Inilah 17 Film Indonesia Favorit Selama 17 Tahun Terakhir (2001 – 2017) Yang Nyaris Jadi #RekomendasiStreaming

Apakah anda mengernyitkan kening membaca kata “nyaris” di judul di atas? Jangan khawatir. Anda tidak sendiri. Kata “nyaris” di atas terpaksa saya gunakan dalam judul, karena tidak ada pilihan.

Kok bisa begitu?

Awalnya saya berniat menulis film-film Indonesia pilihan saya yang ada di aplikasi video streaming. Kalau tahun lalu saya sudah menulis tentang 17 film pendek Indonesia pilihan, maka tahun ini saya ingin menulis tentang 17 film cerita fiksi panjang Indonesia yang ada di OTT platform. Hitung-hitung sebagai #rekomendasistreaming untuk teman-teman menonton di libur panjang akhir pekan 17-an ini.

Tapi setelah melihat koleksi film Indonesia yang ada di beberapa aplikasi legal, saya mengernyitkan kening.

Ternyata cukup banyak film Indonesia, film panjang yang telah dirilis di bioskop sebelumnya, yang tidak tersedia di aplikasi-aplikasi tersebut.
Mungkin ada beberapa pertimbangan dari pemilik film untuk tidak atau belum membuat film-film mereka available di sana. Mungkin juga kontrak sudah berakhir. Mungkin juga masih disimpan untuk aplikasi yang baru nantinya. Entahlah.

Akhirnya saya berganti tujuan penulisan kali ini, dan merasa untuk lebih baik jujur ke diri sendiri: menulis tentang 17 film Indonesia yang paling saya sukai selama 17 tahun terakhir. Tujuh belas tahun pertama di abad ke-21. Sengaja memang tidak mengikutsertakan film-film yang dirilis tahun 2018, karena tahun 2018 belum selesai.

Dan ini murni pilihan saya pribadi, tidak mewakili teman-teman lain di Linimasa. Pilihan yang semoga terasa jujur, sejujur saya mengakui bahwa daftar ini jauh dari sempurna (hey, what is perfect, after all?).

Ini juga termasuk jujur mengatakan, bahwa sampai sekarang susah buat saya mengakui bahwa horor adalah genre film favorit saya. Saya bisa mengapresiasi film horor yang baik, tapi ketika mengapresiasi film horor, terpaksa saya redam rasa takut saya, dan sepanjang menonton film-film horor tersebut, saya malah sibuk berpikir menganalisa aspek pembuatan film dalam film-film itu. Dengan kata lain, nontonnya pakai mikir, sehingga lupa merasakan. Tapi tak urung saya mengapresiasi film horor Indonesia yang dibuat dengan baik, seperti Pocong 2 (2006), Hantu (2007), dan Pengabdi Setan (2017).

Film-film yang saya sukai, berarti sudah ditonton lebih dari sekali. Dan kata “suka” di sini memang sangat subyektif, karena melibatkan emosi, hati dan perasaan saat menonton dan seusai menonton. Film-film ini, lagi-lagi menurut saya, are timeless. They stand against the time, dan masih meninggalkan kesan yang sama, beberapa malah lebih, saat kita tonton ulang.

Kalau mereka tersedia di aplikasi video streaming, maka saya akan informasikan nama aplikasinya. Kalau belum tersedia, maka saya berharap supaya film-film ini bisa segera tersedia buat kita tonton lagi.

Masih banyak judul lain yang belum disebutkan di sini. Di catatan saya ada sekitar 71 judul film Indonesia yang saya sukai selama 17 tahun terakhir. Tapi dalam suasana kemerdekaan RI, let’s stick to our independence date.

Inilah film-film tersebut (all images are from filmindonesia.or.id):

• Di urutan nomer 17 ada film The Photograph (2007) karya Nan Achnas. A very powerful and intimate film tentang kesepian dan kesendirian seorang fotografer tua yang akan membuat hati kita trenyuh. Sejauh ini, penampilan terbaik Shanty ada di film ini. (available in iflix)

poster_photograph

No pun intended, but there’s earnestness in Ernest Prakasa’s Cek Toko Sebelah (2016) yang mau tidak mau membuat kita tersenyum sepanjang film ini. A good hearted comedy is hard to find in our cinema, and this is a rarity. Inilah pilihan saya di nomer 16. (available in HOOQ)

cektokosebelah-poster

• Saya suka film-film dengan set-up cerita dan kejadian dalam satu kurun waktu dan tempat. Banyak yang bisa diungkap dari cerita yang hanya terpusat pada singular time and place. Ini juga menunjukkan kedisiplinan tinggi dalam pembuatan filmnya. Pilihan saya di nomer 15, Lovely Man (2012) menunjukkan hal ini. Ditambah dengan penampilan gemilang Donny Damara dan Raihanuun, siapa yang tidak terharu melihat perjalanan emosi mereka? (not available anywhere yet)

Poster_Lovely_Man

• Sederhana, bersahaja dan jujur. Slogan politik? Bukan. Tapi tiga kata itu yang bermain di benak saya saat menonton film panjang perdana karya Eugene Panji, Cita-Citaku Setinggi Tanah (2012), di nomer 14. Ditambah pula film anak-anak ini benar-benar bercerita dari sudut pandang anak-anak, sesuatu yang masih jarang berhasil dibukukan di perfilman kita. It’s an underrated gem. (not available anywhere yet)

cita-citaku-setinggi-tanah_poster_lf-c023-12-476991_img_photo

• Sebagai generasi yang masa remajanya dihabiskan tanpa ada film Indonesia yang layak tonton di bioskop, saya senang melihat adik-adik kelas saya menyerbu bioskop saat Ada Apa Dengan Cinta? (2002) dirilis. Tren sesaat? Tidak juga. Saat ditonton lebih dari satu dekade berikutnya, film AADC? masih membuat kita tersenyum. A proof that a good film lasts. Lucky number 13. (available in iTunes)

poster_AdaApaDgnCinta

• Di nomer 12 ada film badminton King (2009) yang akan terus saya ingat sebagai film yang menunjukkan bahwa almarhum Mamiek Prakoso adalah aktor hebat. Lebih dari sebagai komedian ternama, di film ini Mamiek bermain prima sebagai ayah seorang calon atlet yang perasaannya terbagi antara mendukung anaknya menjadi atlet, atau mengingatkan tentang realita hidup. Such an understated performance worth being studied. (not available anywhere yet)

poster_king

Whatever happens to us now? Kita pernah membuat film cerdas yang menggelitik seperti Arisan! (2003), pilihan nomer 11 saya, yang rasanya tidak mungkin akan dibuat di era sekarang. Let this film be a reminder then, that open minded-ness and acceptance shall prevail. (not available anywhere yet)

poster_arisan

• Betapa beruntungnya judul film di nomer 10, Alangkah Lucunya Negeri Ini (2010). Mau dibuat kapan pun, judul filmnya masih applicable. Ditambah lagi dengan cerita komedi satir yang sedikit mengingatkan kita dengan cerita-cerita Charles Dickens, film ini layak saya sebut sebagai salah satu film black comedy paling sukes yang pernah dibuat dalam dua dekade terakhir. Duet sutradara dan penulis Deddy Mizwar dan Musfar Yasin yang jauh lebih baik dibanding Nagabonar Jadi 2. (not available anywhere yet)

poster_alangkah_lucu

• Tidak sekedar menghadirkan a kick-ass revenge film, namun Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017) juga menghadirkan cross-genre yang relatif baru di film Indonesia, yaitu western noir. Relatif baru, karena western sebelumnya hadir lewat komedi parodi film-film Bing Slamet dan Benyamin S. di tahun 70-an. Film pilihan saya di nomer 9 ini adalah film karya Mouly Surya dengan a fearless performance oleh Marsha Timothy yang akan menjadi catatan tersendiri tidak hanya di perfilman Indonesia, tapi juga dunia. (available in HOOQ)

marlina-sipembunuhdlm4babak-poster

• Di nomer 8 ada Berbagi Suami (2006), film tentang female empowerment yang menurut saya susah dipercaya bisa berhasil. But it did, and we’re all the better of it. Film yang menempatkan semua karakter utamanya dengan empati, sehingga kita yang menontonnya pun bisa terbawa dengan jalinan emosi yang dibangun. Film yang sangat menggugah. (not available anywhere yet)

poster_berbagisuami

• Ah, Love (2008). Saya sempat terperanjat saat menyadari bahwa sudah lebih dari satu dekade, kita belum membuat lagi film antologi tentang cinta yang berhasil seperti Love. Pilihan saya di nomer 7, film Love tidak sekedar adaptasi (it is) atau reka ulang dari film-film serupa, tapi film ini seperti dibuat dengan hati, yang mau tidak mau membuat kita masih merasakan kehangatannya saat menontonnya lagi, dan lagi. (available in iflix)

poster_LOVE

• Sebagai pecinta film, menonton Janji Joni (2005) mau tidak mau membuat kita tersenyum. Seolah-olah film ini memberikan validasi atas kecintaan kita terhadap film dan bioskop. Meskipun jalan ceritanya bukan tentang itu, dan dengan jalan penceritaan yang belum sempurna, menonton film pilihan saya di nomer 6 ini seperti mengafirmasi bahwa “hey, it’s okay to spend your life liking films and stuff’. Saya ingat betul, menonton film ini pertama kali dan kedua kali menimbulkan efek “wow! That was cool!” Terima kasih sudah membuat film ini, Joko Anwar. Film ini masih menjadi karya Joko Anwar yang paling saya suka. (not available anywhere yet)

poster_janjijoni1

• Sampai di sini, anda pasti sudah bisa menebak kalau saya sangat menyukai film romansa. Benar: I’m a sucker for good romance. Dan film Ruang (2006), film nomer 5 di daftar ini, adalah film yang saya sebut sebagai salah satu film romansa terbaik yang pernah ada di sinema kita. It never wastes any minute to go straight to drama and romance, membuat sebagian besar adegan di film ini indah dan dapat diikuti dengan baik. Film yang menghadirkan rasa “klangenan” di hati. (not available anywhere yet)

poster_ruang

• Dan inilah film yang seusai menonton pertama kali di bioskop membuat saya terperangah, “What was that I just watched?!” Begitu menontonnya lagi, saya masih terkesima. Posesif (2017), film nomer 4, adalah film yang simply knocked it out of the park. Dan saya percaya bahwa the less you know in advance about the film, the better. What a powerful film that leaves you stunned. (available in iflix)

posesif-poster2

• Apa yang anda ingat saat pertama kali menonton The Raid (2011), film nomer 3, di bioskop? Kalau anda menontonnya di penutupan INAFFF 2011 bersama saya, tentunya anda masih ingat riuh rendah penonton bertepuk tangan dan berteriak. It’s brutal, violent and it spares no nonsense. Film yang harus kita akui telah menempatkan nama Indonesia di peta perfilman dunia, in a very awesome way. (not available anywhere yet)

TheRaid-Poster

• Tidak hanya sepanjang 17 tahun terakhir, namun film Sang Penari (2011), film nomer 2 di daftar ini, adalah salah satu film terbaik Indonesia yang pernah dibuat. Period. Tidak setiap tahun film Indonesia dengan craftsmanship tingkat tinggi seperti ini bisa hadir. Dan adegan terakhir film ini, seperti sudah pernah saya bahas sebelumnya, adalah salah satu final scene paling indah yang pernah dibuat. (available in iflix)

poster-sangpenari

• Dan inilah film Indonesia yang paling saya sukai selama ini. Eliana, Eliana (2003), karya Riri Riza. Lima belas tahun sejak film ini dirilis, dan ternyata kisah perjalanan satu malam ibu dan anak perempuannya menyusuri Jakarta masih menggetarkan hati. Setiap bagian film bertutur dengan efektif. Setiap ekspresi dari raut muka Jajang C. Noer dan Rachel Maryam menyiratkan emosi yang tidak harus diucapkan dengan kata-kata, namun kita bisa merasakan secara mendalam. Watching this film is such a rewarding experience one may struggle with words to express it. A beautiful film. (available in iflix)

poster_eliana

Apa film Indonesia favorit anda selama ini?

Advertisements

#RekomendasiStreaming – Tontonan Libur Lebaran 2018 Yang Mencerahkan

Libur Lebaran tahun 2018 ini terasa sekali panjangnya ya?

Sepertinya baru kali ini ada gerakan libur bersama secara nasional yang cukup lama, dimulai hampir seminggu sebelum Lebaran, dan akan berakhir sekitar seminggu setelahnya. Bahkan beberapa instansi, baik kantor maupun sekolah, baru akan mulai beraktivitas lagi bulan depan.

Beberapa teman yang sudah berkeluarga mengaku cukup kelimpungan untuk mencari kegiatan pengisi waktu liburan bagi anak-anak mereka. Sementara saya yang memang tidak berkeluarga, paling cukup kelabakan kalau ditanya, “enaknya nonton apa ya? Film di bioskop sudah ditonton semua.”

Memang perbandingan jumlah film (baru) di bioskop dengan jumlah hari libur tidak berbanding lurus. Oleh karena itu, setelah menonton film-film Lebaran di bioskop, mungkin tidak ada salahnya kita kembali menundukkan kepala untuk melihat konten-konten yang ada di aplikasi video streaming yang kita punya. Tentu saja penundukan kepala ini terjadi kalau Anda menonton serial dan film pilihan saya ini di perjalanan mudik, atau perjalanan balik ke kota tempat beraktifitas. Kalau misalnya sedang dalam keadaan santai, ada baiknya #rekomendasistreaming saya kali ini ditonton beramai-ramai di televisi.
Hitung-hitung sambil memperkenalkan konsep video streaming ke sanak saudara yang mungkin belum familiar.

Jadi, buat yang siap menghabiskan waktu panjang untuk menghabiskan serial televisi, maka tontonlah …

Brooklyn Nine-Nine

Brooklyn Nine Nine

Mungkin ini adalah salah satu serial paling lucu saat ini. Dan yang saya maksud paling lucu adalah, it is genuinely funny. Berlokasi di markas polisi fiktif bernama distrik 99 di Brooklyn, New York, serial ini bercerita tentang keunikan masing-masing karakter penghuni distrik tersebut. Ada detektif Jake Peralta (Andy Samberg) yang selalu menggunakan insting yang salah. Lalu bosnya, komandan Ray Holt (Andre Braugher), yang selalu terjebak dalam image dirinya yang serius. Ditambah dengan rekan-rekan kerja mereka yang lebih suka bertingkah laku konyol dibanding memecahkan kasus kejahatan, serial ini tidak berpura-pura dalam menghadirkan kekocakannya. Sudah ada lima musim penayangan, masing-masing episode berdurasi sekitar 22 menit. Time flies when you’re having fun, and time files when you’re having fun watching something fun.

Mom

Mom

Saat ini sudah jarang sekali serial komedi situasi (sitcom) yang diproduksi dengan menggunakan teknik multiple camera. Apa itu teknik multiple camera? Mungkin dari segi teknis kita tidak bisa membedakan. Tapi ada satu elemen dari sitcom multiple camera ini yang jelas terlihat: ada suara orang tertawa di setiap joke yang dilontarkan. Bahasa kerennya, pakai laughing track.
Nah, dari sedikit serial dengan laughing track yang masih bertahan sampai sekarang, salah satunya adalah serial “Mom” ini. Kenapa saya rekomendasikan?
Karena fokus ceritanya yang tidak biasa. “Mom” berpusat pada hubungan ibu (Alison Janney) dan anak (Anna Faris), yang sama-sama bekas pecandu alkohol dan obat-obatan terlarang. Mereka benci satu sama lain, namun mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Setiap episode berpusat pada mereka, lalu pertemuan Alcoholic Anonymous dan makan seusai pertemuan tersebut bersama teman-teman mereka sesama mantan pecandu. Menemukan humor di sisi kehidupan yang terlihat kelam memang tidak mudah, namun serial ini melakukannya dengan sukses. Kita dibuat selalu tertawa, sambil tidak sadar bahwa kita sedang menertawakan getirnya kehidupan yang keras dan susah yang harus dilalui para mantan pecandu ini. Ada 5 musim penayangan, dengan durasi masing-masing episode sekitar 22 menit. Dan kita akan semakin jatuh cinta dengan ibu dan anak di setiap akhir episodenya.

Queer Eye

Queer Eye

Tanpa tedeng aling-aling, saya cuma mau bilang begini: I LOVE THIS SHOW!
Ini adalah reboot dari reality show yang cukup populer sekitar 15 tahun lalu, bertajuk “Queer Eye for the Straight Guy”. Konsep acaranya masih sama, yaitu 5 pria ahli kuliner, interior desain, etiket, busana, dan rambut secara kompak mendandani ulang, atau make over, pria-pria yang sebagian besar adalah heteroseksual. Secara langsung, saat 5 pria yang dikenal sebagai The Fab 5 ini melakukan make over, maka kehidupan pria lain yang mereka make over ini juga akan berubah drastis.
Yang saya suka dari reboot ini adalah penempatan logika yang pas di setiap episodenya. Tidak lagi berbicara soal perbedaan gay dan straight, yang juga masih penting ditempatkan di beberapa bagian cerita. Namun lebih dari itu, banyak pemikiran yang muncul saat mereka melakukan make over yang, terus terang, cukup menggugah saya.
Di salah satu episode, saat mereka mendandani seorang pria yang tidak punya waktu mengurus dirinya karena kesibukannya, salah satu anggota the Fab 5 cuma mengatakan, “It’s important for you to take care of yourself, because you’re not doing it to yourself, but also to your wife and your family. It’s important that you need to be the best version of yourself, because you cannot take them for granted. You want them to love you, so work on it.”
Mungkin kalimatnya tidak persis sama, tapi intinya adalah bahwa menjaga diri bukanlah sebuah kemewahan atau luxury, tapi sebuah keperluan, atau necessity, untuk menjaga sebuah hubungan.
Terus terang saya tidak terlalu suka menonton reality show. Tapi kalau ada reality show yang bisa membuat kita tertawa, tersenyum, dan akhirnya belajar menerima perubahan dalam hidup, I can’t recommend this enough.

Jika perlu selingan film panjang di sela-sela menonton serial-serial di atas, maka dua film ini bisa dipilih:

Bad Genius

Bad Genius

Ini bukan thriller biasa. Bagaimana sekelompok anak bisa mengelabui sistem ujian nasional di Thailand dan memperoleh keuntungan finansial dari situ, merupakan ide cerita gila yang mungkin jarang sekali bisa ditemukan di film-film dari negara-negara lain. Penggarapan filmnya pun sangat serius. Gaya film ini dibuat seperti film thriller papan atas, yang membuat kita semakin gregetan saat menontonnya. Meskipun tidak masuk dalam top 10 film tahun 2017, namun film ini termasuk sebagai salah satu film yang sangat menyenangkan untuk ditonton.

Hindi Medium

Hindi Medium

Masih berkutat soal pendidikan, namun dari sudut pandang lain. Film ini mengajak kita melihat bagaimana ketatnya persaingan untuk memasukkan anak ke sekolah bergengsi demi mendapatkan pendidikan terbaik. Termasuk pura-pura menjadi orang miskin, demi mendapatkan jatah penempatan murid dari kalangan underprivileged. Ide cerita yang sangat menarik, dan dikemas dengan penceritaan yang straight forward, dan menyentuh. Sebagai orang tua murid yang rela melakukan apa saja demi pendidikan anaknya, Irrfan Khan bermain sangat cemerlang. Salah satu film Hindi terbaik tahun lalu.

Semoga lima pilihan saya untuk tontonan Lebaran tahun ini bisa membuat pemikiran kita semakin terbuka dan tercerahkan.
Ada tontonan lain yang Anda ikuti selama libur Lebaran kali ini?
Share di komentar di bawah ya!

#RekomendasiStreaming – Campursari Aneka Sensasi

So I guess the cat is out of the bag now.

Hari diunggahnya tulisan ini, yaitu pada tanggal 19 April 2018, bertepatan dengan konferensi pers acara yang sedang saya kerjakan, yaitu festival film Europe on Screen. Kalau pernah mendengar nama hajatan ini, terutama bagi para peminat film di ibukota dan beberapa kota besar di Indonesia, maka pasti familiar dengan konsep acaranya, yaitu memutar film-film Eropa terpilih dalam beberapa tahun terakhir secara gratis di pusat-pusat kebudayaan.
Kebetulan untuk edisi sekarang, saya dan rekan kerja saya didapuk untuk menjalankan perhelatannya.

Perjalanan kami sangat singkat, karena dalam waktu kurang dari 4 bulan harus menyiapkan keseluruhan elemen acara, mulai dari struktur, isi program, materi publisitas dan promosi sampai urusan administratif. Biasanya waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan kegiatan semacam ini secara normal adalah 6-9 bulan masa persiapan.

Hidup saya jungkir balik selama 14 minggu terakhir. Beberapa proyek lain terpaksa harus menunggu, karena ini ibaratnya sedang membangun rumah baru nyaris dari nol. Dan dalam waktu yang singkat pula, saya terpaksa harus melepas beberapa film yang sebelumnya sudah sempat saya incar untuk diputar di festival ini.

Tanpa harus menjelaskan dengan istilah teknis yang njelimet, mendapatkan film untuk diputar di sebuah kegiatan pemutaran film atau festival film itu susah-susah gampang dan gampang-gampang susah.
Kuncinya adalah sabar. Sabar mencari kontak pemegang hak tayang film yang kita mau, yang biasa dipegang oleh agen penjualan atau sales agent, atau distributor. Semua data itu ada di internet, asal kita sabar mencari, dan setelah ketemu kontaknya, sabar menunggu balasan. Balasan pun belum tentu positif, karena bisa saja film yang kita mau sedang tidak available untuk dipinjamkan kopi filmnya di tanggal yang kita rencanakan, atau memang pemegang hak tayang film tersebut tidak tertarik filmnya ditayangkan di acara kita. Itu baru dua dari sekian lusin alasan lain.

Intinya, dalam waktu singkat saya harus mencari ratusan film, dan mengontak ketersediaan ratusan film ini, sebelum akhirnya mengerucut menjadi 90-an program film yang tersedia sekarang. Dari sekian banyak film yang terpental dari daftar, ada 3 film yang lumayan membekas di ingatan. Film-film ini tidak akan ditayangkan di festival, namun mereka bisa ditonton di aplikasi video streaming yang ada secara legal di Indonesia.

Mereka adalah:

Layla M

Layla M (source: Variety)

Film produksi negeri Belanda karya Mijke de Jong ini mengungkap sisi lain radikalisme Islam dari kacamata seorang remaja perempuan yang tomboy. Meskipun seperempat terakhir film terkesan terburu-buru dalam penyelesaian cerita, namun film ini masih menarik untuk diikuti. Paling tidak memberi pemahaman lain tentang kenapa banyak orang bisa tertarik pada gerakan radikalisme yang buat sebagian orang lain susah untuk dimengerti.

Call Me By Your Name

Call Me By Your Name (source: Rolling Stones)

Jujur saja, ini bukan salah satu film favorit saya. Entah kenapa, baik novel asli ataupun film adaptasinya, this doesn’t speak to me. Berbeda dengan Brokeback Mountain yang menyesap ke ujung hati. Namun saya akui, there’s a sense of tenderness yang membuat film ini masih menarik untuk diikuti. Oh, dan film ini tersedia di aplikasi Hooq yang entah kenapa kok saya tidak menemukan tautannya untuk dicantumkan di sini. Hmmm.

Risk

Risk (source: Variety)

Film produksi negeri Jerman yang bisa dibilang “sekuel” dari film Citizenfour karya sutradara yang sama, Laura Poitras. Sama-sama mempunyai unprecedented access ke tokoh kontroversial, kali ini Julian Assange, otak di balik Wikileaks. Menonton film ini memang menghadirkan sensasi ketegangan mengikuti perjalanan Julian yang dikejar-kejar berbagai negara. Namun alih-alih menghadirkan empati, menonton film ini dijamin membuat rasa sebal dan kesal berlipat ganda terhadap Julian. Menurut saya, itulah bukti kesuksesan film ini.

Selamat menonton, dan kalau sempat hadir di festivalnya lalu bertemu saya, panggil saja saya ya. With my name, not your name. Kalau sudah kenalan, ya kita lihat saja nanti. 🙂

#RekomendasiStreaming – Romansa Masa Sekarang

Romantic comedy is dead.
Paling tidak begitulah sentimen beberapa media dan banyak orang yang mengeluhkan, kenapa sudah tidak ada lagi film-film komedi romantis a la film-film Sandra Bullock, Meg Ryan, Julia Roberts di tahun 90-an?
Sentimen ini kalau ditelaah dan over-analyzed lagi membuat pemikiran baru: is romance dead?

Whoa!
Jangan terburu-buru ambil kesimpulan seperti itu.
Mari kita menyeduh kopi, teh, atau apapun minuman hangat sambil browsing, apa saja sih jenis film romansa yang diproduksi jaman sekarang di luar sana.

Maklum, kalau kenyataan bahwa studio-studio besar di Hollywood sudah tidak lagi peduli dengan genre komedi romantis, itu benar adanya. Sekarang hampir semua studio besar di Hollywood lebih memilih membuat film-film tentpole atau film “event” yang bisa jadi reka ulang cerita atau film yang sudah pernah dibuat sebelumnya, cerita komik, atau existing materials dalam format apapun. Original story is rarity.

Makanya saya menyambut gembira kehadiran “studio alternatif” macam Netflix, Amazon, iflix, Hooq, atau streaming platforms lain yang mau bertaruh membuat konten sendiri. Tidak sekedar membuat konten, namun berani mengeluarkan budget lebih untuk membuat konten dengan konsep membuat film layar lebar.
Memang tidak selalu berhasil. Bahkan kalau boleh jujur, kualitas konten film panjang yang diproduksi Netflix belum sebanding dengan kualitas serial produksi Netflix yang hampir semuanya istimewa itu. Tapi yang saya kagumi adalah keberanian Netflix untuk memproduksi, atau mengakuisisi, jenis-jenis film yang sudah dilepeh oleh major Hollywood studios.

Film-film seperti Bright, The Cloverfield Paradox memang tidak membekas di ingatan secara kualitas. Namun harus saya akui, they are fun to watch! Dan film-film sci-fi atau hybrid genre macam ini memang sudah jarang sekali dibuat. Apalagi dengan budget minim seperti Paradox atau Mute.

Termasuk juga genre romansa.
Saya kaget waktu Netflix mendistribusikan film Our Souls at Night yang dibintangi Jane Fonda dan Robert Redford tahun lalu. Tapi saya langsung mahfum, bahwa mustahil studio besar Hollywood mau membuat dan mendistribusikan film romansa dengan dua bintang yang usianya di atas 60 tahun. Terakhir kali paling It’s Complicated, tahun 2009, dengan bintang Meryl Streep dan Alec Baldwin yang usianya 50-an. Itu pun jenis romansa komedi. Kalau drama romansa seperti Souls? Ingatan saya langsung ke The Bridges of Madison County, produksi tahun 1995 dengan bintang Meryl Streep, lagi, dan Clint Eastwood.

Tak heran kalau para “studio alternatif” ini, dengan kemampuan finansial luar biasa untuk produksi dan akuisisi konten, bisa mengisi kekosongan jenis-jenis film yang sudah lama tidak kita lihat di bioskop, dan sekarang bisa kita tonton di mana saja, selama kita terkoneksi dengan internet. Which is actually how different romance nowadays is.

Kenapa bisa beda? Lihat saja dari tiga film komedi romantis terbaru produksi Netflix ini. Semua karakternya masing-masing punya dan tergantung pada ponsel cerdas, sesuatu yang tidak pernah kita lihat di film-film komedi romantis 90-an. Alur cerita pun bergerak dari kebutuhan mereka terhadap gawai.

Lalu ceritanya, paling tidak satu dari tiga, lebih berpijak ke bumi. Tidak lagi terlalu dreamy. Oke, paling tidak ada satu yang masih seperti ini, tapi toh tidak terlalu mengawang-awang.

Meskipun begitu, semuanya tetap memberikan efek yang sama: selama 2 jam, kita dibawa pergi sejenak dari kehidupan nyata, dan tersenyum melihat dunia lain yang lebih indah. Dunia lain yang masih terlihat sama dengan dunia kita yang nyata, namun bisa membuat kita klangenan. And that’s how you know when romantic comedy works.

Inilah 3 film #rekomendasistreaming saya untuk bulan ini:

Irreplaceable You
A girl meets a boy, they fall in love, a girl has terminal illness, their fate and faith are tested. Ide cerita yang sudah ada di film dari puluhan tahun lamanya, dan sudah pernah jadi nominasi Best Picture Oscar lewat Love Story (1970). Tapi yang segar dari Irreplaceable You ini adalah semangat positifnya. Film ini tidak menye-menye. Saat sang perempuan malah merencanakan kehidupan kekasih setelah dia pergi nanti, kita tahu bahwa ini bukan komedi romantis yang biasa. You cannot help but falling for its positivity.

Irreplaceable You

When We First Met
Kalau yang ini, terus terang karena saya punya kelemahan tersendiri terhadap cerita tentang time traveling. Selalu menyenangkan melihat cerita tentang orang-orang yang berniat mengubah masa lalu. Film When We First Met ini ibarat Back to the Future dalam skala yang lebih kecil, dan fokus pada membuat impresi pertama seorang laki-laki terhadap perempuan yang dijumpai di pesta Halloween. Memang mudah diprediksi, tapi tetap menyenangkan untuk ditonton, karena sangat menghibur.

When We First Met

Love per Square Foot
Dari segi cerita, ini favorit saya dibanding dua judul di atas. Mungkin karena pendekatannya yang relevan dengan keadaan masa sekarang. Seorang pria lajang di Mumbai, India, menginginkan apartemen sendiri, sementara kesempatan cuma terbuka bagi pasangan yang sudah menikah. Sementara seorang perempuan lajang lain juga menginginkan punya rumah sendiri. Mereka bertemu, menikah untuk membeli rumah, dan pelan-pelan mulai jatuh cinta. Ide cerita yang grounded, dan meskipun dari segi durasi agak terlalu lama, tapi masih bikin betah buat ditonton.

Love per Square Foot

Jadi, selamat menonton!

#RekomendasiStreaming – Banyak Cerita Dari Laut

Sebelum anda membaca lebih lanjut tulisan ini, ada baiknya anda menyadari bahwa hampir semua tulisan di situs ini, terlebih tulisan saya, adalah curahan hati atau pengakuan jujur dari penulisnya. Rasanya sudah tidak terhitung lagi berapa kali saya memulai tulisan dengan kata-kata seperti “pengakuan dulu …” atau “jujur saya akui …” di blog ini.

Demikian pula dengan tulisan kali ini.
Saya mau mengaku bahwa sebenarnya I’m not a beach person.

Jujur saya akui (tuh kan!) kalau liburan di pantai sering kali membuat saya mati gaya. Berjemur di sisi pantai, bahkan di sisi kolam pun, bukanlah ide liburan yang menjadi prioritas utama saya.

Makanya, ketika sedang ada proyek kerjaan yang membuat saya harus sedikit lebih paham tentang isu ekologi kelautan, saya sempat kelabakan. Lha wong jarang ke pantai, apalagi ke laut, bagaimana saya tahu tentang isu-isu di laut?

Setelah perasaan bingung mulai mereda, saya sadar bahwa saya masih punya akses tentang laut. Apalagi kalau bukan dari film-film dokumenter di saluran video streaming! Jadi meskipun tidak punya budget untuk liburan ke pantai, tapi saya bersyukur masih bisa membayar biaya langganan video streaming dan kuota internet per bulan.

Akhirnya saya pun menghabiskan waktu beberapa minggu terakhir menikmati film-film dokumenter tentang laut di beberapa saluran video streaming.
Menikmati? Ya, karena tidak sekedar menonton, tapi saya menikmati gaya penceritaan hampir semua film dokumenter tentang laut yang saya lihat. Tak hanya visualisasi yang pasti menarik. Pengambilan gambar seputar polusi di laut dan kekerasan yang terjadi di kelautan masih bisa nikmat buat ditonton, karena pembuat film tahu apa yang mau diceritakannya. Ini penting. Sebagai penonton, kita cuma bisa pasrah dengan apa maunya pembuat film. Terlebih dengan isu-isu di ranah yang luas seperti laut.

Untungnya film-film berikut sangat fokus dalam penceritaannya. Silakan ditonton buat teman liburan long weekend kali ini:

A Plastic Ocean

Film ini dibuat secara tidak sengaja. Saat seorang wartawan bernama Craig Leeson mencari paus biru, dia kaget menemukan bongkahan sampah plastik di samudra yang harusnya tidak tersentuh sampah. Lalu dia memfokuskan diri meneliti tentang sampah plastik di laut. Hasilnya cukup mencengangkan. Burung pemakan ikan dan ikan di lautan hampir bisa dipastikan sebagian besar mengkonsumsi plastik yang dibuang ke laut. Konsumsi plastik yang dimakan burung atau ikan bisa sampai 1/3 dari total makanan sehari-hari mereka. Sangat mengerikan.
Beberapa adegan memang cukup membuat saya shocked. Tapi hebatnya, film ini masih bisa mempertahankan tone positif dari penceritaannya. Mungkin karena semua pembuat film yang terlibat di sini sadar, bahwa mereka masih ingin hidup di dunia ini. Mau tidak mau, kalau mau hidup, harus mengurangi pemakaian plastik.

Recommended.

Treasures from the Wreck of the Unbelievable

Kalau ini, film nyeleneh. Seniman dan kolektor seni Damien Hirst merekam proses pencarian barang-barang antik dari bawah laut untuk pamerannya di Venice. Namun film ini adalah mockumentary, atau dokumenter yang bermaksud mocking realita yang terjadi. Kisah di balik layar proses pembuatan pameran ini adalah semi fiktif. Dan untuk pembuatan kisah semi fiktif ini, Damien Hirst beserta tim rela menghabiskan belasan juta dolar mengambil gambar-gambar di bawah laut. Pertanyaannya: apakah dia benar-benar pergi ke bawah laut? Mana yang anda percaya? Coba tonton film ini. Menarik untuk ditonton dan dipertanyakan ulang: do we believe what we actually see?

Chasing Coral

Dari judulnya sudah jelas kalau film ini bercerita tentang coral reef, atau terumbu karang. Film ini memfokuskan ceritanya tentang analisa mengapa terumbu karang cepat punah. Tentu saja analisa dilakukan oleh penyelam, fotografer dan ilmuwan di lautan luas, sehingga kita masih disajikan pemandangan yang luar biasa indahnya. Lebih luar biasa lagi adalah semangat dan kecintaan terhadap terumbu karang yang tercermin dari ekspresi mereka yang ada di film ini. We cannot help but rooting for them. Akhirnya perasaan kita pun ikut dibawa terjun ke bawah laut, because passionate excitement is simply contagious.

Selamat berlibur, dan buat semua: Xin Nian Kuai Le, Gong Xi Fa Cai!

#RekomendasiStreaming – Saluran Yang Menemani dan Mengedukasi Kita

Kalau biasanya tulisan #rekomendasistreaming mengulas tentang serial atau film yang tersedia di aplikasi video streaming, kali ini saya mengajak anda menelusuri satu channel di Youtube.
Channel ini bernama Film Companion.

Film Companion sebenarnya berawal dari media digital yang, seperti namanya, membahas soal film. Media ini didirikan oleh Anupama Chopra, satu dari sedikit jurnalis film perempuan di India, karena dia merasa perlu menyuarakan opininya tentang film secara independen.

Dari media digital, Film Companion berkembang menjadi Youtube channel yang menurut saya, respectable. Kenapa respectable? Karena hampir semua video di saluran ini kontennya dirancang dan dikurasi dengan baik. Teknik pengambilan gambarnya nyaman dilihat di layar kecil. Konten, baik itu berupa wawancara atau ulasan, selalu disampaikan straight to the point.

Tentu saja, karena saluran ini berasal dari Mumbai, India, kebanyakan membahas tentang film Hindi, dan film-film regional dengan bahasa lokal di India. Toh semuanya dilakukan dalam bahasa Inggris, sehingga kita pun bisa menikmati.

Kadang-kadang memang ada interview dengan aktor, aktris, sutradara Hollywood yang sedang melakukan kunjungan promosi ke India, atau saat tim Film Companion pergi ke festival-festival film di luar India. Namun yang menarik memang saat kita bisa tahu lebih dalam seluk beluk cara kerja perfilman di India. Ini membuat video-video yang di-upload seputar ulasan atau wawancara tentang film-film terbaru dari India selalu enak ditonton.

Dari sekian banyak tema yang sudah dibuat oleh tim Film Companion, ada satu jenis tema yang paling menarik minat saya.
Tim Film Companion membuat rangkaian video dengan judul Cheat Sheet. Cheat Sheet ini mengajak kita untuk melihat sisi lain dari pembuatan film yang mungkin sebagian besar dari kita belum familiar.

Seperti misalnya proses di balik sulih suara atau dubbing sebuah film:

Atau tentang proses pembuatan musik yang menjadi latar belakang adegan, sekaligus mengisi adegan tertentu dengan musik tersebut:

Demikian pula tentang seluk-beluk membuat prosthetic make-up atau dandanan khusus yang menciptakan efek tertentu, seperti muka orang yang terpukul atau mengalami kecelakaan:

Sampai ke cara bagaimana proyektor film bioskop bekerja sampai kita menonton film tersebut di layar lebar:

Dan yang jadi favorit saya adalah tentang mengurus katering makanan untuk seluruh anggota kru produksi waktu syuting film!

Seru ‘kan?

Lebih seru lagi kalau mau ada yang membuat contekannya versi lokal, karena mengintip “isi dapur” sama serunya dengan menonton dan menikmati hasil akhirnya.

So yes, somebody out there, steal these ideas!

Selamat menonton.

Sebelas Serial Yang Paling Betah Ditonton Di Tahun 2017 Yang Hampir Jadi #RekomendasiStreaming

It’s impossible to watch everything on TV. Sungguh sebuah hil yang mustahal atau hal yang mustahil untuk bisa menonton semua apa yang ada di televisi dan aplikasi video streaming.
Misalnya saja, serial Friends. Serial ini masih ada di beeberapa aplikasi streaming. Ada 10 musim penayangan serial ini. Masing-masing musim penayangan terdiri dari 23 atau 24 episode dengan durasi sekitar 22 menit per episode. Untuk menamatkan keseluruhan serial ini, diperlukan waktu 3 hari, 14 jam dan 32 menit, tanpa jeda, tanpa tidur sama sekali.

Itu baru satu serial.

Masih ada ratusan serial lain dalam satu aplikasi atau satu stasiun televisi. Sementara dalam genggaman kita, bisa diunduh belasan sampai puluhan aplikasi, dari dalam dan luar negeri, dan televisi kita mampu menampung ratusan saluran.

Time is not a renewable source, demikian seorang teman pernah menulis di media sosialnya. Saya setuju. Makanya pilihan serial yang saya tonton biasanya saya cari tahu sebanyak-banyaknya informasi tentang serial itu terlebih dahulu.

Tiga serial yang juga menyenangkan untuk ditonton. Dari atas: 13 Reasons Why, Dear White People, The Deuce.

Sedikit berbeda dengan film panjang: sebisa mungkin saya tidak tahu banyak tentang film itu, karena hanya dalam waktu kurang lebih 2 jam, semua cerita bisa tertuang dan terjelaskan dalam trailer singkat, atau sinopsis yang agak panjang. Sementara trailer atau sinopsis umum serial, bukan sinopsis per episode, biasanya kurang bisa mewakili jalan cerita yang akan berkembang sepanjang 10 atau 20 episode dalam satu musim penayangan.

Dan, lagi-lagi, we are living in the golden age of great storytelling on television. Setiap saluran televisi, kabel, streaming, berlomba-lomba menghamburkan uang untuk memproduksi tayangan bermutu, demi menarik penonton dan pelanggan yang rela menghabiskan uang dan waktu untuk berlangganan dan menonton serial-serial ini.

Daftar berikut terpilih dari sekitar 50 serial yang saya tonton sampai tuntas satu musim penayangannya. Masih jauh dari sekitar 400-an serial (Amerika) yang ada setiap tahunnya. Pilihannya tentu saja bersifat personal, termasuk pilihan untuk menonton serial apa. Makanya, saya ingin juga melihat serial apa saja yang teman-teman tonton dan suka. Saya yakin, list kita pasti berbeda. Rekomendasi teman-teman juga pasti berbeda.

And that’s the beauty of sharing our differences.

Sekarang, mari kita lihat pilihan serial tahun ini versi saya:

• (sebelas) • American Gods

American Gods (source: Amazon)

Setelah Hannibal usai, maka pilihan saya untuk serial yang paling stylish and stylized adalah “American Gods”. Fantasi absurd yang mungkin membutuhkan sedikit usaha ekstra untuk mencerna jalan ceritanya. Tapi “American Gods” memungkinkan kita untuk sekedar menikmati visualisasi yang mencengangkan, dan pelan-pelan, kita dibawa untuk sedikit memahami gaya penceritaannya yang tidak biasa.

• (sepuluh) • Will & Grace – Revival

Will & Grace (source: Today.com)

Saat mendengar serial ini dibangkitkan kembali, saya skeptis. Sudah lebih dari satu dekade sejak serial ini berakhir. Are the characters still the same? Thank God they are! Will, Grace, Karen, Jack masih lucu, masih cerdas, dan ini yang penting: semakin relevan.

• (sembilan) • Abstract: The Art of Design

Abstract: The Art of Design (source: Pinterest)

Di awal tahun, saya sempat kaget ada serial unik ini. Delapan episode singkat, masing-masing berdurasi sekitar 30 menit, bercerita tentang proses kreatif dan a glimpse of life dari delapan desainer dengan disiplin kerja yang berbeda-beda. Ada desainer grafis, interior desainer, desainer sepatu sampai desainer mobil. Kesamaan mereka? The light in their eyes and faces yang berbinar saat menceritakan profesi dan karya-karya mereka. It’s addictive. Membuat kita terpacu.

• (delapan) • The Keepers

The Keepers (source: tvseriesfinale.com)

Dari beberapa serial dokumenter kriminal tahun ini, “The Keepers” masih yang membuat saya takut. This is a true horror story. Cerita tentang pelecehan seksual yang dilakukan sebuah institusi keagamaan dengan pengaruh dan kekuasannya, ternyata masih, bahkan semakin menjadi-jadi sampai sekarang. Serial ini juga menunjukkan pentingnya thorough investigative report, meskipun perlu berpuluh-puluh tahun untuk menyelesaikannya.

• (tujuh) • Top of the Lake: China Girl

Top of the Lake: China Girl (source: thechristianpost.com)

Terus terang, this is a surprise pick. Serial “Top of the Lake” season 1 dibuat dengan sangat baik, sehingga susah membayangkan kalau musim penayangan selanjutnya akan bisa menyamai kualitas prima tersebut. Ternyata, menurut saya, malah ada improvement. Tidak terlalu menguji kesabaran penontonnya, malah semakin shocking and adventurous, yang rasanya tidak mungkin dibuat oleh Jane Campion. But she excels. Begitu pula dengan trio aktor dengan performa yang menakjubkan: Elisabeth Moss, Nicole Kidman, Gwendoline Christie. We root for them, we yearn for them.

• (enam) • The Marvelous Mrs. Maisel – Season 1

The Marvelous Mrs. Maisel (source: IMDB)

Dari tim pembuat “Gilmore Girls”, tidak salah kalau kita sempat merasa serial ini punya vibe mirip “Gilmore Girls”, hanya saja ber-setting New York di akhir 1950-an. Lengkap dengan dialogue bantering yang cepat, karakter perempuan yang cekatan, dan cerewet. Nyaris menjadi annoying, sampai diselamatkan oleh kehadiran Mrs. Maisel di panggung melakukan stand-up comedy routine di setiap episode. Akhirnya serial ini tidak “gengges” lagi, malah miraculously becoming lovely, and genuinely funny.

• (lima) • The Crown – Season 2

The Crown season 2 (source: tvline.com)

Serial yang sangat saya antisipasi tahun ini, and it does not disappoint. At all. Semakin berani dalam mengupas sisi kehidupan royal family yang kita belum tahu sebelumnya, dan semakin megah dalam produksinya. Dan semakin lama kita mengikuti season ini, semakin kita memahami jati diri Queen Elizabeth II yang sesungguhnya: apa yang membuat dia menjadi dirinya sekarang. This is a drama series with the most lavish royal treatment, dengan setiap episode mempunyai penceritaan kelas tinggi.

• (empat) • Stranger Things 2

Stranger Things 2 (source: Vulture.com)

Yang saya tidak antisipasi adalah serial ini menjadi serial horor. Selayaknya sekuel film atau seri, musim penayangan berikutnya sudah tidak lagi sibuk mengenalkan karakter satu per satu. Now it’s all about action, adventure, and apparently, goriness. Namun fokus ke petualangan ini tidak lantas menjadikan serial ini tidak menarik lagi. Justru sebaliknya. Keseruan petualangan fantastis “The Famous Five”, meskipun mereka sering terpisah sepanjang serial, masih sangat nikmat untuk diikuti dan ditonton sekaligus dalam satu kali putar. Sangat layak untuk menghabiskan 8 jam sekaligus.

• (tiga) • The Handmaid’s Tale – Season 1

The Handmaid’s Tale (source: godawa.com)

Bagaimana mungkin cerita tentang dystopian future yang ditulis lebih dari 30 tahun lalu, ternyata masih relevan dan mungkin bisa terjadi? Demikian dengan serial ini, yang membuat kita saat menontonnya terus berpikir, “This can happen to us anytime now.” Sangat layak meraih Emmy Awards sebagai Drama Seri Terbaik tahun ini, dan membuktikan bahwa Elisabeth Moss adalah salah satu aktris terbaik yang ada saat ini. She breathes and lives the role and elevates the series. This is her best yet.

• (dua) • BoJack Horseman – All Seasons (4)

BoJack Horseman (source: newmovies.net)

Saya baru mengetahui serial animasi ini beberapa bulan lalu. Begitu hooked dengan beberapa episode awal, langsung tancap gas menghabiskan satu season, lalu season berikutnya, dan tanpa sadar, sudah sampai empat musim penayangan. Seperti banyak serial-serial Netflix lain, it gets better by each season. Cerita tentang seorang bintang televisi 90-an yang sudah pudar popularitasnya punya banyak issues yang terkait kehidupannya. Mulai dari ageism, racism, fame, celebrity culture, sampai materialism dan politik. Mungkin inilah salah satu dari sedikit sekali serial komedi satir saat ini.

• (satu) • Master of None – Season 2

Master of None season 2 (source: screencrush.com)

Masih jadi misteri terbesar bagi saya, bagaimana Aziz Ansari membuat serial ini dengan penuh hati. Sebagai seorang imigran, dia berhak membuat serial yang memperlihatkan kemarahan, atau paling tidak, bersuara lantang mengeluarkan kritik terhadap berbagai isu sosial di Amerika Serikat. Atau bersikap sinis. Nyatanya, Aziz memilih cara untuk menyampaikan pemikiran kritisnya tentang isu rasialisme dan migran lewat komedi yang manis. Kalau Anda menyempatkan menonton serial ini, and you must, maka Anda akan setuju bahwa there is no mean bones in Aziz’s body of work here. Semuanya ditampilkan apa adanya, dan masih meninggalkan perasaan hangat di hati. Episode Thanksgiving dalam musim penayangan serial “Master of None” kali ini adalah the finest hour of television this year.

Sekarang, apa pilihan Anda?

#RekomendasiStreaming – Manusia Selalu Punya Cerita Buat Kita

Bulan ini, sengaja tulisan soal rekomendasi tontonan di aplikasi atau situs video streaming saya tunda kemunculannya. Soalnya baru dua minggu lalu saya sadar kalau besok, tanggal 1 Desember, adalah hari libur. Makanya, tulisan soal rekomendasi tontonan lebih baik saya tunda dulu diunggahnya, supaya bisa pas ditonton saat liburan long weekend.

Kali ini ada dua film panjang dan satu serial yang saya rekomendasikan. Kesamaan dari mereka cuma satu: humanis.

Sama-sama bercerita dari sudut pandang, paling tidak, satu manusia. Sama-sama bercerita tentang kemanusiaan, or the lack of it, dari spektrum masa dan tempat yang berbeda. Sama-sama berusaha berempati, meskipun tidak selalu berhasil, terhadap manusia. Sama-sama berusaha memahami manusia, dengan caranya masing-masing.

Dua film yang saya rekomendasikan kali ini, kebetulan sama-sama dikirim negara tempat pembuatannya menjadi wakil di kategori Film Berbahasa Asing Terbaik di Academy Awards tahun depan. Kategori di ajang Oscar yang, menurut saya, selama ini memang menyimpan film-film unik yang kadang malah terasa lebih dekat dengan rasa kita, dibanding pemenang atau nominator di kategori-kategori lainnya.

Jadi, jika punya waktu untuk menonton dua film panjang akhir pekan ini, maka tontonlah …

First They Killed My Father (Netflix)

Bisa dibilang, ini adalah film terbaik karya Angelina Jolie so far. Tema perang memang selalu menjadi pilihan cerita yang disutradarainya. Namun film ini terasa berbeda dari film-film yang dibuat Angelina Jolie sebelumnya. Penggarapan secara teknis jauh lebih rapi. Pendekatan ceritanya sangat intim, membuat kita benar-benar merasakan penderitaan bocah perempuan yang bertahan hidup saat Khmer Merah mulai berkuasa di Kamboja tahun 1975. Mengarahkan anak kecil untuk berakting dengan tingkat kompleksitas emosi yang tinggi, mungkin hanya bisa dilakukan oleh sutradara yang berpengalaman. Di sini, Angelina Jolie does it brilliantly.

Newton (Amazon Video)

Mungkin banyak dari kita yang belum sadar bahwa India adalah negara demokrasi terbesar di dunia. Setiap pemilihan umum berlangsung, ada hampir 1 milyar pemilih yang suaranya harus dihitung, dengan jutaan bilik pemungutan suara yang harus dipasang. Film ini bercerita tentang seorang anggota pengawas pemilu bernama Newton, yang baru pertama kali bertugas, dan langsung ditempatkan di kawasan konflik di tengah hutan. Dengan gaya komedi satir, film ini memperlihatkan situasi India yang tidak pernah kita jumpai di film-film Bollywood lain: hutan kering tanpa air, penduduk yang acuh terhadap politisi dan partai politik, tentara yang pragmatis, susahnya mendirikan tempat pemungutan suara di tengah hutan, dan masih banyak kejadian lain yang membuat kita berpikir, “Why didn’t I think of that before?
Salah satu film paling humanis yang saya tonton tahun ini.

Sementara itu, jika punya waktu untuk menonton satu serial di akhir pekan ini, maka tontonlah …

Mindhunter (Netflix)

Kalau mendengar tentang pembunuhan, maka pikiran kita biasanya tidak langsung menghubungkannya dengan kemanusiaan. But then, there’s a human being present first in every murderer. Serial yang digagas sutradara visioner David Fincher ini diangkat dari buku bernama sama, yang mengulas tentang awal mula profiling pembunuh atau pelaku kejahatan di FBI yang baru diinisiasi pada pertengahan 1970-an. Maka jangan harap ada banyak adegan pembunuhan, kejar-kejaran antara polisi dan penjahat, dan tembak-tembakan. Serial ini benar-benar mengulas sisi psikologinya: apa yang mendorong seseorang untuk menjadi pelaku tindak kejahatan. Apa yang memotivasi mereka. Apa yang menyebabkan mereka menjadi seperti itu. Tak heran kalau sepanjang 10 episode, kita justru disuguhi adegan wawancara dalam ruangan, investigasi, analisa dan riset yang mendalam. Herannya, semuanya justru membuat kita semakin ketagihan, dan tak berhenti menontonnya.
Humanity is a complex and mysterious thing after all. Seolah-olah demikian apa yang mau dikatakan serial ini.

Selamat berlibur, dan selamat menonton!

(Oh iya, bulan depan #rekomendasistreaming akan memuat “Best Of” tahun 2017. Ada masukan? Silakan tinggalkan di bagian komentar di bawah ya!)

#RekomendasiStreaming – Kisah Klasik Untuk Sekarang dan Masa Depan

I love classic films.

Dari kecil, saya punya kebiasaan menonton film Indonesia tahun 1970-an. Kebiasaan ini terjadi karena ibu saya. Beliau suka meminjam kaset video Betamax film-film Indonesia di era kejayaan Paula Rumokoy, Ruth Pelupessy, Dicky Zulkarnaen, dll., dari tempat persewaan video. Memang ada film-film lain, seperti film-film silat Bridgitte Lin Ching Sia, film-film James Bond era Roger Moore (yang ini pilihan ayah), dan film-film Indonesia pilihan ibu.

Ternyata kebiasaan ini terus terbawa sampai menonton film menjadi hobi yang tak bisa ditinggalkan. Kalau ada film lama yang tayang di televisi, yang saya perhatikan dari tampilan gambarnya yang “berbeda” dari kebanyakan film atau program televisi saat itu, maka saya buru-buru duduk di depan layar cembung televisi di rumah. Pertama kali menonton Breakfast at Tiffany’s di RCTI hari Kamis siang. Pertama kali menonton Djendral Kantjil, film tahun 1958 yang dibintangi Achmad Albar waktu kecil, di SCTV hari Rabu siang sepulang sekolah.

Ada yang menarik dari film klasik.

Meskipun namanya film adalah karya cerita visual buatan, bukan merepresentasikan kehidupan asli, tapi saya suka membayangkan sendiri keadaan masa lalu. Saya tidak bisa melihat langsung seperti apa Jakarta atau New York di tahun 1950-an atau 1960-an, kecuali teknologi time travel sudah ada dan terjangkau untuk umum. Maka pilihannya cuma dari membaca buku, melihat dokumentasi foto, atau menonton film. Meskipun cuma secuil informasi yang bisa didapatkan tentang keadaan asli di masa lalu, namun buat saya itu lebih dari cukup. Selebihnya, biar imajinasi kita yang berbicara.

Sayangnya, memang tidak semua film klasik mudah diakses. Mulai dari kondisi film yang sudah tidak terawat setelah puluhan tahun, sampai ke permasalahan hak cipta. Bisa dibilang, persoalan hak cipta dan hak distribusi ini yang paling pelik. Perusahaan pemilik film bisa jadi sudah tiada. Atau kalau film tersebut sudah diserahkan hak distribusinya ke perusahaan lain, belum tentu juga perusahaan ini memberikan lisensi atas film tersebut untuk ditayangkan di seluruh dunia. Dan kalaupun diberikan, mungkin jangka waktunya hanya beberapa tahun, dan tidak diperpanjang.

Apakah dengan adanya online video streaming platform ini akan membantu? Jawabannya adalah “ya” untuk sementara waktu, dan “tidak” untuk di masa yang akan datang.

Kenapa? Karena pada akhirnya, semua platform ini dibuat untuk mengunggulkan konten asli yang mereka buat sendiri. Kemarin ada berita bahwa Netflix siap untuk mengeluarkan 8 milyar dolar untuk membuat original content dan menargetkan mulai tahun depan 50% isi program mereka adalah original content of Netflix productions. Sementara pesaing terdekatnya, Amazon, juga sudah mengambil ancang-ancang yang sama. Demikian pula dengan platform lain yang berdiri di kawasan Asia Tenggara, yaitu iflix dan HOOQ. Mereka sudah mulai membuat konten sendiri.

Kalaupun ada streaming platform yang mengkhususkan diri untuk film-film lama, seperti Mubi, Filmstruck, dan lain-lain, jumlahnya tidak banyak. Dan sampai tulisan ini dibuat, mereka belum tersedia di negara kita.

Artinya, program-program yang sekarang ada di jasa layanan mereka yang mereka akuisisi dari perusahaan-perusahaan lain, seperti film Hollywood, Bollywood, Korea, Indonesia, Spanyol, dan lain-lain, pada saatnya akan hilang dari semua platform ini. Maka, the only time to watch old movies is now.

Banyak film klasik ini malah sudah raib di kawasan utama streaming services ini, yaitu di Amerika Utara dan Eropa Barat, karena mereka tergeser oleh program-program baru yang terus berdatangan. Kita sedikit beruntung di sini. Berhubung kawasan Asia Tenggara masih merupakan kawasan baru untuk sebagian besar America-based streaming platforms ini, maka masih cukup ada beberapa film klasik yang bisa ditonton. Cukup ada, karena memang tidak banyak. Beberapa yang layak ditonton lagi, dan lagi:

Roman Holiday (tersedia di Netflix)

Debut film Audrey Hepburn di Hollywood sebagai pemeran utama, setelah beberapa kali bermain di film-film Inggris di peran-peran kecil, langsung membuat publik kala itu jatuh cinta. Dirilis tahun 1953, memenangkan Oscar sebagai pemeran utama wanita terbaik di tahun 1954, Audrey Hepburn sontak menjadi the princess of all. Sebuah gelar yang terus melekat di benak jutaan orang, meskipun beliau sudah meninggal lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Film ini sempat terangkat lagi saat kematian Putri Diana di tahun 1997, karena ada sedikit kemiripan cerita, meskipun film Roman Holiday tidak berakhir tragis. Tidak manis, tapi realistis.

Save the Tiger (tersedia di Amazon Video)

I have a very soft spot for this kind of movie: seluruh cerita film terjadi dalam satu hari. Namun dalam waktu 24 jam, kita melihat banyak sisi cerita yang terungkap dari karakter-karakter yang hidup. Di sini, Jack Lemmon berperan sebagai Harry Stoner, pengusaha yang berniat untuk menghancurkan usahanya sendiri, supaya mendapat uang asuransi untuk membiayai karyawan dan membayar hutang-hutangnya. Kefrustrasian Harry Stoner tergambar dengan baik sepanjang film, membuat kita tertegun dan merasa dekat dengan karakter ini. Jack Lemmon meraih Oscar untuk pemeran utama pria terbaik di tahun 1974, hampir setahun setelah film ini dirilis. Salah satu dari sedikit kejadian di mana Oscar is rightly justified.

Anand (tersedia di iflix)

Dari ratusan film yang sudah dibintangi Amitabh Bachchan sampai sekarang, mungkin film ini termasuk yang paling manis. Film tahun 1971 menempatkan Amitabh Bachchan di supporting role, sebagai dokter Bhaskar yang merawat pasien kanker bernama Anand (Rajesh Khanna), yang justru malah memilih menghabiskan sisa umur dengan living life to the fullest, kebalikan dari sang dokter. “Bromance” antara dokter dan pasien menjadi daya pikat kita mengikuti film ini. Tak heran kalau sampai sekarang, film ini masih menjadi film Hindi dengan rating tertinggi di IMDB.

Selamat menonton!

#RekomendasiStreaming – In the End, The Struggle is Worth Taking

Hari ini, tulisan saya hadir lebih telat dari biasanya. Tentu saja ada alasan di balik keterlambatan ini.

Rencananya, saya mau menulis semalam, setelah pulang dari kegiatan seharian. Apa daya, rencana ini berubah total saat hujan lebat menghantam kota. Terjebak di dalam mal, saya bertemu Dragono. Dia mau menonton film di bioskop, saya mau belanja di supermarket. Selesai belanja, saya makan malam, hanya untuk mencari tempat duduk menunggu hujan reda. Sampai Dragono selesai menonton, hujan belum berhenti juga. Online transportation susah didapatkan. Mau tidak mau menunggu sampai hujan berhenti turun, baru naik kendaraan umum.

Sampai rumah, saya cuma sempat berganti pakaian, membasuh muka dan gosok gigi, lalu menaruh barang belanjaan. Setelah itu, saya tidak ingat lagi, sampai alarm di ponsel membangunkan saya … untuk mematikan alarm tersebut dan tidur lagi. Sampai akhirnya sekarang, menuliskan deretan huruf dan kata yang Anda baca saat ini.

Apakah saya menyesal karena rencana awal tidak terlaksana? Tidak terlalu. We plan, the plan fails, life goes on.
Apakah saya lega? Surprisingly, yes. Karena setelah capek menunggu cuaca sampai jadi bersahabat buat pejalan kaki sampai larut malam, rasa lelah itu terbayarkan oleh tidur yang nyenyak tanpa gangguan.
So, in the end, everything is alright.

Dan dalam beberapa detik semalam, di tengah perjalanan pulang, kalimat di atas terbersit begitu saja di benak saya. Bahwa pada akhirnya, semua hal akan baik-baik saja, despite the struggle we have initially.

Saat kita sudah mencapai apa yang kita perjuangkan, atau sekedar mengakhiri perjuangan dengan beristirahat dengan tenang, maka kita akan melihat usaha tersebut dengan senyuman yang menyatakan, “it’s all worth taking.”

Semangat serupa saya temukan saat saya melihat judul-judul film dan karya berikut, yang bisa Anda tonton di kala liburan akhir pekan yang panjang ini:

Sky Ladder: Ther Art of Cai Guo-Qiang

Sky Ladder: The Art of Cai Guo-Qiang

Cai Guo-Qiang adalah seniman dan perupa terkemuka di dunia asal desa Quanzhou di provinsi Fujian di China. Karya-karyanya sudah menghiasi berbagai museum dan galeri kelas wahid di kota-kota besar dunia. Dia juga yang bertanggung jawab atas tampilan visual dan spesial efek di pembukaan dan penutupan Olimpiade Beijing tahun 2008.

Terkenal dengan karya-karya yang melibatkan bubuk mesiu (gunpowder), Cai Guo-Qiang melakukan proyek paling ambisius yang pernah dia kerjakan, yaitu Sky Ladder. Literally, ini adalah karya tangga langit, di mana dia membuat tangga sepanjang 500 meter ke atas, menuju langit, yang setiap bagian tangganya dihiasi dengan petasan dan bubuk mesiu.

Tentu saja tidak mudah membuat karya seambisius ini. Sebuah karya yang rupanya sudah tertanam dalam benak Cai Guo-Qiang hampir sepanjang masa dewasanya. Film ini memperlihatkan ketekunan dan ketelatenan seorang Cai Guo-Qiang yang, meskipun dengan reputasinya sebagai seniman papan atas, namun tetap rendah hati saat menemui kegagalan demi kegagalan.

Toh semangat beliau tidak pernah luntur. Apalagi proyek ini didedikasikan untuk neneknya yang berumur 100 tahun. Semakin ada dorongan besar untuk menyelesaikan adikarya ini.

Dan melihat ekspresi Cai Guo-Qiang di akhir film, it’s priceless. Semuanya menunjukkan kenapa film dokumenter ini layak ditonton dan diresapi.

Hasan Minhaj: Homecoming King

Saya cukup sering menonton stand up comedy shows di saluran streaming. Dari beberapa penampilan stand up comedians di Netflix, sampai saat ini masih Hasan Minhaj yang paling memikat. Padahal dia tergolong pemain baru di arena stand up comedy ini.

Kenapa Hasan Minhaj? Pertama karena tampilan visual panggungnya yang menarik. Tidak membosankan di mata, dan bergerak dinamis sesuai dengan konten yang dia bawakan.
Kedua, konten. There is a sense of earnestness, atau kemurnian cerita yang dia bawakan.

Mungkin karena dia membawakan cerita hidupnya. Tapi bukankah hampir semua komedian juga membawakan materi yang sama?
Hasan Minhaj mampu membuat kita terbahak-bahak dan terharu dalam satu show. Kemampuannya melihat kembali hidupnya dan menceritakannya dengan baik ke khalayak ramai dalam suasana yang feel-good membuat kita mau tidak mau menyimak setiap bagian ceritanya dengan baik.

He makes it look easy. Padahal kalau diperhatikan lagi, kehidupan yang dia ceritakan sebagai imigran asal India di Amerika Serikat tidaklah mudah.

Tetapi, selayaknya any true life survivors, Hasan Minhaj membuktikan bahwa segala perjuangan hidupnya sampai berdiri di atas panggung di hadapan ribuan penonton membuatnya layak berkata: “it’s all worth it”.

Selamat berlibur!

#RekomendasiStreaming – 17 Film Pendek Indonesia Untuk Tontonan 17-an

Ini murni kebetulan.
Hari Kamis minggu ketiga, jadwal tetap saya untuk menulis #rekomendasistreaming, untuk bulan Agustus ini bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Tadinya, tulisan ini mau sedikit ‘ambisius’. Ambisinya adalah mengumpulkan 17 film pendek Indonesia terpilih dari 17 tahun terakhir, yaitu tahun 2000 sampai 2017. Pas ‘kan ya? Sudah 17 tahun lho, kita menjalani milenium baru.

Tapi nyatanya, banyak sekali film pendek Indonesia (yang mau saya masukkan ke daftar ini) yang tidak tersedia untuk ditonton di video streaming platform yang ada. Sangat banyak malah.
Mungkin atas pertimbangan para pemiliknya, beberapa film pendek tersebut memang tidak diunggah ke public platform karena terikat perjanjian kerjasama dengan beberapa pihak pendistribusian film. Hal ini lumrah terjadi.
Selain itu, film-film pendek Indonesia yang dibuat sebelum ada Youtube, berarti produksi sebelum tahun 2004, sangat jarang ditemukan.

Film “Penderes dan Pengidep”

Alhasil, karena saya ingin mengajak kita semua menontonnya bersama-sama, maka daftar 17 film pilihan ini akhirnya mengerucut pada film-film pendek yang memang tersedia di platform video streaming yang mudah diakses di mana saja. Lewat perangkat apa saja. Namanya juga #rekomendasistreaming 🙂

Pilihannya acak. Tidak ada yang terbaik, tidak ada yang terburuk. Semuanya murni pilihan saya sebagai fellow audience, yang membuat saya belajar banyak dari film-film ini. Yang bisa mengangkat sisi Indonesia yang berbeda, beragam, dan berani.
Dan yang pasti, film-filmnya stand against the test of time, atau masih layak ditonton kapan saja. Tidak pudar oleh waktu.

Pilihan yang tidak mudah, mengingat ada ribuan, bahkan bisa jadi puluhan ribu, film pendek Indonesia yang sudah dibuat sampai sekarang.

Film “Vampire”

Dan kenapa film pendek? Seperti yang pernah dikatakan oleh Adrian J. Pasaribu, kritikus film Indonesia: “Wajah Indonesia sesungguhnya ada di film pendek”. Kutipan yang juga pernah saya tulis ulang di situs ini. Kutipan yang saya amini immediately, karena format film pendek memungkinkan siapa pun bisa membuatnya tanpa terbebani rating, jumlah penonton bioskop, atau pertimbangan komersial lainnya. Yang penting, ceritanya dituturkan dengan baik dalam waktu singkat, dan bisa mengena.

Maka berikut ini kita bisa saksikan 17 Film Pendek Indonesia Pilihan Untuk 17-an:

Harap Tenang Ada Ujian (2006)
Sutradara: Ifa Isfansyah

Film yang secara tidak langsung menegangkan, tapi secara langsung juga menyentuh. Selalu ada sisi humanis di setiap kejadian bencana alam yang luput dari pemberitaan. Film ini mengangkat bagian tak terungkap itu dengan manis, dan tak terduga.

Sandekala (2015)
Sutradara: Amriy Ramadhan

Indonesia kaya akan cerita urban legend yang seolah tak ada habisnya. Termasuk mitos pulang saat Maghrib. Dan cerita seperti ini mendapat treatment yang pas di film pendek: tanpa ba-bi-bu, langsung ke bagian mengejutkan. Hasilnya? A very effective horror.

Irama Hari (2008)
Sutradara: Steve Pillar Setiabudi

Film ini menangkap apa yang luput dari keseharian kita: suara orang-orang menawarkan jualan makanan yang lalu lalang sepanjang hari. Tanpa kita sadari, suara-suara itu membentuk sebuah ensemble yang harmonis.

Cinta (2008)
Sutradara: Steven Facius Winata

Satu lagi kisah klasik khas Indonesia yang tidak pernah ada habisnya: percintaan antar dua manusia yang berbeda suku, kelas, keyakinan dan kepercayaan. Kisah yang sudah dituangkan jutaan kali dalam berbagai karya seni di Indonesia, dan salah satu dari sedikit yang bertutur dengan baik, adalah film pendek ini.

Cheng Cheng Po (2007)
Sutradara: BW Purbanegara

Bisa dibilang BW Purbanegara adalah satu dari sedikit sekali sutradara film Indonesia yang humanis. He understands human beings, and he makes human human in his films. Bahasa Jawa-nya “nguwongke wong”. Ini terlihat dari karya-karyanya, yang selalu bicara tentang manusia dalam level yang terlihat simpel di permukaan, namun terasa mengena di hati. Film Cheng Cheng Po ini merupakan awal dari filmography-nya yang beragam, dan lebih polished di bidang produksi. Namun film ini masih terasa relevan untuk kita lihat sampai sekarang.

Kara, Anak Sebatang Pohon (2005)
Sutradara: Edwin

Edwin is one of a kind. Seorang pembuat film yang karya-karyanya tidak cukup mengundang satu interpretasi yang “ajeg”. Bahkan ketika ditonton lagi pun, interpretasi kita sendiri pun bisa berbeda jauh dari apa yang kita lihat pertama kali. Seperti film Kara Anak Sebatang Pohon ini. Sebagai film pendek Indonesia pertama yang lolos seleksi Cannes Film Festival di kategori Director’s Fortnight, tentu saja film ini sempat ramai dibicarakan. Namun yang lebih penting, film ini menandai kehadiran seorang Edwin yang selalu memberi nafas segar di antara monotonnya cerita dan gaya penceritaan film Indonesia.

CONGQ (2016)- Episode 7
Sutradara: Lucky Kuswandi

CONGQ adalah sebuah web-series yang sempat populer, dan memang pantas untuk banyak mendapat perhatian. Gaya penceritaan yang ringan namun mengena, permainan para aktor yang sangat relaxed but very game on, membuat kita tersenyum setiap selesai menonton satu episode. Tapi kalau saya boleh memilih the unexpected highlight serial ini ada di episode 7. Kenapa? Tonton saja.

https://www.viddsee.com/player/a67uv

Lawuh Boled (2013)
Sutradara: Misyatun

Sudah 15 tahun terakhir, kota Purbalingga secara konsisten menelurkan film-film pendek berkualitas. Ceritanya selalu berkisar seputar kehidupan sehari-hari di kota itu, orang-orangnya, dan seolah tidak mempedulikan dunia yang lebih besar. Namun dari pengamatan mikro itulah film-film dari kota Purbalingga ini justru terasa nilai universalnya, yang membuat kita semua akhirnya bisa relate to them. Seperti film ini. Lihat saja permainan ciamik ensemble-nya yang hampir semuanya bukan aktor. Detil-detil kecil yang membuat film ini terasa nyata. Masih banyak lagi film-film Purbalingga yang menawan. But this one is pretty special.

Friend (2014)
Sutradara: Yandy Laurens

Baik di film panjang maupun sinetron, sudah sangat jarang kita melihat senior citizens atau lansia menjadi subyek cerita. Biasanya mereka menjadi latar belakang cerita dengan fokus penceritaan di karakter-karakter yang jauh lebih muda. Namun beberapa film pendek Indonesia terakhir menempatkan orang tua sebagai subyek cerita yang manis. Gula-Gula Usia, Wan-An (yang masih menjadi karya terbaik Yandy Laurens), dan film ini. Bercerita tentang kesendirian di usia lanjut, sesuatu yang rasanya menakutkan untuk dibayangkan, berat untuk dijalani, tapi ternyata menyenangkan untuk dibagi. Malah bisa jadi lucu dan kocak untuk dinikmati. It’s the kind of film that lingers on.

https://www.viddsee.com/player/2k3ba

Lewat Sepertiga Malam (2014)
Sutradara: Orizon Astonia

Tema cerita dan style pembuatan film ini seperti menjadi ciri khas Orizon Astonia, dan membuat filmography-nya menjadi menonjol di antara rekan sebayanya. Ada yang kaget, ada yang menganggap tabu, ada yang lega karena akhirnya ada yang menceritakan ke bentuk visual. Menurut Anda? Silakan tonton dulu.

https://www.viddsee.com/player/trkry

Payung Merah (2010)
Sutradara: Andri Cung, Edward Gunawan

Awal dekade ini dimulai dengan cukup banyaknya stylish horror di film pendek Indonesia. Salah satu yang paling berkesan adalah film ini. Tentu saja akting dari pemain profesional sangat membantu kita sebagai penonton dengan cepat masuk ke dalam cerita yang singkat, dan padat. It is stylish, it is short, and it is well told.

Penderes dan Pengidep (2014)
Sutradara: Achmad Ulfi

Satu lagi dari Purbalingga. Film dokumenter yang menceritakan kehidupan sepasang suami istri yang berada di garis kemiskinan, tanpa harus mengeksploitasi kemiskinan mereka. Istri bekerja menjadi pembuat bulu mata palsu, suami bekerja menjadi pembuat gula aren, di mana dia harus naik pohon kelapa berpuluh-puluh meter setiap harinya. Film yang memaparkan keadaan kehidupan as is, tanpa basa-basi. Seperti film-film dari Purbalingga lainnya, pembuatnya masih duduk di bangku sekolah. Semakin meneguhkan pandangan polos dan non judgmental terhadap cerita, yang memang sangat dibutuhkan di sini.

5 Menit Lagi Ah Ah Ah (2010)
Sutradara: Sammaria Simanjuntak & Sally Anom Sari

Sering kali ada ‘putus hubungan’ yang besar antara televisi dan karya audio visual lainnya seperti film panjang, film pendek, sampai video instalasi. Namun lewat film ini, kita diingatkan lagi betapa (masih) kuatnya pengaruh televisi di masyarakat kita. Betapa televisi masih menjadi candu yang tak bisa dilepaskan dari keseharian. Termasuk reality show contest and its aftermath, sesuatu yang sering kita lihat dan dengar, namun jarang yang benar-benar kita perhatikan dengan seksama. Film ini secara akurat memaparkan realita pahit dari pemenang sebuah reality show contest, yang tidak dibuat pahit. Just like life, it continues to struggle. Film yang membuat kita akan ‘manggut-manggut’ berusaha untuk memahami hidup yang keras.

Embed https://www.viddsee.com/player/djq8l

Titik Nol (2009)
Sutradara: Nicholas Yudifar

Dari daftar film pendek di sini, mungkin film ini yang membuat saya langsung teringat dengan idiom “seeing is believing”. Bisa ditambah, “seeing, and hearing, is believing”. Penggunaan puisi sebagai narasi memang tricky dalam film. Makanya jarang digunakan. Sekali digunakan, hasilnya akan menyentuh. Seperti yang ada di film ini. Setelah ditonton ulang beberapa tahun kemudian, masih menggetarkan hati. It’s a rarity.

Balik Jakarta (2016)
Sutradara: Jason Iskandar

Jason Iskandar, yang sudah membuat film pendek sejak SMA, bisa jadi merupakan sutradara muda yang paling berbakat. Selain berbakat, dia konsisten membuat film pendek dengan fokus penceritaan yang cukup tajam. Karya-karyanya selalu bermuara pada persoalan personal, yang mempengaruhi gaya visualnya. Namun di film ini, pendekatannya terasa berbeda. Dengan konsep road trip, Jason menjelajah sebagian isi ibu kota dari sisi yang, sekali lagi, terasa humanis. Definitely worth watching.

Kapur Ade (2014)
Sutradara: Firman Widyasmara

Berbeda dengan film non-animasi, film pendek animasi di Indonesia secara jumlah masih sedikit. Di luar karya iklan atau kepentingan komersil lainnya, setiap tahun hanya ada puluhan, tidak sampai 50, film pendek animasi di Indonesia dibuat. Dari yang sedikit itu, film ini termasuk yang mengesankan. Lagi-lagi soal cerita permasalahan kota besar. Namun fokus cerita yang berpaku pada mata yang masih lugu dan polos membuat kita terbawa sepanjang film ini.

Vampire (2014)
Sutradara: Fitro Dizianto

Sebagai penutup, rasanya saya hanya bisa menggambarkan film ini dengan menggunakan kata berikut dari bahasa slang Jawa Timuran: “ngguatheli pooolll”! Film yang akan membuat Anda … ah, tonton sendiri saja! 😉

Selamat merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia, selamat berlibur, dan selamat menonton!

#RekomendasiStreaming Buat Teman Libur Lebaran

Akhirnya, kita memasuki libur panjang resmi nasional.

Regardless who or what you are, mau tidak mau kita semua, atau mayoritas dari kita semua, terkena dampak event tahunan libur panjang Lebaran. Mau merayakan Lebaran atau tidak merayakan Lebaran, yang jelas semuanya liburan. Mau pergi atau berdiam diri, tetap saja liburan.

Oleh karena itu, kali ini jumlah rekomendasi tontonan lewat aplikasi video streaming sedikit lebih banyak dari biasanya. Dan semuanya adalah serial, dengan kisaran 8-10 episode per serial.

Terdengar banyak? Oh, please. Pasti di hari ke-3 liburan sudah mulai mati gaya, bingung mau ngapain.

Semua serial di bawah ini bisa ditonton secara resmi di Amazon Video atau Netflix. Kalau masih belum berlangganan, silakan coba saja. Kedua aplikasi ini memberikan masa berlangganan gratis di bulan pertama.

Jadi rekomendasi serial pengisi libur Lebaran tahun ini adalah …

American Gods

Diangkat dari novel karya Neil Gaiman, serial ini membuat saya terhenyak dan terpaku di episode pertama. Visually striking and stylish, setiap gambar dan adegan menyita perhatian kita, sambil heran, kenapa serial seindah ini tidak jadi film bioskop saja? Alasannya, karena banyak sekali cerita dan karakter yang out-of-the-world yang harus Anda tonton selama 8 episode. Oh, dan sebaiknya jauhkan tontonan ini dari anak-anak. Buat orang dewasa saja, it will blow your mind away. Apalagi buat yang belum dewasa.

American Gods

Kalau sudah selesai menonton American Gods yang sangat membelalakkan mata dan pikiran, maka saatnya Anda mengistirahatkan otak sejenak dengan tertawa sambil menonton …

Fleabag

Apa ya bahasa Indonesia yang pas buat menerjemahkan kata “koplok”? Gokil? Oke, gokil. Serial ini sungguh “gokil”, tanpa tedeng aling-aling menggelontorkan kecuekan karakter Fleabag, perempuan di London yang selalu sial dalam hidup, terlebih lagi kehidupan percintaannya. Mirip serial “House of Cards”, ada beberapa momen di mana karakter Fleabag akan berbicara dengan Anda di tengah-tengah adegan, tapi alih-alih membuat kita terkesima, yang ada malah terbahak-bahak menertawakan ketololan sekaligus keluguan. Cocok ditonton setelah Anda lelah menghadapi berondongan pertanyaan dari keluarga, kenapa Lebaran kali ini masih sendirian saja.

Fleabag

Setelah selesai tertawa bersama Fleabag, dan setelah usai istirahat, maka di hari berikutnya kita bisa mulai mengerahkan energi untuk berkonsentrasi menonton …

The Keepers

Maaf, sebelumnya saya harus memberi peringatan terlebih dulu kepada Anda: this is not an easy watch. Ini adalah serial dokumenter yang berusaha menguak misteri terbunuhnya seorang biarawati bernama Cathy Cesnik di Baltimore, Amerika Serikat, tahun 1969. Namun sepanjang 7 episode, yang begitu cepat berlalu, kita malah tertampar dengan temuan mengerikan atas kejadian-kejadian di luar batas kemanusiaan yang mengatasnamakan agama. Sounds familiar? Saran saya lagi, jangan langsung ditonton semuanya sekaligus. Apalagi setelah episode 2 dan 3. Tarik nafas dahulu. Ini memang kisah nyata. Dan mengerikan. Tapi di akhir serial, kita bisa bernafas lega, karena optimisme masih mendominasi hidup. Phew.

Setelah melalui perjalanan panjang The Keepers, saatnya kita beristirahat, lalu menikmati tontonan yang santai, menyenangkan, sekaligus membuat tersenyum, yaitu …

Midnight Diner: Tokyo Stories

Ceritanya sederhana. Sebuah kedai di gang kecil di Tokyo buka dari jam 12 malam sampai jam 7 pagi. Dia hanya menyajikan satu jenis menu. Namun pelanggan bisa meminta menu lain, selama pemilik warung punya bahannya. Lalu cerita bergulir dari setiap tamu yang datang, lengkap dengan masalah mereka masing-masing. Hanya dalam waktu 30 menit per episode, kita selalu dibuat tersenyum menonton cerita mereka, because they feel so human. Unpretentious, and sincere. Mungkin setiap selesai menonton, Anda bisa berpikir ulang tentang makanan yang Anda santap. Because every meal has its story, i.e. your story. Tonton, resapi, dan nikmati. Sepuluh episode akan membuat Anda klangenan seketika.

Sementara kalau hanya menonton satu film selama liburan ini, yang bisa ditonton berulang kali bersama seluruh anggota keluarga besar, maka hanya ada satu film, yaitu …

Dangal

Ini bukan cuma salah satu film Hindi terbaik yang pernah ada, tapi ini adalah salah satu film terbaik yang pernah dibuat sepanjang masa. Terlalu berlebihan? Rasanya tidak. Kisah antara ayah dan anak-anak perempuannya untuk meraih kebebasan dalam hidup tidak terasa mengada-ada. Siapapun bisa merasa relate to the story. Siapapun yang pernah berusaha memahami ayah mereka, akan menonton film ini dengan penuh pemahaman. Siapapun yang sedang berusaha memahami anak-anak mereka, tontonlah film ini dengan penuh perasaan. Siapkan tissue, karena air mata mungkin menetes di akhir saat Anda tidak terasa tepuk tangan.

Dangal-poster-large-LISTICLE

Selamat libur Lebaran, para pembaca Linimasa!

#RekomendasiStreaming – Surat Cinta Yang Nyaman Dilihat

Ternyata punya “rutinitas” tidak selalu membuat tulisan bisa mengalir dengan lancar.

Sengaja saya set up menulis tentang rekomendasi tontonan di aplikasi video streaming setiap Kamis minggu ketiga ini supaya ada rutinitas tertentu. Paling tidak, sebelum masuk tenggat waktu, sudah tahu akan menulis apa (temanya). Eh, sekarang muncul “masalah” lain: begitu sudah tahu harus menulis tentang apa, malah bingung isinya apa.

Iya. Kali ini saya sempat bingung harus merekomendasikan tontonan apa untuk bulan ini.

Untungnya, serial yang saya rekomendasikan punya semacam tema besar, yaitu being a love letter to love and life. Alhasil, untuk pilihan filmnya, saya tinggal mengikuti tema besar ini.

Dan memang menyenangkan melihat tontonan yang membuat kita semakin yakin bahwa love is what we need. Apalagi sekarang.

Jadi …

• Jika hanya punya waktu untuk menonton satu film pendek di akhir pekan ini, maka tontonlah

Springsteen & I

Saya bukan penggemar Bruce Springsteen. Cuma tahu beberapa lagunya. Tidak pernah secara khusus mengoleksi album-albumnya.

Namun melihat film dokumenter, kok rasanya hati dibuat mencelos. Film ini berisi kumpulan testimoni para penggemar Bruce Springsteen dari seluruh dunia, di mana mereka merekam sendiri testimoni mereka lewat ponsel, lalu beberapa testimoni terpilih dirangkai dengan footage konser-konser Bruce Springsteen. Akhirnya, jadilah film yang membuat kita tersenyum sendiri.

Ada yang berbinar menceritakan pengalamannya mendapat upgrade tiket ke kelas VIP waktu menonton konser Bruce Springsteen. Ada yang kaget waktu diajak ke atas panggung. Ada yang mendengarkan lagu-lagu Bruce sambil bekerja di malam hari sebagai supir truk. Ada yang melahirkan di saat lagu Bruce mulai diputar di radio.
Berbagai cerita personal yang tidak membuat kita kelelahan mengikutinya. Malah sebaliknya. Durasi film sepanjang 2 jam 4 menit berasa terlalu cepat melihat muka-muka sumringah para penggemarnya.

Silakan ditonton untuk merasakannya.

• Jika punya cukup waktu untuk menonton satu serial di akhir pekan ini, maka tontonlah

“Master of None” (Season 2)

Aziz Ansari, how do you do it? How do you bring up sensitive religious, racial and other important issues in one series that can still make us feel good watching it?

Ajaib. Serial “Master of None” ini semakin baik tema, gaya, dan isi ceritanya di musim penayangannya yang ke-2 ini. Tapi bukan cuma itu yang membuatnya ajaib.

Aziz Ansari sebagai kreator serial ini dengan berani mengangkat isu-isu sensitif dengan penyampaian yang sangat casual. Pandangan Muslim moderat dan Muslim tradisional. Modern dating lewat aplikasi dengan segala akal bulusnya. Dan masih banyak lagi.

Lalu gaya berceritanya. Penggemar film klasik dan seni modern pasti dibuat jatuh hati hanya pada episode pertama, yang dibuat seolah-olah seperti film klasik Italia. Toh masih membuat saya terbahak-bahak menontonnya.

Dan yang pasti, episode Thanksgiving di serial ini adalah salah satu episode Thanksgiving paling lucu dan menyentuh dalam sejarah pertelevisian modern. Sebagus itu? Iya.

Seolah-olah tak ada sedikitpun mean bone dalam diri Aziz Ansari. Semua cerita ditampilkan dengan nada optimisme yang tidak “lebay”, pas pada proporsinya.

Setiap episode di-shoot secara sinematis, layaknya kita menonton film, bukan serial komedi televisi biasa. Jadi seolah-olah kita melihat film panjang selama 5 jam yang berlalu begitu cepat, bukan sekedar 10 episode dari durasi 30 menit per episode.

“Master of None” season 2 is undeniably a sweet love letter to love and life itself.

Ini jagoan saya buat Best Comedy di Emmy Awards bulan Agustus nanti. Semoga menang. Kalaupun tidak, biarlah dia mengendap di hati sebagai serial komedi yang menyentuh hati. Karena saya akan nonton berulang kali.

A precious and rare gem, indeed.