Delapan Momen Musik Dan Lagu Dalam Film Yang Paling Pas Di Tahun 2016

Film tidak bisa lepas dari musik dan lagu. Kedua elemen ini bisa menaikkan sensasi emosional di satu atau beberapa adegan di film … dan demikian pula sebaliknya. Kalau musik dan lagu terkesan out of place, yang ada malah kita tidak bisa menikmati film yang sedang kita tonton.

Tadinya daftar ini maunya dibuat “ringkes” saja menjadi daftar soundtrack paling oke tahun ini. Namun keterbatasan saya dalam mengikuti perkembangan kancah industri musik dunia, termasuk Tanah Air, membuat saya gagap informasi tentang soundtrack film dan televisi. Akhirnya daftar ini memuat beberapa pengalaman pribadi saya saat mendengarkan musik dan lagu dari sebuah film. Dan saat menonton filmnya, biasanya saya langsung tersenyum dan mengangguk, karena merasa “emang musik dan lagunya pas sih sama ceritanya”.

Hence, the title.

Daftarnya sengaja tidak saya buat urutan ranking, karena selain bikin daftar angka di WordPress itu ribetnya setengah modyar, saya ingin Anda bisa menikmati lagu-lagu ini sendiri secara random, tergantung perasaan hati masing-masing.

Ini dia:

Try Everything – Shakira (OST Zootopia)

Film Zootopia tanpa disangka-sangka menjadi salah satu film animasi terbaik tahun ini. Ceritanya sangat lancar dituturkan. Dan momen kemunculan lagu ini sangat pas, masuk di cerita menjelang akhir, saat diskriminasi di kota Zootopia mulai runtuh, lalu masyarakat merayakan keragaman mereka. Beat lagu yang ceria juga membuat lagu ini tidak outdated, biarpun didengarkan beberapa bulan kemudian.

Next …

Lose My Breath – Destiny’s Child (from the movie Billy Lynn’s Long Halftime Walk)

Waktu lagu ini muncul di film Billy Lynn’s Long Halftime Walk, yang sayangnya cuma beredar sangat sebentar di sini, saya langsung tertawa. Pikir saya, “WTF? Apaan nih?” Lalu lagu yang dimainkan utuh di film tersebut ternyata memegang peranan penting dalam cerita. Di adegan inilah Billy Lynn akhirnya harus benar-benar mengkonfrontasi konflik di dalam dirinya, sampai jatuh pingsan. Di tengah-tengah pertandingan baseball besar, para tentara yang baru pulang dari Irak dipaksa menjadi “penari latar” Destiny’s Child. Benar-benar sebuah juxtaposition sekaligus tamparan sosial yang sangat subtle, yang jarang ditemui di film-film Hollywood akhir-akhir ini.

Then …

While My Guitar Gently Weeps – Regina Spektor (OST Kubo and the Two Strings)

Lagi-lagi film animasi dan ceritanya yang indah. Tapi saya tidak akan bercerita banyak tentang kenapa versi anyar dari lagu klasik The Beatles ini masuk ke daftar di sini. Yang jelas, saat lagu ini muncul di credit title, sontak saya tersenyum, sambil membatin, “No wonder.” Judul lagu ini saja sudah mewakili ceritanya. Tonton saja sendiri. You will be pleased.

Lalu …

Tiga Dara (OST Tiga Dara)

Pertengahan tahun ini kita sempat melihat hasil restorasi film klasik Tiga Dara produksi tahun 1956 di bioskop. Kesempatan yang langka ada di layar lebar kita. Lagu tema “Tiga Dara” yang muncul di adegan pertama membuat kita tersenyum, sekaligus bangga, bahwa kita pernah membuat film sebagus ini.

Continue …

Can’t Stop the Feeling – Justin Timberlake (OST Trolls)

Pertengahan tahun ini, saat lagu ini sudah diluncurkan di radio, saya “menahan diri” supaya tidak terlalu sering mendengarkan. Takut ter-brainwashed, lalu saat menonton filmnya, jadi kecewa karena tidak sesuai harapan. Untungnya, yang sebaliknya yang terjadi. Saya menonton film ini di bioskop yang penuh dengan anak kecil dan orang tua mereka, dan semuanya menikmati lagu-lagu yang disajikan di film ini. Dan lagu “Can’t Stop the Feeling” yang dihadirkan menjelang akhir seperti menjadi the sweetest treat, puncak dari cerita yang menyenangkan. It’s the best jam of the year.

Rolling …

She Loves You – The Beatles (from the movie The Beatles: Eight Days a Week – The Touring Years)

Beruntung saya sempat menonton film dokumenter The Beatles: Eight Days a Week ini di bioskop. Film yang sebenarnya adalah surat cinta dari para pembuatnya terhadap The Beatles, and it clearly shows. Dari sekian banyak lagu The Beatles yang ditampilkan di sini, ada satu yang tampil sebentar, namun paling menggetarkan hati. Momen itu hadir saat kita menonton footage di tahun 1964, saat pertandingan sepak bola di stadion Anfield, Liverpool, semua orang yang hadir di stadion ini serempak menyanyikan “She Loves You”. Priceless. Chilling. Bulu kuduk saya masih merinding saat menuliskan pengalaman ini, padahal hanya menonton dari kejauhan. It is that rare, magical moment in cinema.

Next …

Love You Zindagi (OST Dear Zindagi)

Meskipun saya sering menonton film Bollywood, namun saya tidak bisa bicara bahasa Hindi. Pick up beberapa istilah dan kata pun juga tidak bisa. Namun ada sesuatu yang lain dari soundtrack film Dear Zindagi ini. Nada-nadanya terdengar santai. Membuat pendengarnya merasa relaxed. Cocok buat dijadikan teman perjalanan jauh ke luar kota. Dan saat menonton filmnya pun, kesan itu yang ditangkap. Nyaris tidak ada adegan over-the-top, termasuk penempatan musiknya. Kemunculan lagu ini pun sangat appropriate, very much in place with the main character’s development. Salah satu surprises of the year buat saya.

Finally …

Jangan Ajak-Ajak Dia – Melly Goeslaw (OST Ada Apa Dengan Cinta 2)

The most “baper” song of the year. Ke-baper-an itu semakin pas saat lagu ini muncul di adegan crucial yang membuat kita mengerti, kenapa magnet Cinta dan Rangga masih sedemikian besar setelah berbelas-belas tahun kemudian. Dari semua lagu baru yang hadir, lagu ini yang memang paling pas kemunculannya di film AADC2.

Bonus:

Heaven is a Place on Earth – Belinda Carlisle

Kenapa lagu ini penting? Karena the finest hour of television in this year sepenuhnya diciptakan dari lagu ini. Alasannya ada di tulisan tentang top 10 tv shows of 2016 di sini.

Selamat berdendang ria!

Advertisements

20 Album Berusia 20 Tahun di 2015 (Bagian 2)

Kalau sudah ngomong nostalgia, rasanya susah berhenti. Maklum, semua yang sudah lewat itu akan terasa lebih indah saat dikenang.

Makanya, di bulan Ramadhan ini banyak sekali bermunculan acara buka puasa berkedok reuni. Baik itu reuni sekolah, reuni kantor lama, ataupun reuni yang lain. Reuni dengan mantan pacar? Wah, pahalanya pasti berlipat ganda. Sudah buka, masih bisa menahan hawa nafsu.

Lalu apa hubungannya dengan tulisan di bawah ini?

Tentu saja tidak ada. Hahaha.

Tapi ‘kan kita sedang melihat ke belakang apa yang pernah jadi bagian dari keseharian kita. Tidak tanggung-tanggung, 20 tahun ke belakang. Dan “kebetulan” apa yang kita lihat, atau kita dengarkan ini, masih terasa relevan saat diputar sekarang. Ya, nggak?

Paling nggak silakan Anda menilai sendiri dengan mendengarkan playlist di bawah, dan bandingkan dengan playlist minggu lalu. The fact bahwa saya masih bisa mengingat album-album di bawah ini, dan masih mendengarkan di berbagai kesempatan, menunjukkan bahwa good music lasts.

Yuk kita lanjutkan tulisan minggu lalu.

11. Medusa (Annie Lennox)

Medusa (Wikipedia)
Medusa (Wikipedia)

Semua album ini berisi daur ulang lagu-lagu lama dari dekade 1960-an dan 1970-an. Tapi semua terasa baru. Dari gaya bernyanyi Annie Lennox, tata ulang musiknya, semuanya terasa baru. Lagu “No More I Love You’s” sempat diputar cukup sering di radio. Saya pun tergerak beli saat berada di sebuah toko kaset di dekat toko buku Gramedia. Dibawa pulang, akhirnya semalaman menghapalkan seluruh lagu di kaset ini.

12. Nobody Else (Take That)

Nobody Else (Wikipedia)
Nobody Else (Wikipedia)

Pas album ini baru saja keluar, eh Robbie Williams keluar dari grup ini. Rasa nyesek-nya persis seperti waktu Zayn Malik keluar dari One Direction. Karena belum ada internet, jadilah semua majalah remaja memberitakan hal ini sampai di beberapa edisi. Apalagi single mereka “Back for Good” baru saja dirilis. Seakan-akan anggota grup yang lain ngarep dengan melas supaya Robbie balik lagi.

13. Pieces of You (Jewel)

Pieces of You (Wikipedia)
Pieces of You (Wikipedia)

Adem. Itulah kesan pertama pas saya mendengarkan “Who Will Save Your Soul?” di radio, tanpa tahu siapa penyanyinya. Padahal ada sedikit kesan marah di lagunya. Tapi suaranya yang diberat-beratkan di lagu itu membuat kesan ‘adem’ di pendengarnya. Atau mungkin saya saja ya? Dan akhirnya lagu “You Were Meant For Me” yang mengawali jatuh cinta saya terhadap seisi album ini.

14. Saturday Morning: Cartoon’s Greatest Hits (Various Artists)

Saturday Morning: Cartoon's Greatest Hits (Wikipedia)
Saturday Morning: Cartoon’s Greatest Hits (Wikipedia)

Pendorong beli lagu ini? Apalagi kalau bukan lagu “Open Up Your Heart (And Let the Sunshine In)” dari Frente!, band Australia yang sempat ngetop dengan “Bizarre Love Triangle” versi akustik mereka. Pertengahan 1990-an, genre musik alternative masih berjaya di radio dan di media lain. Jadi album ‘sederhana’ ini, yang isinya grup musik alternative menyanyikan ulang lagu-lagu pengantar serial kartun televisi, cukup populer juga pada jamannya. Jaman kami masih muda belia imut menggoda. Sekarang? Wallahualam.

15. Something to Remember (Madonna)

Something to Remember (Wikipedia)
Something to Remember (Wikipedia)

Kalau ingin tahu sensasi Madonna dari tahun 1980-an sampai awal 1990-an, silakan google sendiri. Orang tua saya sempat ketar-ketir kalau anaknya membawa majalah ke rumah yang ada tulisan “Madonna” pun. Seakan-akan Madonna itu bersinonim dengan kata haram.
Lalu muncul album “Bedtime Stories” tahun 1993. Kok manis ya. Lalu muncul lagu “Take a Bow” dari album itu. Kok anggun sekali.
Dan menjelang akhir pertengahan 1990-an, nyaris tanpa sensasi apapun, Madonna mengeluarkan album greatest hits pertamanya ini. Lihat saja cover albumnya. Siapa sangka itu Madonna?

16. Terbaik Terbaik (Dewa 19)

Terbaik Terbaik (Dewa 19)
Terbaik Terbaik (Dewa 19)

Tidak ada acara pentas seni sekolah yang tidak akan menyanyikan salah satu lagu di album ini. Seakan-akan ini jadi kaset yang wajib dimiliki anak SMA dan SMP kala itu. Dan sampai sekarang pun, rasanya ini masih jadi album terbaik Dewa. Kenapa rasanya? Karena mendengarkan setiap lagu di album ini menggunakan rasa yang berbeda dari kebanyakan album lainnya. Ada hati yang tersangkut di setiap lagu. Gitu. Tentu saja kita pilih “Cinta ‘Kan Membawamu Kembali” sebagai salah satu lagu cinta Indonesia terbaik dari abad lalu.

17. Tragic Kingdom (No Doubt)

Tragic Kingdom (Wikipedia)
Tragic Kingdom (Wikipedia)

Tiba-tiba di radio sering terdengar lagu “Just a Girl” menjelang akhir 1995. Mungkin salah satu lagu yang akan mengawali musim anak sekolah menggemari musik ska ya? Entah kenapa, ada hook dari lagu ini yang membuat saya kepincut. Setelah tahu penyanyinya bernama No Doubt, dengan vokalis yang punya anting-anting di udelnya bernama Gwen Stefani, saya pun bergegas mencari kaset album ini … Dan jatuh cinta dengan lagu berjudul “Don’t Speak”.

18. Waiting to Exhale OST (Various Artists)

Waiting to Exhale (Wikipedia)
Waiting to Exhale (Wikipedia)

Album pengantar patah hati. Dua puluh tahun, berpuluh kali … Nggak, ding. Cukup beberapa kali patah hati, tapi selalu kembali ke album ini. Seperti ada yang terwakili di setiap lagu dari album ini. Pesannya hampir semua: “it’s gonna be okay in the end. Reach out to your friends.” Susah rasanya menemukan album lain yang mengumpulkan semua penyanyi perempuan R&B terbaik tahun 1990-an di satu album. Sama susahnya harus memilih satu lagu yang mewakili album ini, karena semua sama bagusnya. Kalau sudah pasrah gak bakal balik lagi, puter lagu “Let It Flow” Toni Braxton. Kalau masih penasaran kenapa gak bisa move on, puter lagu “Why Does It Hurt So Bad?”. Yang jelas, mendengarkan album ini dari awal sampai akhir, bikin kita bernafas lega. “Exhale”.

19. (What’s the Story) Morning Glory? (Oasis)

(What's the Story) Morning Glory? (Wikipedia)
(What’s the Story) Morning Glory? (Wikipedia)

Mungkin album rock terbaik dari dekade 1990-an. Mungkin juga selama 20 tahun terakhir ini. Yang jelas, nyaris tidak ada waktu yang terlewat di antara teman-teman saya yang anak band (tentu saja saya bukan) untuk memainkan lagu-lagu seperti “Don’t Look Back In Anger” atau “Champagne Supernova” di setiap kesempatan. Tapi coba perdengarkan sebait lirik ini sekarang:

today / is gonna be the day / that they’re gonna throw it back to you …

Pasti ada yang nyaut dan nyambung:

… by now / you should’ve somehow / realized what you gotta do.

After all, we cannot help not humming toWonderwall”.

Untuk album terakhir di tulisan, saya mau minta maaf sebelumnya karena agak “cheating”. Saya pikir ini album keluaran tahun 1995. Tapi setelah googling, ternyata ini album keluaran tahun 1994. Usut punya usut (lama ya gak kedengeran lagi istilah ini), album ini dirilis di akhir tahun 1994, yang berarti di kebanyakan negara lain, termasuk di Indonesia, baru dirilis tahun 1995. Dan demikian pula saya mengingat album ini, karena baru beli di awal tahun 1995.
Dan buat saya pribadi, inilah album yang paling memorable.

20. CrazySexyCool (TLC)

CrazySexyCool (Wikipedia)
CrazySexyCool (Wikipedia)

Sexy. Itulah kesan pertama waktu mendengarkan kaset ini dari awal sampai akhir. Mungkin kesan seksi itu datang karena album ini didengarkan pada masa akil balig. Bisa jadi. Toh album ini begitu menggoda dengan tampilan sampul album warna merah menantang, dan tarikan suara ketiga perempuan ini sungguhlah mempesona. Mulai dari “Creep”, “Diggin’ on You”, sampai akhirnya “Waterfalls”, yang sampai sekarang tak pernah bosan menonton video klipnya. Salah satu album yang masih bikin kepala otomatis bergoyang, meskipun sekarang didengarkan dari iPhone, bukan Walkman lagi.

Nah, sekarang silakan dengarkan satu per satu lagu di bawah untuk menemani hari ini.

Dan ada bonus dua lagu yang buat penulisnya sendiri terasa 1995 sekali.

Kalau masih ada lagu yang belum dimuat, silakan request di sini. Sekalian buat kirim salam. Pas kan?

20 Album Berusia 20 Tahun di 2015 (Bagian 1)

Setiap generasi punya musiknya sendiri.

Inilah yang selalu saya percayai. Kenapa begitu? Karena tidak akan pernah habis-habis perdebatan soal era musik yang baik.
Mereka yang tumbuh dan berkembang di era 70-an pasti akan menyebut musik era 70-an adalah yang terbaik. Lalu mereka yang menggeliat di era 80-an pasti akan dengan bangga mengakui kalau musik era 80-an adalah yang paling mumpuni. Demikian seterusnya lingkaran ini bergerak.

Yang pasti, musik yang kita dengar pada saat tumbuh dan berkembang adalah musik yang akan mengendap di diri kita paling lama. Kapan kita tumbuh dan berkembang? Umumnya pada saat kita remaja.

Saat dunia kita umumnya terkonsentrasi hanya pada sekolah dan di luar sekolah, kita bisa lebih mudah mengapresiasi apa yang sedang menjadi trend waktu itu. Kalau perlu, dikonsumsi langsung dengan cara apapun. Seakan-akan fokus hidup kita hanya untuk sekolah, dan menjadi dikenal di sekolah.

Buat saya dan jutaan orang Indonesia yang menjalani usia belasan tahun di era pertengahan 90-an, mengkonsumsi musik berarti:
– menabung untuk membeli kaset, karena CD mahal sekali, dan belum tentu tape recorder kita punya tempat untuk memainkan CD;
– pinjam teman sekelas, dengan janji akan dituliskan lirik lagunya, kalau di dalam kaset tidak ada teks lagu di leaflet kaset;
– membaca tangga lagu di majalah HAI, dan pura-pura tahu lagu apa saja yang lagi ngetop;
– menunggu radio memutarkan lagu itu;
– kalau lagunya lagi ngetop, minta request lagu, dengan harapan request dan ucapan salam pengantar lagu ke calon pacar bisa dibacakan;
– kalau gak punya calon pacar, cukup menyiapkan kaset kosong, lalu siap-siap merekam lagu dari radio dengan intuisi sempurna kapan harus tekan tombol “stop” sebelum suara penyiar ikut ke dalam rekaman kaset;
– nonton di MTV yang direlay Anteve, meskipun kemungkinannya kecil, karena keburu kalah oleh ibu dan kakak yang menonton telenovela.

Kalau dibaca Anda yang baru lahir di tahun 1990-an akhir proses mendengarkan lagu di atas, kok kelihatannya ribet ya? Mungkin kalau dibandingkan dengan era streaming sekarang, jelas berbeda. Maklum, kami adalah generasi terakhir remaja tanpa akses Internet, bahkan baru punya alamat email sebelum krismon (krisis moneter).

Memang tidak ada pilihan lain. Tapi saya lebih senang menyebutnya dengan “there is this art of waiting in consuming the music.”

Sebagai seorang anak sekolah yang tidak terlalu cemerlang prestasi akademisnya, malah mengisi dengan ikut kegiatan ekstra kurikuler, dulu saya lebih senang menghafalkan lirik lagu ketimbang menghafalkan rumus fisika. Uang saku yang diberikan orang tua habis untuk membeli majalah dan kaset.

Satu kaset yang baru bisa dibeli setelah menabung sebulan, bisa didengarkan berulang-ulang sampai pita kaset jadi keriting. Satu album yang berisi 12-13 lagu bisa kita hafalkan dari awal sampai akhir. Kita tidak bisa pindah lagu dari satu album ke album lain hanya dengan satu click, karena jaman itu ya apanya yang mau diklik?

Dan tidak terasa, titik pertengahan era 90-an, tahun 1995, sudah berusia 20 tahun.

Beberapa situs internet “merayakan” sejumlah album musik yang dianggap masih layak didengar dua dekade kemudian.

Di bawah ini ada beberapa album yang dulu pernah saya beli, saya rawat dan saya dengarkan berulang kali. Mereka mungkin bukan yang “terbaik”.
Tapi yang pasti, lagu-lagu di setiap album ini pernah begitu kuat terpatri di memori.

Oleh karena itu, urutan dua puluh album yang tahun ini berusia dua puluh tahun dibuat berdasarkan abjad judul albumnya. Mereka adalah:

1. The Beatles Anthology: Volume 1

The Beatles Anthology Vol. 1 (Wikipedia)
The Beatles Anthology Vol. 1 (Wikipedia)

“Hanya” dengan bermodalkan lagu “Free as a Bird”, lagu terbaru The Beatles dalam 25 tahun, album ini sempat membuat heboh industri musik … dan saya, yang kebat-kebit deg-degan karena akhirnya bisa beli dan punya album The Beatles sendiri!

2. Batman Forever OST (Various Artists)

Batman_Forever_soundtrack

Michael Keaton adalah Batman di masa kecil saya, Christian Bale adalah Batman di masa dewasa saya, George Clooney adalah Batman yang sebaiknya kita lupakan, sementara Val Kilmer adalah Batman di masa remaja saya. Sekumpulan lagu di album ini membuat saya sempat menyukai aliran musik alternative. Meskipun tidak semua lagu ada di film, tapi album ini masih bisa dinikmati sebagai album utuh yang berdiri sendiri. Tentu saja, yang paling sering direwind alias diputar berulang kali adalah “Hold Me, Thrill Me, Kiss Me, Kill Me” (U2) dan “Kiss From a Rose” (Seal).

3. Bidadari (Andre Hehanussa)

Bidadari (Wikipedia)
Bidadari (Wikipedia)

Ada tiga lagu jagoan di album ini, yaitu “Bidadari”, “Karena Kutahu Engkau Begitu”, dan “Kuta Bali”. Itu sudah cukup buat saya membeli kaset ini tanpa pikir panjang lagi waktu itu. Dan tidak ada remaja Indonesia waktu itu yang tidak tahu lagu-lagu tersebut. Ngomong-ngomong, apa kabar om Andre sekarang ya?

4. Bintang-Bintang (Titi DJ)

Titi_-bintang

Album yang manis. Lagu yang menyenangkan. Entah di mana sekarang kaset album ini berada. Lagunya mengingatkan saya pada suasana sore hari yang gerimis sambil berjalan kaki sepulang sekolah.

5. Dangerous Minds OST (Various Artists)

Dangerous Minds OST (Wikipedia)
Dangerous Minds OST (Wikipedia)

Pendongkrak membeli album ini adalah lagu “Gangsta’s Paradise” yang dinyanyikan Coolio. Sehari bisa diputar dua puluh kali di radio waktu itu. Tapi setelah didengarkan seluruh album, banyak lagu yang rap dan R&B yang enak buat diputar di pertandingan basket antar kelas. Dan tentu saja, semakin sah pakai kemeja flannel kotak-kotak.

6. Daydream (Mariah Carey)

Daydream (Wikipedia)
Daydream (Wikipedia)

Kita tidak akan pernah bisa menjangkau suara tinggi jutaan oktaf persis seperti Mariah Carey. Tapi kita dengan pede ikut bernyanyi lagu “Fantasy” atau “Always Be My Baby” setiap dua lagu itu diputar.

7. Design of a Decade (Janet Jackson)

Design of a Decade (Wikipedia)
Design of a Decade (Wikipedia)

Gara-gara lagu “Runaway”, saya beli kaset ini. Tentu saja satu album enak semua, karena ini adalah kumpulan hits Janet Jackson, dengan dua lagu baru. Meskipun menyenangkan, tapi entah kenapa rasanya berbeda. Tidak seperti waktu membeli album Janet Jackson sebelumnya yang diberi tajuk “janet.”. Banyak desahan di album itu. Bikin deg-deg ser …

8. Dunia (GIGI)

Dunia (Wikipedia)
Dunia (Wikipedia)

Sekolah saya pernah didatangi GIGI. Kami disuruh pulang cepat, karena kelas akan dikosongkan sebelum GIGI manggung. Saya dan teman-teman, yang sudah terlanjur hapal di luar kepala lagu “Janji” dan “Nirwana”, memilih menunggu. Tapi GIGI terlambat datang. Kami keburu lapar, dan kami pun pulang. Toh ketika ada jam kosong, kalau ada yang bawa gitar, pasti akan menyanyikan salah satu dari dua lagu di atas.

9. HIStory: Past, Present and Future, Book I (Michael Jackson)

HIStory: Past, Present and Future, Vol. 1 (Wikipedia)
HIStory: Past, Present and Future, Book I (Wikipedia)

Ada teman satu sekolah yang terdaftar jadi anggota resmi fan club Michael Jackson. Waktu album ini mau keluar, hampir tiap hari bolak-balik ke toko kaset yang berbeda, untuk memastikan bahwa album ini sudah dijual apa belum. Hari pertama, dia langsung beli. Saya cuma bisa ikut mendengarkan lewat Walkman yang dia bawa diam-diam ke sekolah. Langsung jatuh cinta dengan “Scream”, “Earth Song”, dan tentunya “You’re Not Alone”.

10. Jagged Little Pill (Alanis Morissette)

Jagged Little Pill (Wikipedia)
Jagged Little Pill (Wikipedia)

Pengakuan: inilah album pertama yang saya hapal dari depan sampai belakang. Itu maksudnya, dari lagu pertama di side A, sampai lagu terakhir di side B. Dari “All I Really Want” sampai “Wake Up”. Tentu saja yang masih hapal di luar kepala sampai sekarang adalah “You Oughta Know”, “Head over Feet”, “Ironic”, “You Learn“, “Hand in My Pocket” … Eh banyak juga ya.
Sebagai “anak daerah”, kecewa karena Alanis Morissette hadir cuma semalam saja konser di Jakarta pada saat ulangan catur wulan. Semoga dia akan datang kembali suatu saat nanti.

Eh lho, katanya 20 album? Kok baru 10?

Sabar ya.

Sisa 10 album berikutnya, ditambah bonus, ditunggu saja minggu depan.

Sekarang, silakan dengarkan satu per satu lagu di bawah untuk menemani hari ini.

Ada request?