Pretend You’re Happy When You’re Blue …

… it isn’t very hard to do
And you’ll find happiness without an end
Whenever you pretend …

Judul di atas, berikut kalimat-kalimat pembuka tulisan ini, adalah cukilan lagu “Pretend” yang populer dibawakan oleh penyanyi legendaris Nat “King” Cole.
Perhatikan syairnya. Mengajak kita berpura-pura bahagia. Padahal lagi sedih, dirundung kemalangan, atau dalam keadaan lain yang membuat kita
feeling blue.

Seperti yang berulang kali saya kutip di Linimasa ini, bahwa ada celetukan terkenal yang menyatakan “dying is easy, comedy is hard”. Konteks kutipan ini dulunya dibuat untuk menjelaskan tentang akting di film dan teater. Bahwa bermain menjadi orang yang sedih itu jauh lebih gampang daripada membuat orang tertawa. Karena dari tampilan visual, sedih itu lebih universal daripada banyolan yang belum tentu disambut lucu oleh penontonnya. Belum lagi kalau penyampaian candaannya tidak pas.

Demikian pula dalam hidup.

Sudah sekitar 10 hari dari kejadian ponsel saya dirampas secara tiba-tiba. Sampai sekarang, kondisi fisik masih belum pulih 100%. Rencana untuk mulai bekerja dan menghadiri rangkaian meetings minggu ini, yang kebetulan padat, sempat terhambat, karena mendadak ada serangan rasa nyeri di bagian persendian kaki. Semakin berumur nampaknya pemulihan fisik perlu waktu yang makin lama.

Itu baru fisik. Belum urusan mental. Meskipun sudah berusaha menyibukkan diri dengan menonton film di luar urusan pekerjaan, membaca buku yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan juga, mau tak mau pikiran saya masih tertambat pada kejadian naas tersebut. Kalau sudah terpikir, tak jarang saya geram sendiri. Menggerutu pada diri sendiri. Marah kepada diri sendiri. Dan kalau sudah marah, maka beraneka ragam pemikiran muncul, mulai dari yang menyalahkan diri sendiri, sampai memikirkan hal-hal destruktif yang bisa merusak diri.

do-you-think-you-re-happy-jgdbfiey-9bb0198eeccd0a3c3c13aed064e2e2b3

Di situ saya sadar, betapa mudahnya kita terseret jatuh ke dalam rabbit hole lubang kesedihan saat kita sedang ditimpa musibah. Baik itu saat kita sedang sakit, sedang recovering dari kerampokan, baru putus, batal menikah, dan sebagainya, kita sedang dalam keadaan fisik dan mental yang rapuh, yang gampang sekali tersapu ke dalam jurang kesedihan yang menjadi-jadi. Semakin lama ditinggal sendiri melamun, semakin gampang berpikir macam-macam.

Akhirnya, saya baru tahu kenapa it takes a great deal untuk bisa sekedar tersenyum. Akhirnya, saya harus memberikan hormat dan salut kepada mereka yang tetap tersenyum, bahkan tertawa, saat sedang dirundung kemalangan. Ini tidak mudah dilakukan. Betapa susahnya menaklukkan diri sendiri, betapa sulitnya menahan diri untuk tidak terseret arus kesedihan, betapa beratnya untuk bisa menunjukkan kepada dunia bahwa kita baik-baik saja, meskipun kenyataannya tidak demikian.

Mudah sekali untuk menunjukkan muka sedih, tapi tidak pernah mudah untuk menunjukkan muka bahagia apa adanya.

Ini proses yang memerlukan waktu yang tidak bisa disama ratakan buat setiap orang. Ada yang perlu lama, ada yang bisa sebentar. Saya pun mulai pelan-pelan, saat bertemu dengan orang lain untuk urusan kerjaan yang lantas menanyakan mengapa saya jalan memakai tongkat jalan, saya jelaskan secukupnya. Baru saat bertemu dengan teman dekat atau rekan kerja yang lebih dekat, saya bisa jelaskan dengan lebih detil dengan emosi yang menambah gregetnya cerita.

And there is no one to judge … but ourselves.

Sementara kita belum bisa menguasai keadaan diri kita sepenuhnya, well, we can always pretend to be happy when it’s blue.

At least we start trying to be happy, no matter how small the start is.

Advertisements

Fake It!

Berapa banyak dari pembaca Linimasa yang masih remaja? Cukup banyak ya? Maka tulisan berikut ini bisa jadi bekal sebelum kalian beranjak dewasa.
Lalu, berapa banyak dari pembaca Linimasa yang berusia di atas 24 tahun? Banyak? Maka tulisan berikut ini silakan disetujui atau tidak disetujui.

Yang jelas, buat saya adulthood means we fake things.
Bukan berarti lantas menafkahi diri dengan menjadi penjual DVD bajakan atau jual tas ori KW ya, sis. Tapi ini lebih ke sikap dan tingkah laku.

Semakin berumur, rasanya semakin sadar kalau sebenarnya banyak masalah yang tidak akan pernah kita bisa selesaikan. Tapi hidup terus berjalan.
So what do we do? We pretend we know what we do. Kita berpura-pura. We fake it.

fakeemotions

Pelajaran ini saya sadari di awal usia 20-an. Waktu itu baru lulus kuliah, dan baru bekerja. Di suatu akhir pekan, putus pacaran. Padahal besoknya harus bekerja. Dengan mata sembab, saya beranikan diri pergi juga ke kantor besok pagi. Yang saya ingat waktu itu, berat juga menjalani hari. Rasanya ingin membenamkan kepala ke bantal seharian. Tapi apa hubungannya business meeting dengan putus pacaran? Nggak ada. Yang satu buat menafkahi diri, yang satu bikin patah hati. Life goes on. Jadi meskipun hari itu tidak ada satu pun pembicaraan sepanjang meeting yang saya ingat, tapi saya tetap hadir. Tetap mengangguk-angguk dan tersenyum. Tertawa kecil kalau ada yang berusaha bercanda.
Because sometimes we have to fake things to get through the day.

Orang yang Anda temui sehari-hari tampak ceria dan sepertinya bebas dari masalah, mungkin di rumah justru merasa kesepian. Because we fake it.
Orang yang Anda lihat penuh percaya diri, dan mampu mempesona orang-orang lain dengan anggukan dan senyuman, mungkin sebenarnya justru sangat insecure dengan penampilannya. Because they fake it.
Orang yang Anda lihat di kaca setiap hari, yang menghela nafas panjang karena kesal dan siap dengan segala sumpah serapah dalam hati, tapi akhirnya tidak jadi mengeluarkan kekesalan dan menjalani hari seperti biasa. Because you fake it.

2274ba7718b31197b6853560019308b8

Mungkin kita tidak sadar bahwa sebenarnya kebiasaan berpura-pura ini sudah ditanamkan dari kecil. Saat kita terjerembab waktu bermain, ibu atau pengasuh kita buru-buru menghampiri kita. Sambil meniup luka, mereka berkata, “Uh, kasihan. Sakit ya? Nggak kok, nggak sakit. Nggak apa-apa. Nggak usah nangis ya.”
Alam bawah sadar sudah menuntun kita untuk menekan emosi. Bahwa yang namanya emotional outburst needs to be suppressed. Tampilkan yang baik-baik saja. The world needs not to know your downside.

Maka dari itu saya percaya bahwa tidak ada 100% kejujuran di dunia ini. Semuanya sudah diproses sedemikian rupa. Kejujuran itu cuma terjadi saat kita tidur. Dengkuran kita itu bukti kejujuran kita. Jujur kalau kita capek, lelah setelah menjalani hari.
Kecuali kalau ada kamera yang merekam aktivitas kita, maka gaya kita tidur pun harus dibuat cantik atau menarik sedemikian rupa.
Because we can always fake it.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan quote dari salah satu film favorit saya sepanjang masa, The Breakfast Club karya almarhum John Hughes. Coba cari filmnya dan tonton deh. Terutama buat kalian yang masih remaja, atau buat Anda yang ingin mengenang kembali masa-masa sebelum kita harus terlalu sering berpura-pura.

The Breakfast Club
The Breakfast Club