14

(cerita sebelumnya bisa dibaca di sini dan juga di sini)

Why not?

Kami berdua berdiri, beranjak dari rumput di pinggir kolam hotel. Sesekali kami mencuri pandang ke arah satu sama lain, lalu tersenyum dan tertawa kecil.

Satpam petugas jaga hotel membuka pintu menuju ke arah lift sambil mengucapkan selamat malam dan tersenyum ke kami. Kami mengangguk, membalas salam dan saya buru-buru menahan pintu lift sambil menunggu teman saya merogoh tasnya, mencari kunci kamar.

Argh. Clumsy me. Adam always takes care of this stuff, never me with my messy bag!”

Satpam menghampiri kami.

“Permisi. Lantai berapa?”

Sebelum saya menjawab, teman saya buru-buru berkata, “Lantai dua puluh lima.”

Satpam mengeluarkan kartu yang dia sentuhkan ke layar di lift, lalu menekan tombol angka 25 di layar. Dia mempersilakan kami masuk, dan lagi-lagi sebelum saya sempat berkata, teman saya berterima kasih kepada satpam tersebut.

All these years, and you never told me you can actually speak Indonesian?!”

Dengan aksen yang semakin dibuat-buat, dia berkata, “Satu, dua, tiga, apa kabar, belok kiri, terima kasih … Dude, I travel in this region a lot. I have to pick up a few words to get by. You have no idea that I was this close to saying “Sawadee kap” to the security guard just now. Then I realized where we are!”

Spontan saya tertawa keras, dan mau tidak mau dia ikut terkekeh.

Ding!

 

images

 

Pintu lift terbuka. Saya mempersilakan dia keluar lebih dulu.

Turn right, and … here we are. 2511. Dua puluh lima sebelas.”

Saya bertepuk tangan kecil. “Impressive!”

“Thank you!”

Saya berdehem. “Listen, I had fun tonight. And here I am, walking you to the door.

Ah, being a true gentleman, I see. And what made you think I’d invite you to my room?”

“Wait. I thought …”

“What, you thought …”

“I mean …”

“Aren’t you tempted?”

“You cheeky bloody bastard!”

Kami pun tertawa, sebelum kami sadar sedang di lorong lantai kamarnya, dan buru-buru mengecilkan suara.

I was teasing you! Oh God, you’re still so easy to be fooled!”

“Hey, hey. Watch out.”

“But seriously, thank you. It’s good to see you again after all these years.”

“And thank you for listening. Thank you for your story, too. It gives me hope that, well, maybe, and just maybe, romantic kind of love still exists after all.”

“Maybe? Love does exist. It does. Romantic kind of love, it’s present. If you haven’t been able to find one, get one or be in one, it’s not your time yet. This kind of thing, you can’t rush it.”

Saya mengangguk kecil sambil menghela nafas panjang. Saya tersenyum.

If it helps, well I don’t know if it does, but back then, I had a crush on you.”

Saya tertawa. “Really?”

 

83-837648_two-people-talking-icon-png-png-download-people

 

“Well, you’re the only foreigner in our batch. Not just a foreign exchange student, but a full-time foreign student. It’s not my fault or your fault that you have that extra quality by default.”

Saya masih tertawa. “Ahahaha … Pity crush, I see.

Dia masih tersenyum. “At first I thought so. But then, it was not.”

Saya terdiam sejenak. “Wait. Really? Oh wow.”

Dia menggangguk sambil tersenyum lebar.

Oh wow. I don’t know what to say. Thank you, for telling that to me almost twenty years later.”

“And I believe it was not mutual?”

“Well, being a rebel you were, you definitely caught my attention. Otherwise we wouldn’t end up being in the same group again and again all through our college years, would we?”

“Ha! Yeah, you’re right. And thank God the crush didn’t last that long!”

“I guess I’m sorry? But hey, it’d be weird if we ended up together!”

Kami tertawa.

But this kind of thing, I wouldn’t know if you didn’t tell me. You would think that I work and live surrounded by people who can express themselves freely, sometimes often being in-the-nose a little too much, I’ll get the same bug. Yet, when it comes to matters of heart, I am always tongue tied.”

“What makes it hard to say what you want to say?”

“I don’t know. I guess looking back, I am being selfish by protecting myself. I’m scared of getting hurt or being rejected, thus I stay silent. I’m terrified to make moves, thus I torture myself by overthinking. It’s funny. You do that when you have a crush on someone, yet you don’t do any service to the other person, the object of your affection. You don’t do anything to them. You’re busy meeting false need of yourself.”

Dia mengangguk. Pelan-pelan dia duduk di depan pintu. Mau tak mau, saya mengikutinya. Sekarang kami berdua duduk selonjoran di depan pintu kamarnya.

Remember earlier in the restaurant, you told me that the big, or one of the main reasons you came back was that you don’t want to be looking back in regret later when you turn 70, of not doing what you wanted to do?”

Saya mengangguk.

Now, do you want to look back in regret later when you turn 70, of not saying what you wanted to say to whoever the person or the people that you set your heart to?”

Saya tersenyum.

You really have a way with twisting words, don’t you?”

“As I said earlier, life experience happened. For sure I never regret telling Adam how much I love him, and how much I hate him the next day after I said I love him, only to tell him that I still love him.”

“Do you ever regret being with him?”

“If you ask me right now, the answer is no. If you ask me when I am down in misery, because he falls sick, or because I am sick, the answer is still no.”

“How come?”

“Because I know I will regret more if I keep wondering what would happen if I didn’t say yes to his proposal then.”

Saya menatap muka teman saya yang bersemu merah. Kami sama-sama tersenyum.

You know, I just realized, regardless if you’re 40 or 14, when it comes to getting your heart broken, the pain still lingers, if not feels longer.”

“That’s true.”

“And yet, you always crave for the feeling, of falling in, then falling out …”

“That’s also true.”

“Because we just want to be wanted. Be desired, be needed by the other person. We crave for the connection. I crave for that.”

Teman saya mengangguk. “I’m sure you’re familiar with the saying “everyone has their own battle”?”

 

27911

 

Giliran saya yang mengangguk. “And that’s how I see it sometimes. Some people find it hard to conceive a child. Some people struggle to make ends meet. Some people have disabilities of any kind. And I guess for me, the battle is to find a life partner.”

“And yet, you know what everyone has in common? They live. The live through the battle, fight until the fight becomes a habitual thing to do, every day.”

“And that means I have to keep swiping right?”

Dia tertawa. “Whatever the means, I don’t want you to give up. Cliche, but have faith. Someone is out there. You just need more time than others to find. But eventually you will.”

Saya menghela nafas.

There is something I haven’t told you yet.”

“Oh, boy. Here we go.”

 

Advertisements

Kenapa Banyak Cewek Naksir Cowok Bad Boy? Ndaktaulah

SEJAK sekitar lima purnama lalu, Pangeran Rama bisa kembali bernapas lega. Pikirannya tenteram seperti sediakala, setelah ia berhasil merebut kembali dan menyelamatkan Putri Sinta, kekasih tercinta dari Rahwana alias Sang Dasamuka. Barangkali cuma itu yang ada di benaknya, tanpa ngurusin politik internal antara Rahwana dan Wibisana, yang kemudian mengambil alih tampuk kekuasaan di kerajaan selatan Jambudwipa tersebut. Yang jelas, sepulangnya Rama dan Sinta, dan pasukannya ke Ayodhya, ritme kehidupan mereka kembali seperti sebelumnya. Anteng adem ayem.

Sampai di suatu petang, ketika Rama sedang santai habis makan malam.

Sinta: “Mas, di sini ngebosenin”

Rama: “Maksudnya?

Sinta: “Ya bosen. Membosankan

Rama: “Gimana… Gimana… Aku ndak ngerti”

Sinta: “Ya gimana mau ngerti, kamunya sendiri juga ngebosenin”

Rama: “Aku ngebosenin? Syukur-syukur kamu sudah aku selamatkan dari penculik. Ndak tau diuntung!

Sinta: “Ya justru itu. Mas Rahwana itu ternyata asyik orangnya. Heboh. Gayanya keren. Dia juga bisa macem-macem, mukanya aja ada sepuluh. Party-party animal gitu. Gegilaan seru-seruan bareng lah”

Rama: “Jadi, kamu sudah ngapa-ngapain sama dia? Cih!”

Sinta: “Malah enggak, ya kita seru-seruan aja. Lagian, waktu balik ke sini kan kamu sudah minta aku buktikan kesucian pake Agni Parikhsa. Hasilnya bagus-bagus aja, kan? Duh… Lagian bukan itu juga maksudku. Intinya, kamu orangnya ngebosenin, Mas

Rama: “Ya sudah, kalau kamu bilang begitu. Balik aja sono ke Alengka. Enggak usah di sini

Sinta: “Err… Kan Rahwananya sudah Mas bunuh

Rama: “Eh, iya juga sih. Tapi aku marah! Enggak terima aku dibanding-bandingkan sama raksasa itu!”

Sinta: “Kamu itu sebenarnya baik, Mas. Tapi ya gitu, saking baiknya sampai jadi malesin. Setelah peristiwa kemarin, rasanya kamu terlalu baik buat aku. Aku enggak bisa. Biar ini jadi keputusanku, Mas. Jaga diri baik-baik ya. Jangan lupa lepas soft lens kalau mau tidur ya…

Sinta pun kemudian pergi. Kemungkinan besar cari pacar lagi.

Setelah insiden penculikan, yang sebenarnya hanya pergi tapi lupa bawa colokan charger HP, pandangan Sinta terhadap kriteria cowok idamannya berubah. Enggak sekadar baik, ramah, santun, berbudaya, beretiket, pintar, berwajah ganteng, jago cari duit, penurut, lemah lembut dan sifat-sifat positif lainnya, Sinta mulai menyukai cowok yang asyik, spontan, gayanya keren, berani, lumayan nakal, enggak terlalu rapi-rapi banget, supel, banyak temannya, cerdik, serta punya tindik, dan bertato yang kelihatan tanpa harus buka baju. Entah sih, sekaligus dengan bonus bisa bikin yang enak-enak atau enggak. Sinta mulai lebih menyukai bad boy sebagai pacar.


Rasa-rasanya, sudah ada lusinan artikel tentang bad boy’s charm yang beredar selama ini. Mulai yang hanya sekadar lucu-lucuan, sampai membahas dari sisi psikologi. Tetapi sampai sekarang, pada kenyataannya masih banyak cewek yang cenderung lebih mudah naksir dan suka–menghindari penggunaan istilah “jatuh cinta” yang tidak tepat–dengan cowok-cowok bandel sebagai pacar, meskipun bolak balik dibikin mewek, sakit hati, dan lain-lain. Sampai akhirnya berujung pada tiga kemungkinan: menikah dengan si bad boy apa pun kondisinya kemudian, putus lalu tak lama kemudian menikah dengan cowok lain yang lebih kalem, putus dan memerlukan waktu pemulihan yang cukup lama.

Kalau begini, jadi siapa yang salah? Para cewek, para cowok bad boy, atau lingkungan mereka masing-masing? Yang bila mengacu pada artikel Gandrasta Senin kemarin, pertanyaan di atas bisa dibuat lebih gamblang. Siapa yang salah? Cewek yang naif atau sengaja cari drama hidup, atau memang si cowok yang bajingan? Silakan Anda jawab masing-masing, baik yang pernah atau tengah berada dalam kondisi seperti itu, atau jomblo yang pengin ikut berpartisipasi.

Saya tidak akan jawab pertanyaan tersebut di sini, bisa bias. Karena saya cowok, bukan berada di tengah-tengah. Namun barangkali beberapa poin berikut ini bisa mewakili.

Kenapa banyak cewek yang naksir cowok bad boy?

Telah banyak artikel yang memuat beragam spekulasi mengenai pertanyaan di atas. Bisa jadi beberapa di antaranya mewakili apa yang Anda yakini sampai saat ini. Beberapa di antaranya, cowok yang masuk kategori bad boy itu…

  • tampil lebih keren,
  • punya appeal atau daya tarik yang lebih kuat, termasuk dari gaya dan kemampuannya,
  • mudah terbayang-bayang dan diidamkan karena pesonanya,
  • dirasa mampu mendominasi atau memimpin,
  • punya sikap yang berkesan, atau paham bagaimana harus bersikap di hadapan cewek,
  • sosok yang berani, melanggar batas, aturan, dan sejenisnya,
  • kalau dipacari, dianggap bisa memberi bumbu atau warna dalam hidup
  • dan alasan lain-lain, silakan tambah sendiri.

Terus, apakah cowok yang bukan bad boy memiliki kualitas yang berkebalikan dengan hal-hal di atas? Mbuh. Yang pasti, sampai-sampai ada ungkapan: “bad boys and good girls always attract each other”. Kalau sudah begini, kuncinya adalah ketertarikan. Berarti, bad boy jauh lebih mampu menarik cewek ketimbang cowok kalem yang adem ayem.

Di sisi lain, karakter cowok bad boy itu kerap dirasa menantang untuk ditaklukkan. Apalagi kalau sang cowok adalah teman sekolah, atau mahasiswa, atau rekan sekantor yang paling cakep. Aura ke-bad-boy-annya mengundang untuk ditundukkan. Jika demikian, berarti memang dasar para cewek tersebut doyan tantangan, dan berjiwa kompetitif dibanding cewek-cewek lainnya. Harap dipahami, bila seorang cewek sudah bertekad untuk “menguasai” seorang cowok idaman, harus ngeuh dengan bermacam konsekuensi yang bisa dihadapi. Walau pada akhirnya ya susah juga, secara di zaman sekarang banyak yang baperan.

Kemudian, kenapa di atas disebut-sebut soal cewek naif? Sebab, hanya karena tertarik dengan seorang cowok bad boy, si cewek punya ekspektasi yang tinggi untuk bisa mendapatkannya, dan memperbaikinya. Membuat si bad boy jadi good boy hanya bagi dirinya seorang. Ya, memang tidak menutup kemungkinan ada saja yang berhasil, semua atas nama cinta. Hanya saja jangan lupa, bad boy, atau bahkan para cowok pada umumnya punya persepsi berbeda soal cinta.

Selain itu, ada juga cewek-cewek yang memang pengin sekadar pacaran dengan bad boy sebelum nantinya mereda seiring usia dan mulai berpikir tentang pernikahan. Kan jamak ditemui istilah: “bad boys are boyfriend materials, not husband materials.” Ehm, mungkin boleh-boleh saja kali ya. Selama tidak ada yang membohongi satu sama lain. Namanya juga masih muda ini. Namun bagaimanapun juga, cewek adalah makhluk dengan perasaan. Pasti lumayan susah untuk berdamai dengan kenangan sendiri.

Terakhir, lebih kasuistis lagi, sebagian cewek suka dengan bad boy karena para cowok-cowok itu mampu mendominasi, bisa dengan mudahnya melarang, memerintah, menyuruh, dan sebagainya tanpa daya memprotesnya. Ya kalau begini, berarti kembali ke pembawaan si cewek sendiri. Tidak mustahil sikap penurut itu menunjukkan bahwa cewek-cewek tersebut memang submissive, dan justru malah tidak suka dengan cowok baik-baik yang mudah dikuasai atau dikendalikan. Kecuali kalau sudah jadi suami, ketika para istri ditakuti, namun cuma bisa diomongkan sesama suami saat menongkrong bareng di bar. Jeleknya kalau kebiasaan ini terbawa sampai menikah. Ketika hubungan yang harusnya adil dan setara, malah bikin makan hati salah satunya. Sayangnya, karena sikap submissive itu pula, banyak yang enggak mau maupun enggak berani menuntut, atau minta pisah kalau memang sudah sampai tahap yang membahayakan.

Silakan dipikirkan.

Apakah para cowok harus jadi bad boy untuk bisa disukai?

Begini, beda loh antara cowok yang sengaja bersikap atau menjadi bad boy demi tujuan-tujuan tertentu, dengan cowok yang sebenarnya tidak sadar kalau dirinya bersikap bad boy dan enggak punya niat untuk jadi playboy. Jelas yang paling brengsek di antara keduanya adalah cowok bad boy yang jelas-jelas sadar akan sikapnya, dan justru malah mengeksploitasinya habis-habisan demi bisa menarik perhatian cewek-cewek.

Cowok yang menikmati perangainya sebagai bad boy dan hobi ngajak tidur sana sini, cenderung punya rasa percaya diri yang kuat. Mereka percaya diri mampu meredakan amarah pacarnya dengan sikapnya yang manis dan menggemaskan; mereka percaya diri tidak bakal ditinggalkan pacarnya meski sekampret apa pun kelakuannya; kalaupun ditinggalkan mereka percaya diri akan mudah mendapatkan pengganti yang baru. Apabila memang tidak ingin pacaran dulu namun tetap pengin bobo-bobo lucu, mereka juga percaya diri bisa dengan gampangnya menggaet partner ONS-an.

Nah ini dia, kalau kamu adalah cewek yang punya pacar seperti ini, adalah pilihan yang logis untuk mempertimbangkan putus. Sekarang, apa yang bikin kamu ragu? Angan-angan bahwa dia pasti akan berubah suatu saat nanti? Atau, kamunya yang terlalu malas untuk kembali memulai jalinan kepercayaan dan membangun hubungan emosional dengan orang baru? Atau bahkan kamu sendiri enggak tahu apa alasannya tetap bertahan dengan cowok model begitu? Yowes, hidup-hidupmu sendiri, ya ditanggungjawabi sendiri.

Memang kayaknya gampang banget kalimat-kalimat ini ditulis, apalagi oleh seorang cowok yang konon katanya selalu berpegangan pada logika. Ya memang pada dasarnya gampang kok. Perasaan itu adalah properti milik manusia, harusnya dikuasai, bukan malah berbalik menguasai. Paling apa sih yang dirasakan setelah putus? Kangen? Kesepian? Ingat dengan kenangan-kenangan lama? Sedih karena sudah tak bersama lagi? Enggak ada lawan peluk/cium/teman bobo? Lahir sendirian, nanti mati pun sendirian. Setidaknya, satu-satunya figur yang pernah jadi tempat kita bergantung adalah orang tua, bukan pacar. Apalagi masih pacar, belum juga resmi sebagai pasangan legal di mata hukum.

Itu kalau berpacaran dengan bad boy yang sengaja mempertahankan sikap brengseknya. Lah, kalau berpacaran dengan bad boy yang semata-mata cowok badung, kekanak-kanakan, dan mokong tambeng, enggak bisa diomongin, tapi enggak punya niat selingkuh main-main dengan kesetiaan, jelas beda cerita. Bisa-bisa kamu harus lebih galak atau lebih sabar dibanding mamanya sendiri. Paham aja kan maksudnya gimana. Cara mengatasinya pun gampang-gampang susah. Cukup beri “mainan” kegemarannya, dibolehin melakukan hobinya, dikasih makanan enak, atau ditawari manuver baru saat lagi nyampur. Pokoknya dibikin senang aja, pasti anteng.

Jikalau kamu memang benar-benar enggak tahan dengan bad boy, apa pun kategorinya, ya sudah, pilihannya jelas. Berpacaranlah atau menikahlah dengan cowok yang baik-baik banget. Tapi pastikan dulu, jangan sampai baiknya kebablasan. Bisa-bisa kamu enggak hanya menikah dengan dia, tapi dengan mama dan papanya lantaran dia terlalu berat ke orang tua ketimbang kamu.

Kesimpulannya, berpacaran dengan bad boy atau good boy menawarkan kelebihan, kekurangan, dan sensasinya masing-masing. Kalau cocok ya cocok, kalau enggak cocok ya enggak cocok. Mau diteruskan, silakan, enggak mau diteruskan, ya itu hak asasi, kan. Di sisi lain, cowok (yang punya daya tarik) pun berhadapan dengan pilihan untuk berpacaran dengan cewek anteng, cewek agresif, cewek playgirl, cewek dramatis, dan sebagainya. Sami mawon.

Ribet? Siapa suruh jadi manusia?

Anyway para jomblo, selamat menikmati kebebasan. Toh, kebanyakan orang belum bisa membedakan antara pacaran dan urusan basah-basahan doang. 😀

[]