Pelecehan Seksual & Ketidakberdayaan: Sebuah Upaya

SEKALI lagi, topik ini rawan bias gender. Salah-salah, jatuhnya bisa jadi mansplaining–ketika laki-laki yang sok tahu dan arogan merasa paham tentang sesuatu, lalu memberikan komentar tanpa diminta–atau malah oversimplifying atau disepelekan, dianggap tak perlu mendapatkan perhatian sampai sebegitunya.

Padahal saat berbicara tentang pelecehan seksual yang dialami oleh wanita, urusannya tak segampang memberi tanggapan:

Mestinya kamu lawan dong!

Kenapa kamu biarkan dia begitu?

Tidak. Tidak sesederhana itu.

… dan itu pun bukan kesalahan mereka sebagai wanita.

Demi menghindari kesalahan-kesalahan tersebut, tulisan di Linimasa hari ini dibuat oleh seorang wanita dan dititipkan kepada saya. Dia pernah merasakan dorongan kuat untuk memberontak dan melawan waktu dilecehkan beberapa tahun lalu, tetapi dia hanya bisa terdiam. Menyisakan trauma dan beban.

Tak menutup kemungkinan, secara tidak sadar saya pun pernah atau kerap melakukan pelecehan dengan beragam bentuknya. Berupa tindakan atau ucapan yang mustahil saya lakukan kepada sesama laki-laki.

Bukan perkara meminta para wanita untuk lebih berhati-hati, atau memberikan mereka bekal menghadapi semua situasi, melainkan upaya mendidik para remaja berpenis agar tak tumbuh menjadi pria-pria brengsek yang merendahkan wanita.


Suatu pagi semasa masih sekolah, saya lamban bersiap-siap. Biasanya Ayah akan mengantar saya ke sekolah sebelum Beliau berangkat ke kantor, biar sekalian saja. Tetapi pagi itu Ayah ada rapat. Beda 5 menit saja sudah bisa menjadi penentu terlambat atau tepat waktu untuk sampai ke lokasi rapat. Ayah berangkat duluan dan saya terpaksa berangkat sekolah dengan Angkot dari depan kompleks perumahan.

Berjalan tergopoh-gopoh, saya sudah kesal memikirkan konsekuensi yang harus saya hadapi di sekolah bila akhirnya terlambat. Pagi itu frekuensi Angkot juga tidak bersahabat. Sudah beberapa lama menunggu, masih tidak ada yang lewat juga.

Lalu sebuah Innova hijau muda melipir dan berhenti di depan saya. Kaca diturunkan, seorang pria bertampang usia 40-an di kursi pengemudi memanggil saya dengan gestur tangannya. Di pikiran saya saat itu, ini bisa saja salah satu teman atau kenalan orang tua saya yang kenal wajah saya, tetapi saya tidak terlalu kenal mereka–mungkin saya bisa menebeng sampai sekolah.

Setelah mendekat, ternyata si bapak ini sudah separuh melepas celananya, dan mengayun-ayunkan penisnya dengan gerakan memutar. Jelas, bukan sesuatu yang saya pikir akan saya lihat pada Selasa pagi itu, di pinggir jalan besar kawasan utara Jakarta.

Saya mematung. Otak saya menjerit “PERGI, CEPAT MENJAUH DARI MOBIL!” Tetapi butuh waktu beberapa detik sebelum kaki saya akhirnya bekerja sama hingga akhirnya saya menjauh. Tanpa saya duga, mulut saya pun turut bekerja sama. “Oh, cuma segitu doang? Heh.

Ada Angkot mendekat di belakang mobil itu dan saya buru-buru memanggilnya. Innova itu pun meluncur pergi. Saya berangkat ke sekolah. Sisa hari itu kabur di ingatan saya. Di kepala saya berkecamuk pertanyaan: “What just happened there?” Emosi marah, kesal, sedih dan bingung campur aduk serta perasaan tidak berdaya yang mendominasi saya hingga berhari-hari, bahkan berminggu-minggu setelah itu.

***

Belasan tahun kemudian, saya tengah bekerja dengan seorang kolega senior di kantor, Pak Bos dan seorang klien. Berdiri agak jauh dari klien, kolega saya mengelus pantat saya tanpa permisi dan tanpa aba-aba. Refleks, saya menepis tangan itu dan lagi-lagi saya terpaku. Tidak langsung berpindah dari sebelah si pelaku. 

Kolega senior ini  juga sangat dekat dengan pemilik perusahaan. Setelah klien berlalu dan saya tinggal berdua dengan Pak Bos, saya melaporkan kejadian tersebut kepada Pak Bos.

Responnya saat itu (kurang lebih jika diterjemahkan dari bahasa Inggris), “Ya, saya tidak membenarkan perbuatannya. Tetapi ingat, bahwa dia bukanlah predator seksual, dia hanya orang tua yang… ya… begitulah.” Kala itu, saya hanya mengiyakan dan meminta Pak Bos untuk bertindak jika kali lain si kolega ini merasa akrab dan menyentuh saya tanpa persetujuan di lingkup pekerjaan.

Butuh waktu yang cukup lama bagi saya untuk kemudian tersadar. “Sebentar. Kalau misalnya istri atau anak perempuan si Pak Bos yang mengalaminya, apakah Beliau akan menjawab seperti itu juga?” Setelah tersadar, saya menyesal sejadi-jadinya tidak berkata demikian kepada Pak Bos saat itu juga.

Apa gunanya menanggapi kejadian yang sudah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun lewat?

Dan, pada kenyataannya, saya tidak berada di posisi yang menguntungkan dalam pekerjaan waktu itu. Apabila saya ngotot untuk melaporkan dan mempermasalahkan kejadian itu, bisa saja si pelaku hanya berkata bahwa kejadian itu tidak disengaja, atau saya membesar-besarkan masalah yang tidak ada buktinya, dan apa yang dia katakan akan lebih dipercayai daripada apa yang saya katakan. Lebih parahnya lagi, si pelaku adalah kesayangan pemilik perusahaan. Kemungkinan besar, kalau masalah ini naik hingga ke manajemen di atas Pak Bos, sayalah yang dipecat atau diminta mengundurkan diri, bukan dia. Karena posisi saya dibanding dia hanyalah butiran jasjus di perusahaan itu.

Walau pada akhirnya Pak Bos menegur si kolega senior secara halus separuh bercanda untuk berhenti menyentuh staf lain tanpa permisi dan tidak ada lagi kejadian serupa, setiap mengingat kejadian itu saya marah. Sedih. Tidak berdaya untuk melawan, tetapi bagaimana saya bisa melawan lebih lanjut tanpa membahayakan posisi saya di pekerjaan?

***

Beberapa hari yang lalu, saya sedang bekerja di sebuah perusahaan dan saya ditugaskan untuk mewakili kantor berhadapan dengan klien. Dari komputer kantor, saya menerima pesan dari salah satu klien bahwa ia meminta saya menunjukkan payudara serta memperbolehkan dia untuk memegangnya.

Saya terdiam sewaktu membaca pesan itu. Dan untuk beberapa saat, saya seperti tidak menyadari secara penuh apa yang telah terjadi. Saya mengalihkan perhatian dengan mengerjakan hal-hal lain. Kira-kira 15 menit kemudian, it hits me. Saya sudah dilecehkan. Saya ingin memaki. Mengasari. Marah. Tetapi posisi saya sebagai representatif kantor membuat saya ragu untuk melawan balik. Saya tidak tahu mau menjawab apa. Akhirnya, saya memutuskan untuk menghubungi atasan saya dan menceritakan apa yang telah terjadi.

Tangis saya pecah saat menceritakan insiden tersebut dengan klien. Saya bahkan sulit untuk menjelaskan dengan baik kejadian yang sebenarnya karena saya masih terguncang. Hati, pikiran saya tidak tenang. Saya merasa tidak aman. Kalut. Marah. Bingung.

*** 

Saya mengalami berbagai jenis pelecehan seksual dengan situasi yang berbeda-beda, belum termasuk insiden-insiden saat saya dilecehkan secara verbal atau catcalling. Tetapi insiden-insiden di atas ini adalah beberapa contoh saat saya, seorang perempuan yang dikenal asertif dan berani melawan, akhirnya tidak melakukan apa-apa saat dilecehkan. Sungguh, saya ingin bisa memukul, memaki, berkata-kata kasar dan membalas secara agresif jika waktu bisa diulang kembali. Tetapi kenyataannya, saya terpaku. Dan selewat kejadian-kejadian tersebut, saya sangat kecewa dengan betapa tidak berdayanya saya.

Baru-baru ini, saya memutuskan untuk berkonsultasi dengan psikolog. Salah satu tujuan yang ingin saya capai adalah saya ingin bisa lebih baik menghadapi trauma semacam ini. Entah itu berarti saya tidak lagi terdiam saat “diserang” seperti ini atau lebih cepat pulih dari trauma hingga tidak berlarut-larut mengalami kecemasan di hari-hari berikutnya.

Kami akhirnya berdiskusi mengenai kecenderungan pelecehan seksual tersebut. Walau dianggap sebagai tindak kriminal, sejatinya sangat sulit untuk mengharapkan sebuah tanggapan yang tegas terhadap pelaku pelecehan seksual. Semisal, saat sedang berjejal-jejal di kendaraan umum, bagian intim kita dipegang. Bisa saja, saat kita teriak dan menuduh, si pelaku hanya bilang “Oh, kan kesenggol, tidak sengaja,” atau malah sekalian menyangkal. Tidak ada bekas tangan dengan sidik jari yang menjadi bukti konkret saat kita melaporkan kejadian itu kepada pihak yang berwajib. Masa kita harus membawa-bawa kamera atau perekam suara agar saat terjadi kita bisa melaporkan ke pihak berwajib? Seperti yang terjadi di sini, pelecehan seksual dapat dilakukan demikian halus tersembunyi sehingga menyulitkan korban untuk melawan balik.

Atau, seperti salah satu insiden yang saya alami. Bagaimana saya bisa membela diri tanpa takut kehilangan pekerjaan, karena saya berurusan dengan kolega yang hierarkinya lebih tinggi dari saya? 

Diskusi kami berlanjut, saya membicarakan bagaimana saat dihadapkan dengan “serangan” seperti itu, saya merasa tidak berdaya. Tidak mampu melawan. Dan saya menyalahkan diri saya sendiri, mengapa saya begitu tidak mampu? Begitu lemah? Begitu tidak berdaya? Saya kecewa karena tidak berhasil merespon lebih baik, lebih agresif, lebih vokal untuk mempertahankan diri sendiri.

Psikolog saya berkata bahwa kenyataannya, respons manusia terhadap serangan terbagi menjadi 3 jenis, fight-flight-freeze (melawan-kabur-membeku/terpaku).

Fight, jika insting bawah sadar merasa diri mampu mengalahkan penyerang.

Flight, jika insting bawah sadar merasa tidak mampu melawan dan dapat melarikan diri dari situasi secara konkret.

Freeze, merupakan respons diri saat tidak bisa melawan tetapi juga tidak bisa melarikan diri dengan aman. Lumpuh. Dan freeze adalah respons paling umum bagi korban pelecehan.

***

Lalu bagaimana solusinya? 

Mengenai bagaimana agar tidak mengalami pelecehan seksual, jujur saja saya masih agak mampet. Tidak ada cara untuk menjamin bahwa setelah bangun pagi, kita tidak akan mengalami pelecehan hari itu. Tidak ada jaminan juga bahwa kita pasti akan mengalaminya minimal sehari sekali. Apakah upaya pencegahan itu ada? Tidak. Seringnya, tidak ada tanda-tanda juga bahwa kita akan dilecehkan.

Bagaimana dengan upaya mempertahankan diri? Mungkin bisa membantu. Tetapi menurut psikolog saya, hanya belajar bela diri saja belum tentu cukup. Menurut cerita yang Beliau sampaikan, tetap ada kasus seorang praktisi bela diri yang freeze saat diserang. Solusi yang sepertinya mempunyai potensi yang paling sukses adalah memiliki mindfulness. Katanya, dengan menguasai kesadaran seperti itu, kita akan bisa menanggapi serangan dengan lebih rasional. Entahlah. Saya juga masih akan mencoba. Digabung dengan seni bela diri juga sekalian, mungkin.

Konklusi sementara saya adalah kita tidak bisa bergantung bahwa orang lain akan menolong atau membantu kita saat “serangan” semacam ini terjadi. Sebisa mungkin, jangan lengah. Tetapi di sisi lain, kita juga tidak bisa terlalu siaga yang malah membuat kita selalu tidak aman, terlalu responsif, yang bisa menyebabkan kelelahan fisik dan batin.

Mengenai bagaimana untuk bisa pulih dengan trauma, psikolog menyarankan beberapa hal yang sesuai dengan kondisi saya.

Bercerita mengenai kejadian ini. Saya menyadari bahwa saya perlu bercerita kepada orang-orang yang mendengar, peduli, dan bersimpati. Bukan kepada orang yang menyalahkan secara langsung (“Ya elu sih pake baju kurang bahan”), maupun secara tersembunyi (“Ih kok lu diem aja sih? Kalo gue mah udah gue tendang kali ‘barangnya’ biar impoten sekalian.”)

Berbicara mengenai kejadian ini membantu saya untuk memberi konteks, dan juga membantu emosi saya untuk mengejar rasional dan logika saya, sehingga saya lebih tenang dan bisa merasa lebih seimbang.

Merawat diri. Cukup tidur, cukup hidrasi, dan makan enak adalah bentuk tindakan self-kindness yang bisa meningkatkan mood untuk merasa lebih baik. Juga, katakan hal-hal yang positif. Sebagai contoh, sang psikolog menyarankan saya untuk memaafkan diri saya sendiri karena tidak mampu merespons lebih. Bahwa, tidak apa-apa, it’s okay, saya berada dalam situasi genting yang tidak memungkinkan saya untuk merespons secara maksimal.

Bersosialisasi. Tidak melulu membicarakan apa yang telah terjadi, tetapi berada dengan orang lain membantu untuk saya kembali ke kehidupan normal. Bahwa sesungguhnya masih banyak hal lain di hidup ini yang bisa saya pikirkan dan lakukan. Bahwa walaupun insiden-insiden tersebut terjadi, saya mempunyai pilihan untuk tetap beraktivitas.

***

Akhir kata, saya juga masih tidak punya solusi permanen dalam menghadapi pelecehan seksual secara spesifik. Saya sendiri masih dalam proses. Akan tetapi, jika kamu di luar sana mengalami hal yang sama, kamu tidak sendiri. Dan jika kamu mendengar orang lain mengalami pelecehan seksual, tolong jangan disepelekan. Paling tidak, jadilah seorang pendengar tanpa menilai atau memojokkan. 

Dan tolong, jangan lecehkan orang lain. Kalau melihat ada orang yang sepertinya melecehkan, lakukan sesuatu.

Tolong.

[]

Advertisements