Are We Safe?

Pada hari Minggu, 6 Januari 2019, sekitar jam 13:00, iPhone saya dijambret. Saya sedang berdiri menunggu ojek, persis di depan kompleks apartemen. Saya mengeluarkan ponsel dari tas saya sejenak, untuk mengetahui posisi ojek yang saya pesan. Tiba-tiba dari arah kiri saya, dua orang di atas motor menyambar ponsel yang sedang saya pegang dalam posisi cukup dekat dengan muka. Saya kaget. Buru-buru saya lari mengejar motor tersebut. Saya sempat memegang jaket orang yang duduk di belakang motor. Dia berusaha melepaskan tangan saya dari jaketnya. Dia berhasil menepis, lalu menendang saya sampai saya terpelanting jatuh di atas aspal jalan raya yang panas. Hari itu terik matahari cukup menyengat. Motor sudah pergi jauh meninggalkan saya, sampai beberapa orang mengerubungi dan menolong saya berdiri, lalu kembali ke apartemen. Ponsel saya, yang baru di genggaman kurang dari sebulan, sudah saya anggap pergi untuk selamanya saat itu juga.

Hal ini sudah saya bagikan di Twitter, Facebook dan Instagram (story) hari itu juga, dengan urutan yang sama. Terutama karena saya tidak punya ponsel dengan nomer aktif lain, maka saya perlu melakukan blokir nomer lewat laptop, dan membagikan informasi ini ke orang-orang tertentu lewat jalur komunikasi yang bisa dilakukan lewat laptop. Berhubung saya tinggal seorang diri, maka beberapa menit setelah kejadian itu, saya tidak punya waktu banyak untuk duduk meratapi apa yang telah terjadi. Tidak hanya duduk meratapi, tapi juga sekedar merenungi apa yang terjadi. Otak saya berpacu untuk terus berpikir, apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Sampai di unit, buru-buru saya bersihkan luka dan memar di tangan dan kaki dengan obat antiseptik. Sambil mengering, saya aktifkan “lost mode” di fitur “Find my iPhone”. Saya mengirim email ke keluarga dan teman-teman dekat. Mencari tahu blokir nomer lewat Twitter dan Google. Mengerjakan proses blokir. Membagi informasi lewat media sosial. Setelah sekitar satu jam berlalu, mulai terpekur di depan laptop, bingung harus berbuat apa, terlebih rasa nyeri mulai menyerang di tubuh.

Dari situ saya sudah memprediksi bahwa beberapa hari ke depan, mobilitas saya akan berkurang drastis karena mendadak harus istirahat. Maka, mau tidak mau, harus menyelesaikan apa yang harus dikerjakan. Dengan rasa sakit luar biasa, saya paksakan diri mengurus blokir kartu dan mendapatkan sim card baru ke kantor operator terdekat. Lalu saya ke klinik untuk memeriksakan diri. Berbelanja makanan untuk 2-3 hari ke depan. Membeli obat.
Dan saat kembali ke rumah, saatnya untuk tidur di malam hari, barulah saya sadar bahwa saya jatuh terpelanting ke jalan raya. Saya baru benar-benar sadar apa yang terjadi, saat tubuh saya terasa sakit dari atas sampai bawah. Tidur pun susah.
Di sinilah saya berempati kepada perempuan yang sedang mengandung. Selama 3 hari terakhir, saya sulit tidur karena punggung dan kaki masih nyeri. Tak terbayang rasa sakit yang harus dijalani para perempuan yang sedang hamil selama berbulan-bulan.

Tadinya, saya ragu saya bisa menulis untuk Linimasa hari ini. Bukan karena rasa sakit, tapi karena rasa marah yang masih ada dalam diri saya saat ini.

Ini bukan kali pertama ponsel saya dijambret. Menjelang akhir 2013, ponsel saya pernah dijambret, saat saya sedang duduk di dalam bajaj seorang diri. Sejak saat itu, saya selalu ekstra hati-hati, dan cenderung untuk tidak menggunakan ponsel saat menggunakan transportasi umum. Padahal saya selalu menggunakan transportasi umum. Padahal saya sering terjebak macet saat menggunakan transportasi umum. Bayangkan betapa banyak waktu yang terbuang untuk tidak melakukan aktivitas dengan ponsel yang produktif, seperti menulis dan membalas email, atau membaca artikel.

Yang saya benci dari setiap kejadian ini adalah rasa takut, untuk tidak menyebutnya paranoid, terhadap hal-hal yang seharusnya kita lakukan dengan wajar tanpa ada rasa khawatir sama sekali. Apa ini berarti saya tidak bisa sama sekali berkomunikasi dengan pengemudi ojek untuk memastikan posisi dan kedatangannya di pinggir jalan tempat saya memesan? Lalu tidak bisa membaca Google Map saat berada di atas ojek, untuk memastikan agar tidak tersesat? Lalu tidak boleh mempunyai smartphone (baik mahal ataupun murah, karena yang murah pun bisa terlihat mahal sekarang), karena dianggap mengundang perhatian pencuri?

Tulisan ini memang saya buat untuk mencurahkan kekesalan saya. Maaf kalau banyak hal yang terkesan tidak rasional dan logis, karena memang menulis dalam keadaan marah tidak akan pernah bisa membuat tulisan menjadi rasional dan logis.

Saat ini saya sedang membenci ujaran seperti “jaga barang hati-hati, jangan sampai berpindah tangan”. Atau seperti “jangan memakai barang yang mengundang perhatian pencuri”. Atau yang lebih membingungkan, saya pernah menemui spanduk bertuliskan “hati-hati berjalan di kawasan ini, karena sering terjadi pencurian. Waspadalah.”
Tulisan-tulisan seperti ini tidak hanya saya temukan di Jakarta, tapi juga di kota-kota lain di Indonesia, dan beberapa negara lain yang pernah saya kunjungi.

Yang membuat saya bingung, kenapa selalu (calon) korban yang dituntut untuk berhati-hati?
Oke, mungkin memang ada orang-orang tertentu yang ingin pamer barang yang mereka miliki tidak pada tempatnya. Tapi saya yakin, persentase orang-orang seperti ini tidak banyak, malah jauh lebih kecil, dibanding dengan orang-orang yang berpakaian selayaknya ke tempat kerja atau usaha mereka. Dan porsi besar orang-orang ini pun saya yakin akan berperilaku seadanya dan selayaknya juga di tempat umum. Menggunakan ponsel seperlunya, berbicara dengan volume seperlunya. Tidak berlebihan.

Kalau hal-hal kecil seperti kebutuhan untuk menggunakan ponsel saja dirampas untuk memberikan rasa takut terhadap orang lain, maka apakah kita sebagai rakyat kebanyakan dilarang untuk beraktivitas dengan normal? Apakah itu tujuan para perampok ini? Bukankah kalau kita diam saja, mereka juga akan kehilangan mata pencaharian?

Saya lebih setuju untuk membuat takut para pencuri ini. Mulai dengan pencoleng atau pickpocket. Perlu banyak notifikasi atau pengumuman di tempat umum, resiko yang akan mereka hadapi saat mereka ketahuan melakukan perbuatan mereka. Mulai dari denda, resiko penjara, kalau perlu contoh visual saat mereka dihadang para commuters lain, misalnya. Atau bisa juga notifikasi bahwa kendaraan umum dilengkapi dengan kamera pengintai. Ini pun akan memberikan rasa assurance dan keamanan terhadap pengguna jasa transportasi umum.

Itu baru transportasi umum. Masih banyak lagi jenis keamanan yang perlu kita perhatikan. Saya sedih dengan anggapan umum bahwa kita tidak bisa berjalan kaki di malam hari sendiri. Dan memang itulah yang terjadi, karena tidak ada jaminan keamanan. Padahal jalan kaki itu adalah hak semua orang, tanpa terkecuali.
Kita sudah terlalu lama dan terlalu sering menerima hak-hak dasar kita dirampas, dan membiarkannya sebagai hal yang yang wajar. Masak untuk sekedar mendapatkan rasa aman yang nyaman, kita harus pergi ke luar negeri? Berapa banyak orang yang bisa pergi ke luar negeri?

Dan apa kita harus mulai bawa senjata tajam untuk sekedar pergi ke tempat kerja, pergi ke mal, saat menggunakan transportasi publik, untuk sekedar berjaga-jaga? I will be lying if I said to you I never consider that now.

Tidak atau jarangnya ada rasa aman di keseharian kita membuat kita selalu curiga, waspada, dan ujung-ujungnya pasrah kalau kejadian naas menimpa kita. Sementara untuk menjadi berani dan kuat juga perlu waktu, terlebih untuk menerjang rasa takut dan traumatis yang melanda diri.

Sekali lagi, tulisan ini murni curahan kekesalan saya. Dan memang, saya sedang berusaha sebisa mungkin untuk bisa menjadi orang yang lebih berani dan kuat, sebisa mungkin tanpa rasa takut sama sekali. Ini tidak mudah, and to be honest, I don’t know if I’ll ever get there.

But I am trying as I am recovering.

1_1OxCOj6WR9otDmY-QybPcw

Advertisements