Masih Hal yang Sama

Kita baru Kartini-an lagi kemarin. Momen yang–bagi sebagian orang–dirasa tepat untuk kembali berbicara tentang perempuan dan keperempuanannya di Indonesia, baik yang setuju maupun menolak apa pun itu lewat beragam alasannya. Bukan cuma pembahasan antara laki-laki dan perempuan, bahkan juga antara sesama laki-laki, maupun sesama perempuan. Sebab ada anggapan, hanya aktivis saja yang saban hari konsisten berbicara tentang topik ini; memang kerjaannya. Terserah mazhab pikirnya.

Jikalau saya boleh menarik kesimpulan secara diskursif, topik bahasan yang barangkali sudah mencuat sejak pertama kali manusia mengenali perbedaan visual antara penis dan vagina ini, pada dasarnya hanya beranjak dari satu hal: laki-laki dan perempuan tidak sama. Itu saja bukan? Dari situ, seiring perkembangan peradaban manusia di seluruh penjuru dunia, bahasan ini ketambahan perspektif aneka bidang, dibikin rumit dan seringkali tak terjangkau, mbulet ra karu-karuan. Ketidaksamaan antara laki-laki dan perempuan tak lagi sekadar urusan hayati, melainkan dibakukan dalam konsensus sosial kemasyarakatan, kaidah religius, ekonomi dan ketenagakerjaan, pendidikan, kesehatan, hiburan, seni, serta masih banyak lagi. Namun sayangnya, semua pembahasan itu kerap menempatkan perempuan dalam posisi yang pantas didiskreditkan. Meskipun tak sedikit perempuan yang akhirnya mampu memanfaatkan diskredit tersebut, untuk tampil lebih kuat, lebih tangguh, dan lebih digdaya ketimbang banyak laki-laki.

Sampai sejauh ini, saya masih yakin bahwa tidak ada yang lebih unggul (superior) maupun lebih rendah (inferior) dalam bahasan soal perbedaan fisiologis antara laki-laki dan perempuan. Kedua jenis manusia ini setara dalam segala perbedaannya. Itu saja. Akan tetapi, mungkin sejak Hawa terkena bujukan setan dan mengajak Adam melanggar perintah Tuhan bersama-sama sampai diusir jadi penghuni bumi, atau ketika Pandora membuka kotak derita yang melepaskan segala bentuk duka ke dunia, seolah-olah dimunculkan kesan bahwa perempuan adalah pembawa malapetaka. Semenjak saat itu, perbedaan antara laki-laki dan perempuan terus berubah. Dari dua dataran yang terpisah jurang, menjadi dua permukaan yang terpisah tebing. Hasilnya: “perempuan tidak boleh begini!”, “perempuan enggak perlu begitu!”, “buat apa perempuan begitu?”, “dasar perempuan!”, dan sebagainya tanpa melewati proses yang adil terlebih dahulu. Pengebirian kehendak dan pengerdilan. Lagi-lagi disayangkan, banyak perempuan yang kadung tumbuh berkembang dengan pola pikir seperti itu, baik yang diajarkan ayah maupun ibu, sehingga menjadikannya makhluk yang “kalah sebelum berperang” melawan keadaan. Berikut beberapa di antaranya.

  • Perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena nanti bakal jadi istri juga, seorang ibu rumah tangga yang tugasnya cenderung domestik.
  • Perempuan harus bersikap nrimo, pasrah terhadap apa yang ditentukan.
  • Perempuan tidak boleh mengejar, tapi harus jadi yang dikejar. Kenapa ada istilah “diperistri” namun tak ada “dipersuami”? Tidak, ini tidak berbicara soal siapa yang membayar maskawin, uang susu, dan objek transaksi kepada siapa.
  • Perempuan tidak boleh bertato.
  • Perempuan harus jadi ibu rumah tangga, biar urusan pendapatan menjadi tanggung jawab suami.
  • Perempuan harus menikah, melahirkan, dan dihinakan bila tidak memberi ASI.
  • Perempuan harus melayani suami, termasuk secara seksual. Sementara para laki-laki belum tentu mampu, atau mau peduli dengan kepuasan sang istri.
  • Dalam banyak kasus, ada perempuan terang-terangan mendapati suaminya berselingkuh. Namun lebih memilih tetap bertahan sambil sakit hati ketimbang berani memutuskan berpisah dan berdiri di atas kaki sendiri.
  • Perempuan dianggap sebagai sumber godaan, menjadi penyebab atas pelecehan yang dialaminya sendiri (what a nonsense!).
  • Perempuan yang bukan perawan dianggap tidak suci lagi. Padahal ada laki-laki yang “sukses” memperdaya, dan dianggap berhasil membuktikan kelelakiannya.
  • Ada bidadari di surga, lalu mana bidadara-nya? Lagian, terasa agak dangkal kalau merendahkan kebahagiaan surgawi ke tingkat paling primordial, berupa kenikmatan yang diperoleh tak jauh-jauh dari lubang.
  • (silakan tambah sendiri…)

Lalu, apa tujuan dari tulisan Linimasa hari ini? Bukan. Bukan untuk menumbukkan antara Feminisme dan Machoisme–yang cenderung lebih berbentuk klub untuk suka ria bersama, bukan juga untuk mengobarkan pertikaian pikiran antara siapa pun. Begitu juga dengan tulisan-tulisan bertopik sama sebelumnya, yang bisa Anda baca kembali di daftar arsip.

Anda perempuan atau laki-laki, saya (atau kami) tidak ngurusi. Anda setuju atau menentang konsepsi soal emansipasi melampaui jenis kelamin dalam arti luas, saya (atau kami) tak terlampau peduli. Yang jelas, perbedaan antara perempuan dan laki-laki itu beranjak dari urusan fisiologis. Perbedaan yang tidak membuat salah satu berkedudukan lebih tinggi ketimbang lainnya. Perbedaan yang tidak menghilangkan kewajiban untuk saling menghormati dan menghargai. Perbedaan yang tidak memangkas kebebasan pribadi untuk memilih dan menentukan sikap dalam hidup selama tidak melanggar kepatutan universal. Perbedaan yang tetap melandasi empati. Perbedaan yang tetap memanusiakan manusia lainnya.

Mengutip kata-kata seorang kawan:

Untuk wanita Indonesia…

Ingat bahwa tidak ada hak masyarakat memaksamu, menyuruhmu, menilaimu atau mengarahkanmu ke suatu standar tertentu. Bukan karena masyarakat tidak baik. Tapi karena mereka tidak pernah serius menilai dan menghakimi para laki-laki.

Dan itu tidak adil.

Tambahan dari saya, omongan masyarakat, cibiran orang lain tidak bakal bermanfaat apa-apa dalam hidup Anda. Cuma bikin lelah, dan sedikit memberikan bumbu drama bagi Anda yang memerlukannya. Tapi ya gitu, kalau dicibir orang rasanya enggak enak, cengli dong kalau tidak mencibir orang lain juga. 🙂

Ya, walaupun pada akhirnya, suka-suka Anda mau setuju dengan isi paragraf sebelum ini atau tidak.

[]

Advertisements

[JAWABAN] Main Tebak-Tebakan

Tengah Desember lalu saya iseng menulis Tentang Jilbab. Sampai sekarang tulisan itu masih sering dibaca, komentarnya pun beragam. Ada yang setuju, ada yang ndak, ada juga yang ndak urus. Bebas.

Minggu lalu saya mengajak kalian, teman-teman Linimasa, main tebak-tebakan. Iseng-iseng tak berhadiah, lah. Ada total 12 foto perempuan dengan tutup kepala yang berasal dari sekte/agama yang berbeda. Pertanyaanya gampang: Bisa kah kalian membedakan mana yang islam dan mana yang Yahudi? Mana yang Coptic dan mana yang Syiah?

Dari sekian banyak pertanyaan yang dituliskan di kolom komentar, ada satu yang menarik perhatian saya. Jawaban dari @moelmoelmoel. Berbeda dari yang lain, Moel justru tidak memberikan jawaban A, B, C, atau D. “Semua jawaban ada pada pertanyaanya.” Katanya. Hahaha.. saya setuju.

Jadi ingat. Dulu, saya pernah mengambil mata kuliah Women Studies. Ndak, isinya ndak ada perempuan dengan bulu kaki lebat dan ketiak yang tidak dicukur seperti yang sering diasosiasikan dengan feminis-feminis garis keras. Kelas ini juga gak cuma  untuk perempuan saja. Semua ras, semua gender, semua agama ikut.

Suatu hari, ketika ada sesi tanya jawab setelah kuliah, ada satu perempuan asal Jordania yang bertanya begini: “Kenapa ketika seorang perempuan Muslim berjilbab itu dikategorikan sebagai opression, sementara pada biarawati Katolik, penutup kepala adalah simbol kepatuhan dan keimanan?” Hari itu ndak ada yang bisa jawab, tapi kami sepakat kalau seharusnya ndak ada masalah. Mau pake jilbab atau ndak, mau percaya tuhan atau nyembah gentong, suka-suka aja. Manusia kadang terlalu fokus sama perbedaan.

Sebelum tulisan ini jadi kepanjangan dan bahasannya jadi kelebaran, ini jawaban dari Main Tebak-Tebakan minggu lalu:

1. Perempuan-perempuan ini beragama Kristen. Sebagian dari Coptic Orthodox, lanjutan dari Church of Alexandria. Mereka mukim di wilayah Ethiopia, Eritrea dan Nubia (sekarang Sudan).

2. Muslim:

3. Yahudi: Banyak yang gak tau kalau perempuan Yahudi Orthodox juga memakai niqab.  Sungguh syariah, kan? gak cuma perempuan-perempuannya aja. Para laki-laki juga mengenakan penutup kepala bernama kippeh (kopiah – sepertinya akar katanya sama), memanjangkan janggut dan jambang, dan.. bercelana cingkrang!

4. Sabian: Mirip dengan Zoroastrian di Iran, tapi yang ini berpusat di Baghdad, Irak. Al Shabiin atau Sabians ini pernah begitu ramai dianut semasa Muhammad (pbuh) hidup. Dalam kepercayaan mereka juga ada ritual seperti wudhu, menyucikan diri di tepi sungai Eufrat sebelum beribadah.  Sekarang populasi Sabians semakin menurun. Dan kabarnya, mereka adalah target ISIS yang utama.

Jadi…. salah berapa? :p

Main Tebak-tebakan

Selamat Tahun baru 2015, semua!

Tulisan saya Tentang Jilbab jadi salah satu tulisan Linimasa yang paling banyak diintip di 2014 kemarin. Nah, dalam rangka masih mood liburan males banget ngapa-ngapain menyambut tahun yang baru dan semangat ngelilingin Matahari satu putaran lagi, maka hari ini saya ingin mengajak kalian semua, termasuk Linimasmas dan Linimakmak, main tebak-tebakan.

Topiknya masih sama, masih soal “perempuan dan penutup kepala”. Saya akan posting gambar-gambar perempuan dari berbagai agama, dan kalian tinggal tebak mereka berasal dari sekte/agama apa sesuai pilihan yang disediakan dan silakan jawab di kolom komentar. Gampang to?  😀


1. Women1a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


2.

women2

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


3.

women3

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


4.

women4

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


5.

women5

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


6.

women6

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


7.

women7

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


8.

women8

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


9.

women9

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


10.

women10

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


BONUS:

women11

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian

women12

a. Muslim

b. Jewish

c. Christian

d. Sabian


Selamat berlibur dan menebak-nebak! 😀

 

 

Tentang Jilbab

Henrietta Edwards' 165th Birthday

Tadi pagi saya kaget melihat Google Doodle ini. Rupanya hari ini Henrietta Edwards berulang tahun yang ke-165. Beliau ini salah satu tokoh utama perjuangan hak-hak perempuan di Amerika Utara, khususnya Canada.


Ngomong-ngomong soal perempuan, saya jadi ingat, beberapa hari lalu saya menonton film asing yang premisnya begitu menarik dan menggelitik. Judulnya The Source (La Source Des Femmes).
Mengambil tempat di wilayah utara Afrika, ada sebuah desa kecil yang daerahnya begitu tandus dan berbatu-batu. Karena mereka masih hidup dalam budaya Muslim yang begitu kental, maka para perempuan di desa ini diwajibkan untuk mengurus rumah. Mulai dari memasak, mengurus anak, sampai ke mengambil air bersih yang jaraknya berkilo-kilo meter dari desa.

La-source-des-femmes-poster
Karena jalannya begitu terjal dan menanjak, tak jarang para perempuan ini jatuh hingga menyebabkan keguguran. Ke mana para pria desa ini? Ada, tapi setiap hari mereka hanya sibuk minum teh dan ngobrol-ngobrol. Dan akhirnya, karena muak melihat para pria yang begitu malas dan mengatasnamakan agama, para perempuan di desa ini pun punya ide brilian. Mereka sepakat untuk melakukan mogok massal. Mogok untuk bersetubuh dengan para suami, sampai mereka mau membantu para istri membangun saluran air ke desanya.

Tentu saja jalan untuk meyakinkan para suami ini tidak mudah. Ada satu adegan yang dialognya sangat membekas di kepala. Waktu itu ada seorang anak laki-laki yang begitu soleh, beliau memengaruhi pria-pria lain di desa itu agar semua perempuan mengenakan jilbab. Sang ibu yang sudah paruh baya pun sontak marah dan berkata kalau pada awalnya anjuran berjilbab itu untuk membedakan perempuan terhormat dan perempuan budak, tapi karena saat ini sudah tidak ada perbudakan, ya ngapain pake jilbab?

Argumen sang ibu ini benar. Mungkin ada yang belum tau, tapi budaya berjilbab untuk perempuan memang bukan budaya bawaan Islam.


Dulu, sekitar abad 13 BC, jilbab hanya boleh digunakan para perempuan ningrat di Assyiria. Perempuan kebanyakan dan para pekerja seks dilarang mengenakan jilbab. Begitu juga halnya di masa Mesopotamia, Iberian Peninsula, juga Yunani dan Romawi Kuno. Para perempuan di jaman itu digambarkan mengenakan pakaian serupa jilbab yang menutupi bagian kepala dan wajah. Pada waktu itu jilbab menunjukkan status dan strata sosial, gak semua orang bisa punya privilege untuk menutupi wajah dan kepalanya.

Digambar oleh: Malcolm Evans
Digambar oleh: Malcolm Evans

Menurut Leila Ahmed, seorang pakar Islam kontemporer dari Mesir, anjuran untuk berjilbab bagi perempuan Muslim justru datangnya bukan dari Muhammad SAW. Pada masa itu, jilbab sudah banyak digunakan oleh perempuan Palestina dan Syria. Kemudian karena mereka hidup berpindah-pindah dan berdagang, maka budaya mengenakan jilbab inipun semakin meluas.

Dan anjuran untuk mengenakan Jilbab untuk istri-istri Muhammad SAW (QS 33:33) pun jadi kewajiban moral karena kedudukan sosial mereka yang berbeda dari perempuan lainnya di masa itu. Para ahli sejarah berpendapat kalau, di era Muhammad, jilbab digunakan untuk membedakan perempuan Muslim dari perempuan Pagan dan budak.

Perlukah berjilbab? Jilbab yang benar itu bagaimana? Kenapa jilbab jadi sebuah keharusan padahal jaman perbudakan sudah gak ada lagi? Kalau urusannya sudah menyangkut fiqh dan yurisprudensi Islam, saya nyerah. Gak berani jawab. Saya cuma berani menjawab dari pendekatan sejarah dan budaya saja. Tapi, ada tulisan menarik tentang ini. Ditulis oleh KH. Husein Muhammad, seorang ulama yang juga feminis.

Tentu saja, kalau soal jilbab, jawaban setiap orang pasti berbeda.
Ada yang memutuskan untuk langsung berjilbab karena kewajiban, ada yang bilang mau menjilbabkan hatinya dulu. Ada yang hanya menutup kepala dan membiarkan leher terbuka (seperti yang dilakukan nenek saya dan nenek-nenek lainnya), ada jilboobs, ada juga yang berjilbab syar’i. Bebas. Pilihan masing-masing.
Tapi yang jadi masalah adalah ketika sekelompok perempuan yang sudah mengenakan jilbab sesuai syariat yang mereka percayai, malah merendahkan perempuan lain yang tidak seperti mereka. Atau sebaliknya. Ya ndak?

Sedikit tentang Perempuan

Perlu waktu sembilan tahun, sampai Church of England bersedia memperkenankan perempuan untuk jadi uskup.

Dimulai pada 2005. Kritik atas terbatasnya gerak kaum perempuan dalam tubuh gereja Anglikan khas Inggris itu dikemukakan. Muaranya, voting sinode menyetujui amendemen peraturan tersebut Senin kemarin, beberapa jam sebelum pengumuman kenaikan harga BBM di sini.

Gebrakan besar–cuma bagi warga Inggris–ini belum menjamin akan ada uskup perempuan dalam waktu dekat. Bukan mustahil, gelombang penolakan terus mengalir, syarat prosedural tambahan dapat diberlakukan. Membebani langkah para perempuan yang terpanggil untuk menjadi uskup, dalam organisasi gereja yang dianggap bidah oleh gereja Katolik Roma itu.

***

Amina Wadud dan makmumnya.

Dukungan maupun hujat tak putus-putusnya dilontarkan kepada Amina Wadud.

Perempuan 62 tahun itu menimbulkan kontroversi global, setelah bertindak sebagai imam Salat Jumat di Manhattan, juga pada 2005. Salat Jumat yang diikuti seratus orang (60 perempuan, 40 laki-laki) tersebut tanpa pemisahan saf, muazinnya juga seorang perempuan.

Salat dilangsungkan di Synod House, sebuah bagian dari katedral. Pasalnya, tiga masjid setempat menolak Amina Wadud dan makmumnya. Lalu, satu tempat netral yang sejatinya adalah pusat aktivitas religius-pluralistis India mendapat ancaman bom gara-gara bersedia menerima Amina Wadud. Synod House dipilih, karena Amina Wadud ingin menunaikan salatnya di tempat yang tersucikan secara spiritual.

***

Ndak perlu nunggu 21 April, Mother’s Day, atau peringatan-peringatan sejenis untuk nulis soal perempuan, atau membicarakan topik yang pakai embel-embel kata “emansipasi” di depannya. Toh, meskipun diskursus atau pembicaraan mengenai kesetaraan antara laki-laki dan perempuan selalu digencarkan pada momen-momen tertentu setiap tahun, tetap belum bisa mengubah realitas di beberapa bidang yang terjadi hingga saat ini.

Dua contoh di atas, misalnya. Sebagai peristiwa yang tergolong terlalu sensitif untuk dibicarakan di warung kopi sambil mengudap pisang goreng, tapi terlalu penting untuk dilewatkan sebagai momen pergolakan keperempuanan, urusan uskup gereja Anglikan maupun Amina Wadud tentu tidak bakal dicueki dan menguap begitu saja. Hanya saja sedinamis apapun pembahasannya, pasti buntu begitu berhantaman dengan pernyataan: “Mau punya uskup perempuan? Sudah sesat makin sesat!”, atau “Sampai kapan pun, perempuan tidak boleh jadi imam. Melanggar fikih!” Menegaskan bahwa kitab suci–agama-agama Samawi, khususnya–sudah mencantumkan ketentuan baku bagi posisi perempuan dalam urusan agama. Saklek. Ada perempuan yang menerima kenyataan ini dengan pasrah, tapi tak sedikit pula yang merasakan protes dalam hati.

Agak berbeda dengan pandangan agama-agama non-Samawi. Perdebatan tentang keperempuanan dan institusi agama bisa terkesan tarik ulur. Salah satunya, upaya membangkitkan kembali tradisi Bhikkhuni Buddhisme Theravada, yang telah punah sejak beberapa abad lalu dan dinilai mustahil untuk diselenggarakan lagi sampai saat ini. Mustahil, bukan lantaran tidak boleh, melainkan perangkatnya sudah tidak ada. Itu sebabnya, perempuan Buddhis Theravada zaman sekarang paling mentok hanya bisa ditahbiskan menjadi Atthasilani (seperti yang bisa ditemukan di STAB-STAB). Atthasilani kurang lebih sejajar dengan Samanera, calon Bhikkhu, plus beberapa aturan tambahan demi muruah kaum hawa. Sementara dalam Buddhisme Mahayana, keberadaan Biksuni masih ada, termasuk di Indonesia.

Terlepas dari itu, perempuan tetap memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki dalam hal prestasi spiritual. Perempuan juga bisa mencapai kebuddhaan sebagai Arahat, sebagai orang yang diajari. Sedangkan perempuan Buddhis yang umat awam dapat dilatih dan diangkat menjadi Pandita; berhak berceramah, berhak memimpin Puja Bhakti, berhak mengesahkan pernikahan, berhak menjadi kepala vihara.

Obrolan di atas baru pada ranah agama. Lumayan susah diotak-atik. Belum lagi pada ranah-ranah yang lain.

***

Sampai saat ini, sebagian besar manusia dengan selangkangan berbatang, masih kerap memperlakukan perempuan dengan tindakan dan perspektif yang tidak patut. Tak jarang berlaku secara komunal, menjadi budaya dalam lingkup bermasyarakat. Walaupun belum tak semuanya dikategorikan sebagai kejahatan.

Buktinya, seperti tulisan Gandrasta dua pekan lalu. Ketika perempuan seakan-akan boleh distempel dengan label “Penjahat Sosial”, jika masih lajang di usia 30 tahun ke atas. Dengan label tersebut, mereka digunjingkan, dicibir, diejek, didesak, orangtua mereka juga ikut-ikutan dibuat gusar, dan dikelilingi dengan ketidaknyamanan. Pertanyaannya, siapa yang memperbolehkan tindakan cap-mengecap itu? Sudah idealkah kehidupan rumah tangga si pengecap? Sebegitu kurang kerjaankah si pengecap, sampai ngepoin kehidupan pribadi orang lain?

Isu lainnya, terkait keharusan bagi para calon Polwan untuk menjalani pemeriksaan keperawanan, sebagai bagian dari tes kesehatan. Oke, pemeriksaan keperawanan memang disebut bukan sebagai penentu kelulusan, tapi kita tetap berhak mempertanyakan alasannya. Sebegitu pentingkah motifnya? Apakah tindakan ini masih didasarkan pada pandangan konservatif yang menganggap bahwa selaput dara adalah bukti kesucian? Sehingga tidak utuhnya selaput dara menandakan bahwa si empunya adalah perempuan hina? Terus, kalau dianggap hina, boleh makin dihina-hina harga dirinya, begitu? Kalau iya, duh, masih punya empati enggak ya?

Kemudian, masih ihwal selaput dara juga, para laki-laki kerap merendahkan perempuan. Memang terdengar remeh, dan seringkali dianggap sebagai kelakar ringan, bikin ketawa. Namun ungkapan “buka segel” saat malam pertama seolah menempatkan seorang perempuan, sang istri, laiknya barang yang baru dibeli di swalayan. Lembar etiketnya mencantumkan amaran: “jangan diterima apabila segel rusak/terbuka.” Kalau begini, apa bedanya antara pernikahan dan jual beli, dengan maskawin sebagai banderolnya? Sayang, belum ditemukan metode untuk mengenali titit perjaka dan titit berpengalaman, yang pemiliknya seringkali dijadikan mentor rekan-rekannya.

Sama halnya dengan kekeliruan sosial yang terus dipertahankan sampai sekarang. Yaitu anggapan yang mengatakan “cowok nggodain cewek = wajar, cewek nggodain cowok = genit,” atau “cowok nembak cewek = wajar, cewek nembak cowok = agresif.” Bagaimanapun, perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki hati, pikiran, dan mulut. Kalaupun ada perempuan yang malu-malu, ada pula laki-laki yang terlalu dungu menangkap kode-kode umpan lambung di udara. Artinya, sama-sama memerlukan komunikasi, bukan gengsi. Kalau belum yakin cinta/ndak cinta, ya jangan seperti Rangga yang nggantungin Cinta sampai 12 tahun lamanya. Bikin puisi jago, giliran harus ngomong malah plonga-plongo. Untung masih ketolong cakep (#eh).

Satu lagi topik pembahasan yang tak kunjung kelar sampai sekarang. Jangankan perempuan, semua orang sepatutnya berbusana dengan sopan. Akan tetapi, apabila ada perempuan yang merasa nyaman dengan mengenakan rok mini atau pakaian seksi tanpa motif macam-macam (masih debatable), tidak serta merta bisa dijadikan pembenaran untuk melakukan perkosaan, bukan? Memang ada istilah “namanya kucing disodori ikan”. Masalahnya, apakah kecerdasan semua laki-laki di Indonesia ini setara dengan kucing tadi? Ndak punya kekuatan untuk mengendalikan diri dari gejala fisiknya sendiri? Lucu, alih-alih menyalahkan pemerkosa, eh malah sang korban yang digelari gatel. Mau bagaimanapun, dalam sebuah aktivitas seksual yang dipaksa, perempuan lah korbannya. Perempuan yang diperkosa lalu kesenengan itu cuma ada dalam skenario film bokep. Dusta semua.

Menelus ke bidang lainnya, sampai kapan kecantikan dan lekuk tubuh perempuan dijadikan alat utama untuk mempromosikan dagangan? Jangankan yang jualan bra dan celana dalam berenda, lah wong iklan permainan online juga menampilkan perempuan dengan eksploitasi berlebihan di area belahan payudara. Ya bedanya samar sih, antara orang yang niatnya cari penghasilan, dengan pablik fijyer yang haus pujian dielu-elukan berbodi seksi.

Foto: Pinterest
Foto: Pinterest

Pun para bos. Memang berhak mengatur urusan personalia di perusahaannya dengan sesuka hati. Tapi, bakal ketahuan jelas bos itu adalah orang macam apa, bilamana lebih memilih pelamar yang modalnya hanya tubuh semlohai menggemaskan, ketimbang yang benar-benar kompeten dan sesuai kebutuhan perusahaan. Tindakan itu namanya apa, kalau bukan mengkondisikan perendahan perempuan? Bisa jadi para perempuan pun berlomba-lomba menampilkan keseksian, yang seringkali artifisial, dipaksakan, buatan, menghilangkan kecantikan alamiahnya.


Masih banyak sih, tapi mari kita akhiri saja sampai di sini.

Perempuan dengan segala kompleksitas, misteri, dan keindahannya. Bahan perbincangan dan sumber inspirasi yang tak ada habis-habisnya. Makhluk yang kerap mendapat perlakuan merendahkan, karena saking tinggi kedudukan asalinya.

[]