#RekomendasiStreaming – Memahami Emmy

Nominasi calon peraih penghargaan tertinggi di televisi di Amerika Serikat, yaitu Emmy Awards, baru saja diumumkan minggu lalu. Benar-benar persis seminggu yang lalu dari tulisan ini terbit.

Daftar lengkap seluruh unggulan dari berbagai kategori yang jumlahnya teramat sangat banyak bisa dilihat di sini.
Kalau Anda iseng menghitung-hitung siapa yang paling banyak meraih nominasi, langsung saja data-data berikut ini bisa Anda baca:

• Serial Westworld dan acara komedi “Saturday Night Live” (SNL) sama-sama memimpin perolehan nominasi sebanyak 22 nominasi. Menurut saya, terlalu banyak. Terutama untuk Anthony Hopkins sebagai unggulan Pemeran Utama Pria (Serial Drama) yang easily overshadowed oleh aktor-aktor lainnya di serial tersebut.
Lalu untuk SNL, saya mengernyitkan kening membaca nama Vanessa Bayer dan Leslie Jones di jajaran Pemeran Pendukung Wanita (Serial Komedi). Bukan apa-apa. Mereka dua orang komedian lucu. Namun peran-peran mereka di SNL musim ke-42 yang lalu nyaris tidak ada satu pun yang meninggalkan kesan.

Live from New York, it’s Saturday niiiiggghhht!

• Stasiun televisi berbayar HBO memimpin jumlah nominasi keseluruhan dengan 110 nominasi, diikuti oleh … Netflix dengan 96 nominasi! Apakah artinya trend yang sudah berlangsung selama 3 tahun terakhir ini? Artinya, kalau mau konten bagus, bayar!
Tak bisa dipungkiri kalau saluran premium macam HBO dan Netflix masih menjadi acuan untuk program acara yang bagus dalam kualitas penceritaan. Dan mereka tidak tanggung-tanggung dalam mengeluarkan biaya untuk memproduksi program televisi yang berkualitas tinggi. And they change the way we watch, consume and consider “television” these days.

Data-data menarik seputar nominasi Emmy Awards tahun ini bisa Anda googling sendiri ya.

Soalnya, tulisan saya tiap minggu ketiga Kamis memang tujuannya memberikan rekomendasi tontonan apa yang bisa kita tonton di saluran streaming yang bisa Anda akses.

Jadi …

• Jika hanya punya waktu untuk menonton satu film saja di akhir pekan ini, maka tontonlah

San Junipero

San Junipero

Di beberapa saluran media sosial akhir tahun lalu, saya pernah menulis kalau “San Junipero”, yang merupakan salah satu episode di serial “Black Mirror” season 3 adalah “the finest hour of television programming in a year”. Makanya saya jadi jingkrak-jingkrak kesenangan sendiri melihat “San Junipero” masuk nominasi sebagai Film Televisi Terbaik. A surprise nomination, indeed. Kemungkinan menangnya pun kecil. Tapi tontonlah. Di akhir tayangan, Anda mungkin akan tersenyum sambil terharu, sambil berdendang lagu “Heaven is a Place on Earth”-nya Belinda Carlisle. Benar, cerita filmnya masih berkutat seputar teknologi. Tapi aplikasi teknologi dalam cerita film ini sungguh tidak bisa ditebak alurnya.

• Jika punya cukup waktu untuk menonton satu serial di akhir pekan ini, maka tontonlah

“Grace and Frankie” (Season 3)

Grace & Frankie

Jujur saja, saya bukan penggemar serial komedi ini waktu baru tayang. Musim penayangan pertama, saya cuma menonton episode-episode awal, lalu ketiduran di episode-episode akhir. Musim penayangan kedua, mulai tertarik. Dan di musim penayangan ketiga, baru bisa tertawa lepas menontonnya. Premise serial ini adalah dua perempuan tua yang saling berteman, namun pertemanan mereka harus teruji saat kedua suami mereka malah saling jatuh cinta dan menikah. Di musim ketiga ini, Grace dan Frankie jungkir balik menjual vibrator (!!!) sebagai bisnis baru mereka, sekaligus membuktikan kalau mereka masih produktif di usia senja. Lily Tomlin dan Jane Fonda memang aktor kelas wahid: penyampaian dialog mereka selalu spot on dan kocak. Ini yang membuat mereka layak diganjar nominasi sebagai Pemeran Utama Wanita (Serial Komedi).

Prediksi lengkap pemenang Emmy Awards tentu saja baru saya akan post menjelang perhelatan acara tersebut di bulan September.
Lama juga ya jaraknya dari pengumuman nominasi, sekitar 2 bulan. Sempat terpikir, “lama amat sih? Oscar aja kayaknya gak sampai 2 bulan deh.”
Lalu setelah dipikir-pikir lagi, 2 bulan waktu yang cukup banget buat catch up serial-serial yang dinominasikan.

Selamat menonton!

Tambahan:
Setiap musim penghargaan televisi dan film, dua media industri hiburan terbesar di Amerika, yaitu Variety dan The Hollywood Reporter, sama-sama bersaing membuat acara yang sama, yaitu para aktor dan aktris saling bertemu untuk membicarakan karya mereka.
Kalau Variety formatnya adalah dua orang aktor bertatap muka untuk berdiskusi. Kalau The Hollywood Reporter memilih format meja bundar, di mana sekitar 6 sampai 7 orang aktor atau aktris mendiskusikan karya mereka di serial televisi atau film yang mereka bintangi. Meskipun belum tentu kita melihat serial atau filmnya, tapi pembicaraan mereka masih menarik buat kita ikuti.
Lihat saja contohnya saat aktris-aktris di serial komedi bertemu dan berbicara riuh rendah satu sama lain. Tidak ada persaingan, tidak ada yang disembunyikan. Seru!

Advertisements

Menunda Emosi Sejenak

Seperti layaknya adegan sesi konseling pecandu hal-hal berbahaya yang sering kita lihat di film atau serial televisi, maka saya mau memulai sesi kita kali ini dengan pengakuan:

“Hi. My name is Nauval, and I’m a Netflix addict.”

Lalu Anda semua secara spontan akan menjawab dengan, “Hi, Nauval.
Tapi berhubung saya tidak bisa melihat reaksi Anda secara langsung, maka saya anggap saja Anda sudah melakukannya.

Sebenarnya sudah cukup lama saya berlangganan Netflix. Kira-kira hampir setahun. Saya memilih Netflix dibanding platform video streaming lain, karena kualitas film yang tersedia. Baik itu serial televisi, film pendek, film dokumenter, atau film cerita panjang. Baik itu produksi dan edaran Netflix sendiri, atau dari apa yang sudah dipilih Netflix untuk kita tonton.

Namun frekuensi menonton ini semakin tinggi saat beberapa bulan lalu Netflix menyediakan fitur untuk mengunduh film yang akan kita tonton. Whoa! Ini berarti, tidak perlu putar akal cari koneksi wifi kencang untuk sekedar menonton. Bisa offline viewing!

Tak ayal lagi, langsung saya mengunduh beberapa film dan serial yang sudah masuk dalam daftar film-film yang mau saya tonton. Seketika juga ponsel nyaris penuh. Maka mau tidak mau, saya harus menyelesaikan menonton film yang sudah diunduh. Selesai menonton, langsung delete filmnya. Space yang ada dipakai untuk mengunduh film atau episode serial berikutnya. Begitu terus berjalan.

(pic from marketingland.com)
(pic from marketingland.com)

Selama ini memang saya cenderung ‘mengagungkan’ pengalaman menonton yang saya anggap proper. Sebisa mungkin di bioskop. Kalau tidak, di layar televisi di rumah.

Nyatanya, sebagian besar waktu dihabiskan untuk beraktivitas di luar rumah. Alhasil, film dan serial hasil unduhan saya tonton waktu saya berlari di atas treadmill. Atau saat di atas pesawat, terutama kalau tidak ada in-flight entertainment. Atau waktu naik kereta. Atau di bangku belakang mobil Uber.

Awal-awalnya terasa aneh. Apalagi harus memegang gawai yang harus saya bawa, kalau tidak ada tempat untuk meletakkannya. Selain itu, mau tidak mau saya harus siap untuk menghentikan apa yang saya tonton saat pesawat mau landing, mobil Uber sudah sampai tujuan, atau sesi lari saya sudah berakhir.

Saya sempat ragu, apakah saya bisa menikmati tontonan film dengan cara seperti ini.
Lama-lama, akhirnya saya terbiasa.

Setelah berkutat dengan dokumenter pendek atau serial dengan durasi 30-40 menit per episode, minggu lalu saya menguji kemampuan diri dengan menonton arthouse film sambil berolahraga. Pilihan saya jatuh pada film Aquarius dari Brazil. Durasinya cukup panjang, 2 jam 20 menit. Filmnya tersampaikan dengan baik. Banyak adegan yang tidak memerlukan banyak dialog, namun kita masih bisa mengikutinya.

Sonia Braga in "Aquarius" (pic from latimes.com)
Sonia Braga in “Aquarius” (pic from latimes.com)

Saya menyelesaikan film ini dalam 3 kali lari. Saya memutuskan untuk tidak menyelesaikan, misalnya, saat pulang ke rumah di hari itu juga. Sambungan film tersebut saya tonton keesokan harinya saat saya lari lagi. Demikian pula seterusnya, sampai film itu selesai.

Ternyata, saya masih bisa sangat menikmati filmnya. Setiap jeda yang saya ambil waktu click tombol “pause”, saya ibaratkan seperti menarik nafas panjang waktu membaca buku. Kadang-kadang, membaca buku bisa menguras emosi kita. Atau mungkin kita sudah mengantuk, sehingga kita menaruh pembatas buku untuk menunda sejenak pengalaman kita masuk ke dalam dunia apapun yang ditulis oleh pengarang.

Demikian pula yang saya rasakan saat menonton dunia lain di layar gawai. Sensasi untuk menghentikan sejenak apa yang kita tonton, absorbing what we just saw, kembali ke dunia nyata dan beraktifitas, sambil berjanji untuk meneruskan tontonan esok hari, rasa yang tercuat sama seperti membalik halaman buku, dan menundanya sesaat.

Tentu saja saya masih ke bioskop. Pengalaman ke bioskop dan menonton di layar lebar masih tidak tergantikan. Toh pergi ke bioskop sendiri adalah sebuah kegiatan, an event, yang memang memerlukan persiapan khusus. Secara tidak langsung, mental kita pun sudah menyiapkan diri untuk mengalokasikan 2-3 jam terpaku di layar lebar.

(pic from businessinsider.com)
(pic from businessinsider.com)

Namun di kesempatan lain, kadang kita tak punya banyak waktu untuk menikmati satu tontonan secara langsung. In that case, mengutip lagu Marvin Gaye dan Diana Ross, just stop, look, listen to your heart.

A good story remains good, no matter how many times you pause to take a breath.

Selamat menonton!

Era 80an Tidak Akan Pernah Mati

Sejarah akan berulang dengan sendirinya. Entah siapa ini yang membuat kutipan. Tapi yang jelas masih relevan sampai sekarang. Dari aspek politik, mode, musik, atau pun film. Tentunya kita masih ingat ketika The Strokes dan The Killers menggebrak dengan musik jadulnya di awal millennium. Dari situ dimulailah banyak musik yang mendaur ulang genre musik jaman dulu. Gejala itu sampai sekarang masih berlanjut. Kita tahu sekarang ada The 1975, The Weeknd, CHVRCHES, atau musik sejenis lainnya yang kita sebut dengan electro-pop ini sebetulnya hanya daur ulang. Di tahun 80an kita menyebutnya synth-pop atau new wave. Beberapa pentolannya masih aktif bermusik. Sebut saja Pet Shop Boys, Depeche Mode atau New Order.

stranger7

Gejala ini rupanya menjalar ke dunia sinema. Banyak sekali film yang dirilis. Entah itu reboot, spin-off, atau remake yang diadaptasi dari film era 80an. Tidak usah saya sebut ya. Terlalu banyak. Saya sebut deh satu film yang lagi tayang di bioskop. Ghostbusters. Tapi ada satu serial rilisan Netflix yang menurut saya layak tonton. Kenapa? Karena serial ini berhasil mengembalikan era saya ketika masih bayi. Era 80an. Itu saja? Tidak. Ada satu nama yang kalian pasti rindukan: WINONA RYDER. Usia serial ini baru seminggu. Tapi berhubung Netflix yang menayangkan maka semua delapan episod sudah langsung dinikmati. Itu salah satu kelebihan Netflix dibanding dengan serial “konvensional” lainnya yang harus menunggu minggu depan ketika satu episod habis. Ngeselin kan? Maenin perasaan orang lain. Tega banget sih. Anak orang digituin.

stranger3

Serial ini sangat bagus sekali. Untuk yang suka film di era 80an pasti suka dengan film ini. Apalagi jika mengikuti film Spielberg semacam E.T, atau Third Encounters of The Close Kind. Atau film-film dari Stephen Kings, John Carpenter. Atau bahkan Super 8-nya J.J. Abrams. Stranger Things bergenre supranatural sci-fi horror. Film remaja. Hantunya juga gak serem koq. Seru. Premisnya ada anak kecil yang hilang misterius dan anak cewek dengan kemampuan telekinesis yang tiba-tiba muncul. Standar kan? Tapi The Duffers Brothers berhasil meracik formula yang pas. Ada sedikit X-Files, sedikit Dungeons & Dragons, sedikit Star Wars, sedikit Indiana Jones, sedikit Back To The Future.

stranger1

The Duffer Brothers berhasil meramu semua elemen dari film yang ia suka menjadi serial yang membangkitkan nostalgia ke era 80an. Tapi tidak basi. Tidak berlebihan. Tidak pretensius kalo anak jaman kiwari banyak bilang. Perlu diperhatikan juga para akting Winona Ryder sebagai ibu dari anak yang hilang aktingnya total. Dia bermain sangat apik. Mungkin ini akting Winona yang paling baik selama karirnya di dunia film. Sebelum hiatus karena ketauan ngutil di Saks Fifth Avenue.

Tidak berhenti di situ. Duffer Brothers nuansa kental 80an itu tidak afdol kalo tidak dibarengi dengan skoring musik dengan balutan synthesizer yang mencekam dari Kyle Dixon & Michael Stein. Synthesizer sangat populer di tahun 80an. Dan terakhir yang harus dinikmati adalah sontrek dari serial ini penuh dengan musik di era 80an. Dan untuk itu maka saya sengaja buat playlist yang lagunya muncul di Stranger Things. Dengerin ya. Capek saya bikinnya ih.

Selamat marathon ya akhir pekan ini. Dan tetaplah penasaran dengan apa yang terjadi di luar sana.

House of Cards: Ketika Angin Semakin Kencang Menerpa

Di sini ada yang ngikutin serial dari House of Cards? Perjalanan seorang politisi yang merintis jalan menuju Gedung Putih? Saya harapkan banyak ya. Karena serial ini bagus sekali. Bahkan saking bagusnya, saya akhir pekan kemarin tidak melakukan aktivitas apa-apa selain melahap semua tiga belas episod dari musim ke empat dari serial ini. Serial ini dibintangi oleh Kevin Spacey dan Robin Wright sebagai Frank dan Claire Underwood. Dua orang suami istri yang bahu membahu dan melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Sepertinya layaknya politisi kebanyakan. Untuk yang ingin mengikuti lebih jauh dalam kenapa serial ini penting sekali, saya pernah bahas dan tulis di sini. Silakan mampir kalo berkenan.

hoc5

 

Serial ini diikuti oleh Bill Clinton. Mantan Presiden Amrik itu bahkan  berkata bahwa apa yang terjadi di House of Cards memang 99% sama dengan kenyataan yang terjadi di Gedung Putih. Jika seorang presiden berkata seperti itu. Lalu apa alasan untuk tidak mengikutinya. Apalagi jika memang suka dengan serial politik dan segala intrik yang terjadi di dalamnya. Ini adalah serial genre political thriller terbaik yang pernah ada.

 

a ​complicatedorganization or ​plan that is very ​weak and can ​easily be ​destroyed or ​easily go ​wrong

House of Cards, menurut kamus Cambridge mempunyai definisi seperti saya kutip di atas. Bagaikan menyusun kartu untuk membuat sebuah rumah atau piramid tapi pondasinya tidak kokoh. Rapuh. Sedikit goyangan atau ada angin yang bertiup maka kartu akan berantakan di meja. Ini yang disoroti di serial ini. The Underwoods (sebutan untuk Frank dan Claire Underwood) berusaha sekuat tenaga untuk menjaga kartu tersebut tetap pada rencana semula. Dan ketika kartu tersebut semakin menjulang ke atas dan membentuk suatu “rumah” yang utuh itulah yang tujuan yang ingin dicapai. Tapi untuk melakukan itu tentunya bukan hal yang mudah. Apalagi jika anda seorang politisi di level paling tinggi di negara adidaya. Selalu saja ada yang ingin meniupnya. Selalu saja ada yang ingin menggoyang meja. Apa saja dilakukan untuk meruntuhkan kartu yang telah tersusun. Tapi di sisi yang lain The Underwoods tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dan mereka akan melakukan apa saja agar kartu yang telah tersusun itu tetap pada tempatnya. Apa saja. Yang penting mereka tetap berada di puncak kekuasaan.

hoc7

Yang membuat serial ini istimewa adalah sang kreator, Beau Willimon, membuat naskah yang relevan dengan situasi terkini yang sedang terjadi di dunia. Khususnya Amerika Serikat. Latar belakangnya sebagai mantan penasehat Hillary Clinton juga sangat membantu dalam pembuatan naskah. Di dunia nyata kita sedang melihat Demokrat dengan kandidatnya Bernie Sanders dan Hillary Clinton berusaha untuk menjadi calon Presiden. Dan di kubu yang lain sepertinya Donald Trump akan melaju sebagai capres dari Partai Republik. Perang Dingin jilid dua dengan Rusia pun dipotretkan oleh House of Cards musim keempat ini. Ancaman teroris dari ISIS di dunia nyata pun ada di serial ini. Dengan nama yang diganti tentunya. Serial ini berusaha dibuat senyata mungkin dengan kondisi yang terjadi di dunia saat ini.

hoc6

Pencitraan, PR stunt, atau apapun sangat dibutuhkan dalam masa kampanye, demi mendongkrak elektabilitas seorang kandidat. Di musim ini pun begitu. Social media yang memegang peranan penting untuk salah satu kandidat. Kita sangat tahu apa yang dilakukan Donald Trump dengan segala pernyataan kontroversialnya yang justru mendongkrak elektabilitasnya. Kita tahu juga bagaimana Ridwan Kamil, Jokowi, ataupun Ahok bagaimana mereka memanfaatkan media. Mereka ada di mana-mana. Itu bermanfaat. Tapi di lain pihak itu juga bisa menjatuhkan. Itu diperankan dengan baik oleh Joel Kinnaman sebagai kandidat dari partai Republik di serial ini. The Conways, pasangan muda ganteng dan beristri cantik, (terlihat) bahagia, dan mempunyai dua anak yang masih kecil. Idaman Amerika. Kondisi ini dimanfaatkan sebaik mungkin melalui internet, Media sosial terutama. Sementara The Underwoods kebalikannya. Tradisional.

Untuk bisa merangkum apa yang sebetulnya terjadi di Hourse of Cards. Bisa dilihat di video Youtube di bawah ini. Tapi kalo ingin menghindari spoiler saya sarankan tidak melihatnya. Kecuali kalo memang penasaran.

Siapa yang bisa membangun rumah dari kartu setinggi dan kuat dari terpaan angin maka mereka yang akan menjadi pemenang. Lalu siapa yang menang jika begitu? Mereka yang memegang kartu truf. Segera nonton jika belum. Tidak ada kata terlambat. Jika sudah. Mari kita berdiskusi di kolom komen.

 

 

 

Internet Killed The Video Star

hoc5

Beberapa hari yang lalu. House of Cards Season 3 baru saja rilis melalui Netflix. Bukan HBO atau TV lainnya. Tanggapannya positif dari musim pertama hingga ketiga. Tiga belas nominasi Emmy Awards di musim pertama. Terakhir Kevin Spacey mendapatkan Golden Globe pertamanya melalui perannya sebagai Frank Underwood di serial tersebut. Memang sudah waktunya dia mendapatkan piala itu. Breaking Bad sudah tamat. Frank Underwood, sang politisi dengan gaya ruthless pragmatism-nya sekarang menggantikan tempat Walter White, guru kimia di SMA yang over-qualified dan menjelma menjadi Heisenberg, produsen sekaligus penjual meth.

Media Right Capital membeli copyright ini dari BBC dan membuatnya menjadi versi Amerika. Fokus dari serial ini ada pada Frank Underwood, seorang congressman dari Partai Demokrat (kalo di sini anggota DPR mungkin ya), yang berhasil meloloskan jagoannya menjadi Menlu AS. Selanjutnya, siapa yang menghalangi jalannya akan dia libas. Siapapun dia.

Apa sih yang spesial dari serial yang diadaptasi dari judul yang sama buatan BBC ini? Terus terang saya tidak pernah mengantisipasi sebuah serial televisi seantusias ini. House of Cards di mata saya sudah berada di kelas The Wire, Breaking Bad, The Sopranos, Friends atau mungkin X-Files (pencinta Glee dan The Big Bang Theory melipir dulu ya). Saya sengaja menghabiskan akhir pekan kemaren melahap semua episode House of Cards musim ketiga ini yang tentunya akan ada lanjutannya.

Seluruh episode? Koq bisa? Kan baru rilis? Ya bisa. Karena Netflix, penyedia layanan media streaming (maaf saya belum menemukan padanan kata streaming dalam Bahasa Indonesia) dan pemilik hak siar dari serial ini memutuskan untuk merilisnya sekaligus. Semua episod bisa dilihat. Kapan saja. Di mana saja. Selama koneksi internet anda ngaceng. Dua puluh empat jam sehari. Tujuh hari seminggu. Tidak seperti serial dari TV Kabel konvensional seperti Indovision, First Media, Big TV atau Orange, Aora, atau yang lainnya yang hanya menayangkan per episod setiap minggunya.


Di tengah kesibukan merampungkan The Curious Case of Benjamin Button, David Fincher mendapat tawaran dari agennya untuk menggarap House of Cards. Ide ini diterima dengan suka cita oleh David Fincher. Dia memang sudah lama menginginkan membuat karakter dalam format yang panjang seperti televisi. Tidak seperti film.

hoc10

Ketika dia membaca naskah tersebut hanya ada satu orang yang ada di benak David Fincher untuk memerankan Frank Underwood. Dia adalah Kevin Spacey (masih ingat film Se7en?). Akhirnya mereka berdua berkolaborasi sebagai produser pelaksana. Tapi Fincher membutuhkan orang yang berpengalaman di bidang politik. Orang dalam yang mengetahui seluk beluk Gedung Putih dan Capitol Hill.

Orang itu adalah Beau Willimon, seorang penulis naskah lulusan Julliard yang telah menelorkan The Ides Of March, yang diganjar nominasi Best Adapted Screenplay oleh Academy Awards. Beau juga pernah menjadi sukarelawan Hillary Clinton untuk menjadi Senat, dan juga membantu kampanye Howard Dean dan Bill Bradley untuk menjadi Presiden dari Partai Demokrat. Pas.

Ted Sarandos, Chief Content Officer dari Netflix, mencium adanya potensi kesuksesan di House of Cards. Maka Netflix membeli hak siar dari serial itu sebelum diambil HBO, AMC, atau Showtime. Netflix juga membutuhkan serial produksi sendiri, eksklusif. Tidak hanya sekedar “menyediakan film dan serial yang sudah ada”.  Ted juga melihat statistik dan kebiasaan dari pelanggan Netflix bahwa ada penonton yang yang cukup signifikan jumlahnya yang menyukai film yang dibintangi Kevin Spacey, film yang disutradarai David Fincher, dan film dengan genre political thriller.  Restoran pun membutuhkan makanan khas, enak dan tidak dipunyai restoran lain kan? Kalo sudah punya keunikan. Makanan yang lain pasti dicicip. Yakan? Yasih.

Lalu hasilnya apa? Dengan masuknya House of Cards sebagai serial unggulan dari Netlix yang menghabiskan $100 juta dollar per musim ini? Pelanggan berbayar Netflix melonjak drastis. Dari 24 juta pelanggan sekarang menjadi 50an juta pelanggan, dan terus bertambah. Setengahnya adalah dari Amerika Utara. Harga sahamnya pun terus naik.

Jika HBO dulu mempunyai serial unggulan The Sopranos dan Sex And The City. Maka Netflix mempunyai House of Cards dan Orange Is The New Black. Netflix adalah HBO-nya internet. HBO versi streaming. Ala carte. 

“This is the future, streaming is the future. TV will not be TV in five years from now…everyone will be streaming.” 


 

Lalu, kalo begitu internet kencang buat apa? Coba tolong tanya Pak Rudiantara yang sempat bercokol di Telkom, Indosat, PLN dan juga XL yang entah sedang apa, di mana dan bersama siapa dia sekarang.

Udah ah jangan ngomongin politik aja. Mending denger lagu ini. Lebih suka versi Buggles sih Tapi pake yang ini aja. Biar tematik gituu. Kan yang bawain The President Of The United States America.

Gimana kalo judul lagunya diganti aja jadi Internet Killed The Video Star? Hmm?