Mengulang itu Melelahkan

Sudah pernah lihat video ini?

Ini adalah video kompilasi ucapan Lady Gaga selama rangkaian wawancara terkait promosi film terbarunya, A Star is Born. Di video ini, Lady Gaga selalu mengucapkan hal yang sama, “there can be 100 people in a room, 99 don’t believe in you, and only one who believes in you, and that’s the one that matters most.”

Kalau diulang dalam frekuensi waktu yang berjauhan dan jarang-jarang, rasanya tidak akan terdeteksi seperti ini. Namun karena promosi film menjelang rilis biasanya sangat padat, dan waktunya berdekatan, maka pengulangan seperti ini akan mudah terdeteksi. Dan perlu keahlian khusus memanuver hal seperti ini.

Saya tidak meragukan lagi, bahwa penampilan Lady Gaga di film A Star is Born sangat memukau. Demikian pula filmnya. Sejauh ini sudah dua kali saya menontonnya di layar lebar saking sukanya saya sama film ini. (Apakah filmnya masuk dalam 10 film favorit tahun ini? Tunggu saja tulisannya bulan depan!)
Namun tak urung saya tertawa juga melihat video di atas. Seketika teringat sedikit cukilan pekerjaan dulu dalam hal promosi film ini.

lady-gaga-tells-ellen-degeneres-shes-nothing-like-her-a-star-is-born-character

Lady Gaga and Ellen DeGeneres

Sebagian besar aktor, baik pria maupun perempuan, tidak terlalu suka pekerjaan mempromosikan film. Kenapa? Karena mereka harus menampilkan bagian dari diri mereka as a person, as a celebrity untuk mengenalkan karya mereka. Beda dengan proses pembuatan film, di mana mereka melebur menjadi karakter yang mereka mainkan, dan meninggalkan semua atribut sebagai diri mereka pribadi, sehingga mereka tidak perlu menjadi diri sendiri. Sementara untuk promosi film, mau tidak mau mereka harus menampilkan persona mereka sebagai diri mereka sendiri, paling tidak sebagian dari diri mereka sendiri, yang dipoles sedemikian rupa karena bertemu orang banyak dalam waktu yang padat.
In short, promoting is a tiring job.

Sebelum seluruh kegiatan promosi ini dimulai, bahkan saat film masih belum selesai, kadang-kadang tim promosi sudah mulai bekerja. Produksi yang baik akan melibatkan produser, sutradara, pemain dan tim promosi untuk menentukan arah promosi. Bisa juga kita sebut narasi promosi. Biasanya dimulai dengan “apa yang mau diangkat dari film ini? Siapa target market-nya? Apa yang harus diomongkan dari sutradara dan pemain di media, di sosial media dan di acara-acara umum? Kapan saja kita akan merilis setiap bagian informasi promosi ini? Berapa lama waktu yang kita punya?” Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain.

Ketika sudah ditentukan arah, bentuk dan cara promosi ini pun, kadang-kadang hal di luar dugaan bisa terjadi. Entah itu perubahan tanggal rilis film, aktor yang mendadak tidak bisa ikut kegiatan promosi, atau perubahan isi film. Yang terakhir ini sangat jarang terjadi, tapi pernah terjadi. Kalau sudah begitu, mau tidak mau kegiatan promosi harus jalan terus, dengan mengandalkan kekuatan yang masih ada.

oceans-8-0

Sarah Paulson, Cate Blanchett, Sandra Bullock

Di contoh Lady Gaga di atas, saya melihatnya dari berbagai sisi. Mungkin Lady Gaga sengaja menciptakan model promosi tertentu. Memang Lady Gaga dikenal suka menciptakan kontroversi tertentu, walaupun saya ragu di tahap karirnya sekarang, dia masih melakukan hal itu.
Sisi lain yang saya curigai, tim publisis Lady Gaga kurang kreatif dalam mengolah pesan yang ingin disampaikan. Satu kalimat bisa diolah dalam berbagai jenis. Kalau dari kalimat di atas, mungkin saja dalam berbagai kesempatan Lady Gaga bisa mengatakan, “Bradley Copper trusts in me, and that’s what matters the most”, atau “You may never be able to win people’s heart, but you can always win one heart that means the most”, atau berbagai padanan lain. Atau bisa juga cara-cara ini sudah dicoba, dan Lady Gaga masih tetap mau menggunakan kalimat yang sama agar dia tidak perlu repot menghapal kalimat-kalimat lain, supaya tetap true to herself. Saya cuma bisa angkat bahu.

Sebagai bayangan betapa melelahkan kerja promosi itu, biasanya di sini dalam sehari, satu tim promosi bisa datang ke satu live TV interview di pagi hari, dua sampai tiga radio interview di siang hari, wawancara media di sela-sela waktu, satu live TV appearance di malam hari. Dan ini bisa dilakukan seminggu penuh. Atau kalau mau sistem junket, yaitu menyewa ruangan (biasanya di kamar hotel), lalu media bergiliran mewawancarai aktor atau sutradara selama 15-20 menit per sesi, maka kegiatan junket ini bisa berlangsung dari jam 8 pagi sampai jam 7 malam. Paling tidak perlu 2-3 hari. Dan menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sama dan berulang-berulang. Sangat melelahkan, bukan?

Memang perlu jam terbang yang cukup banyak untuk terbiasa melakukan hal ini. Berhubung ini film layar lebar pertama Lady Gaga di mana dia menjadi bintang utamanya, maka wajar kalau dia masih terlihat mengulang. Lagi pula dia tidak banyak melakukan promosi saat dia bermain di serial “American Horror Story” beberapa tahun lalu.

maxresdefault

Rami Malek

Biasanya ada trik tertentu untuk mengatasi kebosanan ini. Kalau film yang dipromosikan adalah ensemble film, maka tim film tersebut bisa melibatkan anggota pemain lain untuk bisa bounce off satu sama lain. Contohnya di film Ocean’s 8. Lihat saja video-video interview promosi mereka. Saat Sandra Bullock sudah terlihat bosan, maka dalam waktu singkat Sarah Paulson, Anne Hathaway atau Cate Blanchett akan menimpali dengan jawaban-jawaban yang kocak.

Trik lain yang perlu energi lebih adalah bertanya balik ke penanya. Ini dilakukan Rami Malek, terutama saat dia wawancara sendirian, selama promosi film Bohemian Rhapsody. Lihat saja wawancaranya dengan Ellen dan beberapa interviewer lainnya. Terlihat sangat alami, walaupun tentu saja, semuanya sudah dirancang sebelumnya.

Berpura-pura itu melelahkan, mengulang-ulang juga melelahkan. But hey, we always fake it until we make it. Or at least until the job gets done.

Advertisements

Aku Berlindung Dari Gempuran Iklan Yang Mengepung

Tiada hari tanpa Star Wars. Itulah yang terjadi selama setahun terakhir ini. Setahun? Rasanya lebih ya. Mungkin dua tahun. Yang jelas, sejak J.J. Abrams diumumkan menjadi sutradara baru Star Wars, publik langsung terkesiap. We sit up and take notice. Dan sejak saat itu, bergulirlah pelan-pelan iklan tentang Star Wars baru ini.

Mulai dari isu bocornya script. Lalu pengumuman siapa saja yang membintangi film ini. Lantas foto mereka berkumpul untuk table read atau membaca naskah film bersama-sama. Kemudian foto-foto suasana syuting diunggah ke media sosial. Bintang-bintang baru di-brief dengan cermat agar tidak membocorkan rahasia cerita. Boleh saja diwawancarai tentang Star Wars, tapi mereka biasanya akan tersenyum, memberikan jawaban yang vague atau tidak berkomentar sama sekali. Tentu saja ini menimbulkan analisa macam-macam, yang berujung pada spekulasi cerita. Muncullah berbagai teori cerita di forum-forum. “Permainan” ini semakin memanas saat judul baru resmi diumumkan. The Force Awakens. What kind of force? Whose force? Why does it need awakening?

IMG_1599

Teaser trailer dan teaser poster muncul. Para fans berteriak. Beberapa bulan kemudian, final trailer dan final poster diluncurkan. Para fans menjerit. Komentar menggebu-gebu bermunculan di berbagai media, mulai dari media massa konvensional sampai media sosial. Mulai dari yang menyembah-nyembah sampai yang mencaci maki.

Dan sekarang, saat ranggal rilis sudah sangat dekat, gempuran itu semakin terasa. Kalau saya pergi dan pulang beraktivitas, pasti saya akan melewati jalan-jalan besar dengan billboard berisi iklan promosi gratis tiket Star Wars. Mulai dari bank, ponsel, sampai produk F&B.

IMG_1597

Atau ada juga yang menawarkan produk merchandise Star Wars. Kalau lagi kena macet, maka saya akan membuka ponsel. Eh lha kok ada promosi gratis tiket Star Wars plus merchandise juga di beberapa aplikasi obrolan. Buka media sosial, ada yang mengunggah sampul beberapa majalah. Isi sampulnya? Apalagi kalau bukan karakter-karakter Star Wars. Tentu saja dalam berbagai versi. Malah ada yang sampai 8 versi.

Tidak menampilkan sampul? Majalah pun masih memuat iklan bertema Star Wars. Saya berpikir, iklannya pasti seputar produk-produk untuk para fanboys, pangsa pasar terbesar film in. Ternyata tidak. Produk kosmetik remaja putri pun bisa masuk mendukung franchise ini!

IMG_0923

Kemarin pagi saya curhat ke salah satu grup WhatsApp, “Gila ya. Brand sebesar Star Wars iklannya jor-joran di mana-mana. Ini udah sampai taraf mengepung sih. Online, offline, no product and no one is immune from Star Wars. Atau karena brand-nya sebesar Star Wars, makanya semua mau jump in?’

Salah satu teman berkata, “Mungkin meskipun brand udah besar, tapi bisa jadi mereka insecure juga dengan kepungan aktif model film-film Marvel ya, Val. Walaupun nggak ada yang rilis barengan, but still, it’s comparable. Mana figurines yang lebih bagus, mana merchandise yang lebih oke. Dan pangsa pasarnya kan mirip.”

Makes sense, saya bilang. Apalagi sampai 10 tahun lalu, ketika film terakhir Star Wars diluncurkan, Marvel belum menunjukkan dominasinya. Justru Marvel mengisi kekosongan Star Wars (live action version ya) dalam satu dekade terakhir ini.

IMG_1598

Lalu teman lain berujar, “Aduh, aku lelah melihat Star Wars di mana-mana ini. Malah menurunkan hype dan membuat aku jadi over expecting.”

Hahaha, kok bisa sih?

Lanjutnya, “Ya abis, udah dari awal kena exposure Star Wars ini. Dari awal banget. Udah tau tampang cast-nya sekarang kayak gimana. Udah kebayang kayak gimana look filmnya. Jadi gak misterius lagi, gitu lho. Gak ada sense of anticipation jadinya. Eh ini berlaku juga buat film-film lain, ding. Gak cuma Star Wars. Mau film dari dalam negeri, atau luar negeri, kayanya sama aja sekarang effort promosinya.”

Lho kan tujuannya supaya mengajak orang tahu proses pembuatannya gimana? Jadi merasa dekat gitu? Nggak ya?

Pungkasnya, “Ya nggak lah. ‘Kan aku mau nonton di bioskop supaya bisa deg-degan anticipating gitu. Mendingan cuma tau dikit, cukup tau judul, sinopsis yang gak panjang-panjang, pemainnya siapa, posternya kayak gimana, udah. Lha ini kan kayak aku ikut bikin filmnya, udah tau dari awal. Hahaha.”

Saya ikut ketawa. Lalu saya menambahkan sambil menanyakan, bukankah semuanya begitu? Maksudnya, dengan kehadiran media sosial dalam genggaman kita setiap saat, bukankah semuanya ingin berbagi setiap saat, setiap waktu?
Tentu saja ini berlaku buat semua orang, semua produk, semua aktivitas dengan akun media sosial. Of course there is too much noise out there. And how you beat the noise? By creating bigger, louder noise. Toh tinggal kita yang memilah dan memilih apa yang kita mau ikuti.

IMG_0997

Artinya, kepungan dan serangan promosi itu tidak bisa dihindari. It is inevitable. Kalau mau berlindung, take cover. Log out atau matikan ponsel sementara waktu, atau abaikan dan hiraukan saja. Saat ini diperkirakan ada tiga milyar jenis informasi dalam teks dan gambar yang berseliweran di dunia maya setiap detiknya. Tiga milyar. Setiap detik. Kita sudah terbiasa menerima begitu banyak informasi setiap saat mata kita menatap gawai. Dari yang terbiasa menerima, feeling overwhelmed mungkin pada awalnya, akhirnya kita mau tidak mau akan memutuskan informasi mana yang akan kita terima berdasarkan kedekatan hati. Ini sesuai dengan beberapa tulisan Glenn akhir-akhir ini.

Lalu, siapa yang dekat dengan Star Wars? Tentu saja mereka yang sudah akrab dengan franchise berusia hampir 40 tahun ini. Mereka yang menonton dulu sudah menjadi orang tua, bahkan kakek sekarang. Mereka mungkin menularkan kecintaan mereka ini kepada anak dan cucu mereka. Lagi pula, brand ini harus diakui cukup pintar menjaga rentang waktu dari satu trilogi ke trilogi lain. Tentu saja saya lebih familiar dengan trilogi ke-1 sampai ke-3 dari tahun 1999 ke 2005, meskipun dari segi kualitas, jauh lebih suka trilogi ke-4 sampai ke-6 dari tahun 1977 sampai 1983.

Ada faktor nostalgia yang berperan besar juga dalam kepopuleran brand Star Wars, dan juga franchise lain.
Kenapa bisa nostalgia sells?
Lebih baik kita sambung minggu depan ya.

Cukup juga ‘kan waktu seminggu buat Anda menimbang-nimbang buat nonton Star Wars nanti bareng kami?

IMG_1006