Buku(-Buku) Tahun Ini

Kalau saya hanya boleh mengutip satu buku saja dari beberapa buku yang saya baca tahun ini, maka mau tidak mau saya akan hanya bisa mengutip bagian terakhir dari buku berjudul “The Humans” karya Matt Haig. Kenapa? Karena di bagian ketiga buku ini, Matt Haig membuat daftar bertajuk “Advice for a Human” sebanyak 97 poin. Saya menyebutnya sebagai manifesto kehidupan.

Kalau beberapa poin terkesan seperti ‘menggurui’, mungkin itu memang disengaja oleh penulisnya. Lagi pula, poin-poin ini masih sesuai dengan sudut pandang karakter utama yang menjadi narator novel ini, yaitu “seorang” alien yang datang ke bumi, menyamar menjadi profesor dengan jenis kelamin laki-laki. Kedatangan alien ke muka bumi untuk, seperti tipikal cerita fiksi ilmiah kebanyakan, menghancurkan kehidupan umat manusia. Namun dalam penyamarannya, alien ini malah takjub dengan flawed characteristics of human beings, dan jatuh cinta dengan cara manusia menjalani kehidupannya.

71VpFLTP-bL

Kalau terdengar klise, memang novel ini klise. Tidak ada yang baru. Tapi bukan berarti hal itu menjadikan novel ini tidak layak baca. Justru sebaliknya. Bab demi bab dihadirkan dengan mulus dalam jalan penceritaan, membuat kita susah berpaling. Seperti layaknya buku cerita yang baik, dengan mudah kita jatuh cinta pada karakter utama, dan rela mengikuti perjalanan beratus-ratus halaman, sampai di bagian akhir.

Kalau tidak percaya, baca saja beberapa poin dari bab “Advice for a Human” di buku “The Humans” ini:

[one] Shame is a shackle. Free yourself.

[two] Don’t worry about your abilities. You have the ability of love. That is enough.

[four] Technology won’t save humankind. Humans will.

[five] Laugh. It suits you.

[nine] Sometimes, to be yourself you will have to forget yourself and become something else.

[eleven] Sex can damage love but love can’t damage sex.

[fifteen] The road to snobbery is the road to misery. And vice versa.

[twenty-two] Don’t worry about being angry. Worry when being angry becomes impossible. Because then you have been consumed.

[twenty-four] New technology, on Earth, just means something you will laugh at in five years. Value the stuff you won’t laugh at in five years. Like love. Or a good poem. Or a song. Or the sky.

[thirty] Don’t aim for perfection. Evolution, and life, only happen through mistakes.

[thirty-seven] Don’t always try to be cool.The whole universe is cool. It’s the warm bits that matter.

[forty-one] Your brain is open. Never let it be closed.

[forty-four] You have the power to stop time. You do it by kissing. Or listening to music. Music, by the way, is how you see things you can’t otherwise see.

[forty-six] A paradox: The things you don’t need to live – books, art, cinema, wine and so on – are the things you need to live.

[fifty-one] Alcohol in the evening is very enjoyable. Hangovers in the morning are very unpleasant. At some point you have to choose: evenings or mornings.

[fifty-three] Don’t ever be afraid of telling someone you love them. There are things wrong with your world, but an excess of love is not one.

[fifty-eight] It is not the length of life that matters. It’s the depth.

[sixty-one] One day, if you get into a position of power, tell people this: Just because you can, it doesn’t mean you should. There is a power and a beauty in unproved conjectures, unkissed lips, and unpicked flowers.

[sixty-five] Don’t think you know. Know you think.

[seventy-three] No one will understand you. It is not, ultimately, that important. What is important is that you understand you.

[seventy-five] Politeness is often fear. Kindness is always courage. But caring is what makes you human. Care more, become more human.

[eighty-two] If you think something is ugly, look harder. Ugliness is just a failure of seeing.

[ninety-five] Be kind to your mother. And try to make her happy.

[ninety-seven] I love you. Remember that.

Wow. There you go.

Bahkan saya sempat gemetaran sendiri saat menulis ulang poin-poin di atas. Padahal buku ini selesai saya baca di bulan Juni, namun efeknya masih terasa sampai sekarang.

Demikian juga dengan buku-buku lain yang membuat saya tersenyum sendiri saat membacanya, yaitu “Less” karya Andrew Sean Greer dan “Spoiler Alert: The Hero Dies” karya Michael Ausiello. Bahkan judul kedua membuat saya diam-diam menitikkan air mata, walaupun sambil tersenyum.
Kok bisa?

Baca saja sendiri, ya. Mumpung cukup banyak waktu luang di akhir tahun.

Selamat membaca!

1_C76PXdoMXtysxqiwkS5iow

PS: Apa buku kesukaan Anda tahun ini?

Advertisements

Manusia: Saling Menjadi Berkah

SEUMUR-UMUR, baru pertama kali naik kereta api akhir pekan lalu. Jadi, maklum aja kalau rasa-rasanya ada banyak hal yang sayang untuk dilewatkan dengan tidur di perjalanan. Ya… yang dilihat, yang disentuh, yang dirasakan, apa pun itu. Minimal diperhatikan, benar-benar dialami sepenuhnya, meski barangkali rada terlihat udik.

Seperti ketika kereta masuk ke terowongan di bawah suatu bukit, atau saat melintas agak pelan di rel samping jurang curam. Kalau enggak salah sih kelihatannya begitu, jalur rel berada di ketinggian. Entah di mana daerahnya.

Saat momen itu berlangsung, refleks mbatin: “Pekerja yang bikin rel di sini pasti berkah banget! Mbangunnya pasti susah, tapi terus dipakai sampai sekarang.

Enggak kebayang betapa sulit proses pembangunannya dulu. Jalur rel yang menembus perut bukit, maupun yang ditopang struktur mirip jembatan dari dasar jurang. Menjadi buah karya yang tak ada habis-habisnya; selama masih ada kereta api yang melintas di jalur rel tersebut; selama tetap ada ratusan atau ribuan orang yang diantar pulang ke kampung halaman.

Dari momen tersebut, saya jadi berpikir bahwa seseorang sebenarnya bisa hadir menjadi berkah bagi orang lain, begitu pun sebaliknya. Berkah yang hakiki, bukan sekadar urusan uang, bukan sekadar urusan meminta dan memberi/membagi. Seringkali bahkan tanpa disadari, tanpa disengaja, dan tentu saja tanpa pamrih.

Kembali ke jalur rel kereta api tadi. Mereka yang dahulu bekerja membangunnya secara riil, mulai dari para insinyur dan ahli teknik, sampai para kuli pemecah dan penghambur batu mungkin hanya bersikap realistis. Mereka tahu bahwa tanggung jawabnya membanting tulang memutar otak akan diganjar gaji dan penghasilan. Itu saja. Padahal ada jutaan orang, setidaknya para penumpang kereta api, yang patut berterima kasih atas hasil pekerjaan mereka.

Bagaimana caranya? Yang jelas enggak mungkin dengan mendatanginya satu per satu, atau nyekar di kuburan mereka juga sih. Namun bisa jadi cukup hanya dengan memunculkan rasa bersyukur di dalam hati, rasa berterima kasih, dan mempertahankannya selama mungkin–minimal sepanjang berada di kereta–sampai akhirnya digantikan dengan perasaan positif lainnya.

Tak hanya itu, cara pandang mengenai keberkahan hidup antara sesama manusia ini terjadi dalam segala situasi. Termasuk dalam keadaan yang tidak mengenakkan sekalipun, selama masih melibatkan akal budi.

Ketika ada orang yang berbuat jahat, akan ada orang-orang lain yang menyadari bahwa kejahatan tersebut tidak sepantasnya dilakukan. Berkah kemanusiaan.

Ketika ada orang yang bodoh dan bertindak tercela, akan ada orang-orang lain yang belajar untuk tidak melakukan tindakan serupa karena dampaknya. Ini juga berkah kemanusiaan.

Bukankah ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan? Iya, betul banget. Tak ada jaminan bahwa semua orang bisa bersikap seperti ini; menghargai orang lain sebagai berkah kehidupan, dan membuat diri sendiri menjadi berkah bagi kehidupan orang lain. Selama masih merasa sebagai seorang manusia, hal ini tetap patut dicoba.

Apakah perlu? Terserah pribadi masing-masing. Akan tetapi, konon manusia adalah makhluk paling mulia di bawah kolong langit ini, dan salah satu anugerah kemuliaan itu adalah kemampuan untuk menjadi manusiawi serta melakukan kebaikan, baik lewat pikiran, ucapan, maupun perbuatan. Dalam hal ini, memiliki dan menjaga perasaan penuh kebaikan tentu bermanfaat, bahkan bisa menjadi berkah bagi orang lain.

Toh menjalani kehidupan kan enggak gampang, ringankanlah sedikit dengan tidak berlama-lama menyimpan rasa hati yang susah, yang penuh rasa benci, penuh kelicikan, penuh rasa iri dengki, dan penuh ketidaktahuan yang berisik.

Merasa tidak bisa jadi berkah bagi orang lain dengan berlaku baik? Ya ndakpapa, setidaknya tidak bertindak buruk. Gampang, kan?

[]

Apanya yang Salah?

Di jalan raya banyak motor dan mobil saling menyalip satu sama lain.
Mengapa?
 
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka dididik untuk menjadi lebih cepat dan bukan menjadi lebih sabar, mereka dididik untuk menjadi yang terdepan dan bukan yang tersopan.
 
Di jalanan pengendara motor lebih suka menambah kecepatannya saat ada orang yang ingin menyeberang jalan dan bukan malah mengurangi kecepatannya.
Mengapa?
 
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah anak kita setiap hari diburu dengan waktu, dibentak untuk bergerak lebih cepat dan gesit dan bukan dilatih untuk mengatur waktu dengan sebaik-baiknya dan dibuat lebih sabar dan peduli.
 
Di hampir setiap instansi pemerintah dan swasta banyak para pekerja yang suka korupsi.
Mengapa?
 
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah anak-anak dididik untuk berpenghasilan tinggi dan mengejar hidup dengan kemewahan, mulai dari pakaian hingga perlengkapan dan bukan diajari untuk hidup lebih sederhana, ikhlas dan bangga akan kesederhanaan.
 
Di hampir setiap instansi sipil sampai petugas penegak hukum banyak terjadi kolusi, manipulasi proyek dan
anggaran uang rakyat
Mengapa?
 
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka dididik untuk menjadi lebih pintar dan bukan menjadi lebih jujur dan bangga pada kejujuran.
 
Di hampir setiap tempat kita mendapati orang yang mudah sekali marah dan merasa diri paling benar sendiri.
Mengapa?
 
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka sering dimarahi orangtua dan guru mereka, bukannya diberi pengertian dan kasih sayang.
 
Di hampir setiap sudut kota kita temukan orang yang tidak lagi peduli pada lingkungan atau orang lain.
Mengapa?
 
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka dididik untuk saling berlomba menjadi juara dan bukan saling tolong-menolong untuk membantu yang lemah.
 
Di hampir setiap kesempatan termasuk di media sosial ini juga selalu saja ada orang yang mengkritik tanpa mau melakukan koreksi diri sebelumnya.
Mengapa?
 
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah anak-anak biasa dikritik atas segala hal, bukan didengarkan segala keluhan dan masalahnya.
 
Di hampir setiap kesempatan kita sering melihat ada orang ngotot dan tak mau mengakui kesalahan.
Mengapa?
 
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka sering melihat orangtua atau gurunya ngotot dan berusaha keras agar tidak jadi yang bersalah.
 
Di hampir setiap lampu merah dan rumah ibadah kita banyak menemukan pengemis.
Mengapa?
 
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka selalu diberitahu tentang kelemahan-kelemahan dan kekurangan mereka, bukannya diajari untuk mengenali kelebihan-kelebihan dan kekuatan mereka.
 
Bisa jadi sesungguhnya potret dunia dan kehidupan yang terjadi saat ini adalah hasil dari ciptaan kita sendiri di
rumah ditambah dengan pengaruh pola pendidikan di sekolah.
 
~ diolah kembali dari tulisan George Carlin, seorang komedian pemerhati kehidupan.

Maunya baik, dan meminta yang lain bersikap baik. Lah, diri sendiri sudah baik, belum?

Belajar agama, ego malah jadi lebih tinggi. Terjebak dalam ilusi buatan sendiri yang seolah mengatakan: “aku lebih alim daripada kamu.”

Belajar PMP, PPKn, Pendidikan Kewarganegaraan, atau Budi Pekerti (BP) cuma sebatas untuk ujian. Memilih tindakan yang benar, untuk menjawab soal pilihan ganda semata.

Apa yang akan kamu lakukan bila mendapat undangan kerja bakti dari ketua RT?

A. Ikut serta

B. Tak acuh

C. Pura-pura sakit

D. Bepergian

E. Menonton saja

Jawaban yang benar gamblang terpampang. Mau bagaimana? Berdusta untuk jawaban yang benar, atau jujur mesti jawabannya salah? Dalam kehidupan nyata, kita cenderung lebih memilih jawaban selain A. Udah ngaku aja. Lebih baik bandel tapi jujur, ketimbang (terlihat) baik tapi munafik.

Melakukan kesalahan disebut manusiawi. Tapi sekali melakukan kesalahan, langsung dicaci maki dimarahi bahkan dipukuli. Belum lagi disuruh ganti rugi. Kalau sudah begitu, siapa yang bersedia disalahkan? Meskipun memang kesalahannya sendiri. Salah benar urusan belakang, yang penting lawan dulu, biar enggak kehilangan muka dan gengsi. Salah satu bentuk perlawanannya adalah dengan melemparkan kesalahan. Lingkaran setan.

Terus, saya perlu ngomong apa lagi?

[]

Skeptis Manis

Pernah makan buah lai? Kalau pernah, berarti Anda sudah tahu rupa, aroma, rasa, dan tekstur daging buahnya. Tapi kalau belum, ehm, saya coba jelasin ya.

Buah lai terlihat sama seperti durian pada umumnya. Bayangkan buah durian, kulit luarnya berduri cukup tajam. Untuk membukanya, kita memerlukan parang kecil atau pisau daging dengan lempengan besi yang cukup tebal. Dibelah dari pangkal buah, bekas tempat menempel pada ranting. Kecuali kalau Anda sudah lihai, atau punya bekal ilmu kebal, atau punya kulit telapak tangan yang jauh lebih tebal dibandingkan orang kebanyakan, silakan langsung buka kulitnya pakai tangan kosong. Biar lebih gereget. Setelah lai terbuka, Anda bisa menemukan daging buah lai, tertata rapi di penampangnya. Siap dicomot, dan siap mbok emplok.

Berbeda dengan durian, lai memiliki warna kulit luar yang lebih oranye. Rona serupa juga terlihat pada daging buahnya, jauh lebih cerah ceria ketimbang daging buah durian yang umumnya kuning pucat.

Selain itu, Anda juga bisa menemukan perbedaan mendasar antara lai dan durian dari aroma, rasa, dan tekstur daging buahnya. Para pelahap durian pasti sudah akrab dengan aromanya yang kuat. Sama akrabnya dengan orang-orang yang gampang mabuk durian, secara harfiah. Yakni mereka yang pusing dan mual setiap kali mencium baunya. Aroma buah lai lebih unik, dan cenderung lebih bersahabat dengan hidung khalayak banyak. Terbukti–setidaknya dalam kasus yang saya temui selama ini, mereka yang tak sanggup menghirup udara dengan bau durian di dalamnya, ternyata oke-oke saja dengan bau lai. Sekilas namun tetap kuat, aroma lai lebih mirip bau mangga. Wangi sekali.

Bukan aromanya saja yang mirip mangga. Bagi saya, daging buah lai memiliki rasa yang khas. Gabungan antara manisnya irisan Mangga Arumanis, dan rasa daging buah durian yang matangnya pas-pasan. Karakteristik ini pula yang membuat daging buah lai bisa diterima lebih banyak orang, ketimbang rasa daging buah durian.

Perbedaan terakhir ada pada tekstur daging buahnya. Sejauh ini, salah satu masalah yang lumayan mengganggu ketika menyantap durian adalah daging buah yang terkesan benyai alias benyek, terlalu lembek, basah, bisa lumer menempel di jari, dan serat daging buah selalu melekat pada biji. Itu sebabnya, salah satu cara paling efektif dan efisien untuk menghabiskan sepotong daging durian adalah memasukkannya bulat-bulat ke mulut. Setelah itu, bergantung pada keahlian si empunya mulut memberdayakan gigi dan lidah layaknya sebuah tim; bekerja sama menggaruk daging buahnya, menyisakan biji durian yang licin mengilap. Sampai-sampai ada yang bilang, orang yang doyan durian punya lidah yang cukup terlatih.

Nah, daging buah lai memiliki tekstur yang jauh lebih kering, agak liat, dan kalis. Bahkan terhadap bijinya sekalipun. Menyantap buah lai jauh lebih mudah, way less messier, kering, dan bisa hanya dengan digigit saja.

Lalu, bisa muncul pertanyaan: “kalau lai begitu, kenapa kok tidak sepopuler durian? Saya saja belum pernah lihat.” Jawabannya, karena lai adalah buah endemis khas Kalimantan, terutama di Kaltim bagian tengah, juga di Kaltara. Musimnya pun hanya sekali dalam setahun, kalau ndak salah. Boro-boro diboyong ke pulau Jawa dalam jumlah cukup banyak, lah untuk konsumsi lokal saja seringkali pas-pasan. Saya bisa habis sebutir lai, sendirian. Ehehehehe

Sekian, tentang buah lai.

Oh, bukan. Piket hari ini bukan untuk mempromosikan buah lai.

Saya memang sudah menulis berparagraf-paragraf penjelasan dan deskripsi mengenai lai, lengkap dengan fakta pembandingnya terhadap durian. Tujuannya agar Anda, para pembaca yang dermawan (karena telah bersedia menyisihkan waktu dan perhatian), lebih mudah membayangkan beberapa aspeknya.

Efeknya, ada dari Anda yang langsung percaya tentang buah lai. Memunculkan rasa penasaran atau keinginan mencicipi buah yang pohonnya bisa setinggi 20-an meter itu. Tidak mustahil ada yang kepengin banget, saking kuatnya membayangkan aroma, rasa, dan tekstur buahnya. Meskipun barangkali hanya sedikit sekali.

Bagaimanapun juga, Anda yang belum pernah melihat dan merasakan buah lai jangan sampai lupa, bahwa Anda baru sekadar “mendengar” saya berkoar. Realitasnya, sebelum Anda melihat fisik buah lai secara langsung, tetap ada kemungkinan saya melebih-lebihkan cerita, atau bahkan berdusta, kalau jahat. Ndak ada yang tahu isi hati orang, kan?

Menambah bumbu cerita, biar lebih heboh dan laris jualannya, juga supaya terkenal. Manuver komunikasi dan kontak sosial yang lumrah dilakukan beberapa abad belakangan ini.

Sementara itu, silakan diamati. Apa yang terjadi di sekitar kita kini malah lebih parah. Yakni ketika sang penutur, atau mungkin “penjual” terselubung, tidak cuma berusaha membuat sebanyak-banyaknya orang percaya kepadanya demi kepentingan pribadi. Melainkan juga memaksa orang lain untuk turut percaya. Memaksa, berarti menggunakan ancaman, menakut-nakuti, mengintimidasi, meneror, termasuk lewat kekerasan. Padahal, kalaupun sang penutur ingin mati-matian memaksakan ceritanya tentang buah lai, orang lain tetap berhak menolak percaya lantaran memang belum pernah mencicipinya sendiri. Wajar kan.

Okelah si penutur mengaku pernah mengecap rasa buah lai dengan lidahnya sendiri, tapi tetap ndak mungkin dong dilakukan “transfer rasa dan pengalaman” untuk membuat orang lain percaya. Memangnya pakai French Kiss? Apabila ada yang percaya, kemudian terlibat saling silat lidah demi pembuktian rasa, boleh disebut dungu, kan? Sama dungunya dengan percaya modus operandi gombalan para cowok: “Kamu cinta sama aku enggak, Beyb? Kalau cinta, ‘buktiin’ dong.” Hati-hati mulut lelaki.

Lanjut…

Bentuk keparahan yang lain adalah saat si penutur menghimpun pengikut; sekelompok orang yang dengan sukarela menghina serta mengacaukan orang lain, bila mereka tak percaya pada hal sama. Berdebat tentang topik yang tidak penting, setidak penting soal cowok yang mencukur gundul bulu ketek, misalnya. Pertentangan antara kenyamanan berketiak mulus dan simbol maskulinitas.

Akhirnya, mempercayai sesuatu atau tidak, kembali pada pilihan sendiri-sendiri. Akan tetapi, kita adalah manusia dengan akal budi. Diberi kemampuan berpikir, energi untuk melakukan pembuktian, serta intuisi untuk memutuskan sesuatu dengan sebenar-benarnya. Lengkap dengan konsekuensi masing-masing. Toh, tak selamanya kita menjadi seorang anak kecil, yang baru bisa tertidur setelah dibacakan dongeng-dongeng fantastis, atau kelelahan setelah ditakut-takuti soal momok yang bisa muncul dari kolong ranjang. Semenyengankan atau semenakutkan apapun kesan yang ditinggalkan, kebohongan ya tetap saja kebohongan.

Manusia berhak bersikap skeptis, dan itu lebih baik ketimbang kadung heboh, panik, ngamuk, emosional, dan sejenisnya, untuk sesuatu yang belum jelas juntrungannya. Dibikin kecele. Merugikan orang lain, dan diri sendiri.

Jangan sudi dimanfaatkan orang lain, yang ngakunya ndak bohong.

[]

Anyway, saya ndak bohong kok soal lai. Ini fotonya. 😛

Oh ya, jangan lupa, Linimasa ingin menutup 2014 dengan berbagi inspirasi. Ada beberapa paket DVD, original, dengan judul-judul istimewa yang bisa Anda menangkan lewat cara sederhana: menulis dan membagi cerita.

Caranya, bisa dilihat pada posting-an ini.

Bahagia itu Sederhana, Katanya…

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana semangkuk mi ayam favorit dengan isi yang banyak, hangat dan gurih, saat hujan. Apalagi kalau ditraktir.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana melihat senyummu, mendengar tawamu, hanyut dalam keteduhan tatap matamu.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana tempat tidur dengan seprai dan sarung bantal guling yang baru. Masih mulus, adem, lagi wangi. Apalagi kalau ada konconya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana pelukan. Ada yang demen meluk dari belakang, mendarat di punggung.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berhasil meniru resep masakan, membuat menu baru sendiri dengan rasa yang lumayan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berhasil dapat nilai A dalam ujian. Lulus UN. Tanpa nyontek. Berhasil menjadi sarjana, atau meraih Master, Doktor, dan sejenisnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana mendapat pujian dari bos di kantor setelah berhasil menang pitching; dianggap punya ide brilian; dinilai berkepribadian baik; maupun bisa diandalkan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berhasil mengalami dan memberikan orgasme kepada pasangan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berhasil membeli tanah, rumah, atau kendaraan idaman dengan kemampuan sendiri. Konstan menabung setiap bulan selama beberapa tahun untuk mengumpulkan uang muka, lalu siap nyicil sisanya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana menemukan toilet yang sangat bersih dan nyaman saat kebelet-kebeletnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri, mengalahkan ribuan kandidat lainnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa mewujudkan impian orangtua. Menikah, memberikan cucu, memberangkatkan haji, mengajak mereka jalan-jalan ke luar negeri, memberikan kehidupan yang berkecukupan, membuat mereka selalu tertawa gembira.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bertemu dengan orang yang bisa berbicara “bungul ikam tu!” atau “nggolek badokan yok, wis luwe arep semaput iki” setelah sepuluh tahun tinggal di Eropa.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana menemukan paman penjual Putu Labu yang dermawan memberi isi gula merah, dan menyajikan kelapa parut yang segar.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa peluk cium dengan pasangan di mana saja dan kapan saja, tanpa harus takut-takut. Bukan peluk cium pamer atau syahwat yang tak terbendung, melainkan peluk cium sebagai ekspresi rasa sayang yang tak berkesudahan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana menonton konser band favorit di luar negeri tepat saat isi tabungan mencukupi.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana segelas air putih dingin saat sedang haus-hausnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana sukses menghasilkan karya beraneka media. Bisa jadi buku, gubahan musik, lukisan, komik dan karya animasi, film, instalasi seni, desain busana, tata interior, rancangan arsitektur. Karya yang dihasilkan lewat idealisme dan bebas intervensi.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa sahur dan berbuka puasa dengan orang-orang tercinta. Apapun menunya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana masuk ke sebuah restoran ternama dengan predikat Michelin, memesan menu lengkap untuk lima jenis masakan ala fancy dining.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bertemu pacar/suami/istri setelah terpisah sekian lama.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana mendengar anak kita yang masih bayi, tertawa untuk pertama kalinya. Atau saat ia mengucapkan kata utuh pertamanya: “ma-ma”.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana ketemu barang incaran yang sedang didiskon 70 persen.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berasa jadi salah satu orang paling hipster. Selalu tahu dan mengalami hal baru lebih dahulu. Sudah mengenakan potongan busana jauh sebelum menjadi tren, sudah menjadi langganan kafe atau tempat nongkrong baru sebelum populer, sudah nonton film keluaran terbaru sejak penayangan perdana, sudah menggengam gadget keluaran termutakhir ketika harganya masih didongkrak habis-habisan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana diterima setelah nembak.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana berhasil menyelenggarakan event yang “berbudaya”, dan mendapat respons luar biasa. Menuntaskan ide dan cita-cita. Menjadi buah bibir setelahnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana memberi nasi bungkus kepada pengemis renta yang ditemui di pinggir jalan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana membantu orang lain mewujudkan ide dan gagasannya. Menghasilkan sesuatu yang positif, signifikan, dan bermanfaat bagi sesama.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana kentut tanpa malu-malu, dan tanpa malu-maluin.

hmm…

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana… (silakan isi sendiri)

Setiap orang punya kebahagiaan versi masing-masing. Kita pun bisa duduk seharian, ngobrolin daftar ini tanpa ada habis-habisnya, lalu ketawa-ketiwi atau merasa senang karenanya. Meskipun begitu, waktu tetap berjalan, kehidupan terus bergulir. Kebahagiaan yang kita rasakan, menerakan pengalaman menyenangkan, segudang kenangan.

Begitupun tulisan ini, akan menyisakan bayangan-bayangan penuh kegembiraan, bila diakhiri di paragraf ini.


Berpisah dengan yang dicintai.

Berkumpul dengan yang dibenci.

Mendapat yang tidak diinginkan.

Luput dari yang diharapkan.


Waktu tetap berjalan, kehidupan terus bergulir. Perubahan tak dapat dihindari. Mereka yang optimistis, selalu yakin bahwa setelah satu kebahagiaan berlalu, akan ada kebahagiaan lain yang menyusul. Sedangkan mereka yang pesimistis, selalu murung karena menganggap bahwa hanya ada kesedihan tak berkesudahan. Sementara mereka yang realistis, siap menggapai kebahagiaan dan sanggup diterpa kesedihan.

Maafkan saya, jika harus menggugah Anda dari daydreaming yang menyenangkan. Hanya saja kita–manusia–tidak hanya tercipta untuk siap bahagia saja, namun beredar dalam kehidupan yang serba lengkap. Kendatipun lumrahnya, semua orang mengidamkan kebahagiaan, dan sebisa mungkin menghindari kesedihan.

Dari sederetan contoh “Bahagia itu Sederhana” sebelumnya, kita dihadapkan pada happy ending–akhir yang menyenangkan, ketika mampu menyisakan senyum terkembang. Jangan lupa kalimat saktinya: “waktu tetap berjalan, kehidupan terus bergulir.” Ada peristiwa, setelah sebuah peristiwa. Tergantung kita, sudah siap menghadapinya, atau masih belum move on dari sisa-sisa efek kejadian sebelumnya.

Berpisah dengan yang dicintai

Perpisahan mengikuti pertemuan layaknya bayangan. Tak perlu jauh-jauh berbicara tentang maut yang memisahkan sepasang kekasih, ketika sehabis kencan mingguan saja, dua sejoli terus bermesra-mesraan lewat udara. Plus kalimat andalan: “kangen banget nih…”

Berkumpul dengan yang dibenci

Wajar kiranya, apabila manusia selalu gandrung dengan hal-hal menyenangkan, dan anti terhadap semua yang bertolak belakang. Di kantor misalnya, akan terasa layaknya ruang penyiksaan ketika kita harus berurusan dengan musuh bebuyutan. Ingin cepat-cepat pulang kantor saja rasanya, nongkrong dengan teman-teman, walaupun pada kenyataannya harus kembali turun kerja keesokan harinya. Siklus.

Mendapat yang tidak diinginkan

Ekspektasi adalah muara dari semua yang kita kerjakan. Selalu ada harapan, target, capaian minimal dari daya upaya yang kita kerahkan. Maunya sih selalu berhasil dan berbuah kegembiraan, namun tak mustahil menuai kekecewaan. Hanya ada “ucapan terima kasih atas partisipasinya.”

Luput dari yang diharapkan

Lebih parah dari poin sebelumnya, luput berarti tidak mendapatkan apa-apa sama sekali. Boro-boro sesuatu yang diinginkan, ini malah tangan yang hampa. Benar-benar kehilangan. Bagaimanapun bentuknya, saya yakin Anda pasti pernah mencelus di dalam hati, ketika merasakan yang seperti ini.

Maafkan saya, jika piket Linimasa hari ini begitu muram. Kampret-nya lagi, aura muram yang demikian ini mesti diawali dengan buaian bayangan-bayangan menyenangkan tentang kebahagiaan. Akan tetapi, sebelum meneruskan umpatan dalam pikiran handai tolan sekalian, izinkan saya menuntaskannya.

Kebahagiaan dan kesedihan, berikut perolehan dan kehilangan. Sepasang realitas yang tidak terelakan. Kondisi yang tidak akan dapat kita hindari, selama masih berkutat dalam “keterkondisian” serta ketidakpastian. Malangnya, seumur hidup ini, kita dibiasakan untuk selalu rapat melekat dengan hal-hal yang membahagiakan, dan berlari sejauh mungkin dari hal-hal yang menyedihkan. Menjadi ilusi, bahwa kebahagiaan itu seperti permen bulat isi cokelat. Berlimpah jumlahnya dan menyenangkan. Menyisakan kesedihan yang dianggap laiknya bulatan-bulatan hitam dengan rasa pahit memuakkan.

Gandrung pada permen bulat isi cokelat. Kita lumat dengan mantap, untuk kemudian kita pegang sisanya erat-erat. Bahagia memang, pada awalnya. Hingga kemudian muncul kekhawatiran; “sisa berapa ya?”, “kalau nanti diambil sama dia, gimana ya?”, “cari di mana lagi ya?”. Kebahagiaan berangsur hilang.

Di pojok-pojok laci yang tak tersentuh, bulatan-bulatan hitam dengan rasa pahit didiamkan. Dijauhkan dari jangkauan anak-anak; mereka yang gandrung pada permen bulat isi cokelat. Hingga suatu saat, sang bocah menceret, diare, salah makan. Anda pun tahu bagaimana kelanjutannya. Setelah sang bocah pulih dari diarenya, baru terdengar celetukan: “syukur masih nyimpan.

Situasi terbalik. Permen bulat isi cokelat tak lagi menyenangkan. Bulatan hitam yang rasanya pahit, tak lagi menakutkan.

Ketidakpastian membuat hidup kita penuh misteri. Apa yang akan terjadi semenit ke depan pun masih merupakan tanda tanya besar. Lantaran itu, kebahagiaan tak melulu berbuntut bahagia; kesedihan pun tak melulu berujung petaka. Larut dalam kebahagiaan, membuat kita terlena dari kenyataan. Sadar dalam kesedihan, membuat kita waskita akan kehidupan. Saya terdengar sok bijaksana? Memang. Sengaja.


Ya, bahagia itu memang sederhana. Sesederhana mampu bersyukur. Terhadap apa saja, itu pun kalau Anda bisa dan bersedia.

Dan sebagai manusia, bahagia itu memang sederhana. Sesederhana mampu merasakan berjuta pengalaman, kebahagiaan dan kesedihan, perolehan dan kehilangan, segalanya.

[]

Sedikit tentang Perempuan

Perlu waktu sembilan tahun, sampai Church of England bersedia memperkenankan perempuan untuk jadi uskup.

Dimulai pada 2005. Kritik atas terbatasnya gerak kaum perempuan dalam tubuh gereja Anglikan khas Inggris itu dikemukakan. Muaranya, voting sinode menyetujui amendemen peraturan tersebut Senin kemarin, beberapa jam sebelum pengumuman kenaikan harga BBM di sini.

Gebrakan besar–cuma bagi warga Inggris–ini belum menjamin akan ada uskup perempuan dalam waktu dekat. Bukan mustahil, gelombang penolakan terus mengalir, syarat prosedural tambahan dapat diberlakukan. Membebani langkah para perempuan yang terpanggil untuk menjadi uskup, dalam organisasi gereja yang dianggap bidah oleh gereja Katolik Roma itu.

***

Amina Wadud dan makmumnya.

Dukungan maupun hujat tak putus-putusnya dilontarkan kepada Amina Wadud.

Perempuan 62 tahun itu menimbulkan kontroversi global, setelah bertindak sebagai imam Salat Jumat di Manhattan, juga pada 2005. Salat Jumat yang diikuti seratus orang (60 perempuan, 40 laki-laki) tersebut tanpa pemisahan saf, muazinnya juga seorang perempuan.

Salat dilangsungkan di Synod House, sebuah bagian dari katedral. Pasalnya, tiga masjid setempat menolak Amina Wadud dan makmumnya. Lalu, satu tempat netral yang sejatinya adalah pusat aktivitas religius-pluralistis India mendapat ancaman bom gara-gara bersedia menerima Amina Wadud. Synod House dipilih, karena Amina Wadud ingin menunaikan salatnya di tempat yang tersucikan secara spiritual.

***

Ndak perlu nunggu 21 April, Mother’s Day, atau peringatan-peringatan sejenis untuk nulis soal perempuan, atau membicarakan topik yang pakai embel-embel kata “emansipasi” di depannya. Toh, meskipun diskursus atau pembicaraan mengenai kesetaraan antara laki-laki dan perempuan selalu digencarkan pada momen-momen tertentu setiap tahun, tetap belum bisa mengubah realitas di beberapa bidang yang terjadi hingga saat ini.

Dua contoh di atas, misalnya. Sebagai peristiwa yang tergolong terlalu sensitif untuk dibicarakan di warung kopi sambil mengudap pisang goreng, tapi terlalu penting untuk dilewatkan sebagai momen pergolakan keperempuanan, urusan uskup gereja Anglikan maupun Amina Wadud tentu tidak bakal dicueki dan menguap begitu saja. Hanya saja sedinamis apapun pembahasannya, pasti buntu begitu berhantaman dengan pernyataan: “Mau punya uskup perempuan? Sudah sesat makin sesat!”, atau “Sampai kapan pun, perempuan tidak boleh jadi imam. Melanggar fikih!” Menegaskan bahwa kitab suci–agama-agama Samawi, khususnya–sudah mencantumkan ketentuan baku bagi posisi perempuan dalam urusan agama. Saklek. Ada perempuan yang menerima kenyataan ini dengan pasrah, tapi tak sedikit pula yang merasakan protes dalam hati.

Agak berbeda dengan pandangan agama-agama non-Samawi. Perdebatan tentang keperempuanan dan institusi agama bisa terkesan tarik ulur. Salah satunya, upaya membangkitkan kembali tradisi Bhikkhuni Buddhisme Theravada, yang telah punah sejak beberapa abad lalu dan dinilai mustahil untuk diselenggarakan lagi sampai saat ini. Mustahil, bukan lantaran tidak boleh, melainkan perangkatnya sudah tidak ada. Itu sebabnya, perempuan Buddhis Theravada zaman sekarang paling mentok hanya bisa ditahbiskan menjadi Atthasilani (seperti yang bisa ditemukan di STAB-STAB). Atthasilani kurang lebih sejajar dengan Samanera, calon Bhikkhu, plus beberapa aturan tambahan demi muruah kaum hawa. Sementara dalam Buddhisme Mahayana, keberadaan Biksuni masih ada, termasuk di Indonesia.

Terlepas dari itu, perempuan tetap memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki dalam hal prestasi spiritual. Perempuan juga bisa mencapai kebuddhaan sebagai Arahat, sebagai orang yang diajari. Sedangkan perempuan Buddhis yang umat awam dapat dilatih dan diangkat menjadi Pandita; berhak berceramah, berhak memimpin Puja Bhakti, berhak mengesahkan pernikahan, berhak menjadi kepala vihara.

Obrolan di atas baru pada ranah agama. Lumayan susah diotak-atik. Belum lagi pada ranah-ranah yang lain.

***

Sampai saat ini, sebagian besar manusia dengan selangkangan berbatang, masih kerap memperlakukan perempuan dengan tindakan dan perspektif yang tidak patut. Tak jarang berlaku secara komunal, menjadi budaya dalam lingkup bermasyarakat. Walaupun belum tak semuanya dikategorikan sebagai kejahatan.

Buktinya, seperti tulisan Gandrasta dua pekan lalu. Ketika perempuan seakan-akan boleh distempel dengan label “Penjahat Sosial”, jika masih lajang di usia 30 tahun ke atas. Dengan label tersebut, mereka digunjingkan, dicibir, diejek, didesak, orangtua mereka juga ikut-ikutan dibuat gusar, dan dikelilingi dengan ketidaknyamanan. Pertanyaannya, siapa yang memperbolehkan tindakan cap-mengecap itu? Sudah idealkah kehidupan rumah tangga si pengecap? Sebegitu kurang kerjaankah si pengecap, sampai ngepoin kehidupan pribadi orang lain?

Isu lainnya, terkait keharusan bagi para calon Polwan untuk menjalani pemeriksaan keperawanan, sebagai bagian dari tes kesehatan. Oke, pemeriksaan keperawanan memang disebut bukan sebagai penentu kelulusan, tapi kita tetap berhak mempertanyakan alasannya. Sebegitu pentingkah motifnya? Apakah tindakan ini masih didasarkan pada pandangan konservatif yang menganggap bahwa selaput dara adalah bukti kesucian? Sehingga tidak utuhnya selaput dara menandakan bahwa si empunya adalah perempuan hina? Terus, kalau dianggap hina, boleh makin dihina-hina harga dirinya, begitu? Kalau iya, duh, masih punya empati enggak ya?

Kemudian, masih ihwal selaput dara juga, para laki-laki kerap merendahkan perempuan. Memang terdengar remeh, dan seringkali dianggap sebagai kelakar ringan, bikin ketawa. Namun ungkapan “buka segel” saat malam pertama seolah menempatkan seorang perempuan, sang istri, laiknya barang yang baru dibeli di swalayan. Lembar etiketnya mencantumkan amaran: “jangan diterima apabila segel rusak/terbuka.” Kalau begini, apa bedanya antara pernikahan dan jual beli, dengan maskawin sebagai banderolnya? Sayang, belum ditemukan metode untuk mengenali titit perjaka dan titit berpengalaman, yang pemiliknya seringkali dijadikan mentor rekan-rekannya.

Sama halnya dengan kekeliruan sosial yang terus dipertahankan sampai sekarang. Yaitu anggapan yang mengatakan “cowok nggodain cewek = wajar, cewek nggodain cowok = genit,” atau “cowok nembak cewek = wajar, cewek nembak cowok = agresif.” Bagaimanapun, perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki hati, pikiran, dan mulut. Kalaupun ada perempuan yang malu-malu, ada pula laki-laki yang terlalu dungu menangkap kode-kode umpan lambung di udara. Artinya, sama-sama memerlukan komunikasi, bukan gengsi. Kalau belum yakin cinta/ndak cinta, ya jangan seperti Rangga yang nggantungin Cinta sampai 12 tahun lamanya. Bikin puisi jago, giliran harus ngomong malah plonga-plongo. Untung masih ketolong cakep (#eh).

Satu lagi topik pembahasan yang tak kunjung kelar sampai sekarang. Jangankan perempuan, semua orang sepatutnya berbusana dengan sopan. Akan tetapi, apabila ada perempuan yang merasa nyaman dengan mengenakan rok mini atau pakaian seksi tanpa motif macam-macam (masih debatable), tidak serta merta bisa dijadikan pembenaran untuk melakukan perkosaan, bukan? Memang ada istilah “namanya kucing disodori ikan”. Masalahnya, apakah kecerdasan semua laki-laki di Indonesia ini setara dengan kucing tadi? Ndak punya kekuatan untuk mengendalikan diri dari gejala fisiknya sendiri? Lucu, alih-alih menyalahkan pemerkosa, eh malah sang korban yang digelari gatel. Mau bagaimanapun, dalam sebuah aktivitas seksual yang dipaksa, perempuan lah korbannya. Perempuan yang diperkosa lalu kesenengan itu cuma ada dalam skenario film bokep. Dusta semua.

Menelus ke bidang lainnya, sampai kapan kecantikan dan lekuk tubuh perempuan dijadikan alat utama untuk mempromosikan dagangan? Jangankan yang jualan bra dan celana dalam berenda, lah wong iklan permainan online juga menampilkan perempuan dengan eksploitasi berlebihan di area belahan payudara. Ya bedanya samar sih, antara orang yang niatnya cari penghasilan, dengan pablik fijyer yang haus pujian dielu-elukan berbodi seksi.

Foto: Pinterest

Foto: Pinterest

Pun para bos. Memang berhak mengatur urusan personalia di perusahaannya dengan sesuka hati. Tapi, bakal ketahuan jelas bos itu adalah orang macam apa, bilamana lebih memilih pelamar yang modalnya hanya tubuh semlohai menggemaskan, ketimbang yang benar-benar kompeten dan sesuai kebutuhan perusahaan. Tindakan itu namanya apa, kalau bukan mengkondisikan perendahan perempuan? Bisa jadi para perempuan pun berlomba-lomba menampilkan keseksian, yang seringkali artifisial, dipaksakan, buatan, menghilangkan kecantikan alamiahnya.


Masih banyak sih, tapi mari kita akhiri saja sampai di sini.

Perempuan dengan segala kompleksitas, misteri, dan keindahannya. Bahan perbincangan dan sumber inspirasi yang tak ada habis-habisnya. Makhluk yang kerap mendapat perlakuan merendahkan, karena saking tinggi kedudukan asalinya.

[]