Terima Kasih Konmari

Beberapa hari yang lalu, entah mengapa saya rasanya sumpek sekali. Sampai larut pun, sulit tidur. Padahal lelah dan biasanya langsung pulas. Tiba-tiba yang muncul adalah rasa ingin beres-beres. Si eneng yang juga belum tidur di sebelah saya pun langsung dicolek.

“Neng, kayaknya kita harus beberes serius deh, terutama kamar ini. Kok, kayaknya barangnya sudah menumpuk ya.”
“Iya bu, terutama bagian situ, tidak menyenangkan dilihatnya,” katanya sambil menunjuk sudut kamar tempat tumpukan tiga kontainer, yang saya juga sudah lupa isinya apa.
“Oke, berarti kita buat rencana dulu ya, weekend ini kita laksanakan!”

Besoknya saya mendadak ingat kalau pernah meminjam buku Marie Kondo dari teman, langsung melihat ke rak dan ternyata masih ada dan memang belum dibaca. Langsung diselesaikan dan diresapi buku itu dan aliran Konmari dalam beberes.

Memang agak aneh kedengarannya; Marie menyarankan untuk memulai beberes dengan mengenyahkan barang yang tidak membuat kita gembira, dan hanya menyimpan yang membuat kita gembira. Kelilingi diri dengan benda-benda yang membuat Anda gembira. Sisanya, biarkan dia berlalu dari hidup, ucapkan terima kasih sudah bertemu dan kita gunakan dan enyahkan. Setelah jumlah barang berkurang, baru kita mulai menyusun, dan semua barang harus ada tempatnya. Baru kita bisa mendapatkan hidup yang nyaman, minimalis dan tidak perlu terlalu sering beberes karena barangnya toh tak banyak dan semua ada tempatnya. Entah mengapa saya bisa memahami sepenuh hati cara ini, dan tak sabar melaksanakannya. Saya baru menyadari kegelisahan ini salah satu alasannya adalah karena merasa dikelilingi oleh sampah yang tertimbun selama lebih dari sepuluh tahun berada di rumah ini.

Saya memang punya keturunan penimbun, karena ibu saya penimbun kelas berat yang nyaris tak pernah membuang barang. Walhasil, di kamar beliau sekarang, tak ada satu sentimeter persegi pun tempat untuk meletakkan barang seperti tas, atau sekadar jam tangan, karena semua permukaan sudah penuh sesak dengan tumpukan barang. Kecuali hobi Anda Jenga, agak riskan untuk menambah tinggi tumpukan itu. Lantai dua rumah, yang dahulu adalah kamar anak-anak (saya dan adik-adik), sekarang penuh juga dengan tumpukan barang yang tidak muat diletakkan di lantai bawah.

IMG_20180428_124553

Beberes baru dimulai.

Kemarin saya membeli tiga pak plastik sampah ukuran extra large, dan pagi ini saya mulai menyortir barang per kategori. Pakaian duluan. Buku dan kertas-kertas kedua. Lalu diikuti dengan pernak pernik perintilan dan barang kenang-kenangan. Begitu membongkar laci yang bertahun hanya saya buka, bersihkan, letakkan kembali isinya dan tutup, baru ketahuan kalau saya pun nyaris tak pernah membuang barang. Mulai dari foto mantan, surat cinta dari pacar terdahulu, undangan ke acara media, hingga name tag dari berbagai kepanitian sampai perjalanan. Pakaian juga, hampir semua kaus race pack maupun finisher masih saya simpan. Bahkan baju yang sudah ketinggalan zaman tidak saya singkirkan dengan alasan, siapa tahu musim lagi. Padahal tumpukannya juga sudah nun jauh di bawah. Setelah menyikat buku yang tidak membawa kegembiraan buat saya, atau saya tidak ada niat mengulang baca, rehat makan siang kesorean, lalu saya lanjut kembali sampai selesai.

IMG_20180428_192810

Sebelum break siang, 5 kantung plus 2 di belakang kamera

Hasilnya? Delapan kantung sampah penuh, plus beberapa kantung kecil untuk aksesori dan produk kecantikan. Benar saja, begitu selesai dan saya mandi karena hari ini begitu panas sehingga keringat mengucur deras, rasanya jauh lebih enteng. Beres-beres saya belum selesai, karena cita-cita ingin mengurangi lagi barang sampai ke tingkat minimal, dan mengetahui di mana batas saya hidup dengan sedikit saja barang. Saya juga ingin menata ulang kamar supaya lebih nyaman. Walau sekarang saja menurut saya sudah nyaman dan inginnya tidak keluar dari sana setiap akhir pekan.

Advertisements

Menata Hunian

Memutuskan untuk tinggal di tempat sendiri sejak akhir tahun kemarin, ada perasaan excited sekaligus lega jadi satu.

Excited, karena akan memulai sesuatu yang baru, dan benar-benar dilakukan oleh diri sendiri. Mengisi ruangan-ruangan dengan sebagaimana mestinya meskipun hanya bisa satu demi satu, menatanya sedemikian rupa, dan memastikan agar semua terasa cukup nyaman dan menyenangkan.

Lega, karena sesuatu yang baru tadi dimulai dari ruangan-ruangan kosong. Tidak ada perabotan lama, tidak perlu ada pemilahan mana yang akan dipertahankan dan mesti dibuang. Ini berarti lebih hemat waktu, tenaga, dan pikiran. Walaupun konsekuensinya, ada kemungkinan besar untuk mengeluarkan lebih banyak uang jika ingin menambah ini dan itu.

Kemudian, cukup terkejut ketika pertama kali terpapar dengan teknik berbenah KonMari (akronim dari Marie Kondo, nama si empunya ilmu), yang booming dan termasyhur di dunia belakangan ini. Sebab alih-alih dianggap kemampuan berdasarkan pengalaman dan perspektif personal, aktivitas beberes di rumah ternyata punya “perguruannya” sendiri. Dikursuskan, dikonsultasikan, bahkan dikampanyekan sebagai gaya hidup kekinian. Lagi-lagi, sebagai seseorang yang baru pindah tempat tinggal dan mengurus sendiri, maka tidak ada salahnya untuk mencoba menjalankan beberapa kiat berbenah ala KonMari.

Marie Kondo. Foto: Daily Republic

Setelah selesai membaca bukunya, bisa disimpulkan bahwa Marie Kondo tidak kenal atau malah memerangi konsep “mubazir”. Kiat paling mendasar yang memenuhi hampir separuh bukunya adalah membuang barang. Namun, hal ini wajar. Lantaran kondisi yang dihadapi Marie Kondo adalah rumah dan apartemen yang sudah telanjur penuh, sudah ditinggali cukup lama, sehingga barang-barang yang ada di dalamnya pun sudah berlimpah ruah. Efeknya masuk akal. Banyak yang dibuang, ruangan pun menjadi lapang. Dibuang, bukan sekadar dipindahkan.

Dalam salah satu bagian di bukunya, Marie Kondo menyatakan bahwa teknik beberesnya sangat cocok bagi orang-orang yang tinggal di Jepang dan Amerika Serikat (serta di berbagai negara maju lainnya). Alasannya, warga kelas menengah dan ke atas di negara-negara tersebut memiliki kemampuan dan dorongan berbelanja yang cenderung tinggi, serta sangat mudah untuk menjadi penimbun barang. Masuk akal.

Apabila dirasa-rasa, tampaknya ada beberapa poin yang bisa ditambahkan sebelum kiat-kiat Marie Kondo dipraktikkan. Tentu saja berangkat dari perspektif seseorang yang baru akan mengisi dan menata huniannya.

  1. Beli Barang yang Benar-benar Dibutuhkan

Secara ekonomis, langkah ini diperlukan untuk menghemat pengeluaran. Berhitung dengan cermat untuk memaksimalkan anggaran, agar tidak terkesan percuma. Yang diperlukan adalah kecermatan, bukan sifat pelit berlebihan. Toh ini membeli, bukan meminta, mencuri, apalagi mengambil barang bekas.

Demi kerapian, langkah ini diperlukan untuk meminimalisasi potensi kesemrawutan yang bisa terjadi. Merencanakan penataan secara menyeluruh, membayangkan big picture-nya, agar efektif dan efisien. Agar ujung-ujungnya, merujuk pada kiat utama KonMari …

  1. Jika Tidak Punya Banyak Barang, Apa yang Mau Dibuang?

That’s it! Mengatasi problem kesumpekan bahkan jauh sebelum masalahnya muncul. Ya … meskipun fase ini juga tetap berpotensi memunculkan ketidaknyamanan, sesuai preferensi setiap individu sih. Ada yang betah-betah saja dengan ruangan lapang dan terlihat kosong, tetapi ada pula yang lebih suka keramaian harta benda. Sebagai pertanda kekayaan, kemakmuran, kesejahteraan, dan situasi serbaada. Padahal, punya duit banyak bukan berarti harus dibelanjakan semuanya, kan?

Bagi yang masih tinggal sendirian, setidaknya bisa bebas menentukan pilihan. Lain cerita apabila tinggal bareng pasangan dengan selera berbeda. Akan ada diskusi, negosiasi, dan kesepakatan mengenai hal ini. Kepemilikan barang tak lagi perseorangan, melainkan bersama. Asalkan keduanya bisa …

  1. Konsisten

Lebih kepada konsistensi untuk menjaga kerapian, dan memerhatikan sekeliling. Setuju banget dengan Marie Kondo; serapi apa pun rencana penataan dijalankan, tetap akan berantakan tanpa disiplin. Mending kalau masih tinggal sendiri, kesalahan maupun dampaknya berasal dan dirasakan oleh diri sendiri. Mengomel pun kepada diri sendiri. Setelah tinggal bersama, bakal muncul kesalahan dan aksi lempar-lemparan. Dampak dari ketidakrapian pun bisa dirasakan orang lain.

Hal ini sebenarnya tidak gawat-gawat amat. Bagi pasangan muda, atau pasangan yang terbiasa selalu mesra, urusan begini bisa tetap berujung manis dan bukan “perang dunia”, entah bagaimana pun caranya. Hanya saja, akan jauh lebih baik bila konsistensi untuk rapi bisa menjadi kebiasaan. Diturunkan, dan diajarkan kepada generasi penerus maupun sesama. Membangun dan berbagi kebaikan. Adab, begitu orang dulu menyebutnya.

Cobain, aja.

Photo by Bench Accounting

Doanya, mudah-mudahan bisa segera punya hunian pribadi, ya … dan buat yang sedang dalam proses, semoga selalu dilancarkan.

[]