Me on Bob Dylan: It’s Alright, Ma (I’m Only Mumblin’)

Penonton: “JUDAS!!”

Bob Dylan: “I don’t believe you. You’re a liar! “Play it fucking loud!”

dylan2

Lalu lagu “Like A Rolling Stone” pun mengalir seperti batu yang yang bergulir dan entah kapan akan berhenti. Kata “Judas” adalah teriakan dari penonton di Manchester, tahun 1966. Caci maki seperti: “Any bloody pop group can do this rubbish!”, “He’s a fake neurotic.”, “Dylan is prostituting his music.”, “Go home, you traitor!” banyak keluar dari penonton di rangkaian turnya di Inggris yang terkenal kritis. Tapi Bob Dylan merespon seadanya. Santai dan meneruskan bernyanyi. Teriakan itu bukan tanpa sebab. Tahun 1965-66 adalah periode penting di karir Bob Dylan sebagai penyanyi dan di dunia musik pop. Dia tidak ingin hanya menjadi penyanyi yang bermodalkan gitar akustik dan harmonika saja. Tapi memutuskan untuk memakai band dan memakai untuk memakai gitar listrik. Para pengikut setianya merasa dikhianati. Mereka kecewa. Mereka menginginkan Dylan yang dulu. Para sejawatnya di musik folk pun banyak yang tidak setuju dengan keputusannya. Pete Seegers, senior Dylan di musik folk pun dikabarkan ingin segera memutus kabel dan menghentikan show Dylan yang memutuskan untuk memainkan full band dan dengan gitar listrik di Newport Folk Festival di tahun 1965. Sesuatu yang haram dilakukan pada saat itu. Karena telah mencederai kemurnian musik folk. Beberapa bulan setelah rangkaian konser di Inggris, Dylan mengalami tabrakan motor yang cukup parah. Burnt out sepertinya. Dia bosan dengan pertanyaan yang itu-itu saja dan juga tur yang melelahkan. Dia memutuskan berhenti untuk melakukan tur setelah kecelakaan. Tapi dia tetap membuat album. Dia hanya menghilang dari sorotan publik selama sembilan tahun.

Padahal di situ adalah saya melihat kejeniusan seorang Bob Dylan sebagai penulis lagu. Secara sadar atau tidak dia baru saja menciptakan genre baru: folk-rock. Ini langkah yang radikal. Usianya baru 24. Tidak banyak musisi atau band yang berani keluar dari zona nyaman. Ada yang berhasil. Tidak sedikit yang gagal. Tapi lebih dari itu Dylan sedang menjadi Dylan. Seseorang yang tidak peduli dengan pendapat atau kritik. Dia melakukan apa yang ingin ia lakukan. Konsekuensinya berat. Dia bisa saja ditinggalkan penggemarnya. Tapi ternyata tidak. Sikap itu yang saya ambil dari seorang Dylan. Tidak mau didikte. DGAF attitude. Ada yang pernah mendengar Laura Marling? Berpindah dari akustik menjadi elektrik di album kelimanya, Short Movies. Dia sedang menigikuti jalur Dylan. Itulah kenapa saya juga mengagumi Laura Marling. Salah satu hal yang saya lihat dati musisi atau band. Sikap kadang lebih penting dari sekedar musik yang penting enak didengar. Musik enak didenger tapi kelakuannya gitu kan gimana ya.

bob-dylan_nobel

Kurang dari seminggu yang lalu, Bob Dylan diganjar hadiah sebagai peraih Nobel Prize for Literature. Mengejutkan? Buat saya tidak begitu. Memang sudah seharusnya. Bahkan saya menganggapnya Nobel atau The Swedish Academy telat memberikannya. Banyak yang menominasikan Dylan untuk mendapatkan Nobel sejak tahun 90an. Tapi ternyata tidak berapa lama dari pengumuman itu banyak kritikan pedas yang datang. Banyak yang mempertanyakan kenapa Bob Dylan, yang lebih terkenal sebagai musisi dan pembuat lagu menganggap tidak layak mendapatkan hadiah Nobel di Bidang Kesusastraan. Ini adalah mereka yang meneriaki judas, traitor, atau segala macam sumpah serapah ketika Dylan merubah haluan. Mereka yang lebih menjagokan Haruki Murakami lupa bahwa judul buku Norwegian Wood diambil darilagu The Beatles yang berjudul Norwegian Wood (And The Bird Has Flown) dari album Rubber Soul (1966). Mereka juga lupa bahwa The Beatles album era Help! dan seterusnya sangat terpengaruh oleh Bob Dylan. Tanpa Dylan mungkin kita tidak akan pernah punya album Sgt. Peppers And The Lonely Hearts Club Band. The Beatles menjadi lebih serius dalam mendalami lirik dari sekedar “love-love me do“, atau “she loves you yeah-yeah-yeah“. Mereka lupa bahwa Jimi Hendrix minder untuk bernyanyi di depan publik karena suaranya jelek tidak seperti penyanyi dari Motown. Tetapi setelah dia mendengarkan lagu “All Along The Watchtower” dari Bob Dylan, dia merasa mendapat dorongan untuk bernyanyi. Kalo Dylan yang suaranya biasa saja maka dia pun bisa. Mereka yang tidak setuju belum memahami lagu “The Times They Are A-Changing” itu tidak akan lekang oleh jaman. Waktu akan terus berubah. Penggalan dari stanza kedua menjelaskan kondisi ini : Come writers and critics / Who prophesize with your pen / And keep your eyes wide / The chance won’t come again / And don’t speak too soon / For the wheel’s still in spin.

Bob Dylan

Dylan membuat lagu ini di tahun 1964, usianya baru 23 tahun. Lirik lagu Bob Dylan sudah banyak dipelajari di universitas-universitas ternama di luar negeri sana. Entah kalau di sini. Kalau belum, ini saatnya. Bob Dylan sudah sejajar dengan Pablo Neruda, Orhan Pamuk, Gabriel Marcia Marquez, Samuel Beckett, T.S. Eliot dan mereka-mereka yang telah meraih Nobel di bidang Kesusastraan. Sir Christopher Bruce Ricks, seorang profesor dari Oxford University yang juga seorang kritikus sastra membuat buku berjudul Dylan’s Vision of Sin telah menyatakan bahwa lagu-lagu Bob Dylan adalah karya sastra. Dia bahkan menganalisa lagu-lagu Dylan dari sisi teologi dengan kategori Seven Deadly Sins, Four Virtues, dan Three Graces. Banyak buku yang sudah diterbitkan mengenai Bob Dylan.

Saya melihat Bob Dylan adalah seorang punk-rock sejati. Dia sudah menjadi punk-rocker sebelum istilah punk-rock ditemukan. Original hipster. Ketika saya betul-betul mencermati album-album awalnya periode 1963-1966. Album perdananya tidak begitu mengena di hati saya. Dylan pun tidak suka dengan album itu. Tapi ada lagu yang harus dicermati: “Song To Woody”. Itu adalah lagu penghormatan terhadap pahlawannya: Woody Guthrie. Dia mungkin penyanyi pertama yang menulisi gitarnya dengan pesan yang menohok dan sangat politis: This Machine Kills Fascists. Saya memulai dari album Freewheelin’ Bob Dylan, lagu pertama adalah “Blowin’ In The Wind”. Ketika lirik pertama mengalun: “How many roads must the man walk down / Before we call him a man?” Saya tertegun. Lirik ini begitu sederhana. Tapi maknanya begitu dalam. Dada saya seperti ditendang tentara bersepatu Doc Martens. Lirik yang membuat kita terhenyak. Ini adalah pertanyaan setiap manusia di muka bumi ini. Ini kenapa Sara Danius, dari The Swedish Academy, sebagai lembaga yang memutuskan untuk memberikan penghargaan Nobel, menyandingkan Bob Dylan dengan Homer dan Sappho. Kita tak akan pernah menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut. Karena jawabannya adalah di judul lagu tersebut. Bagaimana mungkin seorang anak muda berusia 22 tahun bisa membuat lirik seperti ini?

Singkat kata, lagu-lagu Bob Dylan bukan untuk dinyanyikan dengan lantang di kamar mandi. Dia bukan crooner. Memahami lagu Dylan adalah dengan membaca dan memahami liriknya. Di satu konferensi pers, Dylan pernah ditanya, apakah anda menganggap diri anda sebagai penyair atau penyanyi folk? Dylan menjawab sambil tersenyum, “I think of myself as a song-and-dance man, y’know“, sambil tersenyum. Jawaban ini disambut dengan tertawa para jurnalis di ruangan tersebut. Tapi lagi-lagi jawaban tersebut walau terkesan bercanda tetap membuat kita berpikir. Tapi di pertanyaan selanjutnya dia menjawab bahwa dia menulis lirik dulu baru musik menyusul. Di sini kita lihat bahwa dia adalah seorang penyair. Penulis puisi. Puisi yang dinyanyikan. Musikalisasi puisi. Sara Danius juga menjelaskan di pengumuman itu. Jika memang di antara kalian belum mencermati Bob Dylan. Bisa coba mulai dengan album Blonde on Blonde. Sara betul. Album itu lebih mudah dicerna.

Satu hal yang pasti adalah Bob Dylan adalah manusia yang kompleks. Arahnya tidak bisa ditebak. Dia seperti bunglon. Selalu berubah dari waktu ke waktu. Di film I’m Not There (2007) seorang Bob Dylan bahkan dibintangi oleh lima aktor dan satu aktris (Cate Blanchett). Tidak mudah untuk memahami seorang Bob Dylan. Tapi patut dicoba. Apakah penghargaan ini penting buat Bob Dylan? Saya rasa tidak. Dia sudah mendapat Grammy, Oscars, Golden Globe, Pullitzer, dan berbagai penghargaan penting lainnya. Tapi penghargaan ini penting buat Nobel dan The Swedish Academy. Kenapa? Karena keputusan ini termasuk berani. The Swedish Academy berani keluar dari jalur dengan memilih satu-satunya penyanyi yang pernah mendapatkan Nobel. Itu artinya apa? Ada harapan buat penyanyi-penyanyi lainnya yang mempunyai lirik yang bagus untuk mendapatkan Nobel. Bob Dylan telah membuka pintu untuk para lirikus lainnya. Jika Bob Dylan bisa maka yang lain pun bisa.

“The Nobel for Bob Dylan is like pinning a medal on Mount Everest for being the highest mountain.” – Leonard Cohen

Yang patut ditunggu adalah apakah Bob Dylan akan datang di perhelatan nanti tanggal 10 Desember bersama para peraih Nobel lainnya? Kalau ya apa yang akan dia katakan? Apa yang akan dia lakukan dengan uangnya? Dia sudah kaya. Banyak penulis berbakat yang lebih membutuhkan. Atau dia akan memilih tidak datang dan menolak Nobel seperti Jean Paul Sartre? Kemungkinan itu bisa terjadi. Karena sampai hari ini belum ada pernyataan resmi dari Bob Dylan. Dia belum berkomentar. Bahkan di konser terakhirnya di Las Vegas, Nevada pun dia tidak menyebut atau menyinggung kata Nobel. Leonard Cohen, teman dekat dan penyanyi folk seangkatan Dylan pun berkata, tidak butuh penghargaan untuk mengakui kehebatan seseorang yang telah telah mentransformasi musik pop melalui album Highway 61 Revisited. Pertanyaan yang lebih penting. Apakah pantas Bob Dylan mendapatkan Nobel di Bidang Kesusastraan? Saya jadi berpikir ulang. Mungkin yang lebih pantas itu Nobel khusus untuk Bob Dylan. Nobel Prize For Bob Dylan Being Bob Dylan.

Oya. Kayaknya gak komplit ya kalau tidak menyisipkan satu lagu dari Bob Dylan. Ini salah satu lagu favorit saya, yang sampai sekarang saya belum hapal liriknya. Saya lampirkan juga liriknya sekalian biar bisa sambil nyanyi dan mengernyitkan dahi. Selamat menikmati.

Desolation Row

They’re selling postcards of the hanging
They’re painting the passports brown
The beauty parlor is filled with sailors
The circus is in town
Here comes the blind commissioner
They’ve got him in a trance
One hand is tied to the tight-rope walker
The other is in his pants
And the riot squad they’re restless
They need somewhere to go
As Lady and I look out tonight
From Desolation Row

Cinderella, she seems so easy
“It takes one to know one,” she smiles
And puts her hands in her back pockets
Bette Davis style
And in comes Romeo, he’s moaning
“You Belong to Me I Believe”
And someone says, “You’re in the wrong place my friend
You better leave”
And the only sound that’s left
After the ambulances go
Is Cinderella sweeping up
On Desolation Row

Now the moon is almost hidden
The stars are beginning to hide
The fortune-telling lady
Has even taken all her things inside
All except for Cain and Abel
And the hunchback of Notre Dame
Everybody is making love
Or else expecting rain
And the Good Samaritan, he’s dressing
He’s getting ready for the show
He’s going to the carnival tonight
On Desolation Row

Now Ophelia, she’s ’neath the window
For her I feel so afraid
On her twenty-second birthday
She already is an old maid
To her, death is quite romantic
She wears an iron vest
Her profession’s her religion
Her sin is her lifelessness
And though her eyes are fixed upon
Noah’s great rainbow
She spends her time peeking
Into Desolation Row

Einstein, disguised as Robin Hood
With his memories in a trunk
Passed this way an hour ago
With his friend, a jealous monk
He looked so immaculately frightful
As he bummed a cigarette
Then he went off sniffing drainpipes
And reciting the alphabet
Now you would not think to look at him
But he was famous long ago
For playing the electric violin
On Desolation Row

Dr. Filth, he keeps his world
Inside of a leather cup
But all his sexless patients
They’re trying to blow it up
Now his nurse, some local loser
She’s in charge of the cyanide hole
And she also keeps the cards that read
“Have Mercy on His Soul”
They all play on pennywhistles
You can hear them blow
If you lean your head out far enough
From Desolation Row

Across the street they’ve nailed the curtains
They’re getting ready for the feast
The Phantom of the Opera
A perfect image of a priest
They’re spoonfeeding Casanova
To get him to feel more assured
Then they’ll kill him with self-confidence
After poisoning him with words
And the Phantom’s shouting to skinny girls
“Get Outa Here If You Don’t Know
Casanova is just being punished for going
To Desolation Row”

Now at midnight all the agents
And the superhuman crew
Come out and round up everyone
That knows more than they do
Then they bring them to the factory
Where the heart-attack machine
Is strapped across their shoulders
And then the kerosene
Is brought down from the castles
By insurance men who go
Check to see that nobody is escaping
To Desolation Row

Praise be to Nero’s Neptune
The Titanic sails at dawn
And everybody’s shouting
“Which Side Are You On?”
And Ezra Pound and T. S. Eliot
Fighting in the captain’s tower
While calypso singers laugh at them
And fishermen hold flowers
Between the windows of the sea
Where lovely mermaids flow
And nobody has to think too much
About Desolation Row

Yes, I received your letter yesterday
(About the time the doorknob broke)
When you asked how I was doing
Was that some kind of joke?
All these people that you mention
Yes, I know them, they’re quite lame
I had to rearrange their faces
And give them all another name
Right now I can’t read too good
Don’t send me no more letters, no
Not unless you mail them
From Desolation Row

Adakah penyair paling hebat di dunia ini yang bisa membuat puisi dimana ada kata Cinderella, Bette Davis, Romeo, Cain dan Abel, Hunchback of Notre Dame, Good Samaritan, Ophelia, Noah, Casanova, Einstein, Robin Hood, Titanic, Phantom of The Opera, Holocaust, Nero, Ezra Pound, dan T.S. Eliot dalam satu rangkaian puisi? Saya kira tidak ada. So, how does it feel? 

Advertisements

Tuan Uang, Bukan? Tunggu Sebentar, Saya Sedang ke ATM. *)

Who are we? We find that we live on an insignificant planet of a humdrum star lost in a galaxy tucked away in some forgotten corner of a universe in which there are far more galaxies than people.

Carl Sagan

Jika rentang waktu jangka pendek yang dikejar, maka NASA, sebuah lembaga riset antariksa milik Amerika adalah lembaga yang sangat boros dan patut dipersalahkan sebagai salah satu sumber defisit anggaran negara tersebut.  Apakah ini semata-mata soal uang? Soal perhitungan untung rugi?

Dan prasangka ini justru dialami oleh IPTN / Dirgantara Indonesia. Sebuah industri pesawat terbang dari negara berkembang yang akhirnya layu sebelum berlayar menjelajah angkasa raya. Dianggap sebagai proyek menara gading bagi sebagian pengambil putusan negeri ini pasca Krismon 1997.

Tapi langkah kecil mereka akan dilihat di kemudian hari.

Manusia dan pemikiran  semacam ini masih banyak. Manusia yang berdiri di ruang sempit. Dalam hening. Berkutat dengan gelas kimia. Berkutat di depan layar komputer. Sebagian dengan mesin tik. Sebagian di tengah hutan. Sebagian menyelam ke dasar samudra.

Apa yang diperoleh sains dengan teori dan eksperimennya, adalah himpunan dari pengetahuan tentang hal-hal yang relatif benar, yang ditapis dan dipisahkan dari pengetahuan tentang yang mutlak salah. Itu sebabnya Stephen Hawking misalnya menganjurkan agar seluruh ilmuwan mengumumkan seluruh kesalahan yang mereka tangani, bukan hanya kebenaran yang mereka temui. Kesalahan yang diumumkan membantu ilmuwan lain bertanya jawab secara lebih efisien dan lebih cerdas dengan kenyataan semesta—kenyataan besar yang jawabannya mungkin tak mudah dibuka dan tampak tak peduli pada kesulitan manusia, namun sungguh tak pernah berdusta.

Bisa jadi dalam hidupnya mereka tak menemukan sesuatu. Mereka mencoba banyak cara untuk satu hal. Mencipta. Melakukan cara baru. Mencari jalan paling mutakhir agar kualitas hidup menjadi lebih baik. Pun jika dalam hidupnya selalu gagal, tapi bisa jadi kegagalannya adalah jalan bagi peneliti dan generasi penerus berikutnya menjadi lebih mudah untuk membuat lompatan ilmu. (Nirwan A. Arsuka).

Ini juga yang dinarasikan dengan baik oleh Peter Thiel, salah satu mafia PayPal, investor pertama facebook dan pendiri Palantir, sebuah perusahaan periset big data yang mendapat gelontoran dana Amerika dan disinyalir membantu pemerintah AS untuk mencari  Osama Bin Laden. Peter Thiel menceritakan soal pentingnya lompatan bagi para Penemu lewat bukunya “Zero to One”.

Walau pada akhirnya langkah dari “tiada-menjadi-ada” ini yang diistilahkan “dari-nol-menjadi-satu” olehnya dikawinkan demi kepentingan ekonomi, yaitu teori kompetisi baik pasar sempurna atau monopoli, namun yang menarik dari uraian dalam bukunya adalah soal daya upaya untuk mencipta.

Peter Thiel tidak bicara rentang waktu, bagaimana ilmu dapat diketemukan secara beramai-ramai walau beda waktu. Saling menyumbangkan teori dan praktek secara turun-temurun. Melampaui jurang zaman. Dan pada akhirnya mendekatkan diri manusia kepada alam semesta.  Peter lebih menekankan nilai sebuah “temuan baru-menjauhkan-dari-kompetisi-lalu-bisa-monopoli”.

Namun pada pokoknya, ada sifat ilahiah yang ditiru anak manusia. Mencipta sesuatu. Apakah akan menjadi ilmu. Apakah dalam konsep Islam ini yang dinamakan kebaikan Jariyah?

Pelan-pelan saya belajar. Di dalam tubuh saya, di antara sel-selnya yang renik terdapat materi yang sama dengan yang terdapat di ruang-ruang senyap antar bintang. Saya adalah alam. Tubuh saya patuh kepada hukum gravitasi sama seperti benda-benda langit. Tubuh saya akan hancur terurai menjadi tanah dan debu. Suatu hari tubuh saya akan kembali ke alam. Namun, saya juga belajar mengatasi hukum-hukum alam yang deterministik sekaligus memanfaatkannya, dimulai dengan belajar berenang lalu naik pesawat terbang. (“Kebudayaan dan Kegagapan Kita” – Karlina Supelli, Pidato Kebudayaan tahun 2013).

Apakah soal mencipta adalah melulu dilakukan oleh para ilmuwan. Pelaku dunia sains? Seharusnya sih ndak mesti.

Walaupun Carl Sagan menulis novel tentang dunia astronomi yang digelutinya, namun dari novelnya kita bisa memahami, walau sebuah tulisan bisa jadi justru mengilhami ilmuwan untuk mencipta dan menekuni tentang suatu hal. Pemikiran futuristik yang dituangkan dalam tulisan bisa jadi mempengaruhi percepatan kemajuan ilmu dan teknologi. Memberikan inspirasi. Hal ini dapat kita temui dari banyak karangan fiksi ilmiah Jules Verne. Kisah-kisah petualangan dengan banyak piranti dan perabot yang melampaui zamannya.

This slideshow requires JavaScript.

Di luar itu penulis sendiri sebetulnya memiliki tugas yang sama dengan para saintis. Penulis sama dengan para pelaku kebudayaan lainnya.

Keselarasan ilmu. Seiring sejalan. Beriringan menuju altar kemajuan peradaban umat manusia.

Dalam Pidato kebudayaan Karlina mengingatkan perlunya keseimbangan dunia sains dan humaniora.

Dari salah satu sisi jurang itulah terdengar sindiran penyair William Blake kepada Newton sang begawan fisika jauh di seberang,

“May God us keep/From Single vision and Newton’s sleep!”

Blake menganggap Newton telah memicu cara pandang materialistik yang menciutkan dunia ke visi tunggal. Sungguh berbahaya jurang itu, kata Snow di bagian akhir kuliahnya. Ilmu dan teknologi akan melesat tanpa dibarengi dengan perkembangan kebudayaan dan moral yang memadai, padahal keduanya merupakan landasan material bagi hidup kita. Snow menutup kuliahnya dengan sebuah himbauan,

“Demi kehidupan intelektual … demi masyarakat Barat yang hidup kaya raya namun rapuh di tengah-tengah kemiskinan dunia, demi kaum miskin yang tidak perlu hidup miskin seandainya dunia cukup cerdas … Menjembatani dua budaya itu adalah sebuah keharusan, baik dalam arti intelektual maupun praktis. Ketika keduanya terpisah, masyarakat tidak lagi dapat berpikir dengan bijak.”

Dari sinilah amanat lain itu harus dipikul. Moral dan budaya yang dibangun dari sebuah keadaan tak kasat mata. Tidak berbau. Tidak berwarna. Dilakukan oleh budayawan. Dilakukan oleh Penyanyi. Dilakukan oleh Penari. Dilakukan oleh Artis jalanan. Dilakukan juga secara intelek oleh sastrawan. Misalnya bagi penulis, maka tugas kepengarangan itu muncul.

Namun bukan berarti mengarang pun harus dengan tujuan utama yaitu menjaga moral masyarakat dimana dirinya hinggap. Bukan.  Buatlah sebebas mungkin. Bahkan setelah teks lahir pun bukan lagi milik pengarangnya. Dia lepas. Seperti anak yang telah dilahirkan. Pemahaman konteks atas teks bahkan bukan monopoli penulisnya. Dia bebas mengekspresikan dirinya sendiri. Teks yang bermolek-molek di pikiran pembaca.

Apalagi soal moral. Pengarang tidak pernah mendapat disposisi dari siapapun juga untuk menitip pesan kebaikan moral dalam tulisannya.

Dan bahkan jikapun ada hal-hal berbau “chicken soup“, atau moralizing-wasaizing, tetap bukan semata-mata tugas pengarang untuk menjaga sesuatu hal luhur dipertahankan dalam masyarakat. Karena mengarang sebatas menyajikan. Tak ada paksaan untuk menyantapnya. Keinginan untuk membaca, keinginan untuk santap siang lahir dari masing-masing calon pembaca (atau calon bukan pembaca).

“Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan” – (Bumi Manusia, Pram)

Berterima kasih kepada Minke dan Bumi Manusia atau berterima kasih pada Pramoedya Ananta Toer?  Berterima kasih kepada penambang tembaga, pencipta dioda, transistor, kepada Alexander Graham Bell, atau pendiri Nokia?

Berterima kasihlah kepada diri sendiri. Karena dengan terus berkehendak hidup maju dan mulia, adalah langkah awal kita menikmati hidup dan saling tolong-menolong sesama manusia. Lalu kita dapat melakukan banyak hal dengan ketulusan niat dan senyum hingga akhir hayat.

Lalu  “keberadaan” kita akan melampaui tahun, abad dan zaman.

 

Akhir kata, selamat hari Sabtu. Selamat menikmati tanggal muda.

Roy.

 

 

 

 

*) dari puisi Sapardi Djoko Damono. teks aslinya:

TUAN

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar.

Di Tiap Pintu Yang Karib dan Misteri Yang Bersemayam Di Dalamnya

UT

CORE PURPOSE: To transform lives for benefit of society.

Tahun 2010, saya membaca kalimat itu pada sebuah dinding di salah satu universitas di kota Austin, Texas. Saya foto dan saya abadikan dalam hati. Kalimat yang begitu islami. Bermanfaat bagi seluruh alam semesta. Dalam hal ini, pahatan dalam dinding membatasi dirinya untuk kebermanfaatan masyarakat. Batasan yang sebetulnya melampaui ruang dan waktu.

Masyarakat yang selalu dan akan selalu perlu sesuatu yang dianggap baik sebagai nilai bersama. Moral yang dijaga dan dijungjung tinggi. Dalam sebuah masyarakat, tidak hanya pemimpin, namun juga warga yang menghayati nilai-nilai moral.

Salah satu kriteria syarat untuk menjadi warga yang baik adalah integritas. Diharapkan dari semangat integritas, selain kompetensi, jalani hidup dan lahir karya yang bermanfaat bagi dirinya, orang di sekitarnya dan masyarakat yang menaungi hidupnya dan hidup setelahnya. Integritas secara sederhana semacam berpikir, berucap, bertindak dengan baik dan benar. Bagi pekerja dan para profesional dapat diartikan dengan memegang teguh kode etik dan bertanggung jawab atas hasil kerja.

Dari filem AADC, saya menarik benang merah soal integritas dan anak muda.

 

 

Kemarin, sebagian besar penghuni media sosial bicara lanjutan filem Ada Apa Dengan Cinta.

Betapa sedihnya Mark Zuckerberg yang telah susah payah menciptakan akun facebook sejak tahun 2002 dengan pengguna 1,32 milyar namun minus pengguna bernama: Rangga dan Cinta. Apakah Rangga dan juga Cinta gagap teknologi sehingga tak pernah sempat untuk memanfaatkan media facebook untuk mencari belahan hati? Hingga akhirnya bertemu saat fitur aplikasi line menawarkan solusi pencarian alumna berdasarkan nama sekolah. Juga setelah Rangga dan Cinta sama-sama mulai meninggalkan aplikasi whatsapp karena kehadiran “dua centang biru” tanda keterbacaan.

12 Tahun adalah waktu yang relatif. Seperti dua anak TK yang terpisah dan kembali bertemu ketika waktu ospek mahasiswa baru tiba. Seperti SBY yang baru saja mendirikan Demokrat bersama Vence Rumangkang hingga tergantikannya dia oleh sosok Jokowi sebagia Presiden. Seperti murid-murid Yesus yang melakukan arisan tahunan bareng dengan hadiah naik haji, dari Yudas menjadi pemenang pertama hingga tiba giliran menang kembali di putaran selanjutnya.

Banyak guyonan yang bisa dilakukan dengan kehadiran mini sekuel filem ini.

 

Secara pribadi, saya begitu merasa hutang budi dengan keberadaan AADC. Filem yang menjembatani antara dunia sastra yang cenderung serius, kernyit dahi dan “dalem”, dengan dunia anak muda dan problematika pemikirannya yang cenderung santai bersenang-senang, tawa berderai dan dangkal. Naskah filem yang ditulis secara gotong royong oleh Jujur Prananto, Prisma Rudi dengan ornamen puisi dari Rako Prijanto, lalu dikemas oleh visi Rudy Soedjarwo dengan dukungan genap dan penuh Mira Lesmana dan Riri Riza.

Apakah benar anak muda adalah sosok yang dangkal pemikirannya?

IMG_5537

Bisa ya namun bisa juga tidak. Salah satu ikon dalam filem itu adalah buku karya Sjuman Djaya (mantan mertua Titi Radjo Bintang), yang pada usia 23 tahun, naskahnya difilemkan ke dalam layar lebar dengan judul Saodah. Buku yang ditulis Sjuman berkisah tentang Chairil Anwar, penulis segala zaman yang tutup usia di tahun ke-27. Rako Prijanto, penulis puisi dalam filem AADC baru menginjak usia 29 tahun saat menulis untuk filem itu. Yang muda yang berkarya.

Ketika tunas ini tumbuh
Serupa tubuh yang mengakar
Setiap nafas yang terhembus adalah kata
Angan, debur dan emosi.

(Rako Prijanto -AADC)

Persoalan anak muda didominasi oleh kisah cinta dan semesta perasaan yang melingkupinya. Masa dimana bergerak maju untuk mengarungi dunia orang dewasa. Menuju dunia penuh intrik, kecewa, dan saling memanfaatkan.

Nilai-nilai kebaikan yang ada dalam dunia anak muda seharusnya tetap dipertahankan saat menua. Tetap mencintai, tetap berperasaan, tetap bersemangat, tetap bermimpi saat mengarungi realitas dunia. Ibarat novel, anak muda seperti yang disampaikan oleh George Orwell dan dinukil Aan Mansyur:

Sebab, yang berharga dari novel itu bukan prestasi sastranya, melainkan keseriusannya berurusan dengan dunia nyata.

Bukan karena hiruk pikuk dunia cintanya yang diharapkan dari kehidupan anak muda, namun bagaimana membumikan rasa cintanya untuk mempertahankan diri dalam dunia nyata. Cinta yang bermanfaat bagi seluruh hidupnya.

Rangga yang menghadapi kesendirian. Berharap Cinta. Menjalani hidup melanglang buana. Berjanji untuk satu purnama dan hidup mandiri. Lupa Cinta namun mencintai hal lain yang memang harus dicintainya: obsesi, kemandirian dan kepatuhan dalam berkarya. Begitu mudah, memang, hidup terganggu oleh hal lain yang mengalihkan tujuan utama.

Dari sekuel AADC, bisa saja Rangga minta tambahan waktu. Tidak untuk dua hari. Namun dua minggu. Bisa asyik-masyuk bertemu Cinta sepuasnya. Namun tidak. Rangga memiliki integritas. Dua hari adalah dua hari. Rangga yang mengidolakan pasangan Jokowi. Rangga yang JEKA. Jujurlah Engkau Kepada Atasan. Rangga harus kembali ke New York.

Perempuan datang atas nama cinta //

Bunda pergi karena cinta / Digenangi air racun jingga adalah wajahmu / Seperti bulan lelap tidur dihatimu / Yang berdinding kelam dan kedinginan /Ada apa dengannya / Meninggalkan hati untuk dicaci / Baru sekali ini aku melihat karya surga dalam mata seorang hawa / Ada apa dengan cinta / Tapi aku pasti akan kembali / Dalam satu purnama / Untuk mempertanyakan kembali cintanya / Bukan untuknya /Bukan untuk siapa / Tapi untukku /Karena aku ingin kamu / Itu saja //

(Rako Prijanto- AADC)


Maka ketika Rangga coba menghubungi Cinta, sejatinya Cinta bagaikan pintu tertutup namun karib. Sesuatu yang misterius namun dikenal baik. Rangga harap-harap cemas akankah mengetuk pintu itu. Pintu yang lama tertutup namun ingin dibuka kembali. Pintu hati serta misteri-misteri yang bersemayam di dalamnya.  Sejatinya pintu itu hanyalah sekat komunikasi yang bisa dibuka dan ditutup. Mereka tetap berdampingan, namun berbeda ruang.

Penyair Abdul Hadi WM menggambarkan situasi ini dalam satu bait puisi indah.

“Kau di sampingku / Aku di sampingmu / Kata-kata adalah jembatan /Waktu adalah jembatan /Tapi yang mempertemukan / Adalah kalbu yang saling memandang.” 

Lalu pertemuan itu hadir. Rangga dan Cinta. Bertemu dalam satu ruang dan waktu. Pada sebuah bandar udara. Tempat berpisah sekaligus bertemu. “Setiap perjumpaan adalah potensi”, kata Puthut EA.

Detik tidak pernah melangkah mundur, tapi kertas putih itu selalu ada. Waktu tidak pernah berjalan mundur dan hari tidak pernah terulang, tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru, untuk semua pertanyaan yang belum sempat terjawab.

Untungnya dalam sekuel tersebut Cinta tak bertanya pada Rangga: “Kenapa kamu tak pernah menghubungiku selama ini? SIAPA DIA?? AYOOOO JAWAAAAB!!!”

Rangga, sebagai laki-laki berintegritas, akan menjawab jujur:

” Aku tetap bersamamu, Cinta. Namun rasa cinta yang berbeda. Cintaku di New York. Cinta Laura.”