Setelah Menunggu, Terbitlah Menunggui

Saat tulisan ini dibuat, saya sedang menunggu seorang tukang segala bisa (demikian saya menerjemahkan handyman seenaknya) datang ke rumah. Ada kebocoran pipa yang mengakibatkan toilet kamar mandi tidak bisa berfungsi dengan baik. Berhubung jenis kerusakannya cukup besar dan tidak bisa saya kerjakan sendiri, mau tidak mau saya harus memanggil tukang.

Ini artinya, mau tidak mau pula saya harus mengubah semua rencana pekerjaan hari ini, supaya saya bisa ada di rumah. Untung pekerjaan saya cukup fleksibel, tidak harus datang ke kantor setiap hari, dan bisa mengerjakan pekerjaan di mana saja. Yang cukup repot adalah menggeser waktu janji temu dengan beberapa orang. Ada yang harus pindah jam, ada yang harus pindah hari. Beruntung, semua pihak bisa maklum. Mungkin karena aroma akhir pekan is in the air, jadi orang-orang cenderung relaks.

Kecuali saya. Kalau sudah harus menunggu pembersih rumah, tukang gas, tukang reparasi kamar mandi, pengantar furniture dan lain-lain untuk datang ke rumah, maka saya harus memastikan rumah dalam keadaan rapi, dan barang-barang berharga juga tersimpan dengan aman. Tentu saja, saya pun harus berada di rumah, untuk memastikan mereka melakukan pekerjaan dengan baik, dan syukur-syukur datang tepat waktu.

Tentu saja ini resiko menjadi lajang yang tinggal sendiri, yang tidak bisa setiap waktu meminta orang lain, seperti pembantu yang tinggal di rumah (yang saya tidak punya) atau tetangga (yang tentunya punya kesibukan sendiri) untuk sit in di rumah saya. Belum lagi rasa was-was, kalau misalnya ada apa-apa yang dilakukan pembantu atau tetangga. Maklum saja, you can never be extra careful in this city, apalagi kalau tinggal sendiri.

Yang saya harus antisipasi juga kalau lagi menunggu orang datang ini adalah, belum tentu mereka datang tepat waktu. Apalagi yang namanya antar barang. Selalu saja ada alasan untuk datang terlambat dari waktu yang dijanjikan atau direncanakan. Sementara kita tidak berdaya selama menunggu mereka. Oke, mungkin masih bisa berdaya, dalam artian masih bisa produktif dalam proses menunggu tersebut. Bisa sambil bekerja, atau bisa sambil menulis blog yang sedang Anda baca ini. Meskipun pasti ada sedikit rasa cemas atau khawatir kalau mereka tiba-tiba tidak jadi datang. Namanya juga menunggu dalam ketidak pastian.

Kalau sudah datang, tentu saja kita harus menunggui mereka. Siap-siap tiba-tiba ada hal yang tak terduga, misalnya kerusakan di rumah kita ternyata melebar, yang berarti harus ada ekstra biaya dan tambahan waktu pengerjaan, sementara waktu kita terbatas, atau barang yang diantar tidak sesuai pesanan atau rusak di tengah jalan. It happens and it can happen. Mau tidak mau, kita harus menunggu dan menunggui, sebelum akhirnya aktivitas kita berjalan normal lagi.

Maybe we need this whole thing as a welcome disruption or a break.

Jadi sesekali memang, mau tidak mau, kita harus menunggu lalu menunggui.

Oke, baru saja tukang yang saya tunggu datang. Saya harus menunggui pekerjaannya sampai selesai, sambil siap-siap weekend budget terpangkas untuk bayar ini-itu.

Selamat berakhir pekan!

Advertisements