Mau Aman? Pegangan!

Hampir bisa dipastikan, setiap hari saya menggunakan jasa ojek. Anda juga ‘kan?

Ojek sangat berguna, terutama untuk bepergian dalam kota. Terlebih lagi sejak kehadiran ojek online dengan kemudahan fitur pemesanan. Maklum, aktivitas kegiatan yang mengharuskan kita menclok dari satu tempat ke tempat lain dalam satu hari, membuat saya dan jutaan orang lainnya mencari cara tercepat untuk mengakali macetnya jalan raya. Jalanan ibu kota ini memang kejam.

Dan berbicara tentang kekejaman jalanan ibu kota, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Ini berdasarkan pengamatan sehari-hari. Berada di sisi penumpang membuat kita menghabiskan waktu dengan melihat banyak hal di sekitar kita dalam jarak sangat dekat.

Saya melihat semakin banyak penumpang kendaraan bermotor yang mengeluarkan dan menggunakan smartphone selama berkendara.

(Thank you, Google Image!)
(Thank you, Google Image!)

Call me weird or paranoid, tapi memang justru saya yang jadi khawatir melihatnya. Ada alasan yang sangat personal atas kekhawatiran saya.

Sekitar tiga tahun lalu, ponsel saya dijambret waktu saya duduk di dalam bajaj. Padahal saya duduk tidak bersandar terlalu dekat ke pintu. Memang waktu itu saya menggunakan ponsel untuk chatting dengan beberapa teman. Jalanan yang cukup sepi menuju kantor membuat saya berpikir bahwa harusnya perjalanan bisa berjalan aman. Yang terjadi malah sebaliknya.

Sejak saat itu, sebisa mungkin saya tidak mengeluarkan atau menggunakan ponsel saat berkendara. Kalau pun terpaksa, biasanya untuk membuka Google Maps saat pengendara dan saya sama-sama tidak tahu jalan. Daripada the blind leading the blind ‘kan? Tapi itu pun cukup sebentar saja untuk mengetahui patokan arah perjalanan.

Selebihnya ponsel disimpan kembali ke kantong atau tas. Segala macam urusan pembicaraan, janjian, balas email, sebisa mungkin dilakukan sebelum naik ojek.

(Thank you, Google Image!)
(Thank you, Google Image!)

Beberapa teman pernah mengemukakan alasan mereka untuk tetap beraktivitas selama di ojek:

“Gue masih bisa produktif, bok. Ngomong ama klien, ngatur jadwal meeting.”

“Ya daripada bosen di jalan kan, mending liat sosmed atau sekalian streaming aja.” (Ada lho!)

Deadline. Diburu-buru banget soalnya.”

Biasanya alasan-alasan itu saya terima dengan anggukan.
Selesai mengangguk, saya akan mengatakan tiga kata yang sama untuk semua alasan yang berbeda:

“IT CAN WAIT!”

Berbicara dengan klien atau teman, mengatur jadwal, sampai bekerja atau membayar tagihan, semua bisa menunggu.

Lagipula, alasan paling utama kita untuk memilih ojek adalah kecepatan. Supaya cepat sampai. Oke, mungkin banyak yang memilih karena alasan ekonomis, which I completely agree. Tapi kecepatan motor di jalan raya masih menjadi alasan utama kita memilih moda transportasi ini.

Tentu saja faktor kecepatan ini hadir dengan resiko. Supir yang menerobos lampu merah, jalan di jalur busway, bersinggungan dengan motor dan mobil lain. Saya sudah pasrah berapa kali kaki ini terantuk bemper mobil karena pengendara ojek ceroboh. Sudah complain, sudah ngomel, tapi apakah ada jaminan bahwa kejadian tersebut tidak terulang lagi?

(Thank you, Google Image!)
(Thank you, Google Image!)

Dan ketika kita bisa mencapai tempat tujuan dengan cepat dibanding penggunaan moda lain, barulah kita bisa melakukan semua aktivitas kita yang tertunda dengan nyaman. There’s always time for everything. There’s always time for all we need to do.

Kalau hidup ini penuh dengan pilihan, maka pilihan saya adalah menunda demi keamanan. Yang penting cepat sampai tujuan in one piece. Jadi ini pegangan saya.

Nah, jadi apa yang Anda pegang supaya aman?

Advertisements

Buka, Sentuh, Tunggu, Bayar

Gampang ya?
Eits, belum tentu!
Semuanya tergantung pada kekuatan masing-masing.
Kalo punya situ ndak kuat ya ndak bisa buka. Apalagi sampai bisa nyentuh dan bayar.

Kita lagi ngomongin apa sih ini?
Nggak tahu kalau Anda lagi memikirkan apa, tapi yang jelas, saya lagi mau ngomongin online booking untuk ojek.

(Courtesy of ojekbalitours.com)
(Courtesy of ojekbalitours.com)

Kalau Anda sedang berada atau memang warga Jabodetabek, tentu sudah tidak asing lagi dengan kehadiran jasa ojek ini. Kita bisa memesan dengan mengunduh aplikasi pemesanan ojek lewat telepon selular kita.
Setahu saya, yang pertama hadir dan langsung populer adalah GoJek. Awalnya hanya untuk jasa kurir barang atau dokumen. Lalu berkembang menjadi jasa antar, dan pemesanan makanan.

Setelah beberapa lama, perusahaan GrabTaxi meluncurkan “second line” bernama GrabBike. Saat ini, armada sepeda motor GrabBike masih fokus pada jasa pengantaran penumpang saja. Tapi dengan demand terhadap jasa layanan angkutan motor yang terus berkembang, bukan tidak mungkin GrabBike pun akan menambah layanan seperti GoJek.

Kebetulan saja kedua brands ojek ini mempunyai warna yang sama, yaitu hijau. Maka kita pun sudah tak asing lagi melihat pengendara motor menggunakan jaket warna hijau, dan helm warna hijau di jalanan-jalanan ibukota dan sekitarnya. Kita pun sudah familiar di tempat-tempat makan populer melihat supir GoJek mengantri makanan pesanan yang segera diantarkan ke pelanggan. Itu kalau pelanggan berhasil booking jasa layanan GoJek lho ya.

Maklum. Mungkin saking populernya aplikasi ini, dalam beberapa minggu terakhir sering terdengar keluhan, termasuk dari saya sendiri, kalau susah sekali menemukan supir GoJek yang mau mengambil pesanan. Sementara itu, beberapa supir GoJek ada yang mengaku kalau pesanan tidak sampai ke gawai mereka. Baik GoJek maupun GrabBike sering overload kalau di waktu peak hours. Jadi buat mereka yang memesan jasa ojek kedua brands ini sering harus menunggu lebih lama lagi.

Nah, di sini menariknya.
Ada perubahan sikap dari konsumer pengguna transportasi umum yang tidak massal. Selama ini, kita terbiasa menghela taksi dengan melambaikan tangan ke taksi yang lewat. Kita langsung menghampiri tukang ojek di pangkalan, atau dihampiri. Jadi sebisa mungkin, prosesnya berlangsung cepat. In an instant, we get what we want.

(Courtesy of hp-yitno.blogspot.com)
(Courtesy of hp-yitno.blogspot.com)

Kalau pakai aplikasi?
Kita harus buka aplikasi. Loading. Menunggu sampai terhubung ke akun. Lalu kita arahkan peta sampai ke titik paling dekat dengan kaki kita. Kalau gak ketemu? Harus diketik. Lalu menentukan tujuan. Click. Masukkan kode promo, alias faktor utama kita rela melakukan proses-proses ini. Lalu click lagi. Kita menunggu sampai ada yang mau mengambil request kita. Harap-harap cemas kalau gak dapet. Begitu ada yang mengambil, apa kita lega? Belum. Kita hapalkan nomor polisi. Lalu kita tunggu, sampai akhirnya taksi atau ojek yang kita pesan benar-benar datang.

Lebih lama dari sekedar memanggil langsung di pinggir jalan, ya?

Makanya, saya sering tersenyum sendiri melihat orang-orang di pinggir jalan, terutama yang dekat pusat pertokoan, kantor, atau tempat umum lainnya, semua sibuk memegang ponsel masing-masing.
Ekspresinya sama, yaitu melihat ke gawai, melongok sesekali, berharap taksi atau ojek yang dipesan datang. Untuk pertama kali, kita dengan cermat melihat nomor polisi taksi, mobil dan sepeda motor dengan cermat. Kalau perlu sambil komat-kamit.

Ternyata yang namanya generasi millenials seperti kata Gandrasta, atau generasi yuccies kata Dragono, rela lho melakukan proses yang lebih lama ini. Siapa bilang mereka gak sabaran? Ini buktinya, pesan ojek sampai datang mungkin lebih lama dari actual traveling time. Yang penting kan digital, bro!

Tentu saja yang namanya human error akan sering terjadi. Apalagi tidak ada yang pernah pasti di jalanan ibu kota Indonesia ini. Ditambah pula miscommunication antara pengemudi dan penumpang sudah pasti terjadi.
Dan semua bentuk miskomunikasi ini, walaupun waktu terjadi tentunya sangat menyebalkan, kadang suka bikin kita ketawa sendiri.

Contohnya:
1. (dari teman perempuan)
“Keluar dari Lotte Avenue, gue berdiri nih Val, nunggu pesenan GrabBike. Terus dia sms, katanya “saya di seberang bu, di Ambas.” Ya udah, gue jalan ke sana. Pas sampe sana, tiba-tiba ada yang nyuitin gue! Berkali-kali! Kenceng banget! Pas gue noleh ke arah suara itu, dia dadah-dadah ke gue. Trus kok ya gue bales dadah balik ke dia ya? Asli, bodoh banget!”

2. (kejadian kemarin, ketika saya mengarahkan lokasi ke supir taksi via telepon)
“Pak, saya di lobby samping. Bukan yang di lobby depan. Bapak tinggal jalan lurus sedikit dari …”
(tiba-tiba saya gak konsen karena di depan ada ibu-ibu dengan volume suara 7 kali lipat dari saya, berteriak di teleponnya)
“Hey! Kau ini di mana? Aku sudah berdiri lama sekali ini kau tak muncul-muncul! Kau ini supir ojek tak tahu jalan, tak bisa baca peta ya? Yang ke Tanah Abang! Tanah Abaaang! Dengar tak kau?”
(saya bengong sebentar, lalu melanjutkan pembicaraan ke supir yang juga belum datang)
“Pak, tadi dengar juga kan?”

3. (pesan makanan)
Saya ketik di kolom tambahan pemesanan makanan “sate satu porsi, nasi setengah” untuk memastikan pesanan.
Ketika pesanan datang dan saya buka, yang terjadi sebaliknya. Nasi satu porsi, sate setengah porsi.

Dan selebihnya, silakan lihat foto-foto di bawah, semuanya dari pengalaman saya sendiri.

Positive thinking saja. Mungkin semua tanda baca berupa tanda tanya dan titik di ponselnya sudah berubah menjadi tanda seru. Bisa aja 'kan? Iyain aja.
Positive thinking saja. Mungkin semua tanda baca berupa tanda tanya dan titik di ponselnya sudah berubah menjadi tanda seru. Bisa aja ‘kan? Iyain aja.

 

Mungkin ini EYD baru dari terjemahan bahasa Indonesia atas kata "lobby".
Mungkin ini EYD baru dari terjemahan bahasa Indonesia atas kata “lobby”.

 

Aku harus jawab apa, mas?
Aku harus jawab apa, mas?

 

#OjekRomantis
#OjekRomantis

 

Dapat dari akun Path teman. Selain penasaran siapa copywriternya, siapa ya modelnya?
Dapat dari akun Path teman. Selain penasaran siapa copywriternya, siapa ya modelnya?

Mungkin mau menambahkan? Atau sekalian mungkin GoJek dan GrabBike mau bikin kontes video pendek cerita pengalaman penumpang*?

Silakan. Dan silakan berbagi cerita pengalaman Anda di kolom komentar ya.

*Yes! Ajak Linimasa kalau nanti ada lomba ini beneran! You heard the idea here first.