Kalau Kita Pikir Kita Tahu Semuanya, Well …

the truth is, we hardly know anything.

Seorang penulis ternama pernah menulis di akun media sosialnya, bahwa “I believe we only show 10% of our life in social media”. Kurang lebih isinya seperti itu.

Saya mengamini pendapatnya. Bahwa tidak mungkin kita menampilkan seluruh kehidupan kita, atau seluruh aktifitas seharian kita, ke media sosial untuk dilihat dan ditelaah orang-orang asing yang tidak kita kenal. Meskipun kenyataannya sekarang, jauh lebih banyak yang berusaha mati-matian untuk melakukan hal tersebut, demi viral, eksistensi, kepopuleran dan alasan-alasan lain.

Jangankan untuk media sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, kita patut bertanya, yakinkah kalau kita tahu persis kehidupan orang yang dekat dengan kita?

Saat kita berpisah dengan pasangan kita setiap hari untuk saling berangkat kerja, tahukah kita apa yang pasangan kita lihat, rasakan dan lakukan sepanjang menuju tempat kerja, di tempat kerja, dan waktu mau pulang ke rumah? Saat anak selesai mencium tangan orang tuanya dan pamit berangkat sekolah, yakinkah orang tua benar-benar tahu kegiatan anaknya, dan anak benar-benar tahu rutinitas orang tuanya?

cache_6699210
Climber watching sunrise

Ada banyak sisi dalam diri kita yang mungkin sebagian dari kita sudah tahu apa saja sisi tersebut, dan mungkin ada yang belum secara penuh mengenali isi dalam diri. Adalah hak kita untuk mengungkap sisi mana yang mau kita bagi. Dan juga hak kita untuk membagi sebagian diri kita dengan orang-orang tertentu, agar ada kelompok-kelompok individu lain yang melihat sisi kita yang lain pula.

Sampai di sini apakah Anda masih bingung?

Saya mau bercerita sedikit.

Beberapa tahun lalu, salah satu teman terdekat saya akan menikah. Tentu saja saya dan beberapa teman lain ikut semangat menyiapkan diri untuk menghadiri pernikahan tersebut.

Namun beberapa hari menjelang acara besar, saya dilanda keresahan yang luar biasa. Sumber kegelisahan saya datang dari setitik keraguan mengenai hidup baru yang akan ditempuh teman saya. Dari mana keraguan itu muncul? Datangnya dari ketidaktahuan saya terhadap calon pasangan hidup teman saya tersebut.

Bukan sepenuhnya tidak tahu, hanya tidak dekat. Atau lebih tepatnya, tidak sedekat pertemanan kami.
Saya ungkapkan keraguan tersebut kepada beberapa teman lain. Semuanya memberikan tanggapan yang kurang lebih senada, yaitu agar saya wish them well saja. Tentu saja tidak meredam kegelisahan saya.

Sampailah di hari perhelatan acara.

Rangkaian prosesi pernikahan, mulai dari menyerahkan seserahan, duduk di belakang calon pengantin, semua kami ikuti sesuai aturan. Kami duduk mendengarkan petuah dari para pemuka agama, dan juga sambutan dari masing-masing orang tua. Tentu saja saya mendengarkan semuanya sambil membiarkan pikiran ini menari-nari sendiri dengan berbagai macam lamunan dan pemikiran tentang keraguan saya.

Sampai pundak saya ditepuk salah satu panitia.

“Mas, bawa kan flash disk yang dititipkan minggu lalu?”

“Oh iya. Hampir lupa. Sebentar ya.”

Saya bergegas ke mobil yang mengantar kami. Saya hampir lupa, kalau seminggu sebelumnya, ada seorang video editor yang menitipkan sebuah flash disk. Katanya itu berisi video dan foto calon pengantin. Sempat saya tanya, “Pre-wedding video?” Lalu editor itu menggeleng dan tersenyum. Katanya, “Nanti lihat saja sendiri.”

Of course saya belum sempat melihatnya dari saat menerima flash disk tersebut sampai hari pernikahan tersebut. Lalu saya serahkan flash disk tersebut ke panitia, dan kembali ke tempat duduk mengikuti rangkaian resepsi.

Sampai pada akhirnya MC memimpin pembacaan doa, lalu acara inti pernikahan selesai. Teman saya telah sah menikah, baik di mata agama maupun hukum. Para tamu mulai kasak-kusuk berdiri untuk antri foto bersama pengantin baru. Kami masih duduk-duduk santai sambil mengecek ponsel masing-masing.

thinking-about-life

Lalu MC berkata, “Sambil menikmati hidangan yang ada, kami akan memutar cuplikan video dan foto pasangan baru kita hari ini.”

Mata saya lalu beranjak ke dua layar televisi berukuran cukup besar yang sudah dipasang. Live feed sudah diganti dengan montage foto-foto teman saya dan, waktu itu, pacarnya. Saya tersenyum. Lalu cuplikan foto-foto berganti dengan video yang dibuka dengan tulisan “Sehari Bersama Mereka”.

Saya tertawa kecil sendiri, melihat teman saya memakai kaos yang pernah saya berikan sebagai hadiah ulang tahun. It looks familiar. Namun perasaan familiar tersebut hanya berhenti sampai di situ.

Saya tertegun melihat video itu. Di situ saya melihat sosok teman saya yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Yang sangat attentive dalam mendampingi pasangannya. Yang berbicara dalam nada suara yang berbeda, dan terlihat sungguh-sungguh, seakan tidak ada kamera yang mengikutinya. Yang memandang dan berbicara kepada pasangannya dengan tatapan seolah-olah tidak ada orang lain di sekitar mereka.

Yang berbeda dengan cara interaksi terhadap saya dan teman-teman kami lainnya selama lebih dari satu dekade kami berteman.

Di momen itu saya sadar bahwa seberapa lama pun kita mengenal orang lain, selalu ada bagian lain dari orang itu yang tidak pernah kita tahu sebelumnya. We never fully know a person. We can only know a glimpse of a person, and sometimes, that’s all we need to know.

Terus terang saya terharu saat video itu selesai, dan kembali memutar cuplikan foto-foto. Tidak ada yang tepuk tangan. Namun ada perasaan lega dalam hati seusai melihat video tersebut. Tiba-tiba keraguan saya hilang begitu saja. Yang ada adalah keyakinan, even just a hunch, bahwa teman saya telah memilih keputusan yang tepat. Dan akhirnya saya bisa memeluk mereka berdua di pelaminan saat sebelum kami foto bersama dan mengatakan dengan penuh keyakinan tanpa ragu, “Congratulations!

how-do-i-truly-know-if-god-is-calling-me

Seperti layaknya kita tidak pernah mengetahui secara penuh jati diri orang lain, kita pun tidak bisa mengharapkan orang lain tahu keseluruhan diri kita. Tetapi kita bisa selalu memilih, apa yang kita perlu tahu dari orang lain, dan apa yang orang lain perlu tahu dari kita.

And that is enough.

Membuka Diri

Terus terang, saya bingung mau menulis apa hari ini. Makanya sampai jam makan siang ini, saya belum tahu harus menulis apa. Yang saya tahu hanya penyebab kebingungan ini. Apakah itu?

Negativity. Atau atmosfir negatif di sekeliling kita akhir-akhir ini.

Susah rasanya tidak melihat, membaca atau mendengar begitu banyak berita negatif yang mengepung kita belakangan ini. Saya sudah jarang, bahkan hampir tidak, menonton stasiun televisi lokal beberapa tahun terakhir ini. Namun begitu, kepungan berita negatif menyerbu ranah media sosial, yang lebih sering kita cek dibanding televisi lokal. Tentu saja, yang memperkeruh berita-berita yang sudah keruh ini adalah komentar-komentar dari pembacanya. Meskipun sudah berusaha di-skip, tak urung juga terlihat beberapa komentar yang membuat kita miris sambil berpikir, “Apakah benar kita sama-sama hidup di satu negara?”

Di salah satu kelompok pertemanan saya, seorang teman sudah menjadi korban cacian dari teman lain, yang kebetulan sebagian besar dari kami juga mengenal pencaci ini. Tidak menjadi isu kalau cacian tersebut ditulis dalam candaan. Namun ketika cacian tersebut sudah menyebutkan urusan hidup dan mati, maka perkaranya menjadi lain.

Yang membuat saya sedih dari banyaknya pemberitaan negatif ini adalah keengganan banyak kelompok masyarakat untuk maju. Di saat ranah-ranah negara lain sibuk menciptakan kemajuan baru dalam berbagai hal, mulai pangan, kesehatan sampai teknologi, kita malah menutup diri. Block sana-sini. Mengagungkan masa lalu. Berpaling pada ekstrimisme. Menutup mata pada perbedaan. Menjadi mayoritas yang menindas. Menolak ilmu baru. Merusak budaya.

(Courtesy of Huffingtonpost.com)
(Courtesy of Huffingtonpost.com)

Daftar di atas masih bisa jauh lebih panjang lagi. Semuanya membuat seakan-akan kita hidup dalam keputusasaan, seolah-olah tidak ada masa depan lagi.

Kalau berpikir jauh membuat pusing, maka mungkin kita memulai dari masa depan yang paling dekat dulu, yaitu esok hari.

Tulisan ini saya tulis di hari Kamis siang, tanggal 3 November, satu hari sebelum demo besar yang rencananya akan dilakukan di hari Jumat, tanggal 4 November. Pada saat saya menulis ini, saya sudah berencana melakukan beberapa hal untuk menghadapi esok hari, yaitu:
– bangun pagi, lalu membereskan tempat tidur,
– sarapan kopi dan buah-buahan,
– memanggil tukang AC,
– membaca novel yang belum selesai,
– menyelesaikan pekerjaan yang tertunda,
– memasak makanan sendiri,
– menonton serial televisi dan film, dan,
– sesekali mengintip sosial media, dan menahan diri untuk tidak menyebarkan berita yang belum pasti.

Apabila ternyata besok pagi ada kabar lain yang mengharuskan saya mengubah rencana-rencana di atas, maka mau tidak mau saya harus siap. Yang penting kita harus membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan baru. Karena mulai dari membuka diri terhadap rencana baru lah, baru kita bisa membuka diri terhadap ide-ide baru lainnya yang lebih besar, and eventually, to many differences ahead.

Yang jelas, despite the inescapable negativity, never give in. Pelan-pelan kita membuka diri, sesusah apapun itu, bahwa masih ada hal-hal lain dalam hidup that makes life worth living.

(Courtesy of pickthebrain.com)
(Courtesy of pickthebrain.com)

Mari.

Soal Panjat-Memanjat

MENURUT Mas Roy beberapa pekan lewat, bahwasanya Path adalah aplikasi media sosial yang paling cocok untuk Pamer Anak, Tempat, dan Hidangan. Barangkali beliau sedang berbaik budi kala itu, lantaran senyap menyinggung tentang fungsinya sebagai salah satu instrumen vital dalam kegiatan paling penting umat manusia zaman sekarang: pemanjatan sosial.

Kehidupan sosial spesies kita mirip piramida rantai makanan, mengerucut ke atas. Mereka yang bisa dibilang unggul secara sosial, berada pada posisi puncak. Beberapa indikatornya adalah reputasi, popularitas, dan lazimnya dibarengi dengan keleluasaan ekonomi sehingga menghasilkan signifikansi. Paduan dari itu semua tentu bikin banyak orang kagum sekaligus iri. Singkat kata, makin berada di atas piramida sosial, maka makin selebriti lah seseorang tersebut.

Untungnya saja, kita tidak perlu berevolusi jadi pemangsa untuk bisa merintis jalan menuju atas, turut menumpang tenar, dan ikut diidentikkan dengan para selebriti sebenar. Yang diperlukan hanyalah kemampuan memanjat jenjang piramida tadi. Apalagi di era media sosial seperti sekarang ini, ketika foto, rekaman video, dan bentuk-bentuk dokumentasi lainnya mudah disebarluaskan serta diakses publik. Misalnya, dengan sering-sering mengunggah foto wefie bersama selebriti di kafe, party-party, maupun berbagai tempat menongkrong masa kini, kita pasti ketempelan label populer. Minimal dikenal sebagai temannya si anu dan si inu.

Foto ini seksis? Eit, siapa yang bisa memastikan apakah ini cewek atau cowok? Hayolo…

Adapun dimaksud selebriti di sini, tidak mesti artis yang saban hari wajahnya muncul di layar televisi. Orang-orang terkenal dengan lingkar pergaulan paling hits seantero kota pun masuk dalam kategori ini. Toh mayoritas artis benaran sudah telanjur ber-KTP Jabodetabek. Selain itu, pastinya harus menarik secara visual. Entah dari wajah maupun bentuk tubuh, penampilan dan barang-barang yang dikenakan, jenis kendaraan yang tidak pasaran, lokasi kongkow atau tempat berlibur, karya seni yang dibuat, dan sebagainya. Pokoknya, mereka-mereka yang bisa memunculkan pertanyaan: “temanmu itu siapa sih? Keren banget!” Kita yang ditanyai, pasti juga ikut-ikutan berasa keren, karena bergaul dengan orang-orang keren. Hahaha!

Apakah aktivitas social climbing ini mudah untuk dilakukan? Kelihatannya sih iya, padahal ya tetap harus pakai usaha. Setidaknya harus menyesuaikan penampilan dan gaya, dan yang paling penting adalah maintenance keakraban dengan grup sang primadona. Ya kalau memang dari sananya sudah mampu, sah-sah saja. Masalahnya justru muncul ketika seseorang memaksa dirinya terlampau keras untuk tetap sanggup menjalani situasi ini.

Lalu, bila ditanya buat apa berlelah-lelah ria bahkan sampai pontang panting menguras isi tabungan demi ini, jawabannya paling-paling hanyalah popularitas dan ilusi VIP Access yang mudah sekali menguap hilang. Selebihnya, hanya orang oportunis yang benar-benar mampu memeras kesempatan ini untuk kepentingan yang lebih material. Ya ndakpapa sih, hitungannya rezeki masing-masing. Jika demikian, kemungkinannya hanya dua: aji mumpung memanfaatkan ketenaran lingkungan pergaulannya, atau terinspirasi untuk membangun kekerenannya sendiri setelah belajar dan menyerap peluang.

Harap dipahami. Jelas ada perbedaan yang sangat besar antara hubungan pertemanan atau persahabatan, dan social climbing. Apabila memang kebetulan berteman dengan orang-orang hebat, tentu saja tidak perlu ada fakeness di dalamnya. Janjian, lalu ngafe bareng. Foto bareng, karena memang sama-sama gila foto. Penuh dengan obrolan yang saling nyambung tanpa perlu ketawa terpaksa dan sejenisnya. Cukup sudah. Pun dibarengi dengan kesukarelaan untuk menjaga yang patut dijaga. Tahu sama tahu, bukan malah disebarluaskan.

Sayangnya, kalau sudah social climbing, seringkali harus ada yang dipas-paskan. Namun malah bisa saling menjelek-jelekkan di belakang. Cipika-cipiki dan perbincangan sekadar jadi basa basi pergaulan. Enggan berhenti berteman, karena ada pamrih yang sayang untuk dilewatkan. Begitu tujuan tercapai, baru deh menghilang dari peredaran. Kan itu codot namanya.

Perbedaan antara hubungan pertemanan dan social climbing ada pada respons lanjutan. Umumnya, seorang pemanjat sosial memutuskan bergaul dengan seseorang demi bisa masuk ke lingkup yang lebih luas. Setelah kenal dengan orang lain yang punya pengaruh lebih kuat, biasanya kenalan pertama dinomorduakan. Begitu seterusnya. Ditandai dengan mulai pilih-pilih teman menongkrong, sampai cuek total. Malah kadang ada yang kembali jadi remaja puber. Bisa gonta-ganti geng kayak di sekolahan. Hari ini temanan dengan si ini, besok temanan dengan si itu pakai bumbu ngata-ngatain. Labil.

Bagi kamu yang mulai membaca gelagat seperti ini di antara teman-temanmu, ya silakan disikapi dengan bijaksana. Apakah didepak langsung, atau tetap dengan welas asih mengajaknya kembali ke jalan yang benar.

Sedangkan bagi kamu yang pengin atau tengah merintis kiprah sebagai seorang social climber, ya terserah sih. Hak masing-masing. Tapi mbok ya ditanyakan apa gunanya ke diri sendiri? Apa untungnya membohongi diri sendiri? Apa enaknya bermuka dua, tiga, empat, dan seterusnya. Buat apa melakukan sesuatu hanya demi dilihat dan dipuji orang lain? Kalau suka bilang suka, kalau tidak ya jujur saja bilang tidak. Begitupun juga kalau mampu ya lakukan, kalau tidak mampu ya enggak usah dimampu-mampukan.

Kalian ndak capek kah?

[]

Nb.: Mudahan saya ndak termasuk seorang pemanjat. Kalaupun pernah, itu berarti dulu khilaf.

Ingin Ini Ingin Itu Banyak Sekali…

Terserah kamu mau punya teori seperti apa, atau mau idealis yang bagaimana. Tunggu aja nanti kalau sudah kawin.

Terdengar seperti ancaman, kalimat di atas sebenarnya menyampaikan pengingat, markah, isyarat supaya jangan kaget dengan perubahan yang bakal terjadi ketika sudah tak lagi hidup sendiri. Ujaran ini dilontarkan seorang kawan sebaya, sudah masuk kategori “Machmud Abas”, dan langsung diamini “Machmud-Machmud” lainnya. Diskusi informal tersebut ditutup dengan kalimat: “ya udah, kita doain kamu cepat kawin. Biar nanti bisa ngerasain sendiri.

*pencet tombol Rewind*

Mau bagaimanapun, selalu ada jurang yang memisahkan antara Das Sein dan Das Sollen dalam setiap hal; yang sedang terjadi dan yang diharapkan terjadi. Termasuk dalam kehidupan pernikahan. Dimulai saat pasangan pengantin baru dipuja kanan kiri. “Kamu beruntung loh dapat suami/istri dia,” diikuti dengan sederet kualitas-kualitas positif. Mulai dari rupawan, pintar cari uang, jujur, pintar, baik hati, pintar masak, sampai seksi ga ketulungan. Bikin senang. Namun lambat laun, menghasilkan rahasia-rahasia rumah tangga yang memang semestinya disembunyikan.

Sebelum menikah, sejumlah bayangan dimunculkan. Ada cowok-cowok yang berniat ingin jadi kepala rumah tangga idaman… semua orang. Tetap mampu mempertahankan kekerenan lewat penampilan, rajin nge-gym, atau berolahraga bersama teman-temannya. Ingin jadi hot young daddy yang tak segan jalan bareng anaknya saja. Ingin jadi sumber nafkah yang berkelimpahan bagi istri dan anak-anak, baik sebagai pekerja maupun pemilik usaha.

Ingin bisa mengantar jemput anak dari sekolah. Ingin bisa menyaksikan semua pertunjukan seni yang digelar di sekolah. Ingin punya cukup waktu untuk jadi partner diskusi yang menarik bagi sang buah hati. Ingin menjadi saksi bengalnya si putra yang jago sepak bola, atau populernya si putri di sekolah. Ingin memiliki fisik yang cukup kuat, untuk tetap sanggup menghadiri wisuda sang anak di luar negeri, menyeleksi calon menantu, mengantarkannya ke altar pemberkatan pernikahan atau mendampingi kala dia duduk berhadap-hadapan dengan penghulu. Ingin mendampingi, memberikannya nasihat dan petunjuk saat merintis usahanya sendiri, atau kala terlibat pertengkaran rumah tangga. Ingin tetap sigap untuk mendampingi anak/menantu saat menantikan proses persalinan di rumah sakit. Bahkan jika umur memungkinkan, ingin terus bisa berbagi cerita dengan cucu.

Di sisi lain, para cewek juga pengin jadi istri sekaligus mama terbaik. Bisa mempertahankan kecantikan yang telah membuatnya disunting seorang pria. Lalu, sebagian dari mereka berharap bisa menikah dan punya anak di bawah umur 30 tahun, bila memungkinkan. Bukan lantaran berpandangan tradisional atau konvensional, tapi mempertimbangkan selisih usia. Akan terasa menyenangkan, katanya, bila suatu saat bisa ke mal belanja diskonan bareng si anak gadis, atau ngafe-ngafe lutju bareng. Sambil menunggu momen tersebut, sang mama pun berusaha sekuat tenaga untuk membuat anak-anaknya tampil kece maksimal.

Kalau dibawa bernala-nala, memang ada baiknya begitu. Usia tidak punya bau. Mumpung masih muda dan bertenaga, mendampingi anak dan mengajarinya banyak hal sejak awal. Ben ndang mentas, kalau kata orang Jawa. Bakal senang rasanya, ketika di usia lepas SMA, sang buah hati sudah berkenalan dengan ihwal wirausaha, atau punya keahlian yang bisa di-freelance-kan. Sudah paham susah sekaligus menyenangkannya cari duit dengan gaya kekinian. Menyapihkan diri, berani lepas dari dekapan orangtua, yang dibiarkan tetap menikmati kesibukan bisnis dan usaha selama ini. Belum lagi kalau sang mama adalah wanita karier, yang bukan hanya mandiri, namun juga cerdas, punya kapasitas, dan berkarisma.

Semua gambar boleh comot Google.

 

Seru ya.

Kenyataannya, kita semua tetap takluk dengan misteri masa depan. Tidak ada yang mustahil, termasuk kemustahilan itu sendiri. 😀 Impian pun ada untuk dicapai, meskipun seperti yang kita ketahui, hasil akhirnya cuma dua. Apabila tercapai, maka pantaslah kita untuk terus memanjatkan rasa syukur. Apabila meleset, berarti kenyataan tak sesuai rencana. Harusnya sih ndakpapa. Hanya saja, mereka-mereka yang belum menikah biasanya punya tingkat optimisme yang tinggi. Sampai akhirnya mesti dibuat waspada dengan jawaban berikut ini:

Terserah kamu mau punya teori seperti apa, atau mau idealis yang bagaimana. Tunggu aja nanti kalau sudah kawin. Biar nanti bisa ngerasain sendiri.” Setingkat lebih tinggi ketimbang pertanyaan “kapan kawin?” dan sejenisnya.

Teruntuk semua orangtua, muda maupun tua, You Rock! Keren dengan kekerenannya masing-masing. Banyak pula yang enviable, patut bikin iri. Uwuwuwuwu

Teruntuk Anda yang punya sikap dan pilihan berbeda soal pernikahan, termasuk yang masih menanti kesiapan, You’re awesome too! Nothing can bring You down!

[]

Pitch

Salah satu kata dalam bahasa Inggris yang paling ditakuti adalah “pitch”. Bukan tanpa huruf P (karena untuk ini sudah ada obat penawar rasa gatal) dan bukan berawalan huruf B (karena untuk ini, apalagi yang mengacu kepada jenis orang tertentu, belum ada obatnya).

Kata “pitch” ditakuti oleh pemain cricket atau baseball tepat di detik-detik penting saat pemain mulai melempar bola. Kata “pitch” juga menjadi momok setiap kontestan penyanyi yang bersaing di ajang lomba pencetak bintang di televisi. Kata “pitch” bisa bikin resah gelisah berhari-hari bagi pegawai di perusahaan iklan saat hendak mempresentasikan ide mereka di depan calon klien.

Beberapa hari yang lalu, saya terlibat penyelenggaraan sebuah workshop pendanaan film. Intinya, workshop ini membuka kesempatan bagi mereka yang punya ide cerita film untuk mendaftarkan karya mereka. Siapa tahu ide cerita itu bisa kita danai untuk dijadikan film. Dan workshop ini bertujuan untuk mempersiapkan mereka agar mereka siap untuk “pitch”, alias jualan mati-matian gagasan dan rencana mereka agar ide bisa terwujud dan bisa ditonton banyak orang.

Dari sekian banyak pertanyaan selama workshop 2 hari itu, rupanya ada satu pertanyaan yang terus banyak ditanyakan peserta dalam berbagai variasi pertanyaan:
“Kalau misalnya kita belum punya karya apa-apa, karena ini project pertama kita, lalu apa yang bisa kita presentasikan?”

Dari beberapa mentor yang datang silih berganti, semua menjawab pertanyaan tersebut dengan berbagai variasi jawaban yang kurang lebih intinya sama:
“Sell yourself. You must have something in you or your work to sell.”

Contohnya:
– tidak punya portfolio pernah bikin film sebelumnya, jadikan saja salah satu bagian naskah film yang akan dipresentasikan itu ke dalam gambar hand drawing;
– punya pengikut banyak di Twitter atau Instagram? That’s something! Apalagi di jaman sekarang ‘kan?
– punya kenalan banyak di, misalnya, jasa sewa angkutan? You can strike a partnership with them!
– masih berhubungan erat dengan teman-teman SMA, kuliah dan kantor lama? Hello, free promotion!

tumblr_m3tbw3zNGv1r56z3w

Sell yourself.
Pitch yourself.
Life is about selling.

Bukan hanya dalam konteks workshop dan membuat film di atas, tapi pergerakan kehidupan membuat kita harus bisa membuat diri kita unik dan tak terganti.
Paling tidak ini yang pernah kami sampaikan ke satu sama lain dalam grup perbincangan sesama penulis Linimasa dulu: “make yourself irreplaceable in your line of work.

Itu memang tujuan akhir kerja keras kita.
Tapi sebelum ke sana, mem-“pitch” diri sendiri adalah pekerjaan rumah (pe-er) nomer satu setiap kita akan melangkah.

Kenapa harus hire saya meskipun saya belum berpengalaman kerja? Justru karena baru pertama kali bekerja, maka semangat saya mengerjakan ini akan sangat jauh melebihi mereka yang sudah berpengalaman kerja.

Kenapa harus project saya yang kalian pilih? Karena project yang berawal dari hati akan mudah dijalani bersama.

Kenapa harus saya yang jadi pacar kamu? Karena kamu belum laku, tapi saya masih mau sama kamu, maka jadinya gak ada lagi “saya” atau “kamu”, tapi cuma “kita berdua”.

Lalu muncul pertanyaan baru:

Kalau kalian harus “pitch” tentang Linimasa, kira-kira apa ya?

Blup… Blup… Blup…

Mau tau caranya?

Baskom, kamu isi air penuh-penuh. Kamu masukin kepalamu.”

“Trus, kamu teriak kuat-kuat. Sekencang-kencangnya. Sampe capek. Sering-sering aja begitu.

***

Di rumah, mahasiswa semester V itu pun mempersiapkan baskom penuh air. Sejenak, mendadak ia teringat masa kanak-kanaknya. Selalu kungkum air hangat ketika mandi, dan menghabiskan lebih dari 60 menit bermain air sampai kulit jemarinya kisut semua. Kehidupan terasa lebih hangat dan menyenangkan, ringan, tanpa beban.

***

Kian petang. Ia mulai menjalani petunjuk yang disampaikan beberapa jam sebelumnya itu. Bersimpuh menghadap baskom hitam yang bau plastik. Ndak pakai gerakan dramatis apa-apa, ia masukkan kepalanya ke air sedalam cuping telinga setelah menarik napas panjang.

HAAAAARGH…!” Ia mulai berteriak dalam air. Senyaring-nyaringnya. Sekuat tenaga. Sampai terasa panas batang tenggorokannya. Tindakan itu ia ulangi sampai empat atau lima sesi, masing-masing berlangsung kurang dari lima menit. Di sesi pertama, teriakan itu menggema dalam rongga kepalanya. Ia mendadak menghentikan latihannya. Takut-takut teriakannya terdengar seisi rumah. Bisa bikin kaget dan panik, pikirnya. Baru pada sesi kedua, ia sadar bahwa teriakannya hanya nyaring dalam bola kepala saja. Partikel air hanya menyisakan bunyi lirih, beserta letusan gelembung udara. “Blup… Blup… Blup…Ndak signifikan.

***

Kurang lebih lah.

Demikianlah “jurus” yang dibagikan seorang (almarhum) penyiar radio asal pulau Jawa–ninetyniners Bandung, begitu katanya–kepada penyiar magang, si mahasiswa. Berkaitan dengan pita suara, dan warna vokal untuk dipakai mengudara.


Era media sosial, sekarang. Ketika semua orang bebas berbicara, dan meninggalkannya di linimasa sendiri-sendiri untuk dibaca manusia lainnya, lalu berharap mendapat ratusan respons biar berasa populer. Ketika makin banyak “lulusan Twitter/Facebook/Instagram Institute”, ketimbang para ahli benaran. Ketika kata eksis mendadak punya makna sosial berbeda, dan seolah hanya bisa tercapai dengan bertindak ceriwis terhadap hampir semua hal. Mulai foto makanan sampai UMK. Dari kegalauan delusif sampai debat enggak penting tentang apa saja mengenai presiden ketujuh republik ini.

Khusus untuk contoh terakhir di atas, sumpah ya, melelahkan dan bikin muak saking seringnya. Tidak mustahil, Anda yang sedang baca tulisan ini sekarang, juga kerap menyimak bahkan tercemplung dalam perdebatan itu. Rata-rata dipicu posting-an di halaman depan Facebook. Bisa berupa status panjang lebar, juga berupa foto sharing-an dengan caption yang berparagraf-paragraf, atau tautan artikel tendensius dari situs-situs berkedok portal berita maupun blog yang Anda tahu sendirilah nama serta rupanya.

Mereka, yang terlibat dalam perdebatan berwujud puluhan hingga ratusan komentar, terlihat mengerahkan semua daya upaya untuk berargumentasi; berusaha menunjukkan bahwa hanya dia dan pemikirannya sajalah yang paling benar. Sedangkan partisipan lainnya tersesat, keliru, dungu, fanatik, pantas untuk dicemooh dan ditertawakan. Tanpa sadar, mereka seperti berteriak di dalam sebaskom air. Merasa nyaring dan menggemparkan, padahal kenyataannya hanya berupa bunyi mirip kentut setengah jadi.

Tidak ada yang luput dari kekonyolan ihwal perdebatan itu. Merasa terpanggil untuk menyampaikan pembelaan dan pernyataan penguat, padahal hanya dalam beberapa menit kemudian status pemicu perdebatan bergeser ke bawah, terganti dengan posting-an yang lain. Lalu, para pendebat dari kedua sisi pun tetap tak tergoyahkan. Teguh dalam hematnya masing-masing dengan cara yang boros tenaga. Tidak ada yang berpindah.

Ndak ketemu.

Seperti dua lingkaran dalam Diagram Venn. Terpisah sangat jauh, saking berbedanya, sampai-sampai ndak layak lagi disebut sebuah Diagram Venn. Setiap lingkaran mewakili/diisi orang-orang berpikiran homogen. Pendapat setiap orang dari lingkaran yang sama, diiyakan, diapresiasi, dan dipuji. Semua instrumen yang digunakan untuk memperkuat gagasan pun dianggap sebagai objek yang paling tepat, dan mewakili realitas. Sementara pendapat setiap orang dari lingkaran di seberang, ditolak, direndahkan, dan dihina. Itu pun kalau terdengar/sudi didengarkan dengan jelas oleh penghuni lingkaran satunya. Semua instrumen yang digunakan orang di lingkaran seberang pun dianggap sebagai objek abal-abal, hasil kamuflase, mengada-ada, dan kebohongan. Lagipula, tidak ada yang bersedia untuk ke luar dari lingkaran masing-masing. Nyaman secara khayali.

 

Mana yg benar?

Mungkin salah satu di antaranya.

Mungkin keduanya.

Atau mungkin tidak ada sama sekali.

 

Bukan perkara lingkaran mana yang benar dan salah, melainkan gaung semu yang hanya menggema dalam ruang terbatas; lingkaran homogenitas. Senyaring apapun dukungan atas sebuah pemikiran, atau sekeras apapun penolakan atas pemikiran yang berlawanan, hanya riuh rendah dalam lingkaran. Ndak peduli, mungkin juga ndak sadar kalau ternyata masih ada ruang tanpa batas di luarnya.

Walhasil, perdebatan nihil hasil. Membuang waktu, menyita perhatian dan konsentrasi, sok dramatis, tidak produktif, tanpa faedah yang berarti. Paling banter ya melatih kemampuan mengetik dengan cepat, meskipun kadang tidak tepat, banyak typo-nya.

Ehm, walau bagaimanapun, ialah hak setiap orang untuk ngapain aja, terlebih di dunia maya. Selama tidak ad hominem alias penghinaan yang bisa dituntut sebagai delik aduan, ya terserah Anda saja. Satu hal yang pasti: itu ngganggu. 🙂


Anyway, rupanya “jurus” teriak dalam air tidak mempan memodifikasi pita di tabung tenggorokan. Sampai saat ini, suara saya masih cempreng. Berasanya sih bikin ilfil. Tidak terdengar dalam, teduh, dan menenangkan seperti kebanyakan suara cowok yang sudah rampung pubertasnya. Malah ketambahan sengau, mirip orang yang baru kelar selesma.

[]

Santai Saja

Pertamax, Gan!

Bukan untuk membantu pemerintah mempromosikan bahan bakar nonsubsidi, ungkapan itu populer di semesta maya Nusantara sejak beberapa tahun terakhir sebagai ekspresi kebanggaan. Bangga, lantaran “berhasil” menjadi pemberi komentar pertama pada sebuah topik, mendahului ratusan atau ribuan respons lain. Walaupun sejatinya, “komentar” yang ditulis itu tidak menyampaikan apa-apa.

Memang, manusia adalah makhluk yang kompetitif. Punya kecenderungan untuk ingin selalu menjadi yang pertama. Sifat tersebut bahkan ditunjukkan secara alamiah sebelum terjadinya pembuahan, saat jutaan sel sperma mesti bersaing dulu-duluan berkontak dengan satu sel ovum. Sampai akhirnya menjadi bakal si jabang bayi.

Masih tentang keterciptaan serta keberlangsungan spesies kita, dan objek di selangkangan. Ada dugaan ilmiah bahwa manusia memiliki pelir berbentuk unik juga gara-gara alasan serupa. Jangan dikira adanya celah sambungan antara kepala dan batang cuma untuk mempermudah genggaman. Terdapat fungsi kompetitif dan praktis di balik kehadirannya. Agar menjadi pejantan pertama, yang jutaan sel spermanya bisa benar-benar bergerak efektif menuju calon pasangan.

Ketiga contoh di atas menggambarkan betapa pentingnya pencapaian manusia sebagai “yang pertama” terhadap keberadaan fisik, dan keberadaan sosialnya.

Faktanya, banyak orang di sekitar kita, karena gengsi dan didorong oleh ilusi harga diri, berusaha setengah mati untuk jadi “yang pertama” demi eksistensi. Kelihatannya sih gembira, entah apa yang mereka rasakan sebenarnya.

Misalnya, ada yang mbelani terbang ke luar negeri, untuk beli dan jadi pemilik iPhone 6 pertama di kotanya. Barangkali dia memang fanboy sejati, sehingga sudah tak sabar ingin menikmati semua fitur terbaru dari telepon genggam superpintar seharga satu unit motor bebek itu. Lain ceritanya kalau dia hanya pengin pamer kemampuan membeli, tapi ndak paham cara pakainya. Kasihan.

Ada yang girang luar biasa, jadi orang pertama yang berhasil membeli koleksi terbaru kaftan mahalan (apalah namanya itu) setelah fotonya diunggah ke Instagram. Barangkali dia memang perempuan dengan selera berbusana yang mumpuni, sehingga giat berburu kaftan berkualitas tinggi. Lain ceritanya kalau dia hanya ingin ikut-ikutan tren, supaya ikut terlihat happening saat sedang arisan bersama teman-teman. Norak.

Ada yang berusaha tetap bersikap rendah hati, setelah namanya dicatat besar-besar sebagai donatur pertama dalam acara malam amal prestisius di grand ballroom hotel berbintang. Sebuah acara mewah berkelas yang dihadiri para konglomerat, selebritis, dan pejabat tinggi. Barangkali dia memang orang kaya yang punya jiwa sosial tinggi, ingin membagi sedikit hartanya untuk membantu panti asuhan, dan sebagainya. Lain ceritanya kalau ternyata dia hanya berharap mendulang reputasi, pengakuan, dan predikat terpuji di mata orang lain. Pencitraan.

Pernah berhubungan dengan orang-orang seperti itu? Apakah Anda terusik? Apabila iya, mungkin Anda iri. Kalau tidak iri, barangkali Anda cuma kurang kerjaan, sampai bisa memerhatikan orang lain dengan porsi yang agak berlebihan. Soalnya, bagaimanapun juga, semua tindakan mereka itu tidak ada sangkut pautnya dengan Anda. Mereka berangkat ke luar negeri, membeli barang-barang supermahal, dan berdonasi dengan uang, tenaga, dan waktu mereka sendiri. Dan Anda bisa dengan mudahnya mlengos begitu saja sambil berseru “bodo amat, bukan urusan gue inih!

Toh kalaupun mereka melakukan semua itu untuk tujuan yang kurang tepat, ada risiko dan konsekuensi yang bakal mereka hadapi sendiri. Jangan lupa, semua orang dibekali kemampuan untuk belajar dari pengalaman.

Kucingnya orang.
Kucingnya orang.

Jika mereka terkesan berupaya setengah mati untuk menjadi “yang pertama”, biarlah itu menjadi urusan mereka saja. Kita tidak perlu ikut-ikutan ribet sok menasihati, sok cemburu, atau sok benar menyikapi tindakan mereka. Cukuplah bersikap cuek, dan kembali fokus pada apa yang sedang/harus kita lakukan. Masih banyak yang lebih penting untuk diselesaikan, ketimbang mengurusi orang lain.

Hal yang lebih penting tadi, termasuk menjaga diri kita agar jangan sampai–secara sadar atau tidak–ikut setengah mati ingin jadi “yang pertama” hanya gara-gara gengsi dan latah budaya.

Memutuskan nonton film tertentu biar terkesan update, padahal waktu nonton bosannya ndak karu-karuan. Tapi kemudian sok yakin menjelaskan nilai moral, sinematografi, serta interpretasi pribadi. Nekat pesan espresso saat mengunjungi kafe baru, lalu menyumpah dalam hati “sudah isinya sedikit, mahal, pahit lagi!” Tapi kemudian memproklamasikan diri sebagai pecinta kopi asli, bukan produk pasaran. Minta diundang ke pagelaran busana haute couture. Padahal boro-boro jadi buyer, isi kepala saja blank sepanjang acara. Datang ke pameran seni, hanya untuk foto selfie di depan karya-karya yang ada, meski ndak paham dengan apa yang dipamerkan. Tapi kemudian mengaku hipster, sebagai generasi dengan hobi baru yang belum lazim selama ini. Serta masih banyak bentuk-bentuk kelatahan yang melelahkan lainnya.

Lagipula, nyari apa sih dengan menjadi “yang pertama”? Kenapa ndak sekalian aja ngejar jadi “yang pertama” menghadap ke yang mahakuasa? Biar snobbish-nya lebih istimewa.

[]

Berani?

Apa artinya bertindak baik kepada diri sendiri, tanpa bertindak baik kepada orang lain. Lalu, akan sangat naif dan bodoh bila bertindak baik kepada orang lain, tetapi tidak diimbangi dengan bertindak baik kepada diri sendiri.

Mau yang mana? Kalau kata guru BP dan PPKn sih harus dijalankan dua-duanya.

Bisa? Barangkali. Entahlah.


Apakah saya orang baik? Mungkin, bagi beberapa orang. Tidak sedikit pula yang beranggapan sebaliknya.

Penilaian kedua dihasilkan dari beragam penyebab dan alasan. Toh, saya memang bukan manusia bebas cela. Sebab bahkan pada kenyataannya, saya masih bisa menyakiti hati orang yang mencintai saya. Telanjur menyakiti, walaupun niatnya bukan menjahati.

Sejauh ini, saya merasa wajar-wajar saja ketika dicap sebagai orang yang tidak baik. Soalnya, saya belum tidak mampu sesuci Gandhi, nabi, atau siapapun figur yang dikultuskan hingga kini. Sebuah realitas, tidak ada orang yang tingkah lakunya sempurna. Bukan lantaran pikiran, perbuatan, dan ucapan yang jahat, melainkan karena pandangan dan penerimaan yang tak sepakat.

Selajur dengan itu, monggo dilihat latar belakangnya. Apakah tindakan yang dilakukan memang bertujuan untuk membuat orang lain sakit hati, ataukah hanya kepengin jujur dan enggak sudi membohongi diri sendiri?

Tidak berbohong. Itu perbuatan baik. Bersikap jujur. Itu juga perbuatan baik. Tapi keduanya kerap bermuara pada ujung yang terpisah jauh.

Kejujuran sejatinya sering terasa pahit dan menyakitkan. Memerlukan kesiapan dan keberanian untuk disampaikan. Namun bagaimanapun juga, kejujuran adalah kejujuran; menyingkap kebenaran. Sehingga, silakan dipilih. Mau bertindak baik dengan jujur, atau bersikap baik dengan menghindarkan orang lain dari perasaan sakit hati.

Jika mengambil pilihan kedua atas nama kehidupan sosial, rasa sungkan dan kasih sayang, memang tidak perlu melakukan tindakan buruk dengan berdusta. Cukup bungkam saja. Menjawab pertanyaan dengan diam, ataupun dengan senyuman. Meskipun demikian, tetap ada risikonya. Mulut yang terkatup rapat malah menimbulkan prasangka dan salah paham. Lebih runyam dampaknya apabila dibiarkan. Lagi-lagi, pada akhirnya masalah membutuhkan penjelasan.

Mungkin Anda pernah mengalami kondisi serupa, tapi dengan hasil akhir yang tak sama. Wajar saja, setiap orang yang menghadapinya berhak mengambil keputusan lewat pertimbangan berbeda-beda. Dalam perkara ini, orang lain hanya muncul dan memberikan suara. Itu saja peran mereka. Karena selain tuhan, setiap orang adalah pemilik, penanggung jawab, dan penentu arah kehidupannya masing-masing.


Jadi, setelah siap menerima kejujuran orang lain, sudah berani jujur pada diri sendiri?

[]

Satu Tambah Satu Belum Tentu Dua

Selain hati, ternyata ada barang lain yang paling ditakutkan kalau dicuri orang.
Apakah itu?

iPod.

Courtesy of techspot.com
Courtesy of techspot.com

Kenapa?

Dulu, pernah iPod saya gak sengaja kebawa sama (mantan) pacar. Begitu tahu kebawa, saya langsung panik. Blingsatan. Buru-buru minta iPod dibalikin. Bukannya takut iPod hilang atau dijual lagi.
Yang saya takutkan adalah, dia akan tahu semua playlists di iPod itu.

Iya. iPod saya isinya penuh dengan playlists.

Mulai dari playlists buat teman berlari, playlists sambil bersepeda, playlists lagi traveling.
Tapi selain itu, ada playlists lain, yaitu playlists saat jatuh cinta.
Dan udah umur segini, jatuh cinta ya masak cuma sekali?
Alhasil, di sana ada sejumlah playlists pas naksir, playlists pas jadian, dan tentunya, playlists pas patah hati.

Tanpa terkecuali, playlists itu semua dibuat dengan sangat hati-hati. Apalagi buat saya dan mungkin Anda sebagai generasi mixtape.
Silakan tersenyum mengingat-ingat beli kaset kosong, yang lalu diiisi rekaman lagu-lagu hasil request di radio. Tentu saja cover kaset dibuat dengan tulisan tangan, atau paling nggak, pakai rugos.

Demikian pula dengan CD lagu-lagu hasil download untuk bakal calon gebetan (ribet ya?). Atau mungkin sekarang, kasih aja flash disk. Saking banyaknya kapasitas space, selain lagu bisa diisi juga dengan rekaman video testimoni. Kalo nanti proposal cinta ditolak, yang terima tinggal hapus semua lagu. Masih dapet flash disk gratis pula!

__________

Padahal yang membuat kompilasi itu mungkin saja gak tidur semalam suntuk, atau lebih. Demikian pula para pembuat kompilasi macam “NOW!” series, atau “Sad Songs” atau “Forever Love 2014”. Dua judul terakhir malah masih bercokol di deretan album terlaris iTunes. Meski sudah terlalu sering kita melihat album-album kompilasi ini, toh mereka masih laris manis.

Saya pernah bertemu dengan seseorang yang profesinya memang membuat album-album kompilasi seperti ini. Katanya, “Enak ngerjainnya. Dengerin musik, dibayar pula.”

Trus gimana milih lagunya? Jawabannya simpel, “Pake hati.”

Nah lho. Emang cuma nge-blog doang yang pake hati?

Menyusun rangkaian lagu yang belum tentu nyambung dari satu sisi adalah seni tersendiri. Perlu keahlian khusus.
Irama boleh beda, asal lirik masih seputar “beginilah rasanya ditinggal kekasih”, bolehlah dipertimbangkan dulu, sambil cari lagu lain.

Itu kalau sekedar album kompilasi.
Membuat soundtrack film? Apalagi.
Selain dituntut mencari lagu sesuai adegan yang perlu diisi, belum tentu juga pembuat lagu mau mengijinkan lagunya digunakan di film itu. Namun karena kita berkhayal dalam tulisan ini, maka kita pun bebas dari memikirkan kompleksitas legal issue ini.
Terlebih urusannya pake hati. Hasil yang tercipta dari hati, biasanya akan meniupkan jiwa di karya yang bisa dinikmati.

Satu tambah satu, lagu demi lagu, harus menjadi satu kesatuan gambar gerak dan suara.

Waiting to Exhale.
The Boat that Rocked.
Forrest Gump.
Good Night, and Good Luck..
Grace of My Heart.

Itulah beberapa album soundtrack dengan pilihan lagu yang terasa menyatu dengan film. Sekaligus, mungkin saja album-album itu akan dibawa saat terdampar di pulau asing.

Eh, tapi itu jawaban pertanyaan jaman dulu, ding.

Kalau sekarang?

Tinggal bawa iPod dan kabel charger.
Toh isinya semua adalah the soundtrack of our life.

Lagi pula, apalah artinya hidup tanpa penanda lagu?

PS: si iPod sudah kembali dan masih berfungsi.

My Best Friend’s Wedding

Judul tulisan ini memang mirip dengan film komedi romantis yang dibintangi Julia Roberts dan Cameron Diaz di tahun 1997. Judul yang generik sebenarnya, karena kalimat itu bisa saja mengacu pada keadaan yang sebenarnya, yaitu pernikahan sahabat kita. Dan memang hal itulah yang berkecamuk di pikiran saya dalam beberapa hari ini, yang sempat membuyarkan segala konsentrasi dalam pekerjaan, maupun keharusan menulis di linimasa ini.

Teman saya, Agee, akan menikah besok.
Tidak ada kata “akhirnya” di kalimat itu, meskipun keputusan menikah dicapai setelah mereka pacaran selama 9,5 tahun.
Sembilan setengah tahun. Angka yang saya ucapkan berulang-ulang dalam hati with a great disbelief. Apalagi karena saya harus membuat pidato singkat kepada mereka di acara sakral tersebut.

Mungkin berita ini terkesan sepele. Pernikahan, batal menikah, perceraian, batal bercerai, semuanya menjadi santapan kita sehari-hari. Saya pun sebenarnya ingin memilih sikap tak acuh seperti itu, kalau saja tidak ingat bahwa selama hampir satu dekade itu, saya selalu berada di sisi calon mempelai perempuan ini dengan segala “drama” yang ada.

Misalnya, melihat dia menangis nonton Star Wars Episode III di bioskop, sementara penonton lain tegang melihat Ewan McGregor dan Hayden Christensen adu pedang, karena dia beradu mulut dengan pacarnya sebelum film mulai di lobi bioskop.
Terisak-isak di tengah Shrek 3 karena terima SMS “it’s over!”, tapi jauh sebelum sekuel film itu dibuat, eh sudah jadian lagi.

Sempat saya bilang, “Kalau saja kamu dan pacarmu adalah film, ini mungkin lebih buruk dari film A Lot Like Love itu.”
Dia hanya terkekeh, dan bilang, “It’s different, babe. My life, this real life, is very much boring. I stick to one man for the past decade, because I want to spend my life with him. That’s all I know. I don’t quit. I make it work.

Mungkin dalam konteks film komedi romantis, karakter ini bisa kita temui di karakter Jules dalam My Best Friend’s Wedding, atau seperti peran Jennifer Aniston dalam The Object of My Affection (dan sebenarnya, hampir semua peran Jennifer Aniston di film-film lainnya).
Bedanya, karakter di film, apalagi rom-com, hanya mengalami temporary blindness alias “keblaen” dengan karakter lain hanya selama 2 jam, tapi dalam kehidupan nyata, perseverance and persistence can last a lifetime.

Dan dua sifat itulah yang akhirnya membedakan apa yang kita lihat di layar, dan apa yang kita jalani sehari-hari.
Sementara saya menjadi penonton pasif setia film-film di atas yang dengan niat mengumpulkan alamat tautan, kutipan dialog dan lagu soundtrack satu per satu untuk tulisan ini dan playlist di iPod, Agee dan orang-orang lain memilih menjadi sutradara untuk kehidupan mereka. Paling tidak, menulis skenario yang menjadi panduan sampai ke ending.

Cerita real life ini akan jauh berbeda dari reel life yang kita lihat di layar besar atau kecil.
Tidak ada musik latar yang mengiringi mereka ciuman sambil terburu-buru menghabiskan sarapan di pagi hari. Tidak ada editor yang tiba-tiba memotong adegan pertengkaran di malam hari. Tidak ada penata rias yang membuat orang tetap terlihat cantik dan ganteng tanpa bekas iler saat bangun tidur.

Tetapi bagi Agee, dan siapapun yang akan bersumpah untuk saling setia sehidup semati di hari ini, akhir pekan ini dan waktu-waktu yang akan datang, who cares?

After all, a lifetime begins when two people say “I do”.

A template for romantic comedy poster.
A template for romantic comedy poster.