#RekomendasiStreaming – Pilihan Tontonan Lebaran 2019

Kita sudah mahfum bahwa yang namanya Lebaran itu berarti liburan. Mau merayakan atau tidak, nyatanya hampir seluruh aktifitas kehidupan di sebagian besar wilayah Indonesia akan melambat atau berhenti sejenak selama Lebaran. Bisa seminggu, atau dua minggu. It’s great, though. Semacam ada tombol pause untuk menghentikan rutinitas sejenak.

Namanya juga sedang santai beristirahat tanpa melakukan kegiatan rutin, kadang-kadang kita tidak tahu apa yang harus dlilakukan untuk mengisi waktu luang. Tiba-tiba kita “mati gaya”. Sepertinya semua acara di televisi dan film di bioskop sudah ditonton, buku malas dibaca, IG stories sudah dibuka, dan linimasa media sosial sudah dilihat.

Saran saya? Tidur. Nothing beats sleeping. Apalagi semakin berumur, makin susah mendapatkan tidur yang berkualitas.

Dan kalau sudah cukup tidur, maka silakan melihat tontonan apa saja yang saya rekomendasikan untuk ditonton selama musim libur Lebaran tahun ini.

Kalau mau binge-watching, maka tontonlah serial …

Made in Heaven

made-in-heaven_46jz

 

Sepintas ceritanya sangat kekinian, yaitu dua orang anak muda mendirikan startup wedding organizer di Delhi, India. Cerita memang bergulir soal uniknya klien-klien mereka yang akan melangsungkan pernikahan. Tetapi yang membuat serial ini menarik untuk diikuti adalah dua karakter utamanya. Tara (Sobhita Dulipala) adalah perempuan ambisius yang berhasil menaikkan status sosialnya dari kalangan menengah ke bawah yang bekerja sebagai sekretaris, sehingga menjadi sosialita kelas atas dengan segala resiko kehidupan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Rekan bisnisnya, Karan (Arjun Mahtur), adalah pria lajang yang mati-matian mempertahankan gaya hidupnya, meskipun harus mengorbankan ego dan harga diri.

Kenapa serial ini menarik? Simply because the characters are real, and each episode is believable. Coret atau ganti kota Delhi dengan Jakarta, misalnya, dan kita akan melihat bahwa cerita dan karakter di setiap episode ini juga terjadi di sekitar kita. Tinggal bagaimana kita menyikapi dan menerimanya.

Serial yang berani, dan tidak judgmental sama sekali. Salah satu serial favorit saya tahun ini.

After Life

AAAABTg8oLTf-YcfkegxA4lWRTReWHwbgyBOSZ-Pz-ks7BPmQDzmQS8LbN1fGkFbxL4YStPV_cqdBTVn1nXEvIS00HRkrbsB1KvBuA

 

Berbeda mood dengan serial di atas yang gegap gempita, maka serial “After Life” ini mengalir dengan tenang, tidak buru-buru, dan cenderung kontemplatif. Namun suasana “kesunyian” itulah yang membuat kita tak bisa berpaling dari serial ini sedikit pun. Ceritanya memang sedih, yaitu cerita tentang Tony (Ricky Gervais) yang mengalami depresi setelah istrinya meninggal karena kanker. Usaha Tony untuk menjalani hidup, dengan segala clumsy yet very human efforts, yang menjadi benang merah serial ini sehingga menjadi serial yang akan membuat kita menitikkan air mata dalam diam. Terus terang ini adalah the biggest surprise in series tahun ini, so far, karena saya tidak menyangka komedian Ricky Gervais yang terkenal dengan acerbic wits yang cenderung mencemooh, bisa membuat tontonan semanis ini.

A Very English Scandal

A_Very_English_Scandal

 

Sedikit warning sebelumnya, kalau anda perlu mengutak-atik VPN untuk bisa menonton serial ini di Amazon Prime. Maklum, miniseri ini tidak masuk di Indonesia. Toh sedikit utak-atik ini worth doing, kok, karena serial ini akan membelalakkan mata kita. Diangkat dari buku berjudul sama, miniseri ini menghadirkan cerita yang nyaris absurd, diangkat dari kisah nyata Jeremy Thorpe, anggota dewan di Inggris dari partai Liberal, yang karirnya hancur karena skandal hubungan homoseksual dengan Norman Scott di Inggris di rentang tahun 1961 sampai 1976. Jeremy (dalam serial ini diperankan sangat baik oleh Hugh Grant) bahkan berkonspirasi untuk membunuh Norman (Ben Whishaw) yang akhirnya menyeret Jeremy ke pengadilan. Bahwa kisah ini terjadi sekitar 50 tahun lalu, namun masih terasa relevan sampai sekarang, menyiratkan sedikit alarming concern atas inhuman injustice yang sangat mungkin terulang dan terjadi lagi. Miniseri ini terdiri dari 3 episode. Sangat singkat, namun karena setiap episode dibuat laiknya film thriller, maka mau tidak mau kita juga deg-degan menontonnya.

Kalau perlu selingan film panjang di sela-sela menonton serial, maka film klasik ini bisa dijadikan pilihan:

84 Charing Cross Road

84_Charing_Cross_Road_poster

 

Tidak banyak film yang diproduksi sebelum tahun 2000 yang tersedia di video streaming platforms di Indonesia. Dari sedikit yang ada, salah satunya adalah film ini, yang diangkat dari buku bertajuk sama. Hampir sebagian besar film berisi voice over aktris Anne Bancroft yang membacakan surat yang dia tulis dari New York untuk penjaga toko buku di Inggris yang diperankan oleh Anthony Hopkins. Kisah mereka dimulai saat Helene Hanff (Anne Bancroft) mencari buku literatur yang tidak bisa dia dapatkan, dan hanya tersedia di toko buku milik Frank Doel (Anthony Hopkins) di London. Dari situ bergulirlah korespondensi mereka selama lebih dari 20 tahun, mengikuti perjalanan hidup masing-masing, tanpa pernah bertemu sama sekali.

Pertama kali saya menemukan film ini tidak sengaja, sekitar 15 tahun yang lalu. Jatuh cinta waktu menonton pertama kali, dan selalu menyempatkan menontonnya lagi setiap beberapa tahun sekali. Film ini sudah berusia lebih dari 30 tahun, namun tetap membuat hati kita terasa hangat saat menontonnya.

Paling tidak sudah membuat kita tersenyum.

Dan semoga libur Lebaran tahun ini meninggalkan senyum buat kita semua.

Advertisements

Berikan Kekuatan Untuk Bisa Bertahan, Ya Tuhan …

Baru beberapa hari yang lalu saya menamatkan menonton serial “Feud”. Miniseri 8 episode ini dibuat oleh Ryan Murphy, pembuat serial “Glee”, miniseri “American Crime Story: The People vs OJ Simpson”, serial “American Horror Story”, dan masih banyak yang lain.

Rencananya “Feud” ini akan selalu dibuat setiap tahunnya. Semuanya akan menampilkan fokus perseteruan antara dua pesohor ternama yang publik (baca: penonton televisi Amerika) banyak ketahui.
Makanya, di musim penayangan pertama ini, cerita “Feud” memfokuskan diri pada perseteruan antara dua bintang besar Hollywood di era tahun 1930-an sampai awal 1950-an, yaitu Bette Davis dan Joan Crawford.

Untuk teman-teman yang memang penggemar film-film klasik, kedua nama ini sudah tidak asing lagi. Namun bagi teman-teman yang belum tahu, Bette Davis dan Joan Crawford bisa disebut sebagai, erm, Taylor Swift dan Katy Perry untuk perfilman Hollywood waktu itu. Keduanya sama-sama tough, strong minded, mampu bertahan di tengah dominasi serbuan bintang-bintang muda lainnya, dan mempunyai etos kerja yang tinggi. Tak heran, ketika keduanya dipersatukan untuk membintangi film What Ever Happened to Baby Jane? di tahun 1962, media dan publik kala itu “pecah”.

(source: The Hollywood Reporter)

Dua orang dengan watak keras kepala yang sama, yang terbentuk dari kebiasaan kerja keras selama puluhan tahun, bertemu dalam satu film. Tidak ada yang mau mengalah. Perseteruan mereka bukan karena mereka membenci satu sama lain, tapi karena mereka tahu bahwa mereka harus mengalahkan satu sama lain untuk menjadi yang terbaik, yang paling menonjol.
Apalagi film ini menandai kebangkitan mereka, karena sebagai aktris senior, mereka sudah jarang mendapat panggilan untuk main film lagi. Paling tidak, sudah tidak sesering waktu mereka masih muda.

Dan di sisi inilah miniseri ini menarik perhatian saya. Tentang ageism. (Apa ya padanan bahasa Indonesia yang paling pas?)

Tema ageism atau perlakuan diskriminasi terhadap orang lanjut usia ditampilkan dengan baik di miniseri “Feud” ini. Di industri hiburan yang memang ‘kejam’ dan cenderung berpihak pada penampil yang masih muda, kesempatan untuk para seniman tua berkarya semakin lama semakin berkurang.

Dalam miniseri ini, dan di kehidupan nyata, Joan Crawford terlihat kesulitan menghadapi kenyataan bahwa tidak ada lagi peran-peran yang menarik yang menghampirinya, tidak seperti di masa jayanya. Dia harus ‘rela’ berperan di film-film horror murahan, dan tidak mau terlihat tua di depan layar atau di depan publik. Saat sebuah koran memuat foto dirinya yang terlihat menua, dia memutuskan untuk berhenti berakting atau tampil di depan umum sama sekali, sampai dia meninggal di tahun 1977.

(source: Daily Mail)

Bette Davis ‘sedikit’ lebih beruntung. Sadar bahwa dia tidak pernah mengandalkan kecantikannya, dia masih terus bekerja sampai akhir hayatnya. Kesehatannya yang menurun tidak menghalanginya. Peran sekecil apapun, termasuk beberapa rencana serial televisi yang selalu gagal, dikerjakannya sambil menelan ego besarnya dalam-dalam. Tentu saja dia masih berkeluh kesah terhadap perlakuan tidak adil yang diterimanya. Atau buruknya film-film yang dia kerjakan. Namun dia ingin membuktikan bahwa dia masih bisa terus berkarya.

Film What Ever Happened to Baby Jane? yang mereka bintangi bersama memang sukses keras di pasaran. Bette Davis masuk nominasi Oscar lewat film ini. Nama Bette Davis dan Joan Crawford sempat melambung lagi, meskipun tidak lama. Lagi-lagi karena keterbatasan availability roles buat mereka.

Sepanjang miniseri ini, diam-diam ternyata ada pertanyaan yang menyeruak di benak saya, “Siapkah kita menua?”

Dulu saya suka bercanda dengan teman-teman saya, kalau ada yang memanggil dengan sebutan “pak” atau “bapak” ke saya dan sesama teman pria, atau “bu” dan “ibu” ke teman-teman perempuan. Rasanya risih. Lalu pasti protes. Atau berusaha dandan lebih muda dari umur.

Namun sekarang? Meskipun masih berusaha berpakaian sesantai mungkin, karena pekerjaan tidak mengharuskan untuk memakai seragam, ditambah olahraga rutin, ternyata frekuensi penyebutan panggilan “mas” atau “kak” sudah jauh lebih berkurang. Malah hampir tidak ada. Rasanya sedih, tapi cuma bisa sedih dalam hati. Soalnya kalau sedih di muka umum, nanti ada yang merekam lalu diunggah ke media sosial sampai jadi viral.

Kita tidak bisa melawan penuaan. We cannot beat aging, but we only have to deal with it.

(source: Feminist Current)

Susah? Itu pasti. Apalagi kalau sudah ada obrolan “kayaknya baru kemarin ya kita lulus SMA” dan sejenisnya. Semakin tua, semakin cepat rasanya waktu berlalu. Kejadian yang sudah lewat 15 tahun silam serasa seperti baru terjadi dua minggu yang lalu.

Toh time will never wait for anyone. Untuk kita semua yang angka umur semakin melaju melebihi kecepatan kita menyadarinya, kita harus siap kalau nanti kemampuan motorik kita semakin menurun, makan sedikit cepat membuat badan lebih menggemuk, sesekali lupa akan nama teman lama, dan kesempatan berkarya kita makin terbatas.

Apakah kita pasrah? Jawabannya adalah “ya” dan “tidak”.
Never mind our beauty will fade, tapi selama panca indera kita masih bekerja, maka kita masih bisa belajar. Belajar mengikuti perkembangan alam, perkembangan teknologi terbaru. Belajar untuk tidak menyusahkan yang lebih muda. Belajar bahasa mereka, meskipun bukan berarti kita harus berbicara bahasa yang sama. Membaca. Baik itu membaca alam, membaca perubahan, atau membaca buku untuk terus mengasah otak dan akal kita.

Just because we lose our youth, that does not mean we have to lose our mind.