Yang Pergi, Yang Kembali

Pernah melihat meme gambar orang memegang koper, lalu ada tulisan “Once a Year, Go to A Place You’ve Never Visited Before”? Kurang lebih seperti itu tulisannya. Katanya quote itu berasal dari ucapannya Dalai Lama, walaupun keabsahannya diragukan. Apalagi Dalai Lama sepertinya jarang traveling.

Dan buat orang-orang yang sering bepergian, quote ini seakan jadi mantra untuk memvalidasi keinginan menjelajah bagian dunia yang belum pernah dikunjungi. Sah-sah saja memang. Terlalu kecil rasanya apabila kita hanya dikungkung kamar, rumah, jalanan menuju tempat kerja, kafe tempat ketemuan, bioskop tempat kencan, dan makam para leluhur. Sekedar pergi sejenak dari rutinitas ke tempat asing akan membebaskan pikiran kita.

Namun kalau kita ternyata pergi ke tempat yang sudah pernah kita kunjungi sebelumnya, apa kita melanggar ucapan Dalai Lama tersebut? Lha, emang Dalai Lama bapak saya?

Seperti yang sudah pernah saya tulis 2 minggu lalu di sini, kebiasaan saya menghabiskan ulang tahun adalah dengan pergi ke suatu tempat. Tidak harus tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, karena beberapa tahun lalu, menghabiskan sore hari saat ulang tahun di pantai Parangtritis yang terakhir saya kunjungi waktu kecil pun, pernah juga dilakukan.

Tahun ini, salah satu kota yang saya singgahi dalam perjalanan birthday trip adalah Berlin. Kota tempat saya mendarat pertama kali ini bukanlah kota yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Sekitar lima tahun lalu, saya sempat menghabiskan waktu cukup lama di sini. Alhasil, sempat terbersit keraguan, mau ngapain ya dua hari di sini nanti?
Apalagi pemandangan di luar bandara Tegel di pinggiran kota Berlin masih terlihat sama. Mulai dari arah petunjuk jalan ke tengah kota, truk-truk yang melintas, sampai pohon dan awan yang menaungi hari, semua masih terlihat sama. Strange. Dulu datang waktu musim dingin, sekarang datang di musim semi.

Namun ternyata keraguan itu langsung sirna.
Pertama, saya menginap di Berlin di rumah seorang teman dekat yang bekerja di sana, dan mempunyai dua orang anak balita. Jadilah saya mengisi waktu dengan berceloteh bersama mereka, menebak gambar coretan anak umur 2 tahun yang bisa saja berubah (hari ini bilang “ini gambar penguin”, besoknya bilang “ini gambar pesawat”), sampai ikut mengantar ke taman bermain sejenis pre-school, dan melihat kebiasaan orang tua lainnya saat mengantar anak mereka. Mungkin kalau saya memutuskan untuk tidak singgah di kota ini, belum tentu saya mengalami kejadian-kejadian di atas.

Kedua, sepanjang jalan dari airport menuju rumah teman tersebut, saya melihat lagi kota Berlin yang tidak banyak berubah, terutama dari segi infrastruktur.
Malah waktu melintas daerah Potsdamerplatz, saya cuma membatin, “Oh, itu kantor Berlinale. Oh, itu Dunkin’ Donuts tempat quick breakfast pake kupon satu donat dan satu kopi € 1.5 dulu. Oh itu Alexandra tempat makan siang makanan Asia yang ngantrinya naujubilah.”
Lalu tiba-tiba, saat melintas kompleks museum dan National Gallery, mata saya melihat spanduk yang letaknya cukup jauh. Namun dari sisi kanan jendela mobil, saya bisa melihat gambar perempuan dengan topeng di mata, lalu di sebelahnya ada tulisan “Mario Testino In Your Face Exhibition” dalam warna hitam dan merah. Sontak saya berpikir, “Ha? Ada pameran foto Mario Testino? Fotografer selebriti itu?”

Begitu sampai di tempat menginap, saya buka laptop, Google, dan ternyata benar, ada pameran foto tersebut. Beli tiket online (diskon € 1 buat si donat), lalu besok pagi saya bergegas ke pameran tersebut.
Dua lantai dengan masing-masing empat lorong panjang dihiasi oleh foto-foto selebritis dunia hasil imajinasi gila Mario Testino yang bisa mengubah Kate Winslet menjadi Elizabeth Taylor, Jennifer Lopez menjadi petinju macho, Kate Moss seperti Maria yang perawan, dan masih banyak lagi. Lengkap dengan panduan audio visual di sebelas titik foto utama yang kita bisa dengar dan lihat videonya, menghabiskan dua sampai tiga jam di pameran ini seakan tidak berasa apa-apa.

Mario Testino: In Your Face (photo by Nauval Yazid)
Mario Testino: In Your Face (photo by Nauval Yazid)

Lalu saat panggilan perut untuk makan siang sudah berbunyi, saya melangkah keluar dari Kulturforum termpat pameran tersebut diadakan. Saat berjalan menuju tempat pemberhentian bis, tiba-tiba saya melihat di sisi kiri saya ada tulisan “Ken Adam’s Film Design: Bigger than Life”. Tulisan ini terdapat di Filmmuzeum. Awalnya, saya malas ke tempat ini, karena sudah pernah berkunjung sampai ke gudang tempat mereka menyimpan film. Tapi tulisan di spanduk ini membuat saya penasaran:
– ada eksibisi film desain? Wah, ini jarang sekali diadakan!
– siapa sih Ken Adam? Taunya cuma nama samaran karakter Joey Tribiani di serial “Friends”.

Makan siang ditunda, dan saya pun masuk untuk membeli tiket pameran ini. Ternyata Ken Adam, atau Sir Ken Adam, adalah production designer peraih Academy Awards, BAFTA Awards, dan penghargaan film bergengsi lainnya untuk karya-karyanya di banyak film-film ternama. Bahkan kita bisa memegang buku sketsa desainnya untuk film The Last Emperor. Kita bisa mellihat dari dekat rancangan kapal selam untuk film-film James Bond, seperti You Only Live Twice atau Moonraker yang dia ciptakan. Prototipe kapal luar angkasa untuk film Star Trek yang pertama pun dia buat.

Ken Adam's Film Design: Bigger than Life (photo by Nauval Yazid)
Ken Adam’s Film Design: Bigger than Life (photo by Nauval Yazid)

Benar-benar pengalaman yang menakjubkan. Hanya dalam dua kali dua jam, saya dibawa masuk ke dunia yang penuh dengan sensasi artistik yang selama ini hanya kita lihat dari jauh lewat majalah dan film. Menatap karya seni dari dekat, beberapa sentimeter di depan mata dalam ukuran yang besar membuat kita bisa mengapresiasi dan menikmati seni seutuhnya.

Dan itulah seni traveling tanpa rencana. Seperti Leila pernah bilang sebelumnya, bahwa “sometimes the best traveling plan is the one without any plans”, maka saya mengamini ucapan tersebut.

Selalu ada sesuatu yang baru di tempat yang lama tidak kita kunjungi. Pikiran dangkal saya selalu berkata, bahwa kekayaan alam akan selalu ada di situ sampai kapanpun. Tapi pertunjukan, pameran, atau pergelaran yang sifatnya sementara, tidak akan selalu ada ketika kita akan kembali. Mungkin ini yang dinamai dengan “live the moment” saat bepergian. Entahlah. Toh saya bukan Dalai Lama yang petuahnya bisa dijadikan quote berujung meme.

Oh, dan satu lagi.

Satu hari tersebut saya akhiri dengan menyeruput triple espresso shots latte di sebuah kedai kopi ternama The Barn. Dan menurut teman saya, jalan Auguststrasse tempat kedai kopi ini berada adalah daerah hipster.

The Barn (photo by Nauval Yazid)
The Barn (photo by Nauval Yazid)

Ealah mak, lima tahun lalu, mana ada kata “hipster”?!

Advertisements

Jelang Akhir Pekan

Besok sudah akhir pekan. Saatnya kita (terutama Anda, Anda, dan Anda) memiliki waktu lebih luang untuk mengurusi diri sendiri; melakukan kegiatan yang diinginkan, atau lebih leluasa hanyut dalam pikiran. Entah, pikiran yang imajinatif atau sekadar lamunan sambil lalu alias daydreaming. Sah-sah saja, ndak ada yang berhak melarang. Sehat kok, asal jangan keterusan.

Bisa jadi, sudah ada segudang ide melayang-layang dalam kepala Anda sekarang, membayangkan besok bakal ngapain aja (kecuali untuk Farah, yang naga-naganya masih sibuk bergelut dengan dunia pertukangan sampai beberapa hari ke depan). Sepertinya bakal menyenangkan, apalagi kalau bersama dia yang tersayang (asal orangnya bukan terserahan dan enggak dramaan), atau setidaknya dengan teman-teman. Ya, sebagai makhluk sosial, manusia memang saling membutuhkan satu sama lain. Tak sekadar sebagai lawan berinteraksi lewat kontak dan komunikasi, melainkan juga sebagai kawan yang sama-sama merasa punya ikatan. Saking kuatnya, sampai bisa menciptakan geng. Ke mana-mana selalu bareng, ngapa-ngapain selalu bareng, curhat bareng-bareng, nge-date bareng, juga hamil dan melahirkan bareng biar nanti anak-anaknya bisa sebaya lalu kembali mengulang model pertemanan seperti mama-mamanya.

Dalam pergaulan geng tersebut, ikatan yang kuat meruntuhkan sejumlah batasan. Sesama anggota geng selalu terbuka, tentu dengan asumsi saling percaya dan rasa nyaman untuk berbicara apa adanya. Sayangnya, kenyamanan ini seringkali ikut berubah seiring berjalannya waktu, memungkiri janji yang pernah diucapkan sebelumnya, semisal: “BFF!” Ketika sesama anggota geng saling berseteru, memisahkan diri, atau hanya gara-gara beda lingkungan. Silakan dihitung, ada berapa geng yang pernah Anda alami sejak masa SD, SMP, SMA, kuliah, di kantor, atau bahkan geng ibu-ibu/ayah-ayah di sekolah, geng arisan, geng motor yang serius–bukan cabe-cabean, geng golfer sesama eksekutif muda, dan sejenisnya. Kemudian, dari timeline selama itu, ada berapa orang anggota geng yang masih berteman baik sampai sekarang? Bila merunut tulisan Mas Nauval kemarin, beliau termasuk beruntung lantaran teman-teman gengnya meninggalkan banyak hal positif yang terus dikenang.

Di sisi lain, saat mencoba mengingat masa lalu itu, barangkali Anda teringat kenangan buruk, pengkhianatan, penelikungan, ejekan berlebihan, kebohongan dan sebagainya yang bikin sakit hati. Lebih sakit dari biasanya, karena hal-hal tidak menyenangkan itu dilakukan oleh teman sendiri. Sakitnya ganda. Namun bagaimanapun juga, semua itu sudah berlalu. Dengan pengalaman tidak menyenangkan yang dialami selama ini, telah mengantarkan Anda menjadi seperti saat ini. Baik atau buruknya kekinian Anda, dibentuk banyak hal. Termasuk sakit hati tadi. Misalkan saja, saat ini Anda merupakan orang yang cenderung pendiam, sukar untuk didekati, minim bicara, atau introvert, bisa saja dulunya adalah orang ceriwis, supel, aktif, dan sejenisnya. Hanya saja bedanya adalah, Anda yang saat ini lebih berhati-hati, memiliki wibawa dan karisma, serta disegani. Meskipun efek sampingnya adalah terkesan dingin dan menakutkan. Berbeda dengan sebelumnya, Anda memang merupakan sosok yang menyenangkan, bisa berbaur di mana saja, meramaikan suasana, tapi sering disepelekan dan tak cocok untuk memimpin sesuatu karena enggak digubris. Biarkan waktu yang menjawab, mana yang terbaik menurut Anda. Kendati tak mustahil ada orang yang mampu menjalankan kedua peran tersebut secara terpisah, di kantor atau di rumah, bersama kolega atau bersama pacar. Dan seterusnya.

Terlepas dari itu, gara-gara sikap peduli dan kepo beda tipis dalam kehidupan sosial kita saat ini, tak sedikit juga yang memilih untuk menghabiskan me time-nya sendiri. Menyepi di pojokan, seolah menciptakan tameng bertuliskan “jangan diganggu!” Kecenderungannya makin marak dalam beberapa waktu terakhir. Apakah tindakan itu salah? Oh, tentu tidak. Justru menjadi pengalaman baru yang meluaskan pandangan, bila kita yang biasanya selalu rame-rame, sesekali menghabiskan waktu sendiri. Silakan coba berkeliaran di mal seorang diri, sebagai permulaan. Tapi jangan luntang-lantung tak jelas tujuan, bisa berasa bego. Itu sebabnya bila jalan bareng teman lebih gampang keleleran, saking terlalu banyaknya pembicaraan.

Green Tea Latte

Tentukan mau lakukan apa; nonton, cari Wi-Fi atau baca di kafe (sambil pesan menu tentunya), ke toko buku, atau sekalian belanja bulanan. Pasti akan asing pada awalnya, namun lama-lama bisa terasa berbeda. Seolah benar-benar punya kendali atas diri sendiri, di saat ini. Terutama bagi Anda di kota-kota besar Indonesia, tongkrongannya banyak dan beraneka. Bisa-bisa di akhir pekan berikutnya, Anda malah ketagihan dan solo-visiting ke museum, art house. Atau malah bisa memunculkan semangat untuk solo-traveling.

Toh tidak ada salahnya memanfaatkan akhir pekan untuk hal-hal baru.

Selamat (menjelang) akhir pekan.

[]