Puk Puk Bisa Dipupuk Atau Ditumbuk

“Beb.”

“Ya, beb?”

“Emang ada ya orang yang putus pacaran atau cerai baik-baik?”

“Ngngng … Ya mungkin ada ‘kali.”

“Tapi kalo menurut kamu, beb?”

“Ya menurut aku sih, nggak ada ya. Namanya juga putus hubungan. Sebelum pisah beneran, pasti ada penyebabnya. Bisa diem-dieman, atau malah ribut-ribut. Nah, pas diem-dieman atau ribut itu, emang baik-baik perasaannya?”

“Iya sih.”

“Atau mungkin yang dimaksud baik-baik itu, ini mungkin lho ya, pas udah selesai putus. Masih jadi temen ngobrol. Atau jadi co-parent buat anaknya. Atau masih jadi partner bisnis. Tapi itu kan ya gak langsung jadi baik-baik juga. Pas proses pisahnya, pasti ada rasa sedih, kecewa, mungkin marah, walaupun sedikit. So I still stand on my point ya, beb. Bahwa there is no such thing as pisah baik-baik.”

Noted, beb.”

“Kenapa tiba-tiba nanya gitu? Mau putus?”

“Putus ama apa, eh siapa, beb? Putus harapan kelamaan jomblo? Wah, jangan dong, beb. Aku anaknya masih optimis, kok. Optimal dan klimis.”

“Optimis tapi nanyanya gitu.”

“Buat ngisi waktu di tengah macet aja, beb.”

1

“Kalo menurut kamu sendiri? Is there such a thing as pisah baik-baik?”

“Menurutku sih, iya. Oke, aku setuju pendapatmu soal ada rasa sedih dan kecewa pas itu terjadi. Cuma yang aku lihat dan alami sendiri, mungkin ini kebetulan juga, bisa kok dua orang itu memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan saling bicara yang tenang, agak lama, dan akhirnya sampai ke keputusan buat pisah. Memang itu jarang banget terjadi, dan ya tingkat kedewasaannya pastinya di atas rata-rata. Dan lagi-lagi karena kebetulan itu yang aku lihat dan alami sendiri di lingkungan terdekat, jadi ya I’d like to believe that.”

Point taken, beb. Bagus buat kamu masih percaya itu. To each their own encounter and experience.”

“Nah, kalo soal experience sendiri, kamu pernah nggak mengalami kangen luar biasa sama mantan pasangan?”

“Pernah lah, beb. Namanya juga mantan orang terdekat. Tiba-tiba terpaksa jadi jauh, ya ada aja bekas dia yang nempel.”

“Wah, kalau itu bekas tempelan noda pakaian akibat laundry kiloan, sudah aku protes, beb.”

“Ya kalo laundry kiloan sih, tinggal terima nasib aja, beb.”

“Asli. Emang kangennya kayak gimana, beb?”

“Hmmm. Kayak yang terakhir, deh. Aku gak kangen, or rather, gak terlalu kangen masa-masa pacaran ama dia. Apalagi pengen jadian lagi. Mungkin karena selama jadian, lumayan sering adu argumentasi. Justru kangennya over small things. Misalnya, pas lagi nonton film di bioskop. Tiba-tiba ada adegan film yang bikin, “Aduh, kangen ngobrol ama dia soal ini”. Soalnya belum ada lagi orang yang bisa diajak ngobrol tentang hal tertentu di film itu. Atau pas ke pameran di galeri dua minggu lalu. Pas ngeliat foto tertentu, tiba-tiba muncul perasaan serupa. “Duh, kangen ngobrolin soal hal ini ama dia.” Lagi-lagi karena belum ketemu orang pengganti yang bisa diajak ngobrol hal serupa.”

“Kalau udah gitu, kenapa gak kontak dia lagi, beb? Masih disimpen kan nomernya?”

“Masih. Tapi ya buat apa?”

“Buat diajak ngobrol hal-hal kecil tadi.”

9

Then what?”

Then you’ll get satisfied.”

Then what?”

Then…pasar Moon.”

“Ih, situ Maribeth?”

“Ih, situ kemakan jebakan umur.”

“Sialan. Enggak lah, beb. Waktu rasa kangen yang mendadak muncul tadi itu terjadi, aku cuma manggut-manggut sendiri sambil terus nonton film dan liat foto. Kayak acknowledge the feeling and the moment it happens aja. Trus ya udah. Gak usah dilanjutin lagi. Lagi pula, itu kan keinginan sesaat aja. A fleeting desire. Kalau kepengen banget kontak lagi, aku mikir-mikir lagi, “Is this really something that you want? Do you really need to do this?

“Kayak prinsip diet ya. Makan yang perlu aja. Kalau laper di atas jam 10 malem, cek lagi, itu laper beneran, apa haus doang.”

Exactly. Jadi mungkin ya when it comes to contacting our ex, ask again, do we need it, or do we just want it?”

I want to need it!”

“Plis. Jangan kemaruk, beib. Kemaruk bikin garuk-garuk.”

“Beb, jangan garing kayak orang lagi starving. Tapi itu beneran kamu bisa menahan gejolak untuk tidak merangkai komunikasi lagi?”

“Situ puitisnya gagal, deh. Ya harus bisa. Agak dipaksa sih. Dan setelah aku pikir-pikir, memang rasa kangen seperti itu bisa kumat dan kejadian terus kalau dari kitanya memang memupuk terus. Mulai dari denial, trus setiap hal itu dateng, dirasakan banget sampai akhirnya kangen lagi. Makanya aku gak mau kayak gitu, beb. Kalau kejadian tiba-tiba kangen datang lagi, ya udah. Biarin aja itu dateng, I acknowledge its presence, and that’s it. Dirasakan, tapi gak usah ditindak lanjuti. Gak ada follow up. Gak perlu dibawa baper, apalagi sampe kepikiran. Senyum sendiri aja. Soalnya kalo rame-rame, disangka lagi latian akting di sanggar teater.”

It takes time ya, beb, untuk bisa “legowo” seperti itu.”

“Aku nggak tahu soal “legowo” itu apa, tapi kalau itu berarti artinya sudah menerima dan melanjutkan hidup, yes, it does take time. Just like everything else in life.

“Jadi perasaan pengen dipuk-puk lagi pun bisa dienyahkan. Tergantung kita mau memupuk atau menumbuk.”

“Aku bingung, kamu ini copywriter wannabe atau demennya kata-kata berima kayak pejabat?”

“Ah, beb. Kamu aja bingung, apalagi aku.”

“Ya udah, daripada makin bingung, makan yuk.”

“Yuk.”

Advertisements

Baru Tahu Rasanya Sekarang …

Akhir pekan lalu, seorang teman lama mengajak saya pergi keluar untuk curhat. Kebetulan sudah lama kami tak berjumpa. Setelah disepakati waktu dan tempatnya, kami bertemu di sebuah kedai kopi di sore hari.

Meskipun cuma berdua, pembicaraan kami riuh rendah. Banyak hal yang membuat kami tertawa saat catching up dengan update seputar kehidupan pribadi masing-masing. Sampai saatnya kami mengobrol seputar kehidupan percintaan masing-masing.

“Elo lagi seeing anyone?”

“Gak ada.”

“Yang bener?”

“Iya. Udah lama nggak ada.”

“Kenapa?”

“Ya nggak kenapa-kenapa. Emang gak ada.”

Okay.”

“Elo sendiri?”

“Baru kelar.”

“Oh. Baru putus?”

Well, if you say so.”

Sorry to hear that.”

“Gak usah. Gak ada yang perlu dibikin sorry. Malah justru gue lega.”

“Eh, gimana, gimana? Was it a bad relationship?”

It was hardly a relationship, bok. He loves me, but I realize I don’t love him.”

“Oalah …”

“Tapi itu yang bikin gue kaget sama diri sendiri. Remember my big break-up the last time?”

“Yaolo, masih mau dibahas nih? Masih belum move on?”

“Yeee … Kagak. Bukan gitu. Inget kan, how messy it was, the big break-up, dan gue terus mempertanyakan, kenapa, why he dumped me all of a sudden. Lalu gue sadar, he was unsure of his feeling. Maybe he never loved me in the first place, but he felt he is stuck with me. He did not know what to do, then suddenly it was an outburst, at never the right time, that he wanted to get out of it. It being whatever happened between me and him. He just needed to get out of it, because that’s what he needed the most. Gue tahu rasanya, kenapa? Karena sekarang gue ada di posisi dia. Or, not now, but the last one. I was him, for a while. And once I realize, I had to get out. Now I know how it feels.

(Courtesy of parents.com)

(Courtesy of parents.com)

Saya mengangguk sambil terdiam. Cangkir kopi yang sudah mulai dingin tetap saya hirup perlahan-lahan.

Saya pernah membaca, lupa dari mana sumbernya, bahwa tantangan terbesar waktu kita beranjak dewasa adalah jujur pada diri sendiri. Jujur dengan apa yang kita mau, dan apa yang kita tidak mau. Berat untuk jujur ini biasanya kita ganti dengan bentuk lain.

Tapi bukan ini yang ingin saya bicarakan kali ini.

Saya bertanya ke teman saya.

So, how do you feel now?

“Biasa aja. Ya kalau dibilang lega, ya lega, tapi gak sampe lega macem pose orang lari-lari di taman terus tangannya membentang kayak sayap burung gitu, ya enggak lah.”

“Hahaha …”

“Tapi ya jadi gak ada beban. I don’t need to force myself saying “I love you, too”, while I don’t.

That’s good to know.

But isn’t it funny, that it takes another relationship, or “relationship”, to finally realize and understand your previous relationship? Inget nggak, dulu elo terus bilang ke gue kalo “give it time …””

“… time to heal, iya gue inget.”

“Ya ternyata, the time is now. Or so I think. Lucu aja sih. It’s funny how time works. It’s funny how it takes a new connection to realize what’s wrong with your previous one. Or ones.

Saya tersenyum. Kopi sudah mulai habis. Senja sudah turun, malam mulai datang. Kedai kopi semakin ramai. Kami masih belum beranjak.
Kami masih duduk. Berbicara apa saja yang bisa dibicarakan. Tanpa ada agenda, tanpa ada rencana.

Seperti kami tidak pernah bisa berencana, pada siapa kami akan jatuh cinta.

We cannot choose who we fall in love with.
But we can always choose how to deal with it.

(Courtesy of twobruteyogis.wordpress.com)

(Courtesy of twobruteyogis.wordpress.com)