TMI Can Kill You

sumber: http://www.kmu-businessworld.ch/en/content/tips-how-deal-too-much-information
sumber: http://www.kmu-businessworld.ch/en/content/tips-how-deal-too-much-information

Mau cari tau tentang apa? Besarnya gunung es di antartika sampai besarnya payudara Kim Kadarshian? Siapa pemimpin negara paling berhasil di dunia sampai siapa selingkuhan pemimpin negara? Warung kopi yang sedang hits di Paris sampai Paris van Java? Sekarang semua bisa ditemukan dengan satu klik. Cukup dengan jempol, semua informasi (yang sering diartikan sebagai pengetahuan) bisa didapatkan dari world wide web dengan mudah.

Dan semakin banyak tahu, maka bisa dianggap semakin pintar. Padahal, banyak tahu bukan berarti pintar. Demikian pula sebaliknya. Banyak tahu, dalam bahasa Inggris disebut knowledgeable sedang pintar disebut smart atau clever. Orang yang banyak membaca tentunya dia akan menjadi orang yang banyak tahu. Tapi belum tentu dia pintar. Karena definisi pintar menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah cakap, cerdik, banyak akal atau mahir.

Di media sosial sering kita temukan orang-orang yang banyak tahu. Tanda-tandanya, sering memberikan link-link bacaan berbobot diiringi hasrat untuk kultwit atau memberitahukan yang di tahu ke orang-orang yang dianggap tidak tahu. Memiliki kecenderungan untuk mengajar dan tak jarang menganggap orang yang tidak tahu itu adalah bodoh.

Sementara orang yang pintar, lebih beragam. Tak jarang orang pintar menyampaikan pikiran dan perasaannya di media sosial secara lugu. Atau diam-diam tiba memposting hasil karyanya. Mereka pandai memilah isi postingan di timeline. Informasi mana yang benar mereka butuhkan dan mana yang tidak dibutuhkan. Orang pintar memiliki kecenderungan rendah diri karena merasa dirinya kurang banyak tahu. Dan kagum pada orang-orang yang dianggap lebih banyak tahu.

Sejak kecil kita dijejali dengan mantra “rajin pangkal pandai” dan setelah dewasa kita dijejali dengan mantra “orang pandai minum tolak angin”. Eh itu pintar deng… Anyway…

Semakin lama kita akan lebih banyak menemukan orang yang banyak tahu. Dari pengetahuan umum sampai rahasia umum. Dengan pengetahuannya itu, mereka bisa diterima di banyak pergaulan. Dalam perbincangan di meja kopi pun, mereka bisa memuntahkan semua yang diketahuinya. Banyak yang kagum pada mereka. Semakin banyak yang kagum bikin mereka semakin getol mencari pengetahuan dan informasi.

Buat orang pintar, eh kok jadi beda makna ya…. Ok diulang… Buat orang pandai, mereka akan mempertanyakan hasil dari orang banyak tahu. Dengan sebanyak itu pengetahuan dan informasi yang mereka miliki, apa yang telah kalian perbuat? Inovasi apa yang telah kalian ciptakan? Karya apa yang telah kalian perbuat? Orang pandai menuntut hasil nyata.

Sementara orang yang banyak tahu, akan meremehkan orang pandai. Karena orang pandai lebih sering berbuat dan mengambil keputusan dengan pengetahuan yang minim dan mengandalkan intuisi belaka. Banyak keputusan salah yang telah diambil orang pandai berujung pada kegagalan. Tapi banyak pula keputusan benar sehingga menghasilkan sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri maupun lingkungan sekitarnya.

Ingin menjadi orang pandai atau orang banyak tahu, semakin lama terasa bukanlah pilihan. Tapi takdir. Dunia memang dibagi dua karenanya. Orang banyak tahu mendewakan ilmu pengetahuan. Institusi pendidikan tersohor adalah Mekkah bagi mereka. Orang pandai mendewakan karya. Bentuk. Bagi mereka institusi pendidikan bukan hanya tak penting tapi mengekang. Mengekang kebebasan berpikir dan menyeragamkan intuisi.

Netizen. Generasi paham dan pengguna sejati internet, menemukan dunia yang membuka pintu dan jendela pengetahuan yang seluas-luasnya. Manfaat atau mudarat? Hanya bisa ditentukan kalau kita sudah menemukan siapa kita sebenarnya. Apa yang kita inginkan. Apa yang menjadi motor penggerak kehidupan kita setiap hari. Apa yang menjadi hasrat yang membuat hidup lebih berbahagia dan bermakna. Tanpa dasar ini, semua informasi dan pengetahuan yang ditelan tanpa tujuan dan maksud, hanya akan membingungkan. Membuat kita ragu dalam mengambil keputusan. Takut melakukan banyak hal. Penuh perhitungan yang membunuh spontanitas.

Pengetahuan dan informasi yang kita miliki baru akan menemukan kehidupannya, hanya dan jika hanya berguna untuk diaplikasikan dalam kehidupan. Kalau tidak, segala informasi dan pengetahuan perlahan akan menjadi senjata makan tuan yang memberikan rasa bosan dan jenuh. Karena sifatnya yang memiliki batas. Bukankah kita sedang hidup di zaman “bosenan”?

Sementara batas apa yang dimiliki oleh imajinasi. fantasi dan intuisi?

Too Much Information Can Kill You. Seperti barang menumpuk di gudang yang tak lagi memiliki fungsi. Tapi kesulitan membedakan mana orang yang pandai dan mana orang yang banyak tahu, adalah kebutahurufan tersendiri lagi.

Btw, ukuran payudara Kim adalah 34D

Advertisements

Separuh

Minggu ini, Linimasa genap berusia 6 bulan. Tepatnya hari Selasa kemarin, tanggal 24 Februari 2015. Tergantung dari perspektif, bisa saja Anda bilang “baru 6 bulan”, atau “sudah 6 bulan”.

“Baru 6 bulan” karena biasanya yang namanya ulang tahun diukur dari genapnya hitungan satu tahun yang ditandai dengan tanggal dan bulan yang sama tapi tahun yang berbeda, sedangkan ucapan “sudah 6 bulan” bisa jadi diucapkan karena, well, di jaman sekarang, apapun dalam bentuk digital yang bisa bertahan lebih dari 3 bulan bisa dibilang cukup bagus. Selain persaingan yang semakin hari semakin kompetitif, mempertahankan perhatian pembaca juga bukan sesuatu yang gampang.

Sudah lebih dari 180 hari kami hadir setiap hari menemani Anda … hampir setiap hari, ding. Akhirnya kami sempat absen selama dua Jumat yang lalu. Farah Dompas, yang sudah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi setelah cukup lama nggak ada yang memangku, mengalami jet-lag dan transisi adaptasi ke kehidupan baru yang membuat dia sempat jatuh sakit. Dari menggigil kedinginan di bawah nol derajat sehari-hari, laltu tiba-tiba harus lembur setiap hari dan membajak sawah di akhir pekan, membuat beliau ambruk.
Tapi jangan khawatir. Setelah masa istirahatnya dihabiskan dengan menonton film-film di Netflix, rasanya Farah sudah cukup segar lagi untuk kembali menulis secara rutin.

Dan rutinitas menjadi sesuatu yang sempat terhenti di Linimasa akhir-akhir ini, ketika popularitas cerita Ustadz Wadud karya Gandrasta melejit. Berhubung Fa berhalangan, maka cerita-cerita tersebut digilir secara berurutan, menggeser jadwal Glenn dan Roy. Ditambah dengan Dragono yang beberapa kali mengisi kekosongan Fa, maka saya sendiri sempat bingung, dan harus menanyakan ke grup kami, “Hari ini giliran siapa ya yang piket?”

Tapi saya pribadi melihat kejadian di atas sebagai jeda yang memang kami perlukan. Sesekali bolehlah rutinitas sedikit diacak. Toh di antara kami tidak ada yang benar-benar OCD memandang tulisan harus rapi setiap hari sesuai absen, seperti susunan buku dalam rak. Paling tidak, itu menurut saya, lho. Tidak dijamin juga kalau 6 penulis lain ternyata malah bertolak belakang dari apa yang saya perkirakan.

Maklum saja, kami tidak pernah bertemu beramai-ramai di dunia nyata.

Saya belum pernah ketemu langsung dengan Roy Sayur, Agun Wiriadisasra dan Farah Dompas. Ketemu Dragono Halim terakhir beberapa bulan lalu waktu ada kerjaan di Samarinda. Itu pertemuan kami ketiga, kalau tidak salah. Sudah lupa kapan terakihr ketemu Glenn Marsalim dan Gandrasta Bangko, meskipun kenal mereka sudah lama sekali, dan pernah ada masanya kami cukup sering bersua.

Linimasa diinisiasi Roy hanya bermodalkan perkenalan di dunia maya. Lantas obrolan kami bertujuh pun, berikut keputusan-keputusan mengenai pembagian hari, jadwal tulisan, serta rencana-rencana ke depan, cukup kami perbincangkan di grup WhatsApp. Kalau ramai, pernah terlewat sekitar 600-an pesan. Kalau sepi, bisa berhari-hari tak ada kicauan sama sekali. Apa yang kami perbincangkan? Apalagi kalau bulan tentang harta, wanita, tahta dan Anda. Namanya juga ngerumpi, yang diobrolin ya anything under the sun dong.

Kadang saya penasaran juga, kalau sudah ketemu di dunia nyata, apa bisa kami ngobrol seseru kalau ngobrol di dunia maya? Apa jangan-jangan malah jaim, karena malu-malu kucing? Padahal kucing di Lapangan Banteng dan Sarinah gak ada yang malu, karena kalau malu gak akan laku.
Tapi rasa penasaran itu tidak pernah sampai membuat saya memikirkan terlalu lama, karena rutinitas sehari-hari sudah menyibukkan kami. Apalagi dalam enam bulan terakhir, banyak perubahan yang sudah terjadi dari diri kami.

Gandrasta masih mengisi rumah sambil membagi waktu untuk bisa terus bercinta. Agun mengasuh keponakan sambil terus menjadi pengamat aktif musik dan film. Farah memonitor pergerakan media bagi beberapa korporasi. Glenn berkelana menjadi aktifis dan memberikan penyuluhan kepada berbagai lembaga masyarakat, sambil terus memasak. Dragono punya rencana besar dalam karir dan pendidikan yang sudah dia rintis, dan masih menjadi wartawan. Roy jatuh cinta dengan sepeda barunya yang dia naiki setiap hari, sebagai modal supaya kalau pensiun nanti tidak sering sakit. Saya sendiri, yang kebetulan the true underachiever di grup ini, kebetulan sedang menikmati kembali menghabiskan hari membaca buku-buku teori film seperti waktu kuliah lagi.

Baru semalam saya menonton episode terakhir serial “Parks and Recreation” yang akhirnya berhenti tayang setelah 7 seasons atau musim penayangan. Menonton series finale serial ini rasanya sama seperti menonton episode akhir dari serial-serial komedi Amerika lainnya yang sudah kita ikuti sekian lama. Ada bagian yang hilang, karena kita sudah menginvestasikan waktu kita untuk tumbuh bersama karakter-karakter yang sudah terlanjur kita cintai. Meskipun tidak setiap episode serial “Friends” atau “How I Met Your Mother?” kita sukai, atau bahkan ada satu atau dua musim penayangan serial itu yang bahkan tidak kita sukai, namun menghabiskan waktu bersama mereka sekian lama mau tidak mau membuat mereka secara tidak sadar sudah menjadi bagian dari hidup kita. Kita familiar dengan ciri khas karakter-karakter buatan itu. Kita tahu bagaimana cara Joey merayu, dan kita tahu apa ucapan khas Barney Stinson.

Friends
Friends

Terlalu awal dan mungkin muluk-muluk rasanya membandingkan Linimasa dengan scenario di atas. Tapi tidak berlebihan kalau kami ingin kehadiran kami bisa selalu mengisi waktu sarapan, makan siang dan ngopi sore Anda dengan manis. Anggap saja kami sedang berada di dekat Anda lewat tulisan, lalu kita sama-sama menghabiskan waktu bercanda dan bercerita.

Dan ketika sampai di ujung satu tulisan, akan selalu ada arsip tulisan lain yang menjadi teman Anda.

Enam bulan lagi Linimasa genap berusia setahun. Entah perayaan apa yang akan kami gelar. Kami hanya menunggu tren apa yang akan terjadi saat itu.

Yang jelas, kami hanya ingin menghabiskan waktu dalam cerita bersama Anda semua.

We love you all.

Farewell, 2014

Tidak menyenangkan memang. Namun perkenankan saya–beserta rekan-rekan di Linimasa–membuka tulisan piket kali ini dengan berbelasungkawa. Pancaran cinta kasih dari kami untuk semua penumpang dan kru penerbangan AirAsia QZ8501. Dekap erat kami untuk seluruh keluarga dan kerabat. Juga hormat kami kepada segenap pihak yang terlibat dalam proses pencarian maupun pendampingan.

Karya Ko Glenn
Karya Ko Glenn

***

Hari terakhir di 2014.

Pergantian tahun sejatinya hanya perubahan angka. Sesuatu yang mekanis. Konsekuensi logis dari sebuah gerakan linier, terus maju, dan mustahil terulang. Sebuah realitas yang dingin.

Apapun yang terjadi, detik demi detik tetap menyusun menit, dan seterusnya. Akan tetapi, apa yang terjadi dalam setiap detik itu menjadi komponen penyusun kehidupan. Selalu menggubah keadaan hati dan pikiran, entah jadi simfoni ceria atau tragedi memilukan. Meninggalkan kesan. Asa yang menghangatkan.

Banyak kawan yang berharap 2014 segera berlalu. Tak sedikit pula yang susah lepas dari kenangan indah yang telah berlalu. Mereka punya alasan masing-masing, dan semuanya bebas dari vonis benar atau salah. Hanya ada dua kesamaan yang mereka–kita–miliki: sama-sama menafikan saat ini, dan ketidaktahuan akan masa depan.

Dari ketidaktahuan akan masa depan, kita seringkali tak berada di saat ini. Melewatkan momen kehidupan begitu saja. Gara-gara ketidaktahuan akan masa depan itu pula, muncul dua hal yang diakrabi manusia fana sepanjang hayatnya: harapan, dan kekhawatiran. Dua hal yang sama-sama digunakan untuk menghadapi ketidakpastian. Sementara prediksi, ramalan, perhitungan, maupun hasil studi-studi Semiotika tetap membutuhkan pembuktian, tanpa menyisakan jeda untuk koreksi maupun revisi. Layaknya berjudi dengan peluang 50:50. Tak ada yang bisa dijadikan pegangan.

Anda pasti sudah tahu, harapan itu positif, sedangkan kekhawatiran itu negatif. Harapan itu menguatkan, dan kekhawatiran itu melelahkan. Dengan harapan, mudah bagi kita untuk bangkit dan bersemangat kembali. Dengan kekhawatiran, seolah tidak ada waktu untuk berhenti gelisah. Selalu susah. Jadi, pilihannya kembali ke Anda, ingin menyongsong misteri masa depan dengan cara seperti apa. Tidak lupa pula, baik harapan maupun kekhawatiran itu “menular”. Memengaruhi udara di sekeliling.

Hanya saja, jangan sampai diperdaya diri sendiri. Menjalani kehidupan dengan penuh harapan memang baik adanya. Namun akan berbahaya bila tidak dibarengi kemampuan menerima segalanya. Lewat harapan, seseorang berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya. Iya kalau berhasil, siapkah bila gagal? Tidak ada yang bisa menjamin kebahagiaan. Namanya juga misteri masa depan, selalu penuh kejutan. Pada umumnya, orang-orang dengan overdosis harapan atau terlalu berharap, sulit menerima kenyataan.

Berharap dapat pacar;
Berharap jadi cantik/ganteng;
Berharap terkenal;
Berharap naik jabatan;
Berharap segera dinikahi;
Berharap cepat kaya;
Berharap dapat warisan;
dan sebagainya.

Di sisi lain, kekhawatiran memang merugikan. Itu kalau kebanyakan. Tatkala memiliki sedikit kekhawatiran, kita bakal ingat pentingnya sikap berhati-hati. Justru lebih baik ketimbang berlaku serampangan. Kehati-hatian yang kita miliki, ibarat jaring pengaman dalam sebuah pertunjukan trapeze. Memang tidak ada yang ingin celaka, namun setidaknya tetap sigap saat terpaksa harus menghadapinya.

Keputusan akhirnya, lagi-lagi kembali di tangan Anda.


Sebenarnya, tidak ada yang perlu Anda iyakan dari beberapa paragraf di atas. Perkara setuju atau tidak, semua itu adalah hak para pembaca yang budiman sekalian. Lagipula, saya cuma manusia biasa; jago menasihati orang lain, tapi sulit menerima nasihat orang lain. Pun masih sering sukar menerima kenyataan, kerap khawatir berlebihan, bebal dan penakut. Salah satu bukti, entah sudah berapa puluh kali saya didorong untuk hijrah, tapi dengan jurus Seribu Kilah, pantat saya tetap menempel di sini, masih betah.

Layaknya orang normal pada umumnya, saya tetap punya harapan untuk menjadi seseorang yang lebih baik di 2015 mendatang–diupayakan mulai besok. Sebagiannya sudah saya tulis saat piket pekan lalu. Agak abstrak sih. Soalnya, saya tidak sreg dengan konsep menyusun list resolusi. Alih-alih tercapai, yang ada malahan menambah beban batin. Penginnya sih menjalani hidup yang mengalir saja, walaupun ndaktau muaranya ke mana.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, 2014 di mata saya sungguh berwarna. Cuma kadang-kadang warnanya ngejreng, ada kalanya gelap, lebih sering gurem. Kendatipun begitu, tetap banyak yang wajib disyukuri. Dompet tetap ada isinya, meski tak seberapa. Masih ada yang bersedia dikibuli, walau di seberang lautan sana. Punya teman-teman hebat, terlebih yang saban hari mengisi tulisan di sini.

Ya! Salah satu warna ngejreng yang sangat saya syukuri saat ini adalah kuning. Bukan Golkar yang pasti. Tapi kuning yang dipilih Mas Roy sebagai ciri khas background wadah tulisan rame-rame ini. Berasanya mirip pesta sunatan massal: selalu meriah.

Sedikit cerita ya. Kebagian jatah setiap Rabu, awalnya saya “bertugas” untuk menulis topik-topik yang berhubungan dengan agama, spiritualitas, dan berkutat di seputar itu. Sayangnya, saya bukan pakar ilmu komparasi agama yang telah diajarkan di perguruan tinggi bergengsi dalam dan luar negeri. Belum lagi sempat dikira ingin mempromosikan agama sendiri, mengembalikan kejayaan era Sriwijaya. Hahaha! Jadi tidak jarang melenceng, dengan sengaja. Untungnya ndak ada yang marah. Lagipula niatnya memang untuk saling berbagi, bukan menggurui, apalagi menghakimi. Makanya, seneng banget kalau ada yang meninggalkan komentar untuk berdiskusi, berinteraksi di sini. Manusiawi.

Seringkali juga malah bingung pengin nulis apa. Karena itu, yours truly ini juga menerima saran dan masukan topik dari para pembaca yang budiman sekalian. Kali-kali aja ada hal lucu buat didiskusikan. Kan, Internet butuh lebih banyak hati. Dengan media inilah kita ketawa-ketiwi bareng. Terima kasih.

Diberkatilah Mas Roy, Ko Glenn, Gandrasta, Kang Agun, Mas Nopal. Sebuah kehormatan bisa nyelip di antara mereka. Juga buat Fafa, yang entah karena angin apa nggandeng saya ikut nimbrung di Linimasa.

Doa dan harapan saya, semoga 2015 menjadi tahun kegemilangan bagi mereka, juga Anda, kita semua. Memberi kesempatan bagi kita untuk bermanfaat bagi sesama. Berlanjut sampai tahun-tahun berikutnya.

***

Hari terakhir di 2014. Rabu ini, buatlah ia jadi penuh arti. 🙂

Selamat menjalani tahun yang baru.

[]

Bagaimana Saya (Ingin Mengajak Kamu) Memandang Mereka

Tulisan ini adalah tulisan saya yang ke-10 di Linimasa. Hari Sabtu nanti, genap sudah kami semua bertujuh sudah menulis masing-masing sebanyak 10 kali di sini. Itu berarti sudah 10 minggu kita semua mempunyai kebiasaan baru: menyantap sarapan yang bukan sekedar makanan, tapi juga kata-kata, bualan, dan obrolan ngalor-ngidul setiap pagi.

Bagi petugas piket, sudah 10 minggu ini kami selalu panik dan was-was sehari menjelang tugas piket. Kadang selain bingung nulis apa, ternyata kendala lain bisa terjadi. Tukar jadwal piket pernah terjadi antara saya dan Farah Dompas karena modem saya rusak. Hari Selasa kemarin, Agun Wiriadisasra juga sempat panik karena hal yang sama. Sementara Roy Sayur pernah ketinggalan kabel laptop entah di mana.

Tapi kalau dilihat tulisan mereka, tidak terlihat kekhawatiran di atas. Apalagi tiga penulis mumpuni ini: Glenn Marsalim, Gandrasta Bangko, dan Dragono Halim. Kepiawaian mereka bertutur mengungkap hal yang abstrak sekalipun tak bisa dipungkiri lagi. Pengalaman mereka menulis di dunia nyata sudah acap kali terasah sempurna.

Sepuluh minggu, dan tak seharipun lewat tanpa rasa kagum yang berkurang terhadap mereka.

Sampai saat ini, saya tak tahu alasan apa Roy tiba-tiba mengajak saya bergabung di suatu hari Kamis di bulan Agustus.

Bak sosok Charlie dalam serial “Charlie’s Angels”, karena tidak ada satu pun dari kami yang pernah menjumpainya, Roy mengumpulkan kami dengan modal obrolan di whatsapp. Misi yang ditugaskan cuma satu: menulis. Bergantian setiap hari. Tanpa jeda.

Saat saya bertanya ke Roy tentang siapa saja yang sudah diajak, balasannya “Aku udah dapet Gandrasta, Glenn, Fa, Dragono dan Agun.” Perhatikan diksinya. “Dapet”. He owns. Singkat. Tanpa basa-basi. Seperti tulisannya yang cenderung maskulin. Kadang meledak-ledak saat bicara politik, tapi bisa juga merayu penuh misteri saat berbicara hal-hal yang luput dari pengamatan kita.

Charlie in Charlie's Angels
Charlie in Charlie’s Angels

Lalu bacalah tulisan Glenn. Dia cermat dalam mengobservasi. Kelihatan kalau dia punya pengalaman di hal menganalisa perilaku orang kebanyakan. Dia sudah makan asam garam kehidupan bertahun-tahun. Seperti Kapten Gerd Wiesler di film The Lives of Others yang punya daya sensorik tinggi, bahkan tahu bunyi derap langkah kaki siapa dari kejauhan, demikian pula Glenn dengan imajinasinya yang membumi. Pengamatannya kadang memang merefleksikan karakter Glenn sehari-hari. Lalu tinggal kita yang menebak-nebak: mana dari tulisan Glenn yang sebenarnya tentang dirinya sendiri?

The Lives of Others
The Lives of Others

Kelihaian Glenn tak heran membuat Gono (panggilan Dragono) mengidolakannya. Mirip seperti karakter Judy Garland di bagian-bagian awal film A Star is Born. Dan seperti karakter itu, Gono pun bersinar justru karena jati dirinya. Tulisan-tulisannya menenangkan. Tepat di tengah minggu, di hari Rabu, tulisan Gono laksana meditasi setelah melewati kerasnya awal pekan, dan sebelum jedang-jedung menikmati akhir pekan.

A Star is Born
A Star is Born

Dan di hari pertama di tiap pekan baru, Doni (panggilan saya ke Gandrasta) hadir dengan menggelegar. Tidak ada tulisan Doni yang tidak sensasional. They are larger than life. He is larger than life. Doni adalah Don Corleone di The Godfather: keras, tegas, kompleks dan penuh rasa cinta yang limpahannya mengejutkan. Romantis tak terkira. Emosi kita diterjunkan dengan bebas sekenanya dari cara bertuturnya. Kami ber-6 selalu bilang, “Semua orang menyukai tulisan Doni”.

The Godfather
The Godfather

Sementara Agun yang hadir sehari setelah Doni, selalu terkesan tampil nyantai. Relaxed. Padahal dia piawai meriset. Persis tipikal cool nerd macem Jesse Eisenberg di The Social Network. Tulisannya dihiasi data-data dari berbagai sumber, tanpa harus menjadi berat. Dan yang pasti menambah pengetahuan pembacanya. Sesuatu yang bisa jadi tidak disadari oleh Agun sendiri.

The Social Network
The Social Network

Justru yang sadar banget keberadaannya di sini, tentu saja, Fa. Satu perempuan di antara enam pria. Gak lengkap kalo gak ada Fa, ibarat gak ada Deepika Padukone di Happy New Year, maka filmnya membosankan setengah mati cuma ngeliatin Shah Rukh Khan dan perut 8 kotaknya. Tapi karena Fa gak bisa menari, maka dia bisanya bertutur dengan lancar. Tulisannya beragam. Semua pakai hati. Semua dipikirkan masak-masak. Semua tulisannya melalui proses peresapan berhari-hari. Semuanya terbaca kalau Anda baca sekali lagi.

Happy New Year
Happy New Year

Tentu saja, yang tidak terbaca di sini adalah Fa sudah melamar saya dua kali di celotehan grup whatsapp kami. Entah maunya apa perempuan satu-satunya ini.

Saya juga tidak tahu maunya penulis yang lain apa dengan linimasa ini. Masih tidak tahu, meskipun sebulan lagi akan ada tulisan ke-100.

Tapi saya tahu apa yang saya mau, yaitu terus menerus belajar dari mereka.

Seorang teman pernah menanyakan ke saya tentang linimasa. Jawaban saya waktu itu, “I feel lucky. I am standing in the shoulder of giants.

And when you stand along the best, you learn. Itulah yang saya pelajari dari mereka. Tulisan mereka. Alur pikir mereka. Pilihan kata mereka. Pikiran mereka. Hati mereka.

Kalau tulisan Roy beberapa minggu lalu lebih tentang selfie, maka tulisan ini lebih mirip foto mereka yang saya ambil diam-diam. Lalu saya kumpulkan. Dan jadilah gambar utuh bagaimana saya memandang mereka.

photo (1)

Dan apapun tulisan yang tersedia, berapapun jumlahnya, pastikan Anda tersenyum membacanya.

Karena semuanya ditulis pakai hati.

Karena Kita Butuh Lebih Banyak Hati

sumber: koleksi Bung Tomo
sumber foto: koleksi pribadi dari akun path Dyah Ayu Prasetyo Utami

Seperti rak berisi buku, internet boleh diisi bermacam-macam jenis informasi. Soal sepakbola, puisi, teknologi luar angkasa, iklan pembesar payudara, filsafat islam mahzab mu’tazilah, politik dagang sapi, bahkan berisi sekadar caci maki. Berangkat dari kesadaran keanekaragaman itulah linimasa hadir. Kami mencari ruang kosong sebisa kami dan mengisi beberapa deret di antara buku-buku lainnya dengan tulisan yang muncul dari hati.

Nauval Yazid adalah salah satu temanku yang ikut mengisi rak buku sub bagian linimasa. Dia dikenal baik oleh kami sebagai pria yang kontemplatif sekaligus melankolis. Kadarnya akut. Semua hal dipikir dalam-dalam. Sedangkan Agun Wiriadisasra, anak hipster asli tanah Pasundan. Soal lagu, filem, bahkan isu terkini sudah ia ketahui sebelum si pembuat lagu, penulis naskah filem dan penyebar isu tersebut merilis resmi. Sedangkan Gandrasta Bangko itu banci karbit. Pendapat ini dilontarkan sahabat baiknya, Glenn Marsalim. Nah, Glenn Marsalim sendiri adalah pria dengan tattoo naga warna biru di tubuhnya namun begitu takut apabila Jokowi lekas mati. “Kasihan para pendukungnya. Apalagi Jokowi mati sebelum sempat balas budi“. Entahlah apakah ini alasan yang mengada-ada. Namun ketegasannya saat memberikan alasan tersebut, kami yakin Glenn sedang bicara serius. Adapun Dragono Halim, seorang pemuda yang begitu mencintai ajaran buddhisme. Kami yakin, 9 dari 10 tulisannya kemarin, sekarang dan yang akan datang berisi soal ajaran buddha. Aku pribadi mulai curiga bahwa dirinya membawa misi tersendiri untuk mengembalikan ajaran yang dihayatinya seperti di era keemasan Kerajaan Sriwijaya. Sedangkan Farah Dompas adalah gadis muda yang ternyata, diam-diam, begitu berbakat sebagai mak comblang namun dia sendiri agak khawatir dengan karir asmaranya. “Aku berkejaran dengan menyusutnya ovarium di dalam tubuhku“, katanya suatu ketika. Kami, tentu saja, tidak menanggapinya.

Kami, bertujuh, sejak 24 Agustus 2014 mengawali pagi dengan memberikan pandangan, gagasan, igauan, gurauan, keseriusan, bahkan fatwa yang sekiranya berguna. Ukuran berguna yang kami maksud disini dibatasi setidaknya menurut ukuran masing-masing penulisnya sendiri. Maka, saat menulis postingan kali ini, kami telah menulis setiap hari untuk satu bulan pertama.

Setiap hari.

Tanpa jeda.

Ini kami lakukan bukan untuk menyaingi harian Jawa Pos. Sama sekali bukan. Kami hanya berupaya menjadi blog rame-rame yang paling teratas dan terunggul di negeri ini. Hanya itu. Indoprogress? lewat! Apalagi MidJournal. Kalau SeratKata? … *batuk*

+++

Puthut EA  menulis dengan baik dan dirangkum dalam bukunya yang berjudul Mengantar Dari Luar. Salah satu artikel yang disampaikannya bicara mengenai Agus Suwage, pelukis papan atas Indonesia. Bagi teman sepermainannya selama sekolah di De Britto akhir tahun 70-an, Agus Suwage tidak dikenal. Mereka lebih akrab memanggilnya Agus Kenthu. Entah apa sebabnya. Oh bukan. Kami sama sekali tidak sedang membicarakan soal kenthu-mengenthu. Apalagi yang khidmat. Karena kami percaya dan selalu percaya, perkenthuan hanya pantas untuk dipraktekkan dan tak perlu dibahas. Saat membaca artikel soal Agus Suwage tersebut, aku tertarik dengan pendapatnya soal lukisan hasil karyanya sendiri: “Lukisanku itu bukan semacam penisilin. Bukan karya seni untuk mengobati luka atau orang lain memperoleh manfaatnya. Tapi setidaknya dengan melukis, dapat menjadi semacam terapi buat diriku sendiri.”

Begitu juga dengan kami. Atau katakan saja, biar adil, aku. Menulis adalah terapi. Soal apakah bermanfaat bagi pembaca, itu urusan lain. Bahkan ketika Paramita Mohamad, ratu skeptis Indonesia yang wajahnya terkesan selalu murung, mengejek kami bahwa tulisan linimasa terlalu membawa pesan moral, gayanya semacam “chicken soup”, terlalu naif dan ketinggalan dari isu terkini, kami hanya bisa mengingat dan menerapkan aforisma latin: “Caper diem”. Orang yang lagi caper, maka sebaiknya respon yang ditampilkan adalah diem. Kecuali kita ingin meladeninya. Tapi tidak. Kami tidak berani membalasnya. Juga ketika Zen RS mengenalkan kami pada kata-kata yang termuat dalam KBBI seperti sangkil dan mangkus, juga mengajari kami perbedaan soal surat terbuka, petisi, atau laporan jurnalistik, kami hanya terdiam. Eh, ndak. Kecuali Fa (Farah Dompas). Dia susah menerima kenyataan ketika tulisannya yang mengusung topik surat terbuka dibilang oleh Zen jelek. Bahkan bukan hanya jelek, tapi ditambah dengan emotikon lidah menjulur.

jelek :p

Fa menangis berbulan-bulan karenanya.

Lalu, kenapa hati?

Banyak pembaca yang bertanya kepada kami dengan kata “hati” di ujung tagline kami. Ya. Hati. Serupa cinta yang tidak melulu soal hati tapi juga perlu nyali. Maenjadi masalahan ketika ‘nyali’ di ranah internet, apalagi media sosial sudah terlalu banyak bertebaran. Nyali kami terlalu ciut. Nyali diobral dan dipertontonkan di luar sana. Saling ejek, twitwar, saling gugat, caci maki, juga ada yang dengan sukarela memberikan belahan dada dan mulusnya paha dengan bungkus untuk dan atasnama lomba. Salah? Tidak! Masalahnya cuma satu: kami tak memiliki nyali. Kami hanya memberanikan diri menawarkan hati.

Jangan pernah pertanyakan soal hati kepada kami. Aku yakin hati Gandrasta adalah hati terbesar yang pernah dimiliki umat manusia sejak peristiwa Malari. Kenapa Malari? karena itu yang terlintas di benakku saat ini. Hati Gandrasta menaungi kami. Tapi kalau soal nyali, maka nyaliku adalah nyali paling sedikit diantara penulis yang lain. Bahkan untuk menampilkan nama sesuai akta kelahiranpun tak sanggup. Entah kenapa.

Hati sepertinya sesuatu yang paling penting harus diingat dan dikagumi. Kedalaman laut dapat diukur, tapi dalamnya hati siapa yang tahu. Perih-bahasa ini melekat erat di benak kami. Hati-hati, saat main hati, nanti bisa patah hati. Anak itu wajahnya seram, tapi hatinya baik. Lihat itu besan Presiden, namanya keren: Hati Rajasi. Oke, kali ini #ngok.

Tapi dengan serius dapat kami sampaikan, bahwa secara hati-hati linimasa hadir bukan untuk menjadi media. Kami berangkat dan akan berakhir sekadar blog. Berbagi, juga sebagai pemicu dalam berdiskusi. Ketawa-ketiwi.  Membicarakan isu terkini, Bicara perilaku banci ibukota, artis yang sedang naik daun, cinta platonis, kondisi politik negeri ini, juga soal “asmaragama”, sebuah teori fusi tentang asmara dan agama. Bahkan pernah kami terjebak dalam diskusi bagaimana sebaiknya mencukur rambut kemaluan yang baik dan benar. Kami, bertujuh, menjelma dari para pengisi kolom blog yang terus belajar menulis, menjadi penggosip nomor satu negeri ini. Sepanjang hari. Tanpa henti.

Bagi kami soal hati adalah soal duniawi yang begitu diharapkan mengantarkan kami ke alam surgawi. Eh, ralat. Bukan “kami” karena Gandrasta tidak. Hingga saat ini dia percaya bahwa hidup sebenarnya bukan saat ini. Kelak ketika saatnya dia mati, maka dia akan kembali kepada kesejatian dirinya di kehidupan lanjutan yang lebih hakiki: Sebagai Miss Universe. Kami, sebagai sahabatnya, percaya dan akan selalu percaya perkataannya, seperti rasa percaya kami bahwa SBY bisa galak di depan Bu Ani.

Dalam bukunya, Puthut EA mengutip begini: “Terlalu bersemangat…“, kata salah satu Panglima perang Amerika Selatan, “…bisa menjelma menjadi pembunuh utamamu“. Itulah kami. Menjaga agar semangat kami tak terlalu berkobar, berkibar, apalagi kabur. Semangat kami dijaga sebisa mungkin sedang-sedang saja. Tugas piket dengan tertib dijalankan. Pembagiannya cukup jelas, setiap penulis akan merilis tulisannya seminggu sekali. Lebih dari itu kami haramkan, kecuali mengisinya di blog pribadi atau kolom path milik sendiri. Jadual selonggar inipun rasanya tetap berat sekali. Kelemahan kami adalah soal disiplin diri. Karena sadar akan hal itu, maka jadual menulis diatur setiap minggu, mau-tidak mau harus dipenuhi. Demi apa? Untuk hal itu hingga saat ini menjadi pertanyaan besar bagi kami sendiri. Diam-diam selalu muncul dari pikiran masing-masing penulis. Untuk apa? Kemasyhuran? Uang? Atau sekadar memenuhi hasrat dan kegenitan intelektual semata?

Sepertinya tidak.

Kami adalah keluarga. Itu kesimpulan kami. Ketika pembaca linimasa ada yang memberi saran soal navigasi web, tampilan blog, ukuran font, dan kepraktisan saat membaca, kami anggap sebagai bahan masukkan yang berarti. Kami segera diskusikan. Lalu ditindaklanjuti? Belum tentu. Masih dipikir-pikir lagi. Kami menyukai tampilan blog saat ini, walaupun kelemahannya adalah belum tercantum jelas nama penulis di setiap postingan setiap harinya. Ndakpapa. Pelan-pelan. Toh akhirnya pembaca mengetahui sendiri siapa yang tugas jaga dan piket hari ini. Fa Jumat, Roy Sabtu, Glenn Minggu, Gandrasta Senin, Agun Selasa, Gono Rabu, dan Nauval di hari Kamis. Ketika postingan muncul di hari itu, berarti petugas jaga-lah yang menulisnya.

+++

Linimasa Quo Vadis.

Hingga saat ini aku dan teman-teman linimasa tak tahu mau berujung dan berakhir dengan gaya macam apa linimasa ini. Dijual kepada raja media-kah? Diisi dengan berbagai iklan yang bejibun mirip dengkul dan koreng yang datang silih berganti di laman detik.com, mati suri tanpa alasan yang jelas, atau diam-diam menjelma sebagai situs properti yang menawarkan harga perumahan, pemakaman dan info kos-kosan. Entahlah. Aku ndak tahu. Satu yang jelas: kami masih begitu menikmatinya. Apalagi jika anda, pembaca mau untuk mengisi kolom komentar, atau susah payah mention akun twitter salah satu akun penulis, atau dengan mengirimi kami puja-puji. Bohong jika kami tidak menikmati itu. Respon pembaca bagian dari semangat linimasa.

Tulisan ini sebetulnya sebuah contoh kecil kecurangan. Alasannya sederhana.  Karena tulisan kali ini tidak menampilkan topik apapun kecuali menceritakan diri sendiri. Apa boleh bikin. Catatan kecil ini aku tulis buat teman-teman para penulis linimasa yang setiap hari telah dengan sudi, (mungkin) agak berat hati, menampilkan pendapat, berbagi informasi dan opini. Ada saatnya untuk selfie. Bukan lewat gambar, tapi postingan. Semoga Fa, Glenn, Gandrasta, Agun, Gono, dan Nauval dapat memaklumi.  Aku cinta kalian.

Terima kasih. Terima kasih. Dan terima kasih.

oh ya satu lagi. HIDUP SCIENTOLOGY !!!

Mau Nonton Apa?

Sebut saja dia mbak XY.

Usianya mungkin sekitar 22 tahun. Tidak mungkin lebih tua, karena dia masih berlari lincah setelah turun dari busway. Seperti pekerja metropolian seusianya, dia sering kesal melihat macet. Kekesalan itu tak berlangsung lama. Paling tidak sudah mereda saat masuk parkiran mall sebelum jam buka. Dia berjalan melenggang ke lift yang membawanya ke lantai paling atas di mall ini. Sambil memainkan hape dengan cekikikan tanpa melihat sekeliling, dia keluar lift menuju ruangan yang luas. Dengan penuh keyakinan , dia masuk ke sebuah pintu dengan tulisan “Yang Tidak Berkepentingan Dilarang Masuk“.

Jelas-jelas dia punya kepentingan. Sangat penting malah. Saking pentingnya, dia pun perlu mentransformasi dirinya sedemikian rupa. Dalam beberapa jam, pintu pun dibuka, dan … oh la la!

Mbak XY kini tampil anggun dengan cepolan sanggul yang terikat rapi di atas kepala. Lipstik merah di bibir serasi dengan riasan muka yang menambah usianya. Mbak XY tidak lagi jalan sambil cekikikan. Langkahnya santai. Dia tahu arah yang dituju. Sesekali dia menyapa rekan-rekan kerjanya, baik yang berbaju biru gelap maupun berseragam putih. Dia menuju meja panjang di sebuah sudut. Setelah duduk, dia menyalakan komputer, printer, lalu mengangkat tulisan “Closed”. Sambil tersenyum, dia berkata:

Selamat datang. Mau nonton apa?

Ya, mbak XY dan teman-teman seprofesinya yang tersebar di seluruh penjuru bioskop di seluruh dunia ini adalah orang pertama yang menentukan nasib kita dalam 2-3 jam ke depan. Apalagi kalau anda termasuk orang yang belum tahu mau nonton apa, dan baru memutuskan mau nonton apapun yang ada di bioskop saat itu. Misalnya:

Selamat datang. Mau …

“Uuuhh … Guardians of the Galaxy itu film apa ya, mbak? Kok kayak kartun tapi ada orangnya gitu? Kalo Grace of Monaco itu apa ya, mbak?”

Ini jawaban dari mbak XY: “Guardians itu film action komedi, banyak visual effect. Kalo Grace film drama.

Jawaban yang cukup netral, dan tidak menyesatkan. Atau mungkin anda sudah tahu apa yang mau anda tonton, tapi teman atau pasangan anda ragu-ragu.

The Great Gatsby yuk. Leonardo DiCaprio tuh.”

“Aaahh film apaan? Sejarah minyak rambut? Ogah. Kaya jadul gitu. Mending Fast & Furious.”

“Yaelah, bukannya kemaren udah nonton?”

“Ya gak papa. Filmnya lebih jelas lah, kebut-kebutan. Daripada judulnya gak familiar?”

Dan ujung-ujungnya, “Mbak, kalo Fast & Furious yang jam 7 malem, masih ada? Kalo gak ada, yang jam 9 deh. Kalo gak ada juga, The Great Gatsby aja, tapi jangan yang kemaleman. Dan kalo bisa duduknya di pojok, tapi jangan terlalu ke belakang.”

Ini yang dilakukan mbak XY:

  • tetep senyum
  • klik jam tayang film di depan customer
  • bilang, “Yang merah terisi, yang hijau masih kosong”, dengan nada suara otomatis
  • mungkin dia menjerit dalam hati “Yang ngantri masih panjang, cepetan milihnya, hadeeuh!”

Atau mungkin dia tidak berkomentar apa-apa selain, “Tiketnya harap dicek kembali, ya. Terima kasih, dan selamat menonton.”

Maklum, kalau dalam sehari ada 5 kali jam pertunjukan di masing-masing studio, katakanlah ada 4 studio di satu bioskop yang kapasitas kursi di tiap studio sekitar 150 kursi, berarti mbak XY dan teman-temannya harus berhadapan dengan sekitar 1.000 orang. Itu kalau tiap orang rata-rata beli 3 tiket.

Kalau 2 tiket? Ya makin banyak orang. Dan itu berlangsung setiap hari. Mungkin sebelum sempat kesal, udah keburu ada orang lain yang ngantri di belakang. Terlebih lagi, meja kerja mbak XY ini tidak boleh tidak beroperasi. Kalau mbak XY kebelet ke kamar kecil, ya ada loket lain yang harus buka. Kalau break makan, ada rekan lain yang akan menggantikannya.

Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg
Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg

Lalu kapan mbak XY nonton? “Ya kalo lagi off, mas. Sama aja, pake tiket, ngantri dari depan. Cuma ya kita udah tau lah mau nonton apa, hahaha.” Kerja tiap hari di bioskop, gak bosen emangnya nonton di bioskop? “Ya ke bioskop lain, mas. Tapi kadang nonton juga di sini. Kan enak ya, udah kenal sama temen-temen sendiri. Kalo bosen, ya nggak juga sih, mas. Kan filmnya ganti terus tiap minggu. Filmnya beda-beda gitu, ya gak pernah bosen lah.”

Somehow, her answer restores my faith in cinema, again. Jawaban yang terdengar dewasa dari usianya, mungkin karena tuntutan profesi juga, membuat saya makin percaya bahwa mbak XY dan rekan-rekannya adalah garda depan pengalaman menonton kita. Dari ujung jarinya, dia bisa membantu kita menentukan pilihan yang berujung kalau gak jadi seneng ya jadi bete. Dari tutur katanya, kita bisa tahu mana film yang rame, mana film yang sepi penonton. Dari pengalaman berinteraksi dengan ratusan sampai ribuan orang sehari, dia sudah bisa membaca karakter orang hanya dengan penglihatan sepintas saat mereka antri. Sesuatu yang mungkin layak untuk dianalisa mendalam, tapi tidak di ranah yang ringan ini.

Kalaupun ada yang mengancam kehadiran mbak XY, mungkin bisa jadi kehadiran online ticketing. Orang-orang seperti saya dan anda yang sudah tahu mau nonton apa, di mana dan jam berapa, pasti senang sekali dengan fitur human-less interaction ini. Apalagi ini hari Kamis, banyak film baru yang mulai keluar di bioskop hari ini. Pasti pengen buru-buru check jadwal bioskop deh selesai baca tulisan ini. Tapi beda lho rasanya disapa langsung dengan:

“Selamat datang. Mau nonton apa?”