Ada Marta dalam Martabat

Baru ngeh kalau Michael Moore merilis film baru dari Agun, langsung saya cari dan tonton tentunya. Walau dokumenter ala Moore memang tak jarang hanya menyentuh permukaan masalah, dan terkadang merupakan simplifikasi, tetapi saya selalu terhibur, dan terusik untuk mencari tahu tentang subyek-subyek itu lebih dalam.

Tetapi film ini, banyak sekali hal yang menyentil saya. Terutama dalam hal ternyata, walau tidak jarang orang di sini berteriak-teriak tentang anti Amerika, kita banyak sekali hal-hal yang berkiblat ke sana. Biaya kesehatan dan pendidikan yang mencekik leher, contohnya (sebelum ada BPJS). Kemudian hal war on drugs; kita mengadaptasi hukum dari AS nyaris persis. Selain itu, yang membuat saya berpikir juga adalah ketika Moore mengunjungi Portugal yang telah mendekriminalisasi kepemilikan narkotika dan obat terlarang. Obatnya sendiri tetap ilegal tentunya. Ternyata perkiraan banyak orang yang menyangka hal ini akan meningkatkan angka kematian akibat over dosis obat-obatan terlarang, salah. Sejak hukum itu diberlakukan tahun 2001, tahun lalu Portugal tercatat memiliki angka kematian akibat over-dosis obat-obatan terlarang kedua terkecil setelah Rumania, yaitu 3 orang per 1 juta populasi.

Ketika ditanya oleh Michael Moore, jika para polisi ini punya pesan yang ingin disampaikan kepada US, mereka berkata (kutipan bebas).

Human dignity is the backbone of our society, therefore all laws are executed with human dignity as principle. In our police trainings, we are always reminded to respect the dignity of humanbeings. As long as you have death penalty, human dignity can’t be protected.

Dignity dalam bahasa Indonesia adalah martabat (tentu Anda sudah paham). Sementara ‘menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa’ sering sekali terdengar di sana sini, tetapi apakah martabat orang-orang ini terlihat dijunjung tinggi?

cover-242947f0b10e11a5686919d183de4717_420x280
Tidak ada martabat yang dijunjung tinggi di sini
medium_82pemerkosa-siswi-sma-riau
Di sini juga tidak
ospek-itn-640x480
Apalagi ini
gusur-kaki-lima-700x336
Ini juga tidak

Sebagai comedy relief, mari kita lihat klip dari salah satu film favorit saya Talladega Nights: The Legend of Ricky Bobby yang dikutip juga di film Where to Invade Next.

 

Advertisements

Ramalan Oscar Egois

Another year, another Oscar. Karena sudah seperti tradisi tahunan, entah mengapa kok sepertinya kurang sreg kalau saya tidak menulis soal prediksi pemenang Oscar, terutama pada kategori-kategori utama. Seperti juga yang pernah saya lakukan, saya memberikan pilihan yang paling obvious sebagai pemenang, kemudian yang bisa menang (jika para dewan juri merasa lebih adventurous) dan yang saya merasa harusnya menang dalam penilaian (peringatan: sangat subjektif).

Tahun ini terasa sedikit istimewa, hanya karena Mad Max: Fury Road dinominasikan tidak hanya pada kategori teknis, tetapi juga kategori utama seperti The Best Picture, Directing dan delapan nominasi lainnya. Kenapa istimewa? Untuk film dengan genre action/ adventure/ scifi memang seperti anak tiri untuk masuk nominasi Oscar, terutama film-film scifi. Cukup sering terlihat semenjak nominasi The Best Picture menjadi 10 film; lalu District 9, Avatar, dan Inception masuk dalam daftar. Kebetulan saya suka sekali dengan film ini dan berharap George Miller dan tim akan membawa banyak piala.

Kategori: The Best Picture
Kemungkinan besar menang: Revenant
Bisa menang: Spotlight
Yang saya jagokan: Mad Max: Fury Road

guitarguy
Doof Warrior: the coolest character

Seperti tahun tahun lalu, genre di daftar ini dipenuhi dengan drama. Biopik tidak banjir seperti tahun lalu, tetapi film adaptasi novel malah yang lebih banyak. Pilihan aman memang Revenant, tetapi masa sih, juri membiarkan Iňárritu kembali naik ke panggung dan pidato latino rules lagi? (Maaf bukan rasis, hanya bukan fan si Mas Alejandro). Alangkah menyegarkannya kalau sebuah film fiksi ilmiah dan distopia yang hebat bisa menang. Ya nggak, sih?

Kategori: Actor in a Leading Role
Kemungkinan besar menang: Leonardo DiCaprio, Revenant
Bisa menang: Bryan Cranston, Trumbo
Yang saya jagokan: Michael Keaton, Spotlight

2015-07-30-09_46_02-spotlight-trailer-1-2015-mark-ruffalo-michael-keaton-movie-hd-youtube
Michael Keaton di Spotlight

Maaf kalau yang saya jagokan dinominasikan saja tidak. Menurut saya Keaton got snubbed, big time. Tetapi kalau Leo yang dimenangkan, rela juga sih. Memang sudah waktunya. Dan kalau para juri mau jahat dan tetapi tidak memenangkan Leo, menurut saya akting kuat berikutnya adalah Bryan Cranston. Saya menikmati sekali peran dia di Trumbo.

Kategori: Actress in a Leading Role

Kemungkinan besar menang: Cate Blanchett, Carol
Bisa menang: Brie Larson, Room
Yang saya jagokan: Brie Larson, Room

room
Brie Larson di Room

Sebelumnya terkenal dari film-film teen dan independent, sungguh menyenangkan melihat Brie Larson menunjukkan begitu banyak dimensi di Room. Juga, nanti rak Cate Blanchett jangan-jangan sudah penuh dengan dua Oscar yang dimenangkan sebelumnya.

Kategori: Actor in a Supporting Role
Kemungkinan besar menang: Sylvester Stallone, Creed
Bisa menang: Mark Ruffalo, Spotlight
Yang saya jagokan: Tom Hardy, Revenant

tom_hardy_91447
Tom Hardy di Revenant. Atau John Fitzgerald?

Tom Hardy begitu mencuri perhatian di Revenant, bisa jadi dia adalah alasan (kalau) Leo tidak menang. Mungkin dia memang bukan aktor yang sangat simpatik (kabarnya), tetapi seperti satu lagi aktor yang memiliki reputasi sama, Russel Crowe, dia bisa menghilang di satu peran, sehingga saya lupa, where Hardy ends and Fitzgerald begins. But my suspicion is, out of R.E.S.P.E.C.T and fellow white old man empathy, the jury will pick Sylvester Stallone. Yang sebenarnya sama sekali bukan pilihan yang buruk juga.

Kategori: Actress in a Supporting Role
Kemungkinan besar menang: Kate Winslet, Steve Jobs
Bisa menang: Jennifer Jason Leigh, The Hateful Eight
Yang saya jagokan: ermmm siapa ya?

article20lead20-20wide1002418115gktaz8image-related-articleleadwide-729x410-gktarn-png1446905993042-620x349
I want to be Daisy Domergue if it means I could stand between Kurt Russel and Tim Roth!

Terus terang saya tidak punya rasa keterikatan yang lebih besar terhadap salah satu maupun dua dari yang dinominasikan di kategori ini. Semua orang seperti terkagum-kagum oleh Jennifer Jason Leigh, tetapi menurut saya, sulit untuk tidak menjadi gila dalam memerankan seorang Daisy Domergue di sebuah film yang disutradarai oleh Quentin Tarantino. Siapapun aktris yang dipasang di situ akan berbuat kurang lebih sama. Karena karakternya memang sudah pada posisi yang dramatis. Sama seperti pikiran saya terhadap karakter Lupita Nyong’o di 12 Years A Slave. You can’t downplay a female slave being tortured relentlessly unless you’re a really really bad actor. Kate Winslet, on the other hand, menurut saya yang membawa Steve Jobs menjadi film yang (agak) istimewa.

Kategori: Directing
Kemungkinan besar menang: Revenant
Bisa menang: Mad Max: Fury Road
Yang saya jagokan: MAD MAX: FURY ROAD TENTU SAJA

madmax
There’s always room for another Hardy in my post <3

Kalau saya tidak salah tengarai, kategori ini biasanya dimenangkan oleh film yang banyak memberi tantangan kepada sutradaranya dalam hal mengarahkan. Jika Anda sudah menonton Revenant dan Mad Max, tentu bisa membayangkan betapa stresnya menyutradarai kedua film ini. Tetapi, seperti Birdman, saya sering curiga kalau stres yang dialami Iňárritu kebanyakan adalah self-inflicted karena dia begitu sok keren. “Gue mau bikin film yang seolah tak ada cut ah, satu continuous shot gitu” maka jadilah Birdman. “Gue mau bikin film yang hanya pakai natural light ah, nggak ada deh lampu lampu nggak alami gitu” maka jadilah Revenant. Jadi, semoga para juri ngeh betapa tidak kerennya sok keren itu dan memberikan piala ke George Miller. Karena tantangan yang lebih besar dari menyutradarai Mad Max: Fury Road adalah harus membuat Happy Feet dan Happy Feet 2 sebelumnya! Just kidding. Feel free to disagree with me on the comment below. Have a great Friday!

About Teddy

Melayangkan ingatan ke akhir abad ke 20 atau awal abad 21, saya kurang yakin. Dan karena saat itu belum ada social media, sepertinya sulit saya verifikasi. Suatu hari saya diminta untuk meliput satu pemutaran film oleh seorang sutradara muda. Judul filmnya Culik, dan tempatnya PPHUI. Filmnya gelap, secara harafiah maupun simbolik. Tetapi ada satu yang saya ingat jelas, walaupun ini sudah terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu; kameranya bergerak terus. Sepanjang film. Saya juga ingat keluar dari ruangan teater merasa mabuk laut. Kemudian ada pula sesi tanya jawab dengan sang sutradara, Teddy Soeriaatmadja. Saya juga ingat kalau dari obrolan ini Teddy terkesan agak arogan, idealis dan tidak suka berkompromi. Kesimpulannya, impresi pertama saya kurang baik.

teddy-soeriaatmadja_photo
Teddy Soeriatmadja (Sumber: Jaff-Film Fest)

Maju beberapa tahun kemudian, sutradara muda berbakat ini mengeluarkan film-film seperti Banyu Biru, Ruang dan Badai Pasti Berlalu, yang dari membaca resensinya tidak membuat saya ingin menonton. Maafkan, kalau saya memang tipe penonton yang kurang nasionalis. Banyak sekali alasan saya untuk menghindari nonton film Indonesia, sementara alasan yang membuat saya jadi ingin menonton hanya sedikit sekali.

Maju lagi beberapa tahun kemudian, saya ingat tiba-tiba Ibu saya mengajak menonton film Indonesia, Lovely Man. “Kata teman Mama bagus!” Baiklah, saya akhirnya juga mengajak anak saya yang ketika itu saya pikir belum mengerti topik yang terlalu njelimet, tetapi saya agak kasihan meninggalkannya di rumah. Kami menonton dengan perjanjian, kalau menurut saya adegannya kurang sesuai, saya akan menutup mata anak saya dan dia akan menyumbat telinganya sendiri. Begitu saya paham soal tema dari film ini, saya mengharapkan melodrama mendayu-dayu tentang kaum yang dimarginalkan, apalagi kurang beruntung dari sisi materi. Ternyata saya salah. Filmnya sederhana, tak ada pretensi apapun, hanya menceritakan saja. Tidak juga ada kesan menghakimi, semuanya diserahkan ke penonton dengan kepercayaan penuh, kalau penonton cukup bijaksana dan cerdas melakukannya. Saya cukup heran ketika melirik ke penonton cilik sebelah saya yang tekun menonton sama sekali tak terlihat gelisah. Hanya sesekali menggenggam tangan saya lebih erat ketika ada adegan yang menimbulkan rasa takutnya. Kemudian terjadi adegan puncak, film berakhir, dan teater menjadi terang. Saya dan anak berpandang-pandangan. Lalu kami menangis bersama sambil berpelukan. Cukup lama, sampai ibu saya mencolek sambil menunjuk ruangan yang sudah kosong, mengajak keluar.

lovely-man
Lovely Man (Sumber: Filelengkap.com)

Saat itu saya berniat mengubah pandangan saya terhadap Teddy Soeriatmadja, karena begitu senangnya hati, melihat film Indonesia yang begitu jujur dan tidak ada embel embel moral maupun kearifan lokal. Paling tidak bukan pada bentuk yang dianggap orang kebanyakan. Tetapi Lovely Man berhasil menyentuh dan membuat saya memikirkannya hingga berhari-hari kemudian. Juga tentunya merekomendasikan ke teman-teman yang belum menonton. Yang sayangnya banyak dari mereka belum juga menonton karena waktu tayang yang blink and you missed it itu.

Lalu tiba di tahun 2013. Saya diundang menjadi salah satu juri festival film yang basisnya social media. Tentunya saya hadir dengan senang hati, apapun demi bisa menonton film yang mungkin orang lain tak bisa tonton. Salah satu yang masuk nominasi kategori naskah asli (kategori di mana saya jadi salah satu juri) adalah satu lagi dari Teddy; Something in the Way. Untuk kepentingan penjurian, diadakan screening di sebuah institut perfilman. Yang ternyata penontonnya hanya satu; saya. Di ruangan yang gelap saya kembali terbawa perasaan, lalu gemas karena tidak ada teman untuk membahas. Nafasnya masih sama dengan Lovely Man, tetapi ada sesuatu di Something in the Way yang membuat penonton lebih merasa tidak nyaman. In a good way (mudah-mudahan Anda mengerti maksud saya).

reza-rahadian-dalam-film-something-in-the-way
Something in the Way (Sumber: Muvila.com)

Tahun kemarin, saya kembali menjadi juri di kompetisi yang sama. Dan diadakan pemutaran film yang masuk nominasi (walau bukan kategori saya), tetapi begitu diberitakan kalau akan ada screening film Teddy yang baru, About a Woman, tentunya saya segera tunjuk tangan. Saya kali ini bersiap mengajak teman agar ada teman membahas, but he bailed on me (melirik tajam ke seseorang). Ternyata tetap beruntung, karena saya jadi berkesempatan berkenalan dan mengobrol banyak tentang proses pembuatan film ini dengan pemeran utamanya; Ibu Tutie Kirana.

maxresdefault1
About a Woman

Tiba waktunya menonton filmnya. And Teddy did it again. Baru kali ini saya melihat film Indonesia yang menceritakan isu begitu delicate dengan cara yang begitu sensitif, tak setitik pun ada judgement, rasa lebih tinggi dari penontonnya maupun dikte muatan tertentu. Begitu jujur, bahkan kamera terasa jujur, begitu diam dan hanya mengamati. Tetapi juga begitu relatable, sehingga di klimaks film, hati seperti tercabik cabik tak menentu (drama) tanpa harus melodramatis, dan tanpa menggunakan lagu score yang mendayu-dayu. Yang agak menyebalkan buat saya, penonton yang cenderung tertawa di bagian-bagian film yang uncomfortable. Heran, kenapa knee-jerk reaction mereka jadi tertawa. Tetapi dalam hati saya berkesimpulan kalau, mungkin itu cara mereka menghadapi ketidaknyamanan. Intinya, setelah menonton, saya merasa tenggorokan saya tersumbat hingga berjam-jam. Ketika berjumpa lagi dengan Ibu Tutie, saya memeluknya sambil mengucapkan terimakasih, because she’s so beautiful and wonderful in the movie (sama sekali bukan ‘res). Kalau Teddy hadir, mungkin saya juga akan peluk (#eh #memanggatelaja).

Setelah melihat ketiga film ini, saya dengan yakin memasukkan nama Teddy Soeriaatmadja sebagai salah satu sutradara yang filmnya tak akan saya lewatkan. Sebaiknya Anda juga jangan melewatkan. Walau film ini tidak akan tayang reguler di bioskop kesayangan Anda, monggo, dicari di bioskop-bioskop kecil independent, atau festival lokal, atau malah buat festival sendiri dan memasukkan ketiga film ini jadi agenda. I believe more people should watch them.

Habis Gelap Terbitlah Terang

Apa yang biasa Anda lakukan setelah menonton film?

Sudah pasti jawabannya beragam. Yang jelas kita akan bernafas sejenak karena filmnya sudah selesai, lalu mengeluarkan telepon selular untuk melihat pesan-pesan masuk, dan beranjak dari tempat duduk. Setelah itu, ada yang ke toilet, ada yang langsung menuju tempat parkir, ada juga yang langsung memberitahukan pacarnya via telepon, “Kamu di mana? Aku sudah selesai nontonnya.”

Kalau saya, makan steak.

Tentu saja tidak setiap saat. Tapi inilah yang terjadi hari Sabtu lalu, ketika saya dan teman saya, Winny, selesai menonton film berjudul Steak (R)evolution, salah satu film yang diputar dalam rangkaian festival film Eropa tahunan, yaitu Europe on Screen. Dari judulnya saja sudah ketahuan jenis film ini.
Ya, film dokumenter ini berkisah tentang perjalanan steak connoisseurs Franck Ribiere dan Yves-Marie Le Bourdonnec pergi keliling dunia mencari “the best steak in the world”. Namanya juga film dokumenter. Yang membuat dan menggagas filmnya sendiri adalah pakar kuliner. Tentunya film ini dibuat pakai hati.
Secara acak kita diperlihatkan 10 restoran yang menyajikan steak dalam berbagai variasi penyajian, lengkap dengan proses pengolahan daging, mulai dari cara mereka mengembangbiakkan sapi olahan, sampai ke cara memasak. Bayangkan saja, selama dua jam, kita disuguhi pemandangan aneka steak dengan banyak extreme close-up shots seperti di foto di bawah ini.

Bukan sekedar steak, tapi ini benar-benar adegan film "Steak (R)evolution"! (Courtesy of Hawaii International Film Fest.)
Bukan sekedar steak, tapi ini benar-benar adegan film “Steak (R)evolution”! (Courtesy of Hawaii International Film Fest.)

Apa gak jadi laper ngeliatnya? Apalagi hampir seratus penonton yang hadir di pertunjukan saat itu. Fokus kami semua benar-benar tertuju pada tontonan di layar lebar, di mana sekeliling kami gelap, hanya ada suara dan gambar dari layar, sehingga terdengar komentar-komentar dari penonton seperti “wooow!”, atau “gila, gede banget (dagingnya, maksudnya)”, atau “sialan, enak banget kayanya!”

Dan akhirnya di hari Sabtu sore yang cerah tersebut, tanpa hujan dan tanpa macet, saya dan Winny pergi ke restoran steak terdekat seusai film berakhir. Kami memesan sepiring tenderloin berukuran cukup besar untuk berdua. Dengan berbekal “ilmu” yang barusan didapat dari film, yang mungkin membuat pelayan restoran cuma bisa membatin “ih, ini pasti customer sok tahu!”, kami memesan daging impor dari Amerika Serikat, bukan dari Australia atau Selandia Baru, karena dua negara terakhir ini bahkan tidak disebut sama sekali di film itu.

Pesanan makanan datang, dan rasanya sesuai apa yang kami perkirakan. Meskipun tanpa potongan gambar, musik latar pengiring film, kami cukup menikmati steak tersebut sambil sesekali ngobrol tentang film yang barusan kami tonton. Selebihnya kami membicarakan hal-hal lain, sebelum akhirnya berpisah dan menghabiskan malam Minggu sendiri-sendiri.

Beberapa hari berikutnya, masih di festival film yang sama, saya menonton film dari Belgia berjudul The Broken Circle Breakdown bersama teman saya yang lain, Kenny. Film ini dramatis sekali, karena bercerita tentang jatuh bangun dua orang musisi dalam mempertahankan cinta mereka, terlebih setelah anak mereka sakit keras. Berhubung dua orang tokoh utamanya adalah penyanyi dan pemain banjo yang tergabung di grup musik beraliran bluegrass, maka sepanjang film kita menyaksikan dan mendengarkan lagu-lagu melankolis dengan genre bluegrass dan country yang memperkuat film. Terlihat sekali bahwa para pembuat film sangat mencintai aliran musik ini. Lagu-lagunya menopang jalan cerita. Bagaimana cara mereka menyanyikan setiap lagu disesuaikan dengan adegan yang dimainkan.

The Broken Circle Breakdown (Courtesy of thescienceandentertainmentlab.com)
The Broken Circle Breakdown (Courtesy of thescienceandentertainmentlab.com)

Kenny bilang sih kalau dia merasa “biasa aja” dengan film ini. Tapi sepanjang film, saya bilang dalam hati, “wah, harus punya album ini. Harus dengerin lagi lagu-lagu di film ini.” Dan itulah yang saya lakukan sepulang dari menonton film: membeli dan download album soundtrack film The Broken Circle Breakdown, lalu mendengarkan malam-malam sebelum tidur. Untung saja, malam itu saya tidak mimpi adegan apapun dari film itu.

Bahkan ketika saya mendengarkan lagi beberapa lagu di album ini, tidak ada lagi perasaan menyayat hati yang muncul ketika mendengarkan lagu pada saat menonton filmnya. Sekarang lagu itu berdiri sendiri. Nantinya ketika saya mungkin lupa sama sekali urutan adegan di film itu, lagu-lagunya pun masih bisa dinikmati dengan sempurna.

Tidak semua film bisa membuat kita melakukan hal yang berhubungan dengan film tersebut seusai menonton filmnya. Count ourselves lucky if we can find such film. Jarang buat saya bisa melakukan hal semacam itu. Yang bisa saya ingat adalah sebelas tahun lalu, seusai menonton film Before Sunset di bioskop, saya dan seorang teman, Agatha, melakukan “walk-the-talk” dengan berjalan kaki dari Somerset ke Holland Village, kurang lebih dengan durasi sepertiga film. Rasanya seperti baru kemarin.
Beberapa tahun lalu, menonton film Amour di hari yang sama ketika mendengar kabar bahwa orang tua saya mengalami hal yang sama yang dialami tokoh utama di film tersebut, membuat saya tidak menonton film itu dengan baik, karena pandangan terhalang oleh air mata yang terus menetes dan menggenangi pelupuk.

Dan saat tulisan para pemain dan kru film muncul di layar, lalu lampu bioskop kembali dinyalakan, buru-buru saya menyeka air mata, dan keluar dari bioskop sambil menghela nafas panjang.

Selama dua jam, bisa kurang atau lebih, kita berada di dunia lain ketika kita menonton film. Fokus kita hanya tertuju apa yang di depan kita.
Sekeliling kita gelap. Kita berada di dunia lain, meskipun dunia lain itu bisa saja dekat dengan kita. Kita melihat karakter dan cerita yang, meskipun mirip dengan cerita kita, masih merupakan cerita lain di luar kehidupan nyata. It’s reel life, not real life. Kehidupan nyata terjadi saat lampu kembali dinyalakan. Habis gelap, terbitlah terang.

Dan di saat terang inilah kita baru akan merasa apakah yang ditonton dalam gelap tadi masih patut dirasakan sampai ke kehidupan nyata, atau we just go on, move on, and watch another film in another time.

Jadi, apa yang biasa Anda lakukan setelah menonton film?

Candu

Beberapa belas tahun yang lalu, waktu masih remaja, saya pernah menonton film berjudul Days of Wine and Roses. Film ini bercerita tentang pasangan suami istri yang alkoholik. Yang main Jack Lemmon dan Lee Remmick. Film produksi tahun 1962. Filmnya cukup singkat, tapi pengaruhnya terasa sampai sekarang. Waktu itu nontonnya di malam hari. Saya kaget melihat akting mereka. Sutradara film, Blake Edwards, tidak tanggung-tanggung mengambil close-up muka Jack Lemmon waktu menjerit karena dilarang minum alkohol di rumah sakit. Saya menggigit bantal melihat Lee Remmick membakar rumah dan nyaris membakar anaknya sendiri saat di bawah pengaruh alkohol. Akhir film yang memperlihatkan mereka berdua takluk di bawah tulisan “Bar” membuat hati mencelos. Saya langsung menelepon teman saya yang belum tidur (maklum, waktu itu belum ada telepon seluler yang bisa dipakai ngobrol pakai WhatsApp), dan berkata, “Bok, amit-amit gue kecanduan minum. Ingetin ya kalo kebablasan.”

Days of Wine and Roses (sumber: Google)
Days of Wine and Roses (sumber: Google)

Beberapa tahun kemudian, waktu Googling tentang film yang barusan ditonton sudah menjadi kebiasaan, saya baru tahu kalau film di atas jadi tayangan wajib bagi penderita kecanduan alkohol di Amerika Serikat. Sutradara dan pemain film pun mengakui bahwa mereka sempat mengalami kecanduan alkohol di dunia nyata. Lewat film yang mereka buat, mereka memutuskan untuk berhenti.

Namun apakah semudah itu berhenti dari kecanduan?

Tak seberapa lama setelah menonton Days of Wine and Roses, saya ingat pernah nonton film tahun 1945 berjudul The Lost Weekend. Menilik tahunnya, film ini salah satu pioneer film-film bertema alcoholism. Namun ditonton puluhan tahun kemudian, masih membuat hati sedih. Melihat tokoh yang diperankan Ray Milland dibuat tak berdaya melihat gelas whiskey, dan sedemikian rupa menyembunyikan botol-botol minuman keras dalam mesin tik, lemari obat, ranjang, tangga darurat dan sebagainya, membuat saya terhenyak waktu itu.

The Lost Weekend (sumber: Google)
The Lost Weekend (sumber: Google)

Angelina Jolie dalam wawancara dengan James Lipton dalam program Inside the Actor’s Studio pernah menyebutkan hal di bawah ini saat mendiskusikan film Gia yang dibintanginya, film biografi tentang model 1980-an Gia Carangi:

Angelina Jolie (AJ): … but addiction? I know addiction.
James Lipton (JL): You know it you say.
AJ: Uh huh.
JL: You know addiction.
AJ: I know addiction in all forms, yeah.
JL: Drug addiction?
AJ: I know addiction in all forms, yes.

Meski tak menjelaskan lebih lanjut tentang detil dari kecanduan yang dimaksud, saya melihat wawancara tersebut dengan rasa penasaran.
Begitu banyak jenis candu dan kecanduan yang ada, mulai dari substance abuse sampai yang tidak pakai jenis obat apapun, yang kita alami sendiri atau yang kita lihat di lingkungan kita, yang kita tonton atau yang kita baca, apakah mungkin “all forms of addiction” ini semuanya dialami sendiri oleh mbak Angie?

Waktu menulis postingan ini, saya ingat pernah menonton di VCD film The Basketball Diaries. Film ini dirilis waktu Leonardo DiCaprio masih kinyis-kinyis (rhyming bener, manis!), bahkan sebelum dia jadi “king of the world” di Titanic. Yang membuat film ini istimewa dan masih nempel di ingatan adalah adegan Leo, yang sedang sakaw heroin, menggedor pintu rumahnya sambil menangis. Dia memohon ibunya agar bisa masuk ke rumah (dan mengambil heroin), dan adegan yang memperlihatkan Leo meratapi dirinya sendiri sambil bersender di pintu, sementara ibunya menahan pintu sambil terisak-isak, mengangkat film ini menjadi berkualitas jauh lebih baik. Dan yang pasti, adegan ini masih menempel kuat di ingatan.

The Basketball Diaries (sumber: Google)
The Basketball Diaries (sumber: Google)

Saya sendiri tidak merokok, jarang minum, tidak memakai heroin atau jenis narkotika lainnya. Kalaupun pernah masuk rumah sakit, itu karena kecelakaan motor di usia belasan, lalu beranjak karena penyakit asam urat, gara-gara saya tidak pernah bisa berhenti mengkonsumsi kacang goreng dan emping. True story. Bahkan waktu menonton lagi film-film di atas, saya masih nonton sambil ngemil, meski dokter sudah melarang. Kecanduan? Bisa jadi.

Banyak hal yang membuat kita kecanduan. Kurang lebih sama dengan “mantra” dari Gordon Gekko, tokoh yang dimainkan dengan cemerlang oleh Michael Douglas di film Wall Street: “Greed is good”.
Setuju atau tidak setuju, tergantung dalam konteks apa dulu.

Namun kecanduan lain yang mungkin kita alami, saya pernah melihat di separuh akhir sampai akhir film She’s so Lovely. Film yang tidak terlalu terkenal, namun berkesan.
Silakan Google sendiri mengenai cerita lengkap film ini. Yang jelas, ketika Robin Wright melihat lagi Sean Penn dengan tatapan penuh rindu, meskipun sepuluh tahun yang lalu mereka pernah di ambang kematian gara-gara kebodohan mereka sendiri, dan sekarang Robin sudah menikah dengan John Travolta yang di cerita ini adalah pria baik-baik, kita memahami bahwa ada satu jenis kecanduan yang tak mungkin terobati: cinta.

She's so Lovely (sumber: Google)
She’s so Lovely (sumber: Google)

Cinta membutakan kita. Membuat kita kecanduan, apalagi terhadap sosok yang mampu membuat hati berdebar-debar. Padahal terkadang kita sudah ajeg dalam kemapanan.

Dan kalau kita sudah kecanduan terhadap jatuh cinta itu sendiri, apa lagi yang bisa kita perbuat?
Sakit hati tidak ditanggung BPJS, demikian kata beberapa meme yang beredar akhir-akhir ini. Karakter-karakter di film di atas pun jatuh dalam jurang kecanduan karena pembuktian diri atas kata cinta, baik terhadap diri, terhadap pasangan, maupun terhadap apa pun yang membuat kita “terasa” lebih baik.

Love is the greatest addiction, indeed. That’s fact.

Pertemanan

Sudah pernah menonton film berjudul Stand By Me (1986)?
Bukan, ini bukan film mengenai kucing ajaib dari Jepang, meskipun berjudul sama. Film ini diangkat dari novelet karya Stephen King, “The Body”, yang berkisah tentang empat orang anak berusia 12-13 tahun di tahun 1959.

Mereka mengawali liburan musim panas sebelum masuk SMP dengan mencari mayat teman mereka yang diberitakan hilang. Penasaran dengan berita di radio dan hasil dari mencuri dengar omongan orang-orang yang lebih tua di sekitar rumah, mereka pun bergegas menelusuri jejak perjalanan orang hilang ini.

Film pun bergerak menjadi film road trip. Mereka berjalan kaki sepanjang hari dalam masa satu akhir pekan, mendirikan tenda untuk tidur, terkena lintah di sekujur badan, dan saling menangis saat bercerita tentang kerasnya tempaan orang tua masing-masing.

Semua itu dihadirkan secara singkat, hanya dalam waktu 88 menit. Namun hampir 30 tahun kemudian, menonton film ini masih meninggalkan rasa haru. Entah sudah berapa kali saya menonton film ini. Mungkin sekitar 5 kali dalam 10 tahun terakhir. Dan setiap menonton selalu tersenyum.

Stand By Me
Stand By Me

Ini adalah satu dari sedikit film dari dekade 1980-an yang penuturan berceritanya sempurna, yang sering dijadikan contoh acuan film dengan penulisan naskah yang baik dan efektif. Film Stand By Me juga sering direferensikan sebagai film yang mengangkat tema coming-of-age atau akil baligh remaja pria, dan tentunya persahabatan.
Jarang sekali memang sebuah film dapat memperlihatkan persahabatan secara nyata dengan sempurna. The Sisterhood of Traveling Pants lebih berkutat dengan kisah masing-masing karakter. Now and Then terasa terlalu ideal, karena pertemanan yang terjadi di masa kecil terasa dipaksakan harus terjadi lagi saat mereka dewasa. Bukannya tidak mungkin. Namun, kenyataannya, sebagian besar pertemanan yang terjadi di masa kecil jarang sekali yang masih terus bertahan sampai di usia dewasa.

Beberapa waktu lalu, saya menemukan meme di media sosial yang kurang lebih bertuliskan: “if you still befriend your childhood friend, you have not grown up.” Kalau masih berteman dengan teman yang sama, berarti kita tidak berkembang.

Saya sempat protes dalam hati. Tapi tidak lama kemudian, saya malah tersenyum dan membenarkan kalimat itu. Kenapa? Karena kalau ditanya siapa teman TK dan SD saya, jawabnya pun kelabakan. Sudah tidak ingat nama, apalagi wajah. Sempat pindah sekolah, lalu pindah kota. Dan pertemanan pun tidak bisa dipaksakan, apalagi mati-matian dipertahankan.

Stand By Me
Stand By Me

Mungkin ada yang dulu selalu bersama-sama jalan ke mall, dan berfoto di photo box yang mengeluarkan foto sticker, tapi sekarang terpisahkan oleh tugas rumah tangga sebagai ibu, ada juga yang bekerja di luar negeri, atau ada yang jadi anggota ormas agama garis keras. Ada juga yang dulu teman main basket, sekarang terpisah karena satu lebih nyaman di lingkungan teman-teman dengan orientasi seksual yang sama, sementara yang lain mati-matian meniti karir menjadi politisi. Teman yang dikenalkan pacar pun bisa menjadi teman kita meskipun pacaran sudah berakhir, atau teman kita bisa jadi teman mantan pacar. Terdengar ribet? Nggak kok. Kalau dijalani begitu saja, tidak akan pernah terasa.

Tidak ada yang tahu kapan pertemanan berakhir menjadi “sekedar kenalan”, atau pernah kenal. Dan tidak ada yang tahu juga kalau bisa saja yang terjadi malah sebaliknya.

Pertemanan tak lebih dari menghargai momen yang sedang berjalan. Kita tidak pernah akan mengingat berapa lama kita berteman dengan si A atau si B. Yang akan kita selalu ingat adalah apa saja yang pernah kita jalani dengan mereka, dan apa yang kita rasakan saat itu.

Mengutip kalimat terakhir di film Stand By Me:

I never had any friends later on like the ones I had when I was twelve. Jesus, does anyone?

Momen

Beberapa hari lalu, saya membeli buku karya David Thomson, penulis spesialis film asal Inggris. Judul bukunya “Moments that Made the Movies”. Ini sedikit cukilannya:

“Do you remember the movies you saw, like whole vessels serene on the seas of time? Or do you just retain moments from them …? Most people, I find, remember moments from films they saw as children or adolescents (so true film buffs like to extend those stages of life). Yet often the moment has overwhelmed the film itself.”

Kalau Anda sekarang berusia akhir 20-an, dan mulai rajin nonton film waktu umur 10 tahun, paling tidak pergi ke bioskop 2 minggu sekali, paling tidak sudah lebih dari 350 film yang Anda tonton sampai sekarang. Apakah Anda bisa mengingat satu per satu jalan cerita dari ratusan film itu? Atau hanya sebagian kecil dari adegan film yang bisa diingat, yang kemudian mewakili seluruh kenangan dan ingatan tentang film yang telah ditonton? Yakin masih bisa cerita dari awal sampai akhir film E.T., dan gak cuma ingat adegan sepeda melayang di depan bulan?

Moments That Made The Movies. (Courtesy of asos.com)
Moments That Made The Movies. (Courtesy of asos.com)

Tentu saja kata film di sini juga bisa diganti dengan kata benda lain.
Buku, lagu, atau tahun.

Mari kita bayangkan diri kita tidak jauh-jauh dari sekarang. Misalnya, 3 minggu dari sekarang. Saat itu sudah masuk minggu pertama bulan Januari.
Apakah kita masih bisa mengingat apa yang persis terjadi sepanjang tahun 2014 kemarin? Tentu saja kalau semua hal ditulis di jurnal harian, maka kita masih bisa mengingatnya. Itu pun tidak setiap saat saat kita rekam dalam
tulisan. Atau hanya sebagian kecil moment saja yang bisa kita ingat?

Moments that define us are often moments that just pass us by.

Momen yang membentuk diri kita terkadang hanya sekedar momen yang berlalu begitu saja.

Dan dalam setahun, ada begitu banyak penanda waktu yang kadang terlewat begitu saja, di tengah kesibukan kita. Namun terkadang, momen itu begitu kuat, sehingga kita masih akan teringat terus, seperti layaknya twists dalam cerita film yang kadang kemunculannya tidak akan pernah kita sangka.

Mungkin itulah yang dirasakan Fradita Wanda Sari, saat menulis “These Movies Define Me” di blognya. Pilihan filmnya, Like Father Like Son, terasa begitu kuat di kami di Linimasa yang membacanya. Terlebih saat Dita bercerita bagaimana film ini seperti mencerminkan hubungan Dita dengan ayahnya yang sedang diuji tahun ini. Membaca tulisan Dita jadi seperti membayangkan film tentang ayah dan anak dalam kehidupan nyata.

Momen yang terasa dekat dengan kami juga saat membaca tulisan “Sometimes The Wrong Train Will Get You To The Right Direction” di blog milik Bang Bernard. Ada satu kejujuran yang menggelitik, yang tidak saya pikirkan sebelumnya. Bernard menulis: “kalo nonton film di pesawat, buat gue kekuatan cerita itu nomor satu. Special effect sih gak ngaruh, orang nontonnya pake headphone.” Senang rasanya membaca cerita dari orang yang percaya pada kekuatan cerita di atas segalanya.

Dan lewat medium apapun, cerita bisa membawa perubahan. Kami pilih film, karena film terasa lengkap menggambarkan bahasa visual yang bisa mewakili apa yang ingin kita proyeksikan di kehidupan sehari-hari. Syukur-syukur bisa menginspirasi. Inilah yang Agnes Gultom tulis di “Old & New – 2 Mujur (Sangkar)”. Menonton film di layar notebook yang kecil, yang ternyata buat Agnes, seperti dikutip dari blognya: “Bukan hanya membekas, tapi meresap serta mengubah.” Siapa sangka keputusan hidupnya menjadi berubah setelah menonton film?

Perubahan hidup tidak harus besar. Terkadang kesan atau impresi yang kuat pun bisa membekas begitu lama, sehingga bisa mengubah persepsi kita terhadap sesuatu. Sepertinya itu yang dirasakan Nadya Laras saat menulis “1st post: Jawab Pertanyaan Linimasa” di blog yang baru saja dia buat khusus untuk ini. Kekuatan film yang bisa mengubah persepsi kita terhadap aktor atau aktris yang selama ini kita kenal, bisa membuat orang akhirnya tergerak untuk melakukan hal yang simple, yang bisa jadi tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Dan yang tidak terpikirkan oleh Dhoni Fadliansyah saat menonton X-Men: Days of Future Past dan The Raid 2 tahun ini adalah bahwa sebentar lagi, dia akan belajar bela diri, dan saling menghargai orang lain. Itu yang dia tulis di blognya, “Film Yang Berkesan”. Perubahan dimulai dari hal yang kecil dan simple, toh?
After all, the timing is right: talk about New Year’s Resolutions!

Lima momen yang sudah dishare inilah yang membuat kami memutuskan untuk memberikan hadiah di Kuis Linimasa Volume 1 kepada mereka.

Selamat!

Terima kasih sudah berbagi momen-momen spesial di tahun 2014 ini. Oh ya, tolong kirim email berisi nama lengkap, alamat pengiriman dan nomer telpon yang bisa dihubungi ya.

Isn’t it great to be able to share special moments?

Obat Sakit

Apabila tulisan ini membuat Anda terisak-isak, pasti bukan karena isinya. Tapi lebih karena ketularan.
Maklum, yang menulis hari ini sudah beberapa hari terkulai lemas karena flu. Apa daya, otak dan tangan tak sanggup mikir yang berat-berat. Kaki cukup melangkah beberapa jengkal ke dapur bikin sup hangat. Selimut membekap badan yang juga hangat. Lalu sambil ketiduran, tangan mulai mencari deretan film sebagai teman kemulan.
Film apa yang menghangatkan badan? Ya film komedi romantis, tentunya.

Deretan film-film prestisius, award-winning, critically lauded films boleh saja menghiasi rak DVD dan Blu-ray. Tapi ketika sakit kepala melanda, rasanya lebih pas ditemani Renee Zelwegger waktu masih jadi Bridget Jones bebas Botox. Padahal film itu sudah 13 tahun yang lalu. Toh masih saja jadi andalan teman saat kesepian.

Namanya juga genre film yang berurusan sama hati, mana mungkin basi? (Aduh ini dari tadi kok rhyming terus sih?! Obatnya mulai bekerja.)

Meskipun jaman sekarang hampir gak ada yang pakai telpon rumah, tapi adegan Janeane Garofalo dan Ben Chaplin telpon-telponan selama 7 jam di film The Truth About Cats and Dogs masih bisa bikin tersenyum.

Film komedi romantis cenderung tumbuh bersama waktu. It easily grows over time. Banyak yang dicap “biasa aja” waktu dirilis pertama kali. Beberapa malah gagal secara kualitas dan komersial.
Toh kita sendiri yang membuat genre ini jadi timeless: saat kita gak tau mau nonton apa waktu sakit, bingung ngapain pas malem minggu sendirian di rumah (oalah, mblo!), saat baru putus dan pengen nangis-nangis, saat bengong di depan mbak-mbak DVD bajakan di ITC (idih!), the idea of spending 2 hours watching people chasing for love, losing it, and eventually gaining it back again never fails.

Jadi, kalau percaya bahwa traveling bisa menyembuhkan patah hati dalam 2 jam, tontonlah Summertime atau Under the Tuscan Sun. Lupakanlah perjalanan Julia Roberts.

Under the Tuscan Sun
Under the Tuscan Sun

Kalau percaya bahwa pria gay bisa disembuhkan oleh perempuan putus asa yang ngeyel, mungkin anda seperti Jennifer Aniston di The Object of My Affection.

Kalau percaya bahwa cinta pertama jatuh pada pria atau wanita yang ditaksir waktu SMP, mungkin ada benarnya, menurut Litte Manhattan dan 13 Going on 30.

Little Manhattan
Little Manhattan

Kalau percaya bahwa hati yang luka bukan sekedar lagu Betharia Sonata, tapi bisa menyembuhkan hati lain yang juga terluka, silakan termehek-mehek nonton Return to Me.

Kalau percaya bahwa dalam satu siklus hidup ada tiga cinta sejati, meskipun berujung pada satu hati (yasalam, rhyming lagi!), kita bisa tersenyum dan terharu menonton Ryan Reynolds di Definitely, Maybe.

Definitely Maybe
Definitely Maybe

Dan kalau sudah eneg dengan segala lovey dopey atmosfir di film-film ini, maka They Came Together akan mengembalikan kepercayaan kita terhadap komedi romantis.

Mari kita bersulang teh hangat! Cheers!

Yang Pendek, Yang Tak Terlihat

Nama lelaki di foto ini adalah Eko Junianto. Umurnya baru menginjak 15 tahun. Dia duduk di bangku kelas 3 SMP Negeri 4, Satu Atap, Karangmoncol, Purbalingga, Jawa Tengah. Sekolah ini terletak di lereng Gunung Slamet. Sulit diakses kendaraan bermotor, karena jalannya rusak.

Eko Junianto
Eko Junianto

Seperti teman-teman sekolahnya, setiap hari Eko jalan kaki dari rumah ke sekolah. Lama perjalanan sekitar 30 menit berjalan kaki. Setiap hari, uang jajannya antara dua ribu sampai tiga ribu rupiah.

Namun tidak seperti kebanyakan teman-temannya, Eko Junianto sudah melihat Jakarta.

Untuk perjalanan pertamanya ke Jakarta, Eko harus berjalan kaki ke perhentian angkutan umum terdekat selama satu jam. Lalu, dia menempuh perjalanan 3 jam naik angkutan umum lain ke stasiun kereta terdekat. Dari situ, dia menghabiskan 7 jam lagi, sebelum sampai ke Jakarta.

Saat pertama kali ke Jakarta ini, Eko bukan lagi seorang anak SMP seperti teman-temannya.

Eko sudah menjadi filmmaker.

Dengan modal satu kamera sumbangan, dan guru ekskul film yang belajar mengoperasikan kamera dari Youtube, Eko sudah membuat 3 film pendek. Satu film pendek animasi, satu film pendek fiksi, dan satu film pendek dokumenter.
Film pendek dokumenternya, berjudul “Mana Janjimu?”, malah menyentil janji-janji kampanye politik. Caranya? Rekam saja pemilihan ketua OSIS di sekolah, berikut bualan mereka.
Hasilnya sangat mencubit, dan sampai membuat ketawa Andy Noya, yang pernah mengundang Eko ke acara talkshow tersohornya.

Ketiga film Eko sudah kenyang penghargaan kompetisi film pendek tingkat nasional.

Google saja “Eko Junianto film pendek”.

Dari ketiga filmnya, sudah belasan juta rupiah Eko raih. Semuanya ia sumbangkan ke pembangunan masjid sekolahnya.

“Soalnya gini, mas. Di sekolah itu ndak ada masjid. Kita susah kalau mau sholat jamaah pas Dhuhur dan Ashar,” katanya waktu bertemu saya beberapa bulan lalu.

Kalaupun ada hadiah barang, semua dia taruh di sekolah. Termasuk hadiah televisi yang ia tenteng bersama gurunya naik kereta pulang dari Jakarta.

_________________________________

Apakah ada satu Eko di Indonesia ini? Untungnya, tidak.

Di setiap kota di Indonesia tanpa aktivitas syuting film sehari-hari, berdirilah komunitas film. Dari sekedar nonton bareng, mereka bergerak bikin film bareng. Lalu lahirlah award-winning filmmakers dari Sabang sampai Merauke. Paling tidak, ada satu komunitas seperti ini di setiap kota.

Masih terpatri di ingatan saya apa kata Adrian Jonathan Pasaribu, kritikus film: “Kalau mau tahu wajah asli Indonesia dalam moving image, jangan cari di bioskop atau di televisi. Lihat film pendeknya.”

Tanpa mempedulikan rating, tanpa memikirkan angka box office, film pendek adalah jenis film yang mudah menggeliat. Siapa saja bisa membuatnya. Modal smartphone berkamera video bagus, apa pun jadi. Aplikasi editing, cukup download semenit saja. Daftar kompetisi? Kirim bisa lewat Dropbox atau Wetransfer. Mau ditonton online saja? Upload di Youtube.

Tinggal niat.

Jangan Lupakan

Sebelum mulai menulis di linimasa.com ini, selalu ada “ritual” yang saya lakukan. Lebih tepatnya, kebiasaan. Maklum, tidak terlalu istimewa kegiatannya.

Saya akan menonton film. Film apapun. Bisa dari televisi, DVD, blu-ray, koleksi di harddisk. Film apa saja. Random choice. Siapa tahu dari pilihan film itu datang inspirasi tulisan. Maklum lagi, kami di sini menulis berdasarkan apa kata hati saat tenggat waktu datang.

Semalam di HBO ada film The Mexican. Ada Brad Pitt, Julia Roberts, dan almarhum James Gandolfini. Pikir-pikir, sudah lama tidak menonton film ini. Ponsel ditaruh jauh-jauh, supaya tidak terganggu pesan-pesan yang masuk.

Sudah 30 menit film berjalan. Saya masih menikmati jalinan cerita film. Setelah cerita mulai bergeser fokus ke Julia Roberts dan James Gandolfini, tiba-tiba entah dari mana, pikiran saya bergeser ke hal lain. Ujug-ujug, saya ingat, pertama kali menonton film ini bersama teman lama, Bang Reza, di Cineleisure Orchard, Singapore. Kayanya hari Minggu siang tahun 2001. “Kalo nggak salah”, pikir saya.

Cek laptop, cari file lama. Ubek-ubek, akhirnya saya tersenyum. Betul. Hari Minggu, 29 April 2001, kami menonton film ini di bioskop itu bersama dua teman lain.

Jauh sebelum IMDB lahir dan bisa beli laptop sendiri, saya punya kebiasaan menulis nonton film apa, tanggal berapa, sama siapa (sendirian atau nggak), dan di mana. Jaman dulu, pakai bolpen dan buku tulis. Sampai 2 tahun lalu, tulis di Excel. Baru tahun lalu, tulis di Notes di ponsel.

Kalau ada pepatah yang bilang “old habit dies hard”, dalam konteks ini saya membenarkan. Kebiasaan mencatat ini terbawa sampai sekarang. Sudah belasan tahun lamanya. Tidak ada yang berubah, kecuali judul film, tahun, dan teman menonton. Nothing changes except the change itself.

Also, there is nothing special about this habit. Hanya saja, buat saya rasanya menyenangkan ketika kepingan memori bisa hadir tanpa perlu diminta. Ketika usia merenta, kita berpegang pada kenangan yang tersisa.

Makanya, saya senyum saja, tanpa bereaksi atau berpartisipasi, saat melihat gambar-gambar meme film Finding Neverland. Ini film pertama yang saya tonton berdua dengan salah satu mantan pacar.

Alih-alih merasa seru nonton Pearl Harbor. Kalau ada film ini di TV, saya ketawa, ingat dulu nonton film ini rame-rame ber-10 dengan bawa roti, keju, dan sate. Nonton Mamma Mia! sambil nyanyi-nyanyi satu bioskop, dan melongok keheranan, “Bok, ini cowok-cowok pada bisa sing along lagu-lagunya ABBA semua!”

Demikian pula saat mengejar film Mystic River ke Malaysia karena main duluan, atau nonton He’s Just Not That Into You di bioskop berdua, beberapa hari sebelum putus.

Pas ‘kan? Pas bener.

Finding Neverland. Courtesy of Totalfilm.com
Finding Neverland. Courtesy of Totalfilm.com

Judul-judul film di atas tidak ada satu pun yang saya nilai 10 dari 10, 100 dari 100, 5 bintang dari 5 bintang. Tidak merasa perlu juga mengkoleksi film itu di rak, seperti juga film-film lain yang cukup ditonton sekali atau dua kali.

But sometimes, it’s not about the film itself. It’s how you watch the film.

Dalam kesendirian, saya menikmati sensasi menonton The End of the Affair yang dilanjutkan dengan berjalan di bawah hujan, persis seperti filmnya. Lega rasanya ketika bisa legal dan sah nonton film 21 tahun ke atas di bioskop seorang diri nonton Ralph Fiennes telanjang bulat di Sunshine. Mual-mual melihat kekerasan di film The Piano Teacher tanpa ada orang di sebelah yang bisa dipukuli. Dan merasa dewasa sekaligus jumawa sebagai anak SD ketika bisa sendirian saja membeli tiket nonton Dead Poets Society.

Film yang kita tonton, konser yang kita datangi, buku yang kita baca, tempat liburan yang kita kunjungi, beberapa hal yang membuat waktu kita terasa lebih hidup, memang selayaknya patut dikenang. Mungkin kalau kita rajin merekam, kita tidak perlu lagi minum ginkgo biloba atau obat-obat perangsang memori lainnya.

Dead Poets Society. Courtesy of digitalspy.com
Dead Poets Society. Courtesy of digitalspy.com

Apakah itu tujuan saya membuat catatan itu? Nggak juga. Seneng aja. Movies keep me alive, kok.

Dan mungkin, orang-orang ini sempat merasakannya.

Nonton Bioskop

“Mau liat bekas bioskop pertama di Sulawesi Tengah?”

“Mau! Emang dulu di sini ada bioskop?”

“Iya. Jadi bioskop pertama di Sulawesi Tengah itu ada di Donggala. Dulu orang rame-rame ke mari naik angkutan sapi. Jauh-jauh dari kabupaten lain, dari Palu juga, semua pada ke Donggala untuk nonton bioskop.”

“Terus, sekarang jadi apa gedungnya?”

“Tempat penyimpanan kopra.”

“Emang udah lama ga ada bioskop?”

“Kalo di Palu, mulai 2006 ga ada bioskop. Kalo di Donggala ini, sudah dari awal 2000-an.”

Mobil jalan pelan-pelan menyusuri jalan-jalan kecil yang banyak warung.

“Mana gedungnya?”

“Itu di depan!”

“Yang mana?”

“Itu! Lihat jendela kecil itu? Dulunya itu loket tempat orang beli karcis bioskop.”

Saya terdiam.

Bekas gedung bioskop di Donggala, Sulawesi Tengah. Photo taken by Nauval Yazid.
Bekas gedung bioskop di Donggala, Sulawesi Tengah. Photo taken by Nauval Yazid.

Adegan di atas, sayangnya, bukan usaha untuk meniru film Cinema Paradiso, karena tidak ada alunan musik Ennio Morricone yang tiba-tiba terdengar saat kami mengambil foto di atas. Atau bukan juga adegan dari film-film lain yang mengusung romantisme bioskop tua, seperti layaknya Jim Carrey di The Majestic atau film klasik The Last Picture Show.

Adegan di atas adalah kisah nyata yang terjadi saat saya datang ke Donggala tahun lalu. Kami hadir untuk memberikan workshop film pendek ke komunitas penonton dan pembuat film di Palu, salah satu kota di Indonesia yang aktif mengadakan kegiatan pemutaran dan diskusi film, meskipun kota ini tidak punya bioskop.

Saya harus mengulang-ulang lima kata terakhir di atas. “Kota ini tidak punya bioskop”. Buat kita yang terbiasa dengan ajakan “eh, nonton yuk?”, apakah akan ada ajakan serupa kalau tidak ada bioskop? Mungkin tidak, tapi bisa tergantikan dengan yang lain.

Sementara buat saya dan beberapa orang, bioskop menawarkan pengalaman lain selain menonton film.

Bioskop menjadi tempat adu keberanian: dalam kegelapan, berani gak pegang tangan orang yang baru diajak kencan?
Di bioskop, bisa jadi kita papasan dengan mantan pacar yang sudah jadian lagi, sementara kita masih sendirian.
Bioskop menjadi pilihan untuk terhindar dari kejamnya macet sore hari.
Bioskop selalu menjadi tempat yang tidak bikin kita mati gaya di akhir pekan.
Seorang ayah bisa berjanji untuk mengajak anaknya nonton film superhero di bioskop setelah terima rapor.
Bioskop jadi tempat kopi darat yang aman dan netral buat pelaku online dating ketemuan pertama kali.
Bioskop bisa jadi tempat buat sebagian orang sekedar menaruh pantat dan tidur sejenak di sela-sela kerjaan yang menumpuk.

Bioskop jadi alasan buat saya untuk sekedar keluar dari rumah.

Bioskop memang sedang di ujung tombak kematian. Gempuran berbagai macam jenis hiburan di layar yang semakin mengecil, terutama dalam genggaman tangan kita, semakin membuat kita dimanjakan dengan kemudahan. Soon, cinema will be an extinct word that belongs to the past.

Romantisme bioskop mungkin akan jadi kenangan. Apalagi buat saya dan beberapa dari Anda yang senang menghabiskan waktu di bioskop, kelak kita hanya bisa cerita tentang bioskop dari replika foto masa lalu.

Dan di saat itulah, seperti juga yang terlihat di foto di atas, akhirnya kita takluk pada satu istilah salah kaprah yang sudah mengakar selama ini: “nonton bioskop”.

“Ini Bukan Ngomongin TV yang Sembiring Lho …”

… tapi tulisan ini ngomongin TV yang merupakan singkatan dari “televisi”.
Gak punya TV? Tapi punya komputer atau laptop ‘kan?

Soalnya jaman sekarang, kita yang bisa baca blog ini gak perlu TV beneran buat nonton acara TV. Kehadiran layar TV bisa diganti dengan laptop.
Yang penting adalah ada koneksi internet untuk mengunggah atau download serial TV, dan harddisk untuk menyimpan file hasil download serial TV itu.

Gak percaya?

Gak perlu jauh-jauh kalo masih in denial.
Buka Twitter atau Path atau socmed yang Anda buka setiap 2 jam sekali.
Pasti komentar-komentar seperti ini sering kita jumpai:

“Perhatian! “Game of Thrones” episode 2 season 4 sudah tersedia di lapak terdekat.” (Lapak artinya situs buat download torrent episode yang dimaksud. Apa itu torrent? Tanya ke yang bikin status itu aja.)

“Payah nih. “Suits” kok cepet banget sih abisnya season ini? Gak ada tujuan hidup lagi sekarang.” (Gak usah keburu bersimpati. Udah move on kok 6 jam kemudian karena dapet serial lain.)

“Aduh, mas Harry! Mas Harry! Bikin menggelepar ini. Pengen lari-lari ke pantai ama mas Harry!” (Sempet kepikir, perempuan-perempuan ini kok ya segitu ngefans ama Harry tetangga saya. Kenal juga enggak. Ternyata ini nama karakter di serial “Mistresses” yang hobinya gak pake baju.)

Berbagai celetukan di atas ini semakin memperkuat banyak pendapat analis, kritikus sampai pelaku bisnis TV di luar Indonesia tentang masa keemasan program televisi yang kita alami saat ini.
Rata-rata memuji tentang kekayaan cerita dan karakter di serial-serial TV yang njelimet, gak plek-plek baik terus, bisa berbuat jahat untuk kebaikan (anti-hero complex), dan yang jelas, bikin kita betah dan penasaran untuk mengikuti setiap episode.
Malah ada tulisan James Wolcott dua tahun lalu di Vanity Fair yang terang-terangan bilang kalo “TV is Better Than Movies”.

Oh, really?

Mari kita kesampingkan sejenak perdebatan tak kunjung habis itu.

Mari kita ketemu Wawa, teman nonton di bioskop dulu, jaman masih agak mudaan.

Setiap kali ketemu yang cuma setahun sekali, kita sering ngobrol ngalor-ngidul, dan salah satunya saling update tentang film terakhir yang ditonton.
Kebetulan karena tempat tinggal saya dekat dengan bioskop. Tinggal jalan kaki 10 menit, maka saya masih bisa menyempatkan diri untuk nonton film-film terbaru.

“Kalo elo, Wa?”

“Udah gak inget, Val. Udah lama banget.”

“Oh, gitu. Kalo TV series, Wa?”

Tiba-tiba mukanya cerah ceria, sumringah luar biasa.

“Iya, Val! Gue ngikutin “Breaking Bad” kemarin. Wah, edan! Seru banget. Trus “24” yang baru juga seru. Kadang nemenin Nisa (istrinya) nonton drama-drama kayak “Downton Abbey” gitu, eh malah gue ketagihan juga nontonnya. Hahaha.”

“Hah? Busyet. Elo jadi suka nonton serial gitu, Wa?”

“Soalnya anak gue ‘kan masih kecil. Di rumah gak ada pembantu, jadi abis kerja ya langsung pulang ke rumah bantuin istri. Makin males pergi-pergi ke luar. Apalagi kalo hujan, macet. Dan mahal.”

Deg.
Kalau sudah menyangkut masalah uang dan waktu, pemikirannya jadi lain nih.
Lalu saya iseng berhitung a la kadarnya.
Lokasi bioskop kebanyakan ada di dalam mal atau pusat perbelanjaan. Masuk ke mal, perlu parkir. Perlu waktu untuk cari spot dan keluar dari parkiran pas pulang lalu perlu uang untuk bayar parkir.
Mumpung di mal, sekalian belanja yang perlu dibeli, kalau emang perlu dan belum ngomongin belanjaan lain hasil kalap mata, atau sekedar hangout.
Harga tiket film di bioskop 50 ribu buat satu orang. Satu keluarga 200 ribu. Parkir bisa 20 ribu, belanja dan lain-lain bisa 1 juta.
Waktu nonton satu film 2-3 jam, ditambah cari parkir dan keluar dari tempat parkir 30 menit, lalu waktu untuk belanja ditambah 2-3 jam lagi. Itu belum kalo kena macet.

Sementara televisi?
Anda mau mandi atau gak mandi, bebas.
Tinggal pake kaos longgar, celana pendek, cemilan satu keranjang, colokin external harddisk ke TV, beres. Kapan aja mau marathon serial, bebas.
Dan bisa nyalain smartphone secara bebas, buat update reaksi per episode, atau sekedar pamer.
“Aduh, besok pagi-pagi meeting, tapi gimana ini, tanggung banget “House of Cards” gak bisa berhenti!”
Lumayan, dapet icon ketawa dan lope-lope dari temen-temen di Path.

Tapi lebih dari sekedar update status di jaringan media sosial, ketergantungan kita dengan smartphone dilirik dengan cantik oleh Hollywood. Lihat saja akun twitter @ScandalABC atau @AskScandal.
Setiap episode serial “Scandal” ini ditayangkan pertama kali di Amerika Serikat, maka seluruh aktor dan aktris yang terlibat di episode itu akan berinteraksi langsung dengan pengguna Twitter.
Apa yang dibahas? Setiap dialog di setiap adegan. Kedua akun itu pun menyebutkan merek baju dan aksesoris yang dipakai. Spoiler pun dibahas terang-terangan.
Gak mau dengerin spoiler? Mereka pun kasih peringatan. “Stay off Twitter now!”
Tapi ya namanya juga manusia, makin dilarang, makin penasaran. Tetep aja serial ini jadi salah satu serial paling banyak ditonton dan direkam di Amerika Serikat tahun lalu.

Sementara itu, di perhelatan Emmy Awards minggu lalu, saya tergelitik dengan monolog pembawa acaranya, Seth Meyers. Ini katanya:

“That’s what I love about television. She doesn’t play hard to get. She doesn’t demand your full attention. Television has always been the booty-call friend of entertainment. You don’t have to ask TV ‘you up?’ TV is always up. She’ll happily entertain you while you cook dinner or wrap your Christmas presents. She’s not like that high-maintenance diva movies who expects you to put on pants and drive all the way over to her house and buy $40 worth of soda. So thanks anyways, movies, but I’m sticking with TV.”

 

Dear Seth, can we stick to both?

Because we actually can.

Mau Nonton Apa?

Sebut saja dia mbak XY.

Usianya mungkin sekitar 22 tahun. Tidak mungkin lebih tua, karena dia masih berlari lincah setelah turun dari busway. Seperti pekerja metropolian seusianya, dia sering kesal melihat macet. Kekesalan itu tak berlangsung lama. Paling tidak sudah mereda saat masuk parkiran mall sebelum jam buka. Dia berjalan melenggang ke lift yang membawanya ke lantai paling atas di mall ini. Sambil memainkan hape dengan cekikikan tanpa melihat sekeliling, dia keluar lift menuju ruangan yang luas. Dengan penuh keyakinan , dia masuk ke sebuah pintu dengan tulisan “Yang Tidak Berkepentingan Dilarang Masuk“.

Jelas-jelas dia punya kepentingan. Sangat penting malah. Saking pentingnya, dia pun perlu mentransformasi dirinya sedemikian rupa. Dalam beberapa jam, pintu pun dibuka, dan … oh la la!

Mbak XY kini tampil anggun dengan cepolan sanggul yang terikat rapi di atas kepala. Lipstik merah di bibir serasi dengan riasan muka yang menambah usianya. Mbak XY tidak lagi jalan sambil cekikikan. Langkahnya santai. Dia tahu arah yang dituju. Sesekali dia menyapa rekan-rekan kerjanya, baik yang berbaju biru gelap maupun berseragam putih. Dia menuju meja panjang di sebuah sudut. Setelah duduk, dia menyalakan komputer, printer, lalu mengangkat tulisan “Closed”. Sambil tersenyum, dia berkata:

Selamat datang. Mau nonton apa?

Ya, mbak XY dan teman-teman seprofesinya yang tersebar di seluruh penjuru bioskop di seluruh dunia ini adalah orang pertama yang menentukan nasib kita dalam 2-3 jam ke depan. Apalagi kalau anda termasuk orang yang belum tahu mau nonton apa, dan baru memutuskan mau nonton apapun yang ada di bioskop saat itu. Misalnya:

Selamat datang. Mau …

“Uuuhh … Guardians of the Galaxy itu film apa ya, mbak? Kok kayak kartun tapi ada orangnya gitu? Kalo Grace of Monaco itu apa ya, mbak?”

Ini jawaban dari mbak XY: “Guardians itu film action komedi, banyak visual effect. Kalo Grace film drama.

Jawaban yang cukup netral, dan tidak menyesatkan. Atau mungkin anda sudah tahu apa yang mau anda tonton, tapi teman atau pasangan anda ragu-ragu.

The Great Gatsby yuk. Leonardo DiCaprio tuh.”

“Aaahh film apaan? Sejarah minyak rambut? Ogah. Kaya jadul gitu. Mending Fast & Furious.”

“Yaelah, bukannya kemaren udah nonton?”

“Ya gak papa. Filmnya lebih jelas lah, kebut-kebutan. Daripada judulnya gak familiar?”

Dan ujung-ujungnya, “Mbak, kalo Fast & Furious yang jam 7 malem, masih ada? Kalo gak ada, yang jam 9 deh. Kalo gak ada juga, The Great Gatsby aja, tapi jangan yang kemaleman. Dan kalo bisa duduknya di pojok, tapi jangan terlalu ke belakang.”

Ini yang dilakukan mbak XY:

  • tetep senyum
  • klik jam tayang film di depan customer
  • bilang, “Yang merah terisi, yang hijau masih kosong”, dengan nada suara otomatis
  • mungkin dia menjerit dalam hati “Yang ngantri masih panjang, cepetan milihnya, hadeeuh!”

Atau mungkin dia tidak berkomentar apa-apa selain, “Tiketnya harap dicek kembali, ya. Terima kasih, dan selamat menonton.”

Maklum, kalau dalam sehari ada 5 kali jam pertunjukan di masing-masing studio, katakanlah ada 4 studio di satu bioskop yang kapasitas kursi di tiap studio sekitar 150 kursi, berarti mbak XY dan teman-temannya harus berhadapan dengan sekitar 1.000 orang. Itu kalau tiap orang rata-rata beli 3 tiket.

Kalau 2 tiket? Ya makin banyak orang. Dan itu berlangsung setiap hari. Mungkin sebelum sempat kesal, udah keburu ada orang lain yang ngantri di belakang. Terlebih lagi, meja kerja mbak XY ini tidak boleh tidak beroperasi. Kalau mbak XY kebelet ke kamar kecil, ya ada loket lain yang harus buka. Kalau break makan, ada rekan lain yang akan menggantikannya.

Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg
Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg

Lalu kapan mbak XY nonton? “Ya kalo lagi off, mas. Sama aja, pake tiket, ngantri dari depan. Cuma ya kita udah tau lah mau nonton apa, hahaha.” Kerja tiap hari di bioskop, gak bosen emangnya nonton di bioskop? “Ya ke bioskop lain, mas. Tapi kadang nonton juga di sini. Kan enak ya, udah kenal sama temen-temen sendiri. Kalo bosen, ya nggak juga sih, mas. Kan filmnya ganti terus tiap minggu. Filmnya beda-beda gitu, ya gak pernah bosen lah.”

Somehow, her answer restores my faith in cinema, again. Jawaban yang terdengar dewasa dari usianya, mungkin karena tuntutan profesi juga, membuat saya makin percaya bahwa mbak XY dan rekan-rekannya adalah garda depan pengalaman menonton kita. Dari ujung jarinya, dia bisa membantu kita menentukan pilihan yang berujung kalau gak jadi seneng ya jadi bete. Dari tutur katanya, kita bisa tahu mana film yang rame, mana film yang sepi penonton. Dari pengalaman berinteraksi dengan ratusan sampai ribuan orang sehari, dia sudah bisa membaca karakter orang hanya dengan penglihatan sepintas saat mereka antri. Sesuatu yang mungkin layak untuk dianalisa mendalam, tapi tidak di ranah yang ringan ini.

Kalaupun ada yang mengancam kehadiran mbak XY, mungkin bisa jadi kehadiran online ticketing. Orang-orang seperti saya dan anda yang sudah tahu mau nonton apa, di mana dan jam berapa, pasti senang sekali dengan fitur human-less interaction ini. Apalagi ini hari Kamis, banyak film baru yang mulai keluar di bioskop hari ini. Pasti pengen buru-buru check jadwal bioskop deh selesai baca tulisan ini. Tapi beda lho rasanya disapa langsung dengan:

“Selamat datang. Mau nonton apa?”