Lima Adegan dan Lima Penampilan Mengesankan di 2018

Sedikit break away dari tradisi menampilkan 10 film favorit setiap tahunnya, tahun ini saya melihat banyak sekali momen-momen dan penampilan di film yang patut kita apresiasi.

Sering kali kita malah mengingat sebuah adegan tertentu dari suatu film. Belum tentu film tersebut berhasil memukau kita secara keseluruhan, namun ada beberapa momen dalam film tersebut yang membekas dalam ingatan kita. Jangan heran juga, even good small moments can be found in not so good films.

Some scenes do excellent work on their own.

Oleh karena itu, inilah lima momen dalam film yang dirilis sepanjang tahun 2018, yang sangat mengesankan buat saya:

Crazy Rich Asian – adegan mahjong

crazyrichasians-mahjong-AngryAsianMan_dot_com
Crazy Rich Asian (source: Angry Asian Man)

Kalau sekedar mau memperlihatkan teknis permainan mahjong lengkap dengan psychological undertone, maka anda bisa melihat cuplikan adegan mahjong di fim Lust, Caution karya Ang Lee. Sementara di film Crazy Rich Asian, adegan mahjong ditampilkan apa adanya. Lengkap pula dengan makna permainan yang disampaikan Rachel (Constance Wu) kepada Eleanor (Michelle Yeoh). Namun yang membuat keseluruhan adegan mahjong ini sangat membekas di ingatan justru terletak di akhir permainan, saat ibu Rachel (Tan Kheng Hua) berdiri, menjemput Rachel, dan menatap Eleanor dari kejauhan tanpa kata-kata. That scene, that particular scene between two single mothers. Dua orang tua tunggal, dua ibu, dua orang yang seharusnya menjadi rival satu sama lain, namun akhirnya sama-sama mengerti keputusan yang diambil untuk melindungi anak masing-masing, dilakukan tanpa dialog sama sekali. Acknowledging two single mothers in an Asian (themed) movie? Brilliant.

Museo – adegan perampokan museum

Museo-THR
Museo (source: The Hollywood Reporter)

Film Museo menceritakan kisah nyata perampokan museum antropologi di Mexico City oleh pelaku amatir yang menggegerkan kota tersebut di tahun 1985. Dibintangi Gael Garcia Bernal yang bermain cemerlang, film ini sebenarnya lebih fokus kepada konflik keluarga antara karakter Bernal dengan orang tuanya. Namun adegan perampokan yang dihadirkan pada babak pertama film justru mencuri perhatian dan membuat kita teringat terus sepanjang film. Selama 15 menit, adegan perampokan dihadirkan tanpa kata-kata, minim musik, dan membuat adegan serupa lain di film Ocean’s 8 yang juga dirilis tahun ini tidak ada apa-apanya.

** SPOILER ALERT BEGINS **

Andhadhun – adegan pemindahan jasad

andhadhun-ZeeNews
Andhadhun (source: Zee News)

Bisa jadi film Andhadhun adalah the sleekest thriller from Hindi cinema this year. Mungkin tidak hanya dari India saja, ya. Film ini sangat mengesankan, karena dari awal, ide cerita untuk menempatkan seorang pianis menjadi pura-pura buta dibuat untuk kesan playful. Namun seiring dengan cerita berjalan, sang pianis terpaksa harus menjadi saksi pembunuhan di depan mata, or the lack of them for the sake of pretending. Adegan pelaku pembunuhan yang harus memindahkan jasad yang mereka bunuh di depan pianis yang berpura-pura tidak mengetahui seluruh kejadian tersebut, sungguh sangat menakjubkan.

*** SPOILER ALERT ENDS ***

Roma – adegan penyelamatan di pantai

Roma-DenOfGeek
Roma (source: Den of Geek)

Sungguh susah memilih hanya satu momen yang paling berkesan di film Roma, karya terbaik Alfonso Cuaron ini. Setiap adegan dibuat dengan teliti, membuat kita seolah-olah melihat karya seni yang dibuat dengan pendalaman yang luar biasa. Kalau boleh memilih satu, maka adegan penyelamatan anak-anak di pantai yang membuat saya terkesan. Tingkat kesulitan pengambilan gambarnya sangat tinggi. Namun Cuaron tidak melupakan emosi di setiap karakter yang membuat kita mengambil nafas panjang saat melihat adegan ini, dan menghela nafas panjang penuh kelegaan di akhir adegan.

First Man – adegan pendaratan di bulan

first_man-Polygon_com
First Man (source: Polygon)

Film Alien sudah berikrar di tagline poster mereka, bahwa “in space, no one can hear you scream”. Tidak cuma menjerit, namun mungkin berkata-kata. Itulah mengapa adegan pendaratan di bulan di film First Man sangatlah bermakna. Bahwa saat pertama kali menginjakkan kaki dan melihat bagian dari alam semesta di luar bumi, tidak ada ekspresi atau kata yang bisa mewakili perasaan diri. It’s just silence, and nothing but silence. Maka keheningan di film ini menjadi suatu kemegahan tersendiri yang layak kita alami di layar lebar.

Adegan-adegan lain di film-film yang saya tonton sepanjang tahun 2018 yang juga membuat saya terkesan adalah bagian konser Live Aid di film Bohemian Rhapsody dan dialog panjang di dalam mobil di film Lemonade.

Sementara itu, inilah lima aktor dengan penampilan akting yang paling mengesankan di tahun 2018:

• Gading Marten (Love for Sale)

gading-love-for-sale-(duniakudotnet)
Gading Marten – Love for Sale (source: Duniaku.net)

Less is more. Saya selalu percaya bahwa (hampir) setiap aktor yang terbiasa melawak, bermain di film atau serial komedi, tahu pentingnya timing saat mereka berakting. Gading Marten membuktikan hal itu dalam film Love for Sale. Tanpa perlu terjebak menjadi terlalu dramatis, karakter Richard dihadirkan secara natural, yang membuat karakter ini semakin nyata dan dekat dengan kita. Penampilan terbaik Gading Marten sejauh ini.

• Eva Melander (Border)

eva-border-(bfi_dot_org_dot_uk)
Eva Melander – Border (source: BFI)

Dengan muka semi-monster yang membuat kita bergidik saat melihat karakter Tina pertama kali di film Border, kita malah diajak semakin berempati dengan karakter ini seiring cerita bergulir. Inilah kehebatan Eva Melander yang memerankan karakter ini. Dia memberikan sentuhan humanis di setiap tatapan Tina yang menyiratkan hasrat untuk diterima, dan dalam konteks film ini, dicintai orang lain. Penampilan yang tidak mungkin kita lupakan.

• Jakob Cedergren (The Guilty)

jakob-the-guilty-Vulture_dot_com
Jakob Cedergren – The Guilty (source: Vulture)

Apakah film Buried bisa berhasil tanpa penampilan Ryan Reynolds? Apakah film Locke bisa berhasil tanpa penampilan Tom Hardy? Pertanyaan yang sama patut kita sampaikan untuk film The Guilty ini. Sepanjang film, hanya ada satu aktor, yaitu Jakob Cedergren, yang memandu kita menyusuri kisah tegang di satu lokasi, dengan bermodalkan voice over lewat telepon, dan penampilan Jakob Cedergren seorang diri. Raut muka, suara dan gerak tubuhnya selalu mengindikasikan perubahan yang terjadi di cerita, dan membuat kita tidak beranjak dari kursi. Such a brilliant actor in an equally brilliant film.

• Zain Al Rafeea (Capernaum)

zain-capharnaum03-AsiaPacificScreenAwards
Zain Al Rafeea – Capernaum (source: Asia Pacific Screen Awards)

Anak kecil yang tumbuh di jalanan mempunyai ekspresi berbeda dengan anak kecil kebanyakan. Air muka yang keras di wajah yang muda adalah kombinasi yang sulit ditemukan di film. Namun sutradara Nadine Labaki lewat film Capernaum berhasil menemukannya lewat penampilan gemilang aktor cilik Zain Al Rafeea. Mulai dari adegan pertama saat dia menuntut orang tuanya di pengadilan karena melahirkan dirinya, kita dibuat ternganga oleh penampilannya yang menjadi the main anchor film ini. Rasanya susah untuk percaya bahwa inilah penampilan pertama kali Zain Al Rafeea di film. A remarkable debut.

• Rami Malek (Bohemian Rhapsody)

rami-bohemian-NME_dot_com
Rami Malek – Bohemian Rhapsody (source: NME

Tidak perlu dijelaskan lebih panjang lagi: Rami Malek is Freddie Mercury. Komitmen luar biasa Malek untuk menjadi Mercury tak perlu kita telaah dan telusuri lagi. It’s all there on the screen. Memang banyak yang menyebutkan bahwa kesuksesan fenomenal film Bohemian Rhapsody sebagian besar terletak pada katalog lagu-lagu Queen yang dihadirkan dalam porsi pas di film ini. Namun apakah mereka bisa menjadi efektif tanpa penampilan Malek? He is, indeed, the champion.

Penampilan lain yang juga berkesan buat saya adalah performa dari these leading ladies: Charlize Theron (Tully), Rani Mukerji (Hichki), dan Toni Collette (Hereditary).

Coming up next: film-film yang paling berkesan di tahun 2018!

Apa adegan dan penampilan di film yang membuat anda terkesima tahun ini?

Momen

Beberapa hari lalu, saya membeli buku karya David Thomson, penulis spesialis film asal Inggris. Judul bukunya “Moments that Made the Movies”. Ini sedikit cukilannya:

“Do you remember the movies you saw, like whole vessels serene on the seas of time? Or do you just retain moments from them …? Most people, I find, remember moments from films they saw as children or adolescents (so true film buffs like to extend those stages of life). Yet often the moment has overwhelmed the film itself.”

Kalau Anda sekarang berusia akhir 20-an, dan mulai rajin nonton film waktu umur 10 tahun, paling tidak pergi ke bioskop 2 minggu sekali, paling tidak sudah lebih dari 350 film yang Anda tonton sampai sekarang. Apakah Anda bisa mengingat satu per satu jalan cerita dari ratusan film itu? Atau hanya sebagian kecil dari adegan film yang bisa diingat, yang kemudian mewakili seluruh kenangan dan ingatan tentang film yang telah ditonton? Yakin masih bisa cerita dari awal sampai akhir film E.T., dan gak cuma ingat adegan sepeda melayang di depan bulan?

Moments That Made The Movies. (Courtesy of asos.com)
Moments That Made The Movies. (Courtesy of asos.com)

Tentu saja kata film di sini juga bisa diganti dengan kata benda lain.
Buku, lagu, atau tahun.

Mari kita bayangkan diri kita tidak jauh-jauh dari sekarang. Misalnya, 3 minggu dari sekarang. Saat itu sudah masuk minggu pertama bulan Januari.
Apakah kita masih bisa mengingat apa yang persis terjadi sepanjang tahun 2014 kemarin? Tentu saja kalau semua hal ditulis di jurnal harian, maka kita masih bisa mengingatnya. Itu pun tidak setiap saat saat kita rekam dalam
tulisan. Atau hanya sebagian kecil moment saja yang bisa kita ingat?

Moments that define us are often moments that just pass us by.

Momen yang membentuk diri kita terkadang hanya sekedar momen yang berlalu begitu saja.

Dan dalam setahun, ada begitu banyak penanda waktu yang kadang terlewat begitu saja, di tengah kesibukan kita. Namun terkadang, momen itu begitu kuat, sehingga kita masih akan teringat terus, seperti layaknya twists dalam cerita film yang kadang kemunculannya tidak akan pernah kita sangka.

Mungkin itulah yang dirasakan Fradita Wanda Sari, saat menulis “These Movies Define Me” di blognya. Pilihan filmnya, Like Father Like Son, terasa begitu kuat di kami di Linimasa yang membacanya. Terlebih saat Dita bercerita bagaimana film ini seperti mencerminkan hubungan Dita dengan ayahnya yang sedang diuji tahun ini. Membaca tulisan Dita jadi seperti membayangkan film tentang ayah dan anak dalam kehidupan nyata.

Momen yang terasa dekat dengan kami juga saat membaca tulisan “Sometimes The Wrong Train Will Get You To The Right Direction” di blog milik Bang Bernard. Ada satu kejujuran yang menggelitik, yang tidak saya pikirkan sebelumnya. Bernard menulis: “kalo nonton film di pesawat, buat gue kekuatan cerita itu nomor satu. Special effect sih gak ngaruh, orang nontonnya pake headphone.” Senang rasanya membaca cerita dari orang yang percaya pada kekuatan cerita di atas segalanya.

Dan lewat medium apapun, cerita bisa membawa perubahan. Kami pilih film, karena film terasa lengkap menggambarkan bahasa visual yang bisa mewakili apa yang ingin kita proyeksikan di kehidupan sehari-hari. Syukur-syukur bisa menginspirasi. Inilah yang Agnes Gultom tulis di “Old & New – 2 Mujur (Sangkar)”. Menonton film di layar notebook yang kecil, yang ternyata buat Agnes, seperti dikutip dari blognya: “Bukan hanya membekas, tapi meresap serta mengubah.” Siapa sangka keputusan hidupnya menjadi berubah setelah menonton film?

Perubahan hidup tidak harus besar. Terkadang kesan atau impresi yang kuat pun bisa membekas begitu lama, sehingga bisa mengubah persepsi kita terhadap sesuatu. Sepertinya itu yang dirasakan Nadya Laras saat menulis “1st post: Jawab Pertanyaan Linimasa” di blog yang baru saja dia buat khusus untuk ini. Kekuatan film yang bisa mengubah persepsi kita terhadap aktor atau aktris yang selama ini kita kenal, bisa membuat orang akhirnya tergerak untuk melakukan hal yang simple, yang bisa jadi tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Dan yang tidak terpikirkan oleh Dhoni Fadliansyah saat menonton X-Men: Days of Future Past dan The Raid 2 tahun ini adalah bahwa sebentar lagi, dia akan belajar bela diri, dan saling menghargai orang lain. Itu yang dia tulis di blognya, “Film Yang Berkesan”. Perubahan dimulai dari hal yang kecil dan simple, toh?
After all, the timing is right: talk about New Year’s Resolutions!

Lima momen yang sudah dishare inilah yang membuat kami memutuskan untuk memberikan hadiah di Kuis Linimasa Volume 1 kepada mereka.

Selamat!

Terima kasih sudah berbagi momen-momen spesial di tahun 2014 ini. Oh ya, tolong kirim email berisi nama lengkap, alamat pengiriman dan nomer telpon yang bisa dihubungi ya.

Isn’t it great to be able to share special moments?