Petuah Yang Selalu Kita Usahakan

Salah satu nasihat yang pernah diberikan ayah saya kurang lebih begini:

“Jangan kamu ingat semua kebaikan yang pernah kamu lakukan ke orang lain. Tapi selalu ingat semua kesalahan yang pernah kamu lakukan ke orang lain.”

Berat? Tentu saja. Namanya juga petuah. Kalau tidak berat, itu namanya basa-basi. Atau konten meme.

Apalagi ini pedoman hidup yang disampaikan ke orang tua pada anaknya, dengan harapan agar anak bisa mengamalkan atau menjalankan itu dalam hidup.

Tentu saja pertanyaan yang muncul setelah itu, naturally, adalah: apakah saya sudah menjalankan pesan ayah saya ini?

Dengan menghela nafas yang dalam dan panjang, saya menjawab dengan mantap dan tegas, “Belum.”

Kenapa belum? Karena ini berat sekali dilakukan.

Terlebih di saat kita lagi dilanda gejolak emosi yang berlebih, apalagi belakangan ini. Ditambah lagi, katanya sekarang bumi sedang mengalami fenomena Mercury Retrogade. (Walaupun kalau dipikir-pikir, asyik juga menyalahkan fenomena alam terhadap perasaan kita yang sedang carut marut tak karuan.)

Saat kita sedang emosi, sedang merasa kesal terhadap orang lain, sangat mudah kita untuk berkacak pinggang sambil bilang, “Dasar elo ya! Gak tahu terima kasih, gue udah kerjain semua saat elo gak ada, sekarang elo semua yang take the credit and praise!” Kalau perlu sambil melotot seperti Leily Sagita di sinetron … Ah, Google saja kalau tidak familiar dengan nama ini.

Saat kita sedang emosi, sangat mudah buat kita mengasihani diri sendiri, menempatkan diri kita sebagai korban. Kita sibuk mendramatisir berbagai kejadian di benak kita, membayangkan kita seolah-olah bak anak sebatang kara yang disia-siakan orang tuanya sehingga harus menyambung hidup di jalanan ibu kota yang bengis, seperti Faradila Sandy di film … Ah, Google saja kalau tidak tahu referensi ini.

Trust me, I know this, I can write this, because I have been experiencing this. Shamefully, sometimes I still do that.

aid319399-v4-728px-Ask-a-Friend-to-Forgive-You-Step-1

Sangat berat bagi kita untuk mendinginkan kepala saat hati masih berapi-api. Sangat berat bagi kita untuk bisa tenang, saat kesempatan untuk marah-marah lebih terbuka lebar. Biasanya kemarahan kita jadi tidak fokus, tidak terpusat pada hal yang memicu konflik, malah merembet ke hal-hal lain di masa lalu yang sebenarnya tidak berhubungan sama sekali dengan masalah at the present time.

Jujur, saya punya anger management problem. Terlebih saat sendiri, dan merasa sendiri menghadapi masalah dengan orang lain. Sangat susah untuk mengakui kesalahan, dan berbesar hati mau bicara terbuka dengan orang atau kelompok yang mempunyai masalah dengan saya, untuk mencari jalan keluar.
Sometimes we think our way is the best way, until we talk it out loud, and we realize it’s not.

Kalau sudah dalam posisi ini, sebelum “meledak” lebih jauh, maka saya akan retreat. Mundur sejenak, kalau perlu diam lebih lama lagi. Dan tidur. Saya percaya bahwa sleep on it kadang menyelesaikan masalah.

Dan meskipun saya tidak relijius, saya percaya bahwa waktu 3 hari atau 72 jam itu waktu yang cukup untuk marah kepada seseorang, terlebih dalam konteks marah terhadap rekan kerja, teman sekolah, atau sejawat lainnya. Setelah waktu tersebut selesai, mungkin marah kita belum reda, tapi paling tidak kita sudah punya perspektif lain terhadap masalah yang kita hadapi, karena kita kepikiran terus selama waktu itu ‘kan? At least this is what I believe.

And I still believe in the power of forgiveness. Mau kita yang meminta maaf, mau kita yang memaafkan, yang jelas forgiveness gives closure.

Dan bukankah kita hidup selalu mencari closure ini?

So, Dad, if you’re reading this, and I know you sometimes are, I am still working on your advise, all the time.

father-and-son1

Advertisements

Masa Bodo! Demi Kemaslahatan Diri dan Sesama

AKSI menghasilkan reaksi. Begitu juga akibat, muncul karena suatu sebab.

Bukan hanya dalam bidang-bidang ilmu pasti, mekanisme ini juga terjadi dalam kehidupan sosial kita sehari-hari. Apalagi jika sudah melibatkan perasaan, sesuatu yang berpotensi membuat segalanya lebih dramatis. Bisa dibayangkan, intensitas serta dampak reaksi atas sebuah aksi bisa jauh berkali-kali lipat, dan entah sudah berapa banyak artikel di Linimasa yang pembahasannya bertolak dari sana.

Bila disederhanakan, urusan aksi-reaksi tindakan sosial ini hanya bermuara pada masalah; melakukan atau tidak melakukan sesuatu (sebab), ingin atau tidak ingin mendapatkan sesuatu (akibat), dan respons atau tanggapan atas sesuatu (akibat yang bisa menjadi sebab baru). Namun pada praktiknya, kita malah lebih sering terjebak ilusi idealisme. Ketika kita malah memberi panggung pada hal-hal yang sejatinya enggak penting, omong kosong, sengaja dimunculkan untuk mengusik, dan sia-sia bahkan sejak pertama kali muncul dalam benak pelakunya. Hal-hal yang semestinya tidak digubris untuk kemudian berlalu begitu saja, mendadak jadi besar dan penting atas nama konsep-konsep abstrak yang tidak jelas faedah langsungnya. Seperti harga diri lah, reputasi lah, martabat lah, dan sebagainya. Kemudian, tak sedikit yang akhirnya berlarut-larut, menjadi dendam berkepanjangan.

Setiap orang punya tiga saluran tindakan: pikiran, ucapan, dan perbuatan. Dari ketiganya, hanya pikiran yang tersembunyi dan cuma diketahui si pemiliknya sendiri. Dua lainnya melibatkan orang lain. Ucapan bisa didengar langsung maupun diteruskan, namun gampang menguap begitu saja kecuali direkam. Sedangkan perbuatan, proses terjadi serta dampak yang ditinggalkan kerap bisa dilihat dengan mata telanjang. Lagipula ucapan adalah tindakan yang paling luwes dan gaib alias ndak kelihatan. Saking luwesnya, juga menjadi yang paling susah dikendalikan.

Contoh gampangnya, kala seseorang menghina dan memperolok kita dengan sebuah kebohongan, apa yang akan terjadi? Lazimnya, muncul amarah, dan kita berusaha membela diri (baca: membalas hinaan), seringkali dibarengi dengan air mata dan perasaan terluka, membuat suasana sekeliling jadi mencekam. Akan tetapi, mengapa harus buang-buang tenaga untuk melancarkan perlawanan? Toh yang dia ucapkan hanyalah omong kosong. Saat kita meladeni bullshit itu atas nama harga diri dengan sepenuh hati, kayaknya ibarat ingin membuktikan bahwa seseorang sudah buang gas dengan cara mengumpulkan sisa-sisa kentutnya dalam sebuah kantung plastik. Capeknya dapat, konyolnya dapat, baunya juga dapat–ketambahan bau-bau busuk lainnya, waktu terbuang, manfaatnya nihil.

Bertindak tak mainstream itu memang tidak mudah, terlebih kalau menyangkut soal perasaan dan kebiasaan yang tertanam sejak kecil. Tapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan, dan bisa jadi makin dibutuhkan sebagai semacam life guide di dunia yang kian ndak karu-karuan. Dalam hal ini, beruntunglah orang-orang yang punya tabiat tidak acuh alias cuek, sebab mereka sudah punya basic yang cukup untuk jauh lebih bijaksana menyikapi riak-riak kehidupan. Dengan catatan cuek yang beralasan, cuek for the greater good.

Yak! Sampai di sini ada pertanyaan? Silakan angkat tangan.

Kembali ke contoh di atas. Pada saat berhadapan dengan omongan-omongan buruk orang lain, cuekers punya kuasa menggagalkan suasana. Memberikan respons di luar dugaan. Mereka bisa merampas “kegembiraan” (excitement) para pengolok dan penghina, membuat mereka merasa garing dan jayus sendiri, terus pergi. Drama pun gagal terjadi.

Ada beberapa respons yang biasanya dilakukan para cuekers dalam contoh kasus di atas. Beberapa di antaranya:

  • Oh…
  • Terus?
  • “Bodo amat sih.
  • *menatap wajah si pembicara dengan pandangan dingin tanpa ekspresi wajah dan diam selama beberapa detik, lalu beranjak pergi*
  • Kenapa memangnya?
  • Oke…

Efeknya mirip cerita si Chinmi The Kungfu Boy, yang berhasil membuat seekor burung batal terbang hanya dengan menurunkan telapak tangannya. Menghilangkan momentum.

Gon, kamu Cina, kan?
Iya, kenapa?
Pasti burungnya kecil. Cina kan burungnya kecil-kecil.
Oh…
Ya, kan? Kecil.
Terus?
Kecil, kan?
Terus?
Ya, kan?mulai frustasi
Terus?
Ya…
Terus?
“Ih amu ga aci…” pergi

[]