Blup… Blup… Blup…

Mau tau caranya?

Baskom, kamu isi air penuh-penuh. Kamu masukin kepalamu.”

“Trus, kamu teriak kuat-kuat. Sekencang-kencangnya. Sampe capek. Sering-sering aja begitu.

***

Di rumah, mahasiswa semester V itu pun mempersiapkan baskom penuh air. Sejenak, mendadak ia teringat masa kanak-kanaknya. Selalu kungkum air hangat ketika mandi, dan menghabiskan lebih dari 60 menit bermain air sampai kulit jemarinya kisut semua. Kehidupan terasa lebih hangat dan menyenangkan, ringan, tanpa beban.

***

Kian petang. Ia mulai menjalani petunjuk yang disampaikan beberapa jam sebelumnya itu. Bersimpuh menghadap baskom hitam yang bau plastik. Ndak pakai gerakan dramatis apa-apa, ia masukkan kepalanya ke air sedalam cuping telinga setelah menarik napas panjang.

HAAAAARGH…!” Ia mulai berteriak dalam air. Senyaring-nyaringnya. Sekuat tenaga. Sampai terasa panas batang tenggorokannya. Tindakan itu ia ulangi sampai empat atau lima sesi, masing-masing berlangsung kurang dari lima menit. Di sesi pertama, teriakan itu menggema dalam rongga kepalanya. Ia mendadak menghentikan latihannya. Takut-takut teriakannya terdengar seisi rumah. Bisa bikin kaget dan panik, pikirnya. Baru pada sesi kedua, ia sadar bahwa teriakannya hanya nyaring dalam bola kepala saja. Partikel air hanya menyisakan bunyi lirih, beserta letusan gelembung udara. “Blup… Blup… Blup…Ndak signifikan.

***

Kurang lebih lah.

Demikianlah “jurus” yang dibagikan seorang (almarhum) penyiar radio asal pulau Jawa–ninetyniners Bandung, begitu katanya–kepada penyiar magang, si mahasiswa. Berkaitan dengan pita suara, dan warna vokal untuk dipakai mengudara.


Era media sosial, sekarang. Ketika semua orang bebas berbicara, dan meninggalkannya di linimasa sendiri-sendiri untuk dibaca manusia lainnya, lalu berharap mendapat ratusan respons biar berasa populer. Ketika makin banyak “lulusan Twitter/Facebook/Instagram Institute”, ketimbang para ahli benaran. Ketika kata eksis mendadak punya makna sosial berbeda, dan seolah hanya bisa tercapai dengan bertindak ceriwis terhadap hampir semua hal. Mulai foto makanan sampai UMK. Dari kegalauan delusif sampai debat enggak penting tentang apa saja mengenai presiden ketujuh republik ini.

Khusus untuk contoh terakhir di atas, sumpah ya, melelahkan dan bikin muak saking seringnya. Tidak mustahil, Anda yang sedang baca tulisan ini sekarang, juga kerap menyimak bahkan tercemplung dalam perdebatan itu. Rata-rata dipicu posting-an di halaman depan Facebook. Bisa berupa status panjang lebar, juga berupa foto sharing-an dengan caption yang berparagraf-paragraf, atau tautan artikel tendensius dari situs-situs berkedok portal berita maupun blog yang Anda tahu sendirilah nama serta rupanya.

Mereka, yang terlibat dalam perdebatan berwujud puluhan hingga ratusan komentar, terlihat mengerahkan semua daya upaya untuk berargumentasi; berusaha menunjukkan bahwa hanya dia dan pemikirannya sajalah yang paling benar. Sedangkan partisipan lainnya tersesat, keliru, dungu, fanatik, pantas untuk dicemooh dan ditertawakan. Tanpa sadar, mereka seperti berteriak di dalam sebaskom air. Merasa nyaring dan menggemparkan, padahal kenyataannya hanya berupa bunyi mirip kentut setengah jadi.

Tidak ada yang luput dari kekonyolan ihwal perdebatan itu. Merasa terpanggil untuk menyampaikan pembelaan dan pernyataan penguat, padahal hanya dalam beberapa menit kemudian status pemicu perdebatan bergeser ke bawah, terganti dengan posting-an yang lain. Lalu, para pendebat dari kedua sisi pun tetap tak tergoyahkan. Teguh dalam hematnya masing-masing dengan cara yang boros tenaga. Tidak ada yang berpindah.

Ndak ketemu.

Seperti dua lingkaran dalam Diagram Venn. Terpisah sangat jauh, saking berbedanya, sampai-sampai ndak layak lagi disebut sebuah Diagram Venn. Setiap lingkaran mewakili/diisi orang-orang berpikiran homogen. Pendapat setiap orang dari lingkaran yang sama, diiyakan, diapresiasi, dan dipuji. Semua instrumen yang digunakan untuk memperkuat gagasan pun dianggap sebagai objek yang paling tepat, dan mewakili realitas. Sementara pendapat setiap orang dari lingkaran di seberang, ditolak, direndahkan, dan dihina. Itu pun kalau terdengar/sudi didengarkan dengan jelas oleh penghuni lingkaran satunya. Semua instrumen yang digunakan orang di lingkaran seberang pun dianggap sebagai objek abal-abal, hasil kamuflase, mengada-ada, dan kebohongan. Lagipula, tidak ada yang bersedia untuk ke luar dari lingkaran masing-masing. Nyaman secara khayali.

 

Mana yg benar?

Mungkin salah satu di antaranya.

Mungkin keduanya.

Atau mungkin tidak ada sama sekali.

 

Bukan perkara lingkaran mana yang benar dan salah, melainkan gaung semu yang hanya menggema dalam ruang terbatas; lingkaran homogenitas. Senyaring apapun dukungan atas sebuah pemikiran, atau sekeras apapun penolakan atas pemikiran yang berlawanan, hanya riuh rendah dalam lingkaran. Ndak peduli, mungkin juga ndak sadar kalau ternyata masih ada ruang tanpa batas di luarnya.

Walhasil, perdebatan nihil hasil. Membuang waktu, menyita perhatian dan konsentrasi, sok dramatis, tidak produktif, tanpa faedah yang berarti. Paling banter ya melatih kemampuan mengetik dengan cepat, meskipun kadang tidak tepat, banyak typo-nya.

Ehm, walau bagaimanapun, ialah hak setiap orang untuk ngapain aja, terlebih di dunia maya. Selama tidak ad hominem alias penghinaan yang bisa dituntut sebagai delik aduan, ya terserah Anda saja. Satu hal yang pasti: itu ngganggu. 🙂


Anyway, rupanya “jurus” teriak dalam air tidak mempan memodifikasi pita di tabung tenggorokan. Sampai saat ini, suara saya masih cempreng. Berasanya sih bikin ilfil. Tidak terdengar dalam, teduh, dan menenangkan seperti kebanyakan suara cowok yang sudah rampung pubertasnya. Malah ketambahan sengau, mirip orang yang baru kelar selesma.

[]

Advertisements

Sedikit tentang Perempuan

Perlu waktu sembilan tahun, sampai Church of England bersedia memperkenankan perempuan untuk jadi uskup.

Dimulai pada 2005. Kritik atas terbatasnya gerak kaum perempuan dalam tubuh gereja Anglikan khas Inggris itu dikemukakan. Muaranya, voting sinode menyetujui amendemen peraturan tersebut Senin kemarin, beberapa jam sebelum pengumuman kenaikan harga BBM di sini.

Gebrakan besar–cuma bagi warga Inggris–ini belum menjamin akan ada uskup perempuan dalam waktu dekat. Bukan mustahil, gelombang penolakan terus mengalir, syarat prosedural tambahan dapat diberlakukan. Membebani langkah para perempuan yang terpanggil untuk menjadi uskup, dalam organisasi gereja yang dianggap bidah oleh gereja Katolik Roma itu.

***

Amina Wadud dan makmumnya.

Dukungan maupun hujat tak putus-putusnya dilontarkan kepada Amina Wadud.

Perempuan 62 tahun itu menimbulkan kontroversi global, setelah bertindak sebagai imam Salat Jumat di Manhattan, juga pada 2005. Salat Jumat yang diikuti seratus orang (60 perempuan, 40 laki-laki) tersebut tanpa pemisahan saf, muazinnya juga seorang perempuan.

Salat dilangsungkan di Synod House, sebuah bagian dari katedral. Pasalnya, tiga masjid setempat menolak Amina Wadud dan makmumnya. Lalu, satu tempat netral yang sejatinya adalah pusat aktivitas religius-pluralistis India mendapat ancaman bom gara-gara bersedia menerima Amina Wadud. Synod House dipilih, karena Amina Wadud ingin menunaikan salatnya di tempat yang tersucikan secara spiritual.

***

Ndak perlu nunggu 21 April, Mother’s Day, atau peringatan-peringatan sejenis untuk nulis soal perempuan, atau membicarakan topik yang pakai embel-embel kata “emansipasi” di depannya. Toh, meskipun diskursus atau pembicaraan mengenai kesetaraan antara laki-laki dan perempuan selalu digencarkan pada momen-momen tertentu setiap tahun, tetap belum bisa mengubah realitas di beberapa bidang yang terjadi hingga saat ini.

Dua contoh di atas, misalnya. Sebagai peristiwa yang tergolong terlalu sensitif untuk dibicarakan di warung kopi sambil mengudap pisang goreng, tapi terlalu penting untuk dilewatkan sebagai momen pergolakan keperempuanan, urusan uskup gereja Anglikan maupun Amina Wadud tentu tidak bakal dicueki dan menguap begitu saja. Hanya saja sedinamis apapun pembahasannya, pasti buntu begitu berhantaman dengan pernyataan: “Mau punya uskup perempuan? Sudah sesat makin sesat!”, atau “Sampai kapan pun, perempuan tidak boleh jadi imam. Melanggar fikih!” Menegaskan bahwa kitab suci–agama-agama Samawi, khususnya–sudah mencantumkan ketentuan baku bagi posisi perempuan dalam urusan agama. Saklek. Ada perempuan yang menerima kenyataan ini dengan pasrah, tapi tak sedikit pula yang merasakan protes dalam hati.

Agak berbeda dengan pandangan agama-agama non-Samawi. Perdebatan tentang keperempuanan dan institusi agama bisa terkesan tarik ulur. Salah satunya, upaya membangkitkan kembali tradisi Bhikkhuni Buddhisme Theravada, yang telah punah sejak beberapa abad lalu dan dinilai mustahil untuk diselenggarakan lagi sampai saat ini. Mustahil, bukan lantaran tidak boleh, melainkan perangkatnya sudah tidak ada. Itu sebabnya, perempuan Buddhis Theravada zaman sekarang paling mentok hanya bisa ditahbiskan menjadi Atthasilani (seperti yang bisa ditemukan di STAB-STAB). Atthasilani kurang lebih sejajar dengan Samanera, calon Bhikkhu, plus beberapa aturan tambahan demi muruah kaum hawa. Sementara dalam Buddhisme Mahayana, keberadaan Biksuni masih ada, termasuk di Indonesia.

Terlepas dari itu, perempuan tetap memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki dalam hal prestasi spiritual. Perempuan juga bisa mencapai kebuddhaan sebagai Arahat, sebagai orang yang diajari. Sedangkan perempuan Buddhis yang umat awam dapat dilatih dan diangkat menjadi Pandita; berhak berceramah, berhak memimpin Puja Bhakti, berhak mengesahkan pernikahan, berhak menjadi kepala vihara.

Obrolan di atas baru pada ranah agama. Lumayan susah diotak-atik. Belum lagi pada ranah-ranah yang lain.

***

Sampai saat ini, sebagian besar manusia dengan selangkangan berbatang, masih kerap memperlakukan perempuan dengan tindakan dan perspektif yang tidak patut. Tak jarang berlaku secara komunal, menjadi budaya dalam lingkup bermasyarakat. Walaupun belum tak semuanya dikategorikan sebagai kejahatan.

Buktinya, seperti tulisan Gandrasta dua pekan lalu. Ketika perempuan seakan-akan boleh distempel dengan label “Penjahat Sosial”, jika masih lajang di usia 30 tahun ke atas. Dengan label tersebut, mereka digunjingkan, dicibir, diejek, didesak, orangtua mereka juga ikut-ikutan dibuat gusar, dan dikelilingi dengan ketidaknyamanan. Pertanyaannya, siapa yang memperbolehkan tindakan cap-mengecap itu? Sudah idealkah kehidupan rumah tangga si pengecap? Sebegitu kurang kerjaankah si pengecap, sampai ngepoin kehidupan pribadi orang lain?

Isu lainnya, terkait keharusan bagi para calon Polwan untuk menjalani pemeriksaan keperawanan, sebagai bagian dari tes kesehatan. Oke, pemeriksaan keperawanan memang disebut bukan sebagai penentu kelulusan, tapi kita tetap berhak mempertanyakan alasannya. Sebegitu pentingkah motifnya? Apakah tindakan ini masih didasarkan pada pandangan konservatif yang menganggap bahwa selaput dara adalah bukti kesucian? Sehingga tidak utuhnya selaput dara menandakan bahwa si empunya adalah perempuan hina? Terus, kalau dianggap hina, boleh makin dihina-hina harga dirinya, begitu? Kalau iya, duh, masih punya empati enggak ya?

Kemudian, masih ihwal selaput dara juga, para laki-laki kerap merendahkan perempuan. Memang terdengar remeh, dan seringkali dianggap sebagai kelakar ringan, bikin ketawa. Namun ungkapan “buka segel” saat malam pertama seolah menempatkan seorang perempuan, sang istri, laiknya barang yang baru dibeli di swalayan. Lembar etiketnya mencantumkan amaran: “jangan diterima apabila segel rusak/terbuka.” Kalau begini, apa bedanya antara pernikahan dan jual beli, dengan maskawin sebagai banderolnya? Sayang, belum ditemukan metode untuk mengenali titit perjaka dan titit berpengalaman, yang pemiliknya seringkali dijadikan mentor rekan-rekannya.

Sama halnya dengan kekeliruan sosial yang terus dipertahankan sampai sekarang. Yaitu anggapan yang mengatakan “cowok nggodain cewek = wajar, cewek nggodain cowok = genit,” atau “cowok nembak cewek = wajar, cewek nembak cowok = agresif.” Bagaimanapun, perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki hati, pikiran, dan mulut. Kalaupun ada perempuan yang malu-malu, ada pula laki-laki yang terlalu dungu menangkap kode-kode umpan lambung di udara. Artinya, sama-sama memerlukan komunikasi, bukan gengsi. Kalau belum yakin cinta/ndak cinta, ya jangan seperti Rangga yang nggantungin Cinta sampai 12 tahun lamanya. Bikin puisi jago, giliran harus ngomong malah plonga-plongo. Untung masih ketolong cakep (#eh).

Satu lagi topik pembahasan yang tak kunjung kelar sampai sekarang. Jangankan perempuan, semua orang sepatutnya berbusana dengan sopan. Akan tetapi, apabila ada perempuan yang merasa nyaman dengan mengenakan rok mini atau pakaian seksi tanpa motif macam-macam (masih debatable), tidak serta merta bisa dijadikan pembenaran untuk melakukan perkosaan, bukan? Memang ada istilah “namanya kucing disodori ikan”. Masalahnya, apakah kecerdasan semua laki-laki di Indonesia ini setara dengan kucing tadi? Ndak punya kekuatan untuk mengendalikan diri dari gejala fisiknya sendiri? Lucu, alih-alih menyalahkan pemerkosa, eh malah sang korban yang digelari gatel. Mau bagaimanapun, dalam sebuah aktivitas seksual yang dipaksa, perempuan lah korbannya. Perempuan yang diperkosa lalu kesenengan itu cuma ada dalam skenario film bokep. Dusta semua.

Menelus ke bidang lainnya, sampai kapan kecantikan dan lekuk tubuh perempuan dijadikan alat utama untuk mempromosikan dagangan? Jangankan yang jualan bra dan celana dalam berenda, lah wong iklan permainan online juga menampilkan perempuan dengan eksploitasi berlebihan di area belahan payudara. Ya bedanya samar sih, antara orang yang niatnya cari penghasilan, dengan pablik fijyer yang haus pujian dielu-elukan berbodi seksi.

Foto: Pinterest
Foto: Pinterest

Pun para bos. Memang berhak mengatur urusan personalia di perusahaannya dengan sesuka hati. Tapi, bakal ketahuan jelas bos itu adalah orang macam apa, bilamana lebih memilih pelamar yang modalnya hanya tubuh semlohai menggemaskan, ketimbang yang benar-benar kompeten dan sesuai kebutuhan perusahaan. Tindakan itu namanya apa, kalau bukan mengkondisikan perendahan perempuan? Bisa jadi para perempuan pun berlomba-lomba menampilkan keseksian, yang seringkali artifisial, dipaksakan, buatan, menghilangkan kecantikan alamiahnya.


Masih banyak sih, tapi mari kita akhiri saja sampai di sini.

Perempuan dengan segala kompleksitas, misteri, dan keindahannya. Bahan perbincangan dan sumber inspirasi yang tak ada habis-habisnya. Makhluk yang kerap mendapat perlakuan merendahkan, karena saking tinggi kedudukan asalinya.

[]

Santai Saja

Pertamax, Gan!

Bukan untuk membantu pemerintah mempromosikan bahan bakar nonsubsidi, ungkapan itu populer di semesta maya Nusantara sejak beberapa tahun terakhir sebagai ekspresi kebanggaan. Bangga, lantaran “berhasil” menjadi pemberi komentar pertama pada sebuah topik, mendahului ratusan atau ribuan respons lain. Walaupun sejatinya, “komentar” yang ditulis itu tidak menyampaikan apa-apa.

Memang, manusia adalah makhluk yang kompetitif. Punya kecenderungan untuk ingin selalu menjadi yang pertama. Sifat tersebut bahkan ditunjukkan secara alamiah sebelum terjadinya pembuahan, saat jutaan sel sperma mesti bersaing dulu-duluan berkontak dengan satu sel ovum. Sampai akhirnya menjadi bakal si jabang bayi.

Masih tentang keterciptaan serta keberlangsungan spesies kita, dan objek di selangkangan. Ada dugaan ilmiah bahwa manusia memiliki pelir berbentuk unik juga gara-gara alasan serupa. Jangan dikira adanya celah sambungan antara kepala dan batang cuma untuk mempermudah genggaman. Terdapat fungsi kompetitif dan praktis di balik kehadirannya. Agar menjadi pejantan pertama, yang jutaan sel spermanya bisa benar-benar bergerak efektif menuju calon pasangan.

Ketiga contoh di atas menggambarkan betapa pentingnya pencapaian manusia sebagai “yang pertama” terhadap keberadaan fisik, dan keberadaan sosialnya.

Faktanya, banyak orang di sekitar kita, karena gengsi dan didorong oleh ilusi harga diri, berusaha setengah mati untuk jadi “yang pertama” demi eksistensi. Kelihatannya sih gembira, entah apa yang mereka rasakan sebenarnya.

Misalnya, ada yang mbelani terbang ke luar negeri, untuk beli dan jadi pemilik iPhone 6 pertama di kotanya. Barangkali dia memang fanboy sejati, sehingga sudah tak sabar ingin menikmati semua fitur terbaru dari telepon genggam superpintar seharga satu unit motor bebek itu. Lain ceritanya kalau dia hanya pengin pamer kemampuan membeli, tapi ndak paham cara pakainya. Kasihan.

Ada yang girang luar biasa, jadi orang pertama yang berhasil membeli koleksi terbaru kaftan mahalan (apalah namanya itu) setelah fotonya diunggah ke Instagram. Barangkali dia memang perempuan dengan selera berbusana yang mumpuni, sehingga giat berburu kaftan berkualitas tinggi. Lain ceritanya kalau dia hanya ingin ikut-ikutan tren, supaya ikut terlihat happening saat sedang arisan bersama teman-teman. Norak.

Ada yang berusaha tetap bersikap rendah hati, setelah namanya dicatat besar-besar sebagai donatur pertama dalam acara malam amal prestisius di grand ballroom hotel berbintang. Sebuah acara mewah berkelas yang dihadiri para konglomerat, selebritis, dan pejabat tinggi. Barangkali dia memang orang kaya yang punya jiwa sosial tinggi, ingin membagi sedikit hartanya untuk membantu panti asuhan, dan sebagainya. Lain ceritanya kalau ternyata dia hanya berharap mendulang reputasi, pengakuan, dan predikat terpuji di mata orang lain. Pencitraan.

Pernah berhubungan dengan orang-orang seperti itu? Apakah Anda terusik? Apabila iya, mungkin Anda iri. Kalau tidak iri, barangkali Anda cuma kurang kerjaan, sampai bisa memerhatikan orang lain dengan porsi yang agak berlebihan. Soalnya, bagaimanapun juga, semua tindakan mereka itu tidak ada sangkut pautnya dengan Anda. Mereka berangkat ke luar negeri, membeli barang-barang supermahal, dan berdonasi dengan uang, tenaga, dan waktu mereka sendiri. Dan Anda bisa dengan mudahnya mlengos begitu saja sambil berseru “bodo amat, bukan urusan gue inih!

Toh kalaupun mereka melakukan semua itu untuk tujuan yang kurang tepat, ada risiko dan konsekuensi yang bakal mereka hadapi sendiri. Jangan lupa, semua orang dibekali kemampuan untuk belajar dari pengalaman.

Kucingnya orang.
Kucingnya orang.

Jika mereka terkesan berupaya setengah mati untuk menjadi “yang pertama”, biarlah itu menjadi urusan mereka saja. Kita tidak perlu ikut-ikutan ribet sok menasihati, sok cemburu, atau sok benar menyikapi tindakan mereka. Cukuplah bersikap cuek, dan kembali fokus pada apa yang sedang/harus kita lakukan. Masih banyak yang lebih penting untuk diselesaikan, ketimbang mengurusi orang lain.

Hal yang lebih penting tadi, termasuk menjaga diri kita agar jangan sampai–secara sadar atau tidak–ikut setengah mati ingin jadi “yang pertama” hanya gara-gara gengsi dan latah budaya.

Memutuskan nonton film tertentu biar terkesan update, padahal waktu nonton bosannya ndak karu-karuan. Tapi kemudian sok yakin menjelaskan nilai moral, sinematografi, serta interpretasi pribadi. Nekat pesan espresso saat mengunjungi kafe baru, lalu menyumpah dalam hati “sudah isinya sedikit, mahal, pahit lagi!” Tapi kemudian memproklamasikan diri sebagai pecinta kopi asli, bukan produk pasaran. Minta diundang ke pagelaran busana haute couture. Padahal boro-boro jadi buyer, isi kepala saja blank sepanjang acara. Datang ke pameran seni, hanya untuk foto selfie di depan karya-karya yang ada, meski ndak paham dengan apa yang dipamerkan. Tapi kemudian mengaku hipster, sebagai generasi dengan hobi baru yang belum lazim selama ini. Serta masih banyak bentuk-bentuk kelatahan yang melelahkan lainnya.

Lagipula, nyari apa sih dengan menjadi “yang pertama”? Kenapa ndak sekalian aja ngejar jadi “yang pertama” menghadap ke yang mahakuasa? Biar snobbish-nya lebih istimewa.

[]

650 Kata

Kapan terakhir kali Anda langsung tertidur pulas, kala tubuh sudah menempel di atas kasur?

Kapan terakhir kali Anda bangun dengan nyaman, tanpa langsung deg-degan dengan setumpuk kegiatan yang harus dilakukan?

Kapan terakhir kali Anda tersenyum pada diri sendiri, di hadapan cermin?

Kapan terakhir kali Anda tanpa sengaja merasakan lembutnya embusan napas, yang menyentuh ujung lubang hidung?

Kapan terakhir kali Anda hidup, untuk hidup?

***

Teringat salah satu poin dalam tulisan Ko Glenn; “Enough is Enough”. Saat generasi pekerja masa kini, merasa tenggelam dalam keletihan dengan mudahnya. Berbanding terbalik dengan perjuangan keras orangtua mereka dan orangtuanya orangtua mereka, yang bisa jadi jauh lebih memprihatinkan ketimbang saat ini gara-gara politik sanering, dipaksa eksodus besar-besaran karena keadaan, dan berbagai keterbatasan lainnya. Naga-naganya, saya adalah salah satu dari kelas pekerja yang mudah berkeluh kesah itu. Digenjot sedikit, sudah angkat tangan. Tapi enggan kalau belum mapan.

***

Hidup?

Melelahkan memang, hidup di masa yang serba materialistis seperti saat ini. Ketika kontradiksi tersaji setiap hari. Pertentangan terus terjadi antara keinginan dan beban. Antara harapan dan kenyataan.

Ajaran-ajaran moralitas mendorong semua pengikutnya untuk selalu bersyukur, berterima kasih atas segala berkah dan anugerah hidup, memetik hikmah dan nilai moral dari setiap peristiwa, benar-benar menikmati proses yang terjadi, serta selalu berpikir dan bersikap tenang dalam segala situasi. Sementara tuntutan hidup modern mendorong semua orang untuk tidak mudah merasa puas, tak pernah bercokol dalam zona nyaman, mengejar eksistensi diri setinggi-tingginya, fokus pada hasil, mesti selalu tertantang untuk melakoni moto “hari ini harus lebih baik dari kemarin, besok harus lebih baik dari hari ini, dan seterusnya”, menetapkan target-target pembuktian kesuksesan hidup berdasarkan anggapan umum, serta berambisi untuk mencapainya.

Semua tuntutan itu menempatkan kemiskinan dan kebodohan sebagai salah satu momok menakutkan. Hantu Blawu yang meninggalkan coreng-moreng memalukan. Benar aja sih. Siapa yang mau miskin harta dan kecerdasan? Termasuk orang-orang kelompok pertama sekalipun. Yang selama ini selalu dibiasakan untuk tetap mampu menjalani hidup, apa pun keadaannya, dengan prinsip: “ndakpapa miskin atau bego, yang penting bahagia, cukup, mau usaha, ndak ngemis, ndak maling.” Sebuah sikap batin yang sejatinya kaya.

Ditimbang-timbang, sebenarnya tak ada yang salah dari cara pandang keduanya. Sama-sama berfaedah bagi kesejahteraan batin maupun jasmani. Kesalahan hanya terjadi apabila anggota kelompok pertama malas berusaha, berpangku tangan pada keadaan, menjadikan nasib sebagai alibi. Kemudian, kesalahan dilakukan orang-orang kelompok kedua bila menggunakan segala cara untuk melancarkan tujuannya. Mencederai kepatutan, tidak memberikan ruang hati untuk simpati sama sekali. Terkenal dengan celetukannya: “di dunia ini cuma ada dua keadaan: mengalahkan atau dikalahkan!”

Terserah Anda, ingin menjadi bagian dari kelompok pertama yang relatif tampak lebih adem ayem, atau menjadi bagian dari orang-orang yang cenderung gelisah mengejar keberhasilan. Barangkali ada yang tertantang berpindah, dari kelompok pertama menjadi kelompok kedua. Karena bekerja terlalu gontai. Ataupun ada yang tersadarkan untuk menjalani hidup yang lebih tenteram. Karena selalu tegang. Kendati pada kenyataannya, ada banyak orang yang hidupnya memang terkesan seimbang. Berkecukupan, namun tetap mampu selow berkehidupan. Apa rahasianya? Entahlah. Langsung tanya mereka saja.

Lalu, apa tujuan dari tulisan ini? Sejujurnya, saya ndak tahu pasti. Setiap orang punya kehidupannya masing-masing. Lengkap dengan daftar tanggung jawab dan hak yang semestinya tidak boleh diintervensi, apalagi dihakimi. Sebab semuanya dibarengi dengan konsekuensi.

Yang pasti, tulisan ini tidak dibuat seolah untuk menjadi pelepas dahaga di tengah gurun kekeringan, penyegar iman di tengah badai keraguan, penguat keyakinan di tengah kabut ketidakpastian. Ini hadir sebagai jeda dari hiruk pikuk hari Rabu Anda pekan ini, mengisi waktu saat berada di dalam kendaraan umum, pengalih pandangan dan perhatian dari segudang agenda kerja, estafet rapat dengan orang-orang asing, maupun setumpuk dokumen yang perlu Anda input dalam kolom-kolom Excel. Toh, setiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri, kan? Jadi agak kurang elok rasanya, bila tulisan ini dibuat untuk sok menasihati. Anda–yang baca, saya yakin juga sudah cukup dewasa untuk bisa berpikir sendiri. Dan itu adalah satu-satunya fakta yang kerap Anda lupakan, dan dimanfaatkan para motivator. Hehehe…

***

Ke dermaga mencari peti,

Peti dibuka, isinya kedondong.

Jangan drama jalani hari,

Biar enak, senyum dulu dong.

[]

Berani?

Apa artinya bertindak baik kepada diri sendiri, tanpa bertindak baik kepada orang lain. Lalu, akan sangat naif dan bodoh bila bertindak baik kepada orang lain, tetapi tidak diimbangi dengan bertindak baik kepada diri sendiri.

Mau yang mana? Kalau kata guru BP dan PPKn sih harus dijalankan dua-duanya.

Bisa? Barangkali. Entahlah.


Apakah saya orang baik? Mungkin, bagi beberapa orang. Tidak sedikit pula yang beranggapan sebaliknya.

Penilaian kedua dihasilkan dari beragam penyebab dan alasan. Toh, saya memang bukan manusia bebas cela. Sebab bahkan pada kenyataannya, saya masih bisa menyakiti hati orang yang mencintai saya. Telanjur menyakiti, walaupun niatnya bukan menjahati.

Sejauh ini, saya merasa wajar-wajar saja ketika dicap sebagai orang yang tidak baik. Soalnya, saya belum tidak mampu sesuci Gandhi, nabi, atau siapapun figur yang dikultuskan hingga kini. Sebuah realitas, tidak ada orang yang tingkah lakunya sempurna. Bukan lantaran pikiran, perbuatan, dan ucapan yang jahat, melainkan karena pandangan dan penerimaan yang tak sepakat.

Selajur dengan itu, monggo dilihat latar belakangnya. Apakah tindakan yang dilakukan memang bertujuan untuk membuat orang lain sakit hati, ataukah hanya kepengin jujur dan enggak sudi membohongi diri sendiri?

Tidak berbohong. Itu perbuatan baik. Bersikap jujur. Itu juga perbuatan baik. Tapi keduanya kerap bermuara pada ujung yang terpisah jauh.

Kejujuran sejatinya sering terasa pahit dan menyakitkan. Memerlukan kesiapan dan keberanian untuk disampaikan. Namun bagaimanapun juga, kejujuran adalah kejujuran; menyingkap kebenaran. Sehingga, silakan dipilih. Mau bertindak baik dengan jujur, atau bersikap baik dengan menghindarkan orang lain dari perasaan sakit hati.

Jika mengambil pilihan kedua atas nama kehidupan sosial, rasa sungkan dan kasih sayang, memang tidak perlu melakukan tindakan buruk dengan berdusta. Cukup bungkam saja. Menjawab pertanyaan dengan diam, ataupun dengan senyuman. Meskipun demikian, tetap ada risikonya. Mulut yang terkatup rapat malah menimbulkan prasangka dan salah paham. Lebih runyam dampaknya apabila dibiarkan. Lagi-lagi, pada akhirnya masalah membutuhkan penjelasan.

Mungkin Anda pernah mengalami kondisi serupa, tapi dengan hasil akhir yang tak sama. Wajar saja, setiap orang yang menghadapinya berhak mengambil keputusan lewat pertimbangan berbeda-beda. Dalam perkara ini, orang lain hanya muncul dan memberikan suara. Itu saja peran mereka. Karena selain tuhan, setiap orang adalah pemilik, penanggung jawab, dan penentu arah kehidupannya masing-masing.


Jadi, setelah siap menerima kejujuran orang lain, sudah berani jujur pada diri sendiri?

[]

Keep Moving On

Anda tahu ban tubeless, ban tanpa ban dalam? Apabila ban jenis itu tertembus paku, tukang tambal akan mengeluarkan alat berbentuk huruf “T”. Cara memegangnya: bagian kepala “T” digenggam, sedangkan kaki tunggalnya terselip ke luar, di pangkal sela jari telunjuk dan jari tengah.

Besi yang terselip ke luar genggaman serupa batang obeng. Ujungnya lumayan tajam. Tapi bentuknya dibuat seperti jarum mesin jahit: ada lubang di dekat bagian lancipnya. Di lubang tersebut, tukang tambal menyelipkan sehelai karet khusus. Terlihat lunak seperti permen karet yang sudah dikunyah, warnanya oranye kemerahan seperti pinang sirih bekas. Baunya? Entahlah.

***

Semua orang ingin bahagia. Tidak ada seorang pun–termasuk orang dengan gangguan jiwa–yang ingin merasakan derita. Sekecil apapun dampaknya, seremeh apapun bentuknya.

Semua orang bahkan ingin terus-terusan bahagia. Hingga dipanjatkan doa; “jauhkanlah kami dari segala penderitaan, tuhan.

Doa seperti itu tidak terdengar janggal. Wajar dan alamiah. Didorong insting paling dasar, bahwa kebahagiaan itu menyenangkan, dan penderitaan itu menyakitkan. Otak reptil manusia pun lebih banyak bekerja, memberikan dorongan untuk selalu mencari kesenangan-kesenangan, dan berlari menjauh dari lawan-lawannya.

Ibarat seorang bocah penyuka gula-gula. Dinikmatinya manis jilatan demi jilatan. Kemudian, saat gula-gula itu sudah habis, ia akan kembali mencarinya, lagi dan lagi. Saat tak mendapatkannya, ia akan merengek, menangis, atau meraung-raung. Setelah memperolehnya lagi, ia pun kembali girang, tenggelam dalam kenikmatan. Tanpa paham apa yang sebenarnya sudah dan bakal ia rasakan. Begitu seterusnya. Tidak sadar, bahwa doa tadi terkesan menyepelekan tujuan semesta, tuhan, dalam keterciptaan manusia.

Manusia memohon agar selalu diberi kebahagiaan, dan dihindarkan dari penderitaan. Sang bocah menyukai gula-gula, dan mengamuk saat tidak mendapatkannya. Ketika mendapatkan gula-gula, sang bocah merasa bahagia. Ketika gula-gula itu habis dilumat, karena memang begitu semestinya, sang bocah merasa kehilangan. Kebahagiaan tadi hilang perlahan dan mulai berganti jadi penderitaan.

Saat sang bocah tidak mendapatkan gula-gula kegemarannya, ia pun menangis histeris, berteriak, berguling-guling di lantai, berontak hebat saat akan digendong. Penderitaan yang ia rasakan makin hebat, tambah kuat, berkali lipat lebih menyakitkan dibanding sebelumnya.

Pertanyaannya, siapa atau apa yang menyebabkan kebahagiaan itu hilang, dan berganti menjadi penderitaan hebat? Gula-gula? Orangtua? Keadaan? Bocah itu sendiri (dalam keadaannya yang memang belum dewasa)? Lainnya?

Demi menghindari penderitaan, haruskah kita musnahkan semua gula-gula yang ada di dunia? Haruskah kita salahkan orangtua yang memperkenalkan gula-gula itu kepada anaknya? Haruskah kita salahkan orang yang pertama kali menemukan cara membuat gula-gula? Termasuk orang yang menjual gula-gula? Haruskah kita salahkan sang bocah atas kelakuannya? Atau haruskah kita salahkan waktu, karena sang bocah masih “bocah”, saat pertama kali merasakan gula-gula?

Di sisi lain, bisakah sang bocah menyalahkan orangtuanya, karena tidak memberi gula-gula?

***

Paku dicabut dari permukaan ban tubeless itu. Panjang. Bunyi angin terdengar kencang mendesis.

*JLEBBB!*

Dalam sekejap, ujung batang besi yang telah diselipkan karet merah tadi ditusukkan dalam-dalam, tepat di lubang luka ban.

***

Prinsipnya sederhana, dan telah berkelebatan dalam pikiran manusia sejak dahulu kala. Bahagia dan derita. Dua hal berbeda yang tak ubahnya kembar dempet; tidak bisa dipisahkan. Mengapa? Karena, kita tidak akan tahu betapa menyenangkannya bahagia, apabila kita belum pernah tahu bagaimana rasanya menderita.

Jadi, harus menderita melulu? Biar gampang bahagia?” Bukan dong. Itu mah sama saja dengan bunuh diri secara perlahan.

Bisa dipikirkan masing-masing deh. Siapa atau apa yang menetapkan batasan “kalau begini bahagia”, “kalau begitu menderita” dalam hidup ini? Orangtua? Agama? Sekolah? Tetangga? Bos? Ego? Guru? Pak Polisi? Pikiran? Ehm… Ya, barangkali itu jawabannya; pikiran.

Percuma bila semesta, tuhan, menganugerahkan dengan limpahan kebahagiaan, kalau pikiran tidak menyadari dan memperlakukan semua itu dengan sebagaimana mestinya. Alih-alih bahagia, bisa saja malah selalu menderita. Sebaliknya, dapat benar-benar dirasakan bahwa bahagia itu sederhana. Bagaimana seseorang bisa dibuat menderita, kalau ia selalu menemukan hal atau alasan kecil yang membuatnya bahagia?

Ada jawaban lain yang lebih tepat selain pikiran? Entahlah. Mungkin ada. Siapa yang tahu, mohon dibagi ya. 🙂

***

Ujung besi “T” tadi telah tertancap kuat di lubang ban tubeless bolong. Lubangnya menjadi lebih lebar.

*ZETTT!*

Kurang dari sepuluh detik kemudian, tukang tambal menarik alat itu kuat-kuat. Menyisakan ban yang lubangnya tambah leb… Loh? Lubangnya kok tertutup. Tertambal “permen karet” bekas berwarna kemerahan itu.

Ban tubeless itu kembali kencang. Siap melajukan kendaraan, mengarungi jalanan, bahkan bertemu dengan paku-paku tajam lainnya. Setiap kali tambalan itu menyentuh aspal, ia menjadi semakin kuat. Lubang kian tertutup rapat.

***

“No one can make You happy but Yourself.”

Mari beranjak. Berbaik sangkalah terhadap kehidupan.

[]

Mau Nonton Apa?

Sebut saja dia mbak XY.

Usianya mungkin sekitar 22 tahun. Tidak mungkin lebih tua, karena dia masih berlari lincah setelah turun dari busway. Seperti pekerja metropolian seusianya, dia sering kesal melihat macet. Kekesalan itu tak berlangsung lama. Paling tidak sudah mereda saat masuk parkiran mall sebelum jam buka. Dia berjalan melenggang ke lift yang membawanya ke lantai paling atas di mall ini. Sambil memainkan hape dengan cekikikan tanpa melihat sekeliling, dia keluar lift menuju ruangan yang luas. Dengan penuh keyakinan , dia masuk ke sebuah pintu dengan tulisan “Yang Tidak Berkepentingan Dilarang Masuk“.

Jelas-jelas dia punya kepentingan. Sangat penting malah. Saking pentingnya, dia pun perlu mentransformasi dirinya sedemikian rupa. Dalam beberapa jam, pintu pun dibuka, dan … oh la la!

Mbak XY kini tampil anggun dengan cepolan sanggul yang terikat rapi di atas kepala. Lipstik merah di bibir serasi dengan riasan muka yang menambah usianya. Mbak XY tidak lagi jalan sambil cekikikan. Langkahnya santai. Dia tahu arah yang dituju. Sesekali dia menyapa rekan-rekan kerjanya, baik yang berbaju biru gelap maupun berseragam putih. Dia menuju meja panjang di sebuah sudut. Setelah duduk, dia menyalakan komputer, printer, lalu mengangkat tulisan “Closed”. Sambil tersenyum, dia berkata:

Selamat datang. Mau nonton apa?

Ya, mbak XY dan teman-teman seprofesinya yang tersebar di seluruh penjuru bioskop di seluruh dunia ini adalah orang pertama yang menentukan nasib kita dalam 2-3 jam ke depan. Apalagi kalau anda termasuk orang yang belum tahu mau nonton apa, dan baru memutuskan mau nonton apapun yang ada di bioskop saat itu. Misalnya:

Selamat datang. Mau …

“Uuuhh … Guardians of the Galaxy itu film apa ya, mbak? Kok kayak kartun tapi ada orangnya gitu? Kalo Grace of Monaco itu apa ya, mbak?”

Ini jawaban dari mbak XY: “Guardians itu film action komedi, banyak visual effect. Kalo Grace film drama.

Jawaban yang cukup netral, dan tidak menyesatkan. Atau mungkin anda sudah tahu apa yang mau anda tonton, tapi teman atau pasangan anda ragu-ragu.

The Great Gatsby yuk. Leonardo DiCaprio tuh.”

“Aaahh film apaan? Sejarah minyak rambut? Ogah. Kaya jadul gitu. Mending Fast & Furious.”

“Yaelah, bukannya kemaren udah nonton?”

“Ya gak papa. Filmnya lebih jelas lah, kebut-kebutan. Daripada judulnya gak familiar?”

Dan ujung-ujungnya, “Mbak, kalo Fast & Furious yang jam 7 malem, masih ada? Kalo gak ada, yang jam 9 deh. Kalo gak ada juga, The Great Gatsby aja, tapi jangan yang kemaleman. Dan kalo bisa duduknya di pojok, tapi jangan terlalu ke belakang.”

Ini yang dilakukan mbak XY:

  • tetep senyum
  • klik jam tayang film di depan customer
  • bilang, “Yang merah terisi, yang hijau masih kosong”, dengan nada suara otomatis
  • mungkin dia menjerit dalam hati “Yang ngantri masih panjang, cepetan milihnya, hadeeuh!”

Atau mungkin dia tidak berkomentar apa-apa selain, “Tiketnya harap dicek kembali, ya. Terima kasih, dan selamat menonton.”

Maklum, kalau dalam sehari ada 5 kali jam pertunjukan di masing-masing studio, katakanlah ada 4 studio di satu bioskop yang kapasitas kursi di tiap studio sekitar 150 kursi, berarti mbak XY dan teman-temannya harus berhadapan dengan sekitar 1.000 orang. Itu kalau tiap orang rata-rata beli 3 tiket.

Kalau 2 tiket? Ya makin banyak orang. Dan itu berlangsung setiap hari. Mungkin sebelum sempat kesal, udah keburu ada orang lain yang ngantri di belakang. Terlebih lagi, meja kerja mbak XY ini tidak boleh tidak beroperasi. Kalau mbak XY kebelet ke kamar kecil, ya ada loket lain yang harus buka. Kalau break makan, ada rekan lain yang akan menggantikannya.

Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg
Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg

Lalu kapan mbak XY nonton? “Ya kalo lagi off, mas. Sama aja, pake tiket, ngantri dari depan. Cuma ya kita udah tau lah mau nonton apa, hahaha.” Kerja tiap hari di bioskop, gak bosen emangnya nonton di bioskop? “Ya ke bioskop lain, mas. Tapi kadang nonton juga di sini. Kan enak ya, udah kenal sama temen-temen sendiri. Kalo bosen, ya nggak juga sih, mas. Kan filmnya ganti terus tiap minggu. Filmnya beda-beda gitu, ya gak pernah bosen lah.”

Somehow, her answer restores my faith in cinema, again. Jawaban yang terdengar dewasa dari usianya, mungkin karena tuntutan profesi juga, membuat saya makin percaya bahwa mbak XY dan rekan-rekannya adalah garda depan pengalaman menonton kita. Dari ujung jarinya, dia bisa membantu kita menentukan pilihan yang berujung kalau gak jadi seneng ya jadi bete. Dari tutur katanya, kita bisa tahu mana film yang rame, mana film yang sepi penonton. Dari pengalaman berinteraksi dengan ratusan sampai ribuan orang sehari, dia sudah bisa membaca karakter orang hanya dengan penglihatan sepintas saat mereka antri. Sesuatu yang mungkin layak untuk dianalisa mendalam, tapi tidak di ranah yang ringan ini.

Kalaupun ada yang mengancam kehadiran mbak XY, mungkin bisa jadi kehadiran online ticketing. Orang-orang seperti saya dan anda yang sudah tahu mau nonton apa, di mana dan jam berapa, pasti senang sekali dengan fitur human-less interaction ini. Apalagi ini hari Kamis, banyak film baru yang mulai keluar di bioskop hari ini. Pasti pengen buru-buru check jadwal bioskop deh selesai baca tulisan ini. Tapi beda lho rasanya disapa langsung dengan:

“Selamat datang. Mau nonton apa?”