Suvenir

Takluk dalam kenangan, adalah selemah-lemahnya manusia atas sesuatu yang internal, berasal dari dalam diri. Ketika seseorang menyerah secara sukarela, bersedia dibuat hanyut dan larut dalam pusaran emosi masa lalu, sampai kemudian tersadar harus kembali menjalani misteri yang tak kalah menggusarkan: masa kini.

Selama manusia masih memiliki (baca:dengan gampang dikuasai) perasaannya sendiri, selama itu pula manusia tidak akan pernah menang melawan kuasa kenangan.

Kala terlintas dalam pikiran, dengan atau tanpa penyebab, manusia langsung tercerap di dalamnya. Mengalami putus kontak dengan sekeliling selama beberapa saat. Ukuran yang bias. Bisa milidetik, menit, bahkan berjam-jam. Sebagai bukti, tak terhitung berapa kali kita bisa tersenyum di tengah-tengah suasana ingar-bingar, merasa kesal atau marah seorang diri, mendadak sedih dalam kebisingan, dan mengeluarkan beragam ekspresi lain tanpa mampu dibendung. Silakan diingat kembali, ya kenangannya, ya sensasinya.

Memang, banyak yang kerap kadung jemawa, merasa berhasil mengungguli perasaannya sendiri. Berlindung di balik ketegaran, merasa kokoh berhadapan dengan kenangan. Padahal tanpa ia sadari, dengan meladeninya saja sudah merupakan bentuk ketaklukan. Percuma meratapi kenangan, mubazir pula tertawa gembira terhadapnya. Dalam kenangan, nilai baik dan buruk luruh dimakan waktu. Semua tiba-tiba merasa jauh lebih tua, sebuah efek yang niscaya dari kenangan.

It’s a losing game.

Tapi apakah salah, jika sama kenangan aja kalah? Oh tentu saja tidak. Namanya juga manusia, makhluk yang selalu memerlukan (atau mendapatkan) akhiran “–wi” sebagai permakluman: manusiawi.

Bisa jadi ini bukan persoalan menang atau kalah, dua sisi realitas yang tak terpisahkan, pembeda antara kuat dan lemah. Sebab yang terjadi adalah kepasrahan, untuk kembali merasakan, entah, kenangan yang menyenangkan; kenangan yang menyedihkan; kenangan menyenangkan yang malah menyisakan kesedihan lantaran rindu, penyesalan, atau apa pun itu; maupun kenangan tidak menyenangkan yang kemudian menimbulkan rasa syukur serta perasaan berterima kasih sepenuhnya.

Dalam momen-momen tersebut, manusia seakan kehilangan daya. Mirip seperti serpihan gabus yang jatuh di sebuah jeram. Bisa dibawa berputar 360 derajat tanpa ada kejelasan sedikit pun, ini bakal berujung ke mana atau akan jadi seperti apa. Untuk kondisi begini, banyak begawan yang sepakat sama-sama berpetuah: “nikmati saja. Kita bisa apa?

Sayangnya, kala “menikmati” momen itu, manusia lupa logika dasar bahwa waktu dan prinsip aksi-reaksi berjalan linier. Terus maju ke depan, lurus, ajek, tanpa pernah sedikit pun menoleh balik. Ya! Logika. Tidak pernah minta diajak, namun sejatinya penting untuk digamit turut serta. Biar ndak gila.

Sekuat apa pun kesan yang dihasilkan oleh ingatan-ingatan tersebut, kenangan tetaplah kenangan, sesuatu yang bisa disebut macam hantu gentayangan. Hanya muncul dari masa lalu, mengusik, tapi tak bisa diapa-apakan. Karena dengan mengikuti dan meresapi perasaan yang timbul secara sepenuh hati sekalipun, tidak akan mengubah apa-apa. Begitulah yang kita rasakan dan terus urusi sepanjang hayat. Apakah melelahkan? Besar kemungkinan.

Biar bagaimanapun, perasaan, tetaplah perasaan.

Dan boleh jadi, demikianlah, hidup ternyata tak lebih dari pilinan kejadian yang dirajut dengan perasaan. Hidup pun menjadi kumpulan kenangan.

Segudang cenderamata.

Cuma itu.

[]

Advertisements

In the Future, the Past will be Present

Semalam saya menonton ulang film Still Alice. Film yang diangkat dari novel berjudul sama ini berkisah tentang Alice, seorang profesor linguistik yang terserang penyakit Alzheimer. Padahal usianya belum lanjut. Padahal sebagai ahli bahasa, dia terkenal dengan artikulasi tutur bahasa yang baik, dan tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Mendadak, semua hal yang sudah dipelajari selama hidupnya, yang membuat dia dikenal banyak orang, hilang begitu saja. Dia bilang, “It’s like the words are hanging in front of me, but I can’t reach them.

Beberapa bulan yang lalu saya menonton film ini dengan harapan Julianne Moore, yang memerankan Alice, akan mendapatkan Oscar sebagai Aktris Terbaik atas penampilannya yang luar biasa. Beberapa bulan setelah Julianne Moore akhirnya mendapatkan Oscar tersebut, saya masih terkesima melihat penampilannya yang, saking luar biasanya, membuat saya terpekur lagi setelah film berakhir.

Still Alice
Still Alice

Dari awal film, kita diperlihatkan kebiasaan Alice bermain “Words with Friends” (semacam “Scrabble”) bersama anak tertuanya. Permainan yang membuat saya tersenyum, karena sampai sekarang, saya masih suka bermain “Scrabble” pula di iPad. Lalu dalam hitungan sekitar 90 menit, kita melihat cepatnya penyakit Alzheimer menggerogoti jiwa Alice, sehingga dia tidak lagi mengenali anaknya sendiri, dan tidak mampu menyampaikan apa yang ingin dia ucapkan. Semua terasa begitu nyata, meskipun cerita ini hanya rekaan di layar saja.

Kebetulan sebelum menonton film ini untuk kedua kalinya, sekitar dua minggu lalu saya membaca buku Then Again, karya Diane Keaton. Ini memang Diane Keaton, aktris pemenang Oscar di film Annie Hall, dan istri Sonny Corleone di The Godfather Trilogy itu. Ternyata dia seorang penulis yang cukup mumpuni.

Hal itu sudah terbukti di bagian awal buku “Then Again” ini. Tanpa menunggu sampai bagian tengah buku, dia bercerita bahwa sebagian besar buku ini terinspirasi dari sang ibu, Dorothy Hall, yang selalu menulis jurnal setiap hari selama hidupnya. Jurnal ini dimulai dengan catatan yang deskriptif tentang kesehariannya sebagai ibu rumah tangga. Namun seiring perjalanan usia, entries jurnal ini menjadi semakin pendek. Saat sang ibu mulai didiagnosa penyakit Alzheimer, seperti Alice di atas, catatan di jurnal pun menjadi satu kata saja. “Think. Again. Doors.” Dan kata-kata yang seolah tak berhubungan, namun sebenarnya mengungkapkan perasaan yang tak bisa lagi tersampaikan dengan jelas.

Then Again
Then Again

Baik Alice maupun Dorothy tak akan pernah menyangka bahwa mereka akan menghabiskan hari tua mereka tanpa masa lalu. Siapa yang akan pernah mengira kalau suatu hari kita akan kehilangan ingatan? Tidak ada yang pernah menginginkan hal itu terjadi.
Dan kita tidak pernah mengira, bahwa ternyata kenangan masa lalu yang akan membuat kita hidup di masa depan. Bahwa ternyata kehidupan di masa depan akan ditentukan oleh apa yang bisa kita kenang dari masa lalu. Masa kini akan menjadi masa lalu di masa depan.

Delapan bulan yang lalu (ternyata Linimasa sudah lama juga ya berkiprah), saya pernah menulis tentang kebiasaan. Apa yang biasa kita lakukan sekarang akan menjadi bagian dari masa lalu di masa depan. Dan hasil dari kebiasaan ini akan menjadi bagian yang bisa kita kenang. Ketika usia merenta, kita berpegang pada kenangan yang tersisa.

Kebiasaan menulis setiap film yang selesai ditonton di bioskop, ditambah serial atau film televisi, masih berjalan sampai sekarang. Yang baru saja dilakukan dari awal tahun kemarin adalah mulai mencatat buku apa saja yang sudah selesai dibaca. Yang belum dilakukan adalah menulis jurnal atau catatan harian pribadi. Entah kenapa, menulis catatan pribadi untuk berlaku jujur pada diri sendiri masih terasa berat dilakukan. Semoga suatu hari keengganan ini bisa berubah.

Sepatutnya memang kita sibuk mempersiapkan diri untuk masa depan saat ini. Tetapi pastikan bahwa nantinya ada sesuatu dari masa sekarang yang bisa kita ingat dengan manis sebagai bagian dari masa lalu di masa depan. Apalah artinya hidup di hari tua tanpa kenangan yang berbuah senyuman.

It’s good to remember. It always is.

Jangan Lupakan

Sebelum mulai menulis di linimasa.com ini, selalu ada “ritual” yang saya lakukan. Lebih tepatnya, kebiasaan. Maklum, tidak terlalu istimewa kegiatannya.

Saya akan menonton film. Film apapun. Bisa dari televisi, DVD, blu-ray, koleksi di harddisk. Film apa saja. Random choice. Siapa tahu dari pilihan film itu datang inspirasi tulisan. Maklum lagi, kami di sini menulis berdasarkan apa kata hati saat tenggat waktu datang.

Semalam di HBO ada film The Mexican. Ada Brad Pitt, Julia Roberts, dan almarhum James Gandolfini. Pikir-pikir, sudah lama tidak menonton film ini. Ponsel ditaruh jauh-jauh, supaya tidak terganggu pesan-pesan yang masuk.

Sudah 30 menit film berjalan. Saya masih menikmati jalinan cerita film. Setelah cerita mulai bergeser fokus ke Julia Roberts dan James Gandolfini, tiba-tiba entah dari mana, pikiran saya bergeser ke hal lain. Ujug-ujug, saya ingat, pertama kali menonton film ini bersama teman lama, Bang Reza, di Cineleisure Orchard, Singapore. Kayanya hari Minggu siang tahun 2001. “Kalo nggak salah”, pikir saya.

Cek laptop, cari file lama. Ubek-ubek, akhirnya saya tersenyum. Betul. Hari Minggu, 29 April 2001, kami menonton film ini di bioskop itu bersama dua teman lain.

Jauh sebelum IMDB lahir dan bisa beli laptop sendiri, saya punya kebiasaan menulis nonton film apa, tanggal berapa, sama siapa (sendirian atau nggak), dan di mana. Jaman dulu, pakai bolpen dan buku tulis. Sampai 2 tahun lalu, tulis di Excel. Baru tahun lalu, tulis di Notes di ponsel.

Kalau ada pepatah yang bilang “old habit dies hard”, dalam konteks ini saya membenarkan. Kebiasaan mencatat ini terbawa sampai sekarang. Sudah belasan tahun lamanya. Tidak ada yang berubah, kecuali judul film, tahun, dan teman menonton. Nothing changes except the change itself.

Also, there is nothing special about this habit. Hanya saja, buat saya rasanya menyenangkan ketika kepingan memori bisa hadir tanpa perlu diminta. Ketika usia merenta, kita berpegang pada kenangan yang tersisa.

Makanya, saya senyum saja, tanpa bereaksi atau berpartisipasi, saat melihat gambar-gambar meme film Finding Neverland. Ini film pertama yang saya tonton berdua dengan salah satu mantan pacar.

Alih-alih merasa seru nonton Pearl Harbor. Kalau ada film ini di TV, saya ketawa, ingat dulu nonton film ini rame-rame ber-10 dengan bawa roti, keju, dan sate. Nonton Mamma Mia! sambil nyanyi-nyanyi satu bioskop, dan melongok keheranan, “Bok, ini cowok-cowok pada bisa sing along lagu-lagunya ABBA semua!”

Demikian pula saat mengejar film Mystic River ke Malaysia karena main duluan, atau nonton He’s Just Not That Into You di bioskop berdua, beberapa hari sebelum putus.

Pas ‘kan? Pas bener.

Finding Neverland. Courtesy of Totalfilm.com
Finding Neverland. Courtesy of Totalfilm.com

Judul-judul film di atas tidak ada satu pun yang saya nilai 10 dari 10, 100 dari 100, 5 bintang dari 5 bintang. Tidak merasa perlu juga mengkoleksi film itu di rak, seperti juga film-film lain yang cukup ditonton sekali atau dua kali.

But sometimes, it’s not about the film itself. It’s how you watch the film.

Dalam kesendirian, saya menikmati sensasi menonton The End of the Affair yang dilanjutkan dengan berjalan di bawah hujan, persis seperti filmnya. Lega rasanya ketika bisa legal dan sah nonton film 21 tahun ke atas di bioskop seorang diri nonton Ralph Fiennes telanjang bulat di Sunshine. Mual-mual melihat kekerasan di film The Piano Teacher tanpa ada orang di sebelah yang bisa dipukuli. Dan merasa dewasa sekaligus jumawa sebagai anak SD ketika bisa sendirian saja membeli tiket nonton Dead Poets Society.

Film yang kita tonton, konser yang kita datangi, buku yang kita baca, tempat liburan yang kita kunjungi, beberapa hal yang membuat waktu kita terasa lebih hidup, memang selayaknya patut dikenang. Mungkin kalau kita rajin merekam, kita tidak perlu lagi minum ginkgo biloba atau obat-obat perangsang memori lainnya.

Dead Poets Society. Courtesy of digitalspy.com
Dead Poets Society. Courtesy of digitalspy.com

Apakah itu tujuan saya membuat catatan itu? Nggak juga. Seneng aja. Movies keep me alive, kok.

Dan mungkin, orang-orang ini sempat merasakannya.