Jaringan Kecil Saat Ngeblog

Pendiri wordpress, Matt Wullenweg, menautkan tulisan Tom Critchlow yang berjudul “small b blogging” pada awal bulan ini.  Apa yang menarik dari tulisan ringan Tom, seorang konsultan pemasaran digital dalam blognya tersebut, sehingga seorang pendiri aplikasi blogging yang menjelma platform yang mendominasi media digital dunia ini menyadur secara khusus tulisan Tom?

Tom menawarkan gagasan baru. Alih-alih ngeblog untuk mendapat pembaca yang banyak dan tersebar, Ia menawarkan ide dan telah dibuktikan sendiri bahwa ngeblog saat ini diawali dengan niat dibaca oleh audiens kecil dan fokus kepada memperkuat ide untuk dapat didiskusikan lebih dalam.

Blog sebaiknya dikembalikan menjadi sebuah percikan atau pancingan bagi sekelompok peminat untuk kemudian berlanjut menjadi pertemuan kecil sembari ngopi. Atau berbalas email untuk ditindaklanjuti dalam media lain misalnya menjadi podcast atau vlog.

Blog  menjadi lebih personal, atau setidaknya menjadi sebuah gagasan sebuah lingkaran pertemanan. Bisa jadi dari lingkaran diskusi tersebut menjelma ulasan mendalam dan dimuat di media masa yang lebih utama oleh salah satu pembaca.

Blog adalah think tank. Blog menjadi inti sebuah pergumulan ide dan gagasan yang membawa daya tarik untuk selanjutnya menjelma apa saja.

Tawaran blogging dengan b kecil dan  bukan Blogging dengan B besar.  Blog tidak harus ditujukan sebagai media massa atau sebagai alternatifnya. Gagasan menulis blog tidak ditujukan lagi untuk mencapai pageview yang berlimpah ruah. Atau menjalar ke semua kalangan. Blogger lama menyebutnya begitu niche.

Tom mencontohkan bahwa tulisannya dalam sebuah artikel yang ditulisnya “hanya” dibaca oleh 2000 orang. Tidak banyak bagi sebuah blog. Namun, efek dari tulisannya berlanjut menjadi sebuah diskusi hangat, dikupas dalam siaran tertentu dan menjadi sumber inspirasi dalam beberapa kesempatan acara bisnis. Dampaknya lebih kelihatan dan material.

Blog icons design

Secara pribadi, saya pun begitu tertarik dengan ide ini. Ide blog dengan b kecil. Ngeblog yang tidak tancap gas agar menjadi trending topic hari itu. Namun menarik minat dan bahkan mengikat komunitas tertentu untuk mengajak diskusi lebih lanjut.

Misalnya ketika Gandrasta menulis tentang My Family Tree yang kemudian entah bagaimana kisahnya dirinya diundang oleh sebuah salah satu sekolah untuk menyampaikan pengalamannya parenting. Atau ketika Glenn Marsalim menulis soal Sok Tau, sebuah tulisan berseri yang membahas analisis Glenn menerka tren yang akan hadir di tahun depan. Semacam prakiraan. Ndak tanggung-tanggung, yang mengundang adalah himpunan mahasiswa ITB entah dari fakultas apa yang mengajaknya memberikan kuliah umum dan diskusi dengan pendekatan yang sungguh akademik dan filosofis.

Kira-kira semacam itulah. Blog menjadi embrio dari banyak kesempatan bentuk lanjutan. Bisa diskusi kecil. Bisa menginspirasi sebuah filem pendek. Atau sebuah lagu. Blog tidak berakhir menjadi sebuah tulisan magna-opus yang dibaca jutaan kali dan menyebar diberbagai medsos, namun seminggu kemudian terhapus dalam memori warganet, ditimpa oleh tulisan lainnya yang lebih kekinian.

Blog lebih baik menjadi pijakan kecil atau pondasi yang tak kasat mata, namun nantinya menjadi sebuah bangunan utuh yang kaya akan pendapat dan merangsang bangunan tersebut untuk terus tumbuh dan berfungsi secara nyata.

Era tulisan dalam satu artikel menjadi bombastis, dibaca banyak orang, bersinar dan selesai adalah era yang akan mudah lapuk. Blog atau tulisan dalam media alternatif tidak perlu terus menerus bicara skala. Judul tulisan yang merangsang orang untuk mengklik memang menggiurkan dan menghasilkan optimalisasi tayangan iklan sebagai salah satu sumber penghasilan media digital. Mungkin ini masih berlaku bagi media yang memang ditujukan bukan menjadi apa-apa kecuali menghasilkan pemasukan uang dari iklan.

Namun, jika ingin lebih langgeng dan memberikan nilai tambah bukan saja pada citra blog, juga menjadikan penulis blog semakin mumpuni pada bidang tertentu dan gilirannya akan berimbas pada banyak hal yang tak berbatas. Diskusi yang membentuk jaringan pertemanan (dan atau bisnis). Lalu dibentuk pondasi perkumpulan. Atau ajakan diskusi. Atau menjadi sekumpulan buku yang inspiratif.

Tulisan yang lebih substansial dan relevan, akan menarik minat pembaca yang berkualitas. Akan tiba gilirannya tulisan tersebut dibahas oleh orang-orang ternama atau yang kita sendiri kagumi. Blog kita menjadi blog yang secukupnya.

Blog yang saat merangkai kata pertama sudah terbayang siapa audiensnya. Bagaimana kira-kira wajah pembacanya. Apa yang akan dilakukan pembaca setelah membaca blognya. Atau apa yang akan dibelanjakan setelah ulasannya tentang produk tertentu begitu dalam dan sampai kepada intinya.

Tentu saja ini tidak berlaku hanya untuk sebuah blog. Strategi untuk memperkuat niat bahwa karya yang dihasilkan memang bukan untuk semua orang. Proyek bikin vlog, atau proyek mading sekolah, atau proyek mural, akan lebih tepat sasaran jika diawali dengan kesadaran ini. Bukan mengutamakan membludaknya kuantitas ukuran pembaca atau berbagi. Melainkan memperkuat kualitas topik dan ide yang ditawarkan untuk sekelompok peminat. Dihangatkan dengan diskusi. Dan akan bergema sendiri jika memang hal itu menarik perhatian publik dengan skala yang lebih besar. Bedanya, kali ini besar dengan dasar gagasan yang telah dipahami secara mendalam namun tetap terasa personal.

Dari gagasan ini, saya mengucap syukur. Linimasa masih berada dalam lintasan yang benar. Dia tidak tergesa-gesa untuk menjadi tenar.  Lebih baik untuk terus hadir dengan porsi yang wajar. Dan dapat terus memantik hasrat masing-masing pembaca untuk berbuat hal lain usai menuntaskan membaca satu postingan.

Jaringan kecil. Audiens terbatas. Gagasan sederhana. Namun hidup.

Selamat merayakan.

 

salam anget,

Roy Sayur.

 

Advertisements

ONANI MORAL- DIGITAL – SPIRITUAL – BANAL

Ada perasaan bangga. Terhenyak. Juga syukur. Bahwa apa yang kita lakukan menjadi sesuatu yang berarti. Ada “makna” yang bernilai. Ada energi yang tersalurkan. Ada sesuatu yang menjadikannya dekat. Sama seperti kita. Sama seperti saya. Linimasa juga sama seperti kamu.

Kita semakin sulit untuk menjadi tentram hati manakala “banyak hal lain” yang dipaksanakan atau terpaksa kita kunyah dan konsumsi, terutama informasi dan opini. Semuanya sibuk ber-onani-secara digital. Juga spiritual. Juga soal moral. Semua seketika menjadi banal.

Memiliki sahabat dekat itu sulit. Lebih mudah mencari musuh. Sama halnya dengan berita negatif atau opini yang menjatuhkan. Lebih mudah ditemui. Toxic culture di kantor mudah disebar dibandingkan budaya kerja dengan etos yang patut diteladani.

Saya awalnya mengira bahwa menyebarkan benih “membangun jembatan lebih baik dari pada menciptakan tembok pemisah” adalah mudah. Karena suatu ide yang baik mudah dirayakan. Ternyata itu salah. Pendapat yang terlalu prematur. Menebarkan permusuhan itu mudah. Memotong dahan pohon itu jauh lebih ringkas dan lekas daripada menunggu daun muda dan bunga bermekaran.

Atau ini.

Saya yakin semua ingin sesuatu yang mulia. Hangat. Intim. Adem. WA grup yang isinya ndak saling ngotot. Mendalilkan kebenaran masing-masing. Adakah dan masih perlukah adanya tegur sapa, gosip ringan, yang sewajarnya.

Hidup tanpa ngomongin orang itu gak cihuy. Sepakat. Oleh karenanya, Linimasa mengejar dan membuat mekar hati manusia. Bukan untuk menjadi hati malaikat.

Saya yakin menjadi manusia utuh itu bukan tanpa cela. Setiap orang berhak dan punya porsinya masing-masing untuk menggapai dan memaknai bahagianya. Menjadi manusia yang tanpa noktah adalah utopia. Menjadi manusia itu adalah sewajarnya menjalani hidup dengan merespon segala sesuatu dengan tenang. Menyikapi “segala” dengan mengendapkannya dan membiarkannya sejenak untuk dieram oleh waktu. Telur masalah terkadang menetas dengan sendirinya. Respon terbaik atas bunyi SMS, Tweet, dan pesan dalam WhatsApp adalah membiarkannya mengembara di layar tanpa perlu kita gatal meresponnya secara cepat. Tidak merespon terkadang adalah pilihan terbaik untuk bersikap. “Read doang”, adalah sebuah respon. Tidak semua yang berbeda dengan kita perlu dijadikan bahan jihad. Perjuangan perang komentar sudah terlalu banyak dilakukan orang-orang. Tugas kita hanyalah membiarkannya ditumbuhi jamur. Syukur-syukur lapuk sendiri.

Jika ndak salah Coelho pernah bilang bahwa:

Kapak selalu lupa. Pohon tak pernah lupa.

Wajar sekali jika menyakiti hati suatu ketika, akan dilupakan di hari berikutnya. Namun bagi yang tersakiti, akan dibawa terus bahkan hingga dalam mimpi. Goresan hati jika dimanjakan akan membusuk dan menjadi penyakit. Melupakan, walau dengan agak-sedikit-terpaksa, adalah jalan paling aman dan nyaman.

Kita terlalu sering membawa beban terlalu besar. Punggung kita sibuk menggendong “hutang emosi”. Semacam beban yang terus menggelayuti. Wujudnya bisa kenangan buruk, dendam pribadi, juga berita sedih. Padahal masa depan tak butuh tas emosi itu. Jalanan terjal masa depan hanya bisa dilalui dengan dorongan energi positif yang meliputi tubuh. Anehnya agar terus menjadi positif terkadang kita perlu membiarkan kita melakukan hal negatif seperlunya.

Memanjakan diri dengan menunda-nunda pekerjaan. Menghabiskan pulsa untuk mengobrol dengan sahabat. Melebihi batasan jam istirahat siang demi makan bersama rekan. Atau membicarakan “musuh bersama”. Apakah itu wajar? Mengapa tidak. Selama kita tahu batasan, dan kita tahu dan disiplin atas pengendalian diri, maka hal-hal “buruk” itu sah saja dilakukan.

Sekali lagi, karena kita manusia dan bahkan malaikat pun pernah muda. 🙂

 

 

Salam anget,

Roy

Ibrahim: Keimanan Vs Usaha Bertahun-tahun

Jika seorang anak ditinggal orang tuanya, dunia mengenal istilah “yatim” atau “piatu”. Jika seorang istri ditinggal suaminya maka dunia mengenalnya dengan “janda”. Lantas apa yang dunia kenal dengan orang tua yang ditinggal anaknya?

Dunia tak sanggup untuk menyempatkan diri termenung dan bersepakat atas situasi ini.

Karena kesedihan yang ada dan muncul adalah kesedihan yang tak terbayangkan dan tak mau dibayangkan. Dunia hanya sepakat untuk tak menyentuh wilayah kesedihan ini.

Kesedihan yang lebih hakikat dari sekadar kesakitan. Perih yang ditimbulkan lebih “ngenes”.

Maka itulah yang sepatutnya kita rasakan manakala Ibrahim diminta untuk menyembelih anak kandungnya sendiri. Kematian yang dilakukan oleh kedua tangannya sendiri.

Kesedihan dan kesakitan yang kalah oleh bisikan iman. Ibrahim yang bertahun-tahun kesepian tak memiliki putra harus rela membunuh anaknya sendiri atas bisikan ilahiyah.

Gila! Jika itu terjadi saat ini, Ibrahim orang gila. Ibrahim Gila. Ibrahim orang gila.

Namun tidak demikian adanya. Iman kita saat ini membenarkan tindakannya. Hikayat berkata lain. Tuhan hanya menguji seberapa cinta Ibrahim padanya. Apakah penantian bapak berpuluh-puluh tahun dan lahirnya seorang anak bernama Ismail lebih bernilai dari cintanya pada sang pencipta. Ismail tergantikan dengan hewan ternak.

Tuhan memberikan pengganti atas pengorbanannya itu. Ismail terus hidup. Iman Ibrahim makin hidup, dan lahirlah rituan berkurban dengan hewan ternak terbaik.

Ego seorang bapak saat itu telah mati. Perih dan sedih yang sirna oleh betapa cintanya pada sebuah keyakinan.

Landasan sejarah ini hilang perlahan dan digantikan dengan anjuran berqurban karena hewan tersebut yang akan menolong kita di titian jembatan menuju jannah. Motif cari selamat dengan berkorban sesaat di dunia demi akhirat. Semakin mahal nilai kurban, maka semakin moncer kendaraan menuju surga. Kambing itu avanza. Berkurban sapi seperti naik alphard. Begitu kira-kira. menuju surga dengan sopir dan penyejuk udara.

Adalah hal yang begitu istimewa jika kemuliaan untuk mempertahankan keyakinan harus dihadapkan dengan usaha kita selama ini yang harus hilang sekejap mata. Berdoa dan berusaha mendapatkan putra bertahun-tahun harus dilawan dengan keyakinan sebagai makhluk. “Korbankan Ismail adalah tanda engkau lebih mencintaiku.”

Ibrahim bukan saja mencintaiNya. Ia telah membuktikan cintanya itu. Sama sekali tak peduli akan akal sehatnya. Bukan saja ego. Ia tak perlu kewarasan dalam berpikir untuk berkorban. Jika ia gunakan akal sehat, maka bisikan menyembelih anak adalah sebuah tindakan yang begitu bodoh sekaligus kejam.

Kita tak dapat membayangkan apa yang ada dalam benaknya ketika pisau telah terhunus. Kita tak dapat membayangkan apa yang dia rasakan ketika Ismail telah merebah di atas batu dengan leher yang siap sedia. Kita tak akan pernah sanggup membayangkan di level mana keimanan Ibrahim ketika tangannya siap mengiris leher Ismail sembari menatap kedua mata Ismail.

Dan kelegaan macam apa yang didapati oleh dirinya ketika suara itu berkata lain:

“Sesembahanmu telah KuTerima dan kugantikan dengan hewan ternak. Sembelihlah itu..”

farafra5

Hebatnya, proses ini bukan dengan gerakan ringkas, lekas dan membabi buta demi sebuah keimanan. Ibrahim dikisahkan begitu linglung. Ia tetap ragu. Apakah benar apa yang disuarakan kepadanya? Apakah ini jalan seorang pencinta tuhan?

Maka jika usai sholat id besok panitia korban dengan bangga membaca jumlah sapi dan kambing yang berhasil terkumpul dari warga, jangan bayangkan itu adalah sederetan avanza dan alphard menuju surga. Anggaplah itu, kita manusia biasa yang bercita-cita memiliki iman dan rasa cinta sebesar Ibrahim kepada tuhannya.

salam anget,

roy

 

 

 

Selamat Ulang Tahun, Linimasa!

 

ANDAI bisa masak, saya mungkin akan bela-belain bangun subuh hari ini untuk bikin sepanci misoa ayam (meskipun lebih enak kalau pakai babi) dengan kuah bawang putih dan jahe. Disajikan bareng “Naga Merah” atau telur rebus dikesumba, dan rawit kecap asin. Minumnya teh hangat tidak terlalu manis, disantap pagi-pagi sekali.

Photo: Van Robin in Flickr

Kenapa? Karena hari ini ulang tahunnya Linimasa!

Menu sederhana yang saya enggak tahu nama resminya sampai sekarang itu, memang jadi hidangan khas setiap kali terjadi kelahiran, peringatan hari lahir, maupun momen-momen membahagiakan lainnya. Tidak cuma mengenyangkan, hangat, lezat dan gurih, serta cocok dihadirkan di setiap perayaan, ada doa dan harapan khusus dalam semangkuk misoa rebus tersebut.

Misoa yang bukan mi biasa, menjadi perlambang panjangnya usia. Setiap helainya utuh tanpa terputus, bertekstur lebih halus ketimbang bihun maupun sohun, cukup fragile dalam kondisi kering, dan sangat lembut ketika sudah dilunakkan. Dengan begitu, setiap seruputan misoa bisa langsung dilahap tanpa perlu menggigit dan memotong, juga tanpa kesulitan mengunyah atau bikin tersedak.

“Naga Merah” atau telur rebus yang cangkang luarnya telah diberi kesumba. Lantaran kata telur memiliki pelafalan yang sama dengan naga dalam dialek Hokcia. Memakan naga, berarti memakan keberuntungan. Paling tidak, beruntung bisa makan yang enak dan bergizi sekali lagi. Di restoran-restoran Chinese Food seantero Indonesia, telur merah ini digantikan dengan lima atau enam butir telur puyuh rebus pada seporsi Mi Ulang Tahun. Bentuknya lebih kecil. Pernah lihat, kan?

Kebetulan banget piket hari ini bertepatan dengan genap 2 tahun usia Linimasa. Blog guyub rukun yang mulai ditangani dengan asas keroyokan nan tertib sejak 24 Agustus 2014, diawali tulisan Ko Glenn soal pengalamannya sebagai seorang pelari, eh, penari.

Setiap hari. Tanpa jeda.

Ehm, kadang sih.

Kecuali kalau ada force majeur se-majeur-majeur-nya.

Kalau diibaratkan gaya pacaran remaja zaman sekarang, dua tahun itu sudah ngapain aja coba? Pasti banyak banget, termasuk soal kepastian untuk berlanjut ke jenjang berikutnya atau tidak. Pastinya, selalu ada yang berubah.

Begitu pula yang terjadi dalam Linimasa. Sedikit banyaknya, selalu ada yang berubah. Apalagi semuanya mengalir begitu saja.

Lucu juga sih kalau dipikir-pikir. Kami berdelapan ternyata bisa betah dan hampir mampu bertahan dengan komitmen dalam waktu yang cukup panjang. Komitmen untuk terus menulis, menyaru kolumnis sambil senyum manis. Ditotal-total, sudah ada 726 published posts. Hampir seribu tulisan, seribu buah pemikiran. Entah mana di antaranya yang serius dan patut dipikirkan lebih lanjut, dan mana yang sekadar bahan lamunan. Urusan data dan perihal analitis, Mas Roy yang lebih paham. Bisa tanya langsung sama ybs yth.

Lucu juga sih kalau dipikir-pikir. Di jagat maya yang mahaluas ini ternyata ada juga yang betah baca Linimasa, yang hanya menghadirkan satu tulisan baru setiap hari. Tapi kondisi ini tentu saja tak bisa dilepaskan dari profil para penulisnya. I mean, saya sendiri amat bersyukur bisa berkolaborasi dengan orang-orang hebat di balik Linimasa.

Lebih dari separuhnya merupakan orang Twitter lama; orang-orang yang bikin merasa bahwa bermedia sosial itu menyenangkan, membuka pandangan, dan aman. Ya! Aman, lewat pengalaman benaran saat tweetups alias kopdar.

Selain Ko Glenn dan Mas Roy yang begitu itu, ada Gandrasta, Mas Nopal, Kang Agun, Mbak Leila, dan Farah yang ngajakin ikut nulis. Kalau saja enggak diajakin Farah dua tahun lalu, bisa jadi hari ini cuma jadi pembaca harian saja. Menanti sambil membatin: “ada tulisan soal apa lagi ya hari ini?

Capture

Tuh, katanya Mas Roy Sayur di Medium-nya. Hahaha!

Terus, lucu juga sih kalau dipikir-pikir. Walaupun sudah hampir dua tahun saling kolaborasi dan komunikasi (lewat grup wasap), semua penulis Linimasa baru benar-benar kumpul bareng di pertengahan tahun ini. Setelah sekian lama. Dari yang benar-benar asing dan “siapa sih?”, sampai akhirnya bisa benar-benar nongkrong ngebir bareng, nonton beskop, dan lainnya.

Bahagia? Tentu saja. Namanya juga pengalaman personal.

Moga-moga Anda semua juga turut merasa bahagia.

Jadi, dengan semangkuk misoa virtual ini, semoga Linimasa dan semua yang terlibat di dalamnya: para penulis dan pembaca, selalu beruntung dan bahagia, panjang usia, serta sehat lahir maupun batinnya.

[]

Yang Polos Belum Tentu Mudah

oleh: Suprihatin

Kitab Suci Kesatria Cahaya yang digurat Paulo Coelho menuliskan sebuah mantra: “Solve et coagule”. “Larutkan dan kentalkan, pusatkan dan pancarkan kekuatanmu sesuai dengan situasi”. Begitulah, bahwa ada kalanya kita masuk dalam sebuah kondisi di mana kita perlu bertindak. Namun ada kalanya pula saat-saat di mana kita hanya perlu menerima…

 

march-dash-easy-ways-corn-omelet-ftr

Yang Polos Belum Tentu Mudah

“Mas, kalau pesan yang polos bisa?”

“Ya bisa bu, tapi lama…”

Potongan dialog itu terjadi tepat di sampingku saat mengantre pesanan omelet untuk teman sarapan di hotel. Seorang perempuan berbusana anggun bertanya dengan berhati-hati kepada koki hotel yang sedang mengaduk omelet dan kemudian menjawab dengan alis yang berkerut. Dari nada suaranya yang sangat berhati-hati aku merasakan keengganan dalam pertanyaannya. Sepertinya ia sudah tahu jawaban dari pertanyaannya itu. Selain itu pesanan itu bukan untuknya. Itu pesanan kawannya yang enggan ikut mengantre.

Alhasil, benarlah apa yang diramalkan tuan pikiran. Jawaban sang koki seperti yang ia duga. “Bisa, tapi lama…”. Ini semacam jawaban yang mengambang: antara ya dan tidak. Tidak menolak, tapi juga tidak menerima.

Mengapa yang polos menjadi tidak mudah?

Begini,

Pagi itu tamu hotel yang menggunakan jatah sarapannya cukup banyak. Atau malah terlalu banyak. Bahkan beberapa kawan lain yang mengikuti konferensi terpaksa dialihkan ke hotel lain karena tidak tertampung. Di antara para tamu, cukup banyak yang ingin menjajal omelet. Entah itu karena cara memasaknya yang khas, atau karena aromanya yang menggoda selera. Pagi itu koki menggoreng omeletnya dengan menggunakan dua wajan kecil. Satu ia gunakan untuk menggoreng isian, satu lagi ia gunakan untuk menggoreng omeletnya. Setelah tumisan isian siap, ia akan memindahkannya ke wajan lain lalu menciduk telor dan mengaduk-aduknya beberapa kali. Setelah itu ia kembali mengisi wajan yang tadi ia gunakan, untuk menumis isian yang baru. Pada wajan yang sudah berisi telur, koki membagi adonan telurnya menjadi empat: satu ke depan, satu ke belakang, satu ke samping kiri, dan satu lagi ke samping kanan. Adonan itu lalu digulung dan dipindahkan ke piring-piring yang disodorkan para tamu –termasuk saya– yang sudah mengantre lebih dari 10 menit.

Saya mengamati koki bekerja dengan runtut, sistematis, seolah-olah pekerjaan itu merupakan sebuah tatanan yang memang seharusnya demikian. Tatanan –yang terdiri dari menggoreng isian, memasukkannya dalam wajan, menambahkan telur, dan menggoreng isian yang baru, lalu memasukkannya dalam wajan, menambahkan telur, dan menggoreng isian yang baru– ini buyar ketika kemudian ia harus melayani permintaan satu omelet polos.

Sambil berlalu menerima omelet 10 menit jatah saya, terdengar suara seorang ibu bertanya atau lebih tepatnya mengomel:

“Pesanan saya mana Mas? Kok lama banget?”

Sebuah pertanyaan yang kosong-hampa-pecah, di antara deretan pengantre yang saling pandang dan bergumam: “Yo antre”.

[]

*) Suprihatin, Pengajar, Penulis, dan Penyunting Lepas.

Menurutnya:

Sebagai penulis dan penyunting lepas, saya antusias terhadap berbagai jenis tulisan. Terbiasa bekerja teratur, sistematis, namun terbuka terhadap perubahan, ide dan konsep baru. Cukup inovatif dan berfokus terhadap solusi. Mampu bekerja sama dalam tim maupun individual.

Sebagai pengajar saya adalah sekaligus pembelajar. Sekadar ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Ybs dapat dihubungi melalui meetitien@gmail.com

 

Dalam Jeda

KITA butuh jeda. Interval antara setelah mendapatkan/merasakan sesuatu, hingga akhirnya mantap memutuskan ingin menanggapinya dengan tindakan seperti apa. Durasi masa yang cukup; cukup singkat agar kita tidak terkesan apatis dan dianggap suka mengulur waktu untuk menguapkan isu, tapi juga cukup memadai agar kita tidak menjadi seseorang yang reaksioner dan meledak-ledak tanpa kejelasan.

Selama masa jeda berlangsung, setiap orang memiliki cara menjalaninya masing-masing. Ada yang ingar bingar, namun ada yang sunyi. Pikiran mereka berusaha mengendap dalam hening, dengan beraneka pengondisian. Ada yang bertafakur secara harfiah, berdiam diri dalam kesunyian. Akan tetapi tak sedikit yang memerlukan stimulus berupa dentuman, entakan, dan gerakan besar untuk mencapainya. Selebihnya, silakan dinikmati proses maupun hasilnya.

Barangkali jeda itu juga yang dibutuhkan, dan selalu dilewati kaum pekerja muda saat ini dalam menghadapi dinamika karier. Entah mereka masih merupakan mahasiswa tingkat akhir yang sudah bisa leluasa berpindah dari satu internship ke internship lain, pekerja korporasi dengan masa kerja lebih dari satu tahun yang masih mencoba menjajaki kenyamanan diri atau mengaku masih haus ilmu baru, pekerja tetap di lini middle management dan top management yang masih berpotensi berpindah atau dibajak, maupun para pekerja lepas alias freelancer yang punya keahlian tinggi namun tidak berminat terikat. Sebab saat ini, akan sangat mudah menemui kenalan kita yang cepat banget berganti pekerjaan, dan perusahaan. Saking cepatnya sampai-sampai seakan tidak memerlukan jeda, keputusan kilat yang bisa diambil dengan alasan “mumpung masih muda.”

Saya masih ingat selama masa sekolah menengah beberapa tahun lalu, para guru, orang tua, dan siapa saja selalu memberikan pesan yang sama soal dunia kerja: “Setelah lulus, cari kerja yang bagus, yang mapan. Awet-awet di sana, jangan suka pindah-pindah. Biar bisa naik jabatan, naik gaji. Cari jenjang karier.” Sehingga saat hal-hal kurang nyaman dan kurang berkenan muncul, maka seseorang tersebut diminta untuk berjeda dengan dirinya sendiri. Bukan moro-moro minta berhenti hanya gara-gara kenaikan gaji yang di luar perkiraan, atau perasaan tidak senang dengan lingkungan dan rekan sekerja. Meskipun demikian, nampaknya nasihat di atas tidak cocok untuk semua orang. Apalagi sekarang ini, ketika generasi muda makin kentara haus pengakuan sosial dan profesional, dan pada beberapa kasus membuat sejumlah kaum (agak) tua risi lantaran anak muda dinilai haus self-entitlement. Tujuan yang kurang esensial.

Kendatipun begitu, tak bisa dimungkiri bahwa nominal dan standar kesejahteraan pun kerap memangkas jeda tersebut. Bagi Anda yang akrab dengan fenomena migrasi pekerja besar-besaran setelah pembagian THR, baik bermigrasi ke perusahaan atau ke jenis pekerjaan lain, setidaknya paham dengan skema yang terjadi. On assumption, it’s all about supplies and demands.

Dalam sebuah obrolan bersama kenalan beberapa waktu lalu.

“Saat banyak orang bekerja kantoran, otomatis bidang-bidang freelance kena power shortage. Karena butuh pekerja, nilai hasil pekerjaan pun ditingkatkan. Akhirnya, mungkin juga karena sudah merasa tidak nyaman di kantor dan sebagainya, banyak orang jadi freelancer. Begitu juga sebaliknya, saat dunia korporasi lagi butuh banyak pekerja, tapi semuanya pada jadi freelancer, misalnya, otomatis gaji yang ditawarkan mulai dari fresh graduate sampai seterusnya dinaikkan. Mungkin karena lelah soal deadline dan waktu kerja yang tidak teratur, akhirnya banyak yang jadi orang kantoran lagi. Begitu terus. Jadi siklus.”

Tidak ada vonis benar atau salah dalam kondisi ini. Semua orang bebas menjalani karier dengan cara masing-masing. Namun pastinya, jeda yang mereka perlukan sebelum menentukan keputusan, lumayan cepat dibandingkan generasi-generasi di atas mereka. Tentu saja selain para pemilik bisnis maupun investor, para wirausahawan tempo dulu maupun masa kini yang wajib diembel-embeli ~preneur, dan orang-orang yang sudah kaya sejak lahir.

Jadi, apa pun yang sedang Anda alami saat ini, nikmati saja. Termasuk yang tengah alami jeda, sambil terus bertanya kepada diri sendiri: “Sebenarnya aku cari apa di sini?

[]

No. 52

Beberapa minggu yang lalu, saya membaca buku “Every Day” karya David Levithan. Buku ini cukup menarik. Karakternya tak bernama, sampai-sampai si karakter harus menamai dirinya dengan huruf A saja. Kenapa dia tak bernama? Karena dia hidup sebagai orang yang berbeda-beda setiap harinya. Saat bangun tidur di pagi hari, dia mendapati dirinya hidup di tubuh orang lain. Dia akan menjalani sehari penuh sebagai diri orang lain itu, sebelum kemudian dia tidur dan menjalani hidup sebagai orang yang lain lagi. Mau pria, perempuan, tua, muda, gay, straight, kurus, gemuk, menikah, lajang, setiap hari A selalu bangun tidur untuk mencari tahu siapa dirinya di hari itu. Anehnya, jiwanya selalu sama. Dan jiwa yang sama ini yang membuat kita terus membaca buku ini sampai tuntas. Meskipun ending yang dipilih penulis tidak terlalu istimewa, paling tidak rasa penasaran kita terus terjaga.

Every Day by David Levithan

Every Day by David Levithan

Kalau Anda pernah menonton serial “Quantum Leap” di SCTV pada pertengahan 1990-an, maka Anda pasti tahu bahwa ada kemiripan antara serial televisi dan buku ini. Memang, keduanya nyaris serupa. Bedanya tipis sekali. Kalau “Quantum” sering kali meloncat ke historical events dalam dekade yang berbeda-beda, maka lompatan “Every Day” cukup terjadi dalam runtutan waktu sesuai kalender, dan dalam jarak lokasi yang kerap kali berdekatan. Tapi yang jelas, keduanya mempunyai kesamaan. Karakter utama di masing-masing cerita, baik “A” di “Every Day” atau Dr. Sam Beckett di “Quantum Leap”, harus menjalani hari sebagai orang lain setiap harinya. Hari mereka tidak akan selesai sebelum mereka bangun keesokan harinya (untuk “A”), atau setelah misi mereka selesai (untuk Dr. Sam Beckett).

Serial "Quantum Leap"

Serial “Quantum Leap”

Baik “Every Day” atau “Quantum Leap” memang cerita fantasi. Dan mungkin, demikian pula dengan Linimasa ini.

Saya tidak tahu apakah Roy Sayur pernah membaca buku atau menonton serial yang saya sebutkan di atas. Sepertinya belum. Entahlah. Sampai saat ini saya belum pernah bertemu langsung dengan beliau. Entah apa pula yang membuat dia nekat mengajak saya bergabung di Linimasa ini 53 minggu yang lalu.

Tapi yang saya lihat, ada sedikit persamaan antara (tampilan) Linimasa ini dengan kedua cerita di atas. Setiap hari, kita melihat dan membaca satu tulisan di halaman muka Linimasa. Baik dari ponsel, tablet, atau laptop, ketika kita buka Linimasa.com, hanya ada satu tulisan di satu hari yang ditampilkan. Suka tidak suka, mau tidak mau, itulah cerita yang kita baca untuk mengawali hari.
Demikian pula dengan tulisan ini. Inilah tulisan yang akan mengawali hari kita semua di hari Kamis tanggal 27 Agustus ini. Tentu saja Anda bisa membaca tulisan lain, mulai dari kolom komentar di bawah sampai di bagian arsip, tapi itu bisa dilakukan setelah Anda terpapar dengan satu tulisan di muka. Bukan tulisan yang lain.

Atonement. (Courtesy of philzine.wordpress.com)

Atonement. (Courtesy of philzine.wordpress.com)

Sometimes we cannot choose what to begin our day with. Most of the times, we just fall for it. But how we deal with it, that’s another matter.

Kadang kita bangun dengan kesal karena mimpi buruk, kadang kita bangun dengan senyum karena mimpi bagus. Kadang kita sarapan dengan roti gosong, kadang kita sarapan dengan air putih saja sambil terburu-buru.

Kadang tulisan kami bisa membuat Anda tersenyum, sering kali membuat Anda berpikir, “apa siiih?” Kadang tulisan kami bisa membuat Anda terharu, tapi lebih sering membuat Anda manggut-manggut tanpa ekspresi.

Toh perbedaan itu yang membuat kita menjalani hidup. Tidak ada hari yang sama. Rutinitas boleh sama, tapi tidak ada hari yang sama persis seperti hari sebelumnya.

Bekas gedung bioskop di Donggala, Sulawesi Tengah. Photo taken by Nauval Yazid.

Bekas gedung bioskop di Donggala, Sulawesi Tengah. Photo taken by Nauval Yazid.

Saya tidak bisa berkata atas nama penulis yang lain. Tapi setiap hari, Anda pasti merasakan perbedaan dari kami. Glenn mengamati keadaan sekitar dengan cermat. Gandrasta selalu bisa menampilkan sensasi yang masih ada isi. Agun meneliti budaya pop dengan baik. Dragono menulis pemikiran mendalam tentang kemanusiaan yang hampir selalu bersifat Zen. Saya suka mengawang-awang. (Dulu) Farah menampilkan jelajah pikiran anak muda yang banyak maunya. Sekarang Leila menampilkan tulisan khas tentang hidup yang praktis dan taktis. Roy senang bermimpi. Dan Anda masih membaca sampai sekarang.

Minggu lalu adalah tulisan saya yang ke-52, yang artinya sudah 52 minggu (sekarang 53) saya menulis setiap Kamis tanpa jeda. Sudah setahun penuh.
Hari Minggu kemarin, empat dari kami bertemu untuk makan siang. Tidak semuanya bisa ikut, memang, karena kesibukan dan keperluan masing-masing. Tapi itulah namanya kehidupan, tidak bisa dipaksakan meski telah direncanakan. Dan kami hanya bercerita sambil bercanda. Toh tidak ada yang perlu dirayakan terlalu berlebihan. Apalagi tepat di hari ulang tahun Linimasa kemarin, mata uang kita terpuruk, sementara tak kurang dari tiga stasiun televisi nasional juga berbarengan merayakan hari jadinya masing-masing.

It cannot be more random than that. But that’s life.

Half-full glass

Tulisan di Linimasa.com tidak ada yang sempurna. Ada pengulangan, dan kadang ada kontradiksi antara satu sama lain. Tapi yang jelas, semuanya berwarna.
Dan ketika Anda memilih untuk mengawali hari dengan membaca tulisan kami, maka kami merasa tugas kami telah selesai di satu hari. Untuk itu kami ucapkan:

Terima kasih.

Sampai jumpa lagi besok.

Pokhara, Nepal

Pokhara, Nepal

Ngerepotin Orang

SETIAP dari Anda pasti pernah berada dalam situasi seperti ini; ketika ada seseorang, entah teman, kenalan, saudara, sanak keluarga, tetangga, rekan kantor maupun kolega, atasan, guru dan dosen, atau siapa saja, datang untuk meminta bantuan. Hanya saja, terlepas dari pembawaan kita yang (barangkali) ringan tangan dan punya empati tinggi, bantuan yang mereka minta itu malesin sekaligus ngerepotin dan enggak penting-penting amat secara bersamaan. Kalau diminta, bikin males, tapi kalau enggak dilakukan, takutnya malah jadi drama dan bikin enggak enak suasana. Berpotensi mengganggu hubungan sosial. Jadi mau tidak mau, permintaan itu pun diiyakan.

Tidak mustahil, banyak dari kita yang kerap mengiyakan permintaan bantuan orang lain, tapi ngedumel dalam hati. Dengan begitu, bantuan tidak diberikan dengan mulus. Permintaan tersebut malah membuka kesempatan untuk mengomel, mengeluarkan energi negatif yang meletihkan. Juga menyita waktu serta tenaga, yang justru sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih penting dan berguna. Termasuk mengajari yang bersangkutan cara melakukan sesuatu yang ia minta sebelumnya, ketimbang terus menerus mengaku enggak bisa, agar ke depannya tidak perlu merengek minta bantuan ke orang lain. Di mana-mana, lebih baik memberi kail daripada sekadar menyedekahkan ikan, kan?

Mengenai hal ini, mending tidak perlu dikasi contoh ya. Soalnya, setiap orang pasti punya batas toleransi kelebayan masing-masing. Namun pada intinya, begitulah. Kita pasti bisa membedakan, mana permintaan bantuan yang benar-benar karena tidak bisa dilakukan oleh yang bersangkutan, dan mana yang memberi kesan kalau si empunya permintaan cuma malas belajar untuk melakukannya sendiri.

Di sisi lain, mungkin tanpa disadari, kita juga pernah berada di posisi sebaliknya; justru menjadi yang ngerepotin orang lain, dan malas melakukan sesuatu. Masih mending kalau dilakukan tanpa sadar, ketimbang memang sengaja punya sikap seperti itu dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, jangan heran kalau banyak teman atau kenalan, yang sering banget menolak permintaan kita. Terkesan tidak mau membantu. Padahal, ternyata memang karena permintaan kita malesin orang lain.

Terus, kudu piye?

Sebenarnya, tidak ada ketentuan etis untuk menghadapi kondisi seperti ini. Baik si peminta bantuan, dan si penerima permintaan, sudah punya kemampuan menimbang dan memikirkan tindakan masing-masing. Kemampuan itu tumbuh seiring pertambahan usia dan tingkat kedewasaan. Cuma, bagaimanapun juga, kita tidak bisa mengabaikan realitas bahwa setiap orang pasti memiliki kesibukan hidupnya masing-masing. Jadi, mari bertanya kepada diri sendiri. Sebegitu pentingkah permintaan kita, atau sebegitu tidak-mampunya-kah kita sampai-sampai harus dilimpahkan ke orang lain? Kecuali bila Anda adalah orang yang cuek bebek atau sok bergengsi tinggi, pasti akan memerlukan sejumlah waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Kita memang makhluk sosial. Sampai kapanpun, tidak akan pernah bisa lepas dari interaksi dan kontak dengan sesama. Akan tetapi, di luar dari hubungan darah, terlebih antara orang tua dan anak, bersikap individualistis merupakan pilihan hidup dan hak setiap orang. Dengan konsekuensi logis, sikap individualistis juga harus dibarengi dengan kemandirian. Seseorang yang sudah memutuskan untuk jadi individualis, tidak hanya mampu dengan mudah menolak permintaan orang lain, namun juga berusaha harus mampu menangani sendiri masalah-masalah yang mereka hadapi. Supaya tidak perlu datang meminta bantuan kepada orang lain. Imbang, kan? Walaupun ini di luar urusan duit dan harta. Sebab, individualisme itu lumayan berbeda dengan pelitisme alias meditisme bin kikirisme.

Lalu, bagaimana bila kita merasa belum sanggup jadi seseorang yang individualistis, atau juga tidak tega untuk menjawab dengan kata “tidak mau”? Nah, tetap tidak ada salahnya kok jadi seseorang yang memiliki kemampuan terbatas, dan akhirnya terpaksa mendatangi orang lain untuk minta bantuan. Namun alangkah baiknya jika kita bijak bersikap.

  • Kalau kita sudah pernah merasakan tidak nyamannya direpotkan orang lain, apa masih tega buta tuli ngerepotin orang lain?
  • Jangan sekali-kali pakai hal-hal abstrak sebagai pembenaran. Seperti pahala, karma baik, dan sebagainya. Ingat, Anda manusia biasa, bukan malaikat Raqib atau ‘Atid.
  • Kalaupun terpaksa harus minta bantuan orang lain, jangan lupa bahwa kita adalah peminta bantuan, bukan majikan. Apalagi untuk bantuan-bantuan yang tidak berbanderol. Bedakan antara hubungan profesional yang terukur, dan yang atas dasar kekeluargaan serta persaudaraan. Tidak ketinggalan, seberapa gawat daruratkah bantuan yang Anda perlukan? Jangan berlebihan.
  • Alih-alih minta bantuan bulat-bulat, kenapa tidak minta bantuan untuk diajari? Setidaknya bisa menyisakan bekal untuk menghadapi masalah yang sama di masa depan. Hitung-hitung meningkatkan kemampuan. Di sisi lain, si pemberi bantuan juga bisa sedikit merasa berguna, lantaran sudah membuat orang lain yang tadinya tidak bisa, menjadi bisa. Mutual.
  • Masih perlu diajari cara mengucapkan terima kasih?
  • Bukan sebuah keharusan, tapi cara terbaik untuk membalas kebaikan orang lain adalah dengan kebaikan juga. Jangan cuma baik saat ada perlunya saja.
  • Khusus untuk kamu yang dimintai bantuan, jangan sungkan untuk membantu lebih jauh. Caranya, arahkan mereka, yang memerlukan bantuan, agar belajar. Minimal mendapatkan wawasan baru terutama mengenal masalah yang tengah mereka hadapi. Sejahat-jahatnya menolak membantu orang lain, lebih jahat lagi membiarkan orang lain bertahan dalam ketidaktahuan, ketidakmampuan, dan kemalasan.

Ceritanya sih begitu. 🙂

[]

Suvenir

Takluk dalam kenangan, adalah selemah-lemahnya manusia atas sesuatu yang internal, berasal dari dalam diri. Ketika seseorang menyerah secara sukarela, bersedia dibuat hanyut dan larut dalam pusaran emosi masa lalu, sampai kemudian tersadar harus kembali menjalani misteri yang tak kalah menggusarkan: masa kini.

Selama manusia masih memiliki (baca:dengan gampang dikuasai) perasaannya sendiri, selama itu pula manusia tidak akan pernah menang melawan kuasa kenangan.

Kala terlintas dalam pikiran, dengan atau tanpa penyebab, manusia langsung tercerap di dalamnya. Mengalami putus kontak dengan sekeliling selama beberapa saat. Ukuran yang bias. Bisa milidetik, menit, bahkan berjam-jam. Sebagai bukti, tak terhitung berapa kali kita bisa tersenyum di tengah-tengah suasana ingar-bingar, merasa kesal atau marah seorang diri, mendadak sedih dalam kebisingan, dan mengeluarkan beragam ekspresi lain tanpa mampu dibendung. Silakan diingat kembali, ya kenangannya, ya sensasinya.

Memang, banyak yang kerap kadung jemawa, merasa berhasil mengungguli perasaannya sendiri. Berlindung di balik ketegaran, merasa kokoh berhadapan dengan kenangan. Padahal tanpa ia sadari, dengan meladeninya saja sudah merupakan bentuk ketaklukan. Percuma meratapi kenangan, mubazir pula tertawa gembira terhadapnya. Dalam kenangan, nilai baik dan buruk luruh dimakan waktu. Semua tiba-tiba merasa jauh lebih tua, sebuah efek yang niscaya dari kenangan.

It’s a losing game.

Tapi apakah salah, jika sama kenangan aja kalah? Oh tentu saja tidak. Namanya juga manusia, makhluk yang selalu memerlukan (atau mendapatkan) akhiran “–wi” sebagai permakluman: manusiawi.

Bisa jadi ini bukan persoalan menang atau kalah, dua sisi realitas yang tak terpisahkan, pembeda antara kuat dan lemah. Sebab yang terjadi adalah kepasrahan, untuk kembali merasakan, entah, kenangan yang menyenangkan; kenangan yang menyedihkan; kenangan menyenangkan yang malah menyisakan kesedihan lantaran rindu, penyesalan, atau apa pun itu; maupun kenangan tidak menyenangkan yang kemudian menimbulkan rasa syukur serta perasaan berterima kasih sepenuhnya.

Dalam momen-momen tersebut, manusia seakan kehilangan daya. Mirip seperti serpihan gabus yang jatuh di sebuah jeram. Bisa dibawa berputar 360 derajat tanpa ada kejelasan sedikit pun, ini bakal berujung ke mana atau akan jadi seperti apa. Untuk kondisi begini, banyak begawan yang sepakat sama-sama berpetuah: “nikmati saja. Kita bisa apa?

Sayangnya, kala “menikmati” momen itu, manusia lupa logika dasar bahwa waktu dan prinsip aksi-reaksi berjalan linier. Terus maju ke depan, lurus, ajek, tanpa pernah sedikit pun menoleh balik. Ya! Logika. Tidak pernah minta diajak, namun sejatinya penting untuk digamit turut serta. Biar ndak gila.

Sekuat apa pun kesan yang dihasilkan oleh ingatan-ingatan tersebut, kenangan tetaplah kenangan, sesuatu yang bisa disebut macam hantu gentayangan. Hanya muncul dari masa lalu, mengusik, tapi tak bisa diapa-apakan. Karena dengan mengikuti dan meresapi perasaan yang timbul secara sepenuh hati sekalipun, tidak akan mengubah apa-apa. Begitulah yang kita rasakan dan terus urusi sepanjang hayat. Apakah melelahkan? Besar kemungkinan.

Biar bagaimanapun, perasaan, tetaplah perasaan.

Dan boleh jadi, demikianlah, hidup ternyata tak lebih dari pilinan kejadian yang dirajut dengan perasaan. Hidup pun menjadi kumpulan kenangan.

Segudang cenderamata.

Cuma itu.

[]