Katanya “I Travel Because I Have to, I Come Back Because I Love You”

Judul tulisan di atas adalah judul film dari Brazil produksi tahun 2009 karya Marcelo Gomes dan Karim Ainouz. Menurut saya, ini salah satu judul paling romantis yang pernah dibuat untuk sebuah produksi film.

Apakah filmnya romantis? Well, kalau Anda tidak terbiasa menonton film-film arthouse yang serius, pasti penasaran ingin menekan tombol fast forward di sebagian besar adegan.
Namun paling tidak, judul filmnya sendiri sudah mengundang rasa penasaran kita.
Terutama bagi mereka yang sering bepergian.

Anda pernah nonton film Up In the Air?
Film ini menceritakan pengalaman George Clooney sebagai seorang eksekutif profesional yang bertugas menyampaikan langsung penghentian kerja kepada karyawan yang terkena PHK tersebut. Pekerjaannya membuat tokoh ini harus bepergian lebih dari 300 hari dalam setahun. Hampir tidak pernah ada di rumah, bahkan mulai mengaburkan konsep rumah sebagai tempat tinggal.

Toh dia lebih sering menghabiskan waktu di pesawat dan di hotel. Di beberapa adegan kita melihat apartemennya nyaris kosong, hanya ada beberapa perabotan seadanya. Makanya tokoh ini tidak pernah betah saat dia lagi “off days”. Ada rasa kecanduan tertentu yang dia dapatkan saat bepergian.

tumblr_nuc4frLsPx1ubc3b0o4_500

Saya yakin Anda kenal atau punya beberapa teman atau saudara dengan aktivitas bepergian seperti ini. Atau mungkin Anda sendiri yang menjalaninya?

Kebetulan beberapa teman dekat saya menjalani kehidupan seperti ini. Demi urusan pekerjaan, bukan sekedar update akun media sosial, mereka sering bepergian, baik ke luar kota, luar pulau, atau luar negara.

Ada yang lajang, ada yang sudah berpasangan, ada yang menikah. Tentu saja perspektif mereka tentang “pulang” berbeda satu sama lain.

Teman saya yang lajang bilang, “Kayak semacam ada hollow gap yang gak bisa gue jelaskan tiap kali gue pulang bepergian. Mungkin karena gue pulang ke apartemen gue yang kosong karena tinggal sendiri. Udahlah tinggal sendiri, pulang pasti apartemen jadi pengap karena berhari-hari ketutup dan listrik dimatiin ‘kan. Jadi kayak makin males untuk pulang.”

Sementara teman-teman yang berpasangan atau menikah kurang lebih memiliki pandangan yang sama.

“Pulang, karena ada yang nungguin. Ada yang nanyain kapan pulang.”

“Ada yang ngangenin.”

“Bener. Ada yang gak bisa tidur, sampe harus naruh kaos gue di bawah bantal.”

“Persis kayak anak gue. Tiap hari harus nonton video gue ama dia supaya dia bisa tidur.”

“Ya kayak gitu yang akhirnya bikin kita harus pulang. Rutinitas kecil yang gak bisa gue tinggal.”

“Bisa sih elo tinggal, tapi apa elo mau? Itu kan masalahnya?”

“He eh. I mean, it’s nice to have a break, traveling to other places, dikelilingi suasana baru, pengalaman baru …”

” … Selingan baru, bro?”

“Heh! Hahahaha. Well, anyway …”

” … Hahaha …”

“Pada akhirnya ada semacam kekuatan yang menarik diri elo untuk gak berlama-lama pergi. Call it attachment or whatever ya, saat elo sudah memutuskan untuk commit to a life with the one or the ones you love, tanpa ada paksaan elo akan kembali. Pada akhirnya, elo kangen rutinitas hidup elo yang elo biasa jalani, yang elo tahu, yang elo hapal di luar kepala.”

Teman saya yang lain mengangguk.

IMG_20180710_104418_1

Rutinitas. Ternyata ini juga yang diamini teman saya yang lajang. Tentu saja rutinitas yang berbeda.

“Gue kan cenderung jadi light traveler minimalis borderline pemalas ya kalo bepergian. Hahahaha. Jadi ya gak gue bawa lah segala macem sepatu lari dan peralatan olahraga lainnya. Makanya gue selalu look forward to doing my usual activities lagi kalo pulang dari bepergian. Lari pagi keliling kompleks dua hari sekali. Kelas-kelas di gym every other day juga. Yoga pas weekend sebelum ketemu ponakan-ponakan gue. I always miss those routines. Ternyata kita orangnya gak bisa lepas dari rutinitas ya? I mean, no matter how far and free we go, we miss that orderly life. Oh, satu lagi ding. Makanan Indonesia, maaan! Segala macem ghoulash atau steak paling enak, gak ada yang ngalahin nasi Padang bungkusan! Beneran. I love it! I can marry nasi Padang so I can always come back to the one I love. Hahahaha!”

Saya ikut tertawa.
Sambil diam-diam berpikir, apa yang sudah kita cintai sampai membuat kita selalu ingin kembali?

IMG_20180707_103029

Advertisements

Pulang

Pernah nonton film Forrest Gump?
Sepertinya sebagian besar dari kita sudah pernah menonton film legendaris ini. Saya sendiri sudah menonton film ini beberapa kali. Setiap kali menonton, selalu ada hal baru yang saya perhatikan.

Namun akhir-akhir ini, ada satu adegan di film tersebut yang membekas di benak ingatan. Adegan ini adegan ‘kecil’. Mungkin termasuk adegan yang blink-and-you-miss-it.

Adegannya terjadi menjelang bagian ketiga film. Forrest Gump (Tom Hanks) memutuskan pulang ke rumah, setelah mendengar kabar ibunya (Sally Field) sakit. Forrest, yang selalu bertualang, akhirnya kembali ke tempat dia menghabiskan masa kecilnya. Ibu Forrest, yang terlihat tua dan letih, tersenyum saat membuka pintu rumahnya dan menyambut Forrest yang datang dengan muka khawatir.

Seandainya Forrest bukan manusia spesial, mungkin dia akan datang tidak hanya dengan muka khawatir, tapi juga muka letih, lelah, wary look, menanggung beban dunia dengan segala permasalahannya, tak sabar ingin sekedar beristirahat dan berbagi beban hidup. Namun Forrest Gump bukan orang kebanyakan. Dia hanya pulang dengan satu tujuan: merawat ibunya sampai akhir hidup.

Forrest Gump (source: hookedonhouses.net)

Adegan itu terngiang-ngiang di kepala, meskipun sudah beberapa bulan saya tidak menonton film ini lagi. Adegan yang membuat saya terharu, karena bagaimanapun, kita selalu ingin pulang.

Beberapa minggu lalu, saat menjelang musim mudik Lebaran, sempat ramai berseliweran foto-foto meme di media sosial sepeda motor yang ikut mudik. Ada yang menuliskan “maaf belum bawa jodoh, yang penting pulang!” Atau ada juga yang menuliskan “tidak bawa uang, tidak bawa oleh-oleh, cuma bawa badan buat pulang.” Kurang lebih seperti itu bunyinya.

Tidak ada bangsa di dunia ini yang tidak mengenal budaya pulang dan bertemu keluarga. Mau itu Lebaran, Imlek, Thanksgiving, Natal, selalu ada alasan untuk pulang.

Atau kadang tidak perlu ada alasan, namun pulang menjadi pilihan satu-satunya, karena tidak ada alasan lain.

Beberapa tahun lalu, saya pernah menonton film Hope Floats. Pernah nonton juga?

Film in menceritakan seorang perempuan bernama Birdee (Sandra Bullock), yang mengetahui bahwa suaminya selingkuh saat dia hadir di sebuah acara talk show televisi yang ditayangkan ke seluruh negeri. Tak kuasa menanggung malu, dia memutuskan pulang ke rumah ibunya (Gena Rowlands) di kota kecil di Texas. Birdee mau tak mau harus menelan ludah, apalagi seisi sudah tahu tentang kegagalan pernikahannya. Ditambah lagi, Birdee dulunya gadis paling populer di sekolahnya yang acapkali dianggap sombong oleh teman-temannya. Namun Birdee harus menerima semua kenyataan yang terjadi, karena mau tak mau, dia harus bertahan hidup.

Hope Floats (source: thefilmexperience.net)

And that’s the key of life: survival.

Terkadang kita lupa bahwa kita pulang karena kita sedang berusaha bertahan hidup.

Pulang tak melulu jadi tujuan akhir. Pulang tak selalu menjadi pilihan terakhir.

Kita pulang karena kita ingin beristirahat sejenak dari rutinitas. Kita pulang karena kita ingin recharge the life’s battery agar dia bisa berlari kencang kelak nanti. Kita pulang karena masih ada tempat yang kita tuju untuk bertemu dengan orang-orang yang pernah dan akan selalu kita cintai.

Karena itulah James Stewart berusaha mati-matian untuk bisa hidup kembali saat malam Natal untuk bisa kembali pulang ke rumah dan bertemu dengan keluarganya, meskipun dia gagal secara finansial dalam film It’s a Wonderful Life.
Karena itu juga sang alien dalam film E.T. harus kembali pulang untuk bersatu lagi dengan sejawatnya, meskipun dia sudah mendapat tempat yang ramah di bumi dengan teman-teman barunya.
Karena itu pula Dorothy harus bangun dari mimpi panjangnya di film The Wizard of Oz, dan kembali ke dunia nyata, karena “There’s no place like home”.

It’s a Wonderful Life

Pulang bukan menjadi ajang pertunjukan apa yang kita punya. Pulang bukan menjadi kesempatan kita untuk berlaku berlebihan.

Sering kali pulang adalah kesempatan kita untuk berbagi, apa yang kita punya, dan apa yang kita tidak punya. Pulang adalah cara kita untuk mengucapkan rasa terima kasih, karena masih ada mau menerima kita apa adanya, tanpa buah tangan, tanpa harapan.

Dan sebelum akhirnya satu demi satu berpulang, selama masih ada waktu untuk bertemu, maka kita hanya bisa menyempatkan untuk melakukan satu hal yang membuat kita hidup.

Pulang.