Mengambil Jarak dari Penilaian Diri

SEBAGAI manusia, kita adalah makhluk yang memiliki kemampuan menilai; selalu memberikan penilaian terhadap hampir segala hal, dan menjadikan hasil penilaian tersebut dasar dalam menjalani hidup.

Dengan melakukan penilaian, kita berupaya mencari tahu dan memperbandingkan kondisi-kondisi–”ini begini, itu begitu, maka sebaiknya begini, bukan begitu“–baik melalui indra, persepsi, maupun nalar dan perenungan. Terlepas dari benar atau salah, hasil penilaian tersebut pun membuat kita condong pada salah satu sisi pemikiran, dan menolak sisi pemikiran yang berseberangan–”aku begini, bukan begitu.

Katakanlah saja, mirip dengan diagram Kartesius.

Image result for cartesian quadrant for religious view
Selalu ada empat sisi yang saling bertolak belakang (X, -X; Y, -Y), dan setiap hasil penilaian merupakan kombinasi dari dua sumbu (X dan Y).
Gambar: ThoughtCo

Saat kita condong ke salah satu sisi pemikiran tadi, kita akan cenderung melekat padanya. Kita akan merasa nyaman dengan dukungan dan pernyataan setuju dari orang lain. Perlakuan ini memperkuat dan mempertebal kesan yang kita miliki terhadap hasil penilaian tersebut. Sebaliknya kita akan merasa terusik dengan sanggahan dan penolakan dari orang lain. Penolakan ini akan kita tangkis sedemikian rupa; kita akan mempertahankan hasil penilaian yang telah kita pegang, berupaya semaksimal mungkin agar tak ada pendapat atau perspektif yang tergoyahkan, yang bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman.

Sebab, tatkala hasil penilaian yang telah kita pegang selama ini mampu digoyahkan, itu artinya kita tengah memulai penilaian ulang; proses yang baru, dan seringkali diwarnai dengan ketidaknyamanan. Posisi awal kita, bayangkan seperti di diagram Kartesius, perlahan bisa bergeser, entah lebih ke atas, lebih ke bawah, lebih ke depan, atau lebih ke belakang.

Apakah setiap manusia akan terus melakukan ini di sepanjang hidupnya?

Sekilas kita berpikir, mengira-ngira, dan menimbang-nimbang, kegiatan ini tampaknya mustahil dihindari. Kecuali oleh orang yang kehilangan kesadarannya, baik secara temporer maupun permanen berupa gangguan jiwa.

shallow focus photography of white feather dropping in person's hand
Apakah bulu itu melayang ke atas?
Apakah bulu itu melayang ke bawah?
Apakah bulu itu benar-benar melayang?
Apakah bulu itu benar-benar tidak melayang?
Foto: Javardh

Namun, ternyata tidak begitu menurut Piron, filsuf skeptisisme total. Pemikirannya tentang penyangkalan total terhadap penilaian (subjek, objek, parameter, dan variabelnya) pada abad ke-3 SM ternyata ada yang melestarikan–kendati sangat berpotensi melanggar inti pemikiran Pironisme itu sendiri, yakni penyangkalan total terhadap penilaian benar-salah, atau tepat-keliru.

Apa yang dinilai benar, belum tentu benar.
Apa yang dinilai benar, belum tentu tidak benar.
Apa yang dinilai tidak benar, belum tentu benar.
Apa yang dinilai tidak benar, belum tentu tidak benar.
Apa yang dinilai benar, belum tentu benar maupun tidak benar.
Apa yang dinilai tidak benar, belum tentu benar maupun tidak benar.
Apa yang dinilai benar atau tidak benar, belum tentu benar atau tidak benar.
Apa yang dinilai bukan benar atau bukan tidak benar, belum tentu benar atau tidak benar.

Bagi Piron, apa yang bisa kita jadikan pegangan, baik terhadap hal-hal di kehidupan ini, maupun penilaian anti-penilaian di atas?

Tidak ada, tidak perlu, dan sebaiknya dihindari, demi mencapai titik tengah ketenangan (equanimity) dari perasaan susah dan kekhawatiran.

Menurutnya, terbebas dari penilaian adalah sumber sekaligus ketenteraman total itu sendiri. Kebahagiaan sejati (eudaimonia).

Lalu, bagaimana biasanya seorang Pironis–seseorang yang menjalankan laku pikir ala Piron–bersikap terhadap segala sesuatu?

Menunda menyetujui, dan menahan penilaian dari mewujud dalam pikiran. Caranya, ialah melawan argumen dengan argumen, dan itu terjadi dalam benak sendiri. Meredam gejolak internal, ibarat menutup kompor milik sendiri dengan selimut basah yang juga milik sendiri.

“Rather, we should be “without views” (adoxastous), “uninclined toward this side or that” (aklineis), and “unwavering in our refusal to choose” (akradantous), saying about every single one that it no more is than it is not or it both is and is not or it neither is nor is not. The outcome for those who actually adopt this attitude, says Timon, will be first “speechlessness, non-assertion” (aphasia) and then “freedom from disturbance” (ataraxia), and Aenesidemus says pleasure.”

Aristokles, mengutip Timon, murid Piron; dan Aenesidemus, filsuf Pironis.

Baiklah.

Jadi, apakah ini adalah cara terbaik untuk menghindari ketidaknyamanan dalam menjalani hidup?

Bisa jadi iya (is), bisa jadi tidak (is not), bisa jadi iya sekaligus tidak (both is and is not), dan bisa jadi bukan iya sekaligus bukan tidak (neither is nor is not).

[]

Advertisements