Menutup dan Mengakhiri

Bukan, hari ini saya belum memutuskan untuk menutup dan mengakhiri rangkaian tulisan saya di Linimasa selama hampir 5 tahun ini. (Nggak tau ya, kalau minggu depan tiba-tiba … Pokoknya, tunggu saja waktunya.)

Yang saya ingin bagi hari ini adalah beberapa cerita soal pengakhiran (aneh ya bahasanya?), atau closure (nah, ini lebih pas!) dari sebuah hubungan romantika. Berikut beberapa contoh kejadiannya, yang sekaligus menjelaskan, apa sih closure itu, kak?

Silakan:

(Subyek 1)

“Jadi dulu gimana elo bisa sampai bener-bener ada closure sama mantan?”

“Mantan yang mana?”

“Yang terakhir deh.”

“Ya abis putus, gak ketemuan lama, trus pas ketemuan lagi beberapa bulan kemudian, ngobrol deh. Kenapa dulu kita putus, trus sekarang gimana. Standar.”

“Emang sengaja ketemuan?”

“Pertama sih gak sengaja. Terus janjian ketemuan lagi. Baru di situ ngobrol.”

“Pake nangis atau gebrak meja atau banting kursi?”

“Elo kira lawak di tipi? Ya gak lah. Udah lewat beberapa bulan juga, udah kelar sedihnya, jadi ya ngobrol aja, like two adults.”

“Jadi kuncinya emang waktu, ya?”

“Ya abis, apa lagi?”

(Subyek 2)

“Gimana elo dulu bisa sampe ada closure ama mantan elo?”

“Mantan yang …”

“… yang paling drama putusnya.”

“Hahaha. Berat tuh. Lama. Makanya dia yang terakhir nongol pas gue mau kawin! Elo tau kan, cobaan orang mau kawin, tiba-tiba semua mantan pacar, mantan gebetan, mantan flirt, mantan fling, sampe mantan ONS semua pada nongol?”

“Busyet. Berapa macem sih jenis mantan?”

“Hahahaha. Ya pokoknya dari semua jenis mantan itu, semuanya udah beres, kecuali satu. Eh bener, dia nongol beberapa hari sebelum akad nikah, coba!”

“Terus?”

“Ya akhirnya ketemu. Ngobrol semaleman di coffee shop. Tumpahin semua unek-unek selama jadian dan selama bertahun-tahun setelah putus. Both sides lho ya yang curhat. Terus jalan, di mobil curhat, nangis, gitu terus. Tapi gak ada ciuman, gak ada grepe-grepean. Cuma pelukan. Sambil nangis. Hahaha. Tapi ya udah. Lewat jam 1 pagi dikit, pulang ke rumah masing-masing. Paginya gue bangun ngerasa lega. Plong. Banget.”

(Subyek 3)

“Elo ada closure sama mantan, gimana?”

“Ya ambil jatah mantan for the last time lah. Ewes.”

“Huahahahaha. Okay, next!”

(Subyek 4)

“Eh, ada cerita apa dari trip elo kemarin?”

“Hihihi. Guess what? Akhirnya ada closure ama mantan!”

“Ha? Ketemu di sana? Dia ikut rombongan?”

“Kagak. Boro-boro ikut rombongan. Kalo ada dia, ya ngapain gue ikut rombongan itu? Jadi, elo tau kan kalo ini tuh holy trip gitu. Buat ibadah. Jadi ya niat dan mindset gue dari pas pergi pun pokoknya ya udah, ibadah aja lah. Mumpung ada waktu. Di sana ya gue nothing but praying lah. Dan berdoa tuh minta ya yang standar lah, kesehatan, rejeki, kerjaan, pokoknya yang seperti itu. Kagak kepikiran sama sekali mau minta “Ya Tuhan, aku pengen move on ini kok susah banget yaaa, plis!”

“Hahaha. Terus?”

“Ya pas sore-sore gitu, gue lagi duduk-duduk, mumpung tempatnya lagi adem. Sekalian nunggu jam giliran ibadah, gue baca-baca aja kitab suci. Sekeliling gue juga. Baca aja, gak mikir apa-apa. Pas lagi konsen baca, tiba-tiba … Ah ini kedengerannya cemen, unbelievable, tapi beneran terjadi. Tiba-tiba, kayak ada suara, lirih banget, yang bilang ke gue, “It’s time. You can let your ex go now.” Gue kaget! Gue bengong. Lihat kanan kiri. Nggak ada orang yang duduk deket gue. Paling deket tuh jaraknya kayak dari meja kita ke toilet depan itu. Nggak mungkin bisa bisikin gue. Gue diem, lemes, dan inget persis kata-kata yang kedengeran barusan. Kitab suci gue tutup, tiba-tiba gue nangis aja gitu. Of all the prayers I asked ya, yang gak gue minta di situ, yang gue juga udah agak lupa juga, ternyata dikabulin dengan cara yang gak gue duga. Sama sekali.”

“Wow. Bener-bener divine intervention ya”

“Bener banget. Dan pulang dari trip itu, gue udah gak ada apa-apa lagi kalau ngeliat update atau feed dia di socmed. Asli. I feel nothing.”

That’s good!

(Kembali ke subyek 3)

“Eh tapi jadinya enak, gak?”

“Ya enak, lah! Lha wong gak pake benang. Eh tali.”

“Maksudnya?”

No string attached.”

“Huahahahahaha!”

(Subyek 5)

“Pertanyaan elo ribet amat sih, soal closure.”

“Ya kali elo punya cerita unik soal tutup buku ama mantan ini.”

“Hmmm. Paling gue pernah sih, gak sengaja walk down memory lane atau napak tilas perjalanan bersama mantan. Hahahaha.”

“Eh, maksudnya? Jalan bareng lagi setelah putus?”

“Enggak. Jadi pernah gue harus ke luar kota gitu, lalu pas cari hotel, keluar tuh di daftar pencarian hotel yang dulu pernah stayed bareng mantan di situ. Gue langsung skip lah, cari hotel yang lain. Tapi kok harga pada mahal-mahal semua. Sementara kualitasnya gue tahu gak sebagus hotel yang tadi. Dan jatuhnya hotel yang tadi itu lebih murah. Jadilah akhirnya gue booked hotel itu. Hehehe.”

“Wah. Dan dapet kamar yang sama kayak dulu?”

“Huehehehe. Kok ya kebetulan … iya.”

“Wuih! Terus gimana rasanya?”

“Ya gue senyum-senyum sendiri pas masuk kamar itu. Inget aja dulu pernah ngapain, kayak gimana. Hihihi. Dan akhirnya ended up pergi ke tempat-tempat yang dulu pernah gue ama dia datengi, di sela-sela kerjaan. Soalnya kan gue pergi yang terakhir ini karena work trip.”

“Lalu, pas elo revisited those places, what did you feel?

In general, nothing. At all. Inget sih, pasti. Pas masuk coffee shop, inget dulu gue pesen apa, dia pesen apa, duduk di mana. Pas masuk restoran, juga sama, inget makanan yang pernah kita pesen. Inget pernah foto selfie di mana aja di sudut kota itu. Cuma ya gue gak gila aja posting di socmed pake #10yearschallenge walaupun belum 10 tahun. Hahahaha.”

“Hehehe. Tapi beneran elo gak ada rasa apa-apa lihat tempat-tempat itu lagi?”

Nothing. Beneran. Mungkin karena waktu ya. Oke, mungkin kalau ada sedikit perasaan, bisa jadi gue lega. Lega karena setelah melihat kembali tempat-tempat itu, gue bisa cukup acknowledge past memory, tanpa harus drowning in sorrow inget-inget lagi yang dulu-dulu. Kayak yang, “oh pernah ke sini, pernah nyobain ini”, dan udah. Waktu sadar gue bisa melakukan itu, gue berpikir, “oh, berarti udah gak ada perasaan apa-apa lagi sama dia. That’s it.” Jadinya gue percaya bahwa waktu membiasakan kita. Time may not heal, but we are used to our scars as time passes.”

(Kembali ke subyek 3)

“Terus closure-nya kalo pake ambil jatah mantan gitu, gimana? Kan kalo enak jadi ketagihan?”

“Hus! Ya nggak boleh terus-terusan lah. Jatah mantan itu cuma sekali aja. Kalo terus-terusan, ya mending balik aja. Balik jadi pacar atau jadi apa lah. Lha kalo udah putus, ngapain balik lagi? Pokoknya udah, one last time, that’s it. Kalo diterusin biasanya malah gak enak nanti.”

“Jadi beneran diambil saat kira-kira masih enak ya?”

Exactly!

“Mantap!”

“Mantap. Mantan tetap. Hahahaha!”

Advertisements

Kalau Kita Pikir Kita Tahu Semuanya, Well …

the truth is, we hardly know anything.

Seorang penulis ternama pernah menulis di akun media sosialnya, bahwa “I believe we only show 10% of our life in social media”. Kurang lebih isinya seperti itu.

Saya mengamini pendapatnya. Bahwa tidak mungkin kita menampilkan seluruh kehidupan kita, atau seluruh aktifitas seharian kita, ke media sosial untuk dilihat dan ditelaah orang-orang asing yang tidak kita kenal. Meskipun kenyataannya sekarang, jauh lebih banyak yang berusaha mati-matian untuk melakukan hal tersebut, demi viral, eksistensi, kepopuleran dan alasan-alasan lain.

Jangankan untuk media sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, kita patut bertanya, yakinkah kalau kita tahu persis kehidupan orang yang dekat dengan kita?

Saat kita berpisah dengan pasangan kita setiap hari untuk saling berangkat kerja, tahukah kita apa yang pasangan kita lihat, rasakan dan lakukan sepanjang menuju tempat kerja, di tempat kerja, dan waktu mau pulang ke rumah? Saat anak selesai mencium tangan orang tuanya dan pamit berangkat sekolah, yakinkah orang tua benar-benar tahu kegiatan anaknya, dan anak benar-benar tahu rutinitas orang tuanya?

cache_6699210
Climber watching sunrise

Ada banyak sisi dalam diri kita yang mungkin sebagian dari kita sudah tahu apa saja sisi tersebut, dan mungkin ada yang belum secara penuh mengenali isi dalam diri. Adalah hak kita untuk mengungkap sisi mana yang mau kita bagi. Dan juga hak kita untuk membagi sebagian diri kita dengan orang-orang tertentu, agar ada kelompok-kelompok individu lain yang melihat sisi kita yang lain pula.

Sampai di sini apakah Anda masih bingung?

Saya mau bercerita sedikit.

Beberapa tahun lalu, salah satu teman terdekat saya akan menikah. Tentu saja saya dan beberapa teman lain ikut semangat menyiapkan diri untuk menghadiri pernikahan tersebut.

Namun beberapa hari menjelang acara besar, saya dilanda keresahan yang luar biasa. Sumber kegelisahan saya datang dari setitik keraguan mengenai hidup baru yang akan ditempuh teman saya. Dari mana keraguan itu muncul? Datangnya dari ketidaktahuan saya terhadap calon pasangan hidup teman saya tersebut.

Bukan sepenuhnya tidak tahu, hanya tidak dekat. Atau lebih tepatnya, tidak sedekat pertemanan kami.
Saya ungkapkan keraguan tersebut kepada beberapa teman lain. Semuanya memberikan tanggapan yang kurang lebih senada, yaitu agar saya wish them well saja. Tentu saja tidak meredam kegelisahan saya.

Sampailah di hari perhelatan acara.

Rangkaian prosesi pernikahan, mulai dari menyerahkan seserahan, duduk di belakang calon pengantin, semua kami ikuti sesuai aturan. Kami duduk mendengarkan petuah dari para pemuka agama, dan juga sambutan dari masing-masing orang tua. Tentu saja saya mendengarkan semuanya sambil membiarkan pikiran ini menari-nari sendiri dengan berbagai macam lamunan dan pemikiran tentang keraguan saya.

Sampai pundak saya ditepuk salah satu panitia.

“Mas, bawa kan flash disk yang dititipkan minggu lalu?”

“Oh iya. Hampir lupa. Sebentar ya.”

Saya bergegas ke mobil yang mengantar kami. Saya hampir lupa, kalau seminggu sebelumnya, ada seorang video editor yang menitipkan sebuah flash disk. Katanya itu berisi video dan foto calon pengantin. Sempat saya tanya, “Pre-wedding video?” Lalu editor itu menggeleng dan tersenyum. Katanya, “Nanti lihat saja sendiri.”

Of course saya belum sempat melihatnya dari saat menerima flash disk tersebut sampai hari pernikahan tersebut. Lalu saya serahkan flash disk tersebut ke panitia, dan kembali ke tempat duduk mengikuti rangkaian resepsi.

Sampai pada akhirnya MC memimpin pembacaan doa, lalu acara inti pernikahan selesai. Teman saya telah sah menikah, baik di mata agama maupun hukum. Para tamu mulai kasak-kusuk berdiri untuk antri foto bersama pengantin baru. Kami masih duduk-duduk santai sambil mengecek ponsel masing-masing.

thinking-about-life

Lalu MC berkata, “Sambil menikmati hidangan yang ada, kami akan memutar cuplikan video dan foto pasangan baru kita hari ini.”

Mata saya lalu beranjak ke dua layar televisi berukuran cukup besar yang sudah dipasang. Live feed sudah diganti dengan montage foto-foto teman saya dan, waktu itu, pacarnya. Saya tersenyum. Lalu cuplikan foto-foto berganti dengan video yang dibuka dengan tulisan “Sehari Bersama Mereka”.

Saya tertawa kecil sendiri, melihat teman saya memakai kaos yang pernah saya berikan sebagai hadiah ulang tahun. It looks familiar. Namun perasaan familiar tersebut hanya berhenti sampai di situ.

Saya tertegun melihat video itu. Di situ saya melihat sosok teman saya yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Yang sangat attentive dalam mendampingi pasangannya. Yang berbicara dalam nada suara yang berbeda, dan terlihat sungguh-sungguh, seakan tidak ada kamera yang mengikutinya. Yang memandang dan berbicara kepada pasangannya dengan tatapan seolah-olah tidak ada orang lain di sekitar mereka.

Yang berbeda dengan cara interaksi terhadap saya dan teman-teman kami lainnya selama lebih dari satu dekade kami berteman.

Di momen itu saya sadar bahwa seberapa lama pun kita mengenal orang lain, selalu ada bagian lain dari orang itu yang tidak pernah kita tahu sebelumnya. We never fully know a person. We can only know a glimpse of a person, and sometimes, that’s all we need to know.

Terus terang saya terharu saat video itu selesai, dan kembali memutar cuplikan foto-foto. Tidak ada yang tepuk tangan. Namun ada perasaan lega dalam hati seusai melihat video tersebut. Tiba-tiba keraguan saya hilang begitu saja. Yang ada adalah keyakinan, even just a hunch, bahwa teman saya telah memilih keputusan yang tepat. Dan akhirnya saya bisa memeluk mereka berdua di pelaminan saat sebelum kami foto bersama dan mengatakan dengan penuh keyakinan tanpa ragu, “Congratulations!

how-do-i-truly-know-if-god-is-calling-me

Seperti layaknya kita tidak pernah mengetahui secara penuh jati diri orang lain, kita pun tidak bisa mengharapkan orang lain tahu keseluruhan diri kita. Tetapi kita bisa selalu memilih, apa yang kita perlu tahu dari orang lain, dan apa yang orang lain perlu tahu dari kita.

And that is enough.

Mending Mati Saja

75ad45255fa994be707fef5bbfd7e7f7_a6c0f4868ef96ecf048925c91e3093-clipart-two-people-talking_300-276

“Jadi kamu sebenarnya sudah pernah gagal dua kali?”

“Ya, dua kali.”

“Apa karena itu kamu memutuskan untuk sendiri saja sekarang?”

“Tidak pernah secara sengaja memutuskan apapun, yang nyaman untuk situasi sekarang saja. Kok, rasanya tidak punya tenaga dan waktu lagi untuk membina hubungan dari nol. Mungkin nanti, tapi enggak sekarang.”

“Jadi enggak kapok?”

“Wiser and more skeptical? Yes. Kapok? Sepertinya enggak.”

“Apa yang terjadi sih, dengan yang pertama? Sepertinya kamu jarang cerita.”

“Enggak ada yang aneh-aneh sih, masih sama sama muda, ekspektasi tidak sesuai kenyataan dan yang tadinya manis jadi pahit.”

“Sepertinya biasa saja. Toh banyak yang mengalami itu dan tetap bisa jalan.”

“Ya, memang, tetapi ada turning point yang membuat putus asa dan bahkan membuat saya berpikir lebih baik dia atau saya mati saja.”

“Waduh, segitunya?”

“Ya mungkin waktu itu pikirannya masih terlalu naif. Ketika dengan segala masalah yang biasa, lalu memikirkan masa depan, bagaimana kami akan berjalan dengan cerita yang kurang lebih bisa ditebak, dengan cara yang sepertinya sulit diubah dengan cepat, tiba-tiba rasanya lebih baik mati saja daripada punya masa depan seperti itu.”

“Jadi ketika itu kamu berhenti berharap dan berusaha?”

“Ya.”

“Bukannya justru biasanya perempuan mencari kenyamanan dan keamanan dari masa depan yang sudah bisa ditebak?”

“Entahlah, mungkin yang lain merasa seperti itu.”

“Kalau kamu?”

“Sendirian memang agak menakutkan, lebih tidak pasti, dan terkadang merasa tidak ada sandaran yang bisa diandalkan. Tetapi ketidakpastian masa depan justru membuat bahagia dengan perandaian kanvas atau kertas kosong yang masih bebas kita lukis dengan warna apa saja. Seseorang di hidup yang seperti bola besi berantai yang mengganduli kaki biasanya sudah melukis kanvas itu dengan warna latar belakang sesuai dengan suasana yang dibawanya.”

“Bukannya justru itu hakikat hidup bersama? Melukis bergantian tetapi tetap dengan warna harmoni yang akhirnya mendapatkan lukisan selaras walau tak sempurna?”

“Mungkin. Tapi hidup bersama atau hidup sendiri kan pilihan.”

“Mungkin kamu saja terlalu egois, tak pernah membiarkan orang lain mengotori kanvasmu?”

“Ya, mungkin itu juga.”

Selingkuh

HAL ini sering terjadi; mudah ditemukan di sekitar kita lantaran dilakukan banyak orang. Sekilas terlihat menyenangkan sekaligus cendala, tapi bagi sebagian terasa menantang untuk dibuktikan keseruannya. Penuh drama, melibatkan taktik serta muslihat, sehingga membuatnya lumayan risi untuk diperbincangkan. Cukup disegel dengan kalimat sakti “tahu sama tahu sajalah, itu bukan urusan kita”, dan terus saja dilakukan sampai bosan.

Ya, begitu mengenggankannya pembicaraan soal selingkuh, wajar bila tulisan ini dianggap kurang kerjaan. Namun bagaimanapun juga, perselingkuhan adalah bentuk dari eksistensialisme praktis. Apalagi menjelang libur panjang mulai lusa, saat para peselingkuh wajib punya rencana untuk bisa membagi waktu bersama dua atau tiga kekasih agar semua tetap berjalan lancar, atau malah memutuskan lebih serius dengan salah satunya saja.

Dalam artikel Mas Gandrasta beberapa pekan lalu, hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya diperlukan waktu selama 34 menit untuk bisa merasakan bibit jatuh cinta. 30 menit saling berbicara, ditambah 4 menit saling berpandangan tanpa kata. Jangan-jangan, kondisi begini yang kemudian memicu seseorang untuk berselingkuh, dan seringkali ditambah kesediaan seseorang lainnya untuk jadi selingkuhan.

Terkesan gampang memang. Akan tetapi jangan lupa kalau manusia penuh dengan preferensi, apalagi untuk urusan naksir-naksiran. Tanpa preferensi, tentu tidak ada perasaan suka sebagai titik awalnya. Minimal secara visual.

Bila kembali ke 34 menit di atas, asumsinya pembicaraan selama 30 menit berlangsung lancar dan mengalir, tek-tok, dialogis dan berekspresi, bukan seperti interogasi. Setelah hati dibuat hangat lewat obrolan yang menyenangkan dan efek hormonal, tatapan mata bikin mental block makin luluh. Kesengsem deh. Soal preferensi, perbincangan itu tak sekonyong-konyong terjadi. Setidaknya ada wajah yang sanggup dilihat selama mengobrol, untuk selanjutnya ditatap lekat-lekat selama 4 menit. Proses naksir bakal gagal, kalau belum apa-apa sudah pengin ngakak lihat wajah si dia. Sayangnya, ada beberapa kasus yang tidak bisa dijawab teori ini. Kiwil dengan dua istri, misalnya.

Secara umum, selingkuh diartikan sebagai sikap tidak setia dan dilakukan sembunyi-sembunyi, lengkap dengan mekanisme pertahanan berupa kebohongan, serta bisa menyebabkan kekecewaan dan rasa sakit hati. Ketika seseorang yang sudah terikat komitmen perasaan terhadap orang lain, juga menjalin asmara dengan orang yang berbeda dan tidak saling tahu. Dengan demikian, perlu empat syarat untuk selingkuh:

  1. Sudah punya pasangan sebelumnya. Kalau belum punya pacar, siapa yang dibohongi?
  2. Tidak saling tahu. Kalau sama-sama tahu dan anteng-anteng saja, berarti itu bukan pacaran, tapi jadi selir atau poligami/poliandri.
  3. Mengerti kalau selingkuh itu tindakan yang tidak benar. Terdengar dungu memang. Tidak benar di sini karena bisa merugikan orang lain, namun itu kalau ketahuan. Jadi, para peselingkuh berusaha hati-hati dan cermat supaya tidak ketahuan.
  4. Ada emosi dan perhatian yang dicurahkan. Bila tidak pakai perasaan, tak ubahnya cuma hubungan transaksional.

Mengapa seseorang berselingkuh? Baik sebagai peselingkuh, maupun selingkuhan. Soalnya pasti tidak ada yang mau diselingkuhi, biasanya karena menyangkut harga diri.

Agak tricky menjawab pertanyaan ini, tapi berikut adalah beberapa alasan yang lazim kita dengar, atau kita gunakan (ngikik).

  1. Alasan naif: cinta,
  2. Alasan kausalitas: mencari seks (aktif), atau tak tahan godaan (pasif),
  3. Alasan egosentris: membuktikan keunggulan diri bisa menaklukkan banyak orang, bentuk ekspresi sosial dan gender,
  4. Alasan traumatis: membalas dendam, atau melampiaskan ke orang lain,
  5. Alasan bodoh: iseng, mumpung masih muda/masih bisa/masih belum menikah,
  6. Alasan evaluatif: bosan atau pelarian,
  7. Alasan kontemplatif: contentment.

Ketujuh alasan di atas memiliki spektrum masing-masing yang tampaknya tidak perlu dijelaskan lebih lanjut, tetapi kebanyakan orang Indonesia sudah kadung menyamaratakan semua alasan ke poin nomor 2 aktif. Apa pun latar belakangnya, perselingkuhan dianggap bermuara ke satu titik: selangkangan alias hubungan seksual. Padahal belum tentu itu yang dicari, walaupun pasti dicap mustahil.

Jamak kita dengar: “ngapain dia selingkuh sama Si Anu kalau enggak buat ditidurin? Potong kuping gua!

Jika demikian keadaannya, giliran para peselingkuh dan selingkuhan saja yang menanyai diri mereka sendiri. Apakah hubungan klandestin yang tengah mereka jalani harus selalu diwarnai pertukaran lendir? Di sisi lain, sikap terhadap ihwal seksual ini pula yang membedakan antara perselingkuhan dengan open relationship. Dalam perselingkuhan, hubungan asmara dan aktivitas seksual dilakukan secara diam-diam, otomatis tidak disetujui pasangan. Sedangkan dalam open relationship berlaku sebaliknya, meski dengan syarat dan ketentuan khusus, dan untuk bisa menjalaninya benar-benar membutuhkan kedewasaan emosional yang sangat tinggi.

Kesimpulannya, dari hampir semua alasan di atas (kecuali poin nomor 2 aktif), belum tentu berujung pada aktivitas seksual. Bisa jadi setelah tujuan utama tercapai, sebuah perselingkuhan akan ditinggalkan dan pupus dengan sendirinya. Begitupun untuk alasan nomor 1, saking cintanya sampai-sampai menjadi Platonic Love, enggan untuk mengubah apa pun. Ibarat melihat bunga cantik yang mekar di pinggir jalan, dan memutuskan untuk menikmati keindahannya tanpa memetik agar tidak lebih cepat layu.

Untuk alasan nomor 2 pasif, silakan nilai sendiri. Apakah menggunakan jasa prostitusi sama dengan berselingkuh? Sebab komitmen untuk setia berlaku menyeluruh pada hati, pikiran, tubuh, dan kelamin. Atau piye? Selain urusan bayar membayar, di zaman sekarang hanya orang-orang dengan idealisme tinggi saja yang enggak langsung terima waktu disodori bodi keren, cowok ataupun cewek.

Poin ke-6 disebut evaluatif, karena kebosanan terhadap pasangan adalah sebuah masalah yang kata banyak orang bisa diselesaikan. Barangkali gara-gara susah berkomunikasi, akhirnya kebosanan itu menjadi kronis, rasa suka berubah jadi ill-feel. Hati yang gundah mendadak mendapat kenyamanan dari seseorang yang berbeda. Pedahal, jikalau benar-benar yakin dengan rasa bosan itu dan telanjur malas mengurusinya, mending putus sekalian, ketimbang selingkuh bikin perkara baru. Tidak bisa putus karena masalah hati dan sayang? Lah, katanya bosan. Jangan labil deh.

Pandangan berbeda untuk poin nomor 7. Saya merasa kurang sreg menggunakan kata “kepuasan” dibanding “contentment”. Kata “puas” identik dengan perasaan badaniah: kenyang, lega, mengarah ke jenuh, perasaan setelah mendapatkan sesuatu. Untuk urusan lega-legaan, ya jatuhnya seksual lagi.

Sebagai pembanding soal contentment ini, bagi Anda yang sedang atau sudah berpacaran/menikah, pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang lebih menyenangkan kala diajak berbicara dibanding pacar/pasangan sendiri? Begitu senangnya, sampai-sampai Anda selalu menantikan momen ngopi bareng dengan orang tersebut. Sepasang kekasih tidak mesti punya kegemaran yang sama, karena itu Anda lebih senang mengajak orang lain untuk nonton bareng festival film atau gig dan gegilaan bersama. Atau dengan rekan bisnis? Dan sebagainya. Semua berjalan mesra tanpa sedikit pun intensi untuk bobok-bobok lucu. Apa itu namanya? Perselingkuhan kognitif? Perselingkuhan koheren? Apa yang diperoleh? Emotional contentment? Associative contentment? Apa lah apa deh.

Pun, apabila perasaan contentment ini berubah menjadi lebih intim, giliran logika dan perasaan yang berperang. Memilih salah satu, atau tetap mempertahankan dua-duanya dengan risiko harus makan hati serta selalu melakukan penyesuaian diri. Kecuali Anda masih alay.

Melelahkan enggak sih? Worth it?

Bagaimana dengan para korban perselingkuhan? You’re obviously the survivors! But if You’re still with that cheater, obviously a dumb then. Sorry. 🙂

Sekarang, setelah kelar membaca sengkarut sotoy ini, siapa saja berhak berceletuk: “duelah, selingkuh itu buat dijalani kali, bukan buat dibahas-bahas.”

Kembali ke prinsip universal: “pengin selingkuh? Bersedia diselingkuhi, enggak?”

[]

Teman Mantan Itu Bukan Mantan Teman

Beberapa hari yang lalu, saya berjumpa seorang teman lama di sebuah acara. Saking kagetnya karena sudah sekian lama tidak bertemu, kami langsung mojok. Tidak lagi mengindahkan acara yang kami hadiri, kami memilih untuk mengobrol dan tertawa hampir sepanjang malam.
Di sela-sela obrolan, saya berkata, “Eh, bentar. Apa kabar temenmu, UN? Udah lama gak lihat kalian jalan bareng. At least gak di-tag di Instagram atau Path.”
Jawaban teman saya, “Ya ampun, gue pun udah lama gak ketemu dia. ‘Kan gue temenan sama YK. Jadi ya pas UN putus sama YK, whichever version you believe ya, bok, siapa yang mutusin siapa, ya at the end of the day, gue temennya YK duluan. Hashtag #TeamYK gitu.”
Kami tertawa. Meskipun tak lama setelah kami berpisah dan pulang ke rumah masing-masing, saya tidak habis pikir.

Ketika dua orang memutuskan untuk mengakhiri hubungan dan berpisah, apakah hanya dua orang itu yang berpisah? Apakah ada orang-orang lain?

300 can you remain friends with your ex

Dalam kasus perceraian, atau hubungan apa pun yang mengikat secara hukum, persoalan ini kadang menjadi pelik. Apalagi kalau ada keturunan biologis. Tak jarang prosesnya berlarut-larut.

Namun dalam jenis hubungan lain yang kasat hukum, dan banyak kita alami sendiri, persoalan ini tak kalah ribet ujung-ujungnya.

Saya jadi ingat film Husbands and Wives karya Woody Allen. Film tahun 1992 ini saya tonton beberapa tahun sesudahnya, waktu sudah kuliah dan sudah mulai sedikit paham tentang jalan ceritanya. Maklum, film ini memulai ceritanya dari sepasang orang yang akan bercerai setelah lama menikah. Keputusan mereka ini mereka sampaikan ke teman-teman mereka. Alih-alih berempati, teman-teman mereka malah sibuk menganalisa pernikahan dan hubungan mereka masing-masing. Mereka pun dikacaukan sendiri dengan kebingungan mereka, harus berpihak kepada siapa. Kepada istri? Kepada suami? Tapi kalau saya berpihak ke suami, nanti dianggap tidak fair?

Husbands and Wives by Woody Allen.
Husbands and Wives by Woody Allen.

Aha! That’s the word. Fair. Atau padanan kata lainnya, “netral”. Yakin warna abu-abu itu bisa persis 50% hitam dan 50% putih? Kalau komposisinya 49% dan 51%?

Beberapa tahun lalu, I had a big breakup. Hubungan kami berjalan cukup lama. Cukup lama untuk mempunyai teman-teman yang dekat dengan saya dan mantan as a couple, not just individuals. Ketika kami berpisah, meskipun tidak ada kesepakatan, kami memutuskan untuk mengatakan langsung ke beberapa orang teman. Reaksinya, tentu saja, ada yang sedih, lalu menanyakan bagaimana keadaan sekarang, dan sejenisnya. Ada juga yang tanpa tedeng aling-aling langsung bertanya, “Aduh, terus sekarang gue gimana? I mean, I befriend you both. Aduh, kalian kan temen gue semua. Aduh …”
Jujur saja, waktu itu saya langsung ketawa di depan dia dan berkata, “Gue yang putus, kenapa malah elo yang heboh ya?”

Tapi perlu waktu ternyata untuk memahami kegelisahannya. Semakin kita beranjak tua (come on, we all are), semakin selektif kita dalam berteman. Memutuskan hubungan pertemanan tidak pernah mudah. Ada faktor kenyamanan berbeda yang hanya bisa kita dapatkan pada teman. Makanya, the older we are, the lesser friends we have, but they are only the few good ones.

Seorang teman dekat pernah mengatakan ini dengan tegas.
“Pada akhirnya, gue gak bisa netral. Never. Lebih baik gue jujur bahwa gue lebih deket ke siapa, karena pertemanan itu tergantung siapa yang bisa membuat gue nyaman. Gue lebih nyaman ngobrol ke siapa, gue lebih enak cerita atau curhat ke siapa. Itu sih. Kenal baik, of course masih kenal baik. Gue lebih senang jadi teman yang jujur, daripada harus pura-pura baik.”

article-1333112818891-1266B3EE000005DC-530160_636x312

Kalau diurai lagi the comforting factor ini, cabangnya bisa banyak. Misalnya, kesamaan dalam selera makan. Atau kesamaan hobi. Kalau dulu ketika kita masih dalam hubungan meyakini bahwa opposite attracts (yang satu suka posting foto selfie, yang satu suka posting foto pemandangan), maka ketika putus, yang terjadi ya yang seharusnya: opposite divides. Lalu teman-teman di luar hubungan yang selama ini mengamati perbedaan, pada akhirnya memilih, mana di antara kedua orang ini yang mempunyai banyak kesamaan dengan mereka, sehingga mereka merasa nyaman.
As simple as that.

Toh, pertemanan yang jujur adalah pertemanan yang bukan sekedar basa-basi.