Andi Tidak Mudik Tahun Ini

“Aku nggak akan pulang ke rumah Lebaran tahun ini.”

Tidak ada keraguan saat Andi mengucapkan kalimat tersebut. Semua kata diucapkan dengan mantap, tanpa ada jeda keraguan.

“Oke.”

Jawab Ali, ayah Andi, secara singkat. Bukan pertama kali ini Andi tidak merayakan Lebaran bersama keluarga. In fact, sejak kakak-kakak Andi kuliah di luar negeri, demikian pula dengan Andi, lalu kembali untuk bekerja dan menikah, kemudian menetap di rumah masing-masing di luar kota, kebersamaan mereka secara fisik sudah jarang sekali harus dilaksanakan waktu Lebaran.

Untungnya di Indonesia, banyak hari libur agamis maupun non agamis lain yang mereka bisa manfaatkan untuk bertemu. Ali tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Toh dia pun tidak pernah lagi merayakan Lebaran bersama keluarga besarnya sejak merantau puluhan tahun silam. Ali selalu menerapkan ke anak-anak mereka, bertemu tidak harus saat Lebaran. Yang penting bertemunya, bukan harinya.

“Jangan lupa sholat Ied.”

“Iya, Pa.”

“Ada rencana pergi?”

“Belum ada. Paling di rumah saja, mau masak. Sudah lama nggak masak. Papa?”

“Rencananya sih ke rumah tante Lies setelah dari makam mamamu. Kebetulan Abangmu pulang. Sekalian ngajak krucil-krucil keponakanmu ini pada jalan-jalan.”

Andi tersenyum. Tante Lies, adik almarhumah mama. Satu-satunya saudara kandung mama yang masih hidup, yang menjadi tetua keluarga besar almarhumah mama Andi. Tapi bukan itu yang membuat Andi terkesiap.

Andi sempat tertegun sesaat mendengar ucapan ayahnya barusan. Terdengar penuh semangat. Jauh berbeda dari dua tahun lalu, saat tiap kata dari Ali terasa penuh kesedihan. Lebaran pertama tanpa mama Andi, istri Ali, dua tahun lalu yang membuat hari raya seperti hari duka cita.

Dua Lebaran kemudian, kedukaan itu, meskipun kadang masih terasa, pelan-pelan mulai tergantikan dengan kehidupan. One must continue living after all, pikir Andi.

“Oh iya, Ndi. Papa terima undangan buat kamu.”

“Undangan? Undangan apa?”

“Reuni SMA. Reuni besar ini kayaknya. Acaranya di gedung pertemuan, tiga hari setelah Lebaran. Dua puluh tahun angkatanmu. Kamu tahu acara ini? Apa kamu sudah diundang juga lewat WhatsApp atau Facebook?”

Spontan Andi tertawa. Cukup lama, sampai akhirnya Andi memelankan tawaannya dan masih terkekeh. Ali mencoba terpaksa tertawa juga, meskipun kebingungan.

Finally. Busted.

“Oh jadi gara-gara ini?”

“Hehehehe. Ya begitulah.”

“Kenapa?”

Andi terdiam cukup lama. Hanya menggumamkan suara “hmm” sambil tersenyum. Dalam diam, Andi cuma berpikir, betapa reuni ini hanya akan memperlebar jarak yang sengaja Andi ciptakan sejak beberapa tahun lalu.

Betapa reuni ini hanya akan mempertegas bahwa Andi, mantan aktifis dan pegiat kegiatan berbagai ekskul yang membuatnya cukup dikenal dulu, sekarang lebih memilih hidup dan kehidupan yang sangat berbeda dari teman-temannya kebanyakan. Andi yang ragu bahwa mereka akan bisa menerima dirinya. Andi pun ragu apakah dirinya bisa menerima mereka yang juga sudah berubah banyak, yang Andi tidak bisa kenali lagi lewat tag foto massal di Facebook atau Instagram.

Bukankah reuni ini akan menjembatani perbedaan tersebut? Andi sempat berkontemplasi memikirkan hal ini. Lalu dia tepis lagi dengan pemikiran, bahwa bagaimana bisa pertemuan dalam 2-3 jam dengan ratusan orang dalam satu angkatan bisa sempat membicarakan hal-hal fundamental dalam hidup?
Or maybe I am just reading too much into it, pikir Andi. Or maybe the past belongs to the past. Including the people who have made memories in us.

Well, Pa. Yang jelas aku nggak akan pulang ke rumah Lebaran tahun ini.”

“Oke. Just don’t forget you have a home here, Ndi. No matter what.”

I won’t, Pa.”

Advertisements

Hai

(28 Mei 2015)

Sudah lima menit saya berdiri di kedai kopi ini. Antrian panjang sepertinya tidak akan berkurang dalam waktu dekat.
Untungnya, ada Kindle hadiah ulang tahun kemarin dalam genggaman. Saya meneruskan lagi membaca buku To Kill a Mockingbird, sebelum sekuelnya diriilis bulan Juli nanti.
Tapi entah kenapa, mungkin karena belum tersentuh kopi, saya tidak bisa berkonsentrasi membaca argumentasi Atticus Finch di buku ini. Saya menghela nafas. Antrian masih belum bergerak banyak.
Saya mendongakkan kepala.
Tiba-tiba, saya lihat punggung itu. Punggung yang berjarak lima orang di depan posisi saya mengantri.
Satu, dua, tiga, empat, lima.
Punggung itu terbalut dalam atasan biru tua sementara bawahannya warna abu-abu. Paduan yang belum pernah saya lihat sebelumnya.
Saya ragu, apa benar ini … dia?
Semakin ragu-ragu, ketika saya berusaha keras mengingat raut mukanya dulu. Dan ini aneh. Saya tidak bisa mengingat sama sekali. Kok bisa sih?
Saya coba ingat-ingat lagi acara ulang tahun saya beberapa tahun yang lampau. Waktu itu, pernah trip ke Taipei. Tapi itu sendiri. Sebelumnya pernah dibuatkan surprise party di Surabaya. Nah, yang bikin surprise party itu siapa? Mustinya dia sih. Tapi kenapa kok gak inget sama sekali ya?
Saya menundukkan kepala sebentar, agar kepala ini bisa mengarahkan pikiran untuk mendengarkan suaranya.
Latte, to go, extra shot, non-fat milk.
Saya mengangkat kepala sambil tersenyum.
Tidak salah lagi.
Terkesiap, saya kaget karena sadar saya bisa tersenyum saat ini.
Lebih kaget lagi, karena sekarang dia melihat saya tersenyum sambil berdiri memegang kopinya.
Lalu dia berkata, sambil tersenyum balik, “Hai.”
Saya jawab dengan senyuman lebar, sambil tersenyum, “Hai.”

(Photo by Nauval Yazid.)
(Photo by Nauval Yazid.)

(28 Mei 2012)

Sudah lima menit saya berdiri di kedai kopi ini. Antrian panjang sepertinya tidak akan berkurang dalam waktu dekat.
Untungnya, Blackberry saya sudah dalam keadaan fully charged. Saya membuka beberapa pesan yang tidak sempat terbaca waktu naik ojek tadi. Saya benci kalau sampai harus mati gaya ketika terjebak dalam antrian panjang dan, terus terang, tidak penting seperti ini.
Tapi entah kenapa, mungkin karena belum tersentuh kopi, saya tidak bisa berkonsentrasi membaca messages teman-teman, apalagi yang ramai berceloteh di groups. Astaga, orang-orang ini. Do they have a life?
Saya menghela nafas.
Antrian masih belum bergerak banyak.
Saya mendongakkan kepala.
Tiba-tiba, saya lihat punggung itu. Punggung yang berjarak lima orang di depan posisi saya mengantri.
Satu, dua, tiga, …
Ah, kenapa harus bertemu dia sekarang sih? Mana lagi acak-acakan begini pakaian saya.
Dan mengapa dia harus memakai atasan putih seperti itu sih?!
Wait a minute.
That looks familiar.
My goodness.

Itu kan baju pemberian saya dulu!
Kenapa dia tidak mengembalikan atasan putih itu? I mean, since I’ve returned every-single-thing that had been given to me … Good God. Some people have no bloody manner, indeed!
Tidak salah lagi. Ini pasti dia.
Saya menundukkan kepala sebentar, agar kepala ini bisa mengarahkan pikiran untuk mendengarkan suaranya. Lagi pula, terlalu pusing kepala ini memikirkan banyak hal.
Americano, mas. Take away.
Saya terperangah. Pandangan saya menerawang.
Ya Tuhan. Of all the times in the world, why now? Why bloody now?
Dan sekarang, dalam ketidaksiapan, tak sengaja mata kami bertemu.
Saya tidak tahu, harus tersenyum, atau harus berkata apa.
Buru-buru saya memalingkan muka.
Dia masih terpaku sesaat.
Tapi tak lama kemudian, dia pun memalingkan muka, meski terlihat aneh saat dia melakukannya.
Toh saya merasa lega, bahwa dia tidak mendengar saya berucap dalam bisikan lirih, “Hai.”

(Photo by Nauval Yazid.)
(Photo by Nauval Yazid.)

(28 Mei 2010)

Sudah lima menit saya berdiri di kopi ini. Antrian panjang sepertinya tidak akan berkurang dalam waktu dekat.
Untungnya sudah ada koran The Jakarta Post hari ini di sebelah tempat antrian. Tumben. Biasanya koran ini baru akan ada siang nanti.
Tapi entah kenapa, mungkin karena belum tersentuh kopi, saya tidak bisa berkonsentrasi membaca berita yang tersaji. Bahkan membaca tulisan sendiri di halaman 28 pun, yang keluar di depan mata hanya rangkaian benda-benda tak berbentuk.
Atau mungkin bukan sentuhan kopi yang saya cari? Mungkin bukan.
Dan membayangkan teori itu sendiri pun sudah membuat saya senyum sendiri. Tapi buru-buru saya mengeluarkan suara batuk kecil, supaya tidak dicurigai sebagai orang gila oleh orang-orang di dekat saya sekarang.
Lalu saya mengangkat kepala, melihat sekeliling kedai ini.
Tiba-tiba, saya lihat punggung itu. Punggung yang belum pernah saya lihat sebelumnya, tapi intuisi mengatakan bahwa punggung ini adalah milik seseorang yang selama ini hanya saya lihat di foto yang dikirim lewat email.
Dia berjarak lima orang di depan posisi saya mengantri.
Satu, dua, tiga, empat, lima.
Apa benar ini dia?
Kaos kuning, celana jins biru tua. Persis seperti foto profile akun Twitternya. Dan bukankah ini juga persis seperti foto yang dia kirim semalam?
Hang on.
Saya keluarkan ponsel Nokia, lalu buru-buru saya ketik:
“Hey, sudah sampai? Kalo sudah, boleh minta tolong pesenin dulu, if you don’t mind? Cappuccino satu, minta susunya yang non-fat ya. Hehe. Thanks!”
Sent.
Kurang dari semenit kemudian, dia mengeluarkan ponsel dari kantong celananya. Pemakai Nokia juga ternyata. Entah apa yang dia baca, tapi dia tersenyum.
Lantas dia memasukkan lagi ponsel itu.
Saya diam melihatnya.
Lalu saya teruskan membaca koran yang masih saya pegang. Saya menghela nafas.
Samar-samar terdengar suara, “Mas, cappuccino dua, satu pake susu non-fat, satunya lagi yang biasa. For here.”
Saya tidak bisa lagi menahan senyuman saya.
Buru-buru saya keluar dari antrian. Sekarang saya berdiri di belakangnya. Saya tepuk punggungnya di sebelah kanan pelan-pelan. Dia menoleh.
Dia tersenyum.
Saya tersenyum.
Seperti berebutan, kami saling menyapa, “Hai.”

(Photo by Nauval Yazid.)
(Photo by Nauval Yazid.)