Apakah Saya Melakukan Mansplaining?

SEJUJURNYA, saya masih awam dengan bahasan mengenai interaksi antargender dalam kehidupan sosial secara umum. Termasuk isu yang satu ini; Mansplaining. Yaitu cara pandang dan tindakan pria terhadap wanita beserta segenap aspeknya.

Mansplaining bersifat negatif. Sebab dari sedikit yang saya pahami, Mansplaining pada dasarnya adalah sikap sok tahu yang disampaikan pria untuk/dengan merendahkan wanita. Sebagai prasyarat terjadinya Mansplaining, penyampaian kesoktahuan tersebut sarat arogansi dan dominasi. Mengesankan bahwa pria selalu benar dan wanita tak lebih pintar, sehingga mereka harus didengarkan.

Saya memberanikan diri menulis soal ini lantaran judul di atas. Setidaknya agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

  1. Apakah saya telah melakukan Mansplaining?
  2. Jika iya, apakah saya sengaja melakukannya?
  3. Jika iya tetapi saya tidak sengaja, apa yang menyebabkannya menjadi sebuah Mansplaining?
  4. Jika iya tetapi saya tidak sengaja, apa dampak dari tindakan Mansplaining tersebut?
  5. Apa saja hal-hal lain yang perlu saya ketahui agar tidak melakukan Mansplaining lagi?
  6. Apa yang harus segera saya lakukan setelah tidak sengaja melancarkan Mansplaining?
  7. Apa saja yang harus diperhatikan saat menyampaikan sesuatu agar tidak mejadi Mansplaining?

Berorientasi pada diri sendiri, pertanyaan-pertanyaan di atas dikemukakan demi menghindari Mansplaining di kemudian hari. Pasalnya, tidak semua orang, baik pria atau wanita, terlepas dari tidak tahu atau tidak mau tahu, memiliki pemahaman dan aspirasi yang sama terhadap hal ini. Tak bisa dimungkiri, Mansplaining juga merupakan produk budaya. Terlebih di Indonesia, ketika pria dikondisikan untuk selalu memiliki relasi kuasa tertentu dibanding wanita sedari kecil.

Berawal dari twit saya tempo hari.

Mendapatkan tanggapan sebagai berikut.

Screen shot of Twitter

Alih-alih tersinggung, saya tertarik untuk menelisik lebih jauh. Dimulai dengan membaca twit saya kembali, lalu beralih ke tanggapan yang diberikan supaya ketemu selisihnya. Khawatir, saya telah berlaku: “Komentar/twit dahulu, berpikir belakangan.” 😅

Saya #penasaran, which part did I define? Lebih berupa ungkapan menghargai kualitas tertentu pada wanita, dibanding sebuah upaya menjelaskan suatu kondisi yang tidak saya miliki. Mudah-mudahan saya tidak keliru menyampaikannya.

Selanjutnya, kalau “it is up to me and my kind of peep …” apakah berarti pria—saya—sebaiknya tidak mengutarakan pendapat tentang wanita? Ataukah baru berbicara setelah diizinkan, maupun saat ditanya? Apabila demikian, ya, tidak apa-apa juga, sih. Menjadi pelajaran bagi saya untuk diam saja, dan ini tentu berada di luar batasan benar versus salah. Diwangsulké mawon.

Screen shot of Twitter

Di sisi lain, apakah ini bisa dimasukkan ke kategori masalah komunikasi? Pesan disampaikan secara tertulis, justru menimbulkan polemik dalam pembacaan/penerimaan maksudnya. Apabila demikian, kesalahannya tentu pada pengutaraan saya.

Mohon maaf.

Maka, dalam situasi berbeda dan lebih terbatas, saya barangkali baru ingin mengutarakannya kepada mama, saudara wanita, pacar, teman dekat wanita, rekan kerja wanita saat bertatap muka. Bukan lewat media sosial, kepada khalayak anonim.


Terpisah, saya menemukan penjelasan ringkas dan aplikatif terkait Mansplaining dari Kim Goodwin lewat diagram berikut.

Diagram on mansplaining.

Ilustrasi: bbc.com

Saya mungkin bisa meraba-raba jawaban menggunakan diagram di atas.

[]

Advertisements

Observasi Random

Kebiasaan lama, kebiasaan baru. Kebiasaan lama yang dilupakan, kebiasaan baru yang tadinya terasa asing, tetapi kemudian terasa biasa sehingga tak lagi diperhatikan. Tetapi terkadang hal-hal yang menurut kita menarik tetap bisa menghasilkan pemikiran yang dihampiri beberapa kali.

Saya kira saya bagikan saja beberapa hasil observasi yang akhir akhir ini sering mampir ke otak.

  1. Seringnya jika ada  yang memiliki opini yang tidak pro hijab, yang pertama dan komentar keras adalah pria, tentu dengan latar belakang, “menutup aurat kan wajib, sudah ada di Al Quran” dan alasan agar perempuan selalu aman dan dihormati. 
    Untitled-2

    Kalau enggak pake #simple atau ada kata “paham??” dengan tanda tanya lebih dari satu (tanda enggak nyante)

     

     

  2. Tetapi ini juga pria. 

    Untitled-1

    Sumber: Magdalene.cc

  3. Orang kebanyakan itu, kalau di tempat yang harusnya sabar menanti atau antre (contohnya keluar atau masuk kereta atau bis) selalu ingin buru-buru dan kalah bisa saling mendorong. Tetapi di tempat yang leluasa (di lorong stasiun) di mana mereka bisa jalan lebih cepat kalau memang terburu-buru, malah berjalan pelan, dan tidak jarang pindah jalur seenaknya, atau beriringan hingga beberapa orang, membuat orang yang berjalan cepat sulit melewati.
    9bfa3d084c7ed699ad5246169be0932c-school-hall-road-rage
  4. OMG, agak malu mengakui, tetapi akhir akhir ini rutin menonton Riverdale karena terpincut dengan Jughead (yang sejak baca komiknya juga saya sudah suka) yang dikarang oleh Cole Sprouse, agak terobsesi sampai follow Twitternya, dan dia lucu pula jadi semakin suka, sampai cemburu kalau ada adegan ciuman antara Jughead dan Betty. 

    c5ihm4txeaewb-h

    Isn’t he dreamy?

  5. Lalu ditampar oleh kenyataan bahwa Cole Sprouse adalah Ben Geller, anaknya Ross Geller di Friends. 

    cole-sprouse-friends-rachel

    Vvhyyyyy

  6. Kemarin baru dengar teman baru mengatakan bahwa dia suka film “yang ada twist-nya”. Wait, but it puzzled me. Maksudnya, ketika kita menonton film dan tahu bahwa di situ ada twist, dan kita jadi menonton dengan mengantisipasi ada twist, apakah itu tidak merusak kesenangan atau kenikmatan menonton? Apalagi ternyata twistnya tidak sesuai pengharapan. Film yang bagus bisa berkesan jelek. Saya malah pernah agak ngambek ke sahabat karena dia keceplosan mengatakan satu film yang saya belum tonton memiliki twist-ending. Menurut saya itu spoiler. Menurut Anda bagaimana?07869dcc136bcb9f1ee65ef96ccff094-funny-funny-funny-funny-stuff