tiga belas episod dari musim ke empat dari serial ini. Serial ini dibintangi oleh Kevin Spacey dan Robin Wright sebagai Frank dan Claire Underwood. Dua orang suami istri yang bahu membahu dan melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Sepertinya layaknya politisi kebanyakan. Untuk yang ingin mengikuti lebih jauh dalam kenapa serial ini penting sekali, saya pernah bahas dan tulis di sini. Silakan mampir kalo berkenan.

hoc5

 

Serial ini diikuti oleh Bill Clinton. Mantan Presiden Amrik itu bahkan  berkata bahwa apa yang terjadi di House of Cards memang 99% sama dengan kenyataan yang terjadi di Gedung Putih. Jika seorang presiden berkata seperti itu. Lalu apa alasan untuk tidak mengikutinya. Apalagi jika memang suka dengan serial politik dan segala intrik yang terjadi di dalamnya. Ini adalah serial genre political thriller terbaik yang pernah ada.

 

a ​complicatedorganization or ​plan that is very ​weak and can ​easily be ​destroyed or ​easily go ​wrong

House of Cards, menurut kamus Cambridge mempunyai definisi seperti saya kutip di atas. Bagaikan menyusun kartu untuk membuat sebuah rumah atau piramid tapi pondasinya tidak kokoh. Rapuh. Sedikit goyangan atau ada angin yang bertiup maka kartu akan berantakan di meja. Ini yang disoroti di serial ini. The Underwoods (sebutan untuk Frank dan Claire Underwood) berusaha sekuat tenaga untuk menjaga kartu tersebut tetap pada rencana semula. Dan ketika kartu tersebut semakin menjulang ke atas dan membentuk suatu “rumah” yang utuh itulah yang tujuan yang ingin dicapai. Tapi untuk melakukan itu tentunya bukan hal yang mudah. Apalagi jika anda seorang politisi di level paling tinggi di negara adidaya. Selalu saja ada yang ingin meniupnya. Selalu saja ada yang ingin menggoyang meja. Apa saja dilakukan untuk meruntuhkan kartu yang telah tersusun. Tapi di sisi yang lain The Underwoods tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dan mereka akan melakukan apa saja agar kartu yang telah tersusun itu tetap pada tempatnya. Apa saja. Yang penting mereka tetap berada di puncak kekuasaan.

hoc7

Yang membuat serial ini istimewa adalah sang kreator, Beau Willimon, membuat naskah yang relevan dengan situasi terkini yang sedang terjadi di dunia. Khususnya Amerika Serikat. Latar belakangnya sebagai mantan penasehat Hillary Clinton juga sangat membantu dalam pembuatan naskah. Di dunia nyata kita sedang melihat Demokrat dengan kandidatnya Bernie Sanders dan Hillary Clinton berusaha untuk menjadi calon Presiden. Dan di kubu yang lain sepertinya Donald Trump akan melaju sebagai capres dari Partai Republik. Perang Dingin jilid dua dengan Rusia pun dipotretkan oleh House of Cards musim keempat ini. Ancaman teroris dari ISIS di dunia nyata pun ada di serial ini. Dengan nama yang diganti tentunya. Serial ini berusaha dibuat senyata mungkin dengan kondisi yang terjadi di dunia saat ini.

hoc6

Pencitraan, PR stunt, atau apapun sangat dibutuhkan dalam masa kampanye, demi mendongkrak elektabilitas seorang kandidat. Di musim ini pun begitu. Social media yang memegang peranan penting untuk salah satu kandidat. Kita sangat tahu apa yang dilakukan Donald Trump dengan segala pernyataan kontroversialnya yang justru mendongkrak elektabilitasnya. Kita tahu juga bagaimana Ridwan Kamil, Jokowi, ataupun Ahok bagaimana mereka memanfaatkan media. Mereka ada di mana-mana. Itu bermanfaat. Tapi di lain pihak itu juga bisa menjatuhkan. Itu diperankan dengan baik oleh Joel Kinnaman sebagai kandidat dari partai Republik di serial ini. The Conways, pasangan muda ganteng dan beristri cantik, (terlihat) bahagia, dan mempunyai dua anak yang masih kecil. Idaman Amerika. Kondisi ini dimanfaatkan sebaik mungkin melalui internet, Media sosial terutama. Sementara The Underwoods kebalikannya. Tradisional.

Untuk bisa merangkum apa yang sebetulnya terjadi di Hourse of Cards. Bisa dilihat di video Youtube di bawah ini. Tapi kalo ingin menghindari spoiler saya sarankan tidak melihatnya. Kecuali kalo memang penasaran.

Siapa yang bisa membangun rumah dari kartu setinggi dan kuat dari terpaan angin maka mereka yang akan menjadi pemenang. Lalu siapa yang menang jika begitu? Mereka yang memegang kartu truf. Segera nonton jika belum. Tidak ada kata terlambat. Jika sudah. Mari kita berdiskusi di kolom komen.

 

 

 

Advertisements

Internet Killed The Video Star

hoc5

Beberapa hari yang lalu. House of Cards Season 3 baru saja rilis melalui Netflix. Bukan HBO atau TV lainnya. Tanggapannya positif dari musim pertama hingga ketiga. Tiga belas nominasi Emmy Awards di musim pertama. Terakhir Kevin Spacey mendapatkan Golden Globe pertamanya melalui perannya sebagai Frank Underwood di serial tersebut. Memang sudah waktunya dia mendapatkan piala itu. Breaking Bad sudah tamat. Frank Underwood, sang politisi dengan gaya ruthless pragmatism-nya sekarang menggantikan tempat Walter White, guru kimia di SMA yang over-qualified dan menjelma menjadi Heisenberg, produsen sekaligus penjual meth.

Media Right Capital membeli copyright ini dari BBC dan membuatnya menjadi versi Amerika. Fokus dari serial ini ada pada Frank Underwood, seorang congressman dari Partai Demokrat (kalo di sini anggota DPR mungkin ya), yang berhasil meloloskan jagoannya menjadi Menlu AS. Selanjutnya, siapa yang menghalangi jalannya akan dia libas. Siapapun dia.

Apa sih yang spesial dari serial yang diadaptasi dari judul yang sama buatan BBC ini? Terus terang saya tidak pernah mengantisipasi sebuah serial televisi seantusias ini. House of Cards di mata saya sudah berada di kelas The Wire, Breaking Bad, The Sopranos, Friends atau mungkin X-Files (pencinta Glee dan The Big Bang Theory melipir dulu ya). Saya sengaja menghabiskan akhir pekan kemaren melahap semua episode House of Cards musim ketiga ini yang tentunya akan ada lanjutannya.

Seluruh episode? Koq bisa? Kan baru rilis? Ya bisa. Karena Netflix, penyedia layanan media streaming (maaf saya belum menemukan padanan kata streaming dalam Bahasa Indonesia) dan pemilik hak siar dari serial ini memutuskan untuk merilisnya sekaligus. Semua episod bisa dilihat. Kapan saja. Di mana saja. Selama koneksi internet anda ngaceng. Dua puluh empat jam sehari. Tujuh hari seminggu. Tidak seperti serial dari TV Kabel konvensional seperti Indovision, First Media, Big TV atau Orange, Aora, atau yang lainnya yang hanya menayangkan per episod setiap minggunya.


Di tengah kesibukan merampungkan The Curious Case of Benjamin Button, David Fincher mendapat tawaran dari agennya untuk menggarap House of Cards. Ide ini diterima dengan suka cita oleh David Fincher. Dia memang sudah lama menginginkan membuat karakter dalam format yang panjang seperti televisi. Tidak seperti film.

hoc10

Ketika dia membaca naskah tersebut hanya ada satu orang yang ada di benak David Fincher untuk memerankan Frank Underwood. Dia adalah Kevin Spacey (masih ingat film Se7en?). Akhirnya mereka berdua berkolaborasi sebagai produser pelaksana. Tapi Fincher membutuhkan orang yang berpengalaman di bidang politik. Orang dalam yang mengetahui seluk beluk Gedung Putih dan Capitol Hill.

Orang itu adalah Beau Willimon, seorang penulis naskah lulusan Julliard yang telah menelorkan The Ides Of March, yang diganjar nominasi Best Adapted Screenplay oleh Academy Awards. Beau juga pernah menjadi sukarelawan Hillary Clinton untuk menjadi Senat, dan juga membantu kampanye Howard Dean dan Bill Bradley untuk menjadi Presiden dari Partai Demokrat. Pas.

Ted Sarandos, Chief Content Officer dari Netflix, mencium adanya potensi kesuksesan di House of Cards. Maka Netflix membeli hak siar dari serial itu sebelum diambil HBO, AMC, atau Showtime. Netflix juga membutuhkan serial produksi sendiri, eksklusif. Tidak hanya sekedar “menyediakan film dan serial yang sudah ada”.  Ted juga melihat statistik dan kebiasaan dari pelanggan Netflix bahwa ada penonton yang yang cukup signifikan jumlahnya yang menyukai film yang dibintangi Kevin Spacey, film yang disutradarai David Fincher, dan film dengan genre political thriller.  Restoran pun membutuhkan makanan khas, enak dan tidak dipunyai restoran lain kan? Kalo sudah punya keunikan. Makanan yang lain pasti dicicip. Yakan? Yasih.

Lalu hasilnya apa? Dengan masuknya House of Cards sebagai serial unggulan dari Netlix yang menghabiskan $100 juta dollar per musim ini? Pelanggan berbayar Netflix melonjak drastis. Dari 24 juta pelanggan sekarang menjadi 50an juta pelanggan, dan terus bertambah. Setengahnya adalah dari Amerika Utara. Harga sahamnya pun terus naik.

Jika HBO dulu mempunyai serial unggulan The Sopranos dan Sex And The City. Maka Netflix mempunyai House of Cards dan Orange Is The New Black. Netflix adalah HBO-nya internet. HBO versi streaming. Ala carte. 

“This is the future, streaming is the future. TV will not be TV in five years from now…everyone will be streaming.” 


 

Lalu, kalo begitu internet kencang buat apa? Coba tolong tanya Pak Rudiantara yang sempat bercokol di Telkom, Indosat, PLN dan juga XL yang entah sedang apa, di mana dan bersama siapa dia sekarang.

Udah ah jangan ngomongin politik aja. Mending denger lagu ini. Lebih suka versi Buggles sih Tapi pake yang ini aja. Biar tematik gituu. Kan yang bawain The President Of The United States America.

Gimana kalo judul lagunya diganti aja jadi Internet Killed The Video Star? Hmm?