Terbaik

Tahun 1993, dunia dikejutkan saat pemain tenis nomer satu dunia saat itu, Monica Seles, tiba-tiba ditusuk pisau. Kejadiannnya berlangsung saat Monica duduk beristirahat di tengah-tengah pertandingan. Siapa pelakunya? Ternyata seorang pria yang mengaku sebagai fans no. 1 Steffi Graf. Dia tidak ingin Steffi Graf, yang memang rival terberat Monica waktu itu, kehilangan tahta di puncak klasemen pemain tenis dunia.

Seluruh dunia pun geger saat itu. Pertandingan dihentikan. Monica menjalani perawatan yang lama. Salah satu bagian yang cukup banyak diliput media adalah saat Steffi langsung menghentikan semua kegiatannya saat itu, dan terbang menemui Monica di rumah sakit tempat dia dirawat. Konon kabarnya, begitu melihat Monica sadar, mereka berdua langsung menangis. Steffi memeluk Monica, dan berkata berulang kali, “It doesn’t have to be like this”.

Momen kecil, di mana keduanya meletakkan ego masing-masing sebagai kompetitor, hanya dua orang yang saling menguatkan. Atau bisa juga diartikan sebagai momen di mana keduanya sadar, bahwa keduanya tidak bisa menjadi petenis terbaik dunia tanpa kehadiran satu sama lain. Mereka yang terbiasa hidup dengan berkompetisi sehat, sadar dan tahu bahwa hidup tidak berarti tanpa adanya pesaing.

business-Competition

Demikian pula untuk hal lain.
Kita bisa bilang jahat, karena ada yang mulia.
Kita bisa bilang buruk, karena ada yang baik.
Kita bisa bilang nomer satu, karena ada yang menjadi nomer dua, nomer tiga dan seterusnya.
We can never be alone in being the best.

Di film Unbreakable, film terbaik M. Night Shyamalan setelah The Sixth Sense, sepanjang film kita diajak dalam permainan tebak pikiran, siapa sebenarnya karakter yang dimainkan Samuel L. Jackson ini? Apa yang dia inginkan dengan selalu berada di bayang-bayang sekitar kehidupan Bruce Willis?

Unbreakable
Unbreakable

Semoga kalimat berikut ini bukan spoiler: akhirnya kita tahu, bahwa Samuel L. Jackson adalah sisi yang tidak terpisahkan dari Bruce Willis. Satu ada, karena yang lain ada. Bak dua sisi mata uang.
Penjahat kesepian kalau tidak ada orang yang dijahati. Pelaku pemberantas kejahatan akan linglung kalau tidak ada obyek yang harus dibasmi.

Beberapa bulan lalu, saya bertemu dengan salah seorang seniman terkemuka di sini. Dia bilang kalau dia sedang menjajaki kemungkinan bekerja sama dalam sebuah event besar. Katanya waktu itu, “Event ini besar. Ingin jadi yang terbesar. Potensinya ada. Kontennya pun digarap dengan baik. Meskipun begitu, event ini tidak baru. Ada event-event serupa di kota lain, tapi tidak besar. Meskipun tidak besar, tapi jangan lupakan eksistensi mereka. Kamu tidak bisa menjadi yang terbesar tanpa yang kecil-kecil.”

Besar dan kecil. Rendah dan tinggi. Kiri dan kanan. Depan dan belakang.

Karena dua sisi yang berbeda selalu berjalan bersama. Jangan ditinggalkan.

Advertisements

Apanya yang Salah?

Di jalan raya banyak motor dan mobil saling menyalip satu sama lain.
Mengapa?
 
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka dididik untuk menjadi lebih cepat dan bukan menjadi lebih sabar, mereka dididik untuk menjadi yang terdepan dan bukan yang tersopan.
 
Di jalanan pengendara motor lebih suka menambah kecepatannya saat ada orang yang ingin menyeberang jalan dan bukan malah mengurangi kecepatannya.
Mengapa?
 
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah anak kita setiap hari diburu dengan waktu, dibentak untuk bergerak lebih cepat dan gesit dan bukan dilatih untuk mengatur waktu dengan sebaik-baiknya dan dibuat lebih sabar dan peduli.
 
Di hampir setiap instansi pemerintah dan swasta banyak para pekerja yang suka korupsi.
Mengapa?
 
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah anak-anak dididik untuk berpenghasilan tinggi dan mengejar hidup dengan kemewahan, mulai dari pakaian hingga perlengkapan dan bukan diajari untuk hidup lebih sederhana, ikhlas dan bangga akan kesederhanaan.
 
Di hampir setiap instansi sipil sampai petugas penegak hukum banyak terjadi kolusi, manipulasi proyek dan
anggaran uang rakyat
Mengapa?
 
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka dididik untuk menjadi lebih pintar dan bukan menjadi lebih jujur dan bangga pada kejujuran.
 
Di hampir setiap tempat kita mendapati orang yang mudah sekali marah dan merasa diri paling benar sendiri.
Mengapa?
 
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka sering dimarahi orangtua dan guru mereka, bukannya diberi pengertian dan kasih sayang.
 
Di hampir setiap sudut kota kita temukan orang yang tidak lagi peduli pada lingkungan atau orang lain.
Mengapa?
 
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka dididik untuk saling berlomba menjadi juara dan bukan saling tolong-menolong untuk membantu yang lemah.
 
Di hampir setiap kesempatan termasuk di media sosial ini juga selalu saja ada orang yang mengkritik tanpa mau melakukan koreksi diri sebelumnya.
Mengapa?
 
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah anak-anak biasa dikritik atas segala hal, bukan didengarkan segala keluhan dan masalahnya.
 
Di hampir setiap kesempatan kita sering melihat ada orang ngotot dan tak mau mengakui kesalahan.
Mengapa?
 
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka sering melihat orangtua atau gurunya ngotot dan berusaha keras agar tidak jadi yang bersalah.
 
Di hampir setiap lampu merah dan rumah ibadah kita banyak menemukan pengemis.
Mengapa?
 
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka selalu diberitahu tentang kelemahan-kelemahan dan kekurangan mereka, bukannya diajari untuk mengenali kelebihan-kelebihan dan kekuatan mereka.
 
Bisa jadi sesungguhnya potret dunia dan kehidupan yang terjadi saat ini adalah hasil dari ciptaan kita sendiri di
rumah ditambah dengan pengaruh pola pendidikan di sekolah.
 
~ diolah kembali dari tulisan George Carlin, seorang komedian pemerhati kehidupan.

Maunya baik, dan meminta yang lain bersikap baik. Lah, diri sendiri sudah baik, belum?

Belajar agama, ego malah jadi lebih tinggi. Terjebak dalam ilusi buatan sendiri yang seolah mengatakan: “aku lebih alim daripada kamu.”

Belajar PMP, PPKn, Pendidikan Kewarganegaraan, atau Budi Pekerti (BP) cuma sebatas untuk ujian. Memilih tindakan yang benar, untuk menjawab soal pilihan ganda semata.

Apa yang akan kamu lakukan bila mendapat undangan kerja bakti dari ketua RT?

A. Ikut serta

B. Tak acuh

C. Pura-pura sakit

D. Bepergian

E. Menonton saja

Jawaban yang benar gamblang terpampang. Mau bagaimana? Berdusta untuk jawaban yang benar, atau jujur mesti jawabannya salah? Dalam kehidupan nyata, kita cenderung lebih memilih jawaban selain A. Udah ngaku aja. Lebih baik bandel tapi jujur, ketimbang (terlihat) baik tapi munafik.

Melakukan kesalahan disebut manusiawi. Tapi sekali melakukan kesalahan, langsung dicaci maki dimarahi bahkan dipukuli. Belum lagi disuruh ganti rugi. Kalau sudah begitu, siapa yang bersedia disalahkan? Meskipun memang kesalahannya sendiri. Salah benar urusan belakang, yang penting lawan dulu, biar enggak kehilangan muka dan gengsi. Salah satu bentuk perlawanannya adalah dengan melemparkan kesalahan. Lingkaran setan.

Terus, saya perlu ngomong apa lagi?

[]

Perlu Judul?

Bersikap kaku dan aneh, terlalu formal, ndak fun, cenderung menakutkan, susah didekati karena aura yang intimidatif, selalu bertentangan dengan pendapat orang lain, negatif, irit bicara, tapi kalau sekali bersuara langsung nyelekit cocok buat digampar, seringkali congkak, dan sebagainya, dan sebagainya. Demikianlah kata mereka. Tentang saya. Sejauh ini. Walaupun tidak semuanya. Diam-diam, ada yang mengangguk di kejauhan. Membenarkan.

Mungkin pendapat mereka benar adanya. Mungkin bisa juga seperti adagium “Tak Kenal Maka Tak Sayang, Sekali Sayang Tak Bakal Lekang”. Ndak ada yang tahu pasti. Tapi gara-gara itu semua, rasanya pengin banget jadi orang yang puitis dengan indera lebih sensitif terhadap hidup dan kehidupan di sekeliling. Juga romantis. Sedikit perubahan dari kondisi yang ada saat ini. Menjadi pribadi yang lebih lunak. Lagi-lagi, ada yang mengangguk di kejauhan. Mengiyakan. Meskipun kata Sang Tathagata, semua hanyalah jerat delusi semata.

Mohon maklum, Guru. Saya masih berusaha belajar membuka mata. Masih jauh tahapannya dari menutup mata, untuk mulai melihat dengan hati.


 

Puitis. Batin yang begitu mudah tergugah.

Ketika melihat sehelai daun–apa pun itu–rontok, jatuh perlahan dari tangkainya. Berpisah. Ia sempat berputar-putar indah di udara selama beberapa saat. Indah dalam ketidakberdayaannya. Kemudian mendarat di permukaan tanah dan pergi terseret angin. Dibawa entah ke mana.

Ketika melihat bulir-bulir air yang menempel di kaca jendela saat gerimis menjelang senja. Mati lampu saat itu. Titik demi titik. Beberapa di antaranya bertemu, menyatu, menjadi lebih besar. Cukup berat, hingga meluncur perlahan kemudian. Mengalir, berkumpul dengan sesamanya.

Ketika melihat sang kekasih. Tertidur pulas. Bibirnya terkatup rapat. Hangatnya masih berbekas. Damai, meski hanya berbungkus selimut bergambar beruang cokelat dari perut ke bawah. Lehernya sedikit berkeringat, gerah tampaknya. Akrab dengan aromanya. Dengkurnya halus, tapi terus ada. Seperti energi yang sengaja dipenjara, agar siap menggila saat kembali dilepaskan esok harinya.

Maaf. Picisan. Akan tetapi sekiranya demikian. Membantu memaknai hidup dengan kesan berbeda. Rehat sejenak dari dunia yang tergesa-gesa.


Romantis. Hati yang lebih lembut.

Ketika bisa menjawab semua pertanyaan “buat apa?” dengan kalimat “demi cinta.

Tahi kerbau memang. Tak bisa bikin kenyang memang. Hanya saja, hampir seisi dunia masih terlampau mudah dibuat takluk olehnya, oleh sesuatu yang sampai saat ini belum saya anggap sebagai sebuah keniscayaan. Sesuatu yang berada di luar akal sehat. Sesuatu yang kerap kali mengganggu dan menyusahkan. Membuat kita makin hanyut dalam keadaan. Tapi tetap ada, dan terus kuat mencengkeram.

Kenyataannya, saya bukanlah kekasih. Masih sangat jauh dari kualitas itu. Mbuh, saya sendiri enggan, dilucuti dengan yang namanya cinta. Dibuat telanjang, bergumul, dan menjadi pecinta. Itulah sebabnya, dengan mudahnya saya bisa berbicara: “aku cinta kamu?

Lebih dari sekadar urusan raga. Cinta memang–yang selama ini saya yakini–jauh lebih tinggi. Nisbi dari berahi; menjadi bagian sekaligus terpisah jauh. Bikin mabuk. Saking mabuknya, sampai-sampai banyak yang bingung membedakan keduanya. Kabur. Samar. Harus ditampar. Begitu muntah, isinya mulai dari puja-puji sampai caci maki. Tergantung apa yang masuk sebelumnya.

Ndaktaulah bagaimana. Jangan tanya soal cinta sama saya.

 


Dari ihwal puitis sensitif dan romantis di atas, intinya cuma satu: saya pengin berubah. Angka tahun yang bikinan manusia aja berubah, masa’ saya yang manusianya ndak ikut berubah? Cita-citanya sih mulia, berubah menjadi persona yang lebih baik, akal budi, simpati dan perasaannya. Minimal berubah jadi baik bagi diri sendiri, syukur-syukur juga bisa dirasakan orang lain. Tapi lagi-lagi, ndaktahulah nanti bakal seperti apa. Biarlah saya berusaha semaksimal mungkin, sendiri. Kalau nanti perlu bantuan, paling juga nyari sendiri. Ya kan?

Juga ndak paham, mengapa mendadak bicara soal ini sekarang? Padahal ujung akhir tahun tepat jatuh di piket pekan depan. Tadinya malah pengin bicara soal film Bollywood teranyar yang masuk Indonesia: “PK”. Film yang ternyata jauh lebih transendental ketimbang ceramah-ceramah agama beberapa abad belakangan, dan/atau Mbak Fahira Idris, dan/atau FPI, dan/atau para pendeta yang berhasil mendirikan denominasi sendiri saking hebatnya berkhotbah, dan/atau para penyelenggara upacara pembakaran kertas nama demi “kavelingan” di surga dengan ajimat suku kata-suku kata tertentu, maupun kelompok-kelompok sayap kanan lain dari agama apa pun. Biar. Nanti saja dibahasnya. “Esok kan… masih ada…,” begitu katanya mendiang Utha Likumahuwa, kepada seorang nona manis. Lagipula toh di Linimasa sudah ada Mas Nauval, jawaranya urusan film.

Kembali soal harapan untuk berubah tadi. 2014 bakal berakhir sebentar lagi. Beberapa perubahan–atau upaya menujunya tengah saya usahakan. Orang-orang idealis lebih suka menyebutnya sebagai resolusi. Barangkali Anda juga punya resolusi masing-masing. Baik yang moril maupun materiil. Asal jangan ill-will. Soal kesan dan kenangan, mungkin bakal saya tulis pekan depan. Yang pasti, saya ingin membuka tirai beledu baru panggung 2015 dengan sejumlah kebaikan. Meninggalkan keburukan-keburukan yang merugikan orang lain. Mudah-mudahan bisa jadi kenyataan. Toh kebaikan itu universal. Baik ya baik, apapun perbedaannya. Buruk ya buruk, apapun alasannya.

Selamat Natal. Selamat berlibur. Tuhan, memberkati kita.

[]

Blup… Blup… Blup…

Mau tau caranya?

Baskom, kamu isi air penuh-penuh. Kamu masukin kepalamu.”

“Trus, kamu teriak kuat-kuat. Sekencang-kencangnya. Sampe capek. Sering-sering aja begitu.

***

Di rumah, mahasiswa semester V itu pun mempersiapkan baskom penuh air. Sejenak, mendadak ia teringat masa kanak-kanaknya. Selalu kungkum air hangat ketika mandi, dan menghabiskan lebih dari 60 menit bermain air sampai kulit jemarinya kisut semua. Kehidupan terasa lebih hangat dan menyenangkan, ringan, tanpa beban.

***

Kian petang. Ia mulai menjalani petunjuk yang disampaikan beberapa jam sebelumnya itu. Bersimpuh menghadap baskom hitam yang bau plastik. Ndak pakai gerakan dramatis apa-apa, ia masukkan kepalanya ke air sedalam cuping telinga setelah menarik napas panjang.

HAAAAARGH…!” Ia mulai berteriak dalam air. Senyaring-nyaringnya. Sekuat tenaga. Sampai terasa panas batang tenggorokannya. Tindakan itu ia ulangi sampai empat atau lima sesi, masing-masing berlangsung kurang dari lima menit. Di sesi pertama, teriakan itu menggema dalam rongga kepalanya. Ia mendadak menghentikan latihannya. Takut-takut teriakannya terdengar seisi rumah. Bisa bikin kaget dan panik, pikirnya. Baru pada sesi kedua, ia sadar bahwa teriakannya hanya nyaring dalam bola kepala saja. Partikel air hanya menyisakan bunyi lirih, beserta letusan gelembung udara. “Blup… Blup… Blup…Ndak signifikan.

***

Kurang lebih lah.

Demikianlah “jurus” yang dibagikan seorang (almarhum) penyiar radio asal pulau Jawa–ninetyniners Bandung, begitu katanya–kepada penyiar magang, si mahasiswa. Berkaitan dengan pita suara, dan warna vokal untuk dipakai mengudara.


Era media sosial, sekarang. Ketika semua orang bebas berbicara, dan meninggalkannya di linimasa sendiri-sendiri untuk dibaca manusia lainnya, lalu berharap mendapat ratusan respons biar berasa populer. Ketika makin banyak “lulusan Twitter/Facebook/Instagram Institute”, ketimbang para ahli benaran. Ketika kata eksis mendadak punya makna sosial berbeda, dan seolah hanya bisa tercapai dengan bertindak ceriwis terhadap hampir semua hal. Mulai foto makanan sampai UMK. Dari kegalauan delusif sampai debat enggak penting tentang apa saja mengenai presiden ketujuh republik ini.

Khusus untuk contoh terakhir di atas, sumpah ya, melelahkan dan bikin muak saking seringnya. Tidak mustahil, Anda yang sedang baca tulisan ini sekarang, juga kerap menyimak bahkan tercemplung dalam perdebatan itu. Rata-rata dipicu posting-an di halaman depan Facebook. Bisa berupa status panjang lebar, juga berupa foto sharing-an dengan caption yang berparagraf-paragraf, atau tautan artikel tendensius dari situs-situs berkedok portal berita maupun blog yang Anda tahu sendirilah nama serta rupanya.

Mereka, yang terlibat dalam perdebatan berwujud puluhan hingga ratusan komentar, terlihat mengerahkan semua daya upaya untuk berargumentasi; berusaha menunjukkan bahwa hanya dia dan pemikirannya sajalah yang paling benar. Sedangkan partisipan lainnya tersesat, keliru, dungu, fanatik, pantas untuk dicemooh dan ditertawakan. Tanpa sadar, mereka seperti berteriak di dalam sebaskom air. Merasa nyaring dan menggemparkan, padahal kenyataannya hanya berupa bunyi mirip kentut setengah jadi.

Tidak ada yang luput dari kekonyolan ihwal perdebatan itu. Merasa terpanggil untuk menyampaikan pembelaan dan pernyataan penguat, padahal hanya dalam beberapa menit kemudian status pemicu perdebatan bergeser ke bawah, terganti dengan posting-an yang lain. Lalu, para pendebat dari kedua sisi pun tetap tak tergoyahkan. Teguh dalam hematnya masing-masing dengan cara yang boros tenaga. Tidak ada yang berpindah.

Ndak ketemu.

Seperti dua lingkaran dalam Diagram Venn. Terpisah sangat jauh, saking berbedanya, sampai-sampai ndak layak lagi disebut sebuah Diagram Venn. Setiap lingkaran mewakili/diisi orang-orang berpikiran homogen. Pendapat setiap orang dari lingkaran yang sama, diiyakan, diapresiasi, dan dipuji. Semua instrumen yang digunakan untuk memperkuat gagasan pun dianggap sebagai objek yang paling tepat, dan mewakili realitas. Sementara pendapat setiap orang dari lingkaran di seberang, ditolak, direndahkan, dan dihina. Itu pun kalau terdengar/sudi didengarkan dengan jelas oleh penghuni lingkaran satunya. Semua instrumen yang digunakan orang di lingkaran seberang pun dianggap sebagai objek abal-abal, hasil kamuflase, mengada-ada, dan kebohongan. Lagipula, tidak ada yang bersedia untuk ke luar dari lingkaran masing-masing. Nyaman secara khayali.

 

Mana yg benar?

Mungkin salah satu di antaranya.

Mungkin keduanya.

Atau mungkin tidak ada sama sekali.

 

Bukan perkara lingkaran mana yang benar dan salah, melainkan gaung semu yang hanya menggema dalam ruang terbatas; lingkaran homogenitas. Senyaring apapun dukungan atas sebuah pemikiran, atau sekeras apapun penolakan atas pemikiran yang berlawanan, hanya riuh rendah dalam lingkaran. Ndak peduli, mungkin juga ndak sadar kalau ternyata masih ada ruang tanpa batas di luarnya.

Walhasil, perdebatan nihil hasil. Membuang waktu, menyita perhatian dan konsentrasi, sok dramatis, tidak produktif, tanpa faedah yang berarti. Paling banter ya melatih kemampuan mengetik dengan cepat, meskipun kadang tidak tepat, banyak typo-nya.

Ehm, walau bagaimanapun, ialah hak setiap orang untuk ngapain aja, terlebih di dunia maya. Selama tidak ad hominem alias penghinaan yang bisa dituntut sebagai delik aduan, ya terserah Anda saja. Satu hal yang pasti: itu ngganggu. 🙂


Anyway, rupanya “jurus” teriak dalam air tidak mempan memodifikasi pita di tabung tenggorokan. Sampai saat ini, suara saya masih cempreng. Berasanya sih bikin ilfil. Tidak terdengar dalam, teduh, dan menenangkan seperti kebanyakan suara cowok yang sudah rampung pubertasnya. Malah ketambahan sengau, mirip orang yang baru kelar selesma.

[]

650 Kata

Kapan terakhir kali Anda langsung tertidur pulas, kala tubuh sudah menempel di atas kasur?

Kapan terakhir kali Anda bangun dengan nyaman, tanpa langsung deg-degan dengan setumpuk kegiatan yang harus dilakukan?

Kapan terakhir kali Anda tersenyum pada diri sendiri, di hadapan cermin?

Kapan terakhir kali Anda tanpa sengaja merasakan lembutnya embusan napas, yang menyentuh ujung lubang hidung?

Kapan terakhir kali Anda hidup, untuk hidup?

***

Teringat salah satu poin dalam tulisan Ko Glenn; “Enough is Enough”. Saat generasi pekerja masa kini, merasa tenggelam dalam keletihan dengan mudahnya. Berbanding terbalik dengan perjuangan keras orangtua mereka dan orangtuanya orangtua mereka, yang bisa jadi jauh lebih memprihatinkan ketimbang saat ini gara-gara politik sanering, dipaksa eksodus besar-besaran karena keadaan, dan berbagai keterbatasan lainnya. Naga-naganya, saya adalah salah satu dari kelas pekerja yang mudah berkeluh kesah itu. Digenjot sedikit, sudah angkat tangan. Tapi enggan kalau belum mapan.

***

Hidup?

Melelahkan memang, hidup di masa yang serba materialistis seperti saat ini. Ketika kontradiksi tersaji setiap hari. Pertentangan terus terjadi antara keinginan dan beban. Antara harapan dan kenyataan.

Ajaran-ajaran moralitas mendorong semua pengikutnya untuk selalu bersyukur, berterima kasih atas segala berkah dan anugerah hidup, memetik hikmah dan nilai moral dari setiap peristiwa, benar-benar menikmati proses yang terjadi, serta selalu berpikir dan bersikap tenang dalam segala situasi. Sementara tuntutan hidup modern mendorong semua orang untuk tidak mudah merasa puas, tak pernah bercokol dalam zona nyaman, mengejar eksistensi diri setinggi-tingginya, fokus pada hasil, mesti selalu tertantang untuk melakoni moto “hari ini harus lebih baik dari kemarin, besok harus lebih baik dari hari ini, dan seterusnya”, menetapkan target-target pembuktian kesuksesan hidup berdasarkan anggapan umum, serta berambisi untuk mencapainya.

Semua tuntutan itu menempatkan kemiskinan dan kebodohan sebagai salah satu momok menakutkan. Hantu Blawu yang meninggalkan coreng-moreng memalukan. Benar aja sih. Siapa yang mau miskin harta dan kecerdasan? Termasuk orang-orang kelompok pertama sekalipun. Yang selama ini selalu dibiasakan untuk tetap mampu menjalani hidup, apa pun keadaannya, dengan prinsip: “ndakpapa miskin atau bego, yang penting bahagia, cukup, mau usaha, ndak ngemis, ndak maling.” Sebuah sikap batin yang sejatinya kaya.

Ditimbang-timbang, sebenarnya tak ada yang salah dari cara pandang keduanya. Sama-sama berfaedah bagi kesejahteraan batin maupun jasmani. Kesalahan hanya terjadi apabila anggota kelompok pertama malas berusaha, berpangku tangan pada keadaan, menjadikan nasib sebagai alibi. Kemudian, kesalahan dilakukan orang-orang kelompok kedua bila menggunakan segala cara untuk melancarkan tujuannya. Mencederai kepatutan, tidak memberikan ruang hati untuk simpati sama sekali. Terkenal dengan celetukannya: “di dunia ini cuma ada dua keadaan: mengalahkan atau dikalahkan!”

Terserah Anda, ingin menjadi bagian dari kelompok pertama yang relatif tampak lebih adem ayem, atau menjadi bagian dari orang-orang yang cenderung gelisah mengejar keberhasilan. Barangkali ada yang tertantang berpindah, dari kelompok pertama menjadi kelompok kedua. Karena bekerja terlalu gontai. Ataupun ada yang tersadarkan untuk menjalani hidup yang lebih tenteram. Karena selalu tegang. Kendati pada kenyataannya, ada banyak orang yang hidupnya memang terkesan seimbang. Berkecukupan, namun tetap mampu selow berkehidupan. Apa rahasianya? Entahlah. Langsung tanya mereka saja.

Lalu, apa tujuan dari tulisan ini? Sejujurnya, saya ndak tahu pasti. Setiap orang punya kehidupannya masing-masing. Lengkap dengan daftar tanggung jawab dan hak yang semestinya tidak boleh diintervensi, apalagi dihakimi. Sebab semuanya dibarengi dengan konsekuensi.

Yang pasti, tulisan ini tidak dibuat seolah untuk menjadi pelepas dahaga di tengah gurun kekeringan, penyegar iman di tengah badai keraguan, penguat keyakinan di tengah kabut ketidakpastian. Ini hadir sebagai jeda dari hiruk pikuk hari Rabu Anda pekan ini, mengisi waktu saat berada di dalam kendaraan umum, pengalih pandangan dan perhatian dari segudang agenda kerja, estafet rapat dengan orang-orang asing, maupun setumpuk dokumen yang perlu Anda input dalam kolom-kolom Excel. Toh, setiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri, kan? Jadi agak kurang elok rasanya, bila tulisan ini dibuat untuk sok menasihati. Anda–yang baca, saya yakin juga sudah cukup dewasa untuk bisa berpikir sendiri. Dan itu adalah satu-satunya fakta yang kerap Anda lupakan, dan dimanfaatkan para motivator. Hehehe…

***

Ke dermaga mencari peti,

Peti dibuka, isinya kedondong.

Jangan drama jalani hari,

Biar enak, senyum dulu dong.

[]

Berani?

Apa artinya bertindak baik kepada diri sendiri, tanpa bertindak baik kepada orang lain. Lalu, akan sangat naif dan bodoh bila bertindak baik kepada orang lain, tetapi tidak diimbangi dengan bertindak baik kepada diri sendiri.

Mau yang mana? Kalau kata guru BP dan PPKn sih harus dijalankan dua-duanya.

Bisa? Barangkali. Entahlah.


Apakah saya orang baik? Mungkin, bagi beberapa orang. Tidak sedikit pula yang beranggapan sebaliknya.

Penilaian kedua dihasilkan dari beragam penyebab dan alasan. Toh, saya memang bukan manusia bebas cela. Sebab bahkan pada kenyataannya, saya masih bisa menyakiti hati orang yang mencintai saya. Telanjur menyakiti, walaupun niatnya bukan menjahati.

Sejauh ini, saya merasa wajar-wajar saja ketika dicap sebagai orang yang tidak baik. Soalnya, saya belum tidak mampu sesuci Gandhi, nabi, atau siapapun figur yang dikultuskan hingga kini. Sebuah realitas, tidak ada orang yang tingkah lakunya sempurna. Bukan lantaran pikiran, perbuatan, dan ucapan yang jahat, melainkan karena pandangan dan penerimaan yang tak sepakat.

Selajur dengan itu, monggo dilihat latar belakangnya. Apakah tindakan yang dilakukan memang bertujuan untuk membuat orang lain sakit hati, ataukah hanya kepengin jujur dan enggak sudi membohongi diri sendiri?

Tidak berbohong. Itu perbuatan baik. Bersikap jujur. Itu juga perbuatan baik. Tapi keduanya kerap bermuara pada ujung yang terpisah jauh.

Kejujuran sejatinya sering terasa pahit dan menyakitkan. Memerlukan kesiapan dan keberanian untuk disampaikan. Namun bagaimanapun juga, kejujuran adalah kejujuran; menyingkap kebenaran. Sehingga, silakan dipilih. Mau bertindak baik dengan jujur, atau bersikap baik dengan menghindarkan orang lain dari perasaan sakit hati.

Jika mengambil pilihan kedua atas nama kehidupan sosial, rasa sungkan dan kasih sayang, memang tidak perlu melakukan tindakan buruk dengan berdusta. Cukup bungkam saja. Menjawab pertanyaan dengan diam, ataupun dengan senyuman. Meskipun demikian, tetap ada risikonya. Mulut yang terkatup rapat malah menimbulkan prasangka dan salah paham. Lebih runyam dampaknya apabila dibiarkan. Lagi-lagi, pada akhirnya masalah membutuhkan penjelasan.

Mungkin Anda pernah mengalami kondisi serupa, tapi dengan hasil akhir yang tak sama. Wajar saja, setiap orang yang menghadapinya berhak mengambil keputusan lewat pertimbangan berbeda-beda. Dalam perkara ini, orang lain hanya muncul dan memberikan suara. Itu saja peran mereka. Karena selain tuhan, setiap orang adalah pemilik, penanggung jawab, dan penentu arah kehidupannya masing-masing.


Jadi, setelah siap menerima kejujuran orang lain, sudah berani jujur pada diri sendiri?

[]

Keep Moving On

Anda tahu ban tubeless, ban tanpa ban dalam? Apabila ban jenis itu tertembus paku, tukang tambal akan mengeluarkan alat berbentuk huruf “T”. Cara memegangnya: bagian kepala “T” digenggam, sedangkan kaki tunggalnya terselip ke luar, di pangkal sela jari telunjuk dan jari tengah.

Besi yang terselip ke luar genggaman serupa batang obeng. Ujungnya lumayan tajam. Tapi bentuknya dibuat seperti jarum mesin jahit: ada lubang di dekat bagian lancipnya. Di lubang tersebut, tukang tambal menyelipkan sehelai karet khusus. Terlihat lunak seperti permen karet yang sudah dikunyah, warnanya oranye kemerahan seperti pinang sirih bekas. Baunya? Entahlah.

***

Semua orang ingin bahagia. Tidak ada seorang pun–termasuk orang dengan gangguan jiwa–yang ingin merasakan derita. Sekecil apapun dampaknya, seremeh apapun bentuknya.

Semua orang bahkan ingin terus-terusan bahagia. Hingga dipanjatkan doa; “jauhkanlah kami dari segala penderitaan, tuhan.

Doa seperti itu tidak terdengar janggal. Wajar dan alamiah. Didorong insting paling dasar, bahwa kebahagiaan itu menyenangkan, dan penderitaan itu menyakitkan. Otak reptil manusia pun lebih banyak bekerja, memberikan dorongan untuk selalu mencari kesenangan-kesenangan, dan berlari menjauh dari lawan-lawannya.

Ibarat seorang bocah penyuka gula-gula. Dinikmatinya manis jilatan demi jilatan. Kemudian, saat gula-gula itu sudah habis, ia akan kembali mencarinya, lagi dan lagi. Saat tak mendapatkannya, ia akan merengek, menangis, atau meraung-raung. Setelah memperolehnya lagi, ia pun kembali girang, tenggelam dalam kenikmatan. Tanpa paham apa yang sebenarnya sudah dan bakal ia rasakan. Begitu seterusnya. Tidak sadar, bahwa doa tadi terkesan menyepelekan tujuan semesta, tuhan, dalam keterciptaan manusia.

Manusia memohon agar selalu diberi kebahagiaan, dan dihindarkan dari penderitaan. Sang bocah menyukai gula-gula, dan mengamuk saat tidak mendapatkannya. Ketika mendapatkan gula-gula, sang bocah merasa bahagia. Ketika gula-gula itu habis dilumat, karena memang begitu semestinya, sang bocah merasa kehilangan. Kebahagiaan tadi hilang perlahan dan mulai berganti jadi penderitaan.

Saat sang bocah tidak mendapatkan gula-gula kegemarannya, ia pun menangis histeris, berteriak, berguling-guling di lantai, berontak hebat saat akan digendong. Penderitaan yang ia rasakan makin hebat, tambah kuat, berkali lipat lebih menyakitkan dibanding sebelumnya.

Pertanyaannya, siapa atau apa yang menyebabkan kebahagiaan itu hilang, dan berganti menjadi penderitaan hebat? Gula-gula? Orangtua? Keadaan? Bocah itu sendiri (dalam keadaannya yang memang belum dewasa)? Lainnya?

Demi menghindari penderitaan, haruskah kita musnahkan semua gula-gula yang ada di dunia? Haruskah kita salahkan orangtua yang memperkenalkan gula-gula itu kepada anaknya? Haruskah kita salahkan orang yang pertama kali menemukan cara membuat gula-gula? Termasuk orang yang menjual gula-gula? Haruskah kita salahkan sang bocah atas kelakuannya? Atau haruskah kita salahkan waktu, karena sang bocah masih “bocah”, saat pertama kali merasakan gula-gula?

Di sisi lain, bisakah sang bocah menyalahkan orangtuanya, karena tidak memberi gula-gula?

***

Paku dicabut dari permukaan ban tubeless itu. Panjang. Bunyi angin terdengar kencang mendesis.

*JLEBBB!*

Dalam sekejap, ujung batang besi yang telah diselipkan karet merah tadi ditusukkan dalam-dalam, tepat di lubang luka ban.

***

Prinsipnya sederhana, dan telah berkelebatan dalam pikiran manusia sejak dahulu kala. Bahagia dan derita. Dua hal berbeda yang tak ubahnya kembar dempet; tidak bisa dipisahkan. Mengapa? Karena, kita tidak akan tahu betapa menyenangkannya bahagia, apabila kita belum pernah tahu bagaimana rasanya menderita.

Jadi, harus menderita melulu? Biar gampang bahagia?” Bukan dong. Itu mah sama saja dengan bunuh diri secara perlahan.

Bisa dipikirkan masing-masing deh. Siapa atau apa yang menetapkan batasan “kalau begini bahagia”, “kalau begitu menderita” dalam hidup ini? Orangtua? Agama? Sekolah? Tetangga? Bos? Ego? Guru? Pak Polisi? Pikiran? Ehm… Ya, barangkali itu jawabannya; pikiran.

Percuma bila semesta, tuhan, menganugerahkan dengan limpahan kebahagiaan, kalau pikiran tidak menyadari dan memperlakukan semua itu dengan sebagaimana mestinya. Alih-alih bahagia, bisa saja malah selalu menderita. Sebaliknya, dapat benar-benar dirasakan bahwa bahagia itu sederhana. Bagaimana seseorang bisa dibuat menderita, kalau ia selalu menemukan hal atau alasan kecil yang membuatnya bahagia?

Ada jawaban lain yang lebih tepat selain pikiran? Entahlah. Mungkin ada. Siapa yang tahu, mohon dibagi ya. 🙂

***

Ujung besi “T” tadi telah tertancap kuat di lubang ban tubeless bolong. Lubangnya menjadi lebih lebar.

*ZETTT!*

Kurang dari sepuluh detik kemudian, tukang tambal menarik alat itu kuat-kuat. Menyisakan ban yang lubangnya tambah leb… Loh? Lubangnya kok tertutup. Tertambal “permen karet” bekas berwarna kemerahan itu.

Ban tubeless itu kembali kencang. Siap melajukan kendaraan, mengarungi jalanan, bahkan bertemu dengan paku-paku tajam lainnya. Setiap kali tambalan itu menyentuh aspal, ia menjadi semakin kuat. Lubang kian tertutup rapat.

***

“No one can make You happy but Yourself.”

Mari beranjak. Berbaik sangkalah terhadap kehidupan.

[]

Mau Nonton Apa?

Sebut saja dia mbak XY.

Usianya mungkin sekitar 22 tahun. Tidak mungkin lebih tua, karena dia masih berlari lincah setelah turun dari busway. Seperti pekerja metropolian seusianya, dia sering kesal melihat macet. Kekesalan itu tak berlangsung lama. Paling tidak sudah mereda saat masuk parkiran mall sebelum jam buka. Dia berjalan melenggang ke lift yang membawanya ke lantai paling atas di mall ini. Sambil memainkan hape dengan cekikikan tanpa melihat sekeliling, dia keluar lift menuju ruangan yang luas. Dengan penuh keyakinan , dia masuk ke sebuah pintu dengan tulisan “Yang Tidak Berkepentingan Dilarang Masuk“.

Jelas-jelas dia punya kepentingan. Sangat penting malah. Saking pentingnya, dia pun perlu mentransformasi dirinya sedemikian rupa. Dalam beberapa jam, pintu pun dibuka, dan … oh la la!

Mbak XY kini tampil anggun dengan cepolan sanggul yang terikat rapi di atas kepala. Lipstik merah di bibir serasi dengan riasan muka yang menambah usianya. Mbak XY tidak lagi jalan sambil cekikikan. Langkahnya santai. Dia tahu arah yang dituju. Sesekali dia menyapa rekan-rekan kerjanya, baik yang berbaju biru gelap maupun berseragam putih. Dia menuju meja panjang di sebuah sudut. Setelah duduk, dia menyalakan komputer, printer, lalu mengangkat tulisan “Closed”. Sambil tersenyum, dia berkata:

Selamat datang. Mau nonton apa?

Ya, mbak XY dan teman-teman seprofesinya yang tersebar di seluruh penjuru bioskop di seluruh dunia ini adalah orang pertama yang menentukan nasib kita dalam 2-3 jam ke depan. Apalagi kalau anda termasuk orang yang belum tahu mau nonton apa, dan baru memutuskan mau nonton apapun yang ada di bioskop saat itu. Misalnya:

Selamat datang. Mau …

“Uuuhh … Guardians of the Galaxy itu film apa ya, mbak? Kok kayak kartun tapi ada orangnya gitu? Kalo Grace of Monaco itu apa ya, mbak?”

Ini jawaban dari mbak XY: “Guardians itu film action komedi, banyak visual effect. Kalo Grace film drama.

Jawaban yang cukup netral, dan tidak menyesatkan. Atau mungkin anda sudah tahu apa yang mau anda tonton, tapi teman atau pasangan anda ragu-ragu.

The Great Gatsby yuk. Leonardo DiCaprio tuh.”

“Aaahh film apaan? Sejarah minyak rambut? Ogah. Kaya jadul gitu. Mending Fast & Furious.”

“Yaelah, bukannya kemaren udah nonton?”

“Ya gak papa. Filmnya lebih jelas lah, kebut-kebutan. Daripada judulnya gak familiar?”

Dan ujung-ujungnya, “Mbak, kalo Fast & Furious yang jam 7 malem, masih ada? Kalo gak ada, yang jam 9 deh. Kalo gak ada juga, The Great Gatsby aja, tapi jangan yang kemaleman. Dan kalo bisa duduknya di pojok, tapi jangan terlalu ke belakang.”

Ini yang dilakukan mbak XY:

  • tetep senyum
  • klik jam tayang film di depan customer
  • bilang, “Yang merah terisi, yang hijau masih kosong”, dengan nada suara otomatis
  • mungkin dia menjerit dalam hati “Yang ngantri masih panjang, cepetan milihnya, hadeeuh!”

Atau mungkin dia tidak berkomentar apa-apa selain, “Tiketnya harap dicek kembali, ya. Terima kasih, dan selamat menonton.”

Maklum, kalau dalam sehari ada 5 kali jam pertunjukan di masing-masing studio, katakanlah ada 4 studio di satu bioskop yang kapasitas kursi di tiap studio sekitar 150 kursi, berarti mbak XY dan teman-temannya harus berhadapan dengan sekitar 1.000 orang. Itu kalau tiap orang rata-rata beli 3 tiket.

Kalau 2 tiket? Ya makin banyak orang. Dan itu berlangsung setiap hari. Mungkin sebelum sempat kesal, udah keburu ada orang lain yang ngantri di belakang. Terlebih lagi, meja kerja mbak XY ini tidak boleh tidak beroperasi. Kalau mbak XY kebelet ke kamar kecil, ya ada loket lain yang harus buka. Kalau break makan, ada rekan lain yang akan menggantikannya.

Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg
Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg

Lalu kapan mbak XY nonton? “Ya kalo lagi off, mas. Sama aja, pake tiket, ngantri dari depan. Cuma ya kita udah tau lah mau nonton apa, hahaha.” Kerja tiap hari di bioskop, gak bosen emangnya nonton di bioskop? “Ya ke bioskop lain, mas. Tapi kadang nonton juga di sini. Kan enak ya, udah kenal sama temen-temen sendiri. Kalo bosen, ya nggak juga sih, mas. Kan filmnya ganti terus tiap minggu. Filmnya beda-beda gitu, ya gak pernah bosen lah.”

Somehow, her answer restores my faith in cinema, again. Jawaban yang terdengar dewasa dari usianya, mungkin karena tuntutan profesi juga, membuat saya makin percaya bahwa mbak XY dan rekan-rekannya adalah garda depan pengalaman menonton kita. Dari ujung jarinya, dia bisa membantu kita menentukan pilihan yang berujung kalau gak jadi seneng ya jadi bete. Dari tutur katanya, kita bisa tahu mana film yang rame, mana film yang sepi penonton. Dari pengalaman berinteraksi dengan ratusan sampai ribuan orang sehari, dia sudah bisa membaca karakter orang hanya dengan penglihatan sepintas saat mereka antri. Sesuatu yang mungkin layak untuk dianalisa mendalam, tapi tidak di ranah yang ringan ini.

Kalaupun ada yang mengancam kehadiran mbak XY, mungkin bisa jadi kehadiran online ticketing. Orang-orang seperti saya dan anda yang sudah tahu mau nonton apa, di mana dan jam berapa, pasti senang sekali dengan fitur human-less interaction ini. Apalagi ini hari Kamis, banyak film baru yang mulai keluar di bioskop hari ini. Pasti pengen buru-buru check jadwal bioskop deh selesai baca tulisan ini. Tapi beda lho rasanya disapa langsung dengan:

“Selamat datang. Mau nonton apa?”