Kadang-Kadang Kita Enggan, Tapi Suka Teringat

Berhubung badan masih sedikit lelah dari rangkaian kerja pekan ini, maka saya mengajak Anda mendengarkan cerita beberapa teman saya lagi kali ini. Sedikit berbeda dari yang sebelum-sebelumnya, rangkaian cerita yang Anda baca hari ini agak susah dirangkai. Maklum, temanya sensitif. Tidak seperti yang sudah-sudah. Mengajak mereka mengingat-ingat lagi pun perlu waktu agak lama dari biasanya. Yang penting, sudah tertuliskan.

(QB, 30 tahun, pekerja swasta di bidang finansial)

“Masih inget gak, apa yang kamu lakukan waktu putus?”

“Hmmm. Yang mana nih?”

“Terserah.”

“Yang terakhir kali ya. Well, kalau diingat-ingat sekarang sih, lucu juga kejadiannya. Cenderung malu-maluin. Tapi waktu ngelakuin sih, gak kepikiran malu sama sekali.”

“Emang ngapain?”

“Marah. Marah banget. Diputusin lewat telpon. Dia lagi di luar kota. Di luar pulau, malah. Gak pake mikir lagi, gue langsung ke bandara, cari flight paling cepet, nyusulin dia. Begitu sampai, cari mobil sewa, langsung cari dia.”

“Wow. Heboh banget. Ketemu?”

“Karena gue yang bookingin hotelnya, ya tau lah dia di mana. Gue tungguin banget sampe malem. Eh pulang-pulang, dia udah bawa orang baru. Dia kaget. Gue kaget, tapi gue tahan. Gue cuma labrak aja mereka. Gue ambil kunci mobil dia, gue lempar ke laut. Gue pergi dari situ. Dan gue ambil tas dia, beserta isinya. Gue yang beliin tas itu.”

“Busyet.”

“Ya begitulah. You don’t know what you are capable of, until you get hurt.”

“Ampun.”

(from uniavisen.dk)

(NL, 33 tahun, pemilik perusahaan jasa desain)

Correct me if I’m wrong, tapi seinget gue, kayaknya elo pernah kan ya doing something dramatic pas elo putus?”

“Hah? Dramatis apaan? Pas kapan?”

“Pas ama mantan elo yang kita pernah pergi liburan bareng.”

“Oh, dia. Hehehehe. Iya.”

“Waktu itu elo ngapain ya? Pergi kan?”

“He eh. Waktu itu masih kerja kantoran. Semalam sebelumnya, putus. Terus sampai di kantor, bengong, mata masih sembab. Besoknya long weekend. Akhirnya gue nekat.”

Remind me, what did you do?”

“Dari kantor gue langsung ke bandara, cari tiket pesawat ke Bali biar mahalnya setengah mati karena langsung beli, sambil nunggu boarding langsung pesan kamar hotel di Bali yang harganya juga selangit, dan gue gak bawa apa-apa.”

“Cuma bawa tas kerja aja?”

“Hehehe. Gak ding. Gue bawa tas traveling yang emang gue tinggal di kantor selama ini kalau ada business trip, tapi waktu itu tasnya gue isi ama satu botol Vodka doang.”

“Bok!”

“Hahahaha. Jadi begitu nyampe kamar hotel, gue bengong, tiba-tiba nangis sendirian, trus mulai buka botol.”

“Bahaya kali ah, mabuk sendirian.”

“Ya kan I know my limit. Udah, tepar aja abis itu. Bangun tidur, nangis, minum, nangis, tidur lagi. Begitu terus sampai dua hari. Baru di hari ketiga mulai keluar kamar.”

“Karena …?”

“Bosan. Lapar. Dan gak bawa baju banyak. Akhirnya shopping deh. Hehehehe.”

“Dasar!”

(from trending.co.ke)

(WA, 30 tahun, wiraswasta)

Okay, I need to know this. Sebagai orang yang gak pernah mutusin, selalu diputusin …”

“Curhat banget, mas.”

“Bodo. Sebagai orang yang selalu diputusin, tell me, does it actually hurt to be the one who calls it off?”

“Ya iya lah. Tetep aja.”

How come? Tell me.”

“Hmmm. Waktu itu, gue ngerasa kami, atau mungkin gue kali ya, sudah gak bisa jalan bareng lagi. Udah gak cocok. Udah gak ngerasa happy kalau lagi sama dia. Bawaannya marah terus. Jadi gue ngerasa, lebih baik segera udahan aja.”

“Terus? Ngomongnya gimana?”

Over lunch. Di tempat umum biar gak awkward. Tapi mau gimana pun, tetep aja awkward. Dan lunch yang cuma satu jam lebih dikit itu rasanya udah kayak setahun lebih. Lama banget.”

“Lalu?”

“Ya dia kaget, I can tell. Marah. I understand. Malamnya, dan besoknya, gue telpon, berusaha untuk reached out, paling nggak nanyain kabar, make sure dia baik-baik aja. Eh gue udah diblocked. Hahahaha. Setelah lama banget, baru nyadar, ya kalau lagi kayak gitu, siapa juga yang baik-baik? Dan siapa juga yang mau terima kabar dari orang yang baru mutusin? Bego banget gue.”

“Hahaha. Ya iya lah. Itu kan seperti udah jadi basic knowledge.”

I know. But when it comes to hearts, kalau udah ngomongin hati, you will forget knowledge and brain. You just jump into feelings.”

I guess.”

(from voply.com)

(DY, 34 tahun, konsultan)

So, you were married before, and you had divorce?”

“Bukan menikah secara legal. Tapi kami hidup bersama selama beberapa tahun. Sudah seperti menikah rasanya. Dan waktu kami memutuskan untuk berpisah, ya memang seperti perceraian rasanya.”

“Wow. Gue cuma bisa membayangkan. It must be painful.”

Of course. Semua perpisahan pasti menyakitkan.”

“Tapi sekarang elo baik-baik saja. I mean, you look fine and sound wise about it.”

“Hahaha. Thank you. Tapi tentu saja di awal-awal sangat menyakitkan. Gue sering nangis. Sering marah ke diri sendiri. But as time goes by, you are used to it.”

“Maaf sebelumnya, but how messed up were you?”

It’s okay. Toh udah lama banget juga kejadiannya. Kalau ditanya seberapa messed up, I’d say pretty messed up. Tidak sampai menyakiti diri sendiri seperti di cerita-cerita novel atau film memang. Karena waktu itu, I put my mind over heart first.”

“Maksudnya?”

“Begini. Karena kami pasangan yang tinggal bersama sudah cukup lama, maka kami pun menjalani hari-hari ya sebagai pasangan. As one unit, one item. Diundang datang ke acara pun sebagai pasangan. Memiliki beberapa barang sebagai milik bersama. Pergi liburan bersama. Jadi waktu kami memutuskan untuk berpisah, aku sempat sedih. Sehari.”

What?”

“Iya. Sehari. Sehari semalam aku nangis sejadi-jadinya. Lalu keesokan harinya, aku mulai menyortir, mana undangan yang perlu kami hadiri sebagai pasangan, mana yang tidak. Ada undangan pernikahan sahabat, karena dia sahabat gue, maka gue pelan-pelan bilang ke dia, kalau gue akan datang sendirian. Dia kaget, heboh, langsung nelpon dari luar negeri. Berhubung kami juga punya beberapa friends in common, kami sepakat untuk pelan-pelan memberitahukan ini ke teman-teman tersebut, privately.”

“Wow.”

“Lalu beberapa hari kemudian, gue mulai mendata barang-barang di rumah. Mana yang dia bawa, mana yang jadi milik gue. Mendata hutang juga. Siapa yang pernah bayarin buat apa. Didata semua satu per satu.”

That’s crazy!”

“Memang terdengar aneh, tapi itulah yang gue lakukan. That sounds crazy, but it only sounds crazier if you don’t do those stuff.

“Kok bisa?”

Because you’d hold on to items that only evoke painful memories, dear. Biar bagaimanapun juga, kita harus move on ‘kan? Dan itu prosesnya lama. Harus segera dimulai secepatnya, supaya bisa pelan-pelan dijalani.”

“Hmmm …”

Trust me, at the end of a relationship, keep your mind and logic above heart and feeling. It will save you. It will keep your whole self intact. And that is the best love you can give to yourself.

(from bigthink.com)
Advertisements

Dor!

Berhubung saya masih sepertiga jet-lagged, jadi kali ini saya biarkan teman-teman saya yang bercerita ya.

Satu

Me: “Deg-degan gak waktu pacar nembak elo dulu?”
KL (teman, 33 tahun): “Deg-degan lah, gila!”
“Berapa lama dari deket sampe akhirnya berani ngomong?”
“Kayaknya 3 mingguan deh.”
“Lumayan lah ya. Ngomongnya gimana?”
“Kalo gak salah waktu itu dia ngajak makan. Makan malem kalo gak salah. Kita abis kelar nonton. Udah sering jalan bareng waktu itu. Kan beberapa kali ama elo juga.”
“He eh. Trus?”
“Ya udah. Dia ngajak makannya di food court aja, dong. Ya gak masalah sih kalo sekedar makan doang. Mana gue pesennya pake pete lagi kayak biasanya. Sumpah bukan model kencan yang gimana-gimana gitu. Asli. Abis udah nyaman banget. Eeeh kok dia ngomongnya udah mulai menjurus.”
“Hahahaha. Elo salting?”
“Ya salting gak salting. Gue makan aja sambil dengerin, sambil nanggepin. Tapi dalam hati, gue cuma “oh my God, oh my God, oh my God, please, please, please, jangan ditembak di tempat kayak gini, please, please, please …” Itu di food court di parkiran mall soalnya. Hahahaha.”
“Huahahaha. Toh akhirnya dia ngomong juga?”
“Ya iya lah. Ngajak jadian, trus ya ketawa bareng. Jadi ya kalo ditanya orang, gue jadian di mana, di food court parkiran mall. Udah gitu sekarang food courtnya udah gak ada, jadi gue gak bisa site visit kalo lagi mau nostalgia. Hahahaha!”

showimage-ashx

Dua

Me: “Deg-degan gak waktu elo nembak pacar dulu?”
ED (teman, 34 tahun): “Lumayan, tapi gak sampe bikin gelisah sih.”
“Kok bisa?”
“Abis deketinnya lama.”
“Berapa lama?”
“Ada lah 5 bulan.”
“Eh busyet. Betah amat, bro.”
“Ya abis. Dia gak agresif, gue juga gak agresif.”
“Waduh. Untung gak diambil orang lain.”
“Ya kali ah.”
“Akhirnya bisa ngomong, gimana ceritanya?”
“Ehehehehe. Jangan ketawa ya. Waktu itu malem-malem, kita keluar buat makan. Gue lagi pengen makan sate padang. Ya udah kita pergi. Makan aja biasa. Trus dia pengen kerja sebentar sambil buka laptop. Kita cari coffee shop yang masih buka.”
“Trus?”
“Gue nungguin aja dia kerja sambil baca-baca. Tiba-tiba dia bilang, “Kok aku ngerasa mual ya?” Lari dia ke toilet. Di sana muntah-muntah.”
“Waduh. Hamil?”
“Ama wewe gombel. Elo ini, ah!”
“Trus?”
“Gue panik. Gue gedor pintu toilet coffee shop. Dia buka, mukanya pucet banget. Badannya lemes. Gue bopong ke mobil, sambil minta tolong waiter beresin laptopnya. Gue rencananya mau bawa dia pulang, tapi di mobil dia malah makin pusing kesakitan. Kayaknya emang abis makan sate padang trus minum kopi itu gak recommended ya.”
“Penyesalan emang selalu datang belakangan. Kalo datang di awal namanya pendaftaran. Trus?”
“Heh! Trus ya gue bingung. Gue tanya aja ke dia, mau ke rumah sakit aja nggak. Dia cuma ngangguk, sambil berusaha tiduran. Gue langsung dong bawa ke UGD. Dan ternyata emang pencernaannya lagi bermasalah. Disuruh istirahat bentar, dikasih obat di sana. Adalah hampir sekitar 2 jam sebelum akhirnya gue anterin pulang.”
“Lho? Terus ngomongnya …?”
“Hehehehehe. Pas jalan pulang, gue becandain dia, karena dia udah berasa enakan ‘kan. Gue tanya dia, “Yang, kamu tau nggak bahasa Inggrisnya UGD?” Dia jawab, “Intensive Care Unit kan? ICU?” Trus ya gue berhentiin mobil sebentar di pinggir jalan. Gue cuma megang tangannya sambil bilang, “I see you, too.” Hiahahaha!”
“Sumpah, bro. Najis amit-amit!”
“Hahahahaha!”

50

Tiga

Me: “Deg-degan gak waktu pacar nembak elo dulu?”
FH (teman, 35 tahun): “Nah, itu dia. Gue bingung, dulu ada deklarasi jadian gak ya?”
“Deklarasi! Macem mau bikin negara aja. Kok bisa bingung?”
“Abis gak jelas, siapa yang nembak, siapa yang ditembak. Ya buat gue emang gak penting sih, cuma kalo ditanya gini, bingung juga jawabnya.”
“Hahahaha. Jadi tau-tau ngalir aja gitu?”
Not exactly like that. Kita udah deket aja, sering ngobrol. Kalo telponan suka lama banget. Dan itu masih bener-bener telpon ya, bukan chatting di Line atau WhatsApp, dan bukan pake voice call seperti Skype atau WA. Bener-bener ngobrol di telpon, berjam-jam, dan gak ngelakuin kerjaan lain.”
“Wow. Ngomong apa aja kalian?”
Anything under the sun. Bener-bener semua.”
“Berapa lama kalian seperti itu?”
Let’s see. Kenalan doang di Oktober, sepintas lalu. Trus mulai intens ngobrol sekitar akhir November. Dari akhir November itu lah, sampai awal tahun. Berarti sekitar sebulan ya?”
“Lumayan lama.”
Yes, but it doesn’t feel long. The more we talk to each other, about each other, the more we don’t know anything about each other. Dan itu membuat gue pengen lebih lama lagi ngobrol ama dia.”
“Dan akhirnya …?”
“Dan akhirnya, kayaknya abis tahun baru, kita ngobrol. Lupa siapa yang nelpon duluan, saking seringnya. As we started talking as usual, I started noticing something different. The vibe, the tone, it’s different. Gue melipir ke pojokan di luar rumah. Then we started talking about some distant future, plans. Lalu dia mulai ngasih hints about settling on someone. Entah dari mana, tiba-tiba gue bilang, “the answer is yes”.
“Eh, gimana?”
I said, “the answer is yes”. Dia diem. Dia bilang, “But I haven’t asked you any questions yet”, sambil ketawa. Dan sambil ketawa pun gue bilang, “the answer is yes. Yes to all of those things you said. To everything you said.” Dia masih ketawa. Hahahaha. Lucu kalo diinget.”
So in the end, you’re the one who proposed?
I don’t know. I don’t think so. Setelah kita berhenti ketawa, kita ngobrol lama lagi. Dia bilang, “Here’s to us.

That’s sweet.
Yes. The sweetest”.

Selamat.

Namanya Juga Hidup

(Senin, pukul 5:45 pagi)

Seperti biasa, Mat memulai harinya dengan ponsel. Saat alarm di ponselnya bunyi, dia bergegas mematikan. Setelah alarm mati, dia masih terbaring di atas kasur dengan mata terbuka. Setelah nyawa mulai terkumpul, dia meraih ponsel untuk membaca notifikasi yang masuk.

Email bisa menunggu. Celotehan obrolan di beberapa grup WhatsApp bisa dibaca nanti. Mat lebih tertarik membuka aplikasi media sosial.

Di Twitter, kicauan seputar politik masih mendominasi. Terlalu berat untuk diikuti dengan perut kosong.
Di Instagram, terlalu banyak hastag membuat mata Mat pusing.
Di Facebook, cukup tahu siapa yang berulang tahun. “Happy birthday ya!”, tulis Mat persis sama di halaman lima orang yang berbeda yang berulang tahun hari ini.
Lalu Mat membuka aplikasi Path.

Tidak ada notifikasi penting. Apalagi Mat juga jarang update di Path. Baginya, sehari sekali cukup. Kalau bisa, dua hari sekali. Selebihnya, dia cukup terhibur melihat apapun yang di-post teman-temannya. Cukup untuk membuat Mat bisa catch up dengan kehidupan mereka.

Sampailah Mat melihat sebuah foto. Seorang kawan lama sedang berpose dengan kendaraan barunya di hari Minggu pagi kemarin. Bukan kendaraan itu yang mencuri perhatian Mat. Tetapi sebuah tote bag berwarna kuning di lengan kawannya yang langsung membuat Mat terkesiap.

“Eh, tas kita sama persis! Gue punya tas persis seperti itu!”, ketik Mat di kolom comment di bawah foto.

Sesaat setelah menulis itu, Mat pun berpikir.

“Kok dia bisa punya tas itu ya? Emang dijual bebas? Itu kan tote bag yang cuma dijual waktu pameran seniman itu di Kanada beberapa tahun lalu.”

Ponsel pun pelan-pelan Mat letakkan di dagunya.

“Emang dia ke sana? Kan gue doang yang ke sana. Emang gue beliin dia?”

Tiba-tiba Mat bangun dan duduk di ujung kasur. Dia terdiam, bahkan menghentikan pemikirannya sendiri. Mat sadar akan sesuatu.

Dia ingat, dia membeli dua pasang tote bag yang sama. Sama warna, beda tulisan. Yang satu memang untuk Mat sendiri. Yang satu, dia berikan ke seseorang yang pernah dekat dengan Mat. Seseorang yang juga dekat dengan teman Mat yang mengunggah foto tersebut. Seseorang yang Mat putuskan untuk tidak pernah bersinggungan lagi saat hubungan mereka berakhir.

Sebuah foto yang membuat Mat sadar, bahwa seseorang ini pun memutuskan untuk menghilangkan jejak Mat dalam hidupnya dengan tidak menyimpan satu pun barang pemberian Mat. Fair enough. Mat pun melakukan hal yang sama, karena dia malah mengembalikan semua barang pemberian dari orang ini.

Mat tersenyum kecil mengingat kejadian ini. Ada sedikit rasa sedih yang terbersit. Tapi Mat memilih untuk mengangkat bahu, menghela nafas panjang, dan mandi.
Mat berharap, pancuran air hangat di pagi hari bisa menjadi modal menghadapi hari yang panjang nanti.

(Courtesy of indianexpress.com)
(Courtesy of indianexpress.com)

(Senin, pukul 8:45 malam)

Mat memutuskan untuk menyudahi olahraganya malam ini. Sembilan puluh menit di atas treadmill, lalu latihan perut lima kali dua puluh gerakan, diakhiri dengan latihan lengan sebanyak empat kali dua belas gerakan, sudah sangat membuat Mat berkucur keringat.

Selesai berbenah, Mat memasang earphone di telinga, sambil melangkahkan kaki ke supermarket terdekat. Tidak perlu dia tulis apa yang dia mau beli, karena cukup buah, yoghurt dan kudapan ringan untuk sarapan paginya besok.

Namun saat Mat hendak melangkah ke pintu masuk, matanya bertatapan dengan sepasang mata lain di sisi kasir sebelah pintu masuk.

“Hey”, ujar orang itu.

“Hai,” balas Mat. “Lama banget kita nggak ketemu.”

“Tadi saya latihan juga kok. Tapi kayanya kamu belum selesai.”

“Oh, pantes. Tumben belanja di sini. Bukannya lebih suka belanja di pasar?”

“Sekalian saja sebelum pulang. Cuma roti dan buah buat sarapan besok. Mau belanja juga?”

“Iya. Sama kayaknya belanjaan kita. Duluan ya.”

Dia mengangguk.

Ada alasan lain kenapa Mat buru-buru menghentikan percakapan itu.
Saat mereka berbicara, tanpa sengaja Mat melihat sepatu yang orang itu kenakan. Sebuah sepatu ringan yang pernah Mat berikan kepadanya sebelum libur Natal datang. Sebuah sepatu yang Mat beli dengan keragu-raguan, apakah akan pas ukurannya, atau apakah dia akan suka.

Maklum, waktu itu Mat masih malu-malu untuk bahkan bisa berbicara dengan orang ini. Perlu waktu berbulan-bulan sebelum Mat bisa berkenalan, dan perlu waktu berbulan-bulan sebelum Mat bisa mendapatkan nomer telponnya.

Meskipun tidak pernah ada apa-apa di antara mereka, tapi Mat selalu tersenyum saat mereka berolahraga bersama.

Seperti malam ini. Saat Mat akhirnya melihat dengan mata kepala sendiri, rasa penasaran yang pernah menghinggapi kepala Mat. Bahkan Mat pun lupa sebenarnya, sampai apa yang dilihat tadi membangkitkan kenangan beberapa bulan lalu.

Mat masih tersenyum di perjalanan pulang. Tidak perlu dia kirim pesan, “hey, it was nice to meet you!” kepada orang itu.

Mat cukup senang. Well, Mat sudah sangat senang.

A day that begins with a sigh and ends with a smile? That makes a beautiful day, indeed.

(Courtesy of dnaindia.com)
(Courtesy of dnaindia.com)

Some People

Some people stay longer than expected.
They carve abundant of memories in us.
They hope that each one of them is taken as a token of remembrance.
The choice is for us to keep, or not.

Some people pass by quickly.
They bring out temporary joy without intention to stay.
Often surprisingly, we are left with no choice but to remember their fleeting presence.

Some people make repeated visits.
Obviously each and every single visit vary.
We welcome them at our own conscience.
Sometimes we give them warm embrace, sometimes we brush them off with cold shoulders.

Some people vanish completely from our life.
Yet, how they make us feel will never go away.

Some people are not meant to stay at all.
Yet, their brief time in our memory often goes a long way.

Some people forget us. Do we need to ask?
Some people remember us. Do we deserve it?

Some people do not come back.
Neither do we.
But the feeling stays.

Sometimes, some people come in our life for a very short time to make a memory that lasts a lifetime.

(Courtesy of ankushmodawal.blogspot.com)
(Courtesy of ankushmodawal.blogspot.com)

… Karena Seluruh Dunia Tidak Harus Selalu Tahu

Correct me if I’m wrong, please.
Tapi setahu saya, tanpa googling, belum ada film atau karya populer lain yang bercerita tentang “how to go through a breakup in social media”. Seingat saya, film-film terkait media sosial biasanya berkutat dengan isu-isu serius, seperti The Social Network atau Catfish. Untuk hal-hal ringan penuh romansa, sepertinya kita harus melayangkan ingatan lebih jauh lagi.

Tahun 1998, film You’ve Got Mail membuka mata kita bahwa cinta bisa terjadi lewat kabel modem via telepon rumah dengan bunyi “eeerrnnggg … ngiiikkk … ngoookkk …. rrrnnggg” sebelum akhirnya tersambung ke internet.
Tahun 2009, ada satu bagian di film He’s Just Not that Into You, di mana Drew Barrymore berkeluh kesah tentang susahnya menghubungi gebetan: lewat sms, email, Facebook message, dan lain-lain.
Itu pun hanya sebagian kecil dari film. Kedua film itu juga belum memberikan solusi, atau paling tidak menjadi panduan persoalan di paragraf pertama.

He's Just Not that Into You
He’s Just Not that Into You

Tentu saja yang saya maksud di atas adalah film-film layar lebar, yang sebisa mungkin dibuat oleh major studios supaya bisa ditonton banyak orang.
Mungkin Hollywood sama gagapnya dengan saya atau teman saya, Shasya. Beberapa waktu lalu, kami sempat membahas betapa susahnya melalui masa-masa sesudah putus di era media sosial. Putus saja sudah susah. Apalagi ditambah sekarang harus berhadapan dengan “publik”.

Kata publik harus saya beri tanda kutip, karena kita tidak berhadapan dengan mereka. Tapi kita berinteraksi dengan jempol mereka. Mana yang lebih bahaya, wajah atau jempol? Dua-duanya. Tapi dengan teknologi 2G sekalipun, kecepatan jempol jauh lebih melesat daripada kemampuan menginterpretasikan raut muka.

Tentu saja kemudahan having the world at your fingertips ini sangat menggoda. Apalagi kita tidak pernah bisa lepas dari ponsel. Mau tidur, pegang ponsel. Bangun tidur, ponsel dulu yang dicari.
Di saat-saat rentan setelah putus, di saat kita menangis sendiri dengan membenamkan muka di bantal, tangan kita masih memegang ponsel. Kita tidak pernah bisa sendiri lagi di era media sosial sekarang. Kita punya “teman”.

Again, with the quotation marks.
Are “friends” really your friends? Are “followers” your friends?

Sangat mungkin ada beberapa yang kita kenal dalam kehidupan nyata, tapi jauh lebih banyak yang hanya sebatas dunia maya saja. Baik itu interaksinya, maupun jenis pertemanannya.

Kalau sudah begitu, maka berikut ini ada beberapa tips yang bisa digunakan untuk “how to go through a breakup in social media”:

1. Logout

Anda tidak salah baca. Anda tidak perlu harus menghapus aplikasi media sosial di ponsel. Anda cukup perlu logout. Dan itu berlaku untuk semua jenis media sosial: mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan lain-lain.
Trust me: your updated status can wait. Your sanity cannot.

2. Logout

Saya punya satu kata: Timehop. Aplikasi ini bisa menampilkan apa saja yang pernah kita unggah di media sosial mulai dari setahun yang lalu, sampai beberapa tahun ke belakang. Jadi, kemarahan yang kita pasang di media sosial sekarang, hanya akan membuat kita mengernyit heran di beberapa tahun mendatang sambil bergumam, “What was I thinking? Did the world know how stupid I was?”

3. Logout

Apa yang bisa diharapkan dari stalking akun mantan kita? Berharap dia post foto-foto inspirational quotes, tapi malah menemukan foto dia dengan pacar barunya sedang liburan? Nah, ‘kan.

4. Logout

Oke, kita sudah unshare, unfollow, block pertemanan dengan mantan di semua jaringan media sosial. But what about our friends in common? Apa hak kita untuk memutus pertemanan yang sudah terjalin di antara mereka? Tidak ada. Sama seperti jargon “we can never choose who we fall in love with”, maka berlaku juga istilah sahih “we can never choose who we befriend and get comfortable with”. Ketika kita sudah memutuskan untuk tidak terkoneksi dengan mantan, namun kita masih melihat fotonya hangout bareng dengan teman-teman lain, atau melihat namanya di komen status teman, maka itu saatnya untuk …

5. Logout

Beri waktu buat diri kita sendiri. Berapa lama? Tidak ada yang tahu. Butuh pikiran tenang dan jiwa yang legowo buat bermain di sosial media. Bukan sekedar untuk membaca hujatan, kritikan atau makian politis. Tapi ketika masalah hati ikut dimainkan dan dibicarakan, maka kesabaran diri jadi faktor utama.

You've Got Mail
You’ve Got Mail

Ketika Anda membaca ini, mungkin bisa jadi Anda berpikir bahwa it’s easier said than done. Betul. Saya setuju. Makanya, saya tidak mungkin bisa menuliskan semua hal di atas sebelum saya mengalaminya sendiri. I was there. We’ve all been there.

Because when you’re angry, take a step back.

“I Love You”

Whenever we talk about love, we often talk about it in the context of romantic relationship between two people.

Books are written based on it.
Films rely on it.
Songs are made out of it.
Poems derive from it.
We spend our lifetime crushing, finding, and repairing it.

What is less celebrated or glorified is the other kind of unsung love between people, sans romance.

Love between friends.
Love between children to their parents.
Love between siblings.
Love between rivals.
Love between bosses and their employees, in any possible kind.
Love between artists and their muses.
Love between customers and shopkeepers.

Love that we do not read, see or hear often in words, images and tunes.
Love that we do not often acknowledge.
Love that we do not appreciate its importance, most of the time.

Yet, it is the kind of love that we need to live.

The kind of love that can make us feel alive.
The kind of love that gets us through our lowest moment.
The kind of love that empowers.
The kind of love that turns our day from mundane to glamorous.
The kind of love that feels real.

We may not grow up being used to express our affection to anyone besides our boyfriends, girlfriends, husbands, wives, or life partners.
We may be used to love others in silence.
We may find it hard to change.

Let’s just remember that there is a particular sentence that can change another person’s life for good:

“I Love You”.

Have you said one today?

j0092647

Eternity

When I was a kid, I always thought that I would end up living with the first person I have a crush on forever, until the end of time.

Of course, the concept of “until the end of time” at the time was thought to be that we, the two of us, would leave the world together. It never came across my mind on the possibility that one may die sooner than the other. After all, how do you explain such a system to a dreamy 7 year-old boy who is now writing this piece of words you are reading?

And speaking of dreaming, oh yes, I would take a cue from my surrounding and then would spend time daydreaming, making countless spin-offs out of those cues and clues.
For example, I was once fascinated by this watch worn by characters in Voltus that could function as telephone! Being a fan, I dragged my dad to local markets, even when we went out of town, to get me one. Hey, I had no idea who I should make a call to with the watch!

But my dad obeyed my wish. He asked around, and went to many toy stores with me to check on the availability of the watch. All the storekeepers seemed to shake heads and smile in agreement with my dad, who knew that it was impossible to meet my demand.
Looking back, this event only makes me respect him more as my dad.

My gratitude to him and my mother also sprung from how I look up to them after knowing that my mom was my dad’s first and only serious girlfriend. For mom, at least her children knew she dated a guy who became her close friend to date, but it wasn’t serious. Thus, these two people who made me who I am today were, in fact, married to the first serious date they had.

How noble, how amazing, how inspiring.

At least that’s what I had hoped my life would turn out to be: that I would spend my life together with the one I dated the first time.

I was such a naive little boy. I would have no idea how my life would turn out to be.

If you asked me how my very first dating experience was, I’d say that I do not remember how exactly it went. I vaguely remember who (totally my bad). Yet I do remember the overall time we had, which was nevertheless nice to have.

But when I realized that it would not last long, part of me was devastated, knowing that I would not be able to be walking on the same step like my parents did. I was taken aback for a while, knowing that from that point on, I would not be able to replicate what my mom and dad had.

Luckily, I found that inability liberating.

Time passes by. I continued dating, without a sign of settling down in sight. Not yet. I was lucky enough to still have a chance to meet new people, or new one-s if you say so, those who bring a little change to otherwise mundane routine.

Those who know me will nod in agreement that I’m not a serial dater who can parade a long list of dates. Yet, from the few I have been lucky to be with, I learn a great deal from them. Some mark great changes, some give me many to chuckle about. Some vanish completely, some leave indelible marks. Some go, some stay.

But someone I am yet to meet is you.

But I know we will do.

And by the time comes, here’s what I am going to say to you:

“I don’t know who you are yet, but whoever you are, I just want to state again that you are not my first date. Be it serious, or casual, or anything in between, you’re just not my first on the list.

But what is lacking on the listing, I am trying to make it up by putting you first in any way I can.

As much as desire goes, I want to greet you the first thing in the morning.
As often as we can, I want us to have the first meal of the day together.
As many times as possible, I want us to close our eyes at the end of the day with each being the first and the last on our respective mind.

When we hit off to wrong start, let’s aim for steady move in years to come.
When we feel like yapping and yelling, let’s think that we’ll be exhausted before we find each other again.
When we feel like being alone and apart, let’s believe that it’ll only strengthen us.”

And if I’d have found you then, I’ll say that when I was a kid, I always believed that someday, I’ll end up living with the person I have a crush on forever, until the end of time.

That person is you.

Courtesy of danielpassini.org
Courtesy of danielpassini.org

Just Because …

… because it always feels good to love first, to spare a space in heart and mind solely for one other person, and no one else, just no one else but this special person, he or she who gets us up and about every single day, to think of nothing but giving our utmost thought effortlessly, selflessly, smoothly, and willingly, to initiate help without being asked to, to give without wanting anything in return, to wait in vain without knowing, to anxiously look forward to each and every clue, and also hint that brings joy, all of those without realizing that maybe, subconsciously, we don’t want anything back.

When you have given your love with all your might, perhaps you don’t care about being loved in return.

Love is …

Beeping heart
Beeping heart

Apa?

BARANGKALI, salah satu hal yang paling menyedihkan di muka bumi ini adalah hubungan yang kabur juntrungannya. Ketika tidak jelas apakah seseorang menjalankannya dengan perasaan cinta, atau gara-gara pertimbangan lainnya. Atau malah sebenarnya tidak tahu apa-apa. Pokoknya dijalani. Serba buram, namun terlampau sok percaya diri. Hanya bermodalkan asumsi, mirip bonek, lalu membuatnya bergulir begitu saja, tak tahu bakal mengarah ke mana. Terus seperti itu, sampai akhirnya menggenapi bunyi sumpah janji: “hingga maut memisahkan.” Yang secara tidak langsung menyodorkan makna alternatif: “sudah telanjur.

Jauh lebih menyedihkan ketimbang–yang dikira–cinta tak berbalas, maupun–yang dikira–cinta dipendam sendiri, atau–yang dikira–cinta terhalang latar belakang keluarga dan agama.

Terlebih bila di sisi berseberangan, sang pasangan pun salah kira. Menganggapnya “inilah cinta (?)” Ibarat dua orang buta yang saling tuntun. Sama-sama gulita, sama-sama tidak tahu sedang menghadapi apa, sama-sama mengiyakan, sama-sama menafikan. Kemudian terjadi silang pendapat, untuk yang pertama dan seterusnya. Bisa bikin menangis, bisa bikin tertawa, bisa bikin kelahi, bisa bikin merasa nyaman, bisa bikin tak mau lepas, bisa bikin sayang (lebih tepat diwakili dengan istilah éman dalam bahasa Jawa), bisa bikin sakit hati, bisa bikin mau bunuh diri, bisa bikin pengin cari pelarian, bisa bikin make-up sex, dan bisa bikin macam-macam lainnya. Rona kehidupan yang wajar, kata sebagian orang. Disebut wajar, lantaran terus menerus terjadi selama ini tanpa benar-benar bisa dipahami. Terus menjadi misteri yang kerap terasa absurd. Pengalaman absurd yang kemudian dipukul rata dengan kalimat: “begitulah nikmatnya kehidupan,” dengan arti kata “nikmat” yang ambigu, yang tak bisa dihindari, atau yang tak diketahui cara untuk menghindarinya. Sehingga mau tak mau ya dibiarkan terjadi. “Dinikmati” detik demi detiknya, kemudian menghilang sekejap mata, berganti dengan sensasi pengalaman yang lain lagi.

Atau sebenarnya, perlukah dihindari?

Bila mampu?

Tergantung kesepakatan umum?

Apakah mengantarkan pada kebahagiaan?

Mungkin.

Entahlah.

Ndak tau.

L, is for the way You look at me.

O, is for the only one I see.

V, it’s very extraordinary.

E, is even more than anyone that You adore.

~ NKC

Ah, seandainya cinta bisa sesederhana lirik lagu jadul itu. Kala terjadi, langsung mudah dikenali dengan tepat. Benar-benar sebagai sebuah rasa cinta. Bukan sesuatu yang dikira cinta pada awalnya, namun semakin lama semakin terasa tidak jelas, atau malah terasa layaknya sebuah lara.

Tahu dari mana sih kalau itu adalah cinta? Benar-benar cinta? Banyak yang bilang “I just know it” kala ditanya apakah sedang benar-benar merasakannya. Tidak jelas apa cakupan dari “just know it” tersebut. Banyak yang merasakannya hanya gara-gara pandangan mata, bunyi dan suara, kekaguman dan rasa suka, atau sekadar crush. Naksir seseorang, kemudian setelah beberapa puluh kali kencan, perasaan yang bikin naksir tadi makin kuat, atau malah tercecer entah jatuh di mana.

Oh iya, ini juga. Bila yakin itu cinta, apakah benar-benar mencintai si dia, sang objek perasaan cinta? Atau jangan-jangan, sebenarnya malah lebih mencintai diri sendiri, yang sedang merasakan cinta. Yang sedang gembira-gembiranya, dengan hati berbunga-bunga. “Cinta pada perasaan jatuh cinta itu sendiri,” kata seorang kenalan. Dan mungkin ini musababnya, putus cinta itu terasa menderita. Sengsara.

Tak sedikit pula yang merasakannya seperti ungkapan “witing trisno jalaran soko kulino,” berasa cinta karena telah bersama-sama sekian lama. Padahal ada kosakata lain untuk mewakili perasaan itu: nyaman.

Ehm, apa jangan-jangan cinta itu sederhananya memang perasaan nyaman ketika bersama seseorang? Nyaman yang bikin éman. Lalu, kalau merasa nyaman bersama beberapa orang sekaligus, bisa pula disebut cinta? Sepertinya iya. Tapi, katanya, bukan rasa cinta yang bisa/harus dibawa nikah. Begitu, bukan?

Terlepas dari itu, apabila memang merasakan–yang namanya–cinta, terus harus diapakan? Ada ketentuan harus dikejar? Harus dimenangkan (hatinya)? Harus dimiliki dengan dipacarin, dikawinin? Bagaimana kalau tidak dipacarin atau dikawinin? Bukan benar-benar cinta gitu?

Apakah juga harus bercinta? Nah! Apakah bila cinta harus bercinta? Kalau perasaan cinta harus ditandai dengan bercinta, jadi cinta yang tanpa bercinta tidak bisa disebut cinta? Ga usah bingung. Ini bukan sedang membicarakan cinta ibu pada anak, kakak pada adik, guru pada murid, cinta kepada bangsa, negara, dan agama, atau cinta kepada alam semesta. Tapi ya tetap berbicara soal cinta antara manusia. Ada loh yang saking cintanya sampai-sampai éman dibawa bercinta. Mau disebut apa? Aneh? Ganjil? Gila?

Toh kalaupun sudah berasa cinta, sudah dipacarin, sudah dikawinin, sudah bercinta penuh gelora, ada jaminan tidak bakal berubah? Cinta bisa dikalahkan dengan perubahan? Kebosanan, misalnya? Tetap bisa absurd? Beneran tai kucing terasa cokelat?

Bagaimana nih?

Jadi, sebenarnya, cinta itu sebenarnya apa sih?

[]

Perlu Judul?

Bersikap kaku dan aneh, terlalu formal, ndak fun, cenderung menakutkan, susah didekati karena aura yang intimidatif, selalu bertentangan dengan pendapat orang lain, negatif, irit bicara, tapi kalau sekali bersuara langsung nyelekit cocok buat digampar, seringkali congkak, dan sebagainya, dan sebagainya. Demikianlah kata mereka. Tentang saya. Sejauh ini. Walaupun tidak semuanya. Diam-diam, ada yang mengangguk di kejauhan. Membenarkan.

Mungkin pendapat mereka benar adanya. Mungkin bisa juga seperti adagium “Tak Kenal Maka Tak Sayang, Sekali Sayang Tak Bakal Lekang”. Ndak ada yang tahu pasti. Tapi gara-gara itu semua, rasanya pengin banget jadi orang yang puitis dengan indera lebih sensitif terhadap hidup dan kehidupan di sekeliling. Juga romantis. Sedikit perubahan dari kondisi yang ada saat ini. Menjadi pribadi yang lebih lunak. Lagi-lagi, ada yang mengangguk di kejauhan. Mengiyakan. Meskipun kata Sang Tathagata, semua hanyalah jerat delusi semata.

Mohon maklum, Guru. Saya masih berusaha belajar membuka mata. Masih jauh tahapannya dari menutup mata, untuk mulai melihat dengan hati.


 

Puitis. Batin yang begitu mudah tergugah.

Ketika melihat sehelai daun–apa pun itu–rontok, jatuh perlahan dari tangkainya. Berpisah. Ia sempat berputar-putar indah di udara selama beberapa saat. Indah dalam ketidakberdayaannya. Kemudian mendarat di permukaan tanah dan pergi terseret angin. Dibawa entah ke mana.

Ketika melihat bulir-bulir air yang menempel di kaca jendela saat gerimis menjelang senja. Mati lampu saat itu. Titik demi titik. Beberapa di antaranya bertemu, menyatu, menjadi lebih besar. Cukup berat, hingga meluncur perlahan kemudian. Mengalir, berkumpul dengan sesamanya.

Ketika melihat sang kekasih. Tertidur pulas. Bibirnya terkatup rapat. Hangatnya masih berbekas. Damai, meski hanya berbungkus selimut bergambar beruang cokelat dari perut ke bawah. Lehernya sedikit berkeringat, gerah tampaknya. Akrab dengan aromanya. Dengkurnya halus, tapi terus ada. Seperti energi yang sengaja dipenjara, agar siap menggila saat kembali dilepaskan esok harinya.

Maaf. Picisan. Akan tetapi sekiranya demikian. Membantu memaknai hidup dengan kesan berbeda. Rehat sejenak dari dunia yang tergesa-gesa.


Romantis. Hati yang lebih lembut.

Ketika bisa menjawab semua pertanyaan “buat apa?” dengan kalimat “demi cinta.

Tahi kerbau memang. Tak bisa bikin kenyang memang. Hanya saja, hampir seisi dunia masih terlampau mudah dibuat takluk olehnya, oleh sesuatu yang sampai saat ini belum saya anggap sebagai sebuah keniscayaan. Sesuatu yang berada di luar akal sehat. Sesuatu yang kerap kali mengganggu dan menyusahkan. Membuat kita makin hanyut dalam keadaan. Tapi tetap ada, dan terus kuat mencengkeram.

Kenyataannya, saya bukanlah kekasih. Masih sangat jauh dari kualitas itu. Mbuh, saya sendiri enggan, dilucuti dengan yang namanya cinta. Dibuat telanjang, bergumul, dan menjadi pecinta. Itulah sebabnya, dengan mudahnya saya bisa berbicara: “aku cinta kamu?

Lebih dari sekadar urusan raga. Cinta memang–yang selama ini saya yakini–jauh lebih tinggi. Nisbi dari berahi; menjadi bagian sekaligus terpisah jauh. Bikin mabuk. Saking mabuknya, sampai-sampai banyak yang bingung membedakan keduanya. Kabur. Samar. Harus ditampar. Begitu muntah, isinya mulai dari puja-puji sampai caci maki. Tergantung apa yang masuk sebelumnya.

Ndaktaulah bagaimana. Jangan tanya soal cinta sama saya.

 


Dari ihwal puitis sensitif dan romantis di atas, intinya cuma satu: saya pengin berubah. Angka tahun yang bikinan manusia aja berubah, masa’ saya yang manusianya ndak ikut berubah? Cita-citanya sih mulia, berubah menjadi persona yang lebih baik, akal budi, simpati dan perasaannya. Minimal berubah jadi baik bagi diri sendiri, syukur-syukur juga bisa dirasakan orang lain. Tapi lagi-lagi, ndaktahulah nanti bakal seperti apa. Biarlah saya berusaha semaksimal mungkin, sendiri. Kalau nanti perlu bantuan, paling juga nyari sendiri. Ya kan?

Juga ndak paham, mengapa mendadak bicara soal ini sekarang? Padahal ujung akhir tahun tepat jatuh di piket pekan depan. Tadinya malah pengin bicara soal film Bollywood teranyar yang masuk Indonesia: “PK”. Film yang ternyata jauh lebih transendental ketimbang ceramah-ceramah agama beberapa abad belakangan, dan/atau Mbak Fahira Idris, dan/atau FPI, dan/atau para pendeta yang berhasil mendirikan denominasi sendiri saking hebatnya berkhotbah, dan/atau para penyelenggara upacara pembakaran kertas nama demi “kavelingan” di surga dengan ajimat suku kata-suku kata tertentu, maupun kelompok-kelompok sayap kanan lain dari agama apa pun. Biar. Nanti saja dibahasnya. “Esok kan… masih ada…,” begitu katanya mendiang Utha Likumahuwa, kepada seorang nona manis. Lagipula toh di Linimasa sudah ada Mas Nauval, jawaranya urusan film.

Kembali soal harapan untuk berubah tadi. 2014 bakal berakhir sebentar lagi. Beberapa perubahan–atau upaya menujunya tengah saya usahakan. Orang-orang idealis lebih suka menyebutnya sebagai resolusi. Barangkali Anda juga punya resolusi masing-masing. Baik yang moril maupun materiil. Asal jangan ill-will. Soal kesan dan kenangan, mungkin bakal saya tulis pekan depan. Yang pasti, saya ingin membuka tirai beledu baru panggung 2015 dengan sejumlah kebaikan. Meninggalkan keburukan-keburukan yang merugikan orang lain. Mudah-mudahan bisa jadi kenyataan. Toh kebaikan itu universal. Baik ya baik, apapun perbedaannya. Buruk ya buruk, apapun alasannya.

Selamat Natal. Selamat berlibur. Tuhan, memberkati kita.

[]

Ibu

Mother, how are you today?

Pertanyaan di atas merupakan penggalan lirik lagu yang pernah populer di era 1980-an. Aslinya, lagu ini dinyanyikan grup dari Belanda bernama Maywood. Namun lagu ini ngetop lagi di Indonesia saat didendangkan ulang oleh Nani Sugianto di drama seri “Pondokan” di TVRI.
Drama seri ini sempat menjadi acara tontonan wajib kami di rumah. Seminggu sekali, kami semua berkumpul di depan televisi cembung 21 inch merk Grundig. Serial yang berkutat seputar kehidupan anak-anak perantaun di indekos dimainkan oleh Nani, Yayuk Suseno, Tetty Liz Indriati, Alan Nuari dan masih banyak lagi. Yang tidak berubah adalah ibu kost, yang dimainkan oleh Nani Wijaya.

Kebetulan juga, suasana rumah kami saat itu sama seperti yang kami tonton di layar kaca.
Ibu saya menjadi ibu semang bagi sejumlah anak kost perempuan yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Rumah kami dekat dengan dua kampus besar. Sesekali ada juga karyawati yang ngekos, karena dekat kampus, ada dua kantor besar milik negara. Yang jelas, sehari-hari rumah tidak pernah sepi, kecuali saat liburan kampus. Sampai sekarang pun, rumah utama kami masih menerima kost.

Berbagai karakter manusia sudah ditemui ibu selama lebih dari 33 tahun menjadi ibu kos.

Telat bayar, sudah biasa. Pulang malam tidak bawa kunci, wajar saja. Ada yang memalsukan surat nikah, pernah juga. Bakar surat cinta dan barang-barang mantan pacar sampai asapnya masuk ke dalam rumah, pernah kejadian.

Ibu selalu santai saja menanggapi semua itu.

Keras dan tegas, iya. Mengusir, tidak pernah. Biarkan mereka sendiri yang menyelesaikan masalah. Toh sudah bukan perempuan usia 16 tahun lagi.
Dan yang paling penting, mereka ini bukan saya beserta kakak dan adik saya yang jadi anak kandungnya.

Beberapa saat setelah saya menulis tentang Ayah, ada teman bertanya, “Kapan menulis tentang sosok ibu?”
Saya sempat terdiam. Jawaban saya waktu itu, “TIdak tahu.”

Sampai sekarang saya tidak tahu harus menulis apa tentang sosok ibu.
Sempat bertanya-tanya dalam hati, apa karena saya laki-laki, sehingga saya tidak akan pernah bisa mengerti apa rasanya menjadi seorang ibu? Kalau ayah, mungkin bisa memproyeksikan bagaimana nanti. Kalau ibu? ‘Kan saya tidak akan pernah bisa melahirkan anak?

Lain waktu sempat terlintas di pikiran juga, apa karena sosok ibu sudah kita sakralkan sedemikian rupa?
Mau tidak mau, jargon-jargon seperti “surga di bawah telapak kaki ibu” atau “kasih ibu tak terhingga sepanjang masa” membuat kita semakin melihat sosok ibu dari level sudut pandang katak: semakin ke atas, meninggi dan menjauh. Sosok ibu menjadi sosok suci yang rasanya tak akan pernah terjangkau.

Atau bisa juga karena saya mengikuti film-film Disney dan Pixar dari awal, makanya kaget ketika sadar bahwa tidak ada satu pun karakter utama seorang ibu di film-film mereka, sampai adanya Helen di film The Incredibles.

Bertahun-tahun sudah saya tidak tinggal bersama ibu lagi saat pertama kali menonton The Incredibles 10 tahun yang lalu. Namun melihat sosok Helen bergulat dengan waktu setiap hari menyiapkan sarapan dan makan siang suami dan anak-anak, membesarkan anak nyaris seorang sendiri karena suami pergi, seperti melihat sosok ibu yang, tanpa kekuatan fisik apapun, sudah menjadi seorang superhero.

Helen, from The Incredibles. (Courtesy of pixar.wikia.com)
Helen, from The Incredibles. (Courtesy of pixar.wikia.com)

Saat saya masih bisa pulang sekolah jam 11 siang setiap hari, ibu sudah menyiapkan makan. Bisa bubur kacang ijo, atau kue kacang sambil menunggu makan siang. Sambil disantap, saya menonton rekaman kaset video tayangan “Charlie’s Angels” atau lawakan Jayakarta Grup di acara “Kamera Ria” dari semalam sebelumnya. Maklum, saat “Dunia dalam Berita” ditayangkan, kami harus tidur.
Ibu juga yang mengenalkan saya ke film-film Indonesia tahun 1970-an. Saat akhir pekan, biasanya kami berkunjung ke video rental terdekat. Ibu pun memilih film-film karya Wim Umboh, Syuman Djaya, sehingga di usia dini, saya sudah tahu siapa Paula Rumokoy, Ruth Pelupessy,atau Aedy Moward, serta tentu saja favorit beliau adalah Tanti Josepha, Widyawati dan Sophan Sophiaan.
Inilah waktu senggang ibu, her me-time, yang lebih dia pilih untuk membagi ke anak-anaknya apa yang menjadi kesenangannya waktu dia berusia muda dahulu. Di sela-sela mengurus rumah, kost-kostan, dan kulakan batik serta merawat almarhumah nenek, ibu tidak punya banyak waktu luang. Waktunya terus terbagi. Ketika yang balita beranjak remaja, ibu pun tidak pernah berhenti.

Ibu tidak pernah berpikir. Ibu terus melakukan. She just keeps on doing.
Waktu ayah jatuh sakit, ibu tidak pernah menangis. Dia tahu bahwa malam itu dia harus membagi tugas ke kami mencarikan rumah sakit, mengurus administrasi, sambil harus mengantar adik kerja esok paginya, karena dia sedang hamil besar dan tidak bisa membawa kendaraan sendiri.

For mothers, being strong is not an option. It’s a necessity.

Mungkin, karena terlalu sibuk berlindung, saya belum bisa menggambarkan dengan baik seorang sosok ibu.

Saya hanya bisa mencintainya, selamanya.