Lagi Lagi Plastik

Setelah masa mengumandangkan perang ke plastik kresek untuk wadah belanja berlalu, kini saatnya fokus berpindah ke sedotan plastik. Sungguh positif, karena banyak teman di sekitar saya yang jadi secara sadar menolak menggunakannya lagi, dan mulai membeli sedotan yang bisa digunakan ulang, baik terbuat dari bambu atau baja tahan karat. Mudah-mudahan tidak musiman seperti kebijakan tas kresek tidak gratis di supermarket ya. Tapi apakah itu saja sudah cukup? Ternyata belum, loh!

sliver-gold-rose-gold-colour-stainless-steel.png_220x220

Karena seluruh bagian dari frapuccino, atau iced coffee, atau es kopi mantunya tetangga pak Polisi itu ternyata bisa jadi membunuh lingkungan kita perlahan. Jadi, maksudnya kita enggak boleh tanda tangan  petisi online anti reklamasi sambil menyeruput Tuku, gitu?

WhatsApp Image 2018-06-22 at 4.22.30 PM
Ini dari Guardian.com

Tentu tak ada yang melarang. Tapi mungkin ada baiknya kita tau faktanya. Memang gambar dari the Guardian ini ada beberapa yang tidak relevan untuk Indonesia, tetapi banyak yang ya. Seperti jumlah cangkir kopi sekali buang yang memenuhi laut, mungkin kita belum sebanyak Amerika Serikat atau Inggris, tetapi mungkin bisa jadi tidak jauh, dengan sedang trennya es kopi susu dengan gula aren yang memang biasa dibeli oleh layanan ojol dan dikemas dalam gelas plastik. Menyedotnya dengan apa? Tentu sedotan plastik.

Gulanya mungkin tidak setinggi jika kita menyesap minuman dari Starbucks yang bisa diberikan karamel, lalu ditambah sirup lagi, tetapi jika dikonsumsi hampir setiap hari dan tidak diimbangi pola makan sehat tentu tidak akan membuat risiko diabetes, dan teman-temannya (seperti penyakit jantung dan ganggunan ginjal) menurun.

Susu dan produknya juga di Amerika bermasalah citranya karena diidentikkan dengan praktik pertanian yang tidak etis terhadap hewan (kurang paham dengan di sini ya, ingin deh riset sendiri), juga penemuan-penemuan terakhir yang menyebutkan bahwa susu sebenarnya tidak sehat seperti yang diklaim produsennya selama ini. Sementara untuk yang berlomba-lomba pindah ke susu almon juga semoga sadar kalau almon itu tidak tumbuh di Indonesia, dan menanamnya membutuhkan sumber daya air yang berlebihan, tidak jarang membuat lahan jadi kekeringan. Kedelai yang jadi bahan susu kedelai juga tidak bebas dosa, karena banyak penebangan liar terjadi demi penanamannya dan isu Monsanto, tentunya.

LALU KITA MINUM APA DONG?

Air sih, sebaiknya. Tapi tentu sebagai manusia normal kita perlu kafein di dalam darah ya. Karena itu coba biasakan bawa wadah sendiri lengkap dengan sedotannya, agar bebas rasa bersalah. Lebih baik juga kalau kita buat sendiri kopi, dan membeli kopinya dari orang yang kita paham membeli biji kopi dari petani lokal dengan harga adil.

stojo
Cangkir lipat dari stojo.co ini sungguh mudah dibawa, sekarang ada yang lengkap dengan sedotan pun! #bukaniklan

Maaf ya, kalau mengurangi kenikmatan menyeruput kopi dingin Anda, tetapi sebelum saya dituduh SJW, harap ingat kalau ini hanya saran.

 

Dimulai Dari Berani

(Hari ini, saya absen bercerita dulu. Tulisan di bawah ini adalah cerita dan pengalaman dari teman-teman saya, dan orang-orang lain yang saya kenal. Kali ini, saya hanya menjadi tukang ketik yang menuliskan dan mengunggah cerita ke halaman ini. Selamat membaca.)

GD – pegawai di insitusi pemerintah

“Gue lupa harinya. Kalo nggak salah, Jumat malem. Waktu itu abis nonton konser, tapi lupa konser apa. Kelar konser, mampir ke tempat itu. Nggak buat ngopi, tapi nongkrong aja. Trus pas baru masuk, ternyata ada temennya temen gue. Mereka ngobrol. Selesai ngobrol, terus gue tanya, “Eh itu siapa?” Lalu, dengan mata berbinar-binar, temen gue bukannya jawab pertanyaan, tapi malah bilang, “Ya ampun, kok gue nggak ngeh ya. Dia kan tipe elo banget!” Ngomongnya kenceng banget. Untung duduknya udah jauhan. Hahaha. Malu gue. Terus dikasih nomernya. Gue SMS dia besoknya. Waktu itu masih jaman SMS. Terus weekend itu isinya telponan dan SMS-an. Abis itu janjian ketemu minggu depannya. And you know lah what’s next.”

IMG_1140 1

DH – pemilik perusahaan jasa reklame

Believe it or not, pertama kali kenalan itu lewat blog. Jadul ya? Hahaha. Gue suka ninggalin komen di blognya dia, dan dia kadang-kadang juga ninggalin komen di blog dia. Tiap pagi, begitu nyampe meja kantor, pasti blog-walking. Dari situ jadi kenal ama temen-temen sesama blogger. Salah satunya dia. Tapi entah kenapa, gak pernah ketemu dia kalo lagi kopdar (kopi darat) atau ketemuan ama blogger-blogger lain. Sampai suatu saat, dia ngajak ketemuan, sore-sore pulang kerja. Akhirnya janjian ketemu, sekalian ngopi. Abis say “hi” gitu, ya ngobrol aja. Gak awkward. Tau-tau ngobrol lama, berjam-jam sampe malem.”

IMG_4290

MR – pekerja iklan

“Waktu itu jamannya gue lagi hectic ama tesis. Elo tau kan? (catatan penulis: Iya, tahu.) Daripada kena macet pulang kantor, kadang-kadang gue emang ke tempat itu buat ngerjain tesis. Sekalian ngopi lah. Terus, gue masih inget banget, hari itu, gue lagi buru-buru cabut dari kantor. Pas nyampe, gue buka laptop, baterenya udah mau mati, dan charger laptop ketinggalan! Panik dong gue. Sementara gue harus ngetik berjuta-juta halaman. Saking kepepetnya … Hahaha … Gue suka malu kalo nyeritain ini. Saking kepepetnya, gue pinjem charger dong ama orang di meja sebelah. Untung laptopnya sama, dia pake Macbook juga. Gue nekat banget. Gue bilang kalo gue perlu nge-charge batere laptop, sambil kerja. Thank God dia mau minjemin, lho! Gue udah bilang kalo gantian aja make charger-nya. Kalo batere gue udah 50%, gue balikin. Dia ngangguk aja. Eh terus gue kebablasan aja dong. Sampe baterenya udah ijo, gue masih pake charger pinjeman. Gue sibuk ngetik, sampe lupa. Asli, bener-bener lupa. Dan ternyata dia nungguin! Dia udah nutup laptopnya, dan baca majalah-majalah yang ada di situ. Asli, gue malu banget. Gue nyadar pas dia tiba-tiba bilang, “Permisi, maaf, charger-nya masih dipake? Saya mau pulang soalnya. Kalo masih dipake, dibawa aja dulu.” Gue gelagepan! Buru-buru gue copot dari laptop, trus balikin ke dia sambil minta maaf dan say thanks. Sumpah, aneh banget kalo diinget-inget. Tapi ya dari situ … Well, you know.

IMG_4611

SU – pemimpin redaksi

“Waktu itu, gue masih kerja di gedung deket apartemen yang lama. Inget kan? (catatan penulis: Iya, inget.) Pas lagi mau makan siang, gue turun ke tempat parkir. Di dalem lift, masuklah orang ini. Pake baju ungu, sepatu item. Gue inget banget detil baju dan sepatunya. Dia menuju ke lantai yang sama ama gue. Tapi anehnya, gue mengarah ke kiri ke parkiran mobil, dia mengarah ke sisi sebelah kanan. Penasaran, gue ikuti. Ternyata ada musholla di sana. Gue nggak tahu kalau ada musholla di situ. Akhirnya, sejak hari itu, gue make sure bisa cabut makan siang di jam yang sama, karena dia pasti sholat Dhuhur di musholla. Dan bener. Hampir tiap hari, kecuali hari Jumat, dia ada di sana. Alesan gue buat ngeliatin dia? Pura-pura aja beli kopi di tempat yang sejalan ama musholla itu. Hahaha.”

IMG_5529

BK – wiraswasta

“Kami belum tinggal satu kota waktu itu. Lalu suatu saat, dia bilang, kalo dia mau ke tempat gue. Ada kerjaan, katanya. Sekalian juga kami ketemu. Itu pertama kalinya kami akan bener-bener ketemu satu sama lain. Sebelumnya kami cuma ngobrol lewat telepon, webcam, dan email. Standar online dating. Hahaha. Kami janjian di tempat kopi yang biasa gue datengin. Dia setuju. Gue deg-degan. Sepanjang di bis gue udah gelisah. Begitu turun, gue nelpon dia. Terus, entah dari mana, gue nekat bilang ke dia, “I’m coming to your seat now. But don’t hang up. Pretend this is the scene from My Best Friend’s Wedding. Remember the film? The last scene where Rupert Everett walks to Julia Roberts in the wedding party? So let’s do that scene now. Alright, I see you now.” Beneran. Asli. Gue gak pernah seberani itu sebelumnya. Gak tau kenapa tiba-tiba bisa senekat itu. Terus gue tutup telpon, dan gue bilang, “Hai”.”

(Coba baca lagi cerita-cerita di atas sambil mendengarkan lagu ini.)